DAMPAK GATS TERHADAP PENGATURAN PENDIDIKAN TINGGI DI INDONESIA
B. Liberalisasi Jasa Pendidikan Tinggi di dalam GATS 1. Latar Belakang Liberalisasi Jasa Pendidikan Tinggi
3. Pro Kontra Liberalisasi Perdagangan jasa Pendidikan Tinggi
Praktek cross border education sebenarnya sudah terjadi sejak lama, sebelum adanya GATS yang dilatarbelakangi oleh berbagai kepentingan seperti politik, agama, sosial, dan lain-lain. Misalnya pada tahun 1990an Amerika Serikat dan pemerintahan Quing bekerja sama dalam pendidikan tinggi (Tsinghua College). Kerja sama tersebut diyakini akan berdampak pada ekonomi dan kebudayaan kedua negara.321
321
Su-Yan Pan. University Autonomy, The State, And Sosial Change In China. (Hongkong. Hongkong University Press. 2009). Hal 65
Bagi Amerika kerja sama tersebut akan bermanfaat untuk menanamkan pengaruh di Cina, melatih
masyarakat Cina agar menjadi mitra bisnis pada masa yang akan datang, dan untuk mendapatkan dukungan politik pada masa yang akan datang.322
Bagi Indonesia sendiri, cross border education bukan hal yang baru. Cara yang dikenal di dalam GATS sebagai presence of natural person misalnyasudah terjadi pada tahun 1970an dimana Indonesia mengirim guru-guru ke Malaysia untuk mengajar. Namun demikian cross border education yang difasilitasi oleh GATS tetap menimbulkan perdebatan diantara berbagai kelompok stakeholder seperti lembaga pendidikan, organisasi guru, mahasiswa dan orang tua murid.323
Para penentang pendidikan tinggi sebagai bagian dari perdagangan dalam GATS yang umunya LSM, konsumen, dan kelompok-kelompok masyarakat pemerhati kepentingan publik, mengkhawatirkan dampak dari komodifikasi pendidikan dalam GATS yaitu hilangnya kedaualatan negara dalam mengatur pendidikan tinggi di negaranya. Mereka beranggapan bahwa negara maju akan memaksa negara lain untuk membuka sektor jasa mereka untuk perdagangan dan investasi melalui lobi-lobi dan tekanan. Hal ini akan mengakibatkan jasa pendidikan tersebut diambil alih oleh perusahaan multinasional (privatisasi).
Penyebabnya adalah cross border education sebelum era GATS hanya merupakan bagian kerja sama internasional, sementara dalam era GATS, cross border education merupakan praktik perdagangan pendidikan. Dengan perkataan lain, pendidikan pada era GATS adalah komoditas perdagangan internasional.
322
Ibid. Hal 66
323
Kekhawatiran lainnya adalah bahwa GATS hanya akan melayani kepentingan negara-negara maju karena adanya ketidakseimbangan kapasitas antara negara maju dan dan negara sedang berkembang (Asymmetric liberalization). Dengan perkataan lain bahwa manfaat dari perdagangan jasa pendidikan tinggi hanya akan dirasakan oleh negara-negara maju.
Hilangnya fungsi perguruan tinggi publik (PTN) sebagai penyedia pendidikan publik juga dikhawatirkan oleh para pengkritik GATS karena praktiknya lembaga pendidikan (PTN atau PTS) yang melakukan usahanya di luar negeri akan dianggap sebagai badan privat (private provider) oleh negara penerima (host country). “ It is impotant to note that while traditional institutions may be public or private in their own country, in most cases, but not all, as soon as they cross a border they functionally become a private entity in terms of legislation in the receiving country. “ 324 Santosh Kumar Madugula mengatakan bahwa perguruan tinggi publik (PTN) dapat saja diminta untuk beroperasi di luar negeri dengan status sebagai PTS. Public universities from other countries may be asked to open up education service in other countries as ‘private education service providers’325
324
UNESCO. Op.Cit. Hal 13
Dalam kaitan membuat perjanjian internasional, Suhaidi dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Badan Legislasi dalam rangka penyusunan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional pada tanggal 20 Juli 2011 mengatakan bahwa Pemerintah Daerah bisa melakukan hubungan luar negeri dalam hubungan privat bukan hubungan publik dan Pemerintah Daerah harus berkomunikasi dengan Pemerintah Pusat, karena yang bertanggung jawab adalah negara (anggota masyarakat internasional adalah negara/state). Diakses dari http://www.lapsing_ RDPU_BALEG_dengan_PROF.DR.SUHAIDI_S.H_MHUM_DAN_DRS_AYUM_MOHSIN_MA_TGL _20_JULI_2011.pdf pada tanggal 5 Desember 2012.
Jika demikian halnya maka perjanjian kerja sama internasional yang dilakukan oleh PTN dengan PTA merupakan hubungan privat.
325
Organisasi dosen di India yang tergabung di dalam AIFUCTO juga menentang pendidikan sebagai komoditas perdagangan. Lebih lanjut dikatakan bahwa membuka akses pendidikan dalam kerangka GATS akan merusak kepentingan nasional India. Bahkan organisasi ini mempertanyakan mengapa menteri perdagangan yang mendiskusikan pendidikan di forum GATS. 326 Internastional Education juga berpendapat bahwa GATS merupakan perjanjian yang berbahaya karena hanya didorong oleh pertimbangan ekonomi tanpa memperhatikan hakikat jasa tersebut, dalam hal ini pendidikan tinggi. 327
Namun demikian, Michael R. Czinkota menyatakan bahwa “ Higher education may see itself exempt from international service industry rules, but it certainly is not immune from rules of economics, particularly when it comes to issues of supply, demand, and money”
328
Apa yang disampaikan oleh Michael di atas menunjukkan bahwa praktik cross border education sebagai satu kenyataan yang sedang terjadi dengan sendirinya akan mengikuti hukum ekonomi walaupun secara teori dinyatakan bahwa pendidikan bukan komoditas. Lebih lanjut Michael R. Czinkota memberikan 6 alasan mengapa liberalisasi pendidikan tinggi perlu dilakukan melalui GATS :329
1. Knowledge is crucial to advancement anywhere around the world.
326
AIFUCTO Disappointed with GoI on Handling of WTO ‘Plurilateral’ Negotiations Harmful. Why should Commerce Ministry handle and mess up education?University Today. Vol XXVI, No 18. 15 September 2006. Diakses dari http://www.universitytoday.net/15sep06.pdf
327
Education International. Globalization, Trade, and Higher Education. Diakses dari 2012
328
Michael R. Czinkota. Loosening The Shackles: The Future Of Global Higher Education. Disampaikan pada Symposium On Cross-Border Supply Of Services di Geneva, pada tanggal 28-29 April 2005, Diunduh dari t5anggal 10 Sept. 2012
329
2. In spite of much support and good will, higher education remains a high privilege or entirely elusive for large portions of the global population.
3. Unlike in earlier times, the key constraint to progress is not the availability of knowledge but its distribution, absorption and application. In its role as a global channel of distribution higher education has become a bottleneck.
4. to ease the problem, major funding and productivity enhancements are required.
5. International competition offers the key opportunity to boost productivity and attract resources.
6. Institution and program mobility will be particularly instrumental in global capacity building.
7. The application of GATS rules will play a crucial facilitating role in causing the above six steps to happen more quickly and widely around the world.
“The reason for emphasizing global or intercultural education is to help ensure that students have the ability to understand themselves in relation to those who are from different background, and of understanding others in relation to themselves. To accomplish this, we need to study differences by making comparisons in many dimensions. To ignore beliefts and values, customs,and institutions, both over time and from place to place”
Patrick O'Meara memandang pentingnya internasionalisasi pendidikan dari dari perpektif yang berbeda, yaitu manfaat yang bersifat non akademik. Beliau mengatakan bahwa :
330
Kelompok yang khawatir dengan komersilasasi pendidikan cenderung melihat berkembangnya kampus-kampus cabang (offshore) merupakan ancaman terhadap eksistesisteni Sistem pendidikan publik karena mereka akan bersaing dengan kampus asing tersebut.331
330
Patrick O'Meara,Howard D. Mehlinger,Roxana Ma Newman .Changing Perspectives on International Education. (Bloomington.Indiana University Press. 2001). Hal 165
Philip Altbach mengatakan bahwa jika pendidikan tinggi diatur oleh WTO maka akan mengakibatkan hilangnya otonomi akademik. Menurut beliau, akan sulit menerapkan peraturan tentang hak patent, hak cipta, dan perizinan, dan
aturan-331
aturan perdagangan terhadap lembaga pendidikan. Pendidikan asing yang masuk dalam suatu negara tertinggal dengan kesulitan-kesulitan diatas tanpa memperhatikan budaya akademik lokal, dapat secara tidak langsung menggantikan konsep dan praktek pendidikan tinggi negara yang bersangkutan. Dikatakan : 332
“ …… maintained that higher education regulated by the World Trade Organization would result in a loss of academic autonomy. According to his theory, individual nations would find it difficult to enforce copyright laws, patent and licensing regulations, and trade regulations on academic institutions, programs, and credentials from foreign education service providers. By providing hard-to-regulate educational programs to less developed nations without regard to the local educational culture, educational service providers may inadvertently supplant that country's educational ideas and practices.”
Hasil survey yang dilakukan International Association of Universities, sebagaimana dikutip oleh Cibele Cesca menunjukkan bahwa manfaat utama yang diperoleh perguran tinggi dari internasionalisasi pendidikan tinggi adalah pengembangan mahasiswa dan staff, penjaminan mutu standar akademik, dan kerja sama penelitian internasional. Sementara resiko yang terbesar adalah terjadinya brain drain dan hilangnya identitas budaya; masalah brain drain ini paling banyak dikekhawatirkan oleh perguruan tinggi dari negara-negara Amerika Latin, dan Amerika Utara, namun tidak terlalu mengkhawatirkan perguruan tinggi di Asia. Pertanyaan lain yang muncul adalah apakah internasionalisasi ini dapat meningkatkan akses dan persamaan hak atas pendidikan tinggi, atau justru hanya orang-orang tertentu (kaya) yang mampu mengaksesnya. 333
332
Altbach Philip. Why Higher Education Is Not a Global Commodity." Chronicle of Higher
Education May 11 2001.Jurnal Online.
333
Cibele Cesca. Internationalisation of Higher Education in Brazil: The debate on GATS and Other International Cooperation Initiatives. Thesis. Universiteit Van Amsterdam.2008 . hal. 9
Hasil penelitian Cibele Cesca dalam thesisnya menemukan bahwa kementerian pendidikan dan perguruaan tinggi Brazil tidak menggunakan GATS, tetapi internasionalisasi pendidikan guna memperbaiki kualitas sistem pendidikannya, berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan perguruan tinggi mitra dari negara lain, serta mempersiapkan warganya untuk pasar tenaga kerja internasional. Bahkan beberapa perguruan tinggi telah menyiapkan strategi dan rencana untuk internasionalisasi tersebut walaupun kebanyakan mereka tidak mempunyai anggaran yang cukup untuk mengimplementasikannya. Praktik yang paling banyak dilakukan adalah melalui pertukaran mahasiswa, bukan mengirim mahasiswanya ke luar negeri, dan menarik minat mahasiswa asing untuk kuliah di negaranya dengan memberikan bantuan berupa akomodasi, makan, transport, dan asuransi kesehatan. 334
Cibele Cesca juga menginventarisir alasan Brazil memilih kerja sama internasional danmenolak GATS i:
Alasan memilih kerja sama internasional :335
1. Kerja sama internasional memberi kontribusi pada kedaulatan nasional dan individu dengan mendukung 3 prinsip pendidikan sebagaimana terdapat di dalam konstitusi Brazil.
2. Kerja sama internasional didasarkan pada kerja sama resiprokal
3. Kerja sama internasional berperan dalam peningkatan kualitas pendidikan dan percpaian tujuan pendidikan nasional Brazil.
Sementara penolakan terhadap GATS didasarkan pada alasan bahwa :336
334
Ibid
335
1. GATS akan menggeser posisi pendidikan sebagai public service dan hak asasi manusia menjadi komoditas
2. GATS berbahaya terhadap mekanisme pengawasan mutu dan regulasi nasional. 3. Jika membuat komitmen pada GATS, akan tidak mungkin untuk menarik
kembali
4. GATS merupakan perjanjian yang yang ambiguiti dan mengakibatkan ketidakpastian.
Lee Man-Hee juga menginventarisir alasan-alasan masyarakat Korea menolak dan mendukung GATS sebagai berikut : 337
Alasan menolak GATS adalah Karena GATS :
a. Merusak lembaga pendidikan dalam negeri yang sedang krisis.
b. Menghilangkan identitas nasional dalam lembaga pendidikan karena mahasiwa dan professesor asing akan masuk
c. Meningkatkan ketergantungan lembaga pendidikan Korea pada modal asing d. Mengakibatkan komersialisasi pendidikan
e. Meningkatkan kesenjangan yang miskin dan kaya Alasan mendukung GATS :
a. Memperbanyak pilihan akan pendidikan tinggi
336
Ibid
337
Lee Man-Hee. Cross-border higher education in the Republik of Korea: From Challenge to Opportunity. UNESCO Forum Occasional PaperSeries Paper no. 9. (ED-2006/WS/48) Makalah disampaikan di sampaikan pada Regional Seminar for Asia Pacific, Seoul, The Republik of Korea. 27-29 April 2005.
b. Meningkatkan kualitas pendidikan tinggi yang dirangsang oleh cross-border education.
c. Memperkuat pelatihan tenaga kerja global denga biaya yang rendah. d. Menyerap permintaan konsumsi luar negeri
e. Mengurangi defisit anggaran yang diakibatkan oleh kuliah di luar negeri di dalam negeri
f. Melaksanakan kewajiban sebagai anggota WTO dalam hal pembukaan pasar
4. Conditional Initila Offering Indonesia Untuk subsektor pendidikan tinggi (GATS) Di dalam Paragraph 15 Ministerial Declaration pada tanggal 14 Nopember 2001 disebutkan :
The negotiations on trade in services shall be conducted with a view to promoting the economic growth of all trading partners and the development of developing and least-developed countries. We recognize the work already undertaken in the negotiations, initiated in January 2000 under Article XIX of the General Agreement on Trade in Services, and the large number of proposals submitted by members on a wide range of sectors and several horizontal issues, as well as on movement of natural persons. We reaffirm the Guidelines and Procedures for the Negotiations adopted by the Council for Trade in Services on 28 March 2001 as the basis for continuing the negotiations, with a view to achieving the objectives of the General Agreement on Trade in Services, as stipulated in the Preamble, Article IV and Article XIX of that Agreement. Participants shall submit initial requests for specific commitments by 30 June 2002 and initial offers by 31 March 2003.338
Berkenaan dengan hal tersebut, dalam Initial Offering yang disampaikan kepada CTS pada 12 April 2005, Indonesia telah memasukkan pendidikan tinggi sebagai salah satu subsektor yang diliberalisasi.
338
WTO. Doha WTO Ministerial 2001: Ministerial Declaration.Diakses dari
Tabel 12. Conditional Initial Offer Indonesia untuk Subsektor Pendidikan Tinggi
Modes of Supply (1) Cross border Supply (2) Comsumption Abroad (3) Commercial Presence (4) Presence of Natural Persons
Sector or Subsector Limitation on Market Access Limitation on National Treatment Additional Commitment Educational Services
General conditions on education services :
Commercial presence of the foreign service provider is permitted only through an education institution which is registered in Indonesia and must meet the following conditions :
1. Mutual recognition arrangement between relevant institutions on credits, programs, and certifications is required.
2. Foreign education institution providing services must establish partnership with local partner. Foreign language instructors must be native speakers.
3. Foreign education institution must be listed in the Ministry of Education’s List of Accredited Foreign Education and its local partner must be accredited.
4. Foreign education institution in cooperation with local partner may open education institution in the cities of Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, and Medan.
5. Temporary entry for natural persons engaged in education activities in Indonesia is subject to approval by the Ministry of National Education. Approval is granted on case-by-case basis.
Higher education services (CPC 923)
1) None 2) None
3) See Horizontal Section and General Conditions
4) Unbound except as indicated in the Horizontal Section and General Conditions
1) None 2) None
3) Unbound
4) Unbound
Post secondary technical and vocational education services (Polytechnique Machine and Electrical) (CPC 92310)
1) None 2) None
3) See Horizontal Section and General Conditions
4) Unbound except as indicated in the Horizontal Section and General Conditions
1) None 2) None 3) Unbound 4) Unbound
Sumber : Diolah dari Conditional Initial Offer yang disampaikan Delegasi Indonesia kepada CTS 12 April 2005.Diunduh dari Des.2012
Mengacu pada data pada table 12 di atas, maka liberalisasi pendidikan tinggi sudah diimplementaikan oleh Pemerintah dengan memberikan komitmen untuk masing-masing modes of supply. Untuk Consumption Abroad dan Cross Border Supply, Indonesia tidak memberikan batasan sama sekali baik untuk market access maupun national treatment (NONE) Hal ini berarti bahwa WNA asing yang ingin belajar di Indonesia dan WNI yang ingin berlajar di luar negeri bebas tanpa ada batasan sama sekali.339
Untuk Commercial Presence, pada Market Access Lmitation, Indonesia memberi ketentuan bahwa kehadiran PTA di Indonesia harus memnuhi beberapa ketentuan, yaitu:
1. Adanya pengaturan bersama tentang pengakuan kredit kredit, program, sertifikasi antara perguruan tinggi.
2. Penyelenggaraan pendidikan tinggi oleh PTA harus melalui kerja sama dengan perguruan tinggi Indonesia (partnership). Pengajar bahasa asing harus penutur asli (native speaker).
3. PTA harus terdaftar sebagai lembaga pendidikan asing yang terakreditasi di Kemendikbud dan lembaga pendidikan Indonesia yang menjadi mitra kerja samanya juga harus terakreditasi.
339
Bandingkan dengan SK Dirjendikti No. 1840/D/T/2001. Di dalam SK tersebut terdapat ketentuan bahwa daya tampung mahasiswa asing di PTN untuk tiap program studi adalah maksimum 10%
4. Penyelenggaraan pendidikan oleh PTA dengan Perguruan Tinggi Indonesia boleh membuka lembaga pendidikan di Jakarta, Bogor, Bandung, Jogyakarta, dan Medan.340
5. Untuk sementara kehadiran WNA dalam kaitannya dengan penyelenggaraan pendidikan harus mendapat persetujuan dari Mendikbud. Pemberian ijin berbasis pada kasus demi kasus, (case-by-case basis.)
National treatment limitation pada commercial presence adalah Unbound. Hal ini berarti bahwa Pemerintah masih bebas dalam membuat aturan-aturan atau kebijakan yang berkenaan dengan mode of supply tersebut. Dengan perkataan lain, otoritas Pemerintah terhadap pengaturan pendidikan tinggi dalam konteks liberalisasi tersebut tidak berkurang.
Namun walaupun kontrol Pemerintah masih penuh atas penyelenggaraan pendidikan tinggi tersebut, permasalahan mendasar dari SC Indonesia di dalam GATS ini adalah payung hukum. Segala komitmen dan persyaratan yang diajukan oleh Pemerintah dalam liberalisasi pendidikan tinggi tersebut selalu mengacu pada UU SPN, pada hal UU SPN mengatur tentang pendidikan termasuk pendidikan tinggi sebagai layanan publik, bukan pendidikan sebagai komoditas yang diperdagangkan. 341
340
Perdebatan kehadiran PTA di Indonesia umumnya berkisar pada kesiapan perguruan tinggi Indonesia (PTN dan PTS) dalam bersaing atau bekerja sama dengan PTA. Penentuan ke 5 daerah di atas mengindikasikan bahwa ke 5 daerah tersebut yang sudah siap. Namun tidak jelas apakah dalam menentukan ke 5 daerah tersebut dinilai berdasarkan kesiapan (mutu bersaing) atau Tingkat APK.
341
Lihat juga Lampiran Perpres. No.36 tahun 2010 dimana UU No. 20 tahun 2003 tentang SPN merupakan persyaratan akan kepemilikan asing pada bidang usaha Pendidikan.
C. Dampak GATS terhadap Pengaturan Pendidikan Tinggi di Indonesia