• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA KAJIAN PUSTAKA

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Perangkat Pembingkai 1 Catchphrases

Merupakan kalimat yang berupa jargon atau slogan pada suatu pemberitaan, yaitu terletak pada headline :

”Popularitas SBY Turun, Demokrat Cemas”.

Demikian headline yang ditulis oleh Jawa Pos 28 Januari 2010, dan headline tersebut merupakan cathphrases yang dapat diambil. Maksud dari kalimat tersebut adalah karena presiden SBY berasal dari partai Demokrat, maka jika kinerjanya menurun otomatis akan mempengaruhi popularitas yang ikut menurun juga. Hal ini dapat mengakibatkan partai Demokrat merasa cemas.

Jawa Pos menulis headline tersebut secara singkat namun mudah diingat oleh masyarakat, karena kalimatnya singkat dan menarik. Disini yang lebih ditekankan adalah kata SBY dan Demokrat, seperti kita ketahui bahwa permasalahan ini berkaitan dengan seratus hari kinerja SBY, sedangkan SBY juga menaungi sebuah Partai Politik yaitu Demokrat. Jadi headline tersebut terlihat match jika dibaca.

A.2 Exemplaar

Berikut adalah exemplaar yang ditunjukkan oleh Jawa Pos adalah : ”Dua lembaga survei melansir hasil yang sama-sama menunjukkan menurunnya popularitas presiden asal Partai Demokrat itu”.

Pernyataan tersebut diperkuat dengan adanya hasil survei yang dilakukan oleh Indo Barometer dan Lembaga Survei Indonesia yang menyebutkan adanya penurunan

tingkat kepuasan publik tehadap SBY. Popularitas Wapres juga masih terpaut jauh di belakangnya.

”Bila ini linier dengan waktu, yakni kepuasan terhadap kinerja SBY terus menurun, pemerintahan jadi semakin tidak kredibel di mata rakyat, kata Direktur Eksekutif LSI Dodi Ambardi di kantornya, Jalan Lembang Terusan, Menteng, Jakarta Pusat, kemarin (27/1)”.

Demikian pernyataan yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif LSI Dodi Ambardi. Selain itu banyak fakta-fakta yang mendukung sebagai eksemplaar yang ditulis oleh Jawa Pos, antara lain :

”Dodi menjelaskan, tren publik yang mengaku puas atas kinerja SBY terus menurun dari 85 % (Juli 2009) menjadi 75 % (November 2009). Survei terbaru LSI pada Januari ini, lanjut dia, kembali menunjukkan adanya penurunan menjadi 70 %”.

Selain itu ada fakta baru yang menunjukkan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap SBY menurun, yakni dengan dilakukannya survei oleh LSI kepada 2.900 responden bertatap muka secara langsung pada 7-20 Januari. Diperkirakan margin error plus minus 2 % pada tingkat kepercayaan 95 %. Sebelumnya Indo Barometer juga melakukan survei dan hasilnya, tingkat kepuasan publik terhadap SBY merosot dari 90,4 % (Agustus 2009) menjadi 74,5 % (Januari 2010).

Dari fakta-fakta yang dipaparkan oleh Jawa Pos membuktikan bahwa hal tersebut memang benar ada penurunan tingkat kepuasan publik terhadap SBY. Tampak jelas sumber yang digunakan oleh Jawa Pos adalah perbandingan dari survei Indo Barometer dan Lembaga Survei Indonesia. Kedua lembaga tersebut merupakan lembaga survei terpercaya, terutama LSI karena lembaga tersebut sering digunakan oleh kubu SBY. Hal ini dapat kita lihat dari pernyataan berikut :

”Dua lembaga survei tersebut cukup kredibel. Bahkan, LSI yang melaporkan menurunnya tingkat kepuasan publik terhadap SBY merupakan lembaga riset yang selama ini sering digunakan kubu SBY”.

Dari pernyataan tersebut di atas yang dimaksud dengan kredibel artinya bisa dipercaya dan datanya akurat, sehingga lembaga survei tersebut digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan publik terhadap SBY.

A.3 Depiction

Adalah sebuah frase yang menarik dari sebuah berita. Jawa Pos memberikan hal yang menarik agar pembaca juga menjadi lebih tertarik untuk membaca berita tersebut. Banyak cara yang dilakukan yaitu dengan adanya headline, foto, termasuk frase kata yang menonjol dari berita yang disajikan. Seperti yang terlihat pada kutipan di bawah ini :

”Sebelumnya, Indo Barometer juga merilis hasil survei terbaru pada Januari ini. Hasilnya, tingkat kepuasaan terhadap SBY merosot dari 90,4 % (Agustus 2009) menjadi 74,5 % (Januari 2010).

Arti kata merosot menjadi makna yang disfemisme, jika kata tersebut dijadikan makna yang eufimisme maka kata ganti untuk merosot adalah menurun. Dengan kata tersebut maka arti kata yang diterima oleh pembaca terlihat lebih baik. Kata merosot ada karena memang tingkat penurunan kinerja SBY mengalami penurunan drastis, sehingga digambarkan oleh Jawa Pos seperti itu.

A.4 Visual Image

Berupa tabel perbandingan survei Indo Barometer dan Lembaga Survei Indonesia. Pada tabel tersebut prosentase penialaian yang dipaparkan oleh Indo Barometer adalah mulai dari Maret 2009 (Jelang pilpres dan pileg), Juni 2009 (Setelah pileg yang dimenangkan Demokrat), Agustus 2009 (Setelah SBY-Boediono menang pilpres) dan Januari 2010 (Setelah kasus Century mencuat). Sedangkan versi Lembaga Survei Indonesia mengadakan penilaian dari Juli 2009 (Saat pilpres), November 2009 (Setelah kembali dilantik sebagai presiden) dan Januari 2010 (Ditekan kasus Century).

Dari sini dapat kita lihat bahwa perbandingan survei yang dilakukan oleh kedua lembaga tersebut sangat detail, karena setiap peritiwa yang berkenaan dengan momen-momen penting yang terjadi disajikan secara transparan oleh Jawa Pos.

B. Perangkat Penalaran B.1 Roots

Roots yang tampak pada berita ini adalah sebuah akibat dari adanya penurunan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan SBY-Bediono. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan sebagai berikut :

”Bila linier dengan waktu, yakni kepuasan terhadap kinerja SBY terus menurun, pemerintahan jadi semakin tidak kredibel di mata rakyat, kata Direktur Eksekutif LSI Dodi Ambardi”.

Tampak sebuah kekhawatiran yang terjadi disini, karena jika mengalami penurunan terus menerus maka akibatnya pemerintahan dinilai tidak kredibel lagi di mata masyarakat atau tidak bisa dipercaya. Pada berita ini Jawa Pos mengulas tentang

penilaian masyarakat yang dinilai menurun terhadap kinerja pemerintahan. Dari sudut pandang Jawa Pos tampak bahwa penurunan yang terjadi tidak main-main karena masyarakat bisa menilai pemerintah apabila pemerintah itu baik atau tidak dalam menjalankan tugasnya.

B.2 Appeals to principle

Meskipun banyak hal yang membuat pemberitaan ini ada sisi buruknya tetapi selalu ada pernyataan yang membuat suasana menjadi sedikit bangkit dengan adanya pernyataan dari Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat Hayono Isman, sebagai berikut :

”Dalam politik, orang baik saja ternyata tidak cukup. Dari segi karakter, Boediono nggak punya bakat jadi bakat koruptor, tidak punya ambisi politik. Bahkan, beliau diminta SBY, tidak mengajukan diri. Beliau juga tidak punya kepentingan bisnis. Kasihan orang yang sudah baik sampai terpeleset, bebernya”.

Demikian sebuah klaim moral yang disajikan oleh Jawa Pos, agar ada keseimbangan antara pemberitaan yang baik dan yang buruk. Hal ini setidaknya dapat merubah pandangan masyarakat bahwa sosok Boediono yang menjadi pendamping SBY sebagai wapres ternyata adalah orang yang memiliki karakter cukup baik.

B. Consequences

Konsekuensi dari berita yang ditulis oleh Jawa Pos adalah berasal dari sebuah pernyataan dari Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat Hayono Isman :

”Dirinya was-was melihat tren penurunan kepuasan publik terhadap kinerja SBY itu. Menurut dia, hal itu memberi signal negatif kepada publik jika dibiarkan terus menurun. Penurunan

menjadi 70 % dalam dua bulan ini signifikan, sehingga perlu dicermati”.

Dari pernyataan tersebut terlihat bahwa dari segala pemberitaan pasti ada konsekuensi yang harus dihadapi. Konsekuensi tersebut yang dapat disimpulkan berdasarkan pemberitaan dari Jawa Pos.