• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bila Harus Bicara

Dalam dokumen Metode Dakwah Khalifah Umar Bin Khattab (Halaman 66-70)

BAB IV DAKWAH UMAR BIN KHATTAB

ANALISIS METODE DAKWAH KHALIFAH UMAR BIN KHATTAB

A. Metode Dakwah Khalifah Umar bin Khattab

2) Bila Harus Bicara

a) Memilih kata-kata yang baik

Kata-kata memiliki kekuatan untuk mempengaruhi dan menggerakkan tingkah laku manusia manakala kata-kata yang disajikan mempunyai daya panggil yang efektif.

Dalam kehidupan sehari-harinya, khalifah Umar sangat pandai memilih kata-kata sebelum berbicara. Karena semasa jahiliyah dan sampai menjadi khalifah, beliau sangat senang merangkai kata-kata lalu membuatnya menjadi syair.

Apabila Khalifah Umar bertemu dengan seseorang yang melakukan kegiatan positif, beliau bertutur kata dengan baik dan bijaksana. Sebagai contoh:

“Pada suatu hari Khalifah Umar bin Khattab sedang berjalan. Kemudian seorang pemuda yang sedang menaiki keledainya melihatnya. Dia melihat Amirul Mukminin berjalan dengan kedua kakinya. Lalu ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, naiklah dan aku akan berjalan.” Beliau kemudian menjawab, “Tidak, demi Allah, lebih baik kita naik bersama-sama.” Pemuda itu berkata lagi, “Naiklah engkau di bagian depan dan aku yang akan berada di belakangmu.” Beliau berkata, “Tidak, naiklah engkau di bagian depan di tempat yang

rata dan biarlah aku berada di belakang di tempat yang kasar.”85

Tetapi apabila beliau melihat seseorang melakukan kegiatan yang negatif, beliau bertutur kata sangat tegas dan lugas. Sebagai contoh:

“Pada suatu hari putra dari Amru bin Ash (gubernur Mesir) berpacu kuda dengan orang-orang Mesir. Tetapi kemudian mereka berselisih dalam menentukan pemenangnya. Putra gubernur Amr marah dan memukul orang Mesir tersebut seraya berkata, “Aku ini putra dua orang yang mulia.”

Perbuatan putra Amr itu dilaporkan kepada Khalifah Umar bin Khattab. Beliau lalu memanggil mereka dengan disertai gubernur Amr bin Ash sendiri. Setelah melakukan pengecekan, maka diputuskan orang Mesir tersebut harus membalas pukulan anak gubernur dengan pukulan lagi. Orang itu juga disuruh memukul gubernurnya, dengan demikian putranya tidak akan berani lagi memukul orang secara sembarangan. Hanya karena kekuasaan ayahnya ia berani melakukan hal tersebut.

Khalifah Umar bin Khattab lalu berkata kepada gubernur Amr bin Ash dengan nada keras, “Sejak kapan kamu memperbudak manusia padahal mereka dilahirkan oleh ibu-ibu mereka dalam keadaan bebas merdeka.”

Dengan berbagai alasan yang dapat diterima dan dengan disaksikan orang banyak, gubernur Amr akhirnya dapat terbebas dari hukuman. Karena Khalifah Umar bin Khattab tidak mau membeda-bedakan antara rakyat awam dengan penguasa.”86

Sikap seperti di atas Khalifah Umar lakukan untuk mendidik dan memberi pelajaran kepada masyarakatnya, bahwa Allah SWT akan membalas sikap hamba-Nya yang melakukan suatu kebaikan sekecil apapun, dan sebaliknya Allah akan membalas pula sikap hamba-Nya yang melakukan keburukan sekecil apapun.

85

Amru Khalid, Ibid., h. 133-134.

86

Abdullatif Ahmad ‘Aasyur, 10 Orang Dijamin Masuk Surga, (Jakarta: Gema Insani Press, 1991), h. 52-53.

b) Meletakkan Pembicaraan Sesuai pada Tempatnya

Khalifah Umar mampu menempatkan pembicaraan, dimana dia harus bersikap tegas dalam berbicara dan dimana dia harus bersikap lemah lembut kepada mad’unya. Sebagai contoh:

“Setelah menjadi khalifah, Umar bin Khattab berubah menjadi manusia lain. Beliau mengumumkan tentang dirinya dengan ucapannya; “Janganlah kamu mengira sifat kerasku tetap bercokol. Sejak awal ketika aku bersama Rasulullah SAW, aku selalu menjadi keamanan dan ketentraman negeri (menteri dalam negeri). Tetapi kini setelah urusan diserahkan kepadaku, akulah orang yang paling lemah di hadapan yang haq.”87

c) Memilih kata-kata yang akan dibicarakan

Khalifah Umar menyadari bahwa lisan dapat menunjukkan suasana hati. Lisan yang fasih, tegas dan penuh percaya diri merupakan gambaran kondisi hati seseorang yang tenang dan bersemangat. Beliau sangat hati-hati memilih kata-kata yang akan dibicarakan. Sebagai contoh:

“Pada masa Khalifah Umar terjadi kemarau panjang yang dahsyat yang dimulai pada akhir musim haji tahun 18 Hijriah sampai awal musim haji tahun 19 Hijriayah. Bumi menjadi kering dan hitam kelabu. Selama hampir setahun, tidak setetes air hujan turun.

Untuk mengatasi kemarau panjang tersebut, beliau memulai dari dirinya sendiri. Beliau membatasi diri dan keluarganya makan-makanan yang lezat, seperti; minyak

87

samin, daging, dan buah-buahan. Beliau menyuruh penata makanan agar menghidangkan roti dan minyak saja.

Kelaparan semakin meluas, banyak penduduk terancam mati kelaparan. Musim dingin tiba dan angin kencang pun membahana membawa maut. Peristiwa ini melanda seluruh Jazirah Arab. Penduduk pedalaman yang lapar datang memasuki kota Madinah. Mereka diterima Khalifah Umar dengan memberikan bantuan pangan sepenuhnya. Tapi semakin hari, persediaan makanan semakin menipis.

Khalifah Umar kemudian menulis surat ke beberapa gubernur. Isi suratnya kepada gubernur Amru bin Aash berbunyi:

“Dari: Hamba Allah Amirul Mukminin

Kepada Al’aashi ibnul Aash di tempat salam untukmu. Apakah kamu akan membiarkan aku dan rakyat sekelilingku binasa sedang kamu dan rakyat sekelilingmu hidup berkecukupan? Maka dari itu tolonglah aku, dan tolonglah.”

Gubernur Amru bin Aash menjawab surat Khalifah Umar. Inilah isi suratnya:

“Amma ba’du.

Bantuan dan pertolongan akan segera tiba. Aku akan mengirimkan kafilah-kafilah yang berawal di tempat anda dan berakhir di tempat kami. Wassalam.”

Kepada seluruh rakyatnya beliau berseru:

“Disediakan makanan secukupnya dan siapa saja dipersilakan makan. Barang siapa hendak mengambil untuk kebutuhannya dan kebutuhan keluarganya, maka dipersilakan ia datang mengambilnya.” 88

Sebenarnya musibah di atas sangat gawat, tetapi Khalifah Umar mampu mengatasinya dengan pikiran dan retorika yang tenang serta berhati besar. Beliau paham sekali, bagaimana harus bersikap dan bertindak sebelum mengambil keputusan. Beliau tidak mau dituduh membunuh kaumnya karena sikap “tegasnya” untuk tidak menerima bantuan dari wilayah-wilayah yang beliau kuasai. Tetapi dengan pemikiran Khalifah Umar yang jernih dan sikap yang tawadhu serta tidak mementingkan

88

diri sendiri, beliau meminta bantuan pangan dan lain sebagainya.

Dalam dokumen Metode Dakwah Khalifah Umar Bin Khattab (Halaman 66-70)