BAB II. DEVOSI MARIA DALAM GEREJA
E. Berbagai Bentuk Devosi Maria
Doa kepada Santa Perawan Maria merupakan bentuk devosi yang paling
umum dan biasa dilakukan oleh umat Katolik. Mereka menganggap bahwa doa,
puji-pujian, syukur, dan permohonan yang ditujukan kepada Allah melalui Maria
bukan suatu masalah. Alasannya adalah Maria merupakan karya ciptaan Allah yang
paling unggul dan berperan dalam karya penyelamatan. Problem baru muncul, kalau
Maria menjadi sasaran doa. Secara teologis, ungkapan ”berdoa kepada” sebenarnya
Allah. Namun dalam arti yang lebih luas, ungkapan ”berdoa kepada Maria”
dimaksudkan untuk menyapanya dalam suasana doa dan memohon kepadanya
untuk mendoakan si pendoa. Hal ini seperti tertera dalam rumusan doa Salam Maria.
Bentuk doa dan pujian kepada Maria cukup banyak. Di antara sekian banyak
bentuk doa tersebut, doa Salam Maria memiliki tempat dan kedudukan yang paling
utama, ini disebabkan karena struktur dasar setiap doa kepada Maria terdapat dalam
doa Salam Maria (Groenen, 1988 :169) Bagian pertama dari doa ini merupakan
gabungan dari dua ayat Injil Lukas, yakni: Salam Malaikat Gabriel kepada Maria
(Luk 1:28) dan ditambah dengan Pujian Elizabeth kepada Maria (Luk 1:42). Bagian
pertama ini sudah lazim dipakai sebagai doa sejak abad VI-VII, dan baru muncul
secara lengkap pada tahun 1498, dan ditetapkan seperti apa adanya sekarang pada
tahun 1568 oleh Paus Pius V (Handoko, 2006: 129)
Selain doa Salam Maria masih ada beberapa bentuk doa kepada Maria
di antaranya:
a. Doa Malaikat Tuhan
Doa ini dilakukan tiga kali sehari, yaitu pada pagi hari, siang hari, dan senja
hari. Lonceng Gereja-gereja dengan cara khusus dibunyikan sebagai tanda waktu
mulai berdoa. Doa ini sebenarnya bertujuan untuk mengenang peristiwa inkarnasi.
Doa ini tersusun atas tiga ayat serta tanggapannya yang dikutip dari ayat-ayat Lukas
1 dan Yohanes 1, kemudian disusul doa Salam Maria dan berakhir dengan suatu
Allah dengan perantaraan Yesus Kristus (Groenen, 1988 :172-174) Penyertaan doa
Salam Maria dan seruan kepada Maria menandakan bahwa umat Roma Katolik
juga ingin mengikutsertakan peranan yang dipegang Maria dalam
peristiwa-peristiwa penyelamatan itu, sesuai dengan tempat Maria dalam sejarah
penyelamatan. Perhatian doa ini diarahkan kepada karya penyelamatan dalam
diri Yesus maupun kepada sikap bagaimana kita harus menyambut karya-Nya itu.
Sikap Maria dalam menyambut karya Allah harus dijadikan teladan, khususnya
sikap Maria ketika menerima Kabar Malaikat.
b. Doa Rosario
Doa Rosario adalah doa yang berisi tiga rangkaian peristiwa misteri Tuhan,
yaitu peristiwa gembira, peristiwa sedih, dan peristiwa mulia. Masing-masing
peristiwa terdiri atas lima peristiwa (https://id.wikihow.com/Berdoa-Rosario).
Doa Rosario menggunakan alat bantu berupa tasbih dan menggunakan sistem
mengulang-ulang rumusan doa. Rosario sendiri berarti karangan bunga mawar.
Inti doa Rosario adalah merenungkan peristiwa-peristiwa hidup Yesus dan
Maria. Jadi, tujuan utamanya bukan pengucapan rumusan-rumusan doa.
Pengulangan rumusan doa dimaksudkan untuk membantu mempermudah
renungan batin.
Doa Rosario merupakan doa yang amat popular dan disukai umat karena
mudah, praktis dan bias menenangkan hati orang. Gereja sendiri melalui para Paus,
sebagai bulan Maria dan bulan oktober sebagai bulan Rosario. Meski doa Rosario
merupakan devosi kepada Bunda Maria, tetapi doa Rosario sungguh berciri
Kristologis dan membantu umatberiman untuk merenungkan misteri penebusan
Tuhan. Kini tersedia empat peristiwa, setelah lama dalam sejarah hanya tersedia
tiga peristiwa (Gembira, Sedih dan Kemuliaan) Paus Yohanes Paulus II
menambahkan satu peristiwa yaitu peristiwa terang atau cahaya pada tahun 2002
(Rosarium Virginis Mariae no 19)
c. Litani Santa Maria
Doa Rosario biasanya digabung oleh doa Litani. Litani (Latin:
litania/litaniae) adalah doa yang terdiri dari serangkaian permohonan atau seruan, yang dibawakan oleh seorang pemimpin, lalu oleh para jemaat ditanggapi dengan
rumusan/seruan yang sama (Groenen, 1988: 178).
Dalam Gereja Katolik, ada enam Litani yang secara resmi diakui Gereja,
yaitu: Litani S. Maria, Litani Para Kudus, Litani Nama Yesus, Litani Hati Kudus,
Litani Darah Mulia, dan Litani S. Yusup. Dari enam Litani tersebut, yang paling
umum dipakai adalah Litani Santa Maria, sedangkan Litani yang lain kurang
digemari umat (http://www.guamaria.org).
2. Patung/Gambar Maria
Gereja biasanya dihiasi dengan macam-macam gambar dan patung Yesus
patung/gambar Maria menempati kedudukan paling depan. Bagi umat Katolik
patung/gambar tersebut bukan hanya hiasan dan karya seni belaka, tetapi
merupakan sasaran devosi yang hangat dan emosional. Masih menurut mereka,
religiusitas dan iman umat dapat dihayati dengan hangat dan dalam bila dapat
disalurkan melalui obyek yang kongkret seperti patung/gambar.
Alasan pembuatan patung dalam Gereja Katolik adalah sebagai simbol atas
sosok yang diistimewakan melalui patung tersebut. Patung itu sendiri tidak
diistimewakan, sosok yang diwakilinyalah yang diistimewakan. Dengan demikian,
pembuatan patung sebenarnya tidak dimaksudkan untuk menjadikan patung itu
sebagai objek penyembahan, melainkan hanya sebagai simbol atas sosok yang
diistimewakan dalam kehidupan iman umat secara nyata dan riil
(http://www.sarapanpagi.org/patung-dalam-gereja-katolik-vt3085.html).Oleh karena
itu umat Katolik seringkali menghormati patung/gambar Maria. Sasaran devosi itu
bukanlah patung/gambar, melainkan diri Maria sendiri.
Dalam pendekatan Gereja, tidak ada kewajiban untuk memakai
patung/gambar Maria sebagai sasaran devosi, tetapi juga tidak ada larangan
untuk memakainya dan terasa kurang bijaksana menentangnya. Dan tidak dapat
dipungkiri pula bahwa melalui ikon, Devosi Maria berkembang dengan sangat
cepat.
Pada dasarnya Gereja amat terbuka terhadap penggunaan kesenian, seperti
patung dan gambar-gambar. Dengan adanya pengungkapan lahiriah dalam bentuk
sedapat mungkin untuk mengangkat hatinya kepada Allah, dalam kehidupan
sehari-hari untuk mendekatkan diri pada-Nya melalui devosi yang benar berdasarkan ajaran
iman Kristiani (http://romojost.blogspot.com/2013/08/seni-dalam-gereja.html).
3. Penampakan Maria
Gejala yang muncul dari Devosi Maria adalah ”Penampakan Maria”.
Penampakan adalah terlihatnya sesuatu dari dunia yang tak kelihatan dan
dianggap sebagai salah satu cara bertindak dari Allah untuk mewahyukan
wejangan-Nya (Salvatore, 2006 :133) Bagi umat Katolik, Maria tidak terlihat karena eksistensi
aktualnya di surga, mana mungkin Maria dapat terlihat oleh manusia yang berada
dalam keadaan ”dunia”. Tetapi, menurut keyakinan Kristiani, Allah dengan Roh Kudus memang hadir dan berkarya di dunia ini dan di dalam orang beriman.
Ada beberapa Penampakan Maria yang diakui oleh Gereja Katolik dan
cukup terkenal, yaitu:
a. Penampakan Maria di Guadalupe, Meksiko kepada seorang petani
Indian, bernama Juan Diego Nahuatl pada tahun 1531. Pusat devosi ini
adalah suatu gambar Maria yang secara ajaib muncul pada kain yang
dipakai Nahuatl dan sampai sekarang ini masih dapat dilihat.
b. Penampakan Maria di Rue de Bac, Paris kepada Katarina Laboure pada
tahun 1830. Penampakan ini mencetuskan tersebarnya ”medali wasiat”,
yang di atasnya tertera gambar Maria seperti apa yang dialami oleh
c. Penampakan Maria di Fatima, Perancis kepada tiga anak kecil pada tahun
1917. Ketiga anak itu adalah Yachinta, Fransisco, dan Lucia. Sampai
sekarang Lucia masih hidup sebagai seorang suster.
d. Penampakan Maria di Lourdes, Perancis kepada Bernadette Soubirou pada
tahun 1858. Penampakan ini terjadi empat tahun setelah pernyataan Maria
dikandung tanpa noda (1854) (Maria, : 131- 132 ).
4. Ziarah
Ziarah ke tempat-tempat keramat merupakan suatu gejala religius yang ada
di semua agama, baik agama-agama primitif maupun agama-agama
berkembang. Sama halnya dengan semua agama, umat Katolik pun memiliki
praktek ziarah ke tempat-tempat keramat, misalnya Vatikan Roma, dimana di sana
ada makam Petrus dan Paulus.
Setelah Maria tampil dan semakin menonjol sebagai sasaran devosi
rakyat, maka Maria pun menjadi sasaran devosi yang disalurkan melalui
”berziarah”. Tempat-tempat keramat yang dijadikan target ziarah umat Katolik biasanya tempat di mana Maria secara khusus menampakkan diri dan berkarya
serta mengabulkan doa.
Tempat-tempat Maria menampakkan diri, seperti: Guadalupe, Lourdes,
Fatima, dijadikan tempat ziarah Maria yang memiliki makna internasional.
Selain itu masih banyak tempat keramat yang ramai dikunjungi orang, tetapi
kejadian luar biasa, misalnya di Loreto, Italia (Handoko, 2006 : 132) Di Indonesia,
ada beberapa tempat ziarah Maria seperti Sendangsono, dan Gua Kerep di Jawa
Tengah (Groenen, 1988 :190).