BAB IV DAKWAH UMAR BIN KHATTAB
ANALISIS METODE DAKWAH KHALIFAH UMAR BIN KHATTAB
B. Relevansi Metode Dakwah Khalifah Umar bin Khattab pada Masa Sekarang
Dalam menjalankan dakwah untuk menegakkan Daulah Islamiyah. Khalifah Umar bin Khattab melaksanakan beberapa metode dakwah yang ada, yaitu al-Hikmah dan al-Mauidzatil Hasanah. Beliau tidak menggunakan metode dakwah al-Mujadalah. Sebagaimana maksud surat an-Nahl ayat 125 yang berbunyi:
☺
☺
☺
☺
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. an-Nahl: 125)
1. Al-Hikmah
a. Mengenal Strata Mad’u
Metode dakwah yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab di Madinah ini merupakan bagian dari dakwah bil hikmah karena metode ini menekankan pada penyebaran ilmu pengetahuan. Dalam menyampaikan dakwahnya, Khalifah Umar tidak terlalu mementingkan strata mad’u.
Dalam konteks kekinian metode dakwah ini tidak relevan untuk diterapkan. Hal ini dikarenakan ada banyak perbedaan-perbedaan baik tingkat sosial dan tingkat pendidikan yang harus dihadapi oleh da’i.
Tingkat pendidikan mad’u sangat mempengaruhi pemahamannya dalam menerima pesan dakwah dari seorang da’i. Oleh karena itu seorang da’i harus mampu memperhatikan dan menyesuaikan pesan dakwah pada waktu menyampaikan dakwahnya.
b. Bila Harus Bicara dan Diam
Metode dakwah yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab ini merupakan bagian dari dakwah bil hikmah, karena metode ini menekankan bahwa di mana Khalifah Umar harus bicara dan di mana beliau harus bicara. Dalam menyampaikan dakwahnya, Khalifah Umar selalu memperhatikan kondisi psikologis si mad’u agar dakwahnya dapat dipahami dan dikerjakan. Khalifah Umar mampu memposisikan dirinya, tidak egois dan sombong dalam kehidupan sehari-harinya. Beliau selalu meminta nasihat kepada para sahabat bahkan rakyatnya agar tidak tergelincir ke lembah kekufuran.
Dalam konteks kekinian metode dakwah ini relevan untuk diterapkan pada masa kini. Hal ini dikarenakan banyak da’i yang kurang memperhatikan kondisi psikologis mad’unya, serta tingkat sosial dan tingkat pendidikan yang harus dihadapi oleh da’i. karena hal itu sangat mempengaruhi pemahaman mad’u dalam menerima pesan dakwah dari seorang da’i.
c. Mencari Titik Temu dalam Dakwah
Metode ini dikategorikan sebagai metode bil hikmah. Sebagaimana diketahui bahwa dakwah berarti aktifitas mengajak manusia ke jalan Allah SWT yang sifatnya mengajak. Dalam
mengajak tentunya tidak diperkenankan dengan cara-cara yang memaksa, menghakimi dan sebisa mungkin menghindari konfrontasi yang akan merugikan dan merusak arti dakwah itu sendiri.
Namun, realitas menunjukkan banyaknya perbedaan baik dari segi kultural maupun sosial yang tentu menggambarkan perbedaan paradigma dan cara pandang mad’u sehingga disinilah dilemanya. Di satu sisi dakwah tidak boleh keluar dari koridor mengajak. Di sisi lain dakwah merupakan suatu kewajiban yang harus disampaikan kepada umat.
Sementara itu seorang da’i harus menyadari adanya benturan-benturan nilai di masyarakat. Maka peranan seorang da’i dituntut untuk membaca mad’u dari berbagai persepsinya sehingga da’i dapat mengetahui darimana dakwah harus dimulai. Dengan kata lain da’i
harus mencari titik temu, sehingga dakwah yang disampaikan memiliki gelombang yang sama dengan alam pikiran mad’u. Kegagalan mencari titik temu merupakan awal dari kegagalan berdakwah. Karena ketika pertama kali da’i menyampaikan risalah akan mendapat penolakan jika tidak mengetahui betul kondisi alam pikiran mad’u.
Mencari titik temu dalam berdakwah merupakan kunci keberlangsungan untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah. Da’i
harus mencari kalimatun sawa’. Kalimat yang sama yang mempertemukan pikiran da’i dengan mad’u.
Dalam upaya mencari titik temu ini Khalifah Umar bin Khattab melakukan musyarawah kepada para sahabat untuk memutuskan suatu
perkara yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Beliau tidak gegabah dalam memutuskan suatu perkara. Oleh karena itu beliau selalu menimbang-nimbang suatu perkara dengan seksama agar tidak menimbulkan kemudharatan kepada rakyatnya.
d. Toleransi Tanpa Kehilangan Sibghah
Hal ini merupakan bagian daripada metode dakwah bil hikmah
karena menekankan pentingnya titik temu dalam perbedaan. Titik temu adalah titik tolak di mana perbedaan-perbedaan dapat dipertemukan dalam satu titik persamaan. Dari titik temu inilah, jika diperoleh hal yang sama, maka suatu aktifitas bisa dilanjutkan. Karena secara logika, bila sesuatu dikatakan ada persamaan tentulah terdapat perbedaan di dalamnya, begitu juga sebaliknya, bila ada perbedaan, pastilah ada persamaan. Hal inilah yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab kepada mad’unya.
Dalam konteks kekinian perbedaan suku dan bangsa menjadi lebur dalam persamaan akidah. Dalam artian Islam menekankan pentingnya persatuan dan persaudaraan. Dalam Quran surat al-Hujuraat ayat 10 yang berbunyi:
☺
☺
⌧
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara saudara-saudaramu dan bertaqwalah semoga engkau mendapat rahmat-Nya.” (Q.S. al-Hujuraat: 10)
Dakwah sangat membutuhkan contoh nyata dan keteladanan. Khalifah Umar bin Khattab telah melakukan hal itu. Beliau sendiri yang menjadi figur dan panutan di medan dakwah. Kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab adalah penyeru kebenaran, yang senantiasa mengamalkannya, semangat di dalamnya dan bersegera menyambut seruannya serta menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang. Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Q.S. ash-Shaff: 2-3)
Seorang da’i harus memiliki amal shalih, yang diserukannya kepada Allah SWT dengan lisannya juga dengan perbuatannya. Seorang da’i adalah penyeru dengan lisannya sekaligus dengan perbuatannya. Dengan sikap seperti itu mad’u akan terpengaruh dan terkesan dengan dakwahnya, mau mengambil manfaat dengan menerima dakwahnya. Khalifah Umar telah melakukan hal itu semua. Beliaulah salah satu sahabat Rasulullah SAW yang mampu membedakan antara hak dan yang batil, oleh karena itu Rasulullah SAW menyebut beliau sebagai al-Faruq.
Dalam konteks kekinian metode dakwah ini masih relevan digunakan pada masa kini. Karena kebanyakan orang-orang awam dan
mereka yang berpendidikan rendah yang tidak mempunyai ilmu kecuali hanya sedikit, mad’u seperti mereka hanya bisa mengambil manfaat dari sirah, akhlak yang utama dan amal yang shalih, di mana mereka tidak mampu mengambil manfaat dari perkataan para da’i
yang sering tidak mampu mereka pahami.
Mayoritas masyarakat Indonesia adalah muslim yang mewarisi keislaman orang tua dan nenek moyang, berikut dengan segala bentuk kotoran; bid’ah penyimpangan dan khurafat. Perasaan lemah, terbelakang, taklid, minder, materialisme, dan persepsi yang keliru tentang kehidupan dunia adalah sikap warisan dari para penjajah di negeri Indonesia.
Sementara, medan dakwah pada masa sekarang sangat berbeda dengan masa Khalifah Umar bin Khattab. Objek dakwah pada masa Khalifah Umar adalah kaum musyrikin dan kafir yang diseru untuk memeluk Islam dan berimana kepada Allah SWT dengan harus meninggalkan peribadatan kepada patung. Adapun yang menjadi objek dakwah pada masa sekarang adalah kaum muslimin yang meyakini bahwa apa yang mereka anut sebagai warisan dari generasi sebelumnya adalah Islam yang sesungguhnya, meskipun di dalamnya masih terdapat berbagai kotoran dan penyimpangan.
Oleh karena itu keteladanan pada masa sekarang harus muncul dalam berbagai bidang kehidupan, sehingga terbentuk masyarakat muslim yang menjunjung tinggi al-Quran dan as-Sunnah.
Pada kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab, beliau menempatkan dirinya sama dengan rakyat. Beliau tidak berani mengucapkan suatu amalan kepada rakyatnya sebelum dia sendiri melakukan amal tersebut.
Misalnya sebelum beliau naik mimbar dan melarang manusia dari mengerjakan sesuatu terlebih dahulu beliau mengumpulkan keluarganya, lalu berkata kepada mereka: “Sesungguhnya aku akan melarang manusia dari ini dan ini dan sesungguhnya manusia itu memandang kalian sebagaimana burung (gagak) memandang daging. Aku bersumpah dengan nama Allah, aku tidak mendapatkan salah seorang da’i dari kalian yang mengerjakan apa yang telah aku larangkan kepada manusia, kecuali adzab akan dilipatkan atasku”101
Dalam konteks dakwah khususnya dakwah bil lisan al-haal, pemahaman tentang kebutuhan sasaran dakwah mutlak diperlukan. Berdakwah di kalangan masyarakat miskin tidak akan efektif dengan hanya berceramah, tetapi akan lebih efektif bila dakwah dilakukan dengan; menyantuni mereka, memberikan makan, pakaian dan sebagainya.
Dakwah bil haal ditentukan pada sikap, perilaku dan kegiatan-kegiatan nyata yang interaktif mendekatkan masyarakat pada kebutuhannya yang secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi peningkatan kualitas keberagamaan sekaligus juga kualitas hidup mad’unya.
Dalam konteks kekinian metode dakwah ini masih relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Pada masa sekarang mad’u lebih senang melihat perilaku da’i yang baik ketimbang hanya pandai berceramah dan mengumbar janji-janji belaka. Seorang da’i yang baik
101
Said bin Ali bin Wahf al-Qahtani, 9 Pilar Keberhasilan Da’i di Medan Dakwah, (Solo: Pustaka Arafah, 2001), h. 313.
adalah da’i yang lebih banyak berdakwah dengan perbuatan daripada hanya berbicara saja.
2. Al-Mau’idzatil al-Hasanah
a. Nasihat
Metode dakwah yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab ini merupakan bagian dari metode dakwah al-Mau’idzatil al-Hasanah. Khalifah Umar sering memberi nasihat kepada kaum muslimin waktu itu untuk menolong mereka dalam hal kebaikan, dan melarang mereka berbuat keburukan, membimbing kepada petunjuk dan mencegah dengan sekuat tenaga dari kesesatan, mencintai kebaikan untuk mereka sebagaimana beliau mencintainya untuk dirinya sendiri. Hal itu dikarenakan mereka itu semua adalah hamba-hamba Allah SWT, maka haruslah bagi mereka seorang hamba untuk memandang mereka dengan kacamata yang satu yaitu kacamata kebenaran.
Dalam konteks kekinian metode dakwah ini masih relevan diterapkan pada kondisi masyarakat saat ini. Memberikan nasihat merupakan salah satu cara seorang da’i dalam menuntun mad’unya menuju kepada jalan yang baik untuk selalu menjauhi larangan-Nya dan melaksanakan segala perintah-Nya dengan seluruh kemampuan yang ada.
b. Tabsyir wa Tandzir
Metode dakwah yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab ini merupakan bagian dari metode dakwah al-Mau’idzatil al-Hasanah.
Bentuk metode ini sangat penting dilakukan, terutama kepada mad’u
yang mempunyai latar belakang pendidikan yang rendah dan pemahaman keagamaan yang lemah, sehingga perlu adanya motivasi dan harapan dalam beragama melalui bentuk tabsyir (berita gembira) di satu sisi, memberikan dorongan dalam meningkatkan keimanan dan beribadah. Tetapi, pada sisi lain, perlu adanya tindakan preventif agar
mad’u tidak mudah untuk berbuat kemaksiatan, maka mad’u harus
diberikan tandzir (peringatan) dan ancaman.
Dalam konteks kekinian metode dakwah ini masih relevan diterapkan pada kondisi masyarakat saat ini. Karena mayoritas penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan dan tingkat pendidikan yang masih rendah. Metode tersebut digunakan da’i
sebagai penguat keimanan sekaligus sebagai sebuah harapan dan menjadi motivasi dalam beribadah serta beramal shalih bagi mad’u.
c. Wasiat
Metode dakwah yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab ini merupakan bagian dari metode dakwah al-Mau’idzatil al-Hasanah. Dalam dakwahnya khalifah Umar selalu memberi wasiat kepada
mad’unya dan kepada seluruh komandan perang beserta tentaranya
beliau tidak lupa selalu memberi wasiatnya. Hal itu beliau lakukan semata-mata hanya untuk memberi motivasi dan meluruskan niat para
mad’u dan pasukannya bahwa yang mereka lakukan bukan untuk
Khalifah Umar semata, tetapi untuk mereka sendiri dan untuk menegakkan kalimatullah di muka bumi ini.
Dalam konteks kekinian metode dakwah ini masih relevan diterapkan pada kondisi masyarakat saat ini. Wasiat diberikan apabila seorang da’i telah mampu membawa mad’u dalam memahami seruannya atau saat memberi kata akhir dalam dakwahnya (tabligh). Hal tersebut dilakukan agar dapat mengarahkan mad’u dalam merealisasikan keterkaitan yang erat antara materi dakwah yang telah disampaikan dengan pengamalan menuju ketakwaan.
Dengan metode tersebut seorang da’i dapat memberdayakan daya nalar intelektual mad’u untuk memahami ajaran-ajaran Islam serta membangun daya ingat mad’u secara kontinu, karena ada persoalan agama yang sulit untuk dianalisa. Oleh karena itu da’i
dituntut agar dapat membangun nilai-nilai kesabaran, kasih sayang dan kebenaran bagi kehidupan mad’u.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah melalui kajian yang relatif panjang tentang metode dakwah Khalifah Umar bin Khattab, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sesuai dengan pembatasan masalah pada skripsi ini yaitu:
1. Metode dakwah yang Khalifah Umar bin Khattab gunakan adalah metode dakwah al-Hikmah dan al-Mau’idzatil Hasanah. Beliau tidak menggunakan metode dakwah al-Mujadalah dalam menjalankan dakwahnya. Hal itu disebabkan karena pada waktu itu banyak kerajaan-kerajaan kaum musyrik tidak mau melakukan perdebatan-perdebatan yang hanya membuang-buang waktu saja menurut mereka. Oleh karena itu Khalifah Umar memeranginya hingga memperoleh kemenangan yang gemilang.
2. Khalifah Umar bin Khattab telah menjadi figur dan panutan di medan dakwah. Keteladanan adalah unsur terpenting dalam pemerintahan Islam yang harus direalisasikan dalam perjalanan dakwah. Khususnya keteladanan utuh yang mencerminkan keutuhan Islam yang shahih dan segala ajaran dan tuntunannya tanpa kekeliruan.
3. Metode dakwah yang Khalifah Umar bin Khattab gunakan masih relevan digunakan pada masa sekarang saat ini. Hal ini disebabkan karena beliau menggunakan metode-metode ini sebagai upaya mengatur masyarakat baik muslim dan non muslim maupun kelompok lain. Motivasi Khalifah Umar karena pada saat itu kelompok masyarakatnya terdiri dari berbagai agama. Hal itu sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini.
B. Saran-saran
Dengan mengacu pada keseluruhan pembahasan ini, penulis menyarankan hal-hal sebagai berikut:
1. Merupakan suatu keharusan bagi para da’i agar selalu berpedoman pada sumber-sumber ajaran Islam sebagai tuntunan.
2. Terus mengkaji perjalan para sahabat Rasulullah SAW dan ulama dalam berdakwah dengan metode yang beragam untuk dijadikan sebagai perbandingan dan contoh sehingga dapat mencapai hasil yang optimal. 3. dakwah tidak terbatas pada ceramah saja, tetapi memiliki pengertian yang
lebih luas cakupannya, bahkan dengan perbuatan merupakan cara efektif dalam berdakwah.
4. Dengan kemajuan teknologi masa kini, para da’i hendaknya mengenal media-media dan dapat memanfaatkannya dalam aktifitas dakwah.