BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
2. Hasil Penelitian Subjek 2
Pada saat penelitian, subjek berusia 23 tahun dan memeluk agama Kristen. Subjek merupakan anak ke 4 dari lima bersaudara, 3 perempuan dan 2 laki-laki, yang dibesarkan dalam sebuah keluarga yang cukup harmonis dengan keadaan ekonomi keluarga yang lebih dari cukup. Ayah subjek saat ini sudah pensiun dari salah satu instansi pemerintahan. Ibu kandung subjek seorang ibu rumah tangga, sudah meninggal dunia, yang ketika masih hidup beliau adalah seorang instruktur senam. Setelah 1 tahun ibunya tiada, ayah subjek menikah lagi.
“waktu mamanya masih hidup itu, mamanya sama papanya itu pokoknya rukun gitu lho, maksudnya rukun itu dalam arti mereka itu saling ya bahagia gitu ; terus anak-anaknya itu diperhatiin terus sama mama papanya itu” (Lamp. B, no.1227 ; 1229).
Dari sejak kecil subjek kurang begitu dekat baik dengan ayahnya maupun ibunya karena sering berbeda pendapat dengan mereka. Karena sakit, subjek merasa dekat dengan ibunya satu tahun sebelum beliau dipanggil Tuhan. Sepeninggal ibu, subjek justru bisa merasakan kedekatannya dengan ayahnya namun setelah ayah menikah lagi hubungan keduanya dirasakan subjek menjauh lagi. Adanya rasa kecewa atas berkurangnya perhatian ayah setelah beliau menikah lagi cukup dirasakan subjek.
“aku deket bapakku sejak ibuku meninggal, hanya bentar ; awalnya nggak setuju bapakku menikah terus akhirnya pikirku kan ah…kasihan dia udah tua, kesepian gitu ; setuju tapi kok jalannya, selama proses pernikahannya hampir dua tahun ini, aku kok merasa tercuekkin gitu lho, na…iya kan, ia tahu anaknya ini sakit
gitu ya ; kok perhatiannya yang dulu ; setelah ibuku meninggal, gedhe sama aku, sekarang udah nggak lagi, nah itu kadang-kadang aku kok iri gitu lho, sebel juga, irinya kok papaku ini nggak tahu po aku sakit gitu lho ; kadang itu ah…pinginnya bapakku tu deket lagi, ah nggak mungkin…ya datang dan pergilah, gitu aja, kedekatanku ndak, sekarang udah nggak kayak dulu lah, dah jauh” (Lamp. B, no.741 ; 747 ; 749 ; 751 ; 753).
Kedekatan secara emosional subjek dengan kakak-kakaknya terutama yang sulung (perempuan) terjalin setelah ibunya tiada. Dengan kakaknya ini subjek sering berbagi beban dimana sebelum ibu meninggal subjek kurang begitu dekat. Biaya hidup maupun pengobatan saat ini sebagian besar berasal dari kakaknya sehingga subjek merasa telah membebani mereka. Akan tetapi justru karena hal itulah yang membuat hubungan subjek dengan saudara-saudaranya menjadi lebih dekat.
“karena harus ngeluarin uang banyak ; iya, dari uluran orang lain kan, dari kakak kakakku, kecuali kalo aku udah punya pekerjaan dibantu orang lain, mungkin aku masih nggak, nggak begitu masalah tapi aku 100 % masih, mungkin seratus seratus persen kali, semuanya bukan dari diriku” (Lamp. B, no.881 ; 883).
“tapi semenjak mamanya meninggal ; itu juga mungkin juga kan dari situ juga kan kayaknya dia itu kekurangan kasih sayang gitu, tapi lama-lama ya udah, akhirnya terbiasa, terus sama kakak-kakaknya yang cewek cowok itu baik semua, merhatikan dia”
(Lamp. B, no.1229 ; 1231).
Pada dasarnya subjek adalah orang yang ekstrovert. Ia cukup supel dalam bersosialisasi meskipun ketika marah subjek seringkali
meledak-ledak. Sikapnya yang sering ceplas-ceplos dan cukup terbuka dengan
orang lain terkadang mengganggu relasinya dengan teman-temannya karena subjek terkesan seenaknya saja jika bicara atau bertindak tanpa memikirkan perasaan orang lain. Sebelum sakit, dalam hal fisik subjek
merasa lebih dibandingkan dengan orang lain sehingga ada kesan sombong dari teman-temannya.
“sebenarnya awalnya, sebenarnya orangnya dia dulu itu sifatnya beda, jadi aku mandang dia itu juga orangnya itu galak dan cuek banget gitu, nggak peduli gitu sama orang di sekeliling dia gitu, dia itu nggak peduli banget, jadi aku tu merasa, wah...ini kok, orang ini bisa nggak sih punya temen gitu kan, karena dia nggak
peduli suka emosian juga gitu, mudah marah gitu” (Lamp. B,
no.1235).
Sejak subjek mengidap SLE pada tahun 1999 ketika semester 5 kuliahnya maka perubahan hidup subjek alami. Penyakit lupus itu pula yang mengharuskannya mengambil cuti kuliah selama dua tahun. Pada saat penelitian subjek tengah menempuh pendidikan pada salah satu universitas swasta di Yogyakarta dan sedang mengerjakan skripsi. Keterbatasan subjek karena sakit tidak dijadikan sebagai hambatan yang berarti bagi subjek dalam melanjutkan kuliahnya.
“aku sakit itu tahun e…bulan Agustus tahun 99, itu mulainya kupu-kupu, bentuk kupu-kupu merah di wajah ; menyebar dari muka, leher, turun ke dada, sampai perut, trus paha sampe seluruh badan ; tahun 2000 baru tahu lupus ; bengkak trus ya itu ber…apa sih bernanah-nanah sampe di mana-mana dari tangan sampe hampir semua” (Lamp. B, no.2 ; 4 ; 18 ; 28).
Penyakit lupus yang menyerang subjek merupakan kondisi berkepanjangan dengan proses dan waktu cukup lama. Sebelum diagnosa ditegakkan pada dirinya, subjek sudah mengalami guncangan emosional yang cukup kuat. Kondisi ini disebabkan oleh serangan lupus pada diri subjek lebih pada bagian kulit dan cukup parah sebelum mengetahui dirinya mengidap SLE. Sulitnya menegakkan diagnosa lupus merupakan kondisi yang memberikan tekanan pada diri subjek. Berbagai usaha, terapi
pengobatan maupun mendatangi beberapa dokter dirasakan cukup melelahkan. Adanya rasa putus asa dan kebingungan pada apa yang dialaminya. Keputusasaan subjek juga sempat membawanya pada tindakan yang justru merugikan bagi kondisi kesehatannya.
“sampe 6 bulan juga nggak ada perubahan, tetep aja, malah sakit, ho oh…tetep aja gitu, trus pindah lagi dokter, jadi capek gonta-ganti kan ; dari 2001 sampe 2002 itu sudah berhenti dokter malahan” (Lamp. B, no.18 ; 20).
“kan sakitnya itu kan badan gendut, badannya kan gendut tuh…gendut banget ; lha penyakitnya itu dah kayak gitu, dia itu sempet ngrokok, jadi kan itu dengan sempet ngrokok tuk ngurusin badannya, itu stres gitu kata dia” (Lamp. B, no. 1271 ; 1273). Pada saat diagnosa ditegakkan rasa shock subjek cukup terlihat. Shock yang dialami lebih pada keterasingan tentang penyakit yang diderita. Kondisi itu terjadi karena kurangnya informasi dan pengetahuan subjek tentang apa itu penyakit lupus. Ketidaktahuan tentang penyakit lupus justru membawa subjek melakukan tindakan yang justru semakin memperparah kondisinya.
“trus dari baca akhirnya tahu kalau nggak boleh kena matahari, nggak boleh olahraga yang…; olahraga yang capek capek itu, dulu waktu pas aku yang sakit itu, tahunya mamaku aku sakit itu aku kan dibilang kan kurang olahraga, aku disuruh lari aduh…ngos ngos-an tapi karena nggak tahu kan ; aku lari setiap pagi tuh, tapi habis itu lama-lama kok nggak kuat, kan langsung sesak napas tho ; malah berjemur, tambah parah kan ; yang sebenere nggak boleh tapi dilakukan gitu” (Lamp. B, no.74 ; 76 ; 80 ; 90 ; 92).
Subjek cukup memiliki keinginan yang kuat untuk mengetahui apa itu penyakit lupus. Keinginan yang mendorong subjek secara aktif dan mandiri mencari tahu seluk beluk tentang penyakit lupus. Sinkronisasi
antara kenyataan sakit yang dialami subjek dengan informasi yang didapatkan justru membawa subjek pada kondisi psikologis yang lemah. Kesedihan, ketakutan dan rasa putus asa dengan hidupnya dialami sebagai ketidaksiapan subjek menerima informasi yang kurang menyenangkan tentang penyakit lupus.
“jadinya ya tambah kaget trus tambah sedih juga ya ; trus fotonya di internet itu, foto-fotonya diliatin, gejala, efek sampingnya apa dan yang paling…; paling…sedih, sedih banget itu, dibilang itu sakit seumur hidup, wah itu, aduh…; obatnya seumur hidup,
obatnya diminum seumur hidup itu yang paling sedih” (Lamp. B,
no.42 ; 44 ; 46 ; 48).
Rasa shock menerima informasi tentang lupus menimbulkan suatu kemarahan baik pada dirinya maupun pada hal di luar diri subjek seperti pada pacar dan Tuhan. Adanya perasaan bahwa sakitnya adalah hukuman atas sikap dan tindakan di masa lalu yang dirasakan subjek kurang baik.
“tapi yang dulu dulu selama 4 tahun yang kemarin itu aku merasa kayak apa sedih gitu lho, kayak hukuman gitu lho mungkin aku punya dosa, aku merasa aku dihukum dengan sakit yang ada di aku“ (Lamp. B, no.402).
Penyakit lupus yang menyerang subjek lebih pada bagian kulit dan itu cukup memberikan perbedaan dirinya dengan orang lain. Pada awalnya hal itu menjadi masalah bagi subjek terutama yang berhubungan dengan sosialisasinya dengan orang lain. Kondisi fisik terutama berat badan yang naik secara drastis memberikan perubahan yang cukup mencolok pada diri subjek karena penyakit lupus.
“malu ketemu orang karena, karena kulitnya itu kan malu ketemu orang, terus e…faktor apa namanya, temen juga, takutnya temennya lari trus menghindar gitu, tapi yang takutnya itu temen-temennya itu pada menghindar dari dia gitu ; ya sebelum sakit itu
kan dia seksi lah, dari badan, muka, ya fisik gitulah, terus pengaruh obat jadi gemuk kan, nah itu juga yang bikin membuat dia juga, bener bener itu minder” (Lamp. B, no.1065 ; 1073). Ketidakberdayaan psikologis menghadapi kenyataan hidup yang kurang menyenangkan, yang tidak pernah diharapkan bahkan tidak pernah terpikirkan oleh subjek ini membawanya pada titik nadir yaitu keinginan untuk mati. Adanya pemikiran tentang kematian merupakan implikasi yang wajar atas beban sakitnya saat itu. Tekanan itu semakin dirasakan ketika ibu subjek meninggal dunia saat subjek dalam kondisi sakit yang cukup parah. Peristiwa meninggalnya mama sebagai figur yang penting dalam hidupnya cukup menjadi alasan yang logis semakin terpuruknya kondisi psikis subjek.
“nah…apalagi sejak mamaku meninggal, aku tu udah yang semakin stres, semakin apa ya namanya, tambah pikiran, tambah berat di perasaan juga, ya campur campur gitu, tambah masalah”
(Lamp. B, no.142).
“jadi kan pernah, pernah cerita, kayaknya tu sampe dia pernah tu kayaknya dia putus asa gitu lho, e…kok kenapa sih aku sakit kayak gini, gitu pernah, pernah dia keluhannya satu kata, kok Tuhan nggak ambil ini ku gitu lho, nyawaku, masak aku tu kok bisa sampe sakit kayak gini” (Lamp. B, no.1121).
Motivasi subjek untuk sembuh pun muncul ketika pengobatan dan beberapa usaha yang dilakukan membawa perubahan yang cukup baik. Perkembangan dan perbaikan kondisi sakit pun dialami subjek. Hal itu membuat subjek lebih siap menerima kenyataan hidup. Tumbuhnya harapan dan semangat yang baru untuk melanjutkan hidup terlihat nyata pada usaha subjek dalam menjalani pengobatan dan melanjutkan kuliahnya. Di sisi lain, subjek memiliki perasaan telah membebani
keluarga dan orang terdekat dengan sakitnya. Akan tetapi hal itu justru dijadikan sebagai sugesti positif yang memacu semangat subjek untuk bisa sembuh dan hidup mandiri.
“terus makane udah mulai kelihatan kulit, aku tu kayak aduh kok pingin apa ya, buat sesuatu gitu lho, karena selama ini dua tahun terakhir ini, aku nggak nggak dapat apa-apa gitu lho, ilmu nggak dapat, pokoknya bawaannya itu susah terus, malah tambah stres kan ; bete abis tho jadi malah tambah stress” (Lamp. B, no.180 ; 184).
Kondisi tubuh subjek juga cukup rentan dengan gangguan kesehatan sehingga mudah drop. Perhatian ekstra pada kesehatan subjek ini cukup menguras baik psikis maupun fisik. Untuk itu, keberadaan dan dukungan selama subjek sakit berasal dari keluarga dan pacar sebagai orang terdekatnya memiliki peran yang penting. Selain itu teman karib subjek sebagai orang terdekat selama di Jogja ini juga cukup memiliki andil yang besar dalam memberikan support bagi subjek. Subjek memiliki sahabat yang sangat akrab bernama Mira yang cukup memahami kondisi subjek dari sebelum sakit sampai sekarang ini.
“yang kita nyaman itu nggak semua, hanya pacarku aja gitu lho, terus Mira teman deketku juga itu, mereka yang tahu banget gitu ; ya mereka berdua yang tahu jatuh bangunnya aku kayak apa”
(Lamp. B, no.580 ; 807).
“mikir berat berat gitu karena itu nanti bisa ngefek ke penyakitku, jadi e…aku kalo aku punya masalah aku berusaha untuk santai, jadi itu dari dianya itu ya kadang kadang suka nyari teman, jalan jalan gitu, ngajak cerita, ya selama ini sih seringnya sama aku”
(Lamp.B, no.1339).
Peristiwa sakit yang dialami subjek membawa pada sebuah kesadaran tentang kebaikan yang diperoleh meskipun kondisi sakit itu
bukanlah hal yang menyenangkan. Subjek berusaha mengambil hikmah atas apa yang menimpanya selama ini. Hikmah itu pula yang mengantarkannya pada sikap hidup yang lebih positif. Menderita sakit bukan menjadi sesuatu yang harus dtangisi tetapi lebih pada usaha subjek untuk mensyukuri hidupnya. Hal yang cukup nampak adalah sisi religi yang kualitasnya lebih baik jika dibandingkan dengan ketika sebelum subjek sakit.
“Ya kembali ke Atas lah...banyak salah yang buat aku sadar,
banyak hikmahnya lah” (Lamp.B, no.596).
“Ya setelah sakit itu dia, lebih deket sama Tuhan dan rajin ke gereja gitu, dan malah dia itu yang ngingetin, ngingetin orang lain gitu, orang-orang di sekeliling dia gitu, eh dah ke gereja belum, dah doa belum gitu” (Lamp.B, no.1261).
Gambar 4. Gambaran Umum Subjek 2 - Lala saat usia 19th
Pada awal sakit
mulai tahun 1999 sampai saat diagnosa usia 18 th – 19 th
Pada saat kondisi memburuk (saat cuti kuliah) Tahun 2000 – 2002
usia 19 - 21 th
Sakit yang diderita tidak jelas
Stres
Hikmah dari sakit Saat Penelitian
Tahun 2004 usia 23 th
Merasa putus asa Shock dengan diagnosa
Bingung dengan kondisi sakit
Merasa tertekan Tidak ada keinginan hidup Munculnya perasaan negatif Kurangnya pengetahuan
dan informasi tentang penyakit lupus Merasa terhukum Marah Menyalahkan diri sendiri Menyalahkan di luar diri subjek (pacar dan Tuhan)
b. Strategi Koping Subjek 1) Pada awal sakit
Pada mulanya strategi ini terlihat pada usaha-usaha yang dilakukan subjek untuk berobat meskipun tidak adanya perbaikan yang berarti. Pada saat diagnosa lupus belum diterima, subjek telah kurang lebih 1 tahun berobat pada beberapa dokter yang memberikan diagnosa yang berlainan. Strategi koping instrumental action juga digunakan subjek ketika ia mulai mencari tahu dengan lebih jelas tentang diagnosa lupus yang diterimanya. Tindakan yang dilakukan ini muncul ketika diagnosa lupus menjadi sesuatu yang asing bagi subjek.
“Majalah, artikel tentang, tentang itu, baca baca internet, buka internet cari tahu tentang lupus, gejala-gejalanya gimana, ternyata semuanya pas bange”, (Lamp. B, no. 38).
Strategi koping seeking instrumental social support nampak
ketika subjek berusaha melibatkan orang lain dalam proses pencarian solusi atas sakitnya. Pencarian bantuan ini lebih pada permintaan saran atas tindakan yang akan diambil subjek dalam mengatasi masalah sakitnya. Figur orang terdekat (pacar dan sahabat) pada awal sakit cukup membantu subjek sebagai tempat dimana subjek mencari bantuan.
“dia sering bilang gitu ya, aduh Mir, aku harus gimana ya, paling nggak biar sakitku tu bisa lah sakitku tu cepet berkurang, gitu, cepet sehat kembali, gitu itu” (Lamp. B, no. 1075).
Pada awal sakit, kondisi fisik merupakan masalah yang cukup menjadi streesor buat pada diri subjek. Hal ini disebabkan oleh perubahan kondisi fisik yang cukup mencolok. Kondisi itu mempengaruhi dalam sosialisasi subjek dengan orang–orang sekitarnya. Strategi koping escapism nampak dalam sosialisasi subjek sehari-hari. Kondisi fisik yang dirasakan subjek sebagai masalah itu cukup mengganggu dalam pergaulan dengan orang lain. Subjek merasa kurang nyaman apabila bertemu dengan orang lain. Subjek menjadi orang yang enggan untuk keluar rumah/kos karena sikapnya cenderung untuk menghindari orang lain. Hal ini merupakan implikasi dari kondisi fisik yang tidak mengenakkan subjek. Kondisi fisik cukup menyita banyak perhatian dan menjadi sumber masalah yang cukup serius. Fisik yang dipandang subjek jauh dari sempurna menjadi hal yang cukup menyiksa.
“ada kadang kalo ini ya, sudah pulang kesini ya, pas pulang ke kost sini, e…palingan langsung biasanya ia nangis ya, tutup pintu, jepret jepret gitu, ya kayak kayak gitu itulah orangnya kan rada rada emosian, mengurung di kamar, terus udah gitu ia nggak mau keluar keluar lagi, nggak mau pergi pergi, dia perginya itu cuman malam hari, dia untuk kalo siang harinya dia nggak mau pergi pergi karena mukanya dia itu kan” (Lamp. B, no. 1093).
Tekanan atas sakitnya sebenarnya berusaha untuk diatasi subjek supaya hal itu tidak menjadi suatu masalah yang mengganggu. Adanya usaha subjek untuk menfokuskan pikiran pada hal lain menjadi bentuk strategi koping minimization. Subjek berusaha untuk
membuat tekanan atas situasi yang ada tidak bertambah berat bagi dirinya.
“Nggak mau mikir itu ya, sesaat sih ya, aku coba nglupain sakit, mikirin yang laen, nggak mau mikir sakit kan, biar nggak sedih, tapi tetep aja nggak bisa lupa, tapi kenyataannya” (Lamp. B, no. 64).
Kondisi yang tidak diinginkan itu juga mempengaruhi sisi psikologis subjek. Subjek merasa jika sakitnya disebabkan oleh tindakan atau sikap yang salah di waktu yang lalu. Strategi koping self blame cukup terlihat dalam hal ini. Penyalahan atas sikap dan tindakan yang berusaha dicari subjek sebagai penyebab sakitnya.
“iya sempet salahin diri, apa aku dulu kurang doa ya”
(Lamp. B, no. 54).
Pencarian dukungan emosional dari orang-orang di sekitar subjek juga nampak saat subjek berusaha untuk berbagi cerita tentang kondisinya. Adanya keinginan dari subjek supaya orang disekitarnya memahami dirinya. Keinginan dimengerti oleh orang lain tentang kondisi fisiknya terutama bagi kulit dan berat badan yang cenderung dipermasalahkan subjek. Pencarian empati dari orang terdekatnya atas kondisi yang dialaminya merupakan strategi koping seeking emotional social support.
“sebenere gini ya, kayak yang dulu itu kami teman-temannya nggak papa tapi dari dianya sendiri, jadi dari dianya sendiri tu takut kalo e…apa namanya kita tu menghindar, padahal kita terima dia apa adanya gitu lho, jadi dia sering ke tempatku sering ngobrol gitu, ya lama lama dan temen-temennya yang lain lama-lama ya udah menyesuaikan gitu, cuman mungkin dari dia sendiri, terlalu ngerasa gimana”
Kondisi fisik merupakan hal yang sensitif bagi subjek terutama saat awal sakit. Subjek merasakan bahwa kondisi fisiknya sebagai hal yang mengganggu dan ia berusaha membuatnya sebagai bahan guyonan. Sikap yang diambil subjek ini merupakan strategi koping humor.
“He eh…iya kan, bener kan, lihat kayak siluman apa gitu, aduh…jadi sedih, huk..huk”(Lamp. B, no. 68).
2) Pada saat kondisi memburuk
Pada saat kondisi sakit bertambah parah, keadaan fisik subjek juga menjadi masalah yang membutuhkan suatu tindakan. Pada waktu itu beberapa usaha dilakukan subjek untuk mengatasinya. Tindakan yang diambil subjek ini sebagai langkah langsung dalam mengatasi masalah yang merupakan strategi koping instrumental action.
“itu kan maksudnya salah satunya merokok itu tadi kan biar kurus, biar langsing terus apa namanya e…ini rambutnya maksudnya rambutnya itu, dia kan sering pergi ke salon juga sih, numbuhin rambut pake creambath gitu, terus minum vitamin, vitamin untuk e…dulu kan kepala sampe alisnya botak kan” (Lamp. B, no. 1325).
Pada saat kondisinya memburuk hal yang cukup mencolok berbeda dari subjek adalah dalam hal penampilan fisik. Adanya keinginan dari subjek supaya orang lain juga mau mengerti dengan kekurangannya terkadang mendapat timbal balik yang tidak seperti harapan subjek. Adanya kalanya subjek justru mendapatkan sikap yang kurang mengenakkan. Sikap yang diterima subjek dari orang yang
melihat fisiknya sebagai ejekan. Mengungkapkan kejengkelan atau rasa marah atas sikap orang itu merupakan strategi koping negotiation.
“dulu ada anak anak kecil itu dikirain gitu, pas aku dulu ke Jakarta pertama kali gitu kan aku lagi sangat parah, seluruh badan, muka ni dah ancur gitu kan, eh…anak anak itu naik sepeda terus ngolok hantu…ada hantu…mereka teriak coba, pas di gang gitu, pinginnya ada batu di dekatku pingin tak lempar rasanya ke muka mereka, ya tapi nggak sih untungnya, ya sedih sih sedih ya, cuman waktu itu untungnya aku itu nggak apa namanya, nggak ada pisau yang tajem dah tak uh…jengkelnya” (Lamp. B, no. 628).
Bertambah parahnya kondisi subjek walaupun sudah banyak pengobatan yang dilakukan membawa subjek pada keputusasaan. Kondisi fisik yaitu bagian kulitnya dan berat badan cenderung dipermasalahkan subjek. Hal itu membuat subjek untuk mencari cara untuk mengatasi apa yang dirasakannya sebagai masalah itu. Adanya strategi koping escapism sempat membuat subjek melakukan tindakan tertentu sebagai implikasi rasa putus asa.
“dulu pernah aku tu karena belum kuliah kan, masih sakit parah-parahnya itu, terus sebel gitu lho sama kondisi aku yang kayak itu, sebel sama badan aku, sakit aku, hidup aku, ya pokoknya bawaanku sebel gitu, sampe aku tu kadang suka ngrokok, gitu tu itu buat pelarian, iya, waktu itu gitu mikirnya” (Lamp.B, no. 765).
Hal yang berusaha diperlihatkan subjek adalah berusaha tidak menjadikan kondisi sakitnya sebagai sesuatu hal yang serius dan