UNDANGAN DI BIDANG PENDIDIKAN DI INDONESIA A.Dasar hukum Pendidikan Tinggi Asing di Indonesia
B. Bentuk Penyelenggaraan Pendidikan Asing di Indonesia
Kerja sama perguruan tinggi Indonesia dengan lembaga lain di luar negeri meliputi : pengelolaan perguruan tinggi; pendidikan; penelitian; dan/atau pengabdian kepada masyarakat 198 yang dapat dilaksanakan dalam bentuk : 199
a. Kontrak Manajemen;
b. Program kembaran (twin program); c. Program gelar ganda (dual degree);
d. Program pemindahan kredit (credit trasfer);
e. Tukar menukar dosen dan/atau mahasiswa dalam kegiatan akademik; f. Pemanfaatan bersama sumber daya dalam kegiatan akademik, penelitian,
dan pengabdian masyarakat; g. Penerbitan bersama karya ilmiah;
h. Penyelenggaraan bersama pertemuan ilmiah atau kegiatan ilmiah lain; dan/atau
i. Bentuk kerja sama lain yang dianggap perlu untuk meningkatkan kinerja perguruan tinggi.
196
Pasal 3 Ayat( 2.b) Permendiknas No. 66 tahun 2009
Selanjutnya di dalam Pasal 5 Permendiknas No. 66 tahun 2009 disebutkan bahwa kehadiran Pendidikan atau tenaga kependidikan asing di Indonesia harus atas permintaan atau usul dari suatu instansi pemerintah atau lembaga pendidikan di Indonesia, selanjutnya usul tersebut akan dinilai dimana penilaian akan dikordinir oleh Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Izin akan diberikan oleh Mendikbud atau pejabat yang ditunjuk. Status Pendidik atau tenaga kependidikan tersebut adalah sebagai tenaga kerja asing dengan masa waktu sesuai dengan rencana izin menggunakan tenaga kerja asing (IMTA)
197
Pasal 15 ayat 2 Kepmendiknas No. 234/U/2000
198
Pasal 6 Peraturan Menteri No. 26 Tahun 2007 Tentang Kerja Sama Perguruan Tinggi dl Indonesia Dengan Perguruan Tinggi Atau Lembaga Lain di Luar Negeri
199
Pasal 7 Peraturan Menteri No. 26 Tahun 2007 Tentang Kerja Sama Perguruan Tinggi dl Indonesia Dengan Perguruan Tinggi Atau Lembaga Lain di Luar Negeri
Ditinjau dari perijinan, bentuk-bentuk kerja sama tersebut diatas dapat dikelompokkan ke dalam 2 bagian, yaitu kerja sama yang mengharuskan adanya ijin tertulis dari Mendikbud setelah diusulkan oleh pimpinan perguan tinggi yang bersangkutan; yang masuk dalam kelompok ini adalah kerja sama dalam bentuk Kontrak Manajemen, Program kembaran, Program gelar ganda , dan Program pemindahan kredit. Kelompok kedua, kerja sama yang dilakukan tidak memerlukan perizinan tetapi hanya pelaporan oleh pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan kepada Mendikbud melalui Dirjendikti; yang termasuk dalam kelompok ini adalah kerja sama dalam bentuk pertukaran dosen dan/atau mahasiswa dalam kegiatan akademik; pemanfaatan bersama sumber daya dalam kegiatan akademik, penelitian, dan pengabdian masyarakat; penerbitan bersama karya ilmiah; penyelenggaraan bersama pertemuan ilmiah atau kegiatan ilmiah lain; dan/atau bentuk kerja sama lain yang dianggap perlu untuk meningkatkan kinerja perguruan tinggi.
1. Kontrak Manajemen.
Kerjasama yang dilakukan dalam bentuk kontrak manajemen dapat dilakukan oleh perguruan tinggi dan/atau lembaga lain di luar negeri dengan perguruan tinggi di Indonesia yang sudah ada atau dengan mendirikan perguruan tinggi baru secara bersama-sama dengan perguruan tinggi yang ada di Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dimana pendirian perguruan tinggi tersebut harus memenuhi persyaratan pendirian dan penyelenggaraan perguruan tinggi. Lulusan perguruan tinggi yang bersangkutan selain memperoleh ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi, dan/atau vokasi dari perguruan tinggi di Indonesia dapat memperoleh ijazah,
sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi, dan/atau vokasi dari perguruan tinggi asing mitra kerja sama. 200
2. Program Kembaran (Twin Program)
Program kembaran dilakukan bersama oleh perguruan tinggi di luar negeri dengan perguruan tinggi di Indonesia untuk program studi yang sama dengan syarat bahwa program studi tersebut telah terakreditasi. Mahasiswa yang ikut dalam program kerjasama ini akan memperoleh ijazah, gelar akademik dan/atau vokasi dari perguruan tinggi di Indonesia setelah menempuh beban studi paling sedikit 50% dari beban studi yang dipersyaratkan dan juga memperoleh ijazah, gelar akademik dan/atau vokasi dari perguruan tinggi di luar negeri. 201
3. Program Gelar Ganda (Dual Degree).
Program gelar ganda dilakukan bersama oleh perguruan tinggi di luar negeri dan perguruan tinggi di Indonesia untuk program studi berbeda pada pendidikan akademik dan/atau vokasi, dengan syarat bahwa program studi yang dimaksud harus memiliki kesamaan beban studi paling sedikit 75%. Lulusan program gelar ganda (dual degree) akan memperoleh ijazah, gelar akademik, dan/atau vokasi dari perguruan tinggi di Indonesia dan perguruan tinggi lain di luar negeri.202
200
Pasal 10 Peraturan Menteriyaitu Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Kerja Sama Perguruan Tinggi dl Indonesia Dengan Perguruan Tinggi Atau Lembaga Lain di Luar Negeri
201
Pasal 11 Peraturan Menteri Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Kerja Sama Perguruan Tinggi dl Indonesia Dengan Perguruan Tinggi Atau Lembaga Lain di Luar Negeri
202
Pasal 12 Permendiknas No. 26 Tahun 2007 tentang Kerja Sama Perguruan Tinggi dl Indonesia Dengan Perguruan Tinggi Atau Lembaga Lain di Luar Negeri
4. Program Pemindahan Kredit.
Program pemindahan kredit dilakukan bersama oleh perguruan tinggi di luar negeri dengan perguruan tinggi di Indonesia yang program studinya telah terakreditasi di Indonesia dan di negara yang bersangkutan. Kerjasama tersebut berupa pengakuan akan kredit yang diperoleh melalui kegiatan akademik pada masing-masing perguruan tinggi.
Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa eksistensi pendidikan tinggi asing secara juridis diakui di Indonesia, namun kedudukannya hanya sebatas kerja sama yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Dengan perkataan lain, penyelenggaraan pendidikan asing tersebut tidak dilakukan oleh PTA secara mandiri, tetapi secara bersama-sama dengan perguruan tinggi Indonesia dan berada dalam ruang lingkup SPN. Hal ini berarti bahwa Monash University, misalnya, tidak dapat membuka kampus cabang di Indonesia, tetapi dapat menjalin kerja sama dengan Universitas Sumatera Utara, misalnya, dalam menyelenggarakan salah bentuk kerja sama seperti disampaikan diatas.
Kedudukan yang demikian berbeda dengan di Malaysia, dan beberapa negara lainnya, dimana pendidikan tinggi asing dapat diselenggarakan oleh PTA walaupun tetap bekerja sama dengan perguruan tinggi dalam negeri. Misalnya, Monash University membuka cabang di Malaysia (offshore campus) dengan kerja sama denga
tinggi cabang, walaupun tetap ada persyataran untuk melakukannya dalam bentuk kerja sama. 203