• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aspek-Aspek Pendidikan Islam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Pendidikan Islam

3. Aspek-Aspek Pendidikan Islam

Pendidikan Islam sebagaimana pendidikan lainnya memiliki berbagai aspek yang tercakup di dalamnya. Aspek tersebut dapat dilihat dari segi cakupan materi didikannya, filsafatnya, sejarahnya, kelembagaannya, sistemnya, dari segi kedudukannya sebagai ilmu. Dari segi aspek materi didikannya, pendidikan Islam sekurang-kurangnya mencakup pendidikan fisik, akal, agama (aqidah dan syariah), akhlak dan kejiwaan, rasa keindahan, dan sosial kemasyarakatan. (Zakiah Daradjat,1994:1)

Berbagai materi yang tercakup dalam pendidikan Islam tersebut dapat dilihat dalam Al-Quran dan As-Sunnah serta pendapat para ulama.

Pendapat lain mengatakan bahwa materi pendidikan Islam itu pada prinsipnya ada dua, yaitu materi didikan yang berkenaan dengan masalah keduniaan dan materi didikan yang berkenaan dengan masalah keakhiratan. Hal ini didasarkan pada kandungan ajaran Islam yang mengajarkan kebahagian hidup di dunia dan akhirat. (M.Natsir,1954:53-61)

Sedangkan, sejarah atau periode, pendidikan Islam mencakup sebagai berikut:

a. Periode pembinaan Islam (611-632) yang berlangsung pada zaman Nabi Muhammad Saw masa ini berlangsung sejak Nabi Muhammad Saw menerima wahyu dan menerima pengangkatannya sebagai rasul, sampai dengan lengkap dan sempurnanya ajaran Islam menjadi warisan budaya umat Islam. Masa tersebut berlangsung selama lebih kurang 23 tahun, yaitu sejak Nabi Muhammad Saw menerima wahyu pertama kali, yaitu tanggal 17 bulan Ramadhan di tahun sebelum hijrah, bertepatan dengan 6 Agustus 610 M., sampai dengan wafatnya pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal, tahun 11 hijriah, bertepatan dengan 8 Juni 832 M.

b. Periode pertumbuhan pendidikan Islam (632-750) yang berlangsung sejak zaman Nabi Muhammad wafat sampai masa akhir Bani Umayyah yang di warnai oleh berkembangnya ilmu-ilmu Naqliyah.

Pada masa pertumbuhan dan perkembangannya itu, pendidikan Islam mempunyai dua sasaran. Pertama, yaitu generasi muda sebagai generasi penerus dan masyarakat bangsa lain yang belum menerima ajaran Islam; dan kedua, adalah penyampaian ajaran Islam dan usaha internalisasinya dalam masyarakat bangsa yang

baru menerimanya yang di dalam Islam lazim disebut dengan sebagai dakwah Islami.

c. Periode kejayaan (puncak perkembangan) pendidikan Islam (750-1258), yang berlangsung sejak permulaan Daulah Abbasiyah sampai dengan jatuhnya Baghdad, yang diwarnai oleh berkembangnya ilmu Akliah dan timbulnya madrasah, serta memuncaknya perkembangan kebudayaan Islam.

d. Periode kemunduran Pendidikan Islam (1258-1798), yaitu sejak jatuhnya Baghdad sampai jatuhnya Mesir ke tangan Napoleon, yang ditandai dengan runtuhnya sendi-sendi kebudayaan Islam dan berpindahnya pusat-pusat pengembangan kebudayaan ke dunia Barat.

e. Periode pembaharuan pendidikan Islam (1798-sekarang) yang berlangsung sejak pendudukan Mesir oleh Napoleon sampai masa kini, yang di tandai oleh gejala-gejala kembangkitan kembali umat dan kebudayaan Islam.(Zuhairini,dkk, 2006:13)

Selanjutnya, dilihat dari segi kelembagaannya pendidikan Islam mengenal adanya pendidikan yang dilaksanakan di rumah, mesjid, pesantren, dan madrasah dengan berbagai corak dan pendekatannya, lembaga-lembaga pendidikan Islam ini dapat dibagi lagi menurut periodesasinya, yaitu lembaga pendidikan Islam zaman Rasulullah Saw., lembaga pendidikan di zaman Khulafaur Rasyidin, lembaga pendidikan di zaman Umayyah, dan lembaga pendidikan di zaman Abbasiyah dan Andalusia.(Abuddin Nata, 2010:342)

Selanjutnya, pendidikan Islam sebagai sistem adalah suatu kegiatan yang di dalamnya mengandung sapek tujuan, kurikulum, guru

(pelaksana pendidikan), metode, pendekatan, sarana prasarana, lingkungan, administrasi, dan sebagainya yang antara satu dan lainnya saling berkaitan dan membentuk Sistem yang terpadu .

Apabila salah satu aspek pendidikan tersebut berubah, kurikulum, guru, metode, pendekatan dan lainnya akan berubah. Dari berbagai aspek pendidikan demikian selanjutnya telah membentuk berbagai disiplin ilmu pendidikan Islam, yaitu ilmu yang membahas berbagai masalah yang berkaitan dengan pendidikan. Dalam hubungan ini dijumpai adanya ilmu yang khusus membahas tujuan pendidikan yang dipadukan dengan Filsafat pendidikan Islam; ilmu yang membahas tentang kurikulum, ilmu yang membahas tentang guru, lingkungan pendidikan, administrasi pendidikan dan sebagainya.

(Abuddin Nata, 2010:343)

Sehingga dari uraian di atas penulis menarik kesimpulan mengenai aspek-aspek pendidikan Islam, adalah saling melengkapi antara satu dengan yang lain baik dari segi materi didikannya, sejarahnya, kelembagaannya, sistemnya dan kedudukannya sebagai ilmu.

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah kajian pemikiran tokoh pendidikan yang menggunakan telaah kepustakaan (Library Research) yang difokuskan pada penelusuran dan penelaan literature serta bahan pustaka yang dianggap ada kaitannya dengan Muhammad Abduh dan pemikirannya tentang pendidikan Islam.

B. Variabel Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini yang diteliti adalah Muhammad Abduh dan pemikirannya tentang pendidikan Islam.

Data variabel tersebut dianalisis berdasarkan literatur yang ada tanpa memberikan analisis khusus.

Adapun variabel dalam penelitian ini adalah:

1. Muhammad Abduh sebagai independent variabel (variabel bebas) yaitu menjadi sebab terjadinya atau adanya suatu perubahan pada dependent variabel (variabel terikat).

2. Pendidikan Islam sebagai dependent variabel (variabel terikat) yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat adanya independent variabel (variabel bebas).

C. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang ditempuh penulis yaitu melakukan riset kepustakaan (library research) yaitu suatu analisis yang penulis pergunakan dengan jalan membaca dan menelaah beberapa literatur karya ilmiah, buku maupun laman website yang ada kaitannya dengan skripsi yang akan diteliti dengan menggunakan cara pengambilan data sebagai berikut:

1. Kutipan langsung yaitu kutipan secara langsung tanpa mengubah satu katapun dan dari kata-kata pengarang.

2. Kutipan tidak langsung yaitu mengutip seluruh isi bacaan dengan menggunakan kata-kata sipeneliti atau si pembaca sendiri.

Ada dua sumber penelitian skripsi ini:

a. Sumber Data Primer

Sumber data primer maksudnya adalah berupa buku-buku yang secara khusus membahas tentang Muhammad Abduh dan Pemikirannya tentang Pendidikan Islam.

b. Sumber Data Sekunder

Data sekunder adalah buku-buku, jurnal, laman website yang dapat mendukung permasalahan pokok yang dibahas.

D. Teknik Pengelolaan Data

Seluruh data yang dihimpun melalui riset kepustakaan semua data bersifat kualitatif, yaitu pengungkapan data melalui deskripsi (pemaparan), sehingga dalam pengelolaannya yaitu mengadakan dan mengemukakan sifat data yang diperoleh kemudian dianalisis lebih lanjut guna mendapatkan kesimpulan.

E. Teknik Analisis Data

Sebagai peneliti kualitatif, pada tahap analisis setidak-tidaknya ada tiga tahapan yang dilalui dalam penelitian ini, yaitu: reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan (conclusion drawing). Tiga komponen tersebut berproses secara siklus.

Model yang demikian terkenal dengan sebutan model analisis interaktif (Interaktive Model of Analysis).

Juga menggunakan metode induktif dan deduktif. Metode induktif yaitu berpola pikir kesimpulan dari khusus ke umum. Sedang metode deduktif yaitu berpola pikir dari umum ke khusus.

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Pemikiran Pendidikan Islam Muhammad Abduh 1. Metode Pembelajaran

Dalam metode pembelajaran, Muhammad abduh lebih menekankan dengan metode diskusi, penelitian dan penalaran di bandingkan dengan metode hafalan. Dalam Mukhrizal Arif, dkk (2014 : 293) Muhammad Abduh mengatakan, “Satu setengah tahun saya belajar di masjid syekh Ahmad dengan tidak mengerti suatu apa pun. Ini karena metodenya yang salah, guru-guru mulai mengajak kita dengan menghafal istilah-istilah tentang nahwu atau fiqh yang tak kita ketahui arti-artinya. Guru tidak merasa penting apa kita mengerti atau tidak dengan istilah-istilah itu.”

Metode pengajaran dengan metode diskusi adalah metode pengajaran yang di dapatkannya ketika berguru dengan Jamaluddin Al-Afgani, metode pengajaran yang di gunakan oleh jamaluddin al-afgani adalah metode yang mengutamakan pemberian pengertian dengan cara diskusi. Metode ini tampaknya yang di terapkan muhammad abduh setelah ia menjadi pendidik. (Samsul Nizar, 2013:242)

2. Tujuan Pendidikan

Bagi Muhammad Abduh, tujuan pendidikan adalah mendidik akal, jiwa dan spiritual sehingga memungkinkan seseorang mencapai

kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. (Harun Nasution, 1987:190) Dari tujuan pendidikan di atas, Muhammad Abduh tampaknya berkeinginan agar proses pendidikan dapat membentuk kepribadian muslim yang seimbang antara jasmani dan rohani serta intelektualitas dan moralitas.

Bagi Muhammad Abduh pendidikan bukan hanya bertujuan mengembangkan aspek kognitif (akal) semata, tapi juga harus menyelaraskan dengan aspek afektif (moral) dan psikomotorik (keterampilan), pendidikan seyogianya dapat memerhatikan segi material dan spiritual manusia sekaligus.

3. Modernisasi Pendidikan

Pemikiran Muhammad Abduh juga di arahkan kepada modernisasi pendidikan, hal ini di latarbelakangi oleh situasi model pendidikan di mesir pada waktu itu. Model sekolah pertama adalah sekolah modern, sekolah jenis ini banyak dikembangkan dan di bangun oleh pihak pemerintah dan pihak asing. Sekolah model ini hanya mengutamakan pada pengembangan aspek inteletualitas saja. Hal ini merupakan warisan peninggalan modernisasi pendidikan yang dilakukan Muhammad Ali. Sekolah ini juga telah melahirkan kelas elite generasi muda yang lebih cederung kepada ilmu-ilmu Barat atau ilmu kealaman non-agama.

Dalam pendangan Muhammad Abduh, pendidikan model ini dapat mengancam keberadaan agama dan moralitas bangsa, karena

tergoyahkan oleh pemikiran modern yang diserap dari Barat yang tidak di landasi ajaran agama. (Abd Rahman Assegaf, 2013:184)

Adapun model sekolah kedua adalah sekolah agama, sekolah ini mempunyai karakteristik yang masih bersifat doktrinal teologis dan tradisional. Sekolah model ini juga telah berhasil memproduksi lulusannya tidak jauh beda dengan sekolah model pertama. Alumni sekolah model ini atau yang sering disebut dengan ulama oleh masyarakat, tetapi ulama kelahiran sekolah model kedua ini enggan menerima perubahan dan cenderung mempertahankan tradisi lama.

Muhammad Abduh memandang bahwa sekolah model kedua ini tidak dapat dipertahankan lagi, karena akan menyebabkan Islam jauh tertinggal dan terdesak oleh arus kehidupan modern. Oleh karena itu, Muhammad Abduh bermaksud mengadakan reformasi secara kelembagaan dengan menyatukan kedua model sekolah itu, sehingga jurang pemisah antara keduanya dapat dipersatukan secara sinergis.

Dengan agenda reformasinya, Muhammad Abduh berambisi untuk melenyapkan sistem dualisme dalam pendidikan di Mesir, dia menawarkan kepada sekolah modern agar menaruh perhatian pada aspek agama dan moral. Dengan hanya mengandalkan aspek intelektual saja, sekolah modern hanya akan melahirkan output pendidikan yang merosot moralnya. Sedangkan kepada sekolah agama, seperti al-Azhar,

Muhammad Abduh menyarankan agar dirombak menjadi lembaga pendidikan yang mengikuti sistem pendidikan modern. Sebagai pionernya, ia telah memperkenalkan ilmu-ilmu Barat kepada al-Azhar, di samping tetap menghidupkan ilmu-ilmu Islam Klasik yang orisinal, seperti Al-Muqaddimah karya ibn Khaldun.

4. Kurikulum Pendidikan

Seperti di jelaskan di atas bahwa tujuan pendidikan menurut Muhammad abduh yaitu mendidik akal, jiwa dan spritual yang memungkinkan seseorang mencapai kebahagian di dunia dan di akhirat, untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut, Muhammad Abduh menuangkannya di dalam seperangkat kurikulum sejak dari tingkat dasar sampai pada tingkat atas, sebagai berikut:

a. Tingkat sekolah dasar

Kurikulum tingkat sekolah dasar diberikan mata pelajaran:

membaca, menulis, berhitung, pelajaran agama dan sejarah. Pelajaran agama meliputi akidah, serta fikih dan akhlak yang berkaitan dengan halal dan haram, perbuatan-perbuatan bid’ah serta bahayanya dalam masyarakat. Pelajaran akhlak mencakup perbuatan-perbuatan dan sifat-sifat yang baik dan buruk. Sedangkan pelajaran sejarah mencakup sejarah Nabi Saw. dan para sahabat, akhlak mereka yang mulia, serta jasa mereka terhadap agama. Diperkenalkannya juga sebab-sebab Islam

dapat berkuasa dalam waktu yang relatif singkat, sejarah Nabi Saw. dan sahabat ditambah dengan uraian-uraian tentang khalifah Ustmaniyah yang kesmuanya diberikan secar ringkas.

b. Tingkat sekolah menengah

Kurikulum tingkat sekolah menengah diberikan mata pelajaran:

mantik atau logika, akidah, fikih, dan akhlak, dan sejarah Islam. Pelajaran akidah dikemukakan dengan pembuktian akal dan dalil-dalil yang pasti.

Pada tingkat ini pelajaran yang diberikan belum menjangkau perbedaan pendapat. Di samping itu, di jelaskan fungsi akidah dalam kehidupan.

Sedang fikih dan akhlak isinya memperluas bahan yang diberikan pada tingkat dasar, dengan menekankan pada sebab, kegunaan, dan pengaruh, terutama dalam masalah akhlak. Misalnya kegunaan berakhlak baik dan pengaruhnya dalam kehidupan bermasyarakat.

Pelajaran fikih lebih ditekankan pada hukum-hukum agama dan kegunaannya dalam kehidupan bermasyarakat. Semua pelajaran tersebut diberikan dengan landasan dalil-dalil yang sahih dan praktik dari masa al-salaf al-salih. (Abd. Rahman Assegaf, 2013:165)

Adapun sejarah Islam kajiannya menyangkut sejarah Nabi Saw.

sebagai sahabat dan penaklukan–penaklukan yang terjadi dalam beberapa abad sampai pada penaklukan pada masa kerajaan Utsmaniyah. Semua penaklukan tersebut, menurut abduh, dipandang

dari sisi agama, sekiranya motif politik dikemukakan, namun keberadaan motif politik tersebut berada di belakang motif agama. Murid-murid di sekolah menengah ini dipersiapkan untuk menduduki jabatan tertentu dalam pemerintahan.

c. Tingkat sekolah atas

Sedangkan kurikulum tingkat atas diperuntukkan bagi mereka yang akan menjadi pendidik yang disebutnya sebagai golongan yang arif (urafa al-ummat). Pelajaran yang diberikan kepada mereka mencakup:

tafsir, hadis, bahasa Arab, akhlak, ushul fiqh, sejarah, retorika, dan ilmu kalam. Di sini, sejarah yang termasuk di dalamnya sejarah Nabi Saw. dan sahabat diuraikan lebih rinci. Sejarah peralihan penguasa-penguasa Islam, sejarah kerajaan Utsmaniyah dan sejarah jatuhnya kerajaan-kerajaan Islam ke tangan penguasa lain dengan menerangkan sebab-sebabnya. Adapun ilmu kalam pada tingkat ini diberikan dengan menjelaskan dalil-dalil yang menopang pendapat setiap aliran. Pada tingkat ini pelajaran ilmu kalam tidak ditujukan untuk memperteguh akidah, namun untuk memperluas cakrawala pemikiran. (Abd. Rahman Assegaf, 2013:166)

Kemudian model kurikulum pendidikan Muhammad Abduh yang lain, yaitu di tuangkannya ke dalam kampus al-Azhar, Muhammad Abduh memusatkannya di al-Azhar karena baginya memodernisasi al-Azhar

sama halnya dengan membenahi kondisi umat islam secara keseluruhan lantaran para mahasiswanya berasal dari seluruh penjuru dunia. Al-Azhar juga adalah pusat ilmu pengetahuan yang paling utama di Mesir, bahkan di seluruh dunia Islam. (Abd Rahman Assegaf, 2013:185)

Adapun kurikulum yang diperkanalkan Muhammad Abduh di al-Azhar yaitu ilmu dan sains modern, yang pada saat itu hanya memuat ilmu-ilmu keislaman saja. Muhammad Abduh menjadikan al-Azhar sebagai laboratorium pemikirannya yang mengajarkan ilmu pengetahuan modern, di samping juga mempertahankan ilmu-ilmu islam klasik. Selain falsafah, Muhammad Abduh juga berhasil memasukkan matematika, aljabar, ilmu ukur, dan ilmu bumi ke dalam kurikulum al-Azhar. Dengan al-Azharnya, Muhammad Abduh menawarkan kurikulum pendidikan yang merupakan penggabungan antara ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu pengetahuan Barat modern. Berikut skema konsep modernisasi kurikulum Muhammad Abduh:

Konsep Manusia Modernisasi

Pendidikan

Skema di atas menunjukkan bahwa kurikulum pendidikan Muhammad Abduh berangkat dari penafsiran Al-Quran secara komprehensif. Al-Quran dan hadis ditempatkan sebagai sumber hukum paling tinggi dalam setiap pemikiran Abduh. Kemudian, karena manusia dikaruniai akal untuk memahami Islam secara kaffah, dan selalu menghadapi problema kehidupan modern yang semakin kompleks, maka dengan akal itulah manusia mampu mengatasi segala permasalahan dengan jalan berijtihad. Dengan akal pula manusia senantiasa bisa

I Ilmu Kagamaan dan Kealaman

memperbaharui keimanannya melalui pemahaman yang selalu mendalam tentang tuhan, manusia dan alam semesta. (Abd Rahman Assegaf, 2013:186)

5. Pendidik dan Peserta didik

Pemikiran Muhammad Abduh yang lain mengenai pendidik dan peserta didik. Mengenai pendidik, Muhammad Abduh menyatakan bahwa hendaknya seorang pendidik mempunyai akhlak yang baik (akhlak mahmudah), bahkan dianjurkan agar meneladani sifat-sifat yang dimiliki Rasulullah, selain itu guru juga harus mempunyai akidah yang baik, bijaksana, berani, dan energik, sehingga dapat melaksanakan tugasnya.

Kemudian mengenai peserta didik, Muhammad Abduh berpendapat bahwa setiap individu memiliki potensi fitrah yang baik.

Manusia dalam hal ini anak didik dilahirkan dengan memiliki potensi-potensi. Muhammad Abduh menyatakan potensi bawaan (fitrah) ada yang bersifat aqliyah dan ada yang bersifat nafsiyah. Fitrah nafsiyah atau ilahiyah manusia sesungguhnya adalah sama, tetapi fitrah aqliyah mereka dapat berbeda. Di antara potensi-potensi lahiriyah (bawaan) manusia, khususnya potensi aqliyahnya tidak berkembang begitu saja tanpa ada proses pendidikan. Artinya, potensi aqliyah tidak berfungsi sempurna tanpa adanya proses pendidikan.

Oleh sebab itu, pendidikan adalah sarana untuk mengembangkan potensi aqliyah manusia itu. Pada tahap ini, Muhammad Abduh dekat pada aliran konvergensi (menyatakan bahwa pembentukan atau perkembangan kepribadian seseorang ditentukan oleh faktor pembawaan dan juga faktor lingkungan di sekitarnya). Dan mengenai tugas dari peserta didik dalam pendidikan adalah bersungguh sungguh dan tekun belajar serta mempunyai sikap disiplin.(Ramayulis dan Samsul Nizar, 2005:46)

6. Wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan

Pemikiran Muhammad Abduh yang lain adalah tentang pendidikan wanita. Menurutnya wanita harus mendapatkan pendidikan yang sama dengan lelaki. Laki-laki dan wanita mendapatkan hak yang sama dari Allah, sesuai dengan firman-nya Q.S (2) al-Baqarah:228.

 ...

mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Kementrian Agama, 2011:55)

Serta dalam Q.S (33) al-Ahzab:35.



ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”

(Kementrian Agama, 2011:673)

Dalam pandangan Muhammad Abduh, kedua ayat tersebut menyejajarkan lelaki dan wanita dalam hal mendapatkan keampunan dan apabila yang diberikan Allah atas perbuatan yang sama, baik yang bersifat keduniaan maupun agama. Dari sini ia betolak bahwa perempuan pun punya hak mendapatkan pendidikan yang sama dengan laki-laki, menurutnya juga wanita harus dilepaskan dari rantai kebodohan, maka dari itu ia perlu diberikan pendidikan.

B. Pembaruan Muhammad Abduh dalam Pendidikan Islam di Mesir dan di Syiria (Beirut)

1. Pembaruan di Mesir

Pembaruan pendidikan Muhammad Abduh tampaknya lebih dilatarbelakangi oleh faktor situasi sosial keagamaan dalam hal ini adalah sikap yang umumnya diambil oleh kaum Islam di Mesir dalam memahami dan melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Pemikiran Muhammad Abduh sesuai dengan sistem pendidikan yang ada saat itu, sehingga pada abad ke-19 Muhammad Ali (pembaharu dan penguasa Mesir) memulai pembaruan pendidikan di Mesir. Pembaruan yang timpang, yang hanya menekankan perkembangan aspek intelek mewariskan dua tipe pendidikan seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Muhammad Abduh melihat segi-segi negatif lain dari kedua bentuk pemikiran tersebut. Ia memandang bahwa pemikiran yang pertama tidak dapat dipertahankan lagi, jika dipertahankan juga akan menyebabkan umat Islam tertinggal jauh, terdesak oleh arus kehidupan dan pemikiran modern. Sedangkan pemikiran kedua justru adanya bahaya yang mengancam sendi-sendi agama dan moral yang akan tergoyahkan oleh pemikiran modern yang mereka serap. Dari situlah Muhammad Abduh melihat pentingnya mengadakan perbaikan di dua institusi tersebut, sehingga jurang yang lebar bisa dipersempit. (Samsul Nizar, 2013:248)

Situasi yang demikian melahirkan pemikiran Muhammad Abduh dalam bidang pemikiran formal dan nonformal. Dalam bidang pendidikan formal tujuannya yang esensi adalah menghapuskan dualisme pendidikan yang tampak dengan adanya kedua institusi di atas, untuk itu ia bertolak dari tujuan pendidikan yang dirumuskan sebagai berikut:

Tujuan pendidikan adalah mendidik akal dan jiwa dan menyampaikannya kepada batas-batas kemungkinan seseorang mencapai kebahagian hidup di dunia dan akhirat. (Harun Nasution, 1987:190) Di samping pendidikan akal ia juga mementingkan pendidikan spiritual agar lahir generasi yang mampu berfikir dan punya akhlak yang mulia dan jiwa yang bersih. Tujuan pendidikan yang demikian ia wujudkan dalam seperangkat kurikulum sejak dari tingkat dasar sampai tingkat atas. Kurikulum tersebut adalah:

1. Kurikulum al-Azhar

Kurikulum perguruan tinggi al-Azhar disesuaikannya dengan kebutuhan masyarakat pada masa itu. Dalam hal ini, ia memasukkan ilmu filsafat, logika dan ilmu pengetahuan modern ke dalam kurikulum al-Azhar. Upaya ini dilakukan agar output-nya dapat menjadi ulama modern.

(Ramayulis, Samsul Nizar, 2005:47) 2. Tingkat Sekolah Dasar

Muhammad Abduh beranggapan bahwa dasar pembentukan jiwa agama hendaknya sudah dimulai semenjak masa kanak-kanak. Oleh karena itu, mata pelajaran agama hendaknya dijadikan sebagai inti semua mata pelajaran. Pandangan ini mengacu pada anggapan bahwa ajaran agama (Islam) merupakan dasar pembentukan jiwa dan pribadi muslim, rakyat Mesir akan memiliki jiwa kebersamaan dan nasionalisme untuk dapat mengembangkan sikap hidup yang lebih baik, sekaligus dapat meraih kemajuan.

3. Tingkat Atas

Upaya yang dilakukan Abduh adalah dengan mendirikan sekolah menengah pemerintah untuk menghasilkan ahli dalam berbagai lapangan administrasi, militer, kesehatan, perindustrian, dan sebagainya. Melalui lembaga pendidikan ini, Muhammad Abduh merasa perlu untuk memasukkan beberapa materi, khususnya pendidikan agama. Sejarah Islam, dan kebudayaan Islam. Di Madrasah-madrasah yang berada di bawah naungan al-Azhar, Abduh mengajarkan ilmu Mantik, Falsafah dan tauhid, sedangkan selama ini al-Azhar memandang ilmu mantik dan falsafah itu sebagai barang haram. Di rumahnya Muhammad Abduh mengajarkan pula kitab Thazib al-Akhlak susunan ibn Maskawayh. Dan kitab sejarah peradaban Eropa susunan seorang Prancis yang diterjemahlan ke dalam bahasa Arab dengan judl al-thfat a-Adaabiyah fi

Tarikh Tamaddun al-Mamalik al-Awribiyah. (Ramayulis dan Samsul Nizar, 2005:48)

Ketiga paket kurikulum di atas merupakan gambaran umum dari kurikulum pelajaran agama yang diberikan dalam setiap tingkat. Dalam

Ketiga paket kurikulum di atas merupakan gambaran umum dari kurikulum pelajaran agama yang diberikan dalam setiap tingkat. Dalam