• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. DEVOSI YANG SEHAT KEPADA SANTA PERAWAN

A. Devosi Maria dalam Penghayatan Iman Umat

3. Krisis dalam Devosi Maria

Menurunnya devosi Maria di dalam Gereja Katolik disebabkan oleh beberapa

faktor penting. Di antara pengaruh-pengaruh yang penting kita jumpai pandangan

hidup yang sekularistis dan juga teologi liberal. Yang dimaksud dengan pandangan

hidup yang sekularistis di sini ialah sekularisme yang puas dengan hal-hal fana

melulu serta terbatas pada dunia ini saja dan yang mengandung suatu gagasan

hedonistis, terutama dalam ungkapan seksualnya yang begitu mendewakan seks.

Jelaslah bahwa dalam iklim semacam ini orang tidak bisa mengerti apa arti

keperawanan suci itu. Maka, gagasan Santa Maria sebagai perawan sama sekali tidak

dapat masuk akal bagi mereka. Sedangkan teologi liberal yang dimaksud di sini ialah

yang begitu mendewakan rasio serta menundukkan iman pada rasio dan khususnya

yang meremehkan, bahkan menyangkal keallahan Kristus serta menyangkal, bahwa

Kristus lahir dari seorang perawan. Teologi semacam itu tidak hanya kurang memiliki

dasar yang kuat dan kurang bersandar pada suatu riset kristologis yang kuat, namun

kesimpulan-kesimpulan yang sesat dan yang menyesatkan banyak orang. Dewasa ini pengaruh

sekularisme dan teologi liberal tersebut sudah merembes ke dalam Gereja dan

mempengaruhi banyak umat, biarpun pengaruh tersebut tidak sama dalamnya. Juga

kalangan imam dan religius tidak kebal terhadapnya.

Jelaslah, bahwa sikap yang sekularistis dan pendekatan yang bersandar pada

teologi liberal yang menyangkal atau sekurang-kurangnya meragukan sendi dasar

dogmatis hidup kristiani kita dan yang juga menjadi dasar devosi Maria itu, sangat

merugikan devosi itu sendiri. Mereka itu tidak berminat dan tidak tertarik kepada

bentuk-bentuk devosi seperti itu. Tentu saja sikap sekularistis dan teologi liberal yang

meremehkan dogma-dogma katolik serta bimbingan Gereja ini mempunyai dampak

negatif yang jauh lebih besar terhadap pemikiran dan kehidupan kristen sebagai

keseluruhan bukan hanya terhadap devosi Maria.

Namun keliru pula bila mengatakan, bahwa menurunnya devosi itu disebabkan

melulu oleh pandangan yang sekularistis dan oleh teologi liberal saja. Kiranya perlu

disadari pula bahwa bentuk-bentuk devosi masa pra-konsili, seperti yang kita jumpai

dipraktekkan dalam keluarga-keluarga, dalam sekolah-sekolah dan dalam devosi

populer dalam paroki-paroki, seringkali tidak sesuai dengan tuntutan Konsili untuk

pembaharuan hidup kristiani.

Sebelum Konsili banyak sekali orang Katolik yang tidak sadar bahwa kesalehan

pribadi mereka mengikuti pola-pola yang berbeda dari ibadat resmi Gereja. Liturgi

dirayakan dalam bahasa Latin dan karenanya umat hanya bisa mengikuti lewat

yang merayakan liturgi tersebut. Bersamaan dengan imam yang merayakan liturgi,

mereka mengucapkan doa-doa pribadinya sendiri, misalnya doa rosario, sedangkan

imam yang ditolong misdinar melanjutkan "acaranya" sendiri.

Konstitusi Liturgi, dokumen besar pertama Konsili Vatikan II tidak hanya

memasukkan bahasa vernakular dalam liturgi Barat begitu saja, melainkan punya

tujuan lain. Pemakaian bahasa vernakular dimaksudkan sebagai sarana untuk

mencapai tujuan utama yang mau dicapainya, yaitu pembaharuan hidup doa kristiani.

Dalam pembaharuan dan pengembangan liturgi orang hendaknya selalu ingat, bahwa

partisipasi aktif dan penuh dari umatlah yang menjadi tujuan pembaharuan tersebut.

Partisipasi yang aktif dan penuh inilah yang harus menjadi sumber utama untuk

memupuk semangat kristiani yang sejati (Sacrosanctum Consilium 14) Dengan kata

lain semua orang kristiani harus dijiwai oleh semangat Gereja yang berdoa. Cara doa

Gereja yang dibimbing Roh Kudus dalam doa-doanya yang resmi, harus menjadi

norma untuk ibadat kristiani yang sejati. Hal ini dengan tegas dan tepat sekali

diungkapkan Paus Paulus VI dalam ensiklik "Marialis Cultus": "Liturgi mempunyai

nilai eksemplar untuk bentuk-bentuk ibadat lainnya". Dan juga: "liturgi adalah norma

pokok untuk kesalehan kristiani" (Marialis Cultus 23).

Hal ini jelas, bahwa Konsili sama sekali tidak bermaksud menjadikan Liturgi

satu-satunya bentuk ibadat kristiani dalam tubuh umat Allah. Hidup rohani tidak

terbatas pada partisipasi pada perayaan liturgis saja. Orang kristiani memang

dipanggil untuk berdoa bersama dengan saudara-saudaranya, namun ia juga dipanggil

kepada Bapa surgawi. Konsili juga menganjurkan adanya devosi popular serta

memuji devosi tersebut, namun sekaligus menunjukkan syaratnya yang amat penting:

“Devosi-devosi ini harus diungkapkan sedemikian rupa, sehingga serasi dengan masa-masa liturgis, sesuai dengan liturgi suci, dan dengan cara tertentu ditimba dari padanya, serta menghantar umat kepadanya, karena liturgi jauh mengatasi masing-masing devosi tersebut" (Sacrosanctum Consilium 12).

Kiranya baik pula menyebutkan beberapa perbedaan utama yang ada.

Pertama-tama harus dikatakan, bahwa ibadat liturgis secara jelas sekali berpusat pada Allah.

Bahkan pada pesta-pesta Maria dan para Kudus yang menduduki tempat yang begitu

besar dalam perayaan liturgis, hampir semua doa diarahkan kepada Bapa kita surgawi

dengan perantaraan Kristus dalam kesatuan dengan Roh Kudus. Sebaliknya

devosi-devosi Maria pra-konsili menunjukkan kecenderungan untuk memberikan tempat

yang semakin banyak kepada Bunda Maria dalam doa-doanya, seolah-olah Maria

adalah segalanya. Sungguh berarti, bahwa Konsili Vatikan II dalam pembahasannya

tentang Maria, menuntut adanya keseimbangan dalam hubungan dengan ajaran dan

devosi kepada Maria. " Dengan sungguh-sungguh Konsili ini menghimbau para

teolog dan para pengkotbah sabda illahi, supaya dalam membahas tentang martabat

yang khas dari Bunda Allah, mereka dengan hati-hati dan benar menghindarkan

kepalsuan dari sikap yang melebih-lebihkan, tetapi dari pihak lain menyingkirkan