• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNDANGAN DI BIDANG PENDIDIKAN DI INDONESIA A.Dasar hukum Pendidikan Tinggi Asing di Indonesia

C. Tujuan dan manfaat

Salah satu permasalahan pendidikan tinggi di Indonesia adalah mutu yang masih rendah dibandingkan dengan mutu pendidikan tinggi di mancanegara. Bahkan di kawasan Asia, mutu perguruan tinggi Indonesia berada pada peringkat 15 persen terendah dari 77 perguruan tinggi. Pada tingkat ASEAN, perguruan tinggi Indonesia hanya berada pada ranking 11. Keadaan pendidikan tinggi Indonesia yang demikian membuat banyak mahasiswa Indonesia yang harus pergi keluar negeri mendapatkan pendidikan tinggi yang bermutu sehingga modal pembangunan sumber daya manusia yang mengalir ke luar negeri cukup besar, lebih dari Rp. 10 trilyun. 204

Saat ini, jumlah pelajar Indonesia di luar negeri mencapai lebih dari 50 ribu orang. Di Malaysia sendiri, pelajar Indonesia mencapai 14 ribu orang205. Menurut data pendidikan global UNESCO 2011, Australia berada di peringkat teratas sebagai negara tujuan pendidikan mahasiswa Indonesia dengan jumlah 10.205 orang, Amerika Serikat 7.386 orang, Malaysia 7.325 orang, Jepang 1.788 orang , dan Jerman 1.546.206

203

Monash University yang bekerja sama dengan

perguruan tinggi asing pertama yang berdiri di Malaysia pada tahun 1998 atas undangan Pemerintah Malaysia. Tahun pertama mahasiswa yang mendaftar pada kampus cabang tersebut 261 orang dan sekarang telah berkembang dengan pesat. (Diakses dari

204

Sofyan Effendi. Capital Flight” dan Pendidikan Tinggi. Diakses dari http://sofian.staff.ugm. ac.id/artikel/Capital-Flight-PT.pdf pada tanggal 14 September 2012

205

Bahas Soal Bangsa, Pelajar Indonesia dari 40 Negara Berkumpul di Malaysia Diakses dari

206

Jerman Negara Favorit Mahasiswa Indonesia Diakses dari

Pemerintah sendiri sejak tahun 2010 hingga 2012 menyediakan pagu anggaran di APBN dan APBN-P untuk beasiswa S2 dan S3 yang jumlahnya bervariasi. Tahun 2010, anggaran yang diplot baru Rp 1 triliun. Tahun 2011 meningkat menjadi Rp 2.617.700.000.000. Kemudian, tahun 2012 diplot lagi Rp 7 triliun, sehingga totalnya mencapai Rp 10.617.700.000.000.207

Dalam rangka pengembangan kapasitas perguruan tinggi di Indonesia, Pemerintah telah mengeluarkan investasi yang sangat besar dimana dana tersebut diperoleh melalui pinjaman luar negeri antara lain :208

1. Proyek pengambangan staff dan sarana perguruan tinggi sebesar US $ 102,1 juta 2. Proyek pengembangan 6 universitas sebesar US$ 106 juta

3. Proyek pengembangan 11 lembaga pendidikan tinggi tinggi sebesar US$ 235 juta 4. Proyek peningkatan kualitas perguruan tinggi sebesar US$ 109,1

Keikutsertaan Indonesia dalam kancah liberalisasi perdagangan jasa (WTO/GATS) bertujuan untuk meningkatkan, memperluas, memantapkan dan mengamankan pasar bagi segala produk baik barang maupun jasa serta meningkatkan kemampuan daya saing terutama dalam perdagangan internasional guna mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 sebagaimana dinyatakan di dalam konsideran UU No.7 tahun 1994. Dengan demikian, liberalisasi

207

Kemenkeu Sediakan Rp 10,6 T untuk Beasiswa S2 dan S3. Diakses dari http://aceh. tribunnews.com/2012/08/11/kemenkeu-sediakan-rp-106-t-untuk-beasiswa-s2-dan-s3 pada tanggal 10 Nopember 2012

208

Eric Wibison. Tinjauan Atas Paradigma Kualitas dalam Pendidikan Tinggi Indonesia Diakses dari

pendidikan tinggi yang di dalam kerangka WTO/GATS harus juga dipahami sebagai upaya meningkatkan, memperluas, memantapkan dan mengamankan pasar pendidikan tinggi Indonesia serta meningkatkan kemampuan daya saing perguruan tinggi Indonesia.

Menurut Ali Chaeruddin kehadiran lembaga pendidikan asing Indonesia dapat : 209 1. Mengurangi pelarian devisa (capital flight),

2. Menambah pendapatan negara yang berasal dari pajak penghasilan orang asing yang bekerja atau mengajar di Indonesia,

3. Menambah jumlah asset negara dibidang pendidikan, karena bangunan, saranan dan prasaranan sekolah dibangun oleh pihak asing,

4. Kualitas pengajar dan perguruan tinggi asing yang diajukan merupakan unggulan dinegaranya masing-masing.

Zulkarnaen Sitompul berpendapat bahwa kehadiran pendidikan tinggi asing di Indonesia akan memberi kesempatanan bagi mahasiswa Indonesia untuk mendapatkan pengalaman intenasional serta dapat mempercepat alih pengetahuan dan teknologi.210 Michael Spence mengatakan bahwa selain mencari pengalaman internasional, para pelajar internasional tersebut juga mencari kualitas pendidikan dunia. 211

Pengalaman negara-negara lain juga menunjukkan bahwa cross border education telah memberi manfaat di bidang ekonomi dan pendidikan tinggi dalam negeri. Aleš Vlk di dalam disertasinya mengatakan bahwa :” students gain many advantages from studying in other countries, such as cultural enrichment, improved language skills, more

209

Ali Chaeruddin. Dampak beroperasinya Lembaga pendidikan tinggi asing di Indonesia, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No, 074 tahun ke-14, September 2008

210

Zulkarnaen Sitompul. Liberalisasi Pendidikan:Kita Perlu Ikut? Diakses dari http://zulsitom pul.files.Wordpress.com/2007/06/untung-rugi-kehadiran-perguruan-tinggi-asing _artikel.pdf pada tanggal 12 Mei 2012

211

Mendorong Pelajar Australia Kuliah di Indonesia. Diakses dari http://kampus.okezone.com /read/2012/ 05/14/373/629302/mendorong-pelajar-australia-kuliah-di-indonesia pada tanggal 2 Juli 2012

prestigious degrees, etc “212 Demikian juga yang disampaikan oleh Higher Education Strategy Group bahwa 213

The presence of overseas students gives an international flavour to a campus, and it creates a dynamic in which domestic and overseas students can learn from and stimulate one another and mutually enrich their learning experience. Irish students can benefit from exposure to other cultures, from the improved curricula resulting from greater interaction between Irish academics and their international peers, and from better opportunities to study abroad themselves.

:

Lebih lanjut dikatakan bahwa internasionalisasi pendidikan tinggi di Irlandia bertujuan untuk: 214

1. Attracting more international students into Ireland;

2. Making it easier for Irish staff and students to study and to engage in research work abroad;

3. Making Ireland an attractive destination for talented overseas faculty; 4. Establishing more collaborative institutional and research links; 5. Internationalising curricula;

6. Further developing Irish involvement in trans-national education (delivering Irish academic programmes overseas and establishing Irish-linked institutions outside of Ireland); and

7. Contributing to overseas developmentand participating in EU programmes and multilateral initiatives such as the Bologna process.

Peningkatan mobilitas program dan penyedia jasa pendidikan dalam dua dekade terakhir ini telah memberi peluang yang berbeda-beda bagi bagi negara pengirim dan

212

Aleš Vlk . Higher Education and GATS. Regulatory Consequences And Stakeholders’ Responses. Desertasi. University of Twente.2006. Hal 30

213

Higher Education Strategy Group .National Strategy for Higher Education to 2030. Report of the Strategy Group January 2011. (Department of Education and Skills. Ireland.2011). Hal 81

214

penerima, negara berkembang dan negara maju, mahasiswa, lembaga pendidikan, perusahaan, yaitu : 215

1. Peningkatan akses pendidikan tinggi

2. Aliansi strategis antara negara-negara dan regional 3. Produksi dan pertukaran pengetahuan baru

4. Pergerakan alumni dan para profesional

5. Pembangunan capasitas (capacity buiding) institusi dan sumber daya manusia, 6. Peningkatan pendapatan

7. Peningkatan kualitas akademik 8. Peningkatan saling kesepahaman

Jane Knight menggambarkan alasan dan dampak dari Cross border education dari bebagai perpektif .

Tabel 7. Perbedaan Alasan dan Dampak Pendidikan Lintas Negara Rationales and Impact Enrolled Students in Home/Receiving Country Institution/Provider in Source/Sending Country Institution/Provider in Home/Receiving Country Increased Access/Supply in Home Country

• Ability to gain foreign qualification without leaving home.

• Can continue to meet family and work commitments.

• Attracted to unmet need for higher education and training.

• Relationship with foreign provider can be one of competition, collaboration or co-existence.

Cost/Income

• Less expensive to take foreign program at home, as no travel or accommodation costs.

• Tuition fees from quality foreign providers may be high for majority of tudents.

• Strong imperative to generate a profit for crossborder operations. Fees could be high for receiving country students.

• If tuition or service charges are applied by local higher education institutions, it is anticipated that they would be lower than those charged by foreign providers.

Selection of Courses/ Programs

• Increased access to courses/ programs in high demand by labour market (e.g., Business, IT, Communications).

• Tendency to offer high demand courses that require little infrastructure or investment.

• Local higher education institutions have to offer broad selection of courses regardless of whether they have high/low enrolments and/or have major lab or equipment requirements.

Language/ Cultural and

• Can have access to courses in foreign and/or indigenous

• Language of instruction and relevance of

• Courses are usually offered in national language (or

215

Jane Knight. Higher Education Crossing Borders: A Guide to the Implications of the General Agreement on Trade in Services (GATS) for Cross-border Education. A Report Prepared for the Commonwealth of Learning and UNESCO. (Unesco.2006.) Hal 65

Safety Aspects

language. Students remain in familiar cultural and linguistic environment.

• Students today have stronger concerns about travel-related safety and security.

curriculum to host country are key issues.

• If foreign language is used for delivery, then

additional academic and linguistic support may be needed.

languages).

Quality

• Can be exposed to higher or lower quality course provision.

• National policies are required to register and qualityassure foreign providers.

• Depending on delivery mode quality may be at risk. Assurance of relevant and high quality courses may require significant investment.

• Presence of foreign providers may be a catalyst for innovation and

improvement of quality in courses, management and governance.

Recognition of

Qualification

• Foreign qualification has to be recognized for academic and employment purposes.

• May be difficult for academic award and for institution to be recognized

• Recognized home providers have an advantage and are often attractive to foreign providers for their award granting powers.

Reputation and Profile

• Because of massive marketing campaigns, international profile is often mistakenly equated with quality of provider/program.

• Profile and visibility are needed to attain high enrolments and strategic alliances.

• Home (domestic) providers are challenged to distinguish between those providers with high/low profile and high/low quality.

Sumber : Jane Knight (Unesco.2006)

Tatjana Takševa Chorney juga mengatakan bahwa liberalisasi pendidikan tinggi memberi dampak positif. Dikatakan “Some aspects of these changes can be seen as positive opportunities for higher education as they have resulted in greater access opportunities for many students, an “increasingly international and mobile academic profession” and the establishing of “global research networks. 216

Pasal 90 Ayat (5) UU No. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi menyatakan bahwa PTA wajib mendukung kepentingan nasional. Dengan demikian internasionalisasi

217

216

Tatjana Takševa Chorney. The Commercialization of Higher Education as a Threat to the Values of Ethical Citizenship. Diakses dari

pendidikan tinggi di Indonesia bertujuan untuk mendorong

23 Mei 2012

217

Dalam konteks pendidikan tinggi, istilah internasonalisasi dan globalisasi merupakan 2 istilah yang berbeda. Van Vught, Van der Wende, and Westerheijden sebagaimana dikutip oleh Jandhyala B.G. Tilak mengatakan bahwa pengertian internasionalisasi lebih dekat pada tradisi kerja sama dan mobilitas

peningkatan kualitas pendidikan tinggi domestik. Senada dengan amanat Pasal 90 Ayat (5) diatas, Jane Knight mengatakan bahwa tujuan prinsip fundamental dari internasionalisasi pendidikan tinggi adalah untuk melengkapi dan memperluas dimensi pendidikan tinggi tinggi lokal. “The attention now given to the international dimension of higher education should not overshadow or erode the importance of local context. Thus, internationalization is intended to complement, harmonize, and extend the local dimension—not to dominate it.218 Akhmaloka juga mengakui bahwa kehadiran PTA di Indonesia bisa memotivasi perguruan tinggi dalam negeri meningkatkan kapasitas dan kualitasnya, namun diingatkan agar Pemerintah dalam mengijinkan masuknya PTA asing di Indonesia harus mempertimbangkan waktu yang tepat..219

Dengen penjelasan di atas data disimpulkan bahwa tujuan dan manfaat kehadiran pendidikan asing di Indonesia antara lain :

a. Mengurangi capital flight ke luar negeri

b. Memperoleh devisa dari mahasiswa asing yang belajar di Indonesia c. Merangsang peningkatan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia

internasional, sementara globalisasi lebih mengarah pada persaingan dan pemaksaan perubahan konsep pendidikan tinggi menjadi komoditas. Baca: Jandhyala B.G. Tilak dan terhadap . Trade in higher education: The role of the General Agreement on Trade in Services (GATS). UNESCO: International Institute for Educational Planning. Paris 2011. Hal. 20

Jane Night mengatakan bahwa internasionalisasi (Unesco) bertujuan untuk non profit, sementara di dalam GATS untuk liberalisasi pasar. Baca : Zeynep Varoglu. Trade in Higher Education and GATS Basics. First Global Forum On International Quality Assurance, Accreditation And The Recognition Of Qualifications In Higher Education “Globalization And Higher Education”.UNESCO. Paris. 17 - 18 october 2002

218

Jane Knight. Five Truths about Internationalization. International Higher Education. Number 69: Fall 2012. The Boston College Center for International Higher Education. Diunduh dari http://www.bc. edu /content/dam/files/research_sites/cihe/pdf/IHEpdfs/ihe69.pdf

219

Perguruan Tinggi Asing Bisa Berdiri di Indonesia. Diakses dari 2012

d. Mendorong peningkatan kapasitas pengelolaan perguruan tinggi

e. Memenuhi hak konstitusional warna negara untuk mendapatkan pendidikan tinggi yang bermutu.

f. Memberikan pengalaman dan pendidikan tinggi yang bertaraf internasional kepada warga Negara.

g. Memberikan lebih banyak pilihan pendidikan tinggi kepada warga negara Dari penjelasan di atas maka sangat jelas bahwa eksistensi pendidikan tinggi asing diakui oleh aturan perudang-undangan pendidikan tinggi di Indonesia, namun bukan sebagai bagian dari liberalisasi pendidikan tinggi sebagaimana konsep GATS, tetapi sebagai bagian dari SPN. Dengan perkataan lain bahwa penyelenggaraan pendidikan asing di Indonesia harus tetap mengacu pada sistim, prinsip dan tujuan penyelenggaraan pendidikan tinggi sebagaimana diatur di dalam UU No. 20 tahun 2003 dan UU No. 12 tahun 2012. Hal ini berarti bahwa penyelenggaraan pendidikan asing dengan cara mendirikan PTA di Indonesia (Commercial Presence) tidak dapat dilakukan.

Namun demikian, melihat kecenderungan praktik penyelenggaraan pendidikan tinggi pada era globalisasi ini, dan juga didorong oleh perilaku atau budaya masyaalat Internasional termasuk Indonesia serta manfaat dari kehadiran PTA di suatu negara baik melalui frenchise, branch campuss dan bentuk lainnya, Indonesia sebaiknya membuka akses masuknya investor asing untuk mendirikan PTA di Indonesia (commercial presence).

Pendirian PTA di Indonesia tidak melanggar konstitusi sepanjang hal tersebut berada di luar SPN. Bahkan hal tersebut secara konstitusional merupakan perwujudan

dari amanat Pasal 28C ayat (1) UUD 1945 yang menjamin bahwa setiap orang berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia” dan Pasal 28E ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan setiap orang bebas memilih pendidikan dan pengajaran. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut, diperlukan undang-undang yang mengaturnya.

BAB IV

DAMPAK GATS TERHADAP PENGATURAN PENDIDIKAN TINGGI DI