Judul: Karya sebagai bukti Keberhasilan seorang pemimpin bukan hanya dilihat dari
kemampuannya menjalankan tugas. Ia juga disebut berhasil bila mampu mendelegasikan tugas dan memilih orang yang tepat untuk menjalankan tugas tersebut.
Saat itu bangsa Israel masih berada dalam perjalanan menuju tanah perjanjian, yaitu Kanaan. Ketika mereka tiba di padang gurun Paran, Tuhan menyuruh Musa mengutus orang untuk mengintai Tanah Kanaan. Karena merupakan kepentingan seluruh bangsa, Tuhan menugaskan dua belas orang pemimpin untuk mewakili kedua belas suku Israel (4-15) menjalankan misi pengintaian. Dipilihnya orang yang berkaliber pemimpin memperlihatkan betapa penting dan beratnya tugas ini. Diperlukan orang dengan kualitas pemimpin untuk menghasilkan laporan yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Adanya perwakilan dari tiap-tiap suku juga merupakan hal yang penting karena tugas itu merupakan tanggung jawab bersama. Tanah itu memang akan menjadi milik bersama dan setiap suku akan mendapatkan bagian masing-masing.
Sebagai pemimpin, Musa bukan hanya main perintah. Ia juga ikut memikirkan bagaimana tugas tersebut bisa dilaksanakan. Itu terlihat dari instruksinya mengenai langkah-langkah yang harus mereka ambil (17-18). Musa juga memberi tahu mereka mengenai hasil yang harus mereka capai dalam menjalankan tugas tersebut (18-20). Karena terlebih dulu memikirkannya, Musa bisa membayangkan beratnya tugas yang harus mereka pikul. Maka sebagai pemimpin, Musa mendorong mereka untuk tabah (20).
Kemampuan Musa menerapkan perintah Allah dan menjabarkannya dalam instruksi kepada kedua belas orang pengintai, memperlihatkan bahwa gugatan Miryam dan Harun dalam bacaan kemarin terbukti kekeliruannya. Ternyata tak perlu ribut menanggapi komentar negatif orang tentang pelayanan kita. Buktikan dengan karya nyata! Biarkan orang melihat dan menilai kualitas kita di hadapan Allah.
197 Selasa, 3 Juli 2007
Bacaan : Bilangan 13:21-29
(3-7-2007)
Bilangan 13:21-29
Karya sebagai bukti
Judul: Bukan tidak mungkin Sebagai pertanggungjawaban dari misi yang telah mereka jalankan, kedua belas orang mata-mata harus memberikan laporan sesudah menjalani Kanaan selama empat puluh hari. Hasil pengintaian itu disampaikan secara terbuka kepada Musa, Harun, dan seluruh bangsa Israel (25-26).
Sesuai perintah Musa, mereka membawa hasil bumi yang merupakan bukti nyata bahwa Tanah Kanaan memang subur dan makmur. Ini terlihat dari hasil bumi yang begitu bagus. Bayangkan, suatu cabang dengan setandan buah anggur harus dipikul oleh dua orang (23)! Bukan hanya hasil pertanian, tetapi susu dan madu pun melimpah (27). Persis seperti firman Tuhan kepada bangsa Israel sebelumnya (lih. Kel. 3:8, 17). Betapa indahnya gambaran tanah yang akan menjadi milik mereka kelak. Bukan tidak mungkin muncul harapan dan keinginan untuk bisa segera masuk dan tinggal di sana. Namun sayang, laporan itu masih belum selesai! Bagian kedua laporan itu ternyata berlawanan dengan laporan sebelumnya. Berikutnya mata-mata itu menceritakan tentang bangsa yang kuat dan raksasa yang mendiami negeri itu. Kota-kotanya pun berkubu (28-29). Singkat kata, tanah itu tidak mungkin mereka masuki!
Bagian kedua kisah itu tampaknya lebih didasarkan pada kegentaran para pengintai itu sendiri. Mereka lupa bahwa Tuhan pernah berjanji akan memberikan Tanah Kanaan kepada mereka. Akibatnya mereka menganggap orang kuat dan kota berkubu sebagai halangan yang tidak akan mungkin disingkirkan. Mereka tidak bisa melihat semua itu sebagai kesempatan untuk meraih kemenangan yang Allah akan berikan dalam rangka penggenapan janji-Nya kepada mereka. Kisah para pengintai ini mungkin juga adalah kisah kita sendiri. Melihat halangan sebagai gunung yang tidak mungkin didaki membuat iman kita kepada Allah bisa terkikis. Akibatnya, keluhan dan putus asa mewarnai hidup kita. Akan tetapi, bercermin dari kisah ini kiranya kita belajar mengingat janji Allah serta tetap teguh dalam iman kita.
198 Rabu, 4 Juli 2007
Bacaan : Bilangan 13:30-33
(4-7-2007)
Bilangan 13:30-33
Bukan tidak mungkin
Judul: Perspektif iman Tidaklah mudah menaklukkan penduduk Kanaan yang terdiri dari orang yang kuat dan didukung oleh kubu pertahanan yang tangguh. Sementara Israel hanya memiliki peralatan perang yang terbatas. Sukar rasanya bila harus berperang melawan bangsa yang sudah mapan dan mempunyai kekuatan militer yang tangguh. Itulah sebabnya sebagian pengintai berpendapat bahwa tidaklah mungkin menaklukkan bangsa yang besar dan kuat itu (31). Bila sebelumnya para pengintai itu memiliki kesamaan pendapat saat melaporkan kesuburan tanah dan kemakmuran Kanaan, tetapi dalam laporan bagian yang kedua terjadi perbedaan. Kaleb tidak setuju dengan kesimpulan yang terlalu menekankan kekuatan orang Kanaan. Ia yakin akan janji Allah kepada leluhur mereka, bahwa tanah itu akan diberikan kepada umat-Nya. Ia tahu bahwa yang menghendaki bangsa Israel memasuki Tanah Kanaan bukanlah Musa atau pun bangsa Israel sendiri, melainkan Allah! Karena itu, hal yang tidak mungkin bagi manusia adalah mungkin bagi Allah. Itu sebabnya, Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu dihadapan Musa. Ia mendorong bangsanya untuk tetap maju dan menduduki tanah perjanjian itu (30).
Kedua belas orang pengintai melihat pemandangan yang sama: anggur yang sama, orang yang sama, tanah yang sama, dan kota yang sama. Namun, perbedaan perspektif saat melihat semua itu menghasilkan perbedaan pendapat di antara mereka. Kaleb melihat tugas itu dari sudut pandang Allah yang berkuasa, tetapi pengintai yang lain melihat berdasarkan kemampuan manusia. Sehingga mereka seolah-olah mengatakan bahwa raksasa-raksasa yang tinggal di tanah itu lebih besar daripada Allah mereka sendiri.
Di sini kita melihat bahwa bukan buruknya situasi atau keadaan yang membuat ada atau tidaknya iman seseorang. Sebaliknya, ada atau tidak adanya imanlah yang membuat orang bisa melihat suatu situasi, meski buruk sekalipun, dengan penilaian yang berbeda.
199 Kamis, 5 Juli 2007 Bacaan : Bilangan 14:1-10
(5-7-2007)
Bilangan 14:1-10
Perspektif iman
Judul: Berharap, bukan mengeluh Pengaruh sikap dan ucapan buruk bisa berakibat merusak. Lebih-lebih bila hal itu datang dari para pemimpin. Ketiadaan iman sepuluh mata-mata Israel bagai virus yang menyebar dengan cepat, menginfeksi seluruh Israel.
Bangsa Israel ketakutan saat mendengar cerita tentang Kanaan. Kisah tentang hasil bumi yang melimpah dan subur, sampai setandan anggur yang harus dipikul oleh dua orang, tidak diterima dengan dorongan iman (Bil. 13:23)! Malah mereka membayangkan bahwa orang yang
menanamnya tentu lebih besar dan tak terkalahkan! Mereka jadi ngeri dan menyesali perjalanan yang penuh risiko itu. Bahkan mereka menyesali Tuhan dan rencana-Nya, serta memilih mati daripada harus mengikuti rencana Tuhan (1-2). Mereka menyalahkan Tuhan yang mengeluarkan mereka dari Mesir (3). Bagi mereka, lebih baik diperbudak di Mesir daripada berjuang meraih tanah perjanjian. Sebab itu mereka ingin kembali ke Mesir (4)! Kerasnya reaksi orang Israel membuat Musa dan Harun tak berdaya (5). Yosua dan Kaleb nyaris dirajam saat
memperingatkan orang Israel untuk tidak melawan Tuhan (9-10). Israel menolak untuk percaya dan mematuhi Tuhan!
Sikap bangsa Israel mengherankan. Menghadapi musuh yang belum jelas saja, mereka sudah ketakutan dan berbalik meragukan kebaikan Tuhan. Padahal janji Tuhan jelas! Seharusnya mereka bersukacita karena kemakmuran tanah yang Tuhan akan berikan pada mereka. Jika saja mereka mau maju di dalam iman, niscaya mereka akan melihat mukjizat!
Menghadapi situasi buruk memang terkadang membuat kita tidak bisa menguasai diri. Kita jadi mengeluh dan marah-marah kepada Tuhan yang memperhadapkan kita pada situasi semacam itu. Padahal dengan begitu kita jadi berdosa karena sesungguhnya Tuhan tidak pernah merancangkan hal yang buruk bagi kita. Sebenarnya yang kita perlu lakukan adalah berpegang pada janji-Nya dan berharap agar Tuhan menolong kita. Karena pengharapan kepada Tuhan adalah kekuatan yang mampu membawa kita pada kemenangan.
200 Jumat, 6 Juli 2007
Bacaan : Bilangan 14:11-19