• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA KAJIAN PUSTAKA

HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Bingkai Inti Jawa Pos 28 januari 2010

4.3.1.3 Berita 29 Januari 2010

Dalam berita 29 Januari 2010 ini, Jawa Pos menyajikan salah satu beritanya mengenai seratus hari kinerja presiden SBY-Boediono yang berjudul “Program 100 Hari Sekadar Pencitraan”. Adapun rincian mengenai berita tersebut dengan menggunakan elemen framing dari Gamson dan Modigliani adalah sebagai berikut :

A. Perangkat Pembingkai A.1 Metaphors

Pada pemberitaan Jawa Pos yang merupakan metaphors adalah : ”Program 100 hari pemerintahan SBY-Boediono dianggap penuh pencitraan. Segudang program riil yang telah dijanjikan sejak kampanye pemilu pilpres tak ubahnya produk kertas semata serta kelanjutan program-program lama. Pengertian program 100 hari harus diluruskan, Komisi I (DPR) lebih banyak masalah yang takabur. Hasilnya pun ngawur, pencitraan semata, kritik Ketua Poksi I FPDIP Tubagus Hasanuddin dalam keterangan di gedung DPR Jakarta, kemarin (28/1)”.

Makna kalimat yang bergaris bawah tersebut merupakan makna kiasan yang berupa majas ironi atau sindiran. Bahwa program yang disusun pemerintah adalah sekedar ditulis di kertas dan tidak terealisasi sepenuhnya.

Dari pernyataan tersebut terlihat bahwa Jawa Pos membeberkan semua fakta yang menyatakan bahwa memang program yang disusun oleh pemerintahan hanyalah sebuah produk kertas. Ini memperkuat terbentuknya metaphors yang bisa dianalisis, produk kertas adalah sebuah program yang disusun dan ditulis di sebuah kertas tapi hanya sekedar ditulis saja, tidak ada realisasi yang nyata untuk kepentingan masyarakat.

A.2 Catchphrases

Dapat berupa slogan atau jargon seperti pernyataan di bawah ini : ”Meski demikian, FPDIP tidak menganggap semua program

100 hari gagal. Fraksi berlogo banteng moncong putih itu bersikap, satu-satunya program yang layak mendapatkan pujian

adalah kebijakan citizen service yang direncanakan

berlangsung di sembilan negara”.

Dari kalimat trsebut, yang merupakan jargon adalah kata yang bergaris bawah yaitu banteng moncong putih. Banteng moncong putih ini tidak lain dan tidak bukan adalah merupakan logo dari Partai PDIP. Selain itu pada pemberitaan kali ini yang banyak mendominasi memberikan kritikan adalah FPDIP yang juga mengusulkan adanya resuffle menteri jika kinerja pemerintahan masih tetap tidak mengalami kemajuan yang signifikan. Dan Jawa Pos menampilkan kata tersebut sebagai jargon dari pemberitaan ini.

A.3 Exemplaar

Adalah sebuah pernyataan yang disertai bukti-bukti yang kuat untuk memperkuat pernyataan tersebut. Jawa Pos menyajikan exemplaar yang dapat dijadikan sebagai bukti untuk memperkuat pemberitaan yang ada, seperti yang terlihat sebagai berikut :

”Menurut Tubagus, kinerja pemerinta terkait dengan bidang kerja Komisi I saja kurang mencapai sasaran. Dia lantas mencontohkan langkah pengambilan bisnis TNI. Dia menilai program itu pantas memperoleh angka nol besar karena tidak ada satu perkembangan signifikan. Padahal, program tersebut telah dicanangkan sekitar lima tahun lalu. Belum jelas apa yang dialihkan, kepada siapa tidak ada informasi, aset apa yang dialihkan tidak ada program itu nol, terang Tubagus”.

Dari pernyataan ini dapat kita lihat bahwa adanya banyak kebingungan yang tidak pasti karena semua program yang dirancang tidak jelas. Inilah eksemplaar yang disajikan oleh Jawa Pos, yang memperkuat pernyataan-pernyataan dari nara sumber.

A.4 Depiction

Adalah sebuah frase kata yang mengalami penghalusan atau memiki makna yang kasar. Dari berita di Jawa Pos ini ada frase yang menonjol dan menjadi menarik jika dibaca oleh pembaca, seperti yang terlihat di bawah ini :

”Pengertian program 100 hari harus diluruskan, Komisi I (DPR) lebih banyak masalah yang takabur. Hasilnya pun ngawur, pencitraan semata, kritik Ketua Poksi I FPDIP Tubagus Hasanuddin”.

Kata takabur telah mengalami penghalusan (eufimisme) makna yaitu yang memiliki arti hanya angan-angan yang tinggi dan terkesan sombong. Kata takabur digambarkan oleh Jawa Pos karena memang jika dilihat dari faktanya program 100

hari memang belum menampakkan hasil yang luar biasa, bahkan banyak yang mengkritik. Sedangkan pada kata ngawur termasuk kata yang berkonotasi kasar, seharusnya bisa diganti dengan menggunakan kata asal-asalan. Kata ngawur yang disematkan menjadi salah satu kata yang menarik, yang disajikan oleh Jawa Pos.

B. Perangkat Penalaran B.1 Roots

Yang termasuk dalam kategori roots pada berita di Jawa Pos ini adalah : ”Pada masa 100 hari pemerintahan, sejumlah menteri belum memahami visi Presiden SBY sebagai landasan program kerja mereka. Banyak prioritas program kerja atau kebijakan pemerintah yang tidak fokus. Jadi, daripada masa kerja menteri diperpanjang, lebih baik di-resuffle saja, ujar Tjahjo”.

Dari kalimat tersebut, timbul sebuah kekhawatiran yang akan berakibat fatal apabila kinerja pemerintahan masih belum bisa berkembang. Pada dasarnya sejumlah menteri belum mengerti apa visi dari presiden, hal itu yang kemudian menyebabkan adanya ketidak berhasilan program seratus hari ini dan muncul usulan untuk diadakan reshuffle kabinet dari FPDIP. Kalimat pada Jawa Pos ini merupakan peristiwa sebab akibat, terlihat dari kata penghubung yang ada yaitu kata jadi.

B.2 Appeals to principle

Merupakan klaim-klaim moral dari isi berita di surat kabar. Seperti berita pada koran ini yang termasuk ke dalam appeals to principle adalah kalimat :

“Fraksi berlogo banteng moncong putih itu bersikap, satu-satunya program yang layak mendapat pujian adalah kebijakan citizen service yang direncanakan berlangsung di sembilan Negara”.

Dari pernyataan yang dilontarkan, dapat disimpulkan bahwa meskipun dari FPDIP menghujam dengan berbagai kritikan yang tajam, namun ada satu sisi yang memuji kebijakan yang dibuat oleh presiden SBY yaitu kebijakan citizen service. Tapi klaim moral itu saja yang tampak pada berita yang ditulis oleh Jawa Pos, meski demikian setidaknya ada yang dipandang positif dari peringatan program 100 hari ini.

B.3 Consequences

Merupakan sebuah konsekuensi yang dapat diambil dari kesimpulan berita yang disajikan oleh Jawa Pos, kesimpulan konsekuensi tersebut adalah program 100 hari pemerintahan ini hanya dinilai sebagai pencitraan semata. Oleh karena itu banyak pihak yang kecewa terhadap kinerja pemerintahan dan banyak kritikan pedas yang dilayangkan kepada kepala negara SBY. Dari FDPIP banyak melayangkan kritikan yang tajam untuk kinerja pemerintahan kali ini, karena FPDIP adalah salah satu Partai koalisi dari Partai Demokrat tempat presiden SBY bernaung. FPDIP juga mengusulkan jika memang kinerja pemerintahan terus menurun, maka lebih baik mengadakan reshuffle menteri, karena dinilai kinerja dari para menteri tidak fokus dan mengakibatkan ketidak berhasilan dari program yang sudah dirancang.