PENGATURAN PENDIDIKAN TINGGI SEBAGAI SUBSISTEM DARI SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL INDONESIA
A. Sistem Pendidikan Nasional
2. Struktur Pendidikan Nasional
Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional sebagaimana disebutkan di atas, pendidikan nasional disusun ke dalam beberapa jalur, jenjang, dan jenis.59 Jalur pendidikan dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu jalur pendidikan nonformal, informal, dan formal.60
Pendidikan nonformal berfungsi sebagai sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal bagi warga masyarakat.
61
Sesuai dengan fungsi tersebut, maka hasil proses pendidikan nonformal bak yang diselenggarakan oleh lembaga kursus atau dan pelatihan dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada SNP. Program paket A yang diperoleh dari pendidikan nonformal, diakui setara dengan pendidikan dasar (SD) pada jalur formal, Program paket B pendidikan nonformal, diakui setara dengan SMP pada jalur formal, dan Program paket C pendidikan nonformal, diakui setara dengan pendidikan menengah atas (SMA sederajat) pada jaur formal.62
Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.63
59
Pasal 12 UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam berbentuk kegiatan belajar secara
60
Pasal 15 UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
61
Pasal 26 ayat ( 1) UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Pendidikan Nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang dilaksanakan dalam bentuk lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.
62
Pasal 1 ayat (7) dan 8 Peraturan Pemerintah No. 47 tahun 2008 tentang Wajib Belajar.
63
mandiri. Sebagaimana pendidikan formal, hasil pendidikan informal juga dapat diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan. 64
Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
65
Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah dan diselenggarakan dalam bentuk SD dan MI atau bentuk lain yang sederajat, serta SMP dan MTs, atau bentuk lain yang sederajat66
Pendidikan dasar merupakan prioritas di Indonesia karena selain sebagai hak warga negara, juga merupakan kewajiban bagi Pemerintah untuk membiayainya
.
67
, serta kewajiban bagi orangtua untuk memberikannya kepada anaknya. 68
1. Setiap warga negara Indonesia usia wajib belajar wajib mengikuti program wajib belajar.
Kewajiban ini ditegaskan kembali melalui Pasal 12 PP No. 47 Tahun 2008 Tentang Wajib Belajar :
2. Setiap warga negara Indonesia yang memiliki anak usia wajib belajar bertanggung jawab memberikan pendidikan wajib belajar kepada anaknya.
Ketentuan yang mewajibkan Pemerintah membiayai pendidikan dasar menunjukkan bahwa pendidikan dasar tersebut murni sebagai layanan publik dimana pendanaannya ditanggung oleh Pemerintah. Dengan demikian, pendidikan dasar yang gratis bukan
64
Pasal 27 UU No.20 tahun 2003 tentang SPN
65
Pasal 1 ayat (11) UU No.20 tahun 2003 tentang SPN
Selain berdsarkan jenjang, Pendidikan formal juga dikelompokkan berdasarkan jenisnya, yaitu pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus (Pasal 15 UU No.20 tahun 2003)
66
Pasal 17 UU No.20 tahun 2003 tentang SPN
67
Pasal 31 ayat (2) UUD 1945
68
merupakan kebaikan atau prestasi pemerintah daerah tetapi hanya sebagai bentuk konsistensi pelaksanaan konstitusi; justru kalau ada lembaga pendidikan dasar yang memungut biaya atau pemerintah daerah yang membiarkan hal tersebut terjadi merupakan pelanggaran terhadap konstitusi dan harus diberi sanksi, termasuk orangtua yang tidak memberikan pendidikan dasar kepada anaknya.
Pendidikan menengah sebagai lanjutan pendidikan dasar terdiri dari pendidikan menengah umum dan menengah kejuruan yang diselenggarakan dalam bentuk SMA, MA, SMK, dan MAK, atau bentuk lain yang sederajat. UUD 1945 tidak mewajibkan Pemerintah atau pemerintah daerah untuk membiayai pendidikan menengah ini sebagaimana halnya dengan pendidikan dasar. Namun demikian Pemerintah berusaha meningkatkan akses pendidikan menengah ini melalui pemberian dana BOS.69
Tidak adanya kewajiban konstitusional Pemda untuk mendanai atau memberikan pendidikan menengah secara gratis telah mengakibatkan issu ini menjadi bahan kampanye calon kepala daerah. Dirjen Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hamid Muhammad mengatakan bahwa hal tersebut merupakan praktik yang tidak sehat karena membuat masyarakat tidak mandiri.70
Pendidikan Tinggi adalah jenjang pendidikan yang tertinggi setelah pendidikan menengah yang mencakup program diploma, sarjana, magister, doktor, dan profesi, serta spesialis, yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi
71
69
Menguatkan Pendidikan Menengah. Diakses dari
Berdasarkan jenisnya,
70
Kampanye Sekolah Gratis tidak Mendidik. Diakses dari
71
pendidikan tinggi dikelompokkan ke dalam tiga kelompok, yaitu pendidikan akademik, vokasi, dan profesi.
Pendidikan akademik diarahkan pada penguasaan dan pengembangan cabang ilmu pengetahuan dan teknologi, sementara pendidikan vokasi diarahkan untuk menyiapkan mahasiswa untuk pekerjaan dengan keahlian terapan, dan pendidikan profesi untuk menyiapkan mahasiswa dalam pekerjaan yang memerlukan persyaratan keahlian khusus. 72
Masing-masing jenjang dan jalur pendidikan sebagaimana dijelaskan di atas dikelola dan diselenggarakan oleh organ-organ atau struktur tersendiri yang merupakan bagian dari struktur pendidikan yang tanggungjawabnya ada pada Pemerintah yang bertanggungjawab di bidang pendidikan, dalam hal ini Kemendikbud. Walaupun masing-masing jenjang dan jenis pendidikan tersebut di kelola dan diselenggarakan oleh organ-oragan tersendiri, namun semuanya merupakan bagian atau subsistem dari SPN sehingga penyelenggaraanya bermuara pada satu tujuan yaitu tujuan pendidikan nasional.
Sama halnya dengan pendidikan menengah, UUD 1945 tidak mewajibkan Pemerintah untuk membiayai pendidikan tinggi ini.
Prase “berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia” menegaskan bawah penyelenggaraan pendidikan tinggi di Indonesia harus berkarakter kebudayaan Indonesia, walaupun tidak ada penjelasan atau pengertian yang lebih luas tentang penyelenggaraan pendidikan tinggi yang “berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia.
72
Struktur dari keseluruhan pendidikan nasional tersebut diatas dapat digambarkan sebagai berikut :
Gbr.2.
Sumber : Kementerian Pendidikan Nasional.2007
PERGURUAN TINGGI/PTAI PASCA SARJANA
Higher Education/Islamic HE Post Graduate
Perguruan Tinggi/ PT AI Sarjana/Diploma Higher Education / Islamic HE Graduate/Diploma
Sekolah Menengeha
Senior Secondary School
Atas Kejuruan General Vocational MA Islamic General SMA
General IslamicMAK Vocational SMK Vocational MAGANG Apremticeship PAKET C Packet C MTs Islamic Junior Secondary School SMP Junior Secondary School PAKET C Packet C MI Islamic Primary School SD
Primary School PAKET A Packet A BA/RA
Islamic Kindergarten
TK
Kindergarten Kelompok BermainPlay Group
Taman Penitipan Anak Day Care Center
Sumber : Ministry of National Education.2007
Usia
Age
Pendidikan Sekolah
School Education
Pendidikan Luar Sekolah
Out-Off School Education Nonformal Informal
B. Pengaturan Pendidikan Tinggi Sebagai Subsistem Pendidikan Nasional