• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. PENUTUP

B. Saran

Berdasarkan seluruh isi skripsi ini, penulis menuliskan beberapa saran atau

usulan untuk membantu umat agar dapat berdevosi dengan baik dan benar serta

meneladan Maria dalam hidup sehari-hari. Untuk itu ada beberapa syarat devosi yang

sehat yang patut diperhatikan dalam berdevosi adalah sebagai berikut:

1. Devosi hendaknya dilakukan berdasarkan iman Gereja yang benar Dewasa ini umat kristiani sangat mengagungkan devosi kepada Bunda Maria

sampai-sampai menggeser Allah Bapa, Tuhan Yesus Kristus, dan Roh Kudus, maka

tentu ini bukan praktik devosi yang sehat. Doa kepada Maria seperti contoh ini tentu

kurang tepat, misalnya: “Ya Bunda Maria, engkaulah sumber segala rahmat,

kabulkanlah doa kami. Engkaulah yang kudus dari yang terkudus, engkau tanpa doa, maka ampunilah dosa kami dan kasihanilah kami, para putera-puterimu ini.” Doa semacam ini menempatkan bunda Maria sudah setara dengan Tuhan, karena ia

mengampuni dosa, dst. Penghormatan kepada para kudus, termasuk kepada Bunda

Maria, harus dalam jalur iman Gereja yang benar, yakni sebagaimana diimani para

rasul seperti tampak dalam Kitab Suci dan ajaran Gereja. Untuk itu dalam berdevosi

sehat kepada bunda Maria hanya sebagai pengantara doa kepada Putra-Nya dan

meneladan hidup dan karya Bunda Maria dalam kehidupan nyata, baik dalam

keluarga, lingkungan dan masyarakat.

2. Devosi hendaknya juga harus ditempatkan dalam liturgi Gereja Kebanyakan umat tidak serius dalam mengikuti liturgi Ekaristi. Ketika

melakukan Ekaisti mereka sibuk dengan doa rosario. Mereka tidak ambil bagian

dalam perayaan Ekaristi secara penuh dan utuh. Praktek devosi seperti ini tidak sehat

karena menghilangkan makna dari liturgi itu sendiri dan devosi bukan liturgi resmi.

Devosi tidak setara tingkatnya dengan liturgi, maka umat dianjurkan untuk mengikuti

perayaan Ekaristi tanpa melakukan kegiatan yang lain seperti berdevosi ketika

mengikuti Perayaan Ekaristi.

3. Devosi harus dijauhkan dari sikap magis

Kebanyakan umat berdoa rosario pada jam tertentu, rumusan dan jumlah

tertentu dengan tekun dan setia agar dapat mengabulkan doanya. Sikap doa seperti ini

dapat dikatakan bahwa memutlakkan barangnya, tandanya, rumusan doanya, jumlah

angkanya, kegiatan-kegiatan lain yang menyertainya, namun malah menggeser Tuhan

sebagai yang tidak pokok. Mestinya terkabulnya doa tergantung pada Tuhan saja.

rumusannnya secara persis, dengan titik dan komanya, atau mendoakannya pada

jam-jam tertentu atau pada tempat-tempat tertentu. Untuk itu sebagai umat kristiani perlu

menempatkan Tuhan sebagai segala dalam setiap doa devosi kita.

4. Devosi harus dijauhkan dari mentalitas do ut des

Artinya aku memberi agar aku diberi atau mendapat sesuatu. Ini adalah

mentalitas pamrih, mentalitas bisnis atau pedagang. Berpuasa, bertirakat, bermatiraga

boleh dan baik. Menjadi tidak baik apabila umat lakukan dengan motivasi untuk

memaksa Tuhan agar Tuhan seolah-olah berutang budi kepada manusia. Atau Tuhan

baru mau mengabulkan doa permohonan umat apabila mau membayarnya dengan

laku matiraga. Ini pandangan yang keliru. Laku mati raga itu baik dan perlu untuk

kehidupan rohani, tetapi jangan dilakukan dengan semangat do ut des. Laku matiraga

dilakukan lebih untuk mendisiplinkan diri pada pengolahan diri dan hidup agar

terbantu dan disiapkan untuk meyerahkan diri kepada Tuhan dan kehendakNya.

Bentuk devosi kepada Bunda Maria bermacam-macam. Ada novena, rosario,

ziarah, doa di depan patung atau gambarnya. Marilah berdevosi kepada Bunda Maria

DAFTAR PUSTAKA

Berdoa Rosario, https://id.wikihow.com/Berdoa-Rosario. Akses pada, 20 Juni 2018.

Bambang, Daniel Arkhimandrit. Kontroversi Maria, Jakarta: Satya Widya Graha, 2001.

Darminta, J,SJ. Maria Bunda Iman Kita. Yogyakarta:Kanisius,1993 Devosi Maria, artikel diakses 15 juni 2018 dari http://www.guamaria.org. Dihe Sanga, Laurensius. Merenung Bersama Bunda Maria, Yogyakarya: Kanisius, 2014.

Dedismas, http://dedismas.blogspot.com/2011/10/ menghayati-devosi-yang- sehat. html, Akses pada, 13 Juli 2018).

EddyKristiyanto. Maria Dalam Gereja: Pokok-pokkok Ajaran Konsili Valikan II Tentang Maria Dalam Gereja Kristus, Cet I, Yogyakarta: Kanisius, 1987.

Ensiklopedi Umum. Yogyakarta: Kanisius, 1993.

Gaud, Cristiane dan Descouleurs, Bernard. Kisah Maria, Yogyakarta: Kanisius, 1988

Groenen, C,OFM. Mariologi. Teologi dan Devosi,Cet 1, Yogyakarta: Kanisius, 1988.

Groome,Thomas,H. Shared Christian Praxis:Suatu Model Berkatekese (F.X.Heryatno Wono Wulung,Penyadur). Yogyakarta:1990

Hahn, Scot dan Hahn, Kimberly. Maria Penuh Rahmat: Permenungan Peristiwa- peristiwa Rosario Suci, Malang: Dioma, 2006. Harun, Martin, DR,ed. Maria Dalam Perjanjian Baru, Jakarta: Penerbit Obor, 1988.

IKKSUMALANG https://ikksumalang.wordpress.com/2013/03/01/sejarah- perkembangan-devosi-dalam-gereja-katolik-zaman-kristiani-awali

sampai-Konsili-Vatikan-II, Akses pada, 10 Juli 2018).

KAS, PANKAT: Ikutilah Aku: Warta Gembira Untuk Para Calon Babtis, Cet 13,Yogyakarta: Kanisius, 1993.

Kusuma Indra, (http://www.carmelia.net/index.php/artikel/tulisan-rm-yohanes indrakusuma /182-devosi-dan-iman-kristen? Akses pada, 10

Juli 2018).

Komisi Liturgi KWI. 1992. Puji Syukur. Jakarta: Obor, Jl. Gunung Sahari. KWI. (1996:223). Iman Katolik. Yogyakarta: Kanisius.

Lane, Toni. Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani, Jakarta: BPK Gunung Mulia,1996.

Lohse, Bernhard. Pengantar Sejarah Dokma, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998.

Maria Handoko, Petrus. Santa Perawan Maria: Bunda Allah Dalam Misteri Kristus dan Gereja, Cet 1, Malang: Dioma, 2006.

Martasudjita, Liturgi, Yogyakarta: Kanisius,2011

Paulus IV. (2008) Marialis Cultus. (R.P.Piet Go, O.Carm). Jakarta: Dokpen KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 1974).

Pranatasaputra, Devosi Maria, Yogyakarta:Kanisius, 2001

Rukiyanto,B.A.”Katekese di Tengah Arus Globalisasi” Dalam Pewartaan di Zaman Global. Ed. B.A.Rukiyanto,SJ; hlm:57-90.

Yogyakarta:Kanisius,2012

Kokojost, http://romojost.blogspot.com/2013/08/seni-dalam-gereja.html, Akses pada, 23 Juni 2018).

Konsili Vatikan II. (1993). Dokumen Konsili Vatikan II (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor. Dokumen asli diterbitkan tahun 1966).

SarapanPagi, http://www.sarapanpagi.org/patung-dalam-gereja-katolik- vt3085.html. Akses pada, 11 Juni 2018

Sabato, Salvatore. Inilah Ibuku: Sebuah Ringkasan Mariologi, Yogyakarta: Kanisius, 2006.

Sumarno Ds., M. Program Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama Katolik (PPL PAK Paroki). Diktat Mata Kuliah PPL PAK Paroki untuk semester VI, 2016

Surip, Stanislaus. Perempuan itu Maria?, Yogyakarta: Kanisius, 2007 Widyamartaya, A. Salam Maria Mempelai Allah Roh Kudus: Mengikuti Jejak Maria yang Penuh Rahmat, Cet 6, Yogyakarta:

Kanisius, 2000.

Yohanes Paulus II. (2011) Rosarium Virginis Mariae (Rosario Perawan Maria), (Ernest Mariyanto-Komisi Liturgi KWI), Jakarta: Dokpen KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 2002).

(1) LAMPIRAN 1

Lagu Pembuka: MENGASIH MARIA

1. Mengasih Maria, kerinduanku, Menjadi Abdinya, cita hidupku Ya Bunda surgawi, sambut baktiku

Kini ku haturkan doa pada MU

2. Maria pemurah, Ratu surgawi Engkaulah Bundaku, aku anakmu

Janganlah biarkan, apapun juga Memisahkan kita kini dan kelak

3. Ratu yang perkasa, dengar doaku Dampingilah aku, di medan hidup

Ulurkan tanganMu, bila ku jatuh Dan hantarkan aku kedalam surga

(2) LAMPIRAN 2

Lukas 1:26-38

Pemberitahuan tentang kelahiran Yesus

1:26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel h pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, i 1:27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf j dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. 1:28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai 1 , Tuhan menyertai engkau." 1:29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. 1:30 Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, k hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. l 1:31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. m 1:32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. n Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, o bapa leluhur-Nya, 1:33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya p tidak akan berkesudahan. q " 1:34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" 1:35 Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus 2 akan turun atasmu r dan kuasa Allah Yang Mahatinggi s akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, t Anak Allah. u 1:36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki v pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. 1:37 Sebab bagi Allah w tidak ada yang mustahil." 1:38 Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu 3 ." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

(3) LAMPIRAN 3

JANGAN TAKUT, PERCAYALAH PADA-NYA

Jangan Takut”, dan “Ingatlah, Aku menyertaiMu sampai akhir jaman” adalah dua kalimat yang sangat “istimewa” dalam perjalanan hidup orang berdosa ini. ketika segalanya menjadi tidak menentu dan ketakutan muncul, kedua kalimat ini yang menjadi penghiburan karena disana ada janji penyertaanNya yang sangat menakjubkan. Kedua kalimat ini yang juga sering saya bagikan mereka yang mengalami “berbagai kegelapan” dalam menjalani hdiup ini.

Tadi malam jam 12.04 ada telp dari teman yang menceritakan banyak sekali hal yang tidak nyaman dalam dirinya karena “kemiskianan” yang sedang dialami dan penolakan keluarga pada dirinya karena kemiskinan ini dan pas jam 03…, ada pesan yang masuk dalam pijetan saya dari seorang teman lain dengan bunyi,” Sakit hati…keluarga saya sendiri nolak secara halus, gara-gara sakit…, makanya mending mati di…aja”. Setelah membaca pesan dari teman ini, saya merinding dan tidak bisa memejamkan mata lagi bahkan mata saya meneteskan air tanpa saya sadari. Hanya satu kalimat keluar dari mulut saya,” Tuhan tidak menolakmu teman”.

Pikiran saya terus tertuju pada dua teman yang sedang mengalami “masa kegelapan” karena penolakan ini, satu orang karena “kemiskinan”, yang kedua karena,”sakit”. Sungguh dalam “kegelapan” orang tidak memperoleh terang tetapi malam “kejatuhan”, dan saya tahu kedua teman ini juga tidak mau mengalami “kebangkrutan” dan “penyakit” dalam hidup mereka ini. Mereka tetap ingin sama dengan kebanyakan orang, tetapi “nasib”, atau entah “takdir” yang dipandang “tidak baik” sedang menimpa mereka sehingga mereka mengalami hal tersebut.

Orang-orang “terdekat” yaitu kelurga yang diharapkan mau “memahami” atau “menerima” mereka ternyata malam menjadi orang “pertama” yang menolak mereka. Teman ini tidak merasa “ingin dibantu” hanya diterima, tetapi yang dieproleh malah jauh dari apa yang diharapkan.

Memang orang terdekatlah yang biasanya mengerti keadaan mereka dan mereka pula yang “kadang” pertama menolak keberadaan mereka. Orang terdekat ini menjadi takut sengan keberadaan mereka yang mungkin diangap akan “merepotkan” bahkan “menulari” akan apa yang sedang kedua orang ini alami.

(4)

Saya jelas sebagai orang jauh yang menerima kabar ini tidak bisa berbuat banyak kecuali mendengarkan dan menjadi tempat mereka mencurahkan “kekecewaan” dan “kekesalan” dari apa yang telah mereka alami dan hanya dengan kedua kalimat diatas yang menjadi senjata saya untuk menguatkan mereka, ditambah kalimat ini,“kalau semua orang telah menolah kamu, masih ada Tuhan dan saya yang siap menerimamu dalam keadaan apapun”. Dan kedua teman ini menjawab dengan kalimat yang hampir mirip,” apakah br tidak keberatan berteman dengan saya yang sedang mengalami…..ini”. “Tidak”, jawab saya. Tambah saya,” saya pernah mengalami apa yang sampeyan alami yaitu ditolak dan dibuang dan ini menyakitkan tetapi percayalah dan jangan takut karena Allah ada bersama denganmu kalau kau mau mempercayakan diri padaNya”.

“RencanaNya selalu ajaib dan indah untuk kita walaupun terasa berat awalnya”, tambah saya.

Penolakan selalu tidak mengenakkan. Jika orang terdekat telah menolak, bagaimana dengan orang lain????

Jika orang lain juga menolak maka kemana orang ini mencari tempat berteduh???? Hanya kepada Allah yang paling tepat dalam menghadapi permasalahan ini. Saya sebagai teman yang “terbatas” dalam banyak hal tentu hanya bisa membantu semampu saya dan kalau bantuan dalam wujud “duniawi” juga pasti hanya semampu saya dan inipun pasti juga dari tangan orang lain yang menitipkan kebaikannya untuk orang lain melalui saya TAPI yang pasti saya ingin seperti DIA yaitu tidak menolak apapun keberadaan kedua teman ini.

Saat-saat “berat” bersama mereka tentu akan menjadi saat yang terindah dalam hidup karena disana ada perjuangan dan kepercayaan akan penyertaan dan kebaikan Tuhan. Ia yang adalah Tuhan dan yang telah menyatakan “penyertaanNya”, tentu bukan hanya slogan kosong belaka dan Ia pasti akan menyertainya melalui caranya yang ajaib. Yang pasti akan ada jalan dari setiap kesulitan dalam kegelapan hidup ini untuk mencapi terang yaitu Tuhan sendiri.

Janji penyertaanNya,” Aku menyertaimu sampai akhir jaman”, adalah kalimat yang tidak diwakilkan tetapi Ia sendiri yang mengungkapkan dan Ia sendiri yang akan campur tangan dalam penyertaan Ini. PenyertaanNya tidak akan “diwakilkan” tetapi Dia sendiri yang akan bertindak pada pemenuhan janji ini.

(5)

Maka dalam setiap menghadapi masa “kegelapan” dan “kekalutan” dalam hidup mengingat bahwa Ia sungguh ada untuk kita adalah jalan terbaik dalam menghadapi kegelapan hidup. “Jangan takut, Aku menyertaimu sampai akhir jaman”, sungguh Ia ada dan akan selalu menerima, menjaga, memberi, membimbing, menuntun dan mencukupi hidup kita yang mau mempercayakan diri padaNya”.

Sungguh dalam saat yang kritis Ia ada untuk kita dan Ia telah mengalaminya lebih dahulu sebelum kita, tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Saat ditolak orang, ingatlah waktu bayi Yesus ditolak hingga lahir di kandang hina. Saat mengalami cobaan, ingatlah Yesus dicobai oleh iblis tetapi Ia tetap kuat sampai menghempaskan setan dari hadapanNya.

Saat merasa mengapa hidup harus terus berusaha, ingatlah Yesus selalu pergi kemana saja untuk mewartakan kebaikan Allah.

Saat hidup merasa dikhianati, ingatlah Yesus pernah dikhianati oleh muridNya.

Saat sakit dan menderita, lihatlah Yesus dicambuk dengan parahnya sampai tubuhNya dipenuhi dengan luka.

Saat sulit memaafkan, ingatlah Yesus yang memaafkan Petrus yang menyangkalNya. Saat merasa capek, lelah, bayangkan betapa capeknya Yesus memikul salib yang berat. Saat hidup ditinggalkan orang yang dicintai, Ingatlah Yesus yang pernah ditinggalkan oleh Bapa waktu Ia disalibkan.

Saat menangis dan kesedihan melanda, sungguh Yesus hadir mendampingi hidup Sampeyan.

Saat ini Yesus ada didepan pintu hati sampeyan.

(6) LAMPIRAN 4

NDHEREK DEWI MARIYAH do=bes 4/4 Khidmat Pepudyan (Kidung Adi No.440) | Arsm : Paul Widyawan

Ndherek Dewi Maria temtu 'geng kang manah. Boten yen kuwatosa Ibu njangkung tansah. Kanjeng Ratu ing swarga amba sumarah samya. Sang Dewi, Sang Dewi, mangestonana. (2x)

Nadyan manah getera dipun godha setan. Nanging batos engetnya wonten pitulungan. Wit sang Putri Maria mangsa tega anilar. Sang Dewi, Sang Dewi, mangestonana. (2x)

Menggah saking apesnya ngantos kelu setan. Boten yen ta ngantosa klantur babar pisan. Ugeripun nyenyuwun Ibu tansah tetulung. Sang Dewi, Sang Dewi, mangestonana. (2x)