Devosi yang sehat kepada Santa Perawan Maria dalam Gereja Katolik
Teks penuh
(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.
(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.
(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. PERSEMBAHAN. Skripsi ini saya persembahkan kepada: 1. Kongregasi Suster Santa Bunda Maria di Provinsi Indonesia 2. Kedua orang tua, kakak, dan keempat adikku serta teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan skripsi ini.. iv.
(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. MOTTO Engkaulah Sang Nama “...janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku” (Yes 43:1).. v.
(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.
(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.
(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRAK. Judul skripsi DEVOSI YANG SEHAT KEPADA SANTA PERAWAN MARIA DALAM GEREJA KATOLIK, dipilih berdasarkan pada Devosi Maria, yaitu (hyperdulia) seluruh kebaktian kepada Maria Ibu Yesus dari Nazaret dalam bentuk puji-pujian, kagum, hormat dan cinta dengan meneladani cara hidupnya sambil memohon bantuan pengantaraan doanya bagi Gereja yang masih sedang dalam perjalanan ziarah menuju persatuan dengan Allah di tanah air surgawi. Persoalan pokok dalam skripsi ini adalah pengalaman dalam hidup bersama di komunitas, Sharing dengan Suster-suster senior dan juga beberapa umat yang memberikan kesan bahwa devosi atau kebaktian kepada Maria masih sangat minim, dan kurang terlibat aktif dalam membangun gereja dan hidup bersama orang lain, Umat belum menyadari akan pentingnya berdevosi kepada Santa Maria, belum paham akan nilai-nilai devosi. Umat beriman masih pada taraf kebiasaan/tradisi yaitu berdoa Rosario pada bulan Mei dan Oktober tetapi belum sepenuhnya mengambil makna dari devosi kepada Maria. Penulis menemukan gagasan mendasar yang dapat membantu umat dalam menghayati devosi yang sehat kepada Bunda Maria dalam kehidupan nyata yakni: pertama, devosi Maria dalam ajaran Gereja, kedua, devosi yang sehat kepada Santa Perawan Maria berdasarkan ajaran Gereja, ketiga katekese model Shared Christian Praxis (SCP) untuk dapat membantu umat dalam menghayati devosi yang sehat kepada Bunda Maria. Oleh karena itu, tiga pokok dasar dalam tulisan ini memberikan suatu harapan kepada umat beriman untuk meneladani Bunda Maria sebagai citra dalam hal iman, cinta kasih persatuan yang sempurna dengan Kristus.. viii.
(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRACT The title of this undergraduate thesis HEALTHY DEVOSION TO THE MARY CARE IN THE CATHOLIC CHURCH, was chosen based on Mary Devotion (hyperdulia) which is the whole service to Mary Mother of Jesus of Nazareth in the form of praise, admiration, respect and love by imitating her way of life while asking for help in praying for the Church that is still on a pilgrimage to unity with God in the heavenly homeland. The main problem in this undergraduate thesis is the experience in living together in the community, sharing with senior Sisters of Notre Dame and also some people, giving the impression that devotion or service to Mary is still very minimal, and less involved in building Churches and living with others. People have not yet realized the importance of devotion to St. Mary, and have not understand and the values of devotion. The faithful have tradition of praying the Rosary in May and October, but they have not fully understand the meaning of devotion to Mary. The writer found the basic idea in helping the people to live a good devotion to Mary in real life, namely: first, Mary's devotion in the teachings of the Church, secondly, good devotion to the virgin St. Mary based on the teachings of the Church, thirdly catechesis Shared Christian Praxis (SCP) model to help the faithful in living a good devotion to Mary. Therefore, the three basic points in this paper gives a hope to the faithful to imitate the Virgin Mary as an image in matters of faith, love for perfect union with Christ.. ix.
(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami haturkan kehadiran TUHAN, Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus, Tritunggal Maha Suci. Karena oleh rahmat penyertaan-Nya dalam nama-Nya melalui kelembutan seorang ibu, teguran dan nasehat seorang ayah, dorongan dan motivasi seorang saudara, dukungan dan solidaritas seorang sahabat, cinta dan pengorbanan seorang teman, didikan dan ajaran para dosen, maka penulis dalam segala kelemahan dan keterbatasan, bersama dan melalui bimbingan seorang pembimbing dapat menyelesaikan skripsi ini. Dalam kesempatan ini, penulis hendak mengucapkan terima kasih yang sebesar-besar kepada: 1. Dr. B. Agus Rukiyanto, SJ, selaku Ketua Program Studi dan pembimbing utama saya dalam penulisan skripsi ini. Saya haturkan terima kasih karena telah menyediakan waktu, pikiran, tenaga serta hati yang tulus bagi saya selama proses pengerjaan skripsi ini hingga selesai. 2. Drs. L. Bambang Hendarto Y. M.Hum, selaku dosen pembimbing akademik dan dosen penguji yang selalu memberikan dukungan bagi penulis sehingga selesainya skripsi ini. 3. P. Banyu Dewa HS., S.Ag., M.Si, selaku dosen penguji yang selalu memberikan dukungan bagi penulis sehingga selesainya skripsi ini. 4. Terima kasih kepada para dosen yang telah mengajarkan saya banyak hal tentang teori maupun praktis pastoral agar menjadi seorang pewarta yang mampu menjawab kebutuhan iman umat. 5. Segenap lembaga pendidikan Agama Katolik-Universitas Sanata Dharma, dari kalian semua, penulis merasa diterima dan disadarkan bahwa kita hidup. x.
(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. dan berakar dalam suatu kebudayaan yang perlu dihidupi dan diperbaharui serta dikembangkan dan dihidupi dalam kehidupan bersama. 6. Kedua orang tua beserta saudara-saudari saya dan semua keluarga yang telah memberikan dorongan dan nasehat untuk menyelesaikan pendidikan ini. 7. Kongregasi SND yang telah mempercayakan tugas belajar di program studi Pendidikan Agama Katolik-Universitas Sanata Dharma Yogyakarta kepada saya, serta semua dukungan, nasehat, sapaan dan peneguhannya yang diberikan. 8. Para formatores (Sr. Maria Marsela, SND) sebagai pimpinan Yunior SND yang selalu memberikan dukungan, nasehat dan motivasi dalam masa pendidikan sejak awal masuk hingga saat ini. 9. Berlimpah terima kasih kepada pihak komunitas SND Sendang Asih, yang bersedia bukan saja membimbing saya selama studi, melainkan juga telah membentuk, membina dan mendidik saya menjadi pribadi yang utuh dan siap menjalani panggilan suci ini. Terima kasih saya haturkan kepada pimpinan komunitas (Sr. Maria Florida, SND) melalui kasih sayang sebagai seorang ibu telah membimbing saya menjadi seorang suster yang siap diutus. Saya berterimkasih juga kepada teman-teman suster sekomunitas (Sr. M. Dorotea, SND, Sr. M. Theresita, SND, dan Sr, M. Ferdina, SND) yang dengan caranya masing-masing telah membentuk saya dalam kebersamaan, dan para karyawan –karyawati yang selalu siap memberikan yang terbaik dalam segala aspek.. xi.
(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.
(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................................................... i. HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................... ii. HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................... iii. HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................. iv. MOTTO ....................................................................................................... v. PERYATAAN KEASLIAN KARYA ......................................................... vi. PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ........................................ vii. ABSTRAK ................................................................................................... viii. ABSTRACT ................................................................................................... ix. KATA PENGANTAR ................................................................................. x. DAFTAR ISI ................................................................................................ xiii. DAFTAR SINGKATAN ............................................................................. xvi. BAB 1. PENDAHULUAN ......................................................................... 1. A. Latar Belakang ............................................................................... 1. B. Rumusan Masalah .......................................................................... 7. C. Tujuan Penulisan ............................................................................ 8. D. Manfaat Penulisan .......................................................................... 8. E. Metode Penulisan ........................................................................... 9. F. Sistematika Penulisan .................................................................... 9. BAB II. DEVOSI MARIA DALAM GEREJA ........................................ 11. A. Devinisi Devosi Maria ................................................................... 12. B. Tujuan Devosi ................................................................................ 14. C. Landasan Biblis Devosi Maria ....................................................... 16. 1. Perjanjian Lama .................................................................... 18. 2. Perjanjian Baru ..................................................................... 18. D. Landasan Teologis Devosi Maria .................................................. 21. xiii.
(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 1. Maria Bunda Allah (Theotokos) ........................................... 23. 2. Keperawanan Maria.............................................................. 26. 3. Maria Dikandung Tanpa Noda (Immaculata) ...................... 27. 4. Maria Diangkat Ke Surga ..................................................... 27. E. Berbagai Bentuk Devosi Maria .......................................................... 28. 1. Doa Kepada Maria .............................................................. 28. a. Doa Malaikat Tuhan ...................................................... 29. b. Doa Rosario ................................................................... 30. c. Litani Santa Maria ......................................................... 31. 2. Patung/Gambar Maria ......................................................... 31. 3. Penampakan Maria .............................................................. 33. 4. Ziarah .................................................................................. 34. F. Rangkuman ......................................................................................... 35. BAB III. DEVOSI YANG SEHAT KEPADA SANTA PERAWAN MARIA DALAM GEREJA KATOLIK .................................. 37. A. Devosi Maria dalam Penghayatan Iman Umat .................................. 38. 1. Tempat Devosi dalam Penghayatan Iman ........................... 38. 2. Persoalan Devosi Maria ...................................................... 40. 3. Krisis dalam Devosi Maria .................................................. 42. 4. Pembaharuan Devosi Maria Sesuai Konteks dan Zamannya. 46. B. Penghayatan Devosi yang Benar ....................................................... 47. 1. Devosi Hendaknya Ditempatkan dalam Keseluruhan Iman Gereja yang Benar ............................................................... 47. 2. Devosi hendaknya juga harus ditempatkan dalam liturgi gereja. Devosi bukan liturgi resmi ...................................... 48. 3. Devosi harus dijauhkan dari sikap magis ............................ 48. 4. Devosi harus dijauhkan dari mentalitas do ut des ............... 49. C. Pengungkapan Devosi kepada Maria dan Tolok Ukur Keotentikannya. 51. D. Makna Devosi yang Sehat kepada Santa Maria bagi Umat .............. 55. xiv.
(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB IV. USULAN PROGRAM KATEKESE MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS BAGI UMAT DALAM BERDEVOSI YANG SEHAT KEPADA SANTA PERAWAN MARIA ...... 61. A. Gambaran Umum Mengenai Katakese ........................................ 1. Pengertian Katekese ............................................................ 62 64. 2. Tujuan Katekese .................................................................. 65. 3. Tugas Katekese ................................................................... 65. B. Katekese Umat Model Shared Christian Praxis (SCP) ................ 1. Pengertian Shared Christian Praxis (SCP) ......................... 67 67. a. Shared ............................................................................ 67. b. Christian ........................................................................ 67. c. Praxis............................................................................. 67. 2. Langkah-langkah Katekese Umat model Shared Christian Praxis (SCP)........................................................................ 68. a. Langkah 0 (awal): Pemusatan Aktivitas ........................ 68. b. Langkah 1 (Pertama): pengungkapan pengalaman hidup faktual ................................................................. c. Langkah II (kedua): Refleksi Kritis atas Sharing. 69. Pengalaman Hidup Faktual (Mendalami Pengalaman Hidup Peserta).......................................... 69. d. Langkah III (Ketiga): Mengusahakan supaya Tradisi dan Visi Kristiani lebih Terjangkau (Menggali Pengalaman Iman Kristiani) ........................ 70. e. Langkah IV (Keempat): Tafsir Dialektis antara Tradisi dan Visi Kristiani dengan Tradisi dan Visi Peserta (Menerapkan Iman dalam Situasi Peserta Konkrit .............................................................. 70. f. Langkah V (Kelima): Keterlibatan Baru Demi makin terwujudnya Kerajaan Allah di Dunia (Mengusahakan suatu Aksi Konkrit) ............................. xv. 71.
(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. C. Usulan Program Katekese ............................................................. 1. Tujuan Usulan Program Katekese ............................................... 72 72. 2. Pemikiran Dasar atas Usulan Program Katekese ........................ 72. 3. Matriks Usulan Program Katekese .............................................. 74. D. Contoh Katekese Model Shared Christian Praxis (SCP) ............. 1. Identitas PPL PAK Paroki ........................................................... 77 77. 2. Pemikiran Dasar .......................................................................... 78. 3. Pengembangan langkah-langkah ................................................. 79. BAB V. PENUTUP ..................................................................................... 90. A. Kesimpulan ...................................................................................... 90. B. Saran ................................................................................................. 94. DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ LAMPIRAN ................................................................................................ 97. Lampiran 1. Lagu Pembuka ............................................................. (1). Lampiran 2. Bacaaan Injil ................................................................ (2). Lampiran 3. Cerita ............................................................................ (3). Lampiran 4. Lagu Penutup ................................................................ (6). xvi.
(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR SINGKATAN. A. Singkatan Kitab Suci Yoh.: Yohanes Luk: Lukas Mrk: Markus Bil: bilangan Tim: Timotius Yes: Yesaya Kej: Kejadian Zef : Zefanya Rm: Roma Kis: Kisah Para Rasul Kor: Korintus KS: Kitab Suci PS: Puji Syukur. B. Singkatan Dokumen Resmi Gereja LG : Lumen Gentium, Konstitusi dogmatis Konsili Vatikan II tentang Gereja, tanggal 21 November 1964 RVM : Rosarium Virginis Mariae, Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II Tentang Rosario Perawan Maria, tanggal 16 Oktober 2002 SC: Sacrosanctum Consilium, Konstitusi tentang Liturgi Suci, Paus. xvii.
(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Paulus VI tanggal 4 Desember 1963 MC: Marialis Cultus, Anjuran Apostolik Paus Paulus VI tentang Menghormati Maria tanggal 2 Februari 1974 EN: Evangelii Nuntiandi,Anjuran Apostolik Paus Paulus VI tentang Evangelisasi di Dunia Modern, tanggal 8 Desember tahun 1975 GS: Gaudium et Spes, Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II Tentang Gereja Dunia Dewasa ini, 7 Desember 1965. C. Singkatan Lain Art. : Artikel. Bdk : Bandingkan SND : Sister of Notre Dame SCP : Shared Christian Praxis KWI : Konfrensi Wali Gereja Indonesia M. : Masehi. xviii.
(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. BAB 1 PENDAHULUAN. A. LATAR BELAKANG Maria adalah seorang beriman yang merelakan diri bagi Allah dan karyaNya. Sebagai orang beriman Maria menjadi “Model” bagi semua, sebab setiap orang beriman menghayati sikap dasar yang sama dalam dirinya seadanya dan dalam situasi hidup yang nyata (Groenen: 1987). Santa Perawan Maria memiliki posisi yang sangat penting dan sangat dihormati dalam Gereja Katolik. Hal ini disebabkan karena Maria dipandang ikut berperan serta dalam karya keselamatan. Dengan menerima Kristus dalam rahimnya, melahirkanNya, mengasuh-Nya, dan turut menderita bersama Kristus saat wafat-Nya di Salib, Maria telah mengambil bagian dalam karya keselamatan bersama puteranya (Dihe Sanga, 2014: 86). Konsili Vatikan II hendak menjelaskan secara lebih mendalam peran Santa Perawan dalam misteri Sabda yang menjelma dalam Tubuh Mistik-Nya dan tugaskewajiban terhadap Bunda Allah, Bunda Kristus, dan Bunda orang-orang beriman. Memang Konsili tidak menyajikan secara lengkap dan mendetail ajaran tentang Bunda Maria. Berbagai permasalahan dan pertanyaan tentang Maria, sebagaimana tertuang dalam pokok ajaran Konsili Vatikan II (Lumen Gentium). Meskipun demikian, Konsili tetap menekankan ajarannya bahwa Maria menduduki tempat yang paling luhur sesudah Kristus dalam Gereja kudus..
(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Sejak Maria diakui sebagai Bunda Allah, maka penghormatan devosi kepadanya sangat berkembang. Ia sangat dihormati sebagai teladan dan dan ibu umat beriman. Maria adalah Bunda Gereja (Mater Ecclesia). Peristiwa di bawah kaki Salib Putera-Nya (Yoh 19:25-27), melambangkan persatuan Maria dengan Kristus, sebagai kepala Gereja. Pada saat itulah Kristus menyerahkan Maria kepada Gereja. ”…, Ibu inilah anakmu, lalu Ia berkata kepada murid-muridnya, inilah ibumu.” Maka sejak saat itulah Maria menjadi milik Gereja sebagai ibu, dan Kristus mempercayakan umatnya ke dalam tangan Bunda-Nya. Devosi Maria adalah seluruh kebaktian kepada Santa Perawan Maria dengan bentuk puji-pujian, hormat dan cinta dengan meneladani cara hidupnya sambil memohon bantuan pengantaraan doanya. (Dihe Sanga: 2014: 86). Devosi adalah suatu sikap bakti yang berupa penyerahan seluruh pribadi kepada Allah dan kehendak-Nya sebagai perwujudan cinta kasih, atau yang lebih lazim: devosi adalah kebaktian khusus kepada berbagai misteri iman yang dikaitkan dengan pribadi tertentu: devosi kepada sengsara Yesus, devosi kepada Hati Yesus, devosi kepada Sakramen Mahakudus, devosi kepada Maria, dan lain-lain. (Puji Syukur: 2007: 223). Devosi atau kebaktian kepada Maria yang paling pokok adalah doa salam Maria yang pada dasarnya ada dua kutipan dari Kitab Suci (Luk 1:28: “Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu”; dan Luk 1:42:”terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus”) ditambah dengan suatu doa permohonan (Santa.
(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin). (Iman Katolik: KWI, 1996:233). Devosi atau kebaktian kepada Maria amat berkembang di dalam Gereja, sehingga terkadang umat beriman memandang Maria lebih dari puteraNya, maka Konsili Vatikan II “Menganjurkan dengan tegas bahwa dalam memandang martabat Bunda Allah yang istimewa dengan sungguh-sungguh mencegah segala ungkapan berlebihan yang palsu, seperti juga kepicikan sikap batin. Hendaklah kaum beriman mengingat bahwa bakti yang sejati tidak terdiri dari perasaan yang mandul dan yang bersifat sementara, tidak pulah dari sikap mudah percaya tanpa dasar. Bakti itu bersumber pada iman yang sejati, yang mengajak untuk mengakui keunggulan Bunda Allah, dan mendorong kita sebagai putera-puteranya mencintai Bunda kita dan meneladan keutamaan-keutamaannya” (Lumen Gentium 67). Devosi kepada Maria juga mengalami pasang surut dari masa ke masa. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik itu pandangan teologis, dari berbagai aliran sosial, politik, dan ekonomi umat. Namun secara keseluruhan, hal ini tidak begitu mempengaruhi kuatnya devosi umat kepada Bunda Maria. Kuatnya devosi kepada Bunda Maria bukan tanpa persoalan, Pada umumnya persoalan ini timbul karena tidak berlandaskan dasar biblis yang benar, tetapi lebih kepada perasaan. Perasaan yang cenderung menyamakan Maria sejajar dengan Allah. Sehingga Maria dijadikan semacam “berhala”. Oleh karena itu, untuk menghindari masalah itu para Bapa Gereja melalui konsili vatikan II merumuskan kembali pokok-.
(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. pokok ajaran tentang Maria dan menempatkan Maria pada bab VIII dari Lumen Gentium. Konsili Vatikan II (LG no 66), menegaskan bahwa telah ambil bagiannya Maria dalam. karya. keselamatan. memberikan. alasan. cukup. bagi. Gereja. untuk. menghormatinya. Penghormatan ini diungkapkan melalui tata peribadatan yang khusus. Sifat “khusus” dalam tata peribadatan Gereja kepada Maria menunjukkan perbedaan yang sangat hakiki dengan ibadat serta hormat bakti yang hanya ditujukan kepada Allah. Kemajuan zaman yang begitu pesat dalam berbagai bidang kehidupan selain membawa dampak positif yang membantu kelancaran hidup manusia, dimana orang cenderung mengandalkan kemampuan dan kekuatan pribadi dari pada mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Orang lebih mencari segala sesuatu yang dapat memuaskan keinginan pribadi tanpa harus berjuang. Orang tidak mampu menghadapi tantangan atau penderitaan dalam hidup sehingga lebih cenderung untuk menghindar. Oleh karena itu jalan pintas menjadi salah satu alternatif yang ditempuh untuk dapat bebas dari segala kepenatan hidup. Manusia mulai mengalami krisis pendangkalan iman sehingga mulai berpaling dari apa yang menjadi kehendak Allah. Manusia mulai mencari dan membuat jalan sendiri yang akhirnya mengarah pada ketidaksetiaan. Setiap orang Kristiani dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam tugas perutusan Kristus. Maka konsekuensinya sebagai pengikut Kristus adalah menyangkal diri, memikul salib setiap hari dan mengikuti Dia (Luk 9:23) bukan menghindar dari Salib. Hal inilah yang sungguh dihidupi oleh Maria. Partisipasi Maria dalam karya.
(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. penyelamatan Allah bagi seluruh umat manusia sungguh luar biasa. Maria dianugerahi rahmat iman yang istimewa dari Allah sehingga ia dipilih secara istimewa juga menjadi Bunda Yesus. Dalam hidupnya Maria ikut ambil bagian dalam karya penyelamatan Allah yang terjelma dalam diri Kristus. Dengan iman dan kasih Maria mengabdikan diri secara utuh kepada Allah. Dari sikap iman inilah Kongregasi SND menjadikan Maria sebagai teladan dan dihormati sebagai Bunda Gereja dan pelindung Kongregasi. Hal ini dijelaskan pada Konstitusi SND tahun 2004 yang mengatakan: melalui hidupnya Maria menampilkan secara sempurna warta gembira Injil dan ikut serta ambil bagian dalam karya penyelamatan puteraNya. Dengan mengabdikan diri seutuhnya kepada Allah dalam iman dan kasih, Maria menjadi teladan dalam penyerahan diri setiap hari kepada panggilan Tuhan yang senantiasa baru. Iman Maria sungguh nyata, dimana ia tidak hanya setia disaat-saat suka tetapi juga disaat-saat duka bahkan sampai di bawah kaki salib puteraNya. Oleh karena itu Suster-suster Santa Bunda Maria menghormati Maria sebagai Bunda Gereja dan pelindung Kongregasi (Konst. SND, art.12). Saat ini keluarga-keluarga Kristiani sangat memprihatinkan terutama dalam penghayatan iman, ketika mengikrarkan janji perkawinan, dikatakan bahwa orang tua berkewajiban untuk mendidik dan mengembangkan iman anak, nilai penghayatan akan iman perlahan-lahan menjadi kabur. Penghayatan Iman anak-anak ataupun umat beriman lainnyapun kurang sehingga apa yang menjadi dasar mulai luntur..
(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. Dalam berdevosi, umat beriman diharapkan untuk mengembangkan iman mereka akan Yesus Kristus, salah satu bentuk devosi umat adalah berdevosi kepada Santa Maria. Umat beriman berharap dengan adanya devosi, mereka semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Maka akan nampak dalam kehidupan sehari-hari, dimana ada pertobatan pribadi yaitu sikap yang setiap harinya bermalas-malasan dalam berdoa, kurang sabar dalam menghadapi persoalan hidup, egois dan lain-lain akhirnya dapat berubah perlahan-lahan. Dalam keluargapun akhirnya hidup semakin rukun dan saling menghargai satu dengan yang lainnya, tidak merasa diabaikan oleh siapapun terutama anggota keluarga. Selain itupun dengan masyarakat ataupun umat setempat semakin akrab dan terlibat dalam setiap kegiatan yang ada. Devosi akhirnya memberika dampak positif yaitu menemukan inspirasi baru dalam kehidupan seharihari terutama dalam hal-hal kecil yang terkadang kurang diperhatikan oleh setiap pribadi. Hidup orang beriman akhirnya menjadi berkat bagi sesama yang dilayani. Dalam pengalaman penulis dalam hidup bersama di komunitas, Sharing dengan Suster-suster senior dan juga beberapa umat memberikan kesan bahwa devosi kepada Maria masih sangat minim, dan kurang terlibat aktif dalam membangun gereja dan hidup bersama orang lain, umat belum menyadari akan pentingnya berdevosi kepada Santa Maria, belum paham akan nilai-nilai devosi. Umat beriman masih pada taraf kebiasaan/tradisi yaitu berdoa Rosario pada bulan Mei dan Oktober tetapi belum sepenuhnya mengambil makna dari devosi kepada Maria. Umat masih cenderung hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh pemimpin setempat (Ketua Lingkungan) bahwa bulan Mei dan Oktober berdoa Rosario di setiap rumah umat, setelah itu ziarah.
(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. bersama ke Gua-gua Maria. Memang sebagian umat sudah memahami tetapi dari sharing umat, dikatakan bahwa belum 100% kesadaran dari setiap pribadi. Masih banyak orang tua yang belum memahami devosi yang sebenarnya, karena masih terpengaruh dengan aturan zaman dulu yang ketika ekaristi mereka sambil berdoa Rosario karena pada zaman dahulu perayaan ekaristi menggunakan Bahasa latin yang tidak dipahami dan membelakangi umat, namun sekarang sudah menggunakan Bahasa Indonesia tetapi kebiasaan berdoa Rosario masih ada ketika ekaristi. (31 hari lebih dekat kepada Maria, Yayasan Pustaka Nusatama: 45) Bertolak dari keprihatinan-keprihatinan di atas penulis mengambil judul: “ DEVOSI YANG SEHAT KEPADA SANTA PERAWAN MARIA DALAM GEREJA KATOLIK” guna memahami Santa Perawan Maria lebih jauh melalui ajaran-ajaran yang terkandung dalam ajaran Gereja Katolik.. B. PERUMUSAN MASALAH Bertolak dari latar belakang masalah-masalah diatas timbul permasalahanpermasalahan yang menjadi fokus perhatian penulis dalam penulisan ini. Adapun permasalahan-permasalahan tersebut, dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimana pandangan Gereja Katolik tentang Devosi yang sehat kepada Santa Perawan Maria? 2. Seperti apa praktek-praktek devosi kepada Santa Perawan Maria dalam Gereja Katolik?.
(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. 3. Usaha-usaha apa untuk mendidik umat dalam mengembangkan devosi kepada Maria?. C. TUJUAN PENULISAN Sesuai dengan permasalahan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan ini adalah: 1. Memahami pandangan Gereja Katolik mengenai devosi yang sehat kepada Maria. 2. Memahami praktek-praktek devosi kepada Santa Perawan Maria dalam Gereja Katolik. 3. Menemukan usaha-usaha untuk mendidik umat dalam mengembangkan devosi kepada Santa Perawan Maria.. D. MANFAAT PENULISAN 1. Memberikan. sumbangan. pemikiran. untuk. membantu. memahami. pandangan Gereja Katolik mengenai devosi yang sehat kepada Maria. 2. Membantu umat untuk memahami praktek-praktek penghayatan devosi yang sehat kepada Santa Perawan Maria. 3. Usaha-usaha untuk meningkatkan devosi kepada Santa Perawan Maria..
(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9. E. METODE PENULISAN Metode penulisan yang digunakan penulis adalah metode deskriptif analitis. Metode deskriptif merupakan metode yang digunakan sebagai prosedur pemecahan masalah dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subyek atau obyek penelitian berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau apa adanya. Sedangkan teknik analisis adalah salah satu teknik dalam penelitian dengan melakukan analisa-analisa dari data-data yang diperoleh. Penulis mengumpulkan bahan dari buku-buku yang menunjang agar diperoleh wawasan dalam penulisan untuk lebih memahami permasalahan yang ada.. F. SISTEMATIKA PENULISAN Bab 1, merupakan bab Pendahuluan, yang mengungkapkan pertimbangan dalam penulisan judul, yang terdiri dari latar belakang penulisan, rumusan permasalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode dan sistematika penulisan. Bab II, dalam bab ini penulis memberikan gambaran umum tentang Devosi. Beberapa yang menjadi pokok pembahasan dalam bab ini adalah definisi devosi Maria, tujuan devosi, landasan biblis devosi Maria, landasan teologis devosi Maria, berbagai bentuk devosi Maria, dan rangkuman. Bab III, dalam bab ini penulis memaparkan mengenai devosi yang sehat kepada Santa Perawan Maria dalam Gereja. Bab ini terdiri dari 4 bagian yaitu bagian pertama: Devosi Maria dalam penghayatan iman umat. Kedua:.
(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10. penghayatan devosi yang benar, ketiga: Pengungkapan devosi kepada Maria dan tolok ukur keotentikannya, keempat: Makna devosi yang sehat kepada Santa Maria bagi umat. Bab IV dalam bab ini, penulis mengusulkan program katekese model Shared Christian Praxis bagi umat dalam berdevosi yang sehat kepada Santa Perawan Maria. Terdiri dari empat bagian yaitu: bagian pertama: gambaran mengenai katekese, bagian kedua: katekese umat model Shared Christian Praxis, bagian ketiga: usulan program katekese, bagian keempat: contoh katekese model Shared Christian Praxis (SCP). Bab V: sebagai bab penutup, yang berisi kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan konsep yang dirumuskan oleh penulis. Penulis juga akan merumuskan saran dan usulan yang perlu diperhatikan dalam berdevosi yang sehat kepada Santa Perawan Maria..
(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11. BAB II DEVOSI MARIA DALAM GEREJA. Devosi bukanlah liturgi. Devosi adalah suatu sikap bakti yang berupa penyerahan seluruh pribadi kepada Allah dan kehendak-Nya sebagai perwujudan cinta kasih, atau yang lebih lazim: devosi adalah kebaktian khusus kepada berbagai misteri iman yang dikaitkan dengan pribadi tertentu: devosi kepada sengsara Yesus, devosi kepada Hati Yesus, devosi kepada Sakramen Mahakudus, devosi kepada Maria, dan lain-lain (Jebadu, 2017).. Devosi atau kebaktian kepada Maria amat. berkembang di dalam Gereja. Bahkan, dapat terjadi bahwa Maria seolah-olah menjadi lebih penting dari pada anaknya sendiri dalam pandangan umat beriman. Oleh sebab itu Konsili Vatikan II (LG. 67) “Menganjurkan dengan sangat, supaya dalam memandang martabat Bunda Allah yang istimewa dengan sungguh-sungguh mencegah segala ungkapan berlebihan yang palsu, seperti juga kepicikan sikap batin. Devosi kepada Santa Perawan Maria, menjadi pilihan yang tepat bagi umat untuk mendekatkan diri dengan Putera Allah, dan melalui devosi umat semakin tumbuh dan berkembang dalam menghayati imannya. Umat mampu meneladan sikap-sikap Bunda Maria dalam menghadapi kesulitan dan mereka mampu untuk menyimpan segala perkara di dalam hati seperti Maria yang selalu pasrah akan kehendak Allah..
(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12. A. Definisi Devosi Maria Devosi berasal dari kata Latin “Devotio” yang berarti kebaktian, pengorbanan, penyerahan, sumpah, kesalehan, cinta bakti (Martasudjita, 1999: 126). Devosi selalu menunjuk pada sikap hati di mana seorang mengarahkan diri kepada seseorang atau sesuatu yang dijunjung tinggi dan dicintai. Dalam tradisi Kristiani, devosi dipahami sebagai bentuk penghayatan dan pengungkapan iman Kristiani di luar liturgi resmi, yang diungkapkan dalam bentuk kebiasaan tertentu ketika berdoa dan bermadah/lagu pujian, dan pada waktu serta tempat tertentu, yang seringkali desertai pula dengan menggunakan benda-benda tertentu (Darminta, 1993: 63). Secara etimologis, devosi kepada Maria merujuk pada kata Mario-duli yang berarti “kebaktian kepada Santa Perawan Maria”. Mario-duli sendiri berasal dari bahasa Yunani, kata Mario menunjuk kepada Maria, sedangkan kata duli (asal kata doulia) mengacu pada kata Doulos yang artinya budak atau hamba, dalam istilah teologi Kristen, doulia diartikan sebagai kebaktian kepada seorang manusia/orang kudus (Groenen, 1988: 149). Kata Doulia sendiri harus dibedakan dengan latreia (Latin: Adoratio) yang berarti kebaktian yang sasarannya hanya kepada Allah saja (Surip, 2007: 101), sedangkan sasaran doulia ialah seorang kudus yang mengabdikan dirinya hanya demi Allah. Oleh karena Santa Perawan Maria menjadi makluk yang paling unggul diantara ciptaan Allah yang lain, maka terbentuk istilah khusus bagi Maria, yaitu: hyper-doulia yang berarti adi-kebaktian (Groenen, 1988: 149)..
(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13. Devosi sebagai suatu sikap penyerahan, ketaatan, serta kerelaan sebagai perwujudan cinta kasih dan penghormatan kepada Allah. Penyerahan ketaatan, dan kerelaan yang didasarkan pada kasih melahirkan rasa bakti kepada Allah. Rasa bakti yang mendorong setiap pribadi untuk mengabdi kepada Allah melalui pujian maupun dalam pelaksanaan kehendak-Nya. Sikap, tekad, dan perasaan yang dibangun oleh setiap pribadi menjadi dasar terlaksananya devosi. Menurut Eddy Kristiyanto, devosi kepada Maria termasuk ibadat khusus dalam Gereja Katolik meskipun bukan liturgi resmi Gereja. Walaupun devosi Maria merupakan ibadat yang khusus, tetapi hakikatnya berbeda dengan ibadat sujud yang diberikan kepada Kristus. Hal ini diperkuat dengan dokumen Lumen Gentium no 66: Ibadat ini, seperti yang selalu ada di dalam Gereja, walaupun merupakan ibadat yang khusus sekali, toh berbeda secara hakiki dengan ibadat sujud, yang diberikan kepada Sabda yang menjadi daging, sama seperti Bapa dan Roh Kudus, namun sangat memupuknya. Bermacam-macam bentuk kesalehan terhadap Bunda Allah, yang disetujui Gereja dalam batas-batas ajaran yang sehat dan ortodoks, sesuai dengan keadaan waktu dan tempat, dan sesuai dengan ciri-ciri serta bakat para beriman...” (LG no. 66) Lumen Gentium no.66 ingin menegaskan. bahwa. Maria. dan. Yesus. Kristus hakikatnya berbeda. Perbedaan hakiki ini menyangkut siapa Maria dan siapa Yesus Kristus. Maria adalah manusia, sedangkan Yesus Kristus adalah Allah Putra. yang. diserahkan Bapa kepada kematian untuk menebus semua manusia dari kuasa maut. Dengan demikian Maria termasuk salah seorang yang ditebus Putranya. keselamatan Illahi yang dialami Maria harus bergantung pada Yesus Kristus.. Jadi,.
(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14. Keunggulan Maria terjadi berkat relasinya yang tak terpisahkan dengan Yesus Kristus. Dasar pemikiran seperti ini bukan hanya persoalan akal, tetapi juga persoalan hati dan iman. Iman itu harus dihayati, pengahayatan iman itulah yang disebut devosi. Jadi bisa dikatakan devosi merupakan bagian integral dari penghayatan iman (Surip, 2007: 102). Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa devosi Maria merupakan sikap hati serta perwujudannya, dengan menjalin relasi personal, menjunjung tinggi, menghormati, menghargai, mencintai dan meneladani Maria. Devosi Maria juga mengarah pada seorang pribadi yang dikuduskan yang sasarannya hanya kepada Allah saja. Oleh karena itu Maria adalah makluk yang paling unggul yang patut dihormati sehingga apa yang menjadi dasar penghayatan iman terus berkembang.. B. Tujuan Devosi Devosi kepada Santa Perawan Maria dalam menjadikan. hidup. beriman. Maria. sebagai. Gereja. teladan.. Bagi. Katolik orang. adalah Katolik,. berdevosi dan menghormati Santa Perawan Maria bukan karena Maria memiliki kekuatan dan keahlian gaib, akan tetapi sebagai manusia yang beriman seperti umat lainnya, Maria telah membuktikan diri sebagai hamba Allah yang baik dan berhasil (Pranatasaputra, 2001: 8). Devosi dalam agama Katolik adalah kebaktian. Yang perlu diperhatikan dalam berdevosi adalah bahwa sasaran utama adalah Allah. Kita tidak boleh.
(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15. menggantikan peran Allah dalam devosi dengan manusia, benda atau tempat tertentu yang semuanya hanyalah sarana penyalur rahmat kasih Allah. Benda atau tempat hanya membantu kita untuk mendekatkan diri dengan Allah. Devosi harus serasi dengan liturgi resmi dan tidak boleh menggeser liturgi resmi Gereja (Dihe Sanga, 2014: 43). Dihe Sanga (2014: 45) menegaskan bahwa keautentikan devosi kepada Maria ditentukan oleh buah-buah atau hasilnya. Inilah tujuan atau orientasi kehidupan para beriman (seperti kehidupan Maria sendiri), yaitu untuk mengenal, mencintai dan memuliakan Tuhan serta menaati perintah-perintahNya. Devosi kepada Maria harus membawa kita untuk meneladan sikap keterbukaan dan penghampaan diri Maria kepada Tuhan. Jika devosi kepada Maria autentik, maka devosi itu harus membawa kita lebih dekat kepada Yesus. Jika tidak demikian, maka berarti devosi kepada Maria itu tidak murni. Devosi Maria tidak pernah menghalangi, melainkan malah harus membawa kita kepada Kristus. Devosi atau kebaktian kepada Maria yang paling pokok adalah doa “Salam Maria”, yang pada dasarnya terdiri atas dua kutipan dari Kitab Suci ( Luk 1:28: Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu”; dan Luk 1: 42: “ terpujilah engkau diantara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus”). Dengan demikian, devosi atau kebaktian kepada Maria amat berkembang di dalam Gereja. Konsili Vatikan II “Menganjurkan dengan sangat, supaya dalam memandang martabat Bunda Allah yang istimewa dengan sungguh-sungguh mencegah segala ungkapan berlebihan yang palsu, seperti juga kepicikan sikap batin. Hendaklah kaum beriman mengingat, bahwa.
(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16. bakti yang sejati tidak terdiri dari perasaan yang mandul dan yang bersifat sementara, tidak pula dari sikap mudah percaya tanpa dasar. Bakti ini bersumber pada iman yang sejati, yang mengajak untuk mengakui keunggulan Bunda Allah, dan mendorong untuk mencintai Bunda Maria dan meneladan keutamaan-keutamaannya” (Lumen Gentium 67). Semua devosi harus diatur sedemikian rupa sehingga selaras dengan liturgi kudus: sesuai dengan rnasa liturgi, bersumber pada liturgi, dan mengantar umat kepada liturgi, sebab menurut hakekatnya liturgi jauh mengungguli semua bentuk devosi (SC 13). Devosi mengajak umat beriman untuk mengungkapkan isi iman kepada Allah melalui sarana-sarana dan cara yang berbeda satu dengan yang lain. Devosi menjadi jembatan antara umat beriman menuju perjumpaan dengan Allah sebagai tujuan utama.. C. Landasan Biblis Devosi Maria Dogma mengenai Maria mengalami suatu perkembangan yang panjang. Pada awalnya, Perjanjian Baru tidak menyampaikan secara eksplisit tentang kesalehan Maria, bahkan Perjanjian Baru juga bisa dikatakan tidak mempunyai Mariologi. Baik Matius maupun Lukas memang menyampaikan bahwa Yesus dilahirkan dari Perawan Maria, dimana Yusuf sama sekali tidak memainkan peranan penting. Tetapi Markus, Yohanes, dan Paulus tidak sekalipun menunjuk pada mukjizat ini. Hal itu menunjukkan bahwa pada awalnya Maria sama sekali tidak menempati. kedudukan sentral di dalam kekristenan. Penjelasan-penjelasan,.
(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17. baik yang terdapat dalam Matius maupun Lukas kemungkinan besar hanya untuk menekankan keunikan Yesus saja, bahwa Ia dilahirkan oleh seorang perawan tanpa bapak biologis, bahkan penjelasan-penjelasan itu tidaklah memperlihatkan suatu minat Mariologis, tetapi lebih cenderung kepada Kristologis (Groenen, 1998: 79). Menjelang akhir abad ke-II topik mengenai kesalehan Maria telah mengalami perkembangan. Dengan informasi historik yang sangat terbatas di dalam Alkitab, khususnya Perjanjian Baru (Groenen, 1988: 25), sejumlah ahli kitab mencoba menggali sebanyak mungkin informasi tentang Maria yang terdapat di dalam Alkitab. Injil Lukas merupakan sumber informasi yang paling sering dipakai oleh para ahli kitab untuk menggambarkan Maria. Hal ini disebabkan karena Injil Lukas paling banyak memuat ayat-ayat yang berkaitan dengan Maria (Salvatore, 2006: 16). Dan pada akhirnya, informasi-informasi yang diperoleh para ahli kitab dijadikan dasar/landasan iman untuk memberikan penghormatan kepada Maria. Gereja memiliki keyakinan bahwa dasar devosi kepada Maria bukanlah karena kuasanya mengabulkan doa, tetapi karena teladannya sebagai pribadi yang beriman dan kesediaannya menyerahkan diri dan rela berkorban demi mengemban kehendak Allah. Penyerahan Maria kepada rencana dan kehendak Allah begitu murni, tulus dan sempurna sehingga pantas menjadi teladan umat Kristiani – khususnya Katolik. Sikap penyerahan total ini dirumuskan dalam Injil Lukas ketika dia mendapat kabar dari malaikat. Gabriel bahwa dia akan mengandung Yesus.. ”Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”.
(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18. (Luk. 1:38). Karena kesempurnaan Maria dalam hal iman inilah akhirnya umat menghormatinya (Laurensius, 1988: 83). Dalam pembahasan landasan biblis tentang devosi Maria dapat dilihat dari Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru:. 1. Perjanjian Lama Dalam Kitab Bilangan, devosi berarti penyerahan seluruh pribadi kepada Allah dan rencana penyelamatan-Nya (Bil 16:1, 1 Taw 7:8). Devosi merupakan sikap tetap dalam penyerahan kepada Allah yang merupakan misteri. Devosi membawa umat masuk ke dalam pengalaman akan misteri Allah dan karya penyelamatan-Nya. Devosi memiliki unsur penting bagi umat yang melaksanakannya, unsur tersebut adalah kesetiaan. Perjumpaan dengan Allah tidak semata-mata hanya melakukan devosi saja, namun perlu adanya kepekaan dan menanggapi tanda-tanda penyelamatan dan misteri Allah.. 2. Perjanjian Baru Dalam Kis 2:46 umat beriman mengenal doa sebagai jembatan untuk berelasi dengan Allah sejak adanya jemaat perdana. Umat beriman dengan kerelaan hati dan ketekunan berkumpul bersama setiap hari untuk memuji Allah. Penghormatan khusus yang disampaikan para murid kepada Bunda Maria ibu Yesus terdapat pada Kis 1: 14. Penghormatan-penghormatan yang.
(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19. dilakukan oleh para murid kepada Yesus dan Maria merupakan praktek devosi yang sampai saat ini masih berlangsung dalam Gereja. Ayat yang biasanya dipakai juga untuk dijadikan dasar berdevosi kepada Maria adalah penegasan Injil Lukas yang berisi, ”Allah telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku ...” (Luk 1:48-49) Yang dimaksud ”perbuatan-perbuatan besar” Allah kepada Maria di sini adalah keterlibatan Maria dalam misteri keselamatan Illahi dan Gereja. Allah menghendaki Maria ikut berperan secara aktif dalam misteri Kristus, tepatnya dalam misteri inkarnasi (Collins, 1991 : 118), Keikutsertaan Maria menjadikan Allah Putra yang sungguh-sungguh Allah menjadi manusia Yesus Kristus, dimana dengan menjadi manusia, Allah Putra bertindak sebagai penghapus dosa manusia dan menumbangkan kekuasaan jahat. Oleh karena itu, Yesus Kristus merupakan Allah sejati sekaligus manusia sejati karena Ia Allah Putra yang dikandung dan dilahirkan oleh perawan suci. Jadi, karena perbuatan-perbuatan besar Allah kepada Maria umat menghormati Maria (Eddy Kristiyanto, 1987 : 78-80). Injil Yohanes 19: 25-27 mengatakan, ”Dan dekat salib Yesus berdiri Ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: ”Ibu, inilah, anakmu!” kemudian kata-Nya.
(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20. kepada murid-murid-Nya: ”Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.” Ayat tersebut menunjukkan bahwa Yesus menitipkan ibu-Nya kepada. murid-Nya Yohanes, dan Yohanes. dititipkan kepada Maria. Artinya Maria dijadikan bunda para murid dan para murid dijadikan anaknya Santa Perawan Maria, sehingga hubungan Maria sebagai Bunda Yesus terus berlanjut sampai sekarang Maria menjadi Bunda umat pengikut Yesus, karena murid-murid Yesus dianggap sebagai anak dari Maria (Magai, Juni 2018) Dalam Injil Markus dijelaskan bagaimana devosi tumbuh karena iman rakyat akan Yesus. Pada Markus 6:56 dijelaskan bahwa banyak orang yang mengikuti Yesus dimanapun, mereka percaya apabila menyentuh jubah-Nya maka mereka akan sembuh dari segala penyakit. Para ahli taurat melihat hal ini sebagai kegiatan yang magis atau “takhayul”. Namun, berbeda dengan tanggapan Yesus yang membiarkan banyak orang untuk mengikutiNya dan menjamah jubah-Nya. Yesus memahami hal seperti ini sebagai iman yang muncul dari umat secara spontan. Dalam teks-teks Perjanjian Baru tentang Maria terdapat beberapa teks-teks Perjanjian Lama yang dikutip secara eksplisit (Yes 7:14) atau mungkin disinggung secara implisit. (Kej 3:15, Zef. 3:14-20).. Menurut. beberapa ahli Mariologi Katolik teks-teks Perjanjian Lama tersebut sejak semula sudah mengandung bayangan atau pertanda tentang Maria (Martin dan Pitoyo, 1988: 20).
(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21. Para ahli kitab Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, ataupun Tradisi Suci menggambarkan Maria dengan tugasnya dalam tata penyelamatan. Dalam hal ini tugas Maria juga ditampilkan seakan-akan untuk dikagumi. Memang Alkitab maupun tradisi memberikan perhatiannya bukan kepada pribadi dan tugas Maria, melainkan yang paling utama ialah fungsi, karya, martabat dan pribadi Yesus Kristus. Oleh karena itu para Bapa Gereja memberikan pandangan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan Santa Perawan Maria harus dimengerti dan dibaca dengan bertitik tolak pada peristiwa ”puncak” Yesus kristus, yang dimaksud dengan peristiwa ”puncak” di sini ialah peristiwa kebangkitan Yesus Kristus. Kebangkitan Yesus Kristus ini menyatakan penyelamatan tindakan Allah demi umat manusia. Selain itu, peristiwa ini juga menjadi bukti bahwa Yesus dari Nazareth, anak Maria adalah Allah yang berkuasa atas dosa dan maut (Eddy Kristiyanto, 1987: 26). Para Bapa Gereja beranggapan bahwa hanya dengan bertitik tolak. dari. kebangkitan Yesus, kedudukan dan keistimewaan perawan Maria dapat dipahami dan ditempatkan secara proporsional.. D. Landasan Teologis Devosi Maria Alkitab bukanlah satu-satunya yang bisa dijadikan dasar iman, masih ada tradisi Gereja yang posisinya berada di bawah Alkitab. Oleh karena itu, dogmadogma dan devosi yang muncul mengenai Maria dalam Kristen katolik bukan hanya berlandaskan Alkitab saja tetapi juga tradisi Gereja. Bahkan, dibandingkan dengan.
(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22. Alkitab, tradisi Gereja lebih mendominasi sebagai dasar teologis untuk dogmadogma tentang Devosi Maria. Alkitab sedikit sekali berbicara tentang Maria. Misteri kehadiran Sang Sabda yang mau menjadi manusia menyatakan penerimaan Allah terhadap seluruh dimensi kehidupan manusia. Melalui misteri inkarnasi dan penjelmaan-Nya, Tuhan Yesus Kristus mengangkat seluruh kemanusiaan kita dengan segala budaya dan ungkapannya sebagai medan dan sarana perjumpaan kita dengan Allah. Roh Kudus selalu mengantar manusia kepada Allah (Rom 5:5, Yoh 14:26, Rom 8:15). Devosi itu menampilkan sisi pemahaman dan penghayatan iman umat yang beragam. Secara teologis, dalam devosi bukan cara atau teknik ungkapan iman yang paling menentukan, tetapi isi iman. Isi iman itu dipahami dan dihayati menurut ‘taraf rakyat’dan bukan‘taraf teolog’, akan tetapi bisa sungguh-sungguh mengungkapkan kepercayaan total dan tanpa syarat kepada Allah sendiri (http://www.guamaria.org). Dalam Marialis Cultus kita mengetahui bahwa Maria adalah pribadi yang patut dihormati. Penghormatan Gereja kepada Santa Perawan adalah unsur intrinsik kebaktian kristiani. Penghormatan kepada Maria demikian berakar secara mendalam dalam sabda Allah yang diwahyukan dan mempunyai landasan dogmatis yang kuat; martabat Maria tiada taranya sebagai “Ibu Putera Allah” penghormatan ini memperhitungkan peran yang dimainkannya pada saat menentukan dalam sejarah keselamatan yang dilaksanakan Puteranya, dan kekudusannya, sudah penuh pada saat pengandungannya tanpa noda tetapi meningkat sepanjang masa karena ia tunduk kepada kehendak Bapa dan menerima jalan penderitaan (Luk 234-35; 2:41-.
(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23. 52;Yoh 19:25-27), dan terus tumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih (Marialis Cultus, 56) Maria adalah Bunda Yesus Kristus yang mengandung bukan dari seorang pria, melainkan dari Roh Kudus. Oleh karena itu, dalam rumus-rumus pengakuan iman Gereja Katolik, Maria disebut dalam hubungannya dengan Roh Allah yang menyebabkan kelahiran Yesus. Maka dari itu Konsili Efesus (431 M) memberikan gelar Santa Perawan Maria sebagai Bunda Allah (Theotokos). Gelar ini dengan sendirinya menjadi cikal-bakal bagi perumusan dogma-dogma dasar tentang Maria. Menurut Bernhard Lohse, ada empat dogma atau pernyataan iman Gereja yang menyangkut Maria: 1.Maria Bunda Allah (Theotokos) 2.Keperawanan Maria 3.Maria Dikandung Tanpa Noda (Immaculata) 4.Maria Diangkat ke Surga dengan Jiwa dan Raganya Keempat dogma ini berkaitan erat, dogma yang satu tidak lengkap tanpa dogma yang lain (Lohse, 1994: 254) Keempat dogma ini terdiri dari:. 1. Maria Bunda Allah (Theotokos) Gelar Theotokos diresmikan pada Konsili Efesus (431 M). Gelar tersebut sudah cukup populer di kalangan umat sebelum konsili dimulai. Tetapi perlu diingat, peresmian gelar Bunda Allah (Theotokos) dalam Konsili Efesus bukan tanpa masalah. Konsili Efesus sendiri dilatarbelakangi oleh perdebatan emosional.
(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24. antara mazhab Aleksandria yang diwakili oleh Proclus dan Sirilus dengan mazhab Antihokia yang diwakili oleh Nestorius dan Yohanes. Inti permasalahan dalam perdebatan itu sebenarnya terletak pada hubungan kedua kodrat Yesus Kristus, kodrat manusiawi dan kodrat Illahi. Jadi, perdebatan itu lebih bersifat Kristologis dibandingkan dengan Mariologis, tetapi karena Yesus mendapatkan kodrat manusiawi-Nya dari Maria, maka Maria pun dibahas dalam perdebatan ini (Handoko, 2006:25) Mazhab Anthiokia beranggapan pemberian gelar Maria Bunda Allah memberi kesan bahwa ke-Illahian Yesus dilahirkan dan diturunkan pula oleh manusia yang bernama Maria Hal ini sama dengan menyatakan bahwa di dalam diri Yesus ada dua pribadi, yaitu pribadi Illahi dan pribadi manusiawi ( Eddy Kristiyanto, 1987: 125) Mazhab ini menggunakan pendekatan ”manusia firman”, yang artinya Yesus itu sebagai manusia yang didiami Allah. Oleh karena itu, mazhab ini menolak pemberian gelar Bunda Allah (Theotokos) kepada Maria. Aliran ini beranggapan Maria hanya Bunda Manusia (Anthropotokos) karena Maria melahirkan ”manusia firman” bukan ”Allah firman”, jadi Maria bukan Bunda Allah tetapi hanya Bunda Kristus saja yaitu bunda manusia. Masih menurut mazhab ini, pemberian gelar Bunda Allah (Theotokos) dapat mengakibatkan pada pendapat yang menyatakan Maria sebagai Ibu dari Yang Illahi, dan ini akan berakibat kepada penyembahan Maria (Mariolatria) (Lane, 1996:45) Di lain pihak, mazhab Aleksandria berpandangan bahwa kedua kodrat yang ada di diri Yesus itu merupakan satu kesatuan. Jadi, yang dilahirkan Maria.
(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25. adalah kodrat manusiawi dan juga kodrat illahi Yesus, dan oleh karena itu Maria boleh disebut Bunda manusia (Anthropotokos) dan juga Bunda Allah (Theotokos). Pemberian gelar Theotokos kepada Maria bukan berarti menyembah Maria (Mariolatria), tetapi hanya menekankan kesatuan dalam diri Yesus. Yesus adalah benar-benar manusia dan juga benar-benar Allah, oleh karena itu Maria boleh disebut Bunda Allah (Handoko, 2006:25) Untuk mengatasi kontroversi antara kedua mazhab tersebut, maka diadakanlah Konsili Efesus (431 M), dimana konsili ini berusaha mencegah dua kekeliruan tentang Maria, yaitu: 1) menjadikan Maria sebagai allah putri, dan 2) menempatkan Maria hanya pada tingkat manusiawi saja dengan menyatakan Maria hanya sebagai ibu dari kodrat manusiawi Yesus Konsili Efesus menegaskan kembali ajaran Konsili Nikea (325 M), yang mengajarkan bahwa Yesus merupakan manusia yang memang Allah, karena sehakikat dengan Bapa (Groenen,1988:41) Jadi, pemberian gelar Bunda Allah tidak mengatakan bahwa Allah (keillahian) mempunyai ibu, tetapi seorang manusia yang juga Allah tentu saja memiliki ibu, selayaknya manusia sejati lainnya. Sebenarnya Konsili Efesus tidak mencerminkan refleksi para teolog, tetapi lebih kepada kepercayaan atau iman umat (sensus fidelium), karena pada umumnya Maria diakui sebagai Bunda Yesus yang utuh, yaitu Yesus dengan kodrat Illahi dan kodrat manusiawi. Selain itu, sebutan Bunda Allah (Theotokos) sudah populer di kalangan umat sebelum Konsili Efesus..
(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26. Tetapi Konsili Efesus menjelaskan secara tegas bahwa Maria disebut Bunda Allah bukan karena kodrat firman dan keIllahian Yesus berasal dari Maria, tetapi tubuh suci Yesus diambil dari Maria, dan dengan tubuh itu Firman Allah dipersatukan secara mandiri (Groenen,1988:41). 2. Keperawanan Maria Matius 1:18 dengan jelas mengatakan bahwa Maria mengandung Yesus bukan didasarkan oleh hubungan biologis, melainkan melalui Roh Kudus yang diberitakan oleh malaikat Gabriel. Hal ini mengindikasikan keunikan Maria, bahwa ketika ia mengandung Yesus ia tetap perawan. Sebelum mengandung Yesus, Maria adalah perawan. Keperawanan Maria menurut Gereja Katolik tidak hanya berdasarkan ketika mengandung Yesus, tetapi Maria tetap menjaga keperawanannya sebelum, ketika, dan sesudah melahirkan Yesus. Hal ini dikarenakan sebelum dan ketika mengandung Yesus, Maria tidak pernah berhubungan badan dengan laki-laki manapun, dan proses kelahiran Yesus pun tidak merusak keperawanan Maria. Tradisi tentang keperawanan Maria dalam mengandung Yesus sangat kuat dalam Gereja Katolik. Matius 1:18 dengan jelas mengatakan itu, kemudian ditegaskan kembali dalam Matius 1:25 "Yusuf tidak "mengenal" dia hingga ia melahirkan anak (Groenen, 1988: 43) Sebenarnya ajaran tentang dikandungnya Yesus oleh perawan masuk ke dalam Kristologi bukan Mariologi. Tetapi secara tidak langsung ajaran itu.
(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27. mengatakan sesuatu tentang Maria. Sebagai perawan ia menjadi Bunda, sehingga ia menjadi perawan dalam kebundaannya dan tidak lepas darinya (Groenen, 1988: 43). 3. Maria Dikandung Tanpa Noda (Immaculata) Pemberian Gelar Theotokos telah menjadi dasar bagi perkembangan Mariologi berikutnya. Setelah dua dogma Mariologi di atas, muncul juga ajaran tentang Maria dikandung tanpa noda (Immaculata). Landasan teologis mengenai dogma Immaculata ini adalah sebagai Bunda Allah, Sang Sabda, maka Maria sudah sepantasnya suci, sesuai dengan keluhuran dan kesucian Sang Sabda. Dengan sucinya Maria, maka Sang Sabda dapat menerima kodrat kemanusiaan-Nya dengan murni dan suci. Untuk menjaga kemurnian dan kesucian. Maria, maka sudah sepantasnyalah jika Allah. membebaskan Maria dari noda dosa asal. Ajaran ini pertama kali diperkenalkan oleh Agustinus (Handoko,2006: 28).. 4. Maria Diangkat Ke Surga Menurut Petrus Maria Handoko, dogma-dogma di atas. membuat Maria. semakin diagungkan dan disucikan. Setelah ketiga dogma di atas, kesucian Maria mulai menjadi topik utama, sehingga umat Katolik dan para teolog mulai merasakan bahwa kematian dan pembusukan tubuh Maria tidak selaras dengan kemuliaan dan martabat Maria..
(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28. Dari dasar pemikiran di atas, muncullah ajaran bahwa Maria tidak meninggal, tetapi diangkat ke surga bersama jiwa dan raganya (Handoko, 2006: 28) Ajaran ini juga diperkuat dengan tidak diketemukannya makam dan tulang belulang Maria sampai sekarang, berbeda dengan makam dan tulang belulang para rasul dan orang-orang kudus lainnya yang diperebutkan oleh Gereja-gereja pada masamasa awal. Peran Santa Perawan sebagai ibu membimbing umat Allah untuk berpaling penuh kepercayaan kepadanya yang selalu siap mendengarkan dengan kasih keibuan dan bantuannya yang efektif. Maka umat beriman mampu menjadikan Maria sebagai pola hidup sehari-hari, dimana dengan berpola pada Maria maka akan mengalami kasih yang begitu luar biasa. Penghormatan untuk ibu Tuhan bagi kaum beriman menjadi kesempatan tumbuh dalam rahmat ilahi.. E. Berbagai Bentuk Devosi Maria 1. Doa Kepada Maria Doa kepada Santa Perawan Maria merupakan bentuk devosi yang paling umum dan biasa dilakukan oleh umat Katolik. Mereka menganggap bahwa doa, puji-pujian, syukur, dan permohonan yang ditujukan kepada Allah melalui Maria bukan suatu masalah. Alasannya adalah Maria merupakan karya ciptaan Allah yang paling unggul dan berperan dalam karya penyelamatan. Problem baru muncul, kalau Maria menjadi sasaran doa. Secara teologis, ungkapan ”berdoa kepada” sebenarnya kurang tepat digunakan kepada Maria, karena berdoa hanya boleh kepada Tuhan.
(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29. Allah. Namun dalam arti yang lebih luas, ungkapan ”berdoa kepada Maria” dimaksudkan untuk menyapanya dalam suasana doa dan memohon kepadanya untuk mendoakan si pendoa. Hal ini seperti tertera dalam rumusan doa Salam Maria. Bentuk doa dan pujian kepada Maria cukup banyak. Di antara sekian banyak bentuk doa tersebut, doa Salam Maria memiliki tempat dan kedudukan yang paling utama, ini disebabkan karena struktur dasar setiap doa kepada Maria terdapat dalam doa Salam Maria (Groenen, 1988 :169) Bagian pertama dari doa ini merupakan gabungan dari dua ayat Injil Lukas, yakni: Salam Malaikat Gabriel kepada Maria (Luk 1:28) dan ditambah dengan Pujian Elizabeth kepada Maria (Luk 1:42). Bagian pertama ini sudah lazim dipakai sebagai doa sejak abad VI-VII, dan baru muncul secara lengkap pada tahun 1498, dan ditetapkan seperti apa adanya sekarang pada tahun 1568 oleh Paus Pius V (Handoko, 2006: 129) Selain doa Salam Maria masih ada beberapa bentuk doa kepada Maria di antaranya:. a. Doa Malaikat Tuhan Doa ini dilakukan tiga kali sehari, yaitu pada pagi hari, siang hari, dan senja hari. Lonceng Gereja-gereja dengan cara khusus dibunyikan sebagai tanda waktu mulai berdoa. Doa ini sebenarnya bertujuan untuk mengenang peristiwa inkarnasi. Doa ini tersusun atas tiga ayat serta tanggapannya yang dikutip dari ayat-ayat Lukas 1 dan Yohanes 1, kemudian disusul doa Salam Maria dan berakhir dengan suatu seruan kepada Maria serta tanggapannya disusul doa penutup, yang tertuju kepada.
(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30. Allah dengan perantaraan Yesus Kristus (Groenen, 1988 :172-174) Penyertaan doa Salam Maria dan seruan kepada Maria menandakan bahwa umat Roma Katolik juga ingin mengikutsertakan peranan yang dipegang Maria dalam peristiwaperistiwa penyelamatan itu, sesuai dengan tempat Maria dalam sejarah penyelamatan. Perhatian doa ini diarahkan kepada karya penyelamatan dalam diri Yesus maupun kepada sikap bagaimana kita harus menyambut karya-Nya itu. Sikap Maria dalam menyambut karya Allah harus dijadikan teladan, khususnya sikap Maria ketika menerima Kabar Malaikat.. b. Doa Rosario Doa Rosario adalah doa yang berisi tiga rangkaian peristiwa misteri Tuhan, yaitu peristiwa gembira, peristiwa sedih, dan peristiwa mulia. Masing-masing peristiwa terdiri atas lima peristiwa (https://id.wikihow.com/Berdoa-Rosario). Doa Rosario menggunakan alat bantu berupa tasbih dan menggunakan sistem mengulang-ulang rumusan doa. Rosario sendiri berarti karangan bunga mawar. Inti doa Rosario adalah merenungkan peristiwa-peristiwa hidup Yesus dan Maria. Jadi, tujuan utamanya bukan pengucapan rumusan-rumusan doa. Pengulangan rumusan doa dimaksudkan untuk membantu mempermudah renungan batin. Doa Rosario merupakan doa yang amat popular dan disukai umat karena mudah, praktis dan bias menenangkan hati orang. Gereja sendiri melalui para Paus, menganjurkan doa Rosario, bahkan menentukan bahwa bulan mei dibaktikan.
(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31. sebagai bulan Maria dan bulan oktober sebagai bulan Rosario. Meski doa Rosario merupakan devosi kepada Bunda Maria, tetapi doa Rosario sungguh berciri Kristologis dan membantu umatberiman untuk merenungkan misteri penebusan Tuhan. Kini tersedia empat peristiwa, setelah lama dalam sejarah hanya tersedia tiga peristiwa (Gembira, Sedih dan Kemuliaan) Paus Yohanes Paulus II menambahkan satu peristiwa yaitu peristiwa terang atau cahaya pada tahun 2002 (Rosarium Virginis Mariae no 19). c. Litani Santa Maria Doa. Rosario. biasanya. digabung. oleh. doa. Litani.. Litani. (Latin:. litania/litaniae) adalah doa yang terdiri dari serangkaian permohonan atau seruan, yang dibawakan oleh seorang pemimpin, lalu oleh para jemaat ditanggapi dengan rumusan/seruan yang sama (Groenen, 1988: 178). Dalam Gereja Katolik, ada enam Litani yang secara resmi diakui Gereja, yaitu: Litani S. Maria, Litani Para Kudus, Litani Nama Yesus, Litani Hati Kudus, Litani Darah Mulia, dan Litani S. Yusup. Dari enam Litani tersebut, yang paling umum dipakai adalah Litani Santa Maria,. sedangkan Litani yang lain kurang. digemari umat (http://www.guamaria.org).. 2. Patung/Gambar Maria Gereja biasanya dihiasi dengan macam-macam gambar dan patung Yesus Kristus, dan orang-orang kudus. Di antara patung/gambar orang-orang Kudus,.
(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32. patung/gambar Maria menempati kedudukan paling depan. Bagi umat Katolik patung/gambar. tersebut bukan hanya hiasan dan karya. seni. belaka,. tetapi. merupakan sasaran devosi yang hangat dan emosional. Masih menurut mereka, religiusitas dan iman umat dapat dihayati dengan hangat dan dalam bila dapat disalurkan melalui obyek yang kongkret seperti patung/gambar. Alasan pembuatan patung dalam Gereja Katolik adalah sebagai simbol atas sosok yang diistimewakan melalui patung tersebut. Patung itu sendiri tidak diistimewakan, sosok yang diwakilinyalah yang diistimewakan. Dengan demikian, pembuatan patung sebenarnya tidak dimaksudkan untuk menjadikan patung itu sebagai objek penyembahan, melainkan hanya sebagai simbol atas sosok yang diistimewakan. dalam. kehidupan. iman. umat. secara. nyata. dan. riil. (http://www.sarapanpagi.org/patung-dalam-gereja-katolik-vt3085.html).Oleh karena itu umat Katolik seringkali menghormati patung/gambar Maria. Sasaran devosi itu bukanlah patung/gambar, melainkan diri Maria sendiri. Dalam. pendekatan. Gereja,. tidak. ada. kewajiban. untuk. memakai. patung/gambar Maria sebagai sasaran devosi, tetapi juga tidak ada larangan untuk memakainya dan terasa kurang bijaksana menentangnya. Dan tidak dapat dipungkiri pula bahwa melalui ikon, Devosi Maria berkembang dengan sangat cepat. Pada dasarnya Gereja amat terbuka terhadap penggunaan kesenian, seperti patung dan gambar-gambar. Dengan adanya pengungkapan lahiriah dalam bentuk seni yang memikat daya-daya kemanusiaan itu diharapkan orang beriman terbantu.
(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33. sedapat mungkin untuk mengangkat hatinya kepada Allah, dalam kehidupan seharihari untuk mendekatkan diri pada-Nya melalui devosi yang benar berdasarkan ajaran iman Kristiani (http://romojost.blogspot.com/2013/08/seni-dalam-gereja.html).. 3. Penampakan Maria Gejala yang muncul dari Devosi Penampakan adalah terlihatnya sesuatu. Maria adalah. ”Penampakan. Maria”.. dari dunia yang tak kelihatan dan. dianggap sebagai salah satu cara bertindak dari Allah untuk mewahyukan wejanganNya (Salvatore, 2006 :133) Bagi umat Katolik, Maria tidak terlihat karena eksistensi aktualnya di surga, mana mungkin Maria dapat terlihat oleh manusia yang berada dalam keadaan ”dunia”. Tetapi, menurut keyakinan Kristiani, Allah dengan Roh Kudus memang hadir dan berkarya di dunia ini dan di dalam orang beriman. Ada beberapa Penampakan Maria yang diakui oleh Gereja Katolik dan cukup terkenal, yaitu: a.. Penampakan Maria di Guadalupe, Meksiko kepada seorang petani Indian, bernama Juan Diego Nahuatl pada tahun 1531. Pusat devosi ini adalah suatu gambar Maria yang secara ajaib muncul pada kain yang dipakai Nahuatl dan sampai sekarang ini masih dapat dilihat.. b.. Penampakan Maria di Rue de Bac, Paris kepada Katarina Laboure pada tahun 1830. Penampakan ini mencetuskan tersebarnya ”medali wasiat”, yang. di. Katarina.. atasnya tertera gambar Maria seperti apa yang dialami oleh.
(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34. c.. Penampakan Maria di Fatima, Perancis kepada tiga anak kecil pada tahun 1917. Ketiga anak itu adalah Yachinta, Fransisco, dan Lucia. Sampai sekarang Lucia masih hidup sebagai seorang suster.. d.. Penampakan Maria di Lourdes, Perancis kepada Bernadette Soubirou pada tahun 1858. Penampakan ini terjadi empat tahun setelah pernyataan Maria dikandung tanpa noda (1854) (Maria, : 131- 132 ).. 4.. Ziarah Ziarah ke tempat-tempat keramat merupakan suatu gejala religius yang ada. di. semua. agama,. baik. agama-agama. primitif. maupun. agama-agama. berkembang. Sama halnya dengan semua agama, umat Katolik pun memiliki praktek ziarah ke tempat-tempat keramat, misalnya Vatikan Roma, dimana di sana ada makam Petrus dan Paulus. Setelah Maria tampil dan semakin menonjol sebagai sasaran devosi rakyat, maka Maria pun menjadi sasaran devosi yang disalurkan melalui ”berziarah”.. Tempat-tempat keramat yang dijadikan target ziarah umat Katolik. biasanya tempat di mana Maria secara khusus menampakkan diri dan berkarya serta mengabulkan doa. Tempat-tempat Maria menampakkan diri, seperti: Guadalupe, Lourdes, Fatima, dijadikan tempat ziarah Maria yang memiliki makna internasional. Selain itu masih banyak tempat keramat yang ramai dikunjungi orang, tetapi tidak semua berlatar belakang penampakan, mungkin ada suatu mukjizat atau.
(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35. kejadian luar biasa, misalnya di Loreto, Italia (Handoko, 2006 : 132) Di Indonesia, ada beberapa tempat ziarah Maria seperti Sendangsono, dan Gua Kerep di Jawa Tengah (Groenen, 1988 :190).. F. Rangkuman Maria adalah perawan yang mendengarkan, yang menyambut sabda dalam iman, dengan iman yang baginya merupakan syarat dan jalan menuju keibuan illahi. Dari pemaparan tentang devosi kepada Maria, penulis menyimpulkan bahwa inti devosi Maria adalah penyerahan seluruh pribadi kepada Allah dan kehendak-Nya. Devosi Maria ini sungguh mengajak umat untuk mendekatkan diri kepada Allah, Maria sebagai perantara untuk sampai kepada Puteranya dan melalui Maria iman umat semakin berkembang. Umat mampu meneladani sikap Bunda Maria yang rendah hati dan selalu siap sedia dalam segala hal, serta mampu menyimpan segala perkara dalam hatinya, sikap inilah yang memotivasi umat untuk terus mendekatkan diri kepadanya dan akhirnya sampai kepada Bapa. Santa perawan Maria menjadi makhluk yang paling unggul, maka patutlah ia dihormati sebagai bunda umat beriman. Maria dipandang unggul karena berkat kesediaannya untuk menjadi bunda bagi Putera Allah.. Maria dipandang unggul. bukan karena kekuatannya tetapi ia sebagai manusia biasa yang sungguh taat akan kehendak Allah sehingga ia dipercayakan menjadi bunda Kristus. Penyerahan Maria begitu murni kepada kehendak Allah maka patutlah umat beriman meneladaninya..
(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36. Dalam berdevosi, umat beriman diarahkan untuk mengikuti apa yang menjadi dasar atau ajaran Gereja sehingga tidak berjalan sesuai kehendak sendiri, namun ada tuntunan yang mendasar, baik itu melalui Kitab Suci maupun ajaran-ajaran Gereja, sehingga mampu berdevosi dengan baik dan benar, karena apabila kurang memahami arti devosi yang benar maka bisa saja terjadi penyelewengan dalam berbagai bentuk. Dalam devosi Maria, umat beriman tidak hanya cukup sampai pada sikap heran, kagum dan puji Maria karena karya Agung Allah dalam dirinya, tapi kita, umat beriman juga harus meneladan Maria sebagai citra dalam hal iman, cintakasih persatuan yang sempurna dengan Kristus. Gereja mengajarkan bahwa Maria adalah typos Gereja (gambaran Gereja), gambaran umat beriman dalam perjalanan menuju Allah. Itu berarti dalam usaha menjawab panggilan Allah, umat bisa belajar pada Maria tentang bagaimana menjawab panggilan Allah dan hidup seturut firmanNya, tentang bagaimana mengikuti Yesus secara sempurna, dan bagaimana melaksanakan kehendak Allah dengan setia. Devosi Maria adalah bentuk devosi yang paling umum dan di antara sekian banyak bentuk doa, doa salam Maria adalah doa yang utama. Selain berdoa, umat beriman juga menggunakan patung/gambar sebagai sarana kontemplasi untuk sampai kepada Allah dan patung bukan untuk disembah. Ziarah menjadi salah satu bentuk devosi karena dengan berziarah umat beriman mempunyai tujuan yang ingin dicapai yaitu dengan berkunjung ke tempat-tempat yang dikuduskan..
(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37. BAB III DEVOSI YANG SEHAT KEPADA SANTA PERAWAN MARIA DALAM GEREJA KATOLIK. Pengalaman devosi merupakan suasana yang dominan dalam kehidupan umat. Devosi membantu umat untuk mengungkapkan hubungan dengan Allah dan untuk menumbuhkembangkan iman. Namun, seringkali devosi dilakukan semata-mata untuk menuruti perasaan pribadi tanpa memperhatikan kebenaran iman yang seharusnya terungkap di dalamnya dan tanpa memperhatikan dampaknya bagi sesama umat beriman. Selain itu, devosi yang dilakukan oleh umat pada umumnya didasari oleh kebutuhan pribadi umat dengan harapan bahwa Allah akan memenuhi kebutuhannya. Karena merasa puas dengan menjalankan devosi, banyak orang yang kemudian kurang menghayati dan kurang menghargai liturgi. Apalagi, liturgi dirasa sangat kering dan membosankan karena tidak sesuai keinginan dan perasaan pribadinya. Melihat kenyataan itu, seluruh anggota Gereja perlu memahami penghayatan devosi yang benar, Pengungkapan devosi kepada Maria dan tolok ukur keontetikannya, makna devosi yang sehat kepada Santa Maria bagi umat, dan devosi Maria dalam penghayatan iman umat..
(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38. A.. Devosi Maria dalam Penghayatan Iman Umat. 1.. Tempat Devosi dalam Penghayatan Iman Iman kristiani merupakan suatu kekayaan yang besar sehingga tidak pernah. dapat dikuras habis dalam segala aspeknya. Masing-masing dapat menghayati suatu aspek dari iman itu tanpa dapat menguras segala kekayaannya. Karenanya iman yang sama dapat diungkapkan dengan berbagai macam cara dan orang masih tetap belum menghabiskan kekayaannya. Demikian pula dalam kehidupan pribadinya, orang kristiani membutuhkan ungkapan yang berbeda-beda bagi imannya dan tiap pribadi, sesuai dengan watak dan pembawaan serta kecenderungan pribadi, mempunyai ungkapannya sendiri. Dari situlah lahir apa yang disebut devosi-devosi untuk mrngungkapkan ekspresi iman (http://www.carmelia.net/index.php/artikel/tulisan-rmyohanes). Devosi adalah dedikasi pribadi seorang kristiani kepada seorang kudus atau kepada salah satu aspek dari kehidupan Kristus, yang merupakan suatu sumber inspirasi khusus bagi orang. Bagi umat, orang kudus tertentu, atau Bunda Maria, atau aspek tertentu kehidupan Kristus, mempunyai daya tarik khusus dan memberikan semangat khusus pula. Umat merasa tertolong dan diteguhkan dalam perjalanan hidup. Sikap inilah yang akhirnya menimbulkan praktek-praktek religius tertentu yang menekankan peranan seorang kudus atau misteri illahi tertentu dalam hidup. Berdoa dan merenungkan misteri tertentu dapat memberikan inspirasi kepada umat untuk lebih mendekat kepada Allah, serta menjadikan umat lebih berpaut kepada-Nya. Karena keterbatasan, orang tidak dapat menghayati seluruh aspek.
(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39. misteri Allah yang begitu kaya itu. Suatu aspek tertentu cukup membuat umat untuk semakin membaktikan diri kepada Allah. Perhatian kepada suatu aspek misteri Allah tentu saja tidak dapat menjadi alasan untuk mengabaikan aspek-aspek lainnya. Sebab jika demikian halnya, itu akan menjadikan hidup umat berat sebelah dan devosi itu menjadi tidak sehat. Maka harus seimbang. Sebagaimana dalam suatu keluarga ada hubungan khusus antara anggota keluarga itu, demikian pula dalam keluarga Allah. Disitu seringkali terjadi dan berkembang suatu hubungan khusus antara anggota-anggota Gereja, baik antara anggota yang masih hidup maupun dengan anggota yang sudah meninggal, yaitu para kudus. Orang kristiani tertentu dapat merasa tertarik kepada salah seorang kudus tertentu, yang hidup atau semangatnya menjadi inspirasi baginya. Kadang-kadang suatu kelompok tertentu, seperti para religius atau kelompok kerasulan tertentu, mempunyai seorang kudus tertentu sebagai pelindungnya, karena mereka berkarya sesuai dengan semangatnya ataupun mohon perlindungannya yang khusus. Kalau devosi-devosi ini dihubungkan dengan iman seperti yang tertera di atas, maka jelaslah, bahwa devosi-devosi ini kalau benar-benar otentik, harus membantu dan memperkembangkan iman yang sejati, yang terarah kepada Allah sendiri. Maka itu devosi ini perlu dinilai dalam hubungannya dengan iman: sejauh mana hal itu membantu pertumbuhan iman, sejauh mana devosi tadi memperkembangkan hubungan yang pribadi dengan Allah dalam iman, harapan dan cintakasih..
(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40. 2. Persoalan devosi Maria Di antara devosi-devosi yang berkembang dewasa ini di antara umat katolik, kita jumpai devosi kepada Bunda Maria dalam segala bentuknya. Untuk mengungkapkan devosi itu umat menjumpai berbagai macam bentuk. Didirikannya gua-gua Maria hampir di mana-mana menunjukkan minat umat terhadap devosi ini. Demikian pula berbagai macam bentuk novena kepada Bunda Maria mengungkapkan sikap ini. Karena itu perlulah melihat hubungan yang ada antara devosi-devosi ini dengan penghayatan iman Kristiani, karena dalam hal ini dapat terlihat jelas hubungan antara devosi dan iman. Dalam Lumen Gentium, Konstitusi tentang Gereja, Konsili Vatikan II telah memberikan uraian yang panjang dan yang secara teologis, merupakan suatu uraian yang paling menyeluruh dan lengkap yang pernah dihasilkan oleh suatu Konsili Ekumenis. Namun biarpun demikian tidak lama sesudah itu devosi kepada Bunda Maria menurun secara menyolok sekali dalam Gereja Katolik, khususnya di Eropa dan Amerika Utara. Pimpinan hirarki merasakan pula kemerosotan ini dan karenanya mereka merasa berwajib untuk memberikan petunjuk-petunjuk. Usaha-usaha semacam ini mendapat ungkapannya yang paling berarti dalam ensiklik: "Marialis Cultus" yang dikeluarkan Paus Paulus VI dalam tahun 1974. Dokumen ini rupanya tidak mendapatkan tanggapan yang berarti dalam Gereja. Namun akhir-akhir ini devosi kepada Bunda Maria mulai berkembang lagi. Di Eropa dan Amerika dijumpai minat yang menurun untuk devosi ini, biarpun akhir-akhir ini ada minat baru lagi untuk devosi tersebut, antara lain karena.
Dokumen terkait
Tabel 4.20 dan tabel 4.21 adalah Pengujian Data Registrasi User pada Aplikasi Pengolahan Arsip Gereja Katolik Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tak Bernoda Garut Menggunakan
Dalam Agama Katolik mengajarkan bahwa seseorang akan diampuni dosanya jika ia mengakui dosanya kepada Tuhan dengan disaksikan oleh satu dari utusan-Nya, yaitu seorang pastor
Persoalan pokok dalam skripsi ini adalah sejauh mana pemahaman akan devosi kepada Bunda Maria terhadap minat mengikuti Perayaan Ekaristi dapat dimaknai sebagai sumber hidup beriman
Tanda indeks, ikon, dan simbol akan di cari pada arsitektur Gereja Katolik yang lebih dominan dalam lingkup lingkungan sekitar, lingkup tapak, dan lingkup
Setelah melakukan sakramen rekonsiliasi jemaat berusaha untuk memperbaiki kehidupannya melalui berbagai cara, yaitu lebih mendekatkan diri dengan Tuhan, lebih
Makna simbolik ornamen-ornamen gereja terbagi menjadi dua komponen yaitu, pertama, ornamen kelengkapan peribadatan yang meliputi, pakaian liturgi gerejani terdiri atas enam
Kedua obyek studi memiliki tanda simbol karena ekspresi masa bangunan Gereja dengan ruang gerak dalam yang sejalan (gambar 12). Ruang linear yang luas terbentuk
Hubungan bentuk ruang luar dan dalam yang sejalan dengan liturgi sakral pada obyek 1 kiri dan obyek 2 kanan Sumber: Hasil Analisis, 2016 Kesimpulan Berdasarkan analisis kedua