• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menggali lubang kubur sendiri

Dalam dokumen publikasi e-sh (Halaman 138-141)

Judul: Menggali lubang kubur sendiri ikap terang-terangan melawan Tuhan adalah sama dengan sikap mencari mati. Itulah kesimpulan Yeremia terhadap sikap pembangkangan umat yang terlalu berani di ay. 15-19. Mereka telah menetapkan untuk menjadikan �ratu surga� sebagai sesembahan mereka, dan bukan Tuhan! Mereka pasti akan merasakan sendiri akibatnya! Pertama, dengan menolak Tuhan demi ratu surga, Tuhan tidak lagi menjadi sumber hidup mereka. Dengan sendirinya sumber hidup ada pada �ratu surga.� Mereka telah menyerahkan �nasib� mereka ke tangan berhala yang hampa, yang tidak memiliki kuasa sedikit pun untuk menolong mereka. Sedangkan kedua, dengan menolak Tuhan, yang kepada-Nya mereka terikat Perjanjian Sinai, mereka harus menuai murka-Nya sebagai akibat pengkhianatan keji mereka. Sekali lagi nubuat �ancaman� Yeremia ini menegaskan nasib semua umat Yehuda yang

melarikan diri ke Mesir. Mesir akan dilibas oleh Babel (30) dan sebagian besar dari umat Yehuda di Mesir akan mengalami kebinasaan (27-28). Mengapa ada sisa sedikit yang akan terluput (28b)? Pertama-tama, karena belas kasih Tuhan tentunya. Juga karena dari sisa umat tersebut akan keluar pengakuan bahwa tidak ada pengharapan di luar Tuhan (29)! Orang yang menolak Tuhan sebenarnya sedang menggali kuburnya sendiri. Menolak Tuhan sama saja menolak hidup karena Dia satu-satu-Nya sumber hidup. Penolakan akan Tuhan dapat terlihat di dalam berbagai aspek hidup. Misalnya, berguru pada orang-orang pintar, menindas orang-orang kecil yang kepada mereka Tuhan berpihak, mencari keselamatan dan keuntungan diri dengan berkolusi dengan pihak-pihak yang jelas tidak bertuhan. Dan ada berbagai bentuk-bentuk pembangkangan yang jahat terhadap Tuhan. Siapa pun yang berbuat demikian akan menuai kehancuran kalau tidak cepat bertobat!

Renungkan: Pertobatan harus dimulai dari dalam umat Kristen. Apakah Anda setia menjalani pertobatan?

139 Minggu, 6 Mei 2007

Bacaan : Yeremia 45:1-5

(6-5-2007)

Yeremia 45:1-5

Bagi hamba Tuhan

Judul: Bagi hamba Tuhan Pelayan Tuhan yang setia adalah mereka yang melayani tanpa bersungut-sungut dan tidak mengharapkan imbalan. Tuhan menghargai pelayan-Nya yang seperti itu. Perhatian dan berkat Tuhan akan tercurah tidak terduga.

Firman Tuhan ini datang pada waktu Yoyakim masih menjadi raja (1). Namun penempatan teks ini pada bagian terakhir catatan sejarah Yehuda yang telah dijajah Babel dan sebagian umat telah melarikan diri ke Mesir (ps. 39-44), menunjukkan bahwa pergumulan Barukh masih berlanjut. Sebagai asisten Yeremia, pergumulan pelayanan Barukh tidak kalah berat. Sikap keras Yoyakim yang merobek serta membakar gulungan firman Tuhan yang telah dituliskan Barukh atas

perintah Yeremia, serta memerintahkan untuk menangkap mereka (ps. 36), membuat Barukh tertekan dan mengeluhkan nasibnya (45:2-3). Di pasal 43, Barukh bahkan dituduh menghasut Yeremia untuk menubuatkan hal yang buruk bagi umat Yehuda yang berencana lari ke Mesir. Akhirnya, mereka kemudian dipaksa ikut ke Mesir.

Tuhan menjawab Barukh dengan menegur dia karena mengharapkan kelepasan dari pergumulan dalam pelayanan. Konsekuensi melayani Tuhan adalah menderita demi kebenaran. Oleh karena itu, doa Barukh seharusnya mohon kekuatan untuk menghadapi penderitaan. Namun, Tuhan menjawab keluhan Barukh juga dengan menjanjikan keselamatan. Musuh Barukh akan dibinasakan, sementara Barukh akan menikmati hidup dalam pemeliharaan Tuhan.

Tuhan menjanjikan penyertaan bagi para hamba-Nya. Itu seharusnya cukup bagi kita untuk bersyukur dan tidak mengeluh. Sementara, mereka yang membenci Tuhan dan hamba-hamba-Nya, suatu saat akan dihukum keras. Hubungan timbal balik di antara Yeremia dan Barukh, yakni saling bantu, menguatkan dan menegur, menjadi teladan bagi kita. Maka, marilah kita memohon kekuatan dari Tuhan untuk setia melayani Dia. Di antara kita sendiri, hendaknya tercipta suasana saling menguatkan dan saling membangun.

140 Senin, 7 Mei 2007 Bacaan : Mazmur 134

(7-5-2007)

Mazmur 134

Lingkaran berkat

Judul: Lingkaran berkat Ada orang tertentu yang menganggap bahwa bagian terpenting dalam ibadah adalah khotbah. Maka ada kecenderungan orang datang terlambat dalam ibadah dan segera meninggalkan gedung gereja seusai khotbah. Mereka menganggap bagian-bagian lainnya tidak penting, termasuk undangan ibadah di awal dan ucapan berkat di akhir ibadah.

Mazmur 134 ini memperlihatkan ibadah yang berlangsung utuh, walau hanya digambarkan

dalam tiga ayat saja. Sebagai nyanyian ziarah (1), mazmur ini dinyanyikan umat Israel saat melakukan perjalanan/ziarah ke Bait Allah dalam ibadah tahunan yang diwajibkan bagi mereka. Isinya tentang para imam dan orang Lewi yang melayani di Bait Allah pada waktu malam. Mereka diajak untuk mengangkat tangan memuji Tuhan (1-2). Sebagai respons, hamba Tuhan mengucapkan berkat Tuhan bagi para peziarah itu (3).

Dalam mazmur ini, kata yang diterjemahkan menjadi "pujilah Tuhan" (1, 2) secara harafiah berarti "berkatilah Tuhan". Maka bila kita lihat makna harafiahnya, berarti ada kata "berkati Tuhan", yang merupakan tindakan manusia yang tertuju kepada Tuhan; dan "Tuhan

memberkati", yang merupakan respons Allah atas tindakan manusia. Tetapi isi tindakannya berbeda. "Memberkati Tuhan" berarti mengatakan kebesaran dan kebaikan Tuhan. Sebaliknya, ketika "Tuhan memberkati manusia" berarti Tuhan melakukan hal yang baik bagi manusia, misalnya dengan mengaruniakan anugerah-Nya. Jadi ketika imam dipanggil untuk "memberkati Tuhan" atas nama umat, mereka pun memberkati umat atas nama Tuhan. Sungguh suatu

lingkaran berkat yang indah antara Tuhan, hamba Tuhan, dan umat Tuhan.

Mazmur ini menanamkan kesadaran bahwa seluruh pengalaman hidup ini adalah ibadah. Kiranya mazmur ini memotivasi kita untuk terlibat utuh dan penuh dalam ibadah yang kita hadiri. Ibadah bukanlah kewajiban yang harus dipenuhi melainkan persekutuan indah antara Tuhan, hamba Tuhan, dan kita, sebagai umat Tuhan.

141 Selasa, 8 Mei 2007

Bacaan : Mazmur 135

(8-5-2007)

Mazmur 135

Dalam dokumen publikasi e-sh (Halaman 138-141)