• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jangan menolak undangan!

Dalam dokumen publikasi e-sh (Halaman 61-64)

Judul: Jangan menolak undangan! Bila kita mengadakan pesta namun lupa mengundang seorang kerabat, niscaya kita akan menerima keluhannya yang mempertanyakan alasan tidak mengundang dia. Begitu pula sebaliknya, ketika orang lain mengadakan pesta dan kita tidak diundang. Ini terjadi karena kita menganggap undangan sebagai penghargaan dari si pengundang bagi kita. Tetapi bukan demikian yang terjadi dalam nas hari ini.

Saat itu Yesus masih berada di rumah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi. Seseorang yang ikut mendengar pemaparan Yesus, berkomentar tentang bahagianya orang-orang yang dijamu dalam Kerajaan Allah (15). Ia berkata demikian seolah memiliki pemahaman bahwa hal itu merupakan anugerah. Tetapi menurut Yesus tidak semua orang akan menghargai anugerah itu. Melalui perumpamaan, Dia berkisah tentang mereka yang diundang datang ke perjamuan namun memiliki 1001 macam alasan untuk tidak hadir. Mungkin menurut mereka, undangan itu tidaklah penting karena masih ada hal lain yang harus mereka lakukan (18-20). Tetapi perjamuan harus tetap dilaksanakan, tidak bisa ditunda! Kemudian undangan tersebut disebarluaskan

kepada orang-orang lainnya, meskipun tadinya mereka dianggap tak layak. Mereka merespons undangan ini dengan sukacita, bagaikan mendapat sebuah anugerah. Kesempatan yang sudah disia-siakan oleh sebagian orang, membuat anugerah tersebut diperluas kepada lebih banyak orang.

Kita pun diundang untuk menerima keselamatan yang Allah tawarkan pada kita. Ini merupakan anugerah, karena sebenarnya bukan sesuatu yang sepantasnya kita miliki. Menolak anugerah Allah berarti bencana dan merupakan penghinaan bagi Dia yang telah membayar harga yang sangat mahal untuk menyediakan anugerah itu bagi kita. Karena itu, dengarlah undangan-Nya sekarang dan berilah respons positif! Jangan ditunda!

Renungkan: Jangan biarkan hal lain mengganggu dan mengalihkan perhatian kita sehingga kita menolak undangan itu.

62 Minggu, 18 Februari 2007

Bacaan : Lukas 14:25-35

(18-2-2007)

Lukas 14:25-35

Syarat ikut Yesus

Judul: Syarat ikut Yesus Seorang tokoh masyarakat biasanya akan senang memiliki pengikut. Apalagi kalau ia berkarier di bidang politik. Banyaknya pengikut akan menunjang kemajuan kariernya.

Yesus saat itu diikuti banyak orang. Tetapi Ia tahu bahwa itu bukan karena mereka memiliki komitmen untuk mengikut Dia. Mungkin saja hanya karena Yesus sedang populer saat itu. Oleh karena itu Yesus berkata pada mereka bahwa jika mereka tidak "membenci" anggota

keluarganya, bahkan dirinya sendiri, mereka tidak dapat menjadi murid-Nya (26). Yesus bukan bermaksud agar pengikut-Nya tidak menghargai keluarga mereka. Yang Ia maksudkan adalah tidak ada ikatan apapun, yang boleh melebihi kesetiaan dan ketaatan orang pada Yesus. Dialah yang harus menjadi nomor satu! Tidak ada tempat buat yang lain. Hanya jika Dia menjadi prioritas utama dalam hidup seseorang, barulah dia dapat menjadi murid Yesus. Itulah sebabnya mereka harus berpikir masak-masak, karena untuk itu harus ada keseriusan dan komitmen. Sebab mengikut Yesus bukan hanya bicara masalah sekarang, tetapi juga mencakup keputusan dalam hidup di masa depan. Oleh karena itu, jika orang tidak memiliki kesungguhan hati, sebaiknya jangan mulai! Jangan maju ke medan perang, jika tidak yakin akan menang.

Mengikut Tuhan Yesus memang punya konsekuensi. Mungkin kita harus mengambil keputusan yang sangat berbeda dengan dunia di sekitar kita, keluarga akan memusuhi kita, kita akan dikucilkan di lingkungan kita, atau tidak memperoleh keuntungan karena kejujuran kita. Kita memang harus sadari bahwa menjadi murid Tuhan berarti siap menempatkan Yesus di atas segala kepentingan pribadi, keluarga atau karier. Ikut Yesus berarti memikul salib yang bermakna mematikan keakuan dan keinginan pribadi (27). Hanya yang setia melakukan kehendak Tuhan dan teguh imanlah yang akan disebut murid Tuhan.

63 Senin, 19 Februari 2007

Bacaan : Lukas 15:1-10

(19-2-2007)

Lukas 15:1-10

Gembala yang baik

Judul: Gembala yang baik Kita tidak dapat menghindar dari kritik. Apapun yang kita lakukan bisa mengundang kritik, entahkah itu kritik yang membangun atau yang menjatuhkan. Bahkan jika kita diam sekalipun, pasti akan ada kritik yang terlontar. Tidak heran, jika kritik dapat mengubah orang menjadi baik, walau tidak sedikit juga yang berakibat buruk pada seseorang. Pada waktu itu, Yesus dikritik oleh orang Farisi dan ahli Taurat karena "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka" (2). Bagi mereka, berdekatan dengan orang berdosa akan menyebabkan mereka ketularan tidak `bersih\'. Yesus pun merespons dengan trio perumpamaan: domba yang hilang, dirham yang hilang, dan anak yang hilang. Dalam

perumpamaan yang pertama, si gembala menemukan bahwa ada satu ekor domba yang hilang. Lalu ia mencari domba yang hilang itu sampai ia menemukannya (4). Tidak sedikit pun ia menyalahkan domba yang hilang itu (berlawanan dengan sikap ahli Taurat dan orang Farisi terhadap orang berdosa). Yang Yesus perlihatkan di sini adalah mencari yang hilang,

menemukan dan merayakan penemuan itu (6). Begitu pula dalam perumpamaan tentang seorang wanita yang kehilangan satu dari sepuluh dirham yang dimilikinya. Begitu berharganya dirham itu sehingga ia harus bersusah payah mencarinya sampai akhirnya menemukannya. Begitu gembiranya, hingga ia mengajak sahabat dan tetangganya untuk merayakan penemuan itu. Kedua perumpamaan ini memperlihatkan bahwa Allah adalah Bapa yang aktif mencari orang yang "hilang" dan bersukacita ketika mereka ditemukan. Oleh sebab itulah Dia mengutus Kristus

(Mat. 10:6, 15:24, bdk. Luk. 4:18-19). Maka kita, murid-murid-Nya, seharusnya memiliki belas

kasih yang sama seperti yang Guru kita miliki. Mari buka mata kita bagi sekeliling kita untuk memperhatikan mereka yang terhilang. Temui mereka dan kabarkan Berita Kesukaan itu! "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (Luk. 19:10)

64 Selasa, 20 Februari 2007 Bacaan : Lukas 15:11-32

(20-2-2007)

Lukas 15:11-32

Dalam dokumen publikasi e-sh (Halaman 61-64)