BAB III DATA DAN ANALISIS
3.5 Tema Besar
Setelah pencarian data dan analisis yang sudah perancang dan kolega buat, perancang mendapatkan tema besar yang akan digunakan untuk karya tugas akhir.
Tema besar yang ditentukan adalah perundungan siber, karena hal tersebut didasari oleh banyaknya Jamet yang menjadi korban. Begitupun definisi tentang kata Jamet yang saat ini sudah mendapatkan konotasi negatif di masyarakat.
3.6 Kata Kunci
Berdasarkan hasil tema besar yang sudah terbentuk, perancang bersama kolega merumuskan kata kunci untuk pembuatan karya tugas akhir yaitu. Jamet, perundungan siber, kebebasan berkespresi, dokumenter drama.
59
BAB IV
KONSEP DAN HASIL PERANCANGAN
4.1. Kosep Perancangan
Pada perancangan karya film ‘’Jamet’’ ini penulis sebagai editor bekerja sama dengan sutradara dan DOP berdiskusi untuk hasil eksekusi visual yang sesuai dengan hasil akhir yang diharapkan, dan dapat diterima oleh penonton dengan jelas.
Konsep perancangan film ‘’Jamet’’ yang telah ditentukan oleh perancang setelah melakukan observasi melalui media sosial seperti, TikTok, Youtube, dan Instagram, Perancang melakukan analisis kembali dengan karya karya sejenis untuk memilih warna, transisi, dan efek yang tepat untuk karya film ‘’Jamet’’ ini.
4.1.1 Ide Besar
Ide besar dari film dokudrama ini berawal dari keluh kesah narasumber serta hasil analisis dari internet dan juga media sosial. Sampai hari ini masih banyak masyarakat yang melakukan perundungan siber kepada sosok yang dianggapnya Jamet. Pengubahan arti kata Jamet sendiri yang semakin kesini mengarah pada kesan buruk yang mengakibatkan masyarakat mengecap sesuatu secara instan tanpa berpikir terlebih dahulu. Sehingga kata Jamet yang awalnya hanya panggilan kepada suatu geng, kini menjerumus kepada arti yang konotasinya negatif.
Perancang sebagai sutradara mengambil ide besar penceritaan dari hasil analisis tersebut dengan menghasilkan sebuah film yang menceritakan tentang kisah seorang remaja desa, memiliki hobi berjoget lalu mengunggahnya di media sosial.
Seiring berjalannya waktu, akun media sosialnya mendapatkan respon yang banyak sehingga membuat Jamet itu tawari oleh sebuah perusahaan Talent Agency.
Sayangnya Talent Agency itu merupakan perusahaan bodong yang hanya ingin menipu beberapa artis dadakan yang tidak memahami industri entertainment.
Jamet itupun akhirnya menjadi korban penipuan tersebut.
4.1.2 Konsep Cerita
Perancang memproduksi karya film dokumenter drama tentang ‘’Jamet’’untuk mengenalkan kehidupan ‘’Jamet’’, yang masih banyak perdebatan baik atau buruknya akan budaya dari Indonesia ini.
60 Semakin berkembang nya teknologi masyarakat tidak jauh akan penggunaan sosial media dan menimbulkan banyak nya budaya budaya baru yang bermunculan mau itu lewat trend atau mengeskpresikan diri di sosial media.
Film ini diambil dari sudut pandang narasumber terkait. Mereka akan bercerita mengenai pengalaman mereka tentang kehidupan Jamet.
4.2.2 Konsep Kreatif
Perancang sebagai editor berdiskusi dengan rekan satu kelompok mencari referensi dari film karya sejenis untuk mengambil visual yang akan digunakan pada karya film yang akan dibuat.
Pada karya film ini akan menampilkan pakaian yang sering dipakai oleh Jamet yang nantinya akan dijelaskan perkembanganya, maknanya hingga bagaimana cara ia menggunakanya.
4.3.2 Konsep Editing
Pada karya film ini sutradara dan editor telah berdiskusi akan gaya editing yang akan digunakan pada karya film ini, gaya editing yang akan diambil didapatkan dari referensi karya karya sejenis dari film Thailand.
Gaya yang akan diambil dari warna/tone, visual efek, dan transisi akan terlihat menarik karena tidak terlalu mencolok namun tetap mendalam sehingga kesan yang akan tersampaikan pun akan jelas dan tidak terlihat berlebihan dalam menggunakan warna/tone, visual efek, dan transisi.
4.4.2 Jobdesk
Perancang berperan sebagai editor yang ikut terlibat dalam proses pra produksi, produksi sampai pasca produksi. Pada tahap pra produksi, perancang memberi saran atau ide kepada sutradara dalam diskusi pembuatan film, sedangkan pada tahap produksi, editor akan bekerja sama dengan sutradara dan DOP dengan memberi saran sudut pengambilan shot sehingga pada proses pasca produksi hasil akhir nya akan sesuai dengan apa yang diharapkan, pada tahap pasca produksi editor akan mengolah file yang telah dikerjakan oleh DOP dalam pemilihan shot shot bersama sutradara, setelah itu editor mengedit tahap kasaran dan memberikan hasil kasaran dalam bentuk file Mp4 kepada sutradara jika ada revisi maka akan diulang
61 lagi sehingga menjadi karya yang di inginkan oleh semua kru, dan layak untuk di perlihatkan kepada cineas.
62
DAFTAR PUSTAKA
Alam, B. (1998). Globalisasi dan Perubahan Budaya, Perspektif Teori Kebudayaan. Jurnal Antropologi Indonesia, 54, 1–11.
Ayawaila, G. R. (2008). Dokumenter: Dari Ide sampai Produksi. Jakarta: FFTV IKJ Press.
Bateman, John A, Schmidt, & Karl-Heinrich. (2013). Multimodal Film Analysis: How Films Mean. Taylor & Francis.
Cateridge, J. (2015). Film Studies For Dummies. John Wiley & Sons, Ltd.
Dennis, F. G. (2008). Bekerja Sebagai Sutradara. Jakarta:Erlangga
Edgar-Hunt, Robert., Marland, John., & Rawle, Steven. (2010). Basic Film-Making: The Language of Film. AVA Academia.
Eisenstein, S. (2014). Film Form: Essays in Film Theory. Houghton Mifflin Harcourt.
Eriksen, T. H. (2010). Ethnicity and Nationalism: Anthropological Perspectives (3rd ed.).
Pluto Press.
Goldin, I., & Reinert, K. (2012). Globalization for Development: Meeting New Challenges.
Oxford University Press.
Hastanto, I. (2020, May 29). Mengulik Penyebab Munculnya Istilah Peyoratif Jamet, Kuproy, dan Pembantu Jawa. VICE. https://www.vice.com/id/article/889nez/arti-istilah-Jamet-kuproy-pembantu-jawa-berasal-dari-stima-negatif
Hayward, S. (2006). Cinema Studies: The Key Concepts (Third Edition). Routledge.
Heru Effendy. (2014). Mari membuat Film, Jakarta:Erlangga
Hinduja, S., & Patchin, J. W. (2009). Bullying beyond the schoolyard: Preventing and responding to cyberbullying. Thousand Oaks, CA: Sage Publications (Corwin Press).
Hinduja, S., & Patchin, J. W. (2010). Cyberbullying: A review of the legal issues facing educators. Preventing School Failure, 55(2), 1–8.
Keesing, R. M. (1997). Teori-Teori Tentang Budaya. Jurnal Antropologi Indonesia, 52.
Kodiran. (1998). Akulturasi sebagai Mekanisme Perubahan Kebudayaan. Jurnal Humaniora, 8(7), 87–91.
63 Lannom, S. (2020, December 13). Ultimate Guide to Movie Genres — 90+ Genre Examples
for Film & TV. Studiobinder. https://www.studiobinder.com/blog/movie-genres-list/
Muammar, I. (2019). Sebuah Percakapan Tentang Musik Funky Kota. Pendulum.
https://pendulum.id/sebuah-percakapan-tentang-musik-funky-kota/
Mudjiono, Y. (2011). Kajian Semiotika dalam Film. In Jurnal Ilmu Komunikasi (Vol. 1, Issue 1). www.kompas.com
Satori, D., & Komariah, A. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. Alfabeta.
Sugiyono. (2005). Memahami Penelitian Kualitatif. Alfabeta.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Alfabeta.
Suparlan, P. (2002a). Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural. Jurnal Antropologi Indonesia, 69, 98–105.
Suparlan, P. (2002b). Multikulturalisme. Jurnal Ketahanan Nasional, VI(1), 9–18.
Teske, R. H. C., & Nelson, B. H. (1974). Acculturation and Assimilation: A Clarification.
American Ethnologist, 1(2), 351–367.
Vicky Andrew, T., Maslan Sihombing, R., & Aziz Ahmad, H. (2017). Musik, Media, dan Karya: Perkembangan Infrastruktur Musik Bawah Tanah (Underground) di Bandung (1967-1997).
Yulianthi. (2015). Ilmu Sosial Budaya Dasar (pp. 1–6). Deepublish.