BAB IV DAKWAH UMAR BIN KHATTAB
D. Macam-macam Metode Dakwah
30
Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), h. 43.
31
Sayid Muhammad Nuh, Diterjemahkan oleh: Ashfa Afkarina, Dakwah Fardiyah: Pendekatan Personal dalam Dakwah, (Solo: Era Intermedia, 2000), h. 26.
Sumber metode dakwah yang terdapat di dalam al-Quran menunjukkan ragam yang banyak, seperti hikmah, nasihat yang benar dan mujadalah atau diskusi atau berbantah dengan cara yang paling baik. Allah SWT berfirman dalam surat an-Nahl ayat 125 yang berbunyi:
☺
☺
☺
☺
”Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”(Q.S. an-Nahl: 125)
Di bawah ini dijelaskan tentang metode-metode dakwah di atas, yaitu:32 1. Al-Hikmah
Perkataan hikmah biasa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan bijaksana atau kebijaksanaan. Kata hikmah dalam al-Quran disebutkan sebanyak 20 kali baik dalam bentuk nakiroh maupun ma’rifat. Bentuk masdarnya adalah hukman yang diartikan secara makna aslinya adalah mencegah. Jika dikaitkan dengan hukum berarti mencegah dari kezaliman, dan jika dikaitkan dengan dakwah maka berarti menghindari hal-hal yang kurang relevan dalam melaksanakan tugas dakwah.
Al-Hikmah diartikan pula sebagai al-’Adl (keadilan), al-Haq
(kebenaran), al-Hilm (ketabahan), al-’Ilm (pengetahuan) terakhir an-Nubuwwah (kenabian). Di samping itu, al-Hikmah juga diartikan sebagai menempatkan sesuatu pada proporsinya.
32
Munzier Suparta, Harjanti Hefni (ed), Metode Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2003), h. 9.
Sebagai metode dakwah, al-Hikmah diartikan bijaksana, akal budi yang mulia, dada yang lapang, hati yang bersih, menarik perhatian orang kepada agama atau Allah SWT.
Menurut al-Ashma’i asal mula didirikan hukumah (pemerintahan) ialah untuk mencegah manusia dari perbuatan zalim. Maka digunakan istilah hikmatul lijam, karena lijam (cambuk atau kekang kuda) itu digunakan untuk mencegah tindakan hewan.
Al-Hikmah juga berarti tali kekang pada binatang sebagaimana
dijelaskan dalam kitab Mishbahul Munir. Diartikan demikian karena tali kekang itu membuat penunggang kudanya dapat mengendalikan kudanya sehingga si penunggang dapat mengaturnya baik untuk perintah lari atau berhenti. Dari kiasan ini maka orang yang memiliki hikmah berarti orang yang mempunyai kendali diri yang dapat mencegah diri dari hal-hal yang kurang bernilai atau menurut Ahmad bin Munir al-Muqri’ al-Fayumi berarti dapat mencegah dari perbuatan yang hina.33
Para ahli dalam mendefinisikan hikmah ini bermacam-macam, antara lain adalah:
Syeikh Muhammad Abduh berpendapat bahwa, hikmah adalah mengetahui rahasia dan faedah di dalam tiap-tiap hal. Hikmah juga digunakan dalam arti ucapan yang sedikit lafazh akan tetapi banyak makna.34 Diartikan pula meletakkan sesuatu pada tempat atau semestinya. Dalam Tafsir al-Manar ia juga mengartikan hikmah adalah sebagai ilmu yang shahih (benar dan sehat) yang menggerakkan kemauan untuk melakukan sesuatu perbuatan yang bermanfaat.35
Prof. DR. Toha Yahya Umar, M.A., mengartikan hikmah adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya dengan berpikir, berusaha menyusun
33
Ahmad bin Muhammad al-Muqrib’ al-Fayumi, al-Misbahul Munir, h. 120.
34
Munzier Suparta, Harjanti Hefni (ed), Op. Cit., h. 9.
35
M. Rosyad Shaleh, Manajemen Dakwah Islam, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1993), h. 73.
dan mengatur dengan cara yang sesuai keadaan zaman dengan tidak bertentangan dengan larangan Allah SWT.36
Ibnu Qoyyim berpendapat bahwa pengertian hikmah yang paling tepat adalah seperti yang dikatakan oleh Mujahid dan Malik yang mendefinisikan bahwa hikmah adalah pengetahuan tentang kebenaran dan pengalamannya, ketepatan dalam perkataan dan pengalamannya.37
Dari beberapa pengertian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa al-Hikmah adalah merupakan kemampuan da’i dalam memilih, memilah dan menyelaraskan teknik dakwah dengan kondisi objektif
mad’u.
Di samping itu juga al-Hikmah merupakan kemampuan da’i dalam menjelaskan doktrin-doktrin Islam serta realitas yang ada dengan
argumentasi logis dan bahasa yang komunikatif. Oleh karena itu,
al-Hikmah adalah sebagai sebuah sistem yang menyatukan antara
kemampuan teoritis dan praktis dalam dakwah.
Dalam dunia dakwah, hikmah adalah penentu sukses tidaknya dakwah. Dalam menghadapi mad’u yang beragam tingkat pendidikan, strata sosial, dan latar belakang budaya, para da’i memerlukan hikmah,
sehingga ajaran Islam mampu memasuki ruang hati para mad’u dengan tepat. Oleh karena itu, para da’i dituntut untuk mampu mengerti dan memahami sekaligus memanfaatkan latar belakangnya, sehingga ide-ide yang diterima dirasakan sebagai sesuatu yang menyentuh dan menyejukkan qalbunya.
36
Hasanuddin, Hukum Dakwah, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), h. 35.
37
Tidak semua orang mampu meraih hikmah, sebab Allah SWT hanya memberikannya untuk orang yang layak mendapatkannya. Barangsiapa mendapatkannya, maka dia telah memperoleh karunia besar dari Allah SWT. Allah SWT berfirman:
☺
☺
”Allah menganugerahkan al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang al Quran dan as Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Q.S. al-Baqarah : 269)
Hikmah adalah bekal da’i menuju sukses. Karunia Allah yang
diberikan kepada orang yang mendapatkan hikmah insya Allah juga akan berimbas kepada mad’unya, sehingga mereka termotivasi untuk merubah diri dan mengamalkan apa yang disarankan da’i kepada mereka.
Hikmah merupakan pokok awal yang harus dimiliki oleh seorang
da’i dalam berdakwah. Karena dari hikmah ini akan lahir kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam menerapkan langkah-langkah dakwah baik secara
metodologis maupun praktis. Oleh karena itu, hikmah yang memiliki
multidefinisi mengandung arti dan makna yang berbeda tergantung dari
sisi mana melihatnya.
Secara bahasa, mau’idzah hasanah terdiri dari dua kata, yaitu
mau’idzah dan hasanah. Kata mau’idzah berasal dari kata wa’adza-ya ’idzu-wa’dzan-’idzatan yang berarti; nasihat, bimbingan, pendidikan dan peringatan,38 sementara hasanah merupakan kebalikan dari sayyi’ah yang artinya kebaikan lawannya kejelekan.
Adapun pengertian secara istilah, ada beberapa pendapat, antara lain; a. Menurut Imam Abdullah bin Ahmad an-Nasafi yang dikutip oleh H.
Hasanuddin, al-Mau’idzatil Hasanah adalah perkataan-perkataan yang tidak tersembunyi bagi mereka, bahwa engkau memberikan nasihat dan menghendaki manfaat kepada mereka atau dengan al-Quran.39 b. Menurut Abdul Hamid al-Bilali, al-Mau’izhah al-Hasanah merupakan
salah satu manhaj (metode) dalam dakwah untuk mengajak ke jalan Allah dengan memberikan nasihat atau membimbing dengan lemah lembut agar mereka mau berbuat baik.40
Dari pengertian yang dipaparkan di atas, penulis menyimpulkan bahwa mau’idzatil hasanah dapat diartikan sebagai ungkapan yang mengandung unsur bimbingan, pendidikan, pengajaran, kisah-kisah, berita gembira, peringatan, pesan-pesan positif (wasiat) yang bisa dijadikan pedoman dalam kehidupan agar mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat.
3. Al-Mujadalah bi al-Lati Hiya Ahsan
38
Lois Ma’luf, Munjid fi al-Lughah wa A’lam, (Beirut: Dar Fikr, 1986), h. 907, Ibnu Mandzur, Lisan al-Arab, (Beirut: Dar Fikr, 1990), jilid IV, h. 466.
39
Hasanuddin, Hukum Dakwah, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), h. 37.
40
Abdul Hamid al-Bilali, Fiqh al-Dakwah fi Ingkar al-Mungkar, (Kuwait: Dar al-Dakwah, 1989), h. 260.
Dari segi etimologi (bahasa) lafazh mujadalah berasal dari kata
jadala yang bermakna memintal, melilit. Apabila ditambahkan alif pada huruf jim yang mengikuti wazan faa ala, jaa dala dapat bermakan berdebat, dan mujaadalah bermakna perdebatan.41
Kata jadala dapat bermakna menarik tali dan mengikatnya guna menguatkan sesuatu. Orang yang berdebat bagaikan menarik dengan ucapan untuk meyakinkan lawannya dengan menguatkan pendapatnya melalui argumentasi yang disampaikan.42
Dari segi istilah (terminologi) terdapat beberapa pengertian al-Mujadalah (al-Hiwar) dari segi istilah. al-Mujadalah (al-Hiwar) berarti upaya tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, tanpa adanya suasana yang mengharuskan lahirnya permusuhan di antara keduanya.43 Sedangkan menurut Dr. Sayyid Muhammad Thantawi ialah suatu upaya yang bertujuan untuk mengalahkan pendapat lawan dengan cara menyajikan argumentasi dan bukti yang kuat.
Dari pengertian di atas, penulis menyimpulkan bahwa, al-mujadalah
merupakan tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, yang tidak melahirkan permusuhan dengan tujuan agar lawan menerima pendapat yang diajukan dengan memberikan argumentasi dan bukti yang kuat.
41
Ahmad Warson al-Munawwir, Al-Munawwir, (Jakarta: Pustaka Progresif, 1997), h. 175.
42
M. Quraisy Shihab, Tafsir al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2000), h. 553.
43
Ali al-Jarisyah, Adab al-Khiwar wa al-Mudhoroh, (Al-Munawaroh: Dar al-Wifa, 1989), h. 19.
BAB III
BIOGRAFI UMAR BIN KHATTAB