• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

E. Teknik Analisis Data

Sebagai peneliti kualitatif, pada tahap analisis setidak-tidaknya ada tiga tahapan yang dilalui dalam penelitian ini, yaitu: reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan (conclusion drawing). Tiga komponen tersebut berproses secara siklus.

Model yang demikian terkenal dengan sebutan model analisis interaktif (Interaktive Model of Analysis).

Juga menggunakan metode induktif dan deduktif. Metode induktif yaitu berpola pikir kesimpulan dari khusus ke umum. Sedang metode deduktif yaitu berpola pikir dari umum ke khusus.

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Pemikiran Pendidikan Islam Muhammad Abduh 1. Metode Pembelajaran

Dalam metode pembelajaran, Muhammad abduh lebih menekankan dengan metode diskusi, penelitian dan penalaran di bandingkan dengan metode hafalan. Dalam Mukhrizal Arif, dkk (2014 : 293) Muhammad Abduh mengatakan, “Satu setengah tahun saya belajar di masjid syekh Ahmad dengan tidak mengerti suatu apa pun. Ini karena metodenya yang salah, guru-guru mulai mengajak kita dengan menghafal istilah-istilah tentang nahwu atau fiqh yang tak kita ketahui arti-artinya. Guru tidak merasa penting apa kita mengerti atau tidak dengan istilah-istilah itu.”

Metode pengajaran dengan metode diskusi adalah metode pengajaran yang di dapatkannya ketika berguru dengan Jamaluddin Al-Afgani, metode pengajaran yang di gunakan oleh jamaluddin al-afgani adalah metode yang mengutamakan pemberian pengertian dengan cara diskusi. Metode ini tampaknya yang di terapkan muhammad abduh setelah ia menjadi pendidik. (Samsul Nizar, 2013:242)

2. Tujuan Pendidikan

Bagi Muhammad Abduh, tujuan pendidikan adalah mendidik akal, jiwa dan spiritual sehingga memungkinkan seseorang mencapai

kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. (Harun Nasution, 1987:190) Dari tujuan pendidikan di atas, Muhammad Abduh tampaknya berkeinginan agar proses pendidikan dapat membentuk kepribadian muslim yang seimbang antara jasmani dan rohani serta intelektualitas dan moralitas.

Bagi Muhammad Abduh pendidikan bukan hanya bertujuan mengembangkan aspek kognitif (akal) semata, tapi juga harus menyelaraskan dengan aspek afektif (moral) dan psikomotorik (keterampilan), pendidikan seyogianya dapat memerhatikan segi material dan spiritual manusia sekaligus.

3. Modernisasi Pendidikan

Pemikiran Muhammad Abduh juga di arahkan kepada modernisasi pendidikan, hal ini di latarbelakangi oleh situasi model pendidikan di mesir pada waktu itu. Model sekolah pertama adalah sekolah modern, sekolah jenis ini banyak dikembangkan dan di bangun oleh pihak pemerintah dan pihak asing. Sekolah model ini hanya mengutamakan pada pengembangan aspek inteletualitas saja. Hal ini merupakan warisan peninggalan modernisasi pendidikan yang dilakukan Muhammad Ali. Sekolah ini juga telah melahirkan kelas elite generasi muda yang lebih cederung kepada ilmu-ilmu Barat atau ilmu kealaman non-agama.

Dalam pendangan Muhammad Abduh, pendidikan model ini dapat mengancam keberadaan agama dan moralitas bangsa, karena

tergoyahkan oleh pemikiran modern yang diserap dari Barat yang tidak di landasi ajaran agama. (Abd Rahman Assegaf, 2013:184)

Adapun model sekolah kedua adalah sekolah agama, sekolah ini mempunyai karakteristik yang masih bersifat doktrinal teologis dan tradisional. Sekolah model ini juga telah berhasil memproduksi lulusannya tidak jauh beda dengan sekolah model pertama. Alumni sekolah model ini atau yang sering disebut dengan ulama oleh masyarakat, tetapi ulama kelahiran sekolah model kedua ini enggan menerima perubahan dan cenderung mempertahankan tradisi lama.

Muhammad Abduh memandang bahwa sekolah model kedua ini tidak dapat dipertahankan lagi, karena akan menyebabkan Islam jauh tertinggal dan terdesak oleh arus kehidupan modern. Oleh karena itu, Muhammad Abduh bermaksud mengadakan reformasi secara kelembagaan dengan menyatukan kedua model sekolah itu, sehingga jurang pemisah antara keduanya dapat dipersatukan secara sinergis.

Dengan agenda reformasinya, Muhammad Abduh berambisi untuk melenyapkan sistem dualisme dalam pendidikan di Mesir, dia menawarkan kepada sekolah modern agar menaruh perhatian pada aspek agama dan moral. Dengan hanya mengandalkan aspek intelektual saja, sekolah modern hanya akan melahirkan output pendidikan yang merosot moralnya. Sedangkan kepada sekolah agama, seperti al-Azhar,

Muhammad Abduh menyarankan agar dirombak menjadi lembaga pendidikan yang mengikuti sistem pendidikan modern. Sebagai pionernya, ia telah memperkenalkan ilmu-ilmu Barat kepada al-Azhar, di samping tetap menghidupkan ilmu-ilmu Islam Klasik yang orisinal, seperti Al-Muqaddimah karya ibn Khaldun.

4. Kurikulum Pendidikan

Seperti di jelaskan di atas bahwa tujuan pendidikan menurut Muhammad abduh yaitu mendidik akal, jiwa dan spritual yang memungkinkan seseorang mencapai kebahagian di dunia dan di akhirat, untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut, Muhammad Abduh menuangkannya di dalam seperangkat kurikulum sejak dari tingkat dasar sampai pada tingkat atas, sebagai berikut:

a. Tingkat sekolah dasar

Kurikulum tingkat sekolah dasar diberikan mata pelajaran:

membaca, menulis, berhitung, pelajaran agama dan sejarah. Pelajaran agama meliputi akidah, serta fikih dan akhlak yang berkaitan dengan halal dan haram, perbuatan-perbuatan bid’ah serta bahayanya dalam masyarakat. Pelajaran akhlak mencakup perbuatan-perbuatan dan sifat-sifat yang baik dan buruk. Sedangkan pelajaran sejarah mencakup sejarah Nabi Saw. dan para sahabat, akhlak mereka yang mulia, serta jasa mereka terhadap agama. Diperkenalkannya juga sebab-sebab Islam

dapat berkuasa dalam waktu yang relatif singkat, sejarah Nabi Saw. dan sahabat ditambah dengan uraian-uraian tentang khalifah Ustmaniyah yang kesmuanya diberikan secar ringkas.

b. Tingkat sekolah menengah

Kurikulum tingkat sekolah menengah diberikan mata pelajaran:

mantik atau logika, akidah, fikih, dan akhlak, dan sejarah Islam. Pelajaran akidah dikemukakan dengan pembuktian akal dan dalil-dalil yang pasti.

Pada tingkat ini pelajaran yang diberikan belum menjangkau perbedaan pendapat. Di samping itu, di jelaskan fungsi akidah dalam kehidupan.

Sedang fikih dan akhlak isinya memperluas bahan yang diberikan pada tingkat dasar, dengan menekankan pada sebab, kegunaan, dan pengaruh, terutama dalam masalah akhlak. Misalnya kegunaan berakhlak baik dan pengaruhnya dalam kehidupan bermasyarakat.

Pelajaran fikih lebih ditekankan pada hukum-hukum agama dan kegunaannya dalam kehidupan bermasyarakat. Semua pelajaran tersebut diberikan dengan landasan dalil-dalil yang sahih dan praktik dari masa al-salaf al-salih. (Abd. Rahman Assegaf, 2013:165)

Adapun sejarah Islam kajiannya menyangkut sejarah Nabi Saw.

sebagai sahabat dan penaklukan–penaklukan yang terjadi dalam beberapa abad sampai pada penaklukan pada masa kerajaan Utsmaniyah. Semua penaklukan tersebut, menurut abduh, dipandang

dari sisi agama, sekiranya motif politik dikemukakan, namun keberadaan motif politik tersebut berada di belakang motif agama. Murid-murid di sekolah menengah ini dipersiapkan untuk menduduki jabatan tertentu dalam pemerintahan.

c. Tingkat sekolah atas

Sedangkan kurikulum tingkat atas diperuntukkan bagi mereka yang akan menjadi pendidik yang disebutnya sebagai golongan yang arif (urafa al-ummat). Pelajaran yang diberikan kepada mereka mencakup:

tafsir, hadis, bahasa Arab, akhlak, ushul fiqh, sejarah, retorika, dan ilmu kalam. Di sini, sejarah yang termasuk di dalamnya sejarah Nabi Saw. dan sahabat diuraikan lebih rinci. Sejarah peralihan penguasa-penguasa Islam, sejarah kerajaan Utsmaniyah dan sejarah jatuhnya kerajaan-kerajaan Islam ke tangan penguasa lain dengan menerangkan sebab-sebabnya. Adapun ilmu kalam pada tingkat ini diberikan dengan menjelaskan dalil-dalil yang menopang pendapat setiap aliran. Pada tingkat ini pelajaran ilmu kalam tidak ditujukan untuk memperteguh akidah, namun untuk memperluas cakrawala pemikiran. (Abd. Rahman Assegaf, 2013:166)

Kemudian model kurikulum pendidikan Muhammad Abduh yang lain, yaitu di tuangkannya ke dalam kampus al-Azhar, Muhammad Abduh memusatkannya di al-Azhar karena baginya memodernisasi al-Azhar

sama halnya dengan membenahi kondisi umat islam secara keseluruhan lantaran para mahasiswanya berasal dari seluruh penjuru dunia. Al-Azhar juga adalah pusat ilmu pengetahuan yang paling utama di Mesir, bahkan di seluruh dunia Islam. (Abd Rahman Assegaf, 2013:185)

Adapun kurikulum yang diperkanalkan Muhammad Abduh di al-Azhar yaitu ilmu dan sains modern, yang pada saat itu hanya memuat ilmu-ilmu keislaman saja. Muhammad Abduh menjadikan al-Azhar sebagai laboratorium pemikirannya yang mengajarkan ilmu pengetahuan modern, di samping juga mempertahankan ilmu-ilmu islam klasik. Selain falsafah, Muhammad Abduh juga berhasil memasukkan matematika, aljabar, ilmu ukur, dan ilmu bumi ke dalam kurikulum al-Azhar. Dengan al-Azharnya, Muhammad Abduh menawarkan kurikulum pendidikan yang merupakan penggabungan antara ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu pengetahuan Barat modern. Berikut skema konsep modernisasi kurikulum Muhammad Abduh:

Konsep Manusia Modernisasi

Pendidikan

Skema di atas menunjukkan bahwa kurikulum pendidikan Muhammad Abduh berangkat dari penafsiran Al-Quran secara komprehensif. Al-Quran dan hadis ditempatkan sebagai sumber hukum paling tinggi dalam setiap pemikiran Abduh. Kemudian, karena manusia dikaruniai akal untuk memahami Islam secara kaffah, dan selalu menghadapi problema kehidupan modern yang semakin kompleks, maka dengan akal itulah manusia mampu mengatasi segala permasalahan dengan jalan berijtihad. Dengan akal pula manusia senantiasa bisa

I Ilmu Kagamaan dan Kealaman

memperbaharui keimanannya melalui pemahaman yang selalu mendalam tentang tuhan, manusia dan alam semesta. (Abd Rahman Assegaf, 2013:186)

5. Pendidik dan Peserta didik

Pemikiran Muhammad Abduh yang lain mengenai pendidik dan peserta didik. Mengenai pendidik, Muhammad Abduh menyatakan bahwa hendaknya seorang pendidik mempunyai akhlak yang baik (akhlak mahmudah), bahkan dianjurkan agar meneladani sifat-sifat yang dimiliki Rasulullah, selain itu guru juga harus mempunyai akidah yang baik, bijaksana, berani, dan energik, sehingga dapat melaksanakan tugasnya.

Kemudian mengenai peserta didik, Muhammad Abduh berpendapat bahwa setiap individu memiliki potensi fitrah yang baik.

Manusia dalam hal ini anak didik dilahirkan dengan memiliki potensi-potensi. Muhammad Abduh menyatakan potensi bawaan (fitrah) ada yang bersifat aqliyah dan ada yang bersifat nafsiyah. Fitrah nafsiyah atau ilahiyah manusia sesungguhnya adalah sama, tetapi fitrah aqliyah mereka dapat berbeda. Di antara potensi-potensi lahiriyah (bawaan) manusia, khususnya potensi aqliyahnya tidak berkembang begitu saja tanpa ada proses pendidikan. Artinya, potensi aqliyah tidak berfungsi sempurna tanpa adanya proses pendidikan.

Oleh sebab itu, pendidikan adalah sarana untuk mengembangkan potensi aqliyah manusia itu. Pada tahap ini, Muhammad Abduh dekat pada aliran konvergensi (menyatakan bahwa pembentukan atau perkembangan kepribadian seseorang ditentukan oleh faktor pembawaan dan juga faktor lingkungan di sekitarnya). Dan mengenai tugas dari peserta didik dalam pendidikan adalah bersungguh sungguh dan tekun belajar serta mempunyai sikap disiplin.(Ramayulis dan Samsul Nizar, 2005:46)

6. Wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan

Pemikiran Muhammad Abduh yang lain adalah tentang pendidikan wanita. Menurutnya wanita harus mendapatkan pendidikan yang sama dengan lelaki. Laki-laki dan wanita mendapatkan hak yang sama dari Allah, sesuai dengan firman-nya Q.S (2) al-Baqarah:228.

 ...

mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Kementrian Agama, 2011:55)

Serta dalam Q.S (33) al-Ahzab:35.



ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”

(Kementrian Agama, 2011:673)

Dalam pandangan Muhammad Abduh, kedua ayat tersebut menyejajarkan lelaki dan wanita dalam hal mendapatkan keampunan dan apabila yang diberikan Allah atas perbuatan yang sama, baik yang bersifat keduniaan maupun agama. Dari sini ia betolak bahwa perempuan pun punya hak mendapatkan pendidikan yang sama dengan laki-laki, menurutnya juga wanita harus dilepaskan dari rantai kebodohan, maka dari itu ia perlu diberikan pendidikan.

B. Pembaruan Muhammad Abduh dalam Pendidikan Islam di Mesir dan di Syiria (Beirut)

1. Pembaruan di Mesir

Pembaruan pendidikan Muhammad Abduh tampaknya lebih dilatarbelakangi oleh faktor situasi sosial keagamaan dalam hal ini adalah sikap yang umumnya diambil oleh kaum Islam di Mesir dalam memahami dan melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Pemikiran Muhammad Abduh sesuai dengan sistem pendidikan yang ada saat itu, sehingga pada abad ke-19 Muhammad Ali (pembaharu dan penguasa Mesir) memulai pembaruan pendidikan di Mesir. Pembaruan yang timpang, yang hanya menekankan perkembangan aspek intelek mewariskan dua tipe pendidikan seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Muhammad Abduh melihat segi-segi negatif lain dari kedua bentuk pemikiran tersebut. Ia memandang bahwa pemikiran yang pertama tidak dapat dipertahankan lagi, jika dipertahankan juga akan menyebabkan umat Islam tertinggal jauh, terdesak oleh arus kehidupan dan pemikiran modern. Sedangkan pemikiran kedua justru adanya bahaya yang mengancam sendi-sendi agama dan moral yang akan tergoyahkan oleh pemikiran modern yang mereka serap. Dari situlah Muhammad Abduh melihat pentingnya mengadakan perbaikan di dua institusi tersebut, sehingga jurang yang lebar bisa dipersempit. (Samsul Nizar, 2013:248)

Situasi yang demikian melahirkan pemikiran Muhammad Abduh dalam bidang pemikiran formal dan nonformal. Dalam bidang pendidikan formal tujuannya yang esensi adalah menghapuskan dualisme pendidikan yang tampak dengan adanya kedua institusi di atas, untuk itu ia bertolak dari tujuan pendidikan yang dirumuskan sebagai berikut:

Tujuan pendidikan adalah mendidik akal dan jiwa dan menyampaikannya kepada batas-batas kemungkinan seseorang mencapai kebahagian hidup di dunia dan akhirat. (Harun Nasution, 1987:190) Di samping pendidikan akal ia juga mementingkan pendidikan spiritual agar lahir generasi yang mampu berfikir dan punya akhlak yang mulia dan jiwa yang bersih. Tujuan pendidikan yang demikian ia wujudkan dalam seperangkat kurikulum sejak dari tingkat dasar sampai tingkat atas. Kurikulum tersebut adalah:

1. Kurikulum al-Azhar

Kurikulum perguruan tinggi al-Azhar disesuaikannya dengan kebutuhan masyarakat pada masa itu. Dalam hal ini, ia memasukkan ilmu filsafat, logika dan ilmu pengetahuan modern ke dalam kurikulum al-Azhar. Upaya ini dilakukan agar output-nya dapat menjadi ulama modern.

(Ramayulis, Samsul Nizar, 2005:47) 2. Tingkat Sekolah Dasar

Muhammad Abduh beranggapan bahwa dasar pembentukan jiwa agama hendaknya sudah dimulai semenjak masa kanak-kanak. Oleh karena itu, mata pelajaran agama hendaknya dijadikan sebagai inti semua mata pelajaran. Pandangan ini mengacu pada anggapan bahwa ajaran agama (Islam) merupakan dasar pembentukan jiwa dan pribadi muslim, rakyat Mesir akan memiliki jiwa kebersamaan dan nasionalisme untuk dapat mengembangkan sikap hidup yang lebih baik, sekaligus dapat meraih kemajuan.

3. Tingkat Atas

Upaya yang dilakukan Abduh adalah dengan mendirikan sekolah menengah pemerintah untuk menghasilkan ahli dalam berbagai lapangan administrasi, militer, kesehatan, perindustrian, dan sebagainya. Melalui lembaga pendidikan ini, Muhammad Abduh merasa perlu untuk memasukkan beberapa materi, khususnya pendidikan agama. Sejarah Islam, dan kebudayaan Islam. Di Madrasah-madrasah yang berada di bawah naungan al-Azhar, Abduh mengajarkan ilmu Mantik, Falsafah dan tauhid, sedangkan selama ini al-Azhar memandang ilmu mantik dan falsafah itu sebagai barang haram. Di rumahnya Muhammad Abduh mengajarkan pula kitab Thazib al-Akhlak susunan ibn Maskawayh. Dan kitab sejarah peradaban Eropa susunan seorang Prancis yang diterjemahlan ke dalam bahasa Arab dengan judl al-thfat a-Adaabiyah fi

Tarikh Tamaddun al-Mamalik al-Awribiyah. (Ramayulis dan Samsul Nizar, 2005:48)

Ketiga paket kurikulum di atas merupakan gambaran umum dari kurikulum pelajaran agama yang diberikan dalam setiap tingkat. Dalam hal ini Muhammad Abduh tidak memasukkan ilmu-ilmu barat ke dalam kurikulum yang direncanakan. Dengan demikian, dalam bidang pendidikan formal Muhammad Abduh menekankan pemberian pengetahuan yang pokok, yaitu fikih, sejarah Islam, akhlak, dan bahasa.

Meskipun agaknya kurikulum yang dirancang Muhammad Abduh sukar diterapkan secara utuh, lebih-lebih di sekolah umum seperti yang diharapkan-nya, tetapi dari materi-materi pelajaran yang demikian dapat dijangkau pemikirannya yang menghargai ilmu-ilmu agama, sama dengan peniliannya terhadap ilmu-ilmu yang datang dari dari barat. Ia menginginkan agar sekolah-sekolah umum menerapkan kuriulum yang demikian, sama halnya dengan keinginannya agara al-Azhar mengubah sistem pengajarannya, antara lain dengan menerapkan ilmu-ilmu yang datang dari barat.

2. Pembaruan di Syiria (Beirut)

Kemudian pembaruan yang dilakukan Muhammad Abduh di Beirut (Syiria). Di Beirut Muhammad Abduh menjadi guru, mengarang dan mengajar. Ia memberi syarah (tafsir) mengajar tafsir Alqur’an di dua

masjid yang ada di Beirut dengan cara yang pernah ia perkenalkan di mesir yaitu tidak terikat dengan sesuatu kitab tafsir tertentu. Ia membaca suatu ayat lalu ia beri tafsir, baik ia ambil dari kitab-kitab lainnya atau tidak, lalu dihubungkan dengan menerangkan keadaan umat Islam dan kritik terhadap mereka sebagaimana yang diilhami oleh ayat yang ia baca.

Muhammad Abduh diminta untuk mengajar di Madrasah Al-Sultaniyah di Beirut. Kurikulumnya diperbaiki dan meningkatkan pelajaran di madrasah itu, hingga dengan demikian madrasah itu meningkat dari madrasah tingkat rendah menjadi madrasah tingkat tinggi. Di Beirut ini ia mengajar tauhid, mantiq, balaghah, sejarah Islam dan rumahnya dipergunakan tempat pertemuan ilmiah, sastra dan lain-lainnya. (Mukti Ali, 1995:462)

Selanjutnya ia menaruh perhatian untuk perbaikan umum bagi dunia Islam. Ia mengajukan dua usul untuk perbaikan pendidikan agama di madrasah-madrasah kerajaan Ustmaniyah, dalam usulannya Muhammad Abduh melihat kelemahan umat Islam disebabkan karena buruknya aqidah dan bodohnya akar-akar agama, itulah yang merusak akhlak mereka. Obat satu-satunya adalah memperbaiki pendidikan agama. Kemudian yang kedua yang diajukan kepada gubernur Beirut, Muhammad Abduh menggambarkan buruknya keadaan

negeri itu, dan pertentangan politik yang ada di negeri itu akibat banyaknya sekolah-sekolah asing. Abduh menganjurkan memperbanyak madrasah nasional dan memperbaiki kurikulum pendidikan agama.

(Mukti Ali, 1995:463)

Dari uraian di atas penulis menarik kesimpulan mengenai pemikiran pendidikan Muhammad Abduh di Beirut adalah memperbaiki pendidikan Agama dan mengusulkan kepada gubernur Beirut untuk memperbanyak madrasah-madrasah nasional.

C. Pengaruh Pemikiran Pendidikan Muhammad Abduh di Indonesia Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya Muhammad Abduh adalah seorang tokoh pembaharu Islam berasal dari Mesir kemudian kemunculannya didunia Islam tak lepas dari kemunduran umat Islam saat itu yang tidak hanya terjadi di Mesir tetapi dunia Islam secara keseluruhan. Awal pembaharuan di Indonesia juga tak lepas dari pengaruh pemikiran Muhammad Abduh mengingat kondisi umat Islam kala itu tidak jauh berbeda dengan kondisi umat Islam di Mesir, berikut pengaruh pemikiran pembaruan pendidikan Muhammad Abduh di Indonesia:

1. KH. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah

Salah satu pengaruh pendidikan Muhammad Abduh di Indonesia adalah pada organisasi Muhammadiyah. Timbulnya gagasan K.H Ahmad Dahlan untuk mendirikan Muhammadiyah didorong oleh dua sebab.

Pertama, karena situasi politik Belanda, kedua karena keadaan umat Islam di sekitar kampungnya ketika itu sangat rusak dan dalam menjalankan praktik agama sudah sangat jauh menyeleweng dari ajaran yang sebenarnya. (Afif Azhari dan Mimien Maimunah Z, 1996:89)

Dorongan lainnya adalah kondisi umat Islam sangat kompleks, umat Islam sudah terbelenggu oleh kebekuan yang mengakibatkan penyelewengan terhadap ajaran Islam. Hal ini tampak jelas diamati pada masyarakat tempat Ahmad Dahlan berada, dan kondisi tersebut terjadi pula pada umat Islam di Indonesia pada Umumnya. Melihat kondisi di atas, dengan semangat yang benar bersama para tokoh Islam yang sadar berusaha menyelamatkan bangsanya. (Afif Azhari dan Mimien Maimunah Z, 1996:90) Pada tahun 1890, Ahmad Dahlan menunaikan ibadah haji, kemudian sekitar tahun tahun 1902, ia sekali lagi mengunjungi tanah suci, dimana dia tinggal selama dua tahun dan belajar pada Syaikh Ahmad Chatib. Melalui gurunya ini, ia mulai mengenal tulisan Muhammad Abduh berupa tafsir Al-Manar, bahkan di antara ilmu-ilmu tersebut yang digemari dan menarik perhatian Ahmad

Dahlan adalah tafsir al-Manar. (Afif Ashari dan Mimien Maimunah Z, 1996:92)

Sebelum mendirikan Muhammadiyah, ia mencari pengalaman dengan masuk di organisasi Budi Utomo. Organisasi ini adalah yang pertama dibentuk bangsa Indonesia dalam bidang pendidikan, sosial, dan kebudayaan pada tahun 1908. Pada saat itu pula, Ahmad Dahlan masuk sekaligus menjadi pengurus, ia bermaksud memberikan pelajaran agama pada anggota-anggotanya di organisasi tersebut. Dengan jalan ini pula, diharapkan agar ia dapat memberi pelajaran agama pada sekolah-sekolah pemerintah. Keinginannya tersebut berhasil dengan memberikan ceramah-ceramah yang memang sangat dibutuhkan oleh pengikut Budi Utomo. Pada tahun 1910, ia masuk Jami’at al-Khair, yaitu salah satu organisasi Islam yang pertama di Indonesia yang menjalin hubungan baik dengan negara Islam Timur Tengah. (Mukhrizal Arif, dkk, 2014:304)

Dari peristiwa itu diketahui Ahmad Dahlan mulai tampak berhasil dalam menyebarkan ide-idenya dan berhasil membentuk kader-kader yang militan. Bukan hanya pribumi yang mendukukng Ahmad Dahlan, melainkan pihak kolonial juga mengakuinya dalam usaha membentuk kader-kader. Akhirnya, ia mendapat izin untuk mengajar di sekolah Kweekschool memberi pelajaran agama dan mengajar di sekolah-sekolah pemerintah lainnya. Hal ini dilakukan sebagai usaha untuk

mencari murid. Pada akhirnya, Ahmad Dahlan membuat sekolah Muhammadiyah tahun 1911 dengan sistem modern dan menggunakan kurikulum ilmu umum sebagaimana sekolah-sekolah pemerintah.

Sekolah ini pun mendapat dukungan dari pihak Pemerintah Belanda.

Sekolah ini pun mendapat dukungan dari pihak Pemerintah Belanda.