HASIL DAN PEMBAHASANNYA
E. Bidang Peranan Wanita
1. Turut mendorong bagi meningkatkan wibawa dan kepribadian wanita Indonesia sehingga dapat menjalankan fungsi gandanya sebagai pribadi, istri, dan ibu rumah tangga yang baik sebagai anggota masyarakat yang berguna dan wanita karier yang berdaya guna dalam rangka pembangunan wanita Indonesia seutuhnya.
2. Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang mendorong terciptanya kader-kader wanita khususnya Srikandi Pemuda Pancasila Sumatera Utara yang mempunyai kepribadian nasional.
Dari seluruh sasaran program kegiatan Dewan Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila Sumatera Utara di atas belum seluruhnya terlaksana dengan baik. Karena ada sebahagian dari program tersebut masih dalam tahap perencanaan, jadi belum diwujutkan dalam bentuk peranan aktif dari DPW Pemuda Pancasila Sumatera Utara . Organisasi Pemuda Pancasila masih menganut pola kerja program yang masih tradisional seperti di masa lalu yang insidentil, spontan dan temporer, sehingga program kerja yang sudah direncanakan sebelumnya bisa tidak jadi dikarenakan ada program kerja mendadak yang harus dilaksanakan. Padahal pola-pola yang demikian sedikit demi harus diperbaiki dan dikembangkan sesuai dengan dinamika yang ada dan keadaan jaman yang terus berkembang.
Pembentukan lembaga-lembaga pada Organisasi Pemuda Pancasila sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan oleh Dewan Pimpinannya, baik itu DPW, maupun DPC. Untuk DPW Pemuda Pancasila Sumatera Utara mempunyai lembaga SAPMA (Satuan Pelajar dan Mahasiswa) Pemuda Pancasila Sumatera Utara, BKS
(Badan Kordinasi Lembaga Srikandi), LPPH (Lembaga Penyuluhan dan Pembelaan Hukum) dan KOTI MAHATIDANA (Komando Inti), padahal di Anggaran Rumah Tangga Pemuda Pancasila mempunyai sepuluh lembaga tetapi untuk Sumatera Utara yang diperlukan hanya empat lembaga itu saja.
Pembentukan Satuan Pelajar dan Mahasiswa (SAPMA) Pemuda Pancasila pada tahun 1990 adalah penegasan tentang perubahan citra tersebut. Landasan yang mendasari pembentukannya adalah untuk menghimpun calon intelektual dan menyiapkan alternatif kegiatan diluar sekolah bagi para pelajar dan mahasiswa. Namun dalam perjalanan selanjutnya keberadaan SAPMA ini menjadi strategis bagi Pemuda Pancasila, karena masih sedikit organisasi yang menggarap pelajar khususnya. Organisasi yang menggarap mahasiswa telah banyak seperti HMI, PMII , PMKRI, GMKI, Gema Kosgoro, Gema MKGR dan sebagainya. Kalau kita melihat di media massa yang membicarakan masalah pelajar, nara sumber dari organisasi yang mengatasnamakan pelajar dapat dihitung dengan jari. Memang ada beberapa organisasi yang menggarap yang menggarap pelajar seperti IPNU, IPM, atau organisasi pelajar di tingkat lokal, tapi jumlahnya masih amat sedikit. Artinya kalau menggarap pelajar, pangsa pasarnya masih luas, tidak terlalu kompetitif. Lain kalau mendirikan organisasi yang pangsa pasarnya dari kalangan pengusaha, politikus, kepemudaan, atau lembaga swadaya masyarakat tidak susah dan repot untuk mencari nara sumber.
Dewan Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila Sumatera Utara mencoba memilah program yang sesuai antara kalangan pelajar dan mahasiswa. Kalau kita
lihat yang namanya kegiatan pelajar yang usianya lebih muda dari mahasiswa, fisik dan stamina sedang kuat-kuatnya, maka kegiatan yang sesuai dengan mereka dalam konteks fisik, seperti kegiatan olah raga. Tapi kalau kegiatan mahasiswa yang kita asumsikan sebagai calon cendikiawan maka kegiatannya yang sesuai adalah kegiatan semacam seminar-seminar, penulisan, penelitian serta pengkajian-pengkajian (wawancara dengan Drs James Ganda Sormin, hari kamis tgl 19 April 2007).
Lembaga yang tidak kalah pentingnya adalah BKS atau Badan Kordinasi Srikandi yang dibentuk tahun 1990 di Sumatera Utara dan pada tahun 1996 pada Mubes ke VI resmi menjadi Lembaga Srikandi dan dimasukkan kedalam AD/ART dan langsung dipimpin oleh ketua bidang peranan wanita di Dewan Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila Sumatera Utara. Peranan Srikandi ini adalah merekrut kader dari kalangan wanita, sebab banyak organisasi tidak tahu bahwa Pemuda Pancasila ada wanitanya. Barangkali karena nama Pemuda didepan Pancasila sehingga identik dengan jenis kelamin laki-laki, maka masyarakat menganggap Pemuda Pancasila organisasinya laki-laki. Tapi setelah dikenalkan Srikandi ternyata banyak wanita yang masuk menjadi anggota organisasi Pemuda Pancasila tutur Dra Fauziah Dongoran mantan ketua Srikandi Pemuda Pancasila Sumatera Utara.
Memang jumlah anggota Srikandi Pemuda Pancasila belum di data secara pasti, tetapi sebenarnya jumlah anggota Srikandi tidak kalah jauh dari jumlah anggota pemudanya, padahal organisasi Pemuda Pancasila sudah mengakar di tingkat basis, yakni ranting-ranting tetapi amat disayangkan jumlah Srikandi yang besar tidak dioptimalkan perannya. Srikandi memang sering merasa kecewa karena tidak
diperhatikan, banyak program kerja yang ingin dilaksanakan oleh Srikandi tapi karena birokrasi membuat program kerja tidak jalan. Peranan wanita seolah nama baru di Pemuda Pancasila yang menjalankan program sendiri dan sementara Srikandi juga melaksanakan program sendiri, semestinya tidak begitu karena peranan wanita itu hanya menjalankan program yang didukung oleh Srikandi.
Nama Srikandi ini diambil dari nama tokoh pewayangan yaitu istri Arjuna yang melakukan tugas dwifungsi, yaitu wanita sebagai ibu rumah tangga dan sebagai wanita pejuang. Dari nama inilah diharapkan wanita di Pemuda Pancasila menjadi mitra sejajar pria bukan dibawah pria. Maka pembinaan peranan wanita sebagai mitra sejajar pria ditujukan untuk meningkatkan peran aktif dalam pembangunan serta kemampuan wanita lebih ditingkatkan dalam penguasaan ilmu dan tehnologi, termasuk pula dalam proses pengambilan keputusan dan mampu menghadapi perubahan baik di dalam masyarakat maupun keluarga (wawancara dengan Ir Vera Azis hari Jumat tgl 20 April 2007).
LPPH (Lembaga Penyuluhan dan Pembelaan Hukum) adalah salah satu unit lembaga Pemuda Pancasila yang dalam pelaksanaan programnya disesuaikan dengan karakteristik kelembagaannya. LPPH Dewan Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila Sumatera Utara didirikan sesuai dengan hasil keputusan Mubes VI Pemuda Pancasila (1996) tentang perlunya pembentukan lembaga-lembaga sebagai pelengkap organisasi. Di dirikan bertujuan melaksanakan penyuluhan dan pembinaan kesadaran hukum masyarakat, menegakkan hukum, keadilan dan kebenaran untuk tercapainya kepastian hukum di Negara Republik Indonesia, serta berperan aktif dalam
pembinaan hukum nasional dalam usaha untuk mewujutkan suatu system hukum nasional , yang mengabdi kepada kepentingan nasional.
LPPH Pemuda Pancasila ini banyak membantu anggota Pemuda Pancasila dan masyarakat yang membutuhkan bantuan hukumnya LPPH Sumatera Utara ini menghimpun para sarjana hukum serta pengacara yang ahli di bidangnya untuk berkecimpung didalamnya, walaupun kadang-kadang mereka bekerja tanpa dibayar atau berorientasi non profit dengan mengutamakan kepada pengabdian dalam pengertian memberikan penyuluhan dalam pembelaan hukum kepada anggota Pemuda Pancasila dan masyarakat luas yang membutuhkannya .
Kehadiran LPPH ini merupakan refleksi dari upaya dalam rangka merubah citra Pemuda Pancasila yang selama ini dipandang negatif, padahal dalam organisasi Pemuda Pancasila punya banya intelektual yang bergerak dibidang penyuluhan dan pembelaan hukum.(wawancara dengan M.Ramli Tarigan, SH hari Jumat tgl 20 April 2007).
Lembaga KOTI MAHATIDANA adalah lembaga kader yang diharapkan bahwa pengembangan sumber daya manusianya yang berkualitas. Sudah tidak masanya lagi menggunakan kekuatan otot tetapi dengan kekuatan otak untuk memajukan organisasi. Lembaga Koti ini sebagai garda Pancasila yang siap untuk melindungi dan mempertaruhkan jiwa raganya demi membela kepentingan bangsa dan Negara. Komitmen Pemuda Pancasila selalu mendahulukan kepentingan persatuan dan kesatuan bangsa, berdiri tegak membela panji-panji Negara termasuk didalamnya sang Merah Putih dan Pancasila, akan patuh dan tunduk pada
keputusan-keputusan yang bersifat konstitusional, tanpa ada unsur penekanan ataupun pemaksaan. Koti Mahatidana ini adalah semacam pasukan yang mempunyai anggota siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan untuk menjawab suara-suara sumbang yang mengdiskriditkan kiprah Pemuda Pancasila akibat sepak terjang oknum individual atau perseorangan yang disalah artikan masyarakat luas sebagai sikap organisasi untuk menghadapi persaingan yang semakin meruncing di masa depan. Koti Mahatidana ini mendapat pelatihan untuk meningkatkan kwalitas sumber daya manusianya (wawancara dengan Sulasno, hari Sabtu tgl 21 April 2007).
Jadi, tuntutan akan kualitas sumber daya manusia guna mengantisipasi pengelolaan organisasi, kaderisasi, akan turut mempengaruhi kualitas orientasi dari OKP itu sendiri dalam menjawab persoalan bangsa, masyarakat dan masa depan Kongkritnya setiap anggota Pemuda Pancasila Sumatera Utara termasuk pengurusnya harus mengaktualisasikan potensi dirinya sebagai kader organisasi sehingga akan mampu mengakumulasikan diri dalam merespon serta menjawab permasalahan. Karena kemampuan merespon serta mengaktualisasikan diri sangat ditentukan seberapa besar kemampuan setiap individu dalam menyusun basis ekonomi dan kesejahteraan dirinya masing-masing.
Memang cukup berat beban Pemuda Pancasila Sumatera Utara ke depan, dari nama yang disandangnya sudah pasti di pundaknya eksistensi dan kesinambungan bangsa menjadi taruhannya, taruhan ke depan perlu dipertahankan dan ditingkatkan prestasi yang telah dicapai selama ini.
Selain itu tantangan kedepan juga menyangkut bagaimana kemandirian Pemuda Pancasila Sumatera Utara. Salah satu faktor penting bagi sebuah organisasi yaitu masalah kemandirian. Karena kemandirian akan memperkuat Pemuda Pancasila Sumatera Utara bisa bertahan dari ujian-ujian kultural, maupun dari gesekan-gesekan berbagai kepentingan baik, antara OKP serta kekuatan sospol lainya.
Namun yang penting tinggal meningkatkan kualitas anggota, sebab kualitas anggota termasuk SDMnya sangat tergantung dari sejauh mana komitmen dan konsistensi pemimpinnya dalam mensejahterakan anggotanya. Dengan pemberian pekerjaan sebagai langkah dasar yang akan mewarnai kelanjutan dan masa depan Pemuda Pancasila Sumatera Utara.Langkah semacam ini adalah cara yang terbaik dan konkrit serta langsung menyentuh permasalahan.
4.2.2 Organisasi Sosial Kemasyarakatan (ORMAS)
Derasnya arus reformasi yang menghendaki perubahan disegala aspek kehidupan bangsa menuntut adanya pembaharuan terhadap tatanan yang lama. Tidak terkecuali angin reformasipun melanda organisasi kepemudaan seperti Pemuda Pancasila yang dilahirkan tanggal 28 Oktober 1959 secara histories politis tidak bisa dilepaskan dari misi perjungannya sebagai “Benteng Pancasila”. Sejarah perjalanan Pemuda Pancasila membuatnya tidak pernah ragu sedikitpun dalam mempertahankan Pancasila. Sebagai salah satu organisasi kepemudaan yang menyandang nama Pancasila membuat setiap gerakannya selalu diikuti oleh masyarakat luas. Anehnya masyarakat atau kelompok-kelompok masyarakat tertentu selalu saja
mengindentikkan Pemuda Pancasila dengan berbagai cap negatif atau stigma sehingga terkadang menimbulkan nada-nada sumbang bahkan tidak jarang mendatangkan antipati. Namun demikian jika ditilik dari latar historis kelahirannya merupakan antisipasi guna mengamankan eksistensi dan keberadaan Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara.
Permasalahannya kini dengan segala keberadaan serta bukti nyata histories yang telah dipatrikan dalam menegakkan tetap tegaknya Pancasila dan UUD 1945 maka jika dikaitkan dengan derasnya tuntutan perubahan dan pembaruan yang sedang terjadi akibat reformasi yang mempunyai implikasi kepada wajah dunia kepemudaan termasuk Pemuda pancasila. Maka pada tanggal 28-30 April tahun 1999 diadakanlah Musyawarah Luar Biasa untuk menjawab semua tuntutan itu.
Tuntutan yang pertama adalah perlunya revaluasi, reposisi dan reaktualisasi peran dan fungsi Pemuda Pancasila sebagai organisasi kepemudaan menjadi organisasi sosial kemasyarakatan (ormas) yang diharapkan akan terindentifikasi tantangan dan peluang macam apakah yang harus dihadapinya dimasa yang akan datang. Kedua, salah satu tuntutan reformasi adalah peninjauan ulang hal-hal yang selama ini dianggap telah usang tidak up to date lagi dan segera diganti dengan hal – hal baru yang sesuai dengan tuntutan iklim reformasi.
Keputusan organisasi Pemuda Pancasila untuk menjadi ormas sebenarnya bukan merupakan hal yang baru . Karena aspirasi atau tuntutan menjadi ormas telah jauh diantisipasi pada Mubes VI pada tahun 1996 lalu. Buktinya dalam struktur organisasi dibedakan atas Dewan Presidium dan Pelaksana Harian, artinya pada
Dewan Presidium terdapat kader-kader Pemuda Pancasila yang berusia dibawah 40 tahun, sedangkan pada Pelaksana Harian kader-kader muda yang berumur dibawah 40 tahun. Ini kebijakan organisasi dalam rangka mengantisipasi perubahan akibat perkembangan yang mengelilingi kehidupan Pemuda Pancasila.
Mubes ke VI Pemuda Pancasila tahun 1996 mengamanatkan kepada organisasi untuk mengorganisir dan menggerakkan masyarakat dan mengambil bagian dalam usaha bangsa dan Negara , yakni : memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Petunjuk-petunjuk tersebut telah menjadi dorongan dan semangat dalam gerak langkah Pemuda Pancasila ,yang kemudian di berikan pula pada kalangan wanita melalui Srikandi Pemuda Pancasila, ke kalangan aktivis / tenaga hukum melalui LPPH, kekalangan pelajar dan mahasiswa melalui Sapma serta para penggerak-penggerak inti territorial melalui Koti Mahatidana.
Organisasi Pemuda Pancasila sebagai organisasi yang menghimpun anggotanya dari tingkat grass root / basis haruslah tetap berada pada arus bawah, sebagai dinamisator terhadap perubahan, maka dengan itulah Pemuda Pancasila akan tetap disegani baik karena organisasi ini tetap berorientasi kerakyatan dan pluralis, tidak membedakan latar belakang sosial dan politik (wawancara dengan H.Donald Sidabalok,tgl 5 Juni 2007 hari Selasa). Organisasi Pemuda Pancasila tidak pernah mempunyai batas-batas baik berdasarkan ikatan kesukuan, ras, agama, ataupun golongan sebagai organisasi yang berbasis pada massa, maka Pemuda Pancasila dituntut mampu memiliki kepekaan dalam menyuarakan aspirasi, tuntutan serta kepentingan kader ataupun masyarakat.
Untuk menghadapi tantangan bangsa dimasa depan Organisasi Pemuda Pancasila harus mampu mengantisipasinya secara cepat, karena demokratisasi partisipasi bisa berkembang dalam dua kemungkinan . Pertama, demokrasi dengan partisipasi masyarakat luas yang menggunakan kelompok sebagai mekanisme operasinya. Kedua, demokrasi yang melibatkan masyarakat secara langsumg dalam proses politik. Dalam keadaan ini Pemuda Pancasila dapat memainkan peranan diantara dua faktor tersebut. Artinya Pemuda Pancasila bisa dikatakan satu–satunya Ormas Pemuda yang mampu menunjukkan kemandiriannya. Kemandirian dalam program akan menjadi sarana untuk negosiasi politik. Dengan demikian peran dan fungsi yang dilakukan oleh Pemuda Pancasila sebagai penyambung aspirasi masyarakat dalam hal ini pemuda dari tingkat bawah ke elite yang memerintah. Inilah aset yang harus yang harus dimanfaatkan oleh Pemuda Pancasila. Dengan itu berupaya meningkatkan kualitas dirinya dengan berbagai persiapan penataan sumber daya manusia yang sejalan dengan dinamika dan tuntutan jaman (wawancara dengan Rolel Harahap tgl 15 Mei 2007, hari Selasa).
Organisasi adalah komunikasi sosial di dalam suatu masyarakat,.sebagai komunitas sosial organisasi senantiasa mengedepankan heterogenitas dan tidak mengenal status sosial. Kemajemukan organisasi di dalam tatanan kehidupan politik di suatu Negara, adalah modal utama bagi keberlanjutan dan kesinambungan program –program organisasi yang menjadi dasar tujuan yang dicita-citakan .
Secara substantif, organisasi harus memberikan manfaat bagi anggotanya. Tapi dari sudut pandang secara organisasi, anggota berkewajiban memberikan yang
terbaik bagi organisasi yang menjadi pilihannya.Artinya bahwa didalam komunitas sosial, perbedaan yang ada adalah sebuah kekuatan dengan energi yang besar. Organisasi sebagai komunitas sosial adalah wadah untuk mengekspresikan berbagai ide dan gagasan menjadi tindakan kongkrit, sehingga berdampak positif bagi masyarakat dalam arti luas.
Pada jaman reformasi dewasa ini, kedewasaan sikap kita dalam menghadapi berbagai hal yang sangat cepat berkembang di dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, sangatlah diperlukan. Kedewasaan bersikap itu adalah cermin dari manusia bijaksana. Secara sederhana dapat dikatakan, bahwa momentum reformasi yang melahirkan berbagai perubahan menuntut kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara yang lebih demokratis dalam arti sesungguhnya. Di dalam rangka berfikir ini, kita harus memahami betul apa sesungguhnya yang terjadi, dan apa yang sebaiknya kita lakukan.
Musyawarah Besar Luar Biasa (Mubeslub) Pemuda Pancasila di Cipayung Bogor ini, diikuti oleh semua Dewan Pimpinan Wilayah dan Dewan Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila seluruh Indonesia, termasuklah DPW dan DPC Pemuda Pancasila Sumatera Utara. Pada Mubeslub ini diputuskan bahwa Pemuda Pancasila menarik dukungan dan aspirasi politiknya dari Golkar dan kembali menjadi independent. Padahal diketahui banyak wakil rakyat yang duduk di legeslatif yang berasal dari organisasi Pemuda Pancasila, begitu juga di Sumatera Utara. Sehingga muncullah istilah: ”Jangan kemana-mana, tapi ada dimana-mana.” Dengan arti
walaupun sudah ada di mana-mana, jangan lupakan organisasi Pemuda Pancasila dan tetap ada diorganisasi ini.
Sebagai organisasi, Pemuda Pancasila sejatinya sudah memiliki acuan nilai etik organisasi, yakni prinsip indepedensi organisasi. Dikatakan sebagai acuan karena penegasan bahwa Pemuda Pancasila adalah organisasi yang independent menimbulkan sejumlah konsekuensi politis-organisatoris yang tidak bisa dielakkan begitu saja . Itulah sebabnya, nilai etika yang mendasari setiap gerak langkah Pemuda Pancasila harus selalu paralel dengan doktrin independen yang dianutnya.
Pada Mubeslub ini juga ada wacana untuk menjadikan Organisasi Pemuda Pancasila menjadi Organisasi Sosial Kemasyarakatan sehingga tidak lagi menjadi Organisasi Kemasyarakatan Pemuda. Karena dianggap tidak cocok lagi untuk kedepan.Tetapi wacana ini tidak mendapat respon dari para peserta, sebab dianggap kalau tidak lagi menjadi OKP Organisasi Pemuda Pancasila tidak besar lagi dan serupa dengan OKP –OKP lainnya.
Pada tahun 1999 diadakanlah Pemilu yang diikuti oleh 48 Partai Politik, dari semula hanya 3 Partai Politik sehingga menjadi sedemikian besar. Suhu politik di- tanah air semakin panas ditengah – tengah kesulitan ekonomi masyarakat masih lagi dihadapkan oleh berbagai peristiwa yang memprihatinkan. Dengan timbulnya multi partai tidak menutup kemungkinan adanya partisipasi dari pimpinan – pimpinan atau penggurus Organisasi Pemuda Pancasila di Sumatera Utara. Tidak ada larangan karena undang–undang membenarkan hal tersebut. Yang dijaga adalah tidak terpecah belahnya keluarga besar Pemuda Pancasila dan dapat mencegah terjadinya potensi
konflik akibat banyaknya kader-kader Pemuda Pancasila yang terjun kedunia partai politik.
Tetapi berapa banyak anggota Pemuda Pancasila yang duduk menjadi anggota DPRD di Sumatera Utara dan DPRD didaerah tingkat II tidak pernah tercatat pada DPW Pemuda Pancasila Sumatera Utara.
Dewan Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila Sumatera Utara ketika masih menjadi menjadi OKP sudah diarahkan kepada profesionalisme anggota penggurus, karena banyak terdapat individu-individu yang berasal dari bermacam-macam pekerjaan seperti pengacara, anggota Kadin, Gapensi, Hipmi dan profesionalisme lainya, yang diharapkan akan membantu merekrut anggota dalam setiap bidang usahanya. Dengan demikian pada waktunya anggota pengurus yang terdiri dari berbagai macam profesi itu memberikan lapangan pekerjaan bagi anggota lainnya yang belum mempunyai pekerjaan.
Sektor ekonomi termasuk penyediaan lapangan pekerjaan menjadi sarana yang bukan saja memberikan keuntungan dan kenyamanan bagi pribadi yang bersangkutan, tetapi dengan kuatnya basis ekonomi seseorang karena bersangkutan adalah anggota dan pengurus organisasi, otomatis diharapkan akan turut membantu mendanai kegiatan serta aktivitas – aktivitas organisasi.
Lewat jaringan ini DPW Pemuda Pancasila Sumatera Utara mencoba membangun hubungan kemitraan dengan anggota, sehingga adanya saling memberi dan menerima diantara organisasi, penggurus maupun anggota (wawancara dengan Edyarto, tgl 24 Mei 2007 hari Kamis).
Memang harus diakui dalam tiga dekade terakhir terjadi semacam proses transformasi dalam diri organisasi Pemuda Pancasila. Transformasi yang dimaksud adanya pergeseran citra atau image dari organisasi yang selama ini dijuluki dengan tukang pukul, preman, dan sebagainya kepada transformasi intelektual dan profesionalisme. Artinya, komitmen yang kuat dari tokoh-tokoh Pemuda Pancasila Sumatera Utara untuk menata organisasi secara professional mengisyaratkan bukan saja terjadi transformasi intelektual tapi juga secara struktural dalam rangka mengantisipasi kemajuan akibat modrenisasi. Lewat penataan organisasi semacam ini diharapkan di masa depan eksistensi Pemuda Pancasila akan ditentukan oleh perannya bagaimana mengaktualisasikan transformasi itu melalui kualitas sumber daya manusianya.
Pemuda Pancasila bukanlah organisasi politik, tetapi merupakan organisasi yang bersifat “Sosial Kemasyarakatan” yang independent atau mandiri. Tetapi Pemuda Pancasila menyadari bahwa sebagai warga Negara ia juga mempunyai hak berpolitik yang berlaku satu kali dalam lima tahun. Untuk itu Pemuda Pancasila bersepakat mempergunakan hak tersebut dengan cara menyalurkan hak mereka dalam suatu Musyawarah Besar. Musyawarah Besar adalah lembaga tertinggi organisasi yang merupakan perwujutan dilaksanakannya konstitusi organisasi. Lembaga inilah yang akan mengevaluasi hasil kerja lima tahun mendatang serta memilih pemimpin-pemimpin yang akan mengurus organisasi dalam melaksanakan program-program tersebut dalam mengemban misi perjuangan organisasi.
Pada tanggal 28 s/d 30 Oktober 2001 di Caringin Bogor diselenggarakan suatu momentum yang meneguhkan itikad dan eksistensi Pemuda Pancasila sebagai kader bangsa yang tidak membeda-bedakan suku, agama, ras dan golongan, terbuka tetapi berbeda dilintas politik. Mubes ke VII 2001 juga merupakan langkah besar Pemuda Pancasila melaksanakan reorientasinya pada dua aspek yaitu : Pertama, orientasi kemasyarakatan, yang memposisikan Pemuda Pancasila kembali menjadi kekuatan sosial yang dapat mengontrol jalannya pemerintahan sekaligus membina kesadaran dan kecerdasan masyarakat. Kedua, orientasi kepemudaan, dimana seiring perkembangan jaman dimensi kepemudaan telah meluas pada berbagai bidang kehidupan seperti petani, nelayan, pekerja, wanita, pengusaha, mahasiswa, pelajar, sarjana dan lain-lain. Penegasan itikad sebagai kader bangsa dan reorientasi inilah yang menjadi suasana bathin yang melahirkan berbagai keputusan Mubes Pemuda Pancasila 2001, yang selanjutnya dijadikan landasan operasional MPW Pemuda Pancasila Sumatera Utara dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
Pada Mubes ke VII organisasi Pemuda Pancasila telah mendeklarasikan sebagai organisasi yang tidak lagi berorientasi kepemudaan (OKP) melainkan berorientasi kemasyarakatan (Ormas). Dengan itu seluruh AD/ART serta susunan pengurus berubah total. Dewan Presidium dan Badan Pelaksana Harian ditiadakan juga penggunaan kata Dewan diganti menjadi Majelis. Konsekuensinya adalah Ormas Pemuda Pancasila sudah harus menempatkan anggotanya bukan saja sekedar objek tetapi juga subjek dari suatu pelaksanaan program. Disisi lain Pemuda Pancasila juga