BAB IV DAKWAH UMAR BIN KHATTAB
ANALISIS METODE DAKWAH KHALIFAH UMAR BIN KHATTAB
A. Metode Dakwah Khalifah Umar bin Khattab
3) Titik Temu dalam Konteks Metodologi Dakwah
“Khalifah Umar bin Khattab pernah mengumpulkan orang banyak. Beliau berkata, “Wahai sekalian manusia, apa yang akan kalian lakukan jika aku condong dengan kepalaku pada dunia seperti ini?” Mendengar perkataannya itu orang-orang hanya diam.
Beliau kemudian mengulangnya lagi, dan tidak seorangpun yang berbicara. Beliau kemudian mengulangnya lagi untuk ketiga kalinya. Lalu keluarlah salah seorang dari kerumunan dan berkata kepadanya, “Jika engkau palingkan kepalamu kepada dunia seperti itu, maka kami akan meluruskanmu dengan pedang-pedang kami.” Khalifah Umar bin Khattab lalu berkata, “Segala puji bagi Allah SWT yang telah menjadikan dari umat Muhammad SAW seseorang yang akan meluruskan Umar dengan pedangnya jika Umar bengkok.”93
Dari peristiwa di atas, dapat dikatakan bahwa Khalifah Umar bin Khattab merupakan orang yang terbuka dan gentle. Beliau beranggapan bahwa apabila seorang pemimpin tidak mau menerima masukan dari rakyat ataupun sahabatnya, maka akan timbul suatu pertentangan yang sangat memungkinkan dapat meruntuhkan sendi-sendi akidah Islam dalam pemerintahannya.
93
Pada masa kepemimpinannya, Khalifah Umar sangat menekankan prinsip musyawarah dalam berbuat dan bertindak untuk mencapai kesepakatan. Beliau sangat hati-hati, teliti dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan.
d. Toleransi Tanpa Kehilangan Sibghah
“Tatkala Khalifah Umar bin Khattab melihat seseorang yang mengemis di jalan yang ternyata seorang Yahudi yang mengemis untuk membayar jizyah, dengan penuh belas kasih beliau berkata kepadanya, “Kami telah mengambilnya darimu pada saat kamu masih muda, kemudian kami memaksamu untuk mengemis saat kamu sudah tua. Tidak, demi Allah.” Kemudian Umar berkata kepadanya, “Kembalikanlah kepadanya semua yang telah ia bayarkan sebelumnya.” Kemudian beliau memerintahkan untuk memberikan harta kepada orang tersebut dari Baitul Maal milik kaum muslimin serta memerintahkan seluruh wilayah Islam membelanjakan sebagian harta dari Baitul Maal kaum muslimin untuk orang-orang fakir, anak-anak kecil, dan orang-orang yang lemah dari ahlul kitab untuk menafkahi hidup mereka.”94
Dari kejadian di atas, Khalifah Umar bin Khattab merupakan orang yang bijaksana. Beliau tidak membeda-bedakan rakyatnya dalam mendapat perlindungan dan kasih sayang darinya. Beliau tidak bersikap egois lantaran rakyatnya berbeda keyakinan dan memiliki kewajiban membayar jizyah. Oleh karena itu, Khalifah Umar mengambil keputusan bahwa orang-orang yang disebut di atas mendapatkan jaminan dari Baitul Maal.
94
e. Uswatun Hasanah
Dakwah sangat membutuhkan contoh nyata dan keteladanan. Khalifah Umar bin Khattab telah melakukan hal itu. Beliau sendiri yang menjadi figur dan panutan di medan dakwah. Keteladanan adalah unsur terpenting dalam pemerintahan Islam yang harus direalisasikan dalam perjalanan dakwah. Khususnya keteladanan utuh yang mencerminkan keutuhan Islam yang shahih dan segala ajaran dan tuntunannya tanpa kekeliruan.
Uswatun Hasanah sebagai Metode Dakwah
Sikap Khalifah Umar bin Khattab menunjukkan kesederhaan. Meskipun beliau adalah seorang Khalifah, namun beliau tetap makan secara sederhana. Demikian juga dalam hal berpakaian, beliau tetap mengenakan pakaian yang serba kasar. Sebagai contoh:
“Yarfa’, pelayan Amirul Mukminin berkata, “Kulihat pakaian Khalifah Umar telah dihiasi lebih dari dua puluh satu tambalan. Di antaranya yaitu empat tambalan berada di bahu. Pada suatu hari beliau terlambat menunaikan shalat jum’at kemudian keluar menghadap jamaah naik ke atas mimbar untuk menyampaikan alasan keterlambatannya kepada jamaah. Beliau berkata, “Demi Allah SWT, aku terlambat karena aku hanya memiliki satu baju, dan aku hendak mencucinya. Aku mencucinya sesaat sebelum tiba waktu shalat. Maka maafkanlah aku.”95
f. Dakwah bi Lisan al-Haal
Aplikasi Dakwah bi Lisan al-Haal
Upaya Khalifah Umar yang pertama untuk mengokohkan agama Islam adalah memantapkan aqidah ke dada seluruh umat Islam melalui
95
metode-metode dakwah yang telah diajarkan Rasulullah SAW dahulu. Penerapan asas hukum ini dilakukan sebagai prioritas utama sebelum asas-asas lainnya. Oleh Karena itu, sikap hidupnya yang serba sederhana merupakan hal yang memperkuat kebijaksanaannya untuk memantapkan aqidah umat.
Sebagai pemimpin, beliau bukanlah orang yang rakus dengan kekuasaan yang dimiliki. Walaupun kekuasaan berada di tangannya, beliau tidak pernah menekan rakyat. Beliau sudah merasa cukup dengan kesederhanaan dan apa yang dimiliki. Sebagai contoh:
“Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata, “Tidak halal bagiku dari harta Allah, kecuali dua stel pakaian. Pakaian yang satu untuk musim dingin dan yang satu lagi untuk musim panas. Pangan untuk keluargaku adalah seperti untuk seorang dari Quraisy yang bukan ukuran terkaya, lagi pula aku termasuk salah seorang kaum muslimin.”
Ketika akan melantik seorang pejabat, beliau menulis surat perjanjian dengan disaksikan oleh beberapa orang kaum Muhajirin. Isi perjanjian tersebut: “Tidak boleh menunggang kuda yang biasa untuk angkut barang, tidak boleh memilih-milih makanan, tidak boleh berpakaian mewah, tidak boleh menutup pintu rumah bagi orang-orang yang berkepentingan.” Kalau melanggar salah satu isi perjanjian ini maka ia akan dikenakan hukuman.96
Dari uraian panjang di atas tentang metode dakwah al-Hikmah yang berkaitan dengan dakwah Khalifah Umar bin Khattab. Berdasarkan data-data di atas tampak bahwa metode al-Hikmah butir 1 (satu) hanya dilaksanakan tentang mengenal strata mad’u, sedangkan yang tidak ditemukan tentang mengenal rumpun mad’u. Selain itu, yang tidak ditemukan pula adalah asas-asas toleransi dan cara berpisah dalam konteks hijrah.
Berdasarkan data di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa banyak hal-hal yang dilakukan khalifah Umar sesuai dengan bagian-bagian yang ada dalam
96
metode al-Hikmah. Tetapi, ada sebagian kecil hal-hal yang tidak dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab.
2. Al-Mau’idzatil al-Hasanah
Kerja dakwah adalah kerja ”memberi rasa” pada kehidupan umat manusia dengan nilai-nilai iman dan taqwa demi kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Kerja ini tidak pernah berhenti hingga kematian menjemput, selama itu pula manusia berkewajiban menyampaikan risalah Allah SWT dan Rasulnya.
1) Bentuk Wasiat yang Mempunyai Interelasi dengan Dakwah