Judul: Bertobat=pemulihan hubungan Lazimnya warisan dibagikan saat orang tua sudah meninggal dunia. Namun berbeda kisahnya di nas ini. Meski orang tuanya masih hidup, si anak bungsu sudah meminta harta warisan. "Kualat!", mungkin begitu komentar orang terhadap si bungsu karena sikap yang kurang ajar itu. Apalagi ia menghabiskan harta itu seenak hatinya (13). Bak jatuh tertimpa tangga, negeri tempat ia tinggal dilanda paceklik, habislah segalanya (14). Tidak ada tempat untuk minta tolong. Teman-teman yang dulu merubungnya saat ia masih berharta, kini tidak tampak batang hidungnya. Untuk mempertahankan hidupnya, ia terpaksa bekerja sebagai penjaga babi (15), suatu pekerjaan yang hina bagi orang Yahudi. Karena itu berarti, ia menghambakan diri pada orang kafir dan melakukan pekerjaan yang najis! Tapi apa daya? Bahkan untuk mengisi perut dengan makanan babi pun tidak bisa. Tidak ada orang yang mau memberikannya. Kini dia benar-benar "habis"! Dalam kondisi seperti itu, ia teringat rumah ayahnya. Ia ingin kembali, walau harus berstatus hamba. Ia tahu hidupnya akan terjamin (17-19). Si ayah, sebagaimana ayah pada umumnya, memiliki kasih seluas samudra. Meski anaknya telah bersikap kurang ajar, ia terbuka untuk menerima anak yang tetap dinantikannya (20-21). Bahkan ia merayakan kembalinya si bungsu dengan berpesta (22-24). Berbeda sikap dengan si sulung, yang marah atas penyambutan yang hebat itu (28-30). Tidak ada belas kasih dan pengampunan bagi adiknya. Ia tidak memahami hati ayahnya yang terasa tidak adil itu (31-32).
Kisah ini merupakan sorotan terhadap orang Farisi dan ahli Taurat yang selalu merasa diri benar. Menurut mereka hanya merekalah yang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Tidak ada tempat bagi orang berdosa. Tetapi kisah ini memperlihatkan bahwa bagi Bapa, berharga kedatangan setiap orang yang mau mengakui dosanya dan bertobat.
Lakukan: Jangan memandang rendah orang berdosa. Melainkan wartakan kasih Allah agar mereka mau bertobat!
65 Rabu, 21 Februari 2007 Bacaan : Lukas 16:1-9
(21-2-2007)
Lukas 16:1-9
Kesempatan
Judul: Kesempatan Harta dapat menjadi berkat, juga bisa menjadi kutuk. Tergantung bagaimana menggunakannya: menjadikannya pemuas keinginan pribadi atau sebagai sumber untuk melayani sesama. Inilah yang kita pelajari sebagai topik utama dalam pasal 16 ini, yakni tentang penggunaan harta.
Bendahara, dalam kisah ini, memiliki reputasi yang dapat mengancam kedudukannya, terutama ketika tuannya meminta laporan keuangan. Kuatir menghadapi ancaman pemecatan, ia putar otak, mencari cara agar bisa memperoleh bantuan di kemudian hari. Dengan cerdik ia mengambil hati orang yang berhutang kepada majikannya, dengan mengurangi jumlah hutang orang tersebut (5-7). Mungkin si bendahara melakukannya dengan mengurangi jumlah bunga pinjaman orang tersebut yang seharusnya menjadi komisi untuk dia. Dengan apa yang telah dilakukannya, si bendahara berharap telah menanam budi sehingga suatu saat bisa memperoleh bantuan dari orang tersebut. Bendahara yang tidak jujur ini telah belajar dari kegagalannya. Ia mengorbankan miliknya dan kemudian memberikannya pada orang lain supaya ia dapat mengambil keuntungan dari pemberian itu dikemudian hari. Cerdik bukan? Itulah yang dipuji Yesus dari bendahara ini, bila Dia membandingkannya dengan anak-anak terang (8). Meskipun mungkin saja anak-anak dunia menggunakan harta untuk hal-hal yang tidak benar, mereka tetap memikirkan keuntungan semaksimal mungkin yang dapat diberikan harta mereka.
Seharusnyalah kita bijak dalam memaksimalkan penggunaan harta, yang sudah dipercayakan pada kita. Ingatlah bahwa harta tidak dapat dibawa mati. Harta hanya bernilai selama kita hidup saja. Oleh sebab itu jangan gunakan harta hanya untuk kepentingan diri sendiri, gunakanlah juga untuk kemaslahatan orang lain. Karena memiliki harta berarti juga menyandang tugas
penatalayanan, maka kita harus memikirkan bagaimana menggunakan harta dalam pelayanan untuk memuliakan Allah.
66 Kamis, 22 Februari 2007
Bacaan : Lukas 16:10-18
(22-2-2007)
Lukas 16:10-18
Allah atau Mamon
Judul: Allah atau Mamon Memiliki harta berarti memiliki sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab atas penggunaan harta dapat menjadi sebuah ujian terhadap karakter dan integritas kita. Dan itu dapat dimulai dari hal kecil.
Bila seseorang mampu mengelola dengan benar harta yang dipercayakan dalam jumlah kecil, bukan tidak mungkin ia akan dipercaya juga untuk mengelola harta dalam jumlah besar (10). Begitupun sebaliknya. Bila kita tidak jujur dalam hal-hal kecil, bagaimana mungkin kita bisa dipercaya dalam perkara besar? Selain itu, kesetiaan kita pada harta duniawi dapat menjadi indikasi kesetiaan kita pada harta surgawi yang jauh lebih bernilai. Jika kita sukar dipercaya dalam menangani harta dunia yang bisa menjadi sumber keangkaraan, bagaimana mungkin kita dipercaya untuk harta surgawi?
Oleh sebab itu kita perlu memelihara integritas kita, bukan hanya untuk perkara besar tetapi juga untuk masalah kecil. Maka Yesus memperingatkan murid-murid-Nya, untuk tidak memiliki dua tuan, yaitu Allah dan Mamon (13). Murid Yesus harus memilih salah satu. Dan itu bisa terlihat dari cara kita menggunakan uang. Jika Yesus tidak menjadi Tuan kita dalam penggunaan uang, maka itu berarti membiarkan uang mengambil tempat Allah dalam hidup kita. Bila itu yang terjadi, itu berarti kita telah melakukan hal yang dibenci Allah. Jangan sampai kita seperti orang Farisi yang menjadi hamba uang dan menganggap bahwa kekayaan merupakan tanda perkenan Allah.
Tunduk di bawah otoritas Allah juga harus ditampakkan dalam nilai moral yang berlaku dalam hidup kita, juga dalam kehidupan pernikahan (18). Menjadi murid Kristus berarti belajar dari nilai-nilai yang diajarkan Guru. Menjadikan Kristus sebagai Tuhan berarti tunduk di bawah otoritas-Nya dan melepaskan diri dari kuasa segala sesuatu yang bukan Tuhan, termasuk uang.
67 Jumat, 23 Februari 2007
Bacaan : Lukas 16:19-31