• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Pemetaan Konflik

D.2. Berdasarkan Isu Konflik

Hasil identifikasi dan analisis permasalahan, ketidakcocokan, ketidaksesuaian dan ketidakharmonisan hubungan antar stakeholder yang dikaji dalam pengelolaan SDH di HLGL, menghasilkan isu-isu pokok konflik pengelolaan HLGL. Kondisi tersebut berkaitan dengan variasi kepentingan dan kewajiban masing-masing stakeholder terhadap SDH di HLGL, masalah internal stakeholder serta perbedaan pandangan dan persepsi dalam pengelolaan sehingga akhirnya dapat dikelompokkan menjadi tujuh isu konflik pengelolaan SDH diHLGL. Ketujuh isu konflik tersebut adalah pemanfaatan hasil hutan, pemanfaatan kawasan, perlindungan kawasan, penataan batas kawasan, pemberdayaan masyarakat masyarakat sekitar kawasan, kualitas dan kuantitas SDM dalam stakeholder serta koordinasi antar stakeholder. Keseluruhan gambar pemetaan konflik berdasarkan isu konflik dijabarkan secara grafis mencakup jenis konflik, wujud konflik dan ruang konflik (Gambar 17-23).

Berdasarkan pemetaan konflik yang dilakukan terhadap tujuh isu konflik dalam pengelolaan SDH di HLGL, terdapat 28 kasus konflik dengan dua kasus yang telah diselesaikan melalui negosiasi secara adat. Konflik-konflik tersebut meliputi vertikal maupun horizontal. Dari serangkaian kasus konflik yang terjadi terdapat dua isu konflik yang paling banyak melibatkan aktor konflik. Isu konflik tersebut adalah konflik pemanfaatan hasil hutan dan koordinasi antar stakeholder. Konflik pemanfaatan hasil hutan meliputi seluruh aktor konflik dari keempat kelompok aktor konflik yaitu instansi pemerintah, organisasi non pemerintah, perusahaan swasta maupun masyarakat sekitar kawasan. Hal ini didasarkan pada kepentingan dan bentuk interaksi masing-masing stakeholder yang tinggi terhadap SDH di HLGL dan sekitarnya. Berbeda dengan isu konflik koordinasi antar stakeholder yang aktor konfliknya dari pihak instansi pemerintah, organisasi non pemerintah dan masyarakat sekitar kawasan. Perusahaan swasta dalam isu tersebut tidak mengalami konflik, kemungkinan karena data yang dikumpulkan peneliti kurang mendetail sehingga tidak dapat mengidentifikasi konflik yang terjadi.

Dalam setiap isu konflik terdapat aktor konflik utama yang selalu terlibat dalam konflik, yaitu Dinas Kehutanan Kabupaten Pasir. Dinas Kehutanan Kabupaten Pasir selalu mengalami konflik hampir dengan seluruh stakeholder yang menjadi aktor konflik. Mayoritas wujud konflik antara Dishut dengan stakeholder lainnya adalah konflik tertutup dan mencuat, kecuali dengan masyarakat Desa Rantau Layung dan Dusun Muluy yang telah mencapai konflik terbuka walaupun belum sampai timbul tindakan kekerasan. Bahkan Dishut juga mengalami konflik intern dalam instansi yang timbul akibat oknum yang melakukan penebangan liar dan kurangnya kualitas dan kuantitas SDM yang berdedikasi, konsisten, berakhlak mulia, terampil dan jujur. Aktor konflik yang paling sedikit mengalami kasus konflik adalah Dinas Sosial, UPTD Pengelolaan Hutan Kabupaten Pasir, UPTD Planologi Kehutanan Balikpapan dan PT Rizky Kacida Reana dengan hanya mengalami satu kasus konflik.

Gambar 17. Pemetaan Konflik Berdasarkan Isu Konflik Pemanfaatan Hasil Hutan Kunci:

Garis lurus : Konflik vertikal Garis putus-putus : Konflik data Garis lurus : Konflik horizontal Garis putus-putus : Konflik

kepentingan Garis lurus : Konflik tertutup (latent) Garis putus-putus : Konflik

hubungan antar manusia Garis lurus : Konflik mencuat (emerging) Garis putus-putus : Konflik nilai Garis lurus : Konflik terbuka (manifest) Garis putus-putus : Konflik

struktural Lingkaran : Instansi pemerintah

Lingkaran : Organisasi non pemerintah Lingkaran : Perusahaan swasta

Lingkaran : Masyarakat sekitar kawasan

Bapedalda Dinas Kehutanan Kabupaten Pasir Masyarakat Muluy Masyarakat Rantau Layung PT Kideco Jaya Agung PeMA Paser

D.2. Pemetaan Konflik Berdasar Isu Konflik Pemanfaatan Kawasan Hutan

Gambar 18. Pemetaan Konflik Berdasarkan Isu Konflik Pemanfaatan Kawasan Hutan Kunci:

Garis lurus : Konflik vertikal Garis putus-putus : Konflik data Garis lurus : Konflik horizontal Garis putus-putus : Konflik

kepentingan Garis lurus : Konflik tertutup (latent) Garis putus-putus : Konflik

hubungan antar manusia Garis lurus : Konflik mencuat (emerging) Garis putus-putus : Konflik nilai Garis lurus : Konflik terbuka (manifest) Garis putus-putus : Konflik

struktural Lingkaran : Instansi pemerintah

Lingkaran : Organisasi non pemerintah Lingkaran : Perusahaan swasta

Lingkaran : Masyarakat sekitar kawasan

Dinas Sosial

Dinas Kehutanan Kabupaten Pasir

Masyarakat Muluy

D.3. Pemetaan Konflik Berdasar Isu Konflik Perlindungan Kawasan

Gambar 19. Pemetaan Konflik Berdasarkan Isu Konflik Perlindungan Kawasan Kunci:

Garis lurus : Konflik vertikal Garis putus-putus : Konflik data Garis lurus : Konflik horizontal Garis putus-putus : Konflik

kepentingan Garis lurus : Konflik tertutup (latent) Garis putus-putus : Konflik

hubungan antar manusia Garis lurus : Konflik mencuat (emerging) Garis putus-putus : Konflik nilai Garis lurus : Konflik terbuka (manifest) Garis putus-putus : Konflik

struktural Lingkaran : Instansi pemerintah

Lingkaran : Organisasi non pemerintah Lingkaran : Perusahaan swasta

Lingkaran : Masyarakat sekitar kawasan Dinas Kehutanan

Gambar 20. Pemetaan Konflik Berdasarkan Isu Konflik Penataan Batas Kawasan Kunci:

Garis lurus : Konflik vertikal Garis putus-putus : Konflik data Garis lurus : Konflik horizontal Garis putus-putus : Konflik

kepentingan Garis lurus : Konflik tertutup (latent) Garis putus-putus : Konflik

hubungan antar manusia Garis lurus : Konflik mencuat (emerging) Garis putus-putus : Konflik nilai Garis lurus : Konflik terbuka (manifest) Garis putus-putus : Konflik

struktural Lingkaran : Instansi pemerintah

Lingkaran : Organisasi non pemerintah Lingkaran : Perusahaan swasta

Lingkaran : Masyarakat sekitar kawasan Dinas Kehutanan

Kabupaten Pasir Masyarakat

Rantau Layung UPTD Planologi Kehutanan Balikpapan Masyarakat Muluy

D.3. Pemetaan Konflik Berdasar Isu Konflik Perlindungan Kawasan

Gambar 21. Pemetaan Konflik Berdasarkan Isu Konflik Pemberdayaan Masyarakat Kunci:

Garis lurus : Konflik vertikal Garis putus-putus : Konflik data Garis lurus : Konflik horizontal Garis putus-putus : Konflik

kepentingan Garis lurus : Konflik tertutup (latent) Garis putus-putus : Konflik

hubungan antar manusia Garis lurus : Konflik mencuat (emerging) Garis putus-putus : Konflik nilai Garis lurus : Konflik terbuka (manifest) Garis putus-putus : Konflik

struktural Lingkaran : Instansi pemerintah

Lingkaran : Organisasi non pemerintah Lingkaran : Perusahaan swasta

Lingkaran : Masyarakat sekitar kawasan Masyarakat

Muluy PeMA Paser

Dinas Kehutanan Kabupaten Pasir

PT Rizky Kacida Reana

Gambar 22. Pemetaan Konflik Berdasarkan Isu Konflik Kualitas dan Kuantitas SDM Kunci:

Garis lurus : Konflik vertikal Garis putus-putus : Konflik data Garis lurus : Konflik horizontal Garis putus-putus : Konflik

kepentingan Garis lurus : Konflik tertutup (latent) Garis putus-putus : Konflik

hubungan antar manusia Garis lurus : Konflik mencuat (emerging) Garis putus-putus : Konflik nilai Garis lurus : Konflik terbuka (manifest) Garis putus-putus : Konflik

struktural Lingkaran : Instansi pemerintah

Lingkaran : Organisasi non pemerintah Lingkaran : Perusahaan swasta

Lingkaran : Masyarakat sekitar kawasan

Bapedalda

PeMA Paser PADI Indonesia

Dinas Kehutanan Kabupaten Pasir

Gambar 23. Pemetaan Konflik Berdasarkan Isu Konflik Koordinasi Antar Stakeholder

Kunci:

Garis lurus : Konflik vertikal Garis putus-putus : Konflik data Garis lurus : Konflik horizontal Garis putus-putus : Konflik

kepentingan Garis lurus : Konflik tertutup (latent) Garis putus-putus : Konflik

hubungan antar manusia Garis lurus : Konflik mencuat (emerging) Garis putus-putus : Konflik nilai Garis lurus : Konflik terbuka (manifest) Garis putus-putus : Konflik

struktural Lingkaran : Instansi pemerintah

Lingkaran : Organisasi non pemerintah Lingkaran : Perusahaan swasta

Lingkaran : Masyarakat sekitar kawasan

Masyarakat Muluy Bappeda Bapedalda TBI Indonesia PeMA Paser PADI Indonesia Dinas Kehutanan Kabupaten Pasir Masyarakat Rantau Layung

Mayoritas wujud konflik yang terjadi adalah konflik tertutup (13 kasus dari 28 total kasus konflik). Konflik tertutup dicirikan dengan adanya tekanan-tekanan di dan antar

stakeholder yang tidak tampak, tidak sepenuhnya berkembang dan belum muncul ke

permukaan. Umumnya penyelesaian konflik tertutup dapat melalui komunikasi dengan bersama-sama mencari penyelesaian yang paling tepat. Konflik tertutup banyak terjadi dalam konteks isu konflik koordinasi antar stakeholder yang mayoritas terjadi antara instansi pemerintah dengan organisasi non pemerintah. Untuk wujud konflik terbuka terdapat delapan kasus dan sisanya merupakan konflik mencuat.

Ruang konflik yang banyak dialami oleh kasus konflik pengelolaan SDH di HLGL adalah konflik kepentingan, nilai dan struktural. Mayoritas konflik mempunyai sebab ganda sebagai kombinasi dari masalah antar stakeholder yang mengalami konflik. Kriteria ruang konflik yang terdiri dari lima ruang konflik merupakan suatu sistem dan tidak berdiri sendiri; berarti satu sama lainnya saling berhubungan dan berada dalam satu kesatuan. Oleh sebab itu dari rangkaian kasus konflik yang terjadi dalam pengelolaan SDH di HLGL mayoritas masing-masing identifikasi konflik yang dilakukan masuk lebih dari satu ruang konflik.