BAB II KAJIAN PUSTAKA KAJIAN PUSTAKA
HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Bingkai Inti Kompas 29 januari 2010
Setelah menganalisis berita tersebut di atas, maka diperoleh bingkai inti dari berita tersebut, sebagai berikut : dalam seratus hari pemerintahan presiden SBY ini, kritik yang dilayangkan oleh pengunjuk rasa adalah mengenai kasus Bank Century yang ramai dibicarakan masyarakat. Tidak ada kemajuan dalam program-program yang direncanakan, yang terlihat justru kasus Bank Century, selain kasus Bank Century ada juga kritikan mengenai pemberantasan korupsi tetapi program tersebut semakin tidak terlihat perkembangannya. Berikut frame dari analisis di atas :
Judul : ”Pengunjuk Rasa Tidak Puas”
Frame : Pengunjuk rasa menyoroti program-program kerja yang belum berhasil membuat gebrakan.
Perangkat Pembingkai Perangkat Penalaran 1. Metaphors
Pengunjuk rasa di kota Semarang, Jawa
Tengah, menyoroti pemberantasan
korupsi yang tidak menjadi satu program yang spesifik, tetapi masuk dalam program pemberantasan mafia hukum.
1. Roots
Mereka meminta pemerintahan
Yudhoyono-Boediono agar tidak
melupakan kasus Lapindo yang telah menyebabkan penderitaan bagi ribuan warga Porong, Sidoarjo.
2. Catchphrases
Dalam 100 hari pertama, pemerintah tidak berhasil membuat gebrakan. Yang
2. Appeals to principle
Presiden harus menjadi pemimpin yang tegas dan berani dalam segala keadaan.
terlihat dalam 100 hari ini justru kasus Bank Century.
3. Exemplaar
Dalam 100 hari pertama, pemerintah tidak berhasil membuat gebrakan. Yang terlihat dalam 100 hari ini justru kasus Bank Century.
3. Consequences
Bertepatan 100 hari kinerja
pemerintahan 28 Januari 2010, terjadi unjuk rasa di sejumlah kota tetapi bertepatan tanggal tersebut justru presiden SBY tidak berada di Jakarta. Hal ini yang menimbulkan anggapan bahwa presiden lari dari unjuk rasa ini, padahal sebenarnya presiden pergi ke Banten untuk meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap Banten I.
4. Depiction
Presiden tidak lari, tetapi meresmikan Pembangkit Listrik di Banten untuk kepentingan masyarakat.
5. Visual Image
Foto elemen masyarakat yang
memenuhi kawasan Istana Merdeka, Jakarta, untuk berunjuk rasa bertepatan
dengan 100 hari kepemimpinan
Presiden SBY, Kamis (28/1).
4.3.3 Bingkai Umum
4.3.3.1 Frame Umum Perbandingan Jawa Pos dan Kompas
Setelah didapat bingkai inti dari berita yang ada pada masing-masing media, maka dapat ditentukan bingkai umumnya, yaitu frame perbandingan antara Jawa Pos dengan Kompas. Frame umum perbandingannya adalah sebagai berikut :
Elemen Jawa Pos Kompas Bingkai Inti Pemerintahan 100 hari
SBY-Boediono dinilai
belum berhasil
memberikan terobosan
dan fondasi yang kuat untuk melangkah lima tahun ke depan.
Sejumlah aktivis lembaga
swadaya masyarakat
mengkritik program 100 hari Kabinet Indonesia
Bersatu II. Lebih
menekankan tentang
pengkritikan kabinet. Metaphors Segudang program riil
yang telah dijanjikan sejak kampanye pemilu
pilpres tak ubahnya
produk kertas semata serta kelanjutan program-program lama.
Pemberantasan korupsi
tidak menjadi satu
program yang spesifik,
tetapi masuk dalam
program pemberantasan mafia hukum.
Cathphrases Fraksi berlogo banteng
moncong putih itu
bersikap, satu-satunya
program yang layak
mendapat pujian adalah kebijakan citizen service
yang direncanakan
berlangsung di sembilan negara.
Dalam 100 hari pertama, pemerintah tidak berhasil
membuat gebrakan.
Yang terlihat dalam 100 hari ini justru kasus Bank Century.
Exemplaar Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari mengatakan survei terbarunya menemukan tingkat pengetahuan publik terhadap program 100 hari SBY-Boediono
sangat rendah, yakni hanya 49,4 %.
Program 100 hari
pemerintahan SBY malah lebih baik pada 2004.
Saat itu tingkat
kepercayaan masyarakat
mencapai 60-70 %
setelah 100 hari.
Depiction Pengertian program 100 hari harus diluruskan, Komisi I (DPR) lebih
banyak masalah yang
takabur. Hasilnya pun
ngawur, pencitraan semata. Selama 100 hari pemerintahan Yudhoyono-Boediono, pemberantasan korupsi hanya dijadikan aksesori semata.
Visual Image 1. Foto rapat terbatas :
presiden SBY
didampingi ibu negara
Ani Yudhoyono dan
1. Berupa foto peta lokasi
penutupan jalan dan
pengalihan arus lalu lintas di Jakarta.
beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu II ketika berangkat menuju ke Cirebon dengan kereta Luar Biasa kemarin. 2. Tabel perbandingan survei Indo Barometer
dan Lembaga Survei
Indonesia.
2. Foto elemen
masyarakat yang
memenuhi kawasan
Istana Merdeka, Jakarta,
untuk berunjuk rasa
bertepatan dengan 100
hari kepemimpinan
Presiden SBY, Kamis (28/1).
Roots Bila linier dengan waktu, yakni kepuasan terhadap
kinerja SBY terus
menurun, pemerintahan
jadi semakin tidak
kredibel di mata rakyat.
Pemimpin nasional juga
sering berperilaku
berbeda dengan apa yang diucapkannya. Kondisi
itu yang membuat
masyarakat semakin
tidak percaya kepada pemerintah.
Appeals to principle Fraksi berlogo banteng
moncong putih itu
bersikap, satu-satunya
program yang layak
mendapat pujian adalah kebijakan citizen service
yang direncanakan
berlangsung di sembilan Negara.
Salah satu anggota
Kabinet Indonesia
Bersatu II, menteri
Pembangunan daerah
Tertinggal Helmy Faishal
Zaini, mengklaim
program 100 hari
kementriannya sudah
mencapai 100 %.
Program 100 hari yang dilakukannya antara lain koordinasi, sinkronisasi
dan operasionalisasi
kebijakan dengan sektor terkait.
Consequences Menjelang program seratus hari pemerintahan
SBY-Boediono belum
terlihat adanya terobosan yang luar biasa. Malah
tingkat kepuasan
masyarakat terhadap
kinerja pemerintahan
menurun menjadi 70 %
selama bulan ini,
penurunan tersebut
signifikan sehingga perlu
Sejumlah elemen
masyarakat melakukan
unjuk rasa untuk
mengkritik program
seratus hari kinerja
pemerintahan
SBY-Boediono. Namun
sayang, bertepatan
dengan program seratus hari, presiden SBY justru tidak berada di Jakarta, beliau pergi ke Banten
dicermati. Selain itu
program seratus hari
hanya dinilai sebagai pencitraan semata.
untuk meresmikan PLTU
Banten I. Sedangkan
wapres Boediono
menolak menemui pers, tampaknya dalam hal ini
presiden dan wapres
kompak untuk
menghindari unjuk rasa tersebut.
Dari pembahasan di atas dapat kita lihat bahwa bagaimana suatu berita yang sama dapat dimaknai secara berbeda. Pembahasan tersebut dapat ditarik ke dimensi yang lebih luas, yaitu penyeleksian isu, penonjolan aspek-aspek tertentu, maka terlihat bahwa masing-masing media memiliki frame sendiri dalam menyeleksi isu tertentu dan menonjolkannya sehingga lebih diperhatikan dan dimaknai. Frame Jawa Pos lebih menekankan pada pemerintahan 100 hari SBY-Boediono yang dinilai belum berhasil memberikan terobosan dan fondasi yang kuat untuk melangkah lima tahun ke depan. Jawa Pos melihat adanya program-program yang belum berhasil dijalankan dan belum bisa dinikmati masyarakat secara langsung. Banyak program yang dirancang tetapi belum terealisasi dengan jelas dan program-program tersebut adalah kelanjutan dari program yang lama.
Sedangkan dari frame Kompas dapat diperoleh kesimpulan bahwa pemberitaan pada surat kabar Kompas lebih menekankan kepada pemberitaan tentang sejumlah aktivis lembaga swadaya masyarakat mengkritik program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II. Pemberitaan yang ada di Kompas cenderung mengkritik kabinet yang dinilai semakin menurun kinerjanya. Program seratus hari tidak terlihat perkembangannya, yang terlihat justru kasus Bank Century yang ramai dibicarakan masyarakat.
BAB V