• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

3. Berbagai Macam Strategi Koping

Aldwin dan Revenson (1987 : 340-341) mengemukakan tentang berbagai macam dari strategi koping yang merupakan pengembangan teori dari Folkman dan Lazarus. Pada awalnya mereka menemukan bahwa ada bermacam-macam situasi yang berpotensi untuk menimbulkan stres misalnya dalam masalah keuangan, kesehatan, hubungan interpersonal dan dalam pekerjaan sehari-hari. Cara-cara yang dipakai oleh subjek penelitian dalam menghadapi berbagai permasalahan pada kehidupan sehari-hari

mereka itu kemudian diukur melalui Ways of Coping Scale yang terdiri dari 70 item. Hasil yang diperoleh dalam penelitian yang mereka lakukan ini menghasilkan enam sampai sembilan strategi yang selanjutnya dikelompokkan ke dalam tema yang sama maka didapatkan delapan strategi yang terbagi menjadi dua kategori utama sesuai dengan fungsi

utama dari strategi koping yaitu problem-focused coping (PFC) dan

emotion-focused coping (EFC). Delapan strategi koping yang terungkap

dalam penelitian mereka kemudian diidentifikasi dan diperoleh hasil yang terdiri dari 3 strategi termasuk pada PFC dan 4 strategi termasuk ke dalam EFC sedangkan 1 strategi termasuk ke dalam kedua fungsi utama dari strategi koping baik PFC maupun EFC.

Strategi koping yang termasuk di dalam problem-focused coping

(PFC) itu meliputi :

a. Cautiousness atau kehati-hatian yaitu strategi yang mencoba menahan tindakan ketika kerugian/sisi negatifnya dirasakan lebih besar dari nilai positifnya. Usaha yang dilakukan adalah berpikir dan mempertimbangkan beberapa alternatif pemecahan masalah yang tersedia, meminta pendapat orang lain, bersikap hati-hati dalam memutuskan masalah dan sebelum mengambil tindakan serta mengevaluasi strategi-strategi yang sudah pernah dilakukan sebelumnya.

b. Instrumental Action atau aksi instrumental adalah bentuk strategi yang membuat perencanaan penyelesaian masalah secara logis. Usaha yang

dilakukan adalah menyusun langkah-langkah yang akan dilakukan dan melakukan tindakan yang mengarah pada penyelesaian masalah secara langsung. Strategi ini memandang bahwa individu telah mengetahui apa yang harus dilakukannya untuk mengatasi masalah yang ada karena ia memiliki pengalaman di masa lalu ketika dihadapkan pada suatu masalah.

c. Negotiation atau negosiasi adalah bentuk strategi yang mencoba

menyelesaikan masalah dengan cara mengarahkan usahanya pada orang lain dalam situasi masalah yang ada. Bentuk dari negosiasi ini antara lain mengekspresikan kemarahan pada orang yang tepat, berusaha untuk mengubah pikiran atau pandangan seseorang, mengungkapkan keberatan atau berdebat sehingga memperoleh sesuatu yang positif yang bisa dirasakannya dalam situasi yang sedang dihadapi.

Strategi koping yang termasuk di dalam emotion-focused coping

(PFC) terdiri dari :

a. Escapism atau pelarian dari masalah adalah bentuk strategi yang

berusaha untuk menghindari masalah atau melakukan pelarian dengan cara berkhayal atau membayangkan kalau seandainya dia berada pada situasi, waktu atau tempat lain yang menyenangkan dan lebih baik dari yang sedang dialami, membayangkan tentang peristiwa atau hasil yang dirasakan bisa menyenangkan dirinya. Bentuk yang ada antara lain dengan sikap menghindar dari orang lain, makan, tidur yang

berlebihan, minum-minuman/alkohol, merokok atau memakai obat-obatan.

b. Minimization atau memperkecil/pengurangan beban masalah adalah

bentuk strategi yang menganggap jika masalah itu tidak ada. Individu itu mencoba menghadapi masalahnya dengan menolak atau tidak terlalu berat dalam memikirkan masalah yang ada (meminimalkan pikiran) dan menganggap seolah-olah dia tidak mengalami masalah apapun. Bentuk usaha yang ada meliputi tidak ingin berpikir terlalu banyak dan mencoba untuk melupakannya. Strategi ini berbeda dengan penyangkalan pada ego defencemechanism karena strategi ini

tidak membawa akibat buruk. Pada ego defence mechanism ada

ancaman, ditindas/ditekan tetapi pada strategi ini meliputi usaha-usaha yang disadari/disengaja, menggambarkan/mencerminkan suatu sikap yang tenang dan pandai mengendalikan nafsu, mencoba menyimpan perasaannya sendiri, mencoba tabah ke arah hidup, berusaha untuk menerima dan melihat berbagai hal dengan jelas, percaya bahwa waktu akan memberikan jawaban karena merasa tidak ada yang bisa dilakukan lagi sehingga individu berusaha membuat mudah situasi yang sedang dihadapinya.

c. Self blame atau menyalahkan diri sendiri adalah bentuk strategi yang bersifat pasif yang lebih banyak mengarahkan pada diri sendiri/ke dalam batin daripada usaha untuk keluar dari masalah yang ada. Bentuk yang ada antara lain menyalahkan dan menghukum diri sendiri,

mengkritik diri sendiri, menyesali apa yang sudah terjadi dan menganggap bahwa masalah yang ada sebagai akibat dari kebodohannya/kesalahannya sendiri.

d. Seeking meaning atau pencarian makna adalah bentuk strategi yang

mencoba mencari maksud/arti dari peristiwa atau kejadian yang dialami sebagai cara untuk mengatasi masalah sehingga dapat melihat apa arti penting dari semua kejadian yang menimpa dirinya dan hidupnya. Strategi ini juga mencoba melihat segi-segi yang penting dalam kehidupan, mencoba untuk menemukan jawaban masalah melalui kepercayaan yang dianutnya misalnya dengan berdoa, berusaha tumbuh dan berubah menjadi orang yang lebih baik sebagai pemahamannya pada pengalaman yang penuh dengan tekanan.

Strategi yang terakhir yang termasuk ke dalam PFC maupun EFC yaitu social support atau dukungan sosial. Strategi ini merupakan usaha individu untuk mencari dukungan yang meliputi usaha untuk memperoleh informasi, nasehat atau dukungan emosional dari orang lain. Bentuk yang ada seperti bertemu dengan seseorang untuk menceritakan perasaannya, memperoleh informasi yang lebih banyak bahkan untuk bisa mendapatkan solusi dari masalah yang sedang dihadapinya. Individu juga meminta nasehat dari orang terdekat atau yang dipercayainya, mendapatkan pengertian atau pemahaman dan mencoba membuka dirinya sehingga memperoleh simpati dari orang lain.

Carver, Scheier dan Weintraub (dalam Taylor, 1999 : 4)) mengajukan suatu cara pengukuran terhadap strategi koping yaitu skala

The COPE, yang terdiri dari 60 item pengukuran mencakup 15 faktor yang merefleksikan strategi active coping versus avoidant coping. Kelimabelas jenis strategi tersebut adalah :

a. Active coping (koping aktif); mengambil tindakan atau melakukan

upaya untuk menghilangkan atau mengelakkan stressor.

b. Planning (perencanaan); memikirkan cara untuk mengatasi stressor,

dan merencanakan tindakan koping aktif yang akan diambil.

c. Seeking Instrumental Social Support (mencari bantuan dukungan

sosial); mencari pertolongan/bantuan, informasi atau saran dari orang lain mengenai apa yang harus dilakukan.

d. Seeking Emotional Social Support (mencari dukungan emosional);

mencari simpati, pengertian atau dukungan emosional dari seseorang tentang apa yang sedang dirasakan.

e. Suppression of Competing Activities (menekan aktivitas pesaing);

mengurangi perhatian dari aktivitas lain sehingga menyebabkan seseorang dapat lebih berkonsentrasi dalam mengatasi stressor.

f. Religion (agama); meningkatkan keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan agama.

g. Positive Reinterpretation and Growth (melakukan interpretasi ulang

berkembang dari kondisi tersebut atau memandang situasi tersebut dengan cara yang lebih positif.

h. Restraint Coping (pengekangan); melakukan koping secara pasif

dengan menahan suatu upaya koping sampai upaya tersebut dapat digunakan.

i. Resignation / Acceptance (pasrah/menerima keadaan); menerima

kenyataan bahwa kejadian penyebab stres memang telah terjadi dan riil.

j. Focus on and Venting of Emotions (lebih fokus dan menyalurkan

emosi); meningkatkan kesadaran akan adanya tekanan emosional

(emotional distress) dan secara bersamaan melakukan upaya

menyalurkan atau melampiaskan perasaan-perasaan tersebut.

k. Denial (penyangkalan); suatu upaya untuk meniadakan realitas dari

kejadian penyebab stres.

l. Mental disengagement (pelepasan secara mental); pelepasan psikologis dari suatu tujuan yang terganggu oleh stressor melalui melamun/mengkhayal, tidur atau pengalihan (self-distraction).

m. Behavioral Disengagement (pelepasan dalam perilaku); menyerah atau menghentikan upaya pencapaian suatu tujuan yang terganggu/terhalangi oleh stressor.

n. Alcohol / Drug Use (penggunaan alkohol atau obat-obatan); beralih

pada penggunaan alkohol atau obat-obatan lain sebagai cara melepaskan diri dari stressor.

o. Humor; membuat stressor sebagai gurauan/lelucon.

Berdasarkan penjelasan tentang berbagai macam cara atau strategi koping di atas maka strategi koping menurut Aldwin dan Revenson (1987 : 340-341) akan digunakan sebagai acuan dalam penelitian ini yaitu fungsi

PFC (problem-focused coping) terdiri dari strategi cautiousness,

instrumental action dan negotiation dan pada fungsi EFC (

emotion-focused coping) terdiri dari escapism, minimization, self-blame dan

seeking meaning sedangkan untuk strategi social support, penelitian ini

akan mengacu pada skala The COPE dari Carver, Scheier dan Weintraub

(dalam Taylor, 1999 : 4)) bahwa social support dibedakan menjadi dua

yaitu seeking instrumental social support dan seeking emotional social support.

Dokumen terkait