• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menjadi saksi=berbagi suka

Dalam dokumen publikasi e-sh (Halaman 149-152)

Judul: Menjadi saksi=berbagi suka Pemberitaan Lukas tentang kebangkitan Kristus didasarkan pada kisah para saksi. Bacaan hari ini merupakan kisah Paskah yang ketiga dalam Injil Lukas. Dalam kisah pertama, meski tidak bertemu Yesus, beberapa perempuan menjadi saksi kubur yang kosong (Luk. 23:56b-24:12). Dalam kisah kedua, Ia menampakkan diri pada dua orang murid (Luk. 24:13-35). Dan yang ketiga, Yesus memperlihatkan diri-Nya pada sebelas orang murid, yang sedang mendengarkan cerita dua murid yang bertemu Yesus di Emaus (1). Para murid terkejut dan takut ketika melihat Yesus (37). Tampaknya mereka tidak pernah berharap bahwa Yesus akan bangkit dan hidup! Namun mereka kemudian menjadi girang dan heran (41), meski belum paham!

Yesus tidak membiarkan mereka bingung. Ia menyuruh mereka melihat dan meraba bekas luka di tangan dan kaki-Nya (40). Lalu Ia memakan sepotong ikan goreng (42-43) untuk meyakinkan mereka. Tindakan Yesus ini memperlihatkan bahwa tubuh kebangkitan-Nya benar-benar

memiliki aspek fisik. Kebangkitan-Nya adalah kebangkitan manusia seutuhnya, yakni

melibatkan tubuh, yang berdaging dan bertulang. Paulus menyebutnya \'tubuh surgawi\' (1Kor.

15:40). Para murid tidak bisa lagi tidak percaya pada kebangkitan Kristus. Ia mengingatkan

mereka tentang apa yang telah Ia ajarkan sebelumnya. Ia juga membuat mereka paham tentang nubuat Kitab Suci tentang Yesus (44).

Atas semua itu, para murid diberi tanggung jawab untuk mengemban misi Allah, dengan menjadi saksi yang memberitakan pertobatan dan pengampunan kepada segala bangsa (46-48). Untuk itu para murid akan mendapatkan pertolongan dari Roh Kudus (49). Menjadi saksi Kristus,

sesungguhnya bukan sekadar tugas atau kewajiban. Sebagai orang yang sudah berjumpa Kristus dan menerima keselamatan dari-Nya, kita terdorong berbagi kesukaan ini kepada sesama kita. Dengan mengandalkan Roh dan menggali firman, jadilah saksi-Nya yang andal!

150 Kamis, 17 Mei 2007

Bacaan : Lukas 24:50-53

(17-5-2007)

Lukas 24:50-53

Kasih yang berlanjut

Judul: Kasih yang berlanjut Kebangkitan Yesus nyata menghadirkan perubahan dalam diri para murid. Dulu mereka kebingungan dan tak berdaya karena kematian Yesus. Tetapi setelah Yesus bangkit, tidak ada lagi tempat bagi keraguan dan ketakutan! Pengharapan yang semula pupus, kemudian terbit kembali.

Empat puluh hari telah berlalu (lih. Kis. 1:3). Para murid saat itu ada bersama dengan Yesus. Yesus pun memberkati mereka (50), berkat yang merupakan jaminan perlindungan dan

pimpinan-Nya atas mereka. Kemudian Ia terangkat ke surga (51). Mungkin para murid merasa takjub. Tetapi mereka tahu bahwa Yesus akan menggenapi janji-Nya untuk mengirimkan Roh Kudus pada mereka. Roh Kudus yang akan menjadi Penghibur mereka dan yang akan

memampukan mereka menyebarkan Kabar Baik.

Para murid yang dulu kebingungan dan tak berdaya karena kematian Yesus, kini berubah. Mereka yang sebelumnya sangat sedih karena ditinggal mati oleh Yesus, kini merespons kenaikan Yesus dengan menyembah Dia (52). Kini mereka tahu benar bahwa Yesus adalah Tuhan, Anak Allah, yang layak menerima puji dan sembah. Mereka yang beberapa hari

sebelumnya gemetar ketakutan di balik pintu yang terkunci, bersembunyi dari pemimpin agama Yahudi yang menyalibkan Guru mereka, kini berada di Bait Suci, "markas besar" Yudaisme (53). Mereka telah berani menyatakan diri sebagai pengikut Yesus. Mereka tidak lagi menyembunyikan iman dan kasih mereka pada Yesus.

Kita telah mempelajari kehidupan dan pelayanan Yesus, sampai pada kenaikannya. Kini Ia ada di surga, duduk di sebelah kanan Bapa, mempersiapkan tempat bagi kita. Namun bukan berarti pelayanan-Nya berhenti begitu saja. Sebagai murid-Nya, kitalah yang harus melanjutkan pelayanan yang telah Dia mulai di dalam diri kita. Kita harus membebaskan yang terbelenggu dan mewartakan Kabar Baik kepada orang-orang miskin, sampai Ia datang kembali nanti untuk menjemput kita.

151 Jumat, 18 Mei 2007

Bacaan : Mazmur 142

(18-5-2007)

Mazmur 142

Lepas dari kejaran

Judul: Lepas dari kejaran Hidup dalam kehendak Tuhan dapat membuat kita berada dalam konflik dengan orang yang tidak taat kepada Tuhan. Kehendak Tuhan agar Daud menjadi raja, berdampak pada renggangnya hubungan Daud dengan Saul, raja yang akan dia gantikan (band.

1Sam. 18:28-29). Saul bahkan mengejar-ngejar Daud dan berupaya untuk membunuhnya (1Sam.

24:3). Saul, yang secara de facto masih menjadi raja, merasa punya kekuasaan; sementara Daud merasa tak berdaya. Pasti melelahkan harus melarikan diri terus menerus, tinggal berpindah-pindah dari gua ke gua.

Menghadapi situasi tersebut, Daud memohon dengan berseru kepada Tuhan. Ia ingin agar Tuhan mendengarkan dia (2). Tuhanlah yang mengetahui situasi yang dia hadapi. Sebab itu, ia ingin mencurahkan isi hatinya yang penuh sesak itu pada Tuhan (3). Meski musuh sudah memasang jerat untuk menghabisi dia dan dia sendiri tidak tahu jalan mana yang harus ditempuh, Daud yakin bahwa Tuhan tahu (4). Seakan sudah jatuh tertimpa tangga pula, Daud merasa sendirian dalam penderitaan itu. Tidak ada seorang teman pun yang memberikan dukungan (5). Daud benar-benar memerlukan pertolongan Tuhan (6-7). Tuhanlah harapannya. Dia sajalah tempat perlindungannya. Tanpa Allah, mustahil bagi Daud untuk melepaskan diri dari kejaran musuh. Karena itu, betapa bersyukurnya Daud bila Tuhan menolongnya. Kelepasan yang dari Tuhan akan merupakan kesempatan baru bagi Daud untuk memuji nama-Nya (8).

Ditolak orang lain karena menaati kehendak Tuhan, memang sudah menjadi konsekuensi orang yang hidup dalam Tuhan. Bertahan untuk tetap bersikap benar bisa saja membuat kita

ditinggalkan orang. Entahkah berupa kehilangan kesempatan kerja atau naik jabatan,

ditinggalkan kekasih yang berbeda iman, dsb. Tuhan tidak membiarkan kita menderita sendirian. Percayalah bahwa Tuhan mampu melepaskan milik kepunyaan-Nya. Namun kita perlu

152 Sabtu, 19 Mei 2007

Bacaan : Mazmur 143

(19-5-2007)

Mazmur 143

Dalam dokumen publikasi e-sh (Halaman 149-152)