• Tidak ada hasil yang ditemukan

MUHAMMAD ABDUH DAN PEMIKIRANNYA TENTANG PENDIDIKAN ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MUHAMMAD ABDUH DAN PEMIKIRANNYA TENTANG PENDIDIKAN ISLAM"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

MUHAMMAD ABDUH DAN PEMIKIRANNYA TENTANG PENDIDIKAN ISLAM

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) pada Jurusan Pendidikan Agama Islam

Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar

FADIL BURHAN LAI NIM: 105190152611

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1437H/2016 M

(2)
(3)

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Dengan penuh kesadaran, penulis/peniliti yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya penulis/

peneliti sendiri. Jika kemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan, plagiat di buat atau dibantu secara langsung orang lain keseluruhan, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya batal demI hukum.

Makassar, 02 Jumadil Awwal1437 H

11 Februari 2016 M

Peneliti

FADIL BURHAN LAI

(4)
(5)
(6)

KATA PENGANTAR

ميحرلا نمحرلا الله مسب

Segala puji dan syukur hanya bagi Allah Swt. penguasa alam semesta, yang telah menurunkan petunjuk untuk manusia sehingga manusia dapat membedakan mana yang hak dan mana yang batil.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada utusan Allah Swt. Nabi Muhammad saw. yang telah menghibahkan hidupnya di jalan Allah swt. dan juga kepada orang-orang yang senantiasa berjuang di jalan- Nya hingga akhir zaman.

Syukur alhamdulillah, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Muhammad Abduh dan Pemikirannya tentang Pendidikan Islam”, guna memenuhi salahsatu syarat memperoleh gelar sarjana Pedidikan Islam pada jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.

Selesainya skripsi ini tentunya tidak terlepas dari peran serta dari berbagai pihak yang memberikan bimbingan dan bantuan kepada penulis.

Oleh karena itu dengan rasa hormat dan terima kasih penulis sampaikan kepada:

1. Kedua orang tua penulis, Burhan Lai dan Suarni S yang selama ini memberikan dorongan, motivasi, dan doanya selama menjalani perkuliahan.

(7)

2. Bapak Dr. H. Irwan Akib. M.Pd. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah bekerja keras sehingga kampus Universitas Muhammadiyah Makassar menjadi kampus yang terkemuka di Indonesia bagian timur.

3. Bapak Drs. H. Mawardi Pewangi, M. Pd. I. Dekan Fakultas Agama Islam, yang senantiasa melakukan pengembangan Fakultas sehingga Fakultas Agama Islam Menjadi Fakultas yang terakreditasi Baik.

4. Ibu Amirah Mawardi, S.Ag., M.Si. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam, yang senantiasa memberikan pelayanan yang baik bagi mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam termasuk penulis.

5. Bapak Dr. H. Abbas Baco Miro, Lc., M.A. sebagai Dosen Pembimbing I dan bapak Dahlan Lama Bawa, S.Ag., M.Ag.

sebagai Pembimbing II, dalam penyelesaian Skripsi ini, yang telah menyediakan waktunya mulai dari proses pengajuan judul sampai penyelesaian skripsi ini.

6. Bapak/Ibu Dosen dan Staf Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar, yang senantiasa memberikan pelajaran ilmu selama perkuliahan berlangsung, sehingga penulis dapat menyelesaikan study dengan baik.

(8)

7. Teman-teman seperjuangan di Pendidikan Ulama Tarjih Universitas Muhammadiyah Makassar yang senantiasa memberi dukungan dan inspirasi pada penulis, serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Teriring do’a semoga jasa-jasa dan kebaikan mereka mendapatkan imbalan yang lebih baik dari Allah swt. Amin.

Makassar, 02 Jumadil Awwal 1437 H 11 Februari 2016 M

Penulis

FADIL BURHAN LAI NIM: 105190152611

(9)

ABSTRAK

FADIL BURHAN LAI, 105190152611 “Muhammad Abduh dan Pemikirannya Tentang Pendidikan Islam” (Dibimbing oleh H. Abbas Baco Miro dan Dahlan Lama Bawa)

Berawal dari kondisi umat Islam yang sedang mengalami kemunduran utamanya di bidang pendidikan, kemudian Barat makin menunjukkan kemajuannya sebagai pusat peradaban. Sejak pendudukan Napoleon di Mesir, maka muncul pemikir-pemikir Islam yang tersadar bahwa keadaan umat Islam saat itu sangat terbelakang. Mereka melakukan suatu gerakan yang menghasilkan gagasan untuk membangkitkan umat Islam dari keterpurukan. Salah satu tokoh Islam yang banyak memberikan ide-ide dan gagasan-gagasannya pada masa itu adalah Muhammad Abduh.

Dari latar belakang di atas, penelitian ini membahas mengenai, Muhammad Abduh dan pemikirannya tentang pendidikan Islam, bagaimana pemikiran Muhammad Abduh mengenai pendidikan Islam, apa saja pembaharuan Muhammad Abduh di dalam pendidikan Islam dan bagaimana pengaruh pemikiran Muhammad Abduh tentang pendidikan Islam terhadap dunia Islam.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan bentuk penelitian kajian pustaka (library research) dengan pendekatan kualitatif yaitu pengungkapan data melalui deskripsi (pemaparan), sehingga dalam pengelolaannya mengadakan dan mengemukakan sifat data yang diperoleh kemudian dianalisis lebih lanjut guna mendapatkan kesimpulan.

Adapun hasil penelitian yang penulis temukan di dalam penelitian ini adalah sebagai berikut; Pertama, Muhammad Abduh adalah sosok pembaharu Islam yang hidup pada abad 19-20, yang mengusung rasionalitas dalam beragama. Muhammad Abduh berusaha menghilangkan kejumudan di dalam pendidikan. Tujuan pendidikan menurut Muhammad Abduh yaitu mendidik akal dan jiwa serta spritual sehingga seseorang mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kedua, Muhammad Abduh ingin umat Islam hidup berwibawa dengan akal yang cerdas dan berprilaku baik yang sesuai dengan ajaran agama Islam, dengan menggagas kurikulum berbasis sains dan falsafah yang banyak menggunakan akal dan tanpa meninggalkan pelajaran-pelajaran yang bersifat agamis.

Dan ketiga, Pemikiran pendidikan Muhammad Abduh pengaruhnya sampai ke indonesia, salah satunya terhadap organisasi Muhammadiyah yang didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan dengan mendirikan sekolah-sekolah Muhammadiyah yang memasukkan kurikulum-kurikulum modern seperti ide pembaharu yang dilakukan oleh Muhammad Abduh.

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PESETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN SKRIPSI ... iii

BERITA ACARA MUNAQASYAH ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v

KATA PENGANTAR ...vi

ABSTRAK ...ix

DAFTAR ISI ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ...…...…....….……1

B. Rumusan Masalah ...…...…….…...6

C. Tujuan Penelitian ...….…...…..6

D. Manfaat Penelitian ...……...7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

A. Muhammad Abduh ... 8

1. Biografi Muhammad Abduh ... 8

2. Latar Belakang Pemikiran Muhammad Abduh ... 18

3. Corak Pemikiran Muhammad Abduh ... 19

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemikiran Muhammad Abduh ... 23

a. Faktor Sosial ... 23

b. Faktor Politik ... 24

c. Faktor Kebudayaan ... 25

5. Peran Pemikiran Muhammad Abduh terhadap Dunia Islam ... 26

B. Pendidikan Islam ... 29

1. Pengertian Pendidikan Islam ... 29

2. Tujuan Pendidikan Islam ... 35

3. Aspek-Aspek Pendidikan Islam ... 40

BAB III METODE PENELITIAN... 44

A. Jenis Penelitian ...……...…. 44

B. Variable Penelitian ...…... 44

C. Teknik Pengumpulan Data ...………...……. 45

(11)

D. Teknik Pengelolaan Data ... 46

E. Teknik Analisis Data ... 46

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 47

A. Pemikiran Pendidikan Islam Muhammad Abduh ... 47

1. Metode Pembelajaran ... 47

2. Tujuan Pendidikan ... 47

3. Modernisasi Pendidikan ... 48

4. Kurikulum Pendidikan ... 50

5. Pendidik dan Peserta didik ... 54

6. Wanita Memiliki Hak untuk Mendapatkan Pendidikan ... 56

B. Pembaruan Muhammad Abduh dalam Pendidikan Islam di Mesir dan di Beirut (Syiria) ... 57

C. Pengaruh Pemikiran Pendidikan Muhammad Abduh di Indonesia ... 63

BAB V PENUTUP ... 71

A. Kesimpulan ... 71

B. Saran ... 73

DAFTAR PUSTAKA ... 74

RIWAYAT HIDUP ... 77

(12)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Individu manusia lahir tanpa memiliki pengetahuan apa pun, tetapi ia telah dilengkapi dengan fitrah yang memungkinkannya untuk menguasai berbagai pengetahuan dan peradaban. Dengan memfungsikan fitrah itulah ia belajar dari lingkungan dan masyarakat orang dewasa yang mendirikan institusi pendidikan.

Kondisi awal individu dan proses pendidikannya tersebut diisyaratkan oleh Allah di dalam firman-Nya Q.S An-Nahl 16 :78 sebagai berikut:

































Terjemahnya:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (Kementerian Agama, 2011:275)

Begitupun dalam hadits Nabi Muhammad Saw, dinyatakan mengenai kondisi awal manusia yang tidak mengenal apapun sehingga orang tuanya pulalah yang membentuknya, haditsnya sebagai berikut:

(13)

ُالله َيِضَر َةَرْيَرُى َِْبَا ْنَع ََلَع ُذَلٌُْي ٍد ٌُْلٌَْم ُّلُك : َمَّلَسًَ ِوْيَلَع ُالله ََّلَص ِالله ُلٌُْسَر َلاَق : َلاَق ُوْنَع

( ِوِنَسِّجَمُي ًَْا ِوِنَرِّصَنُي ًَْا ِوِناَدٌَِّيُي ُهاٌََبَاَف ِةَرْطِفْلا

ْمِلْسُمًَ ٍِراَخُبْلا ُهاًََر

)

Artinya :

Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda : “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, ayah dan ibunyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim) (Muhammad Fuad Abdul Baqi, 2000:402)

Masyarakat primitive pun memiliki kondisi yang serupa dengan individu manusia yang baru lahir. Mereka pada mulanya tidak berperadaban. Namun, melalui proses belajar dengan mengikuti pola-pola dan norma-norma sosial, mengikatkan diri pada ideologi dan system nilai, serta terlibat dalam aktivitas saling menukar pengetahuan dan pengalaman, mereka kemudian menjadi masyarakat yang berperadaban dan beradab. Olehnya itu pendidikan merupakan persoalan penting bagi semua ummat. Pendidikan menjadi tumpuan harapan untuk mengembangkan individu dan masyarakat. (Heri Noer Aly dan Munzier, 2008:1)

Dalam agama Islam, pendidikan adalah pemberi corak hitam putihnya perjalanan hidup seseorang. Oleh karena itu, ajaran Islam menetapkan bahwa pendidikan merupakan salah satu kegiatan yang wajib hukumnya bagi pria dan wanita, dan berlangsung seumur hidup – semenjak dari buaian hingga ajal datang (Al-Hadis) – life long education.(Zuhairini, 2009:1).

(14)

Pendidikan Islam telah berlangsung kurang lebih 14 abad, yakni sejak Nabi Muhammad Saw diutus sebagai Rasul. Pada awalnya pendidikan berlangsung secara sederhana, dengan masjid sebagai pusat proses pembelajaran, al-Qur'an dan hadist sebagai kurikulum utama dan Rasulullah sendiri berperan sebagai guru dalam proses pendidikan tersebut.

Setelah Rasulullah wafat, Islam terus berkembang ke luar Jazirah Arab. Sejalan dengan itu pendidikan Islam terus berkembang. Kurikulum pendidikan, misalnya, yang sebelumnya terbatas pada al-Quran dan hadist berkembang dengan dimasukkannya ilmu-ilmu baru yang berasal dari luar Jazirah Arab yang telah berhubungan dengan Islam secara baik dalam bentuk peperangan maupun dalam bentuk hubungan damai.

Sejarah menunjukkan bahwa perkembangan kegiatan kependidikan pada masa klasik Islam telah membawa Islam sebagai jembatan pengembangan keilmuan dari keilmuan klasik ke keilmuan modern. Akan tetapi generasi umat Islam seterusnya tidak mewarisi semangat ilmiah yang dimiliki para pendahulunya. Akibatnya prestasi yang telah diraih berpindah tangan ke Barat, karena ternyata mereka mau mempelajari dan meniru tradisi keilmuan yang dimiliki oleh umat Islam masa klasik dan mampu mengembangkannya secara lanjut.

(15)

Kemudian, berawal dari kemunduran yang dialami umat Islam masa itu dan Barat makin menunjukkan eksistensinya sebagai pusat peradaban, utamanya sejak pendudukan Napoleon di Mesir pada tahun 1798, maka muncullah pemikir-pemikir Islam yang tersadar bahwa keadaan umat Islam saat itu sangat terbelakang. Maka mereka melakukan suatu gerakan yang menghasilkan gagasan untuk membangkitkan umat Islam dari keterpurukan itu. Banyak sekali tokoh- tokoh umat Islam yang memberikan ide-ide dan gagasan-gagasannya pada masa itu, di antaranya adalah Muhammad Abduh.

Muhammad Abduh merupakan tokoh pembaharu yang tidak asing lagi, dunia Islam dan Barat mengakuinya, bahkan pandangannya sering dijadikan rujukan dalam pembahasan ke-Islaman. Ia dilahirkan dalam situasi, dimana dunia Barat gencar-gencarnya melakukan kegiatan ekspansi (memperluas) ke daerah-daerah Islam, termasuk Mesir. Pada masa Muhammad Abduh itu, ada dua golongan ekstrim:

mempertahankan tradisi Arab-Islam; dan mengadakan pembaharuan yang murni merujuk pada Barat, sehingga nyaris melupakan nilai-nilai timur dan Islam.

Muhammad Abduh juga termasuk salah satu pembaharu agama dan sosial di Mesir yang hidup pada pertengahan abad ke 19 dan awal abad ke 20 yang pengaruhnya sangat besar di dunia Islam. Muhammad

(16)

Abduh penganjur yang sukses dalam membuka pintu ijtihad untuk menyesuaikan Islam dengan tuntutan zaman modern.

Muhammad Abduh juga terkenal di dunia Islam dengan pembaharuannya di bidang keagamaan, dialah yang menyerukan umat Islam untuk kembali kepada Al Quran dan As-Sunnah as Sahihah. Ia juga terkenal dengan pembaharuannya di bidang pergerakan (politik), dimana Ia bersama Jamaludin al-Afgani menerbitkan majalah al-Urwatul Wutsqa di Paris yang makalah-makalahnya menghembuskan semangat nasionalisme pada rakyat Mesir dan dunia Islam pada umumnya.

Muhammad Abduh juga tidak hanya dikenal sebagai pembaharu dibidang keagamaan dan pergerakan (politik), Ia juga sebagai pembaharu di bidang pendidikan Islam, dimana Ia pernah menjabat anggota pimpinan tertinggi di Universitas Al-Azhar (conseil superieur) (Musthafa & Ahmad,2009:48) di Kairo Mesir. Pada masa menjabat inilah Ia mengadakan pembaharuan-pembaharuan di Universitas tersebut, yang pengaruhnya sangat luas di dunia Islam.

Akhirnya, pemikiran Muhammad Abduh tentang pendidikan dinilai sebagai awal dari kebangkiatan umat Islam di awal abad ke 20.

Pemikiran Muhammad Abduh yang disebarluaskan melalui tulisannya di majalah al-manar dan al-urwatul wutsqa kelak menjadi rujukan para tokoh pembaru dalam dunia Islam, hingga di berbagai negara Islam

(17)

muncul gagasan mendirikan sekolah-sekolah dengan menggunakan kurikulum seperti yang dirintis Muhamamd Abduh. Bahkan di Indonesia, K.H Ahmad Dahlan, dengan gagasan-gagasan dan pemikirannya di bidang pendidikan juga ternyata banyak mendapat pengaruh dari pemikiran Muhammad Abduh.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah seperti telah dijelaskan diatas, maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan masalah, yaitu:

1. Bagaimana pemikiran Muhammad Abduh tentang pendidikan Islam?

2. Bagaimana pembaruan Muhammad Abduh dalam pendidikan Islam di Mesir dan Syiria ?

3. Bagaimana pengaruh pemikiran Muhammad Abduh tentang pendidikan Islam di Indonesia?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin di capai dari penelitian ini adalah:

1. Mengungkapkan dan menggambarkan pemikiran Muhammad Abduh tentang pendidikan Islam.

2. Mengungkapkan dan menggambarkan pembaruan Muhammad Abduh di dalam pendidikan Islam.

(18)

3. Memberikan gambaran pengaruh pemikiran Muhammad Abduh mengenai pendidikan Islam di Indonesia.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah : a) Manfaat Teoritis

1) Penelitian ini dapat menambah dan memperkaya khazanah Islam mengenai pendidikan, khususnya mengenai Muhammad Abduh dan pemikirannya tentang Pendidikan Islam.

2) Dari segi kepustakaan diharapkan dapat menjadi salah satu karya ilmiah yang dapat menambah koleksi pustaka Islam yang bermanfaat.

b) Manfaat Praktis

1) Diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pendididkan Islam utamanya mengenai kajian tokoh Pendidikan Islam.

2) Penelitian ini dapat menjadi inspirasi dan motivasi pada peneltian berikutnya.

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Muhammad Abduh

1. Biografi Muhammad Abduh

a. Riwayat Hidup Muhammad Abduh

Muhammad Abduh lahir pada tahun 1849 M di desa Mahallat Nasr, kabupaten al-Buhairah Mesir dan wafat tahun 1905 M. Nama panjangnya adalah Muhammad bin Abduh bin Hasan Khairullah. (M.Quraish Shihab, 2008:11) Ayahnya bernama Abduh bin Hasan Kharallah, mempunyai silsilah keturunan dengan bangsa Turki dan ibunya mempunyai silsilah keturunan dengan orang besar Islam, Umar bin Khaththab, khalifah yang kedua.(Muhammad Abduh,1992:vii) Muhammad Abduh mengawali pendidikan dalam lingkungan petani di Pedesaan. Di bawah asuhan ibu- bapak yang tidak ada hubungannya dengan pendidikan sekolah, namun memiliki jiwa religius yang kuat.

b. Pendidikannya

Muhammad Abduh mengawali pendidikannya belajar pelajaran pada umumnya, seperti membaca, menulis, dan menghafal al-Qur’an pada ayahnya di rumah. Berkat otaknya yang cemerlang, hanya dalam jangka waktu dua tahun ia mampu menghafal al-Qur’an seluruhnya, ketika itu ia berusia 12 tahun.(Harun Nasution,1987:11) Kemudian

(20)

diusianya yang ke 14 tahun, ia dikirim ayahnya ke Thanta untuk belajar di Masjid al-Ahmadi (al-Jami al-Ahmadi). Di sini, di samping melancarkan hafalan al-Qurannya, ia juga belajar bahasa Arab dan fikih. Setelah belajar selama satu setengah tahun, metode hafalan yang dipakai sebagai sistem pengajaran di tempat ini membuat Abduh yang sedari kecil sudah terlihat nalar kritisnya menjadi kecewa. Dalam riwayatnya ia menulis, “aku menghabiskan satu setengah tahun tanpa mengerti sesuatu apa pun”, karena metode dan sistem belajar yang buruk, guru- guru mengajar dengan menghafal istilah-istilah tentang nahwu dan fikih yang tidak dimengerti. Guru-guru bahkan tidak merasa penting apa kita mengerti atau tidak mengerti arti istilah-istilah tersebut”. Dengan rasa kecewa Abduh pun kembali ke Mahallat Nasr.

Kemudian ayahnya tetap memaksakan agar ia meneruskan belajar di Thanta, dan akhirnya ia terpaksa pergi, namun bukan ke Thanta melainkan ke rumah paman ayahnya yang bernama Syeikh Darwisy Khadr untuk bersembunyi. Darwisy kemudian mendidik Abduh untuk belajar dan mencintai ilmu dan buku. Darwisy juga memberikan imbauan dan dorongan serta nasihat kepada Abduh agar kembali bersamangat dan bergairah dalam menuntut ilmu. Didikan Darwisy ternyata berhasil dan akhirnya Abduh mau meneruskan studinya di Thanta.(M.Quraish Shihab, 2008:21-22)

(21)

Dari Thanta, Muhammad Abduh menuju ke Kairo untuk belajar di Al- Azhar, yaitu pada bulan Februari 1866 M. Namun Sistem pengajaran ketika itu tidak berkenan di hatinya, karena menurut Abduh: ”kepada para mahasiswa hanya dilontarkan pendapat-pendapat para ulama terdahulu tanpa mengantarkan mereka pada usaha penelitian, perbandingan, dan penarjihan.” Namun, di perguruan ini dia sempat berkenalan dengan sekian banyak dosen yang di kaguminya, antara lain:

1. Syaikh Hasan ath-Thawil, yang mengajarkan kitab-kitab filsafat karangan Ibnu Sina, logika karangan Aristoteles dan lain sebagainya, padahal kitab-kitab tersebut tidak di ajarkan di al-Azhar pada waktu itu.

2. Muhammad al-Basyumi, seorang yang banyak mencurahkan perhatian dalam bidang sastra dan bahasa, bukan melalui pengajaran tata bahasa, melainkan melalui kehalusan rasa dan kemampuan mempraktikkannya. (M. Quraish Shihab, 2008:8-9) c. Berguru dengan Jamaluddin al-Afghani

Pada tahun 1871 M adalah awal pertemuan dan interaksi intelektual Abduh dengan salah satu pembaharu Islam, yaitu seorang alim besar bernama Said Jamaluddin al-Afghani yang sudah terkenal dalam dunia Islam sebagai Mujahid (pejuang), Mujaddid (pembaharu/reformer) dan ulama yang sangat alim, yang pada saat itu datang ke Mesir. Muhammad

(22)

Abduh bertemu dengan al-Afghani untuk pertama kalinya, ketika Abduh datang ke rumahnya bersama-sama dengan Hasan at-Tawil, di mana dalam pertemuan itu mereka berdiskusi tentang ilmu tasawuf dan tafsir, ketika itu Muhammad Abduh masih mahasiswa al-Azhar (Muhammad Abduh,1992:vii)

Muhammad Abduh dibimbing oleh al-Afghani dengan berbagai ilmu pengetahuan, walaupun sebelumnya telah didapatkan dari luar al-Azhar, namun menancapkan kesan dan pandangan berbeda bagi Abduh, karena metode yang dipakai al-Afghani adalah studi kritis seperti berdiskusi dan yang lainnya, metode pengajaran yang diterapkan al- Afghani membuat Abduh tertarik dan termotivasi untuk tetap kritis, al- Afghani juga memberikan penjelasan yang luas, mendalam dan mengagumkan pada setiap kajiannya. Dalam tatanan dunia ilmiah dan wawasan pengetahuan umum, al-Afghani mungkin bisa dikatakan yang paling berjasa dalam hidup Abduh dan mempengaruhinya dalam banyak hal, tidak hanya pengetahuan teoritis, al-Afghani juga mengajarkan Abduh pengetahuan praktis, politik, berpidato, menulis artikel, dan sebagainya. Kecakapan yang membawanya tampil di depan publik dan jeli melihat situasi sosial politik di negerinya. Sejak itulah abduh tertarik kepada al-Afghani oleh ilmunya yang dalam dan cara berfikirnya yang modern, sehingga akhirnya Abduh benar-benar dan selalu di

(23)

sampingnya. Selain Abduh, banyak pula mahasiswa-mahasiswa al-Azhar yang ditarik Abduh untuk ikut datang kepada al-Afghani untuk belajar.(Muhammad Abduh, 1992:viii)

Mereka di samping diskusi-diskusi ilmu-ilmu agama, juga belajar pula pengetahuan-pengetahuan modern, filsafat, sejarah, hukum, ke-tata- negaraan dan lain-lain. Pelajaran yang diberikan kepada mereka oleh al- Afghani yaitu semangat berbakti kepada masyarakat dan berjihad memutus rantai-rantai kekolotan dan cara berfikir yang fanatik serta merombaknya dengan cara berfikir yang lebih maju. Abduh telah memiliki cara berfikir yang lebih maju, karena telah banyak membaca buku-buku filsafat dan banyak mempelajari perkembangan jalan berfikir kaum Rasionalis Islam (Mu’tazilah), maka para guru al-Azhar pernah menuduhnya telah meninggalkan mazhab Asy’ari. Terhadap tuduhan itu Abduh menjawab; “sudah jelas saya telah meninggalkan taklid Asy’ari, maka kenapa saya harus bertaklid pula kepada Mu’tazilah? Saya akan meninggalkan taklid kepada siapapun juga, dan hanya berpegang kepada dalil yang dikemukakan”.(Muhammad Abduh, 1992:viii)

Jadi menurut penulis melalui gurunya inilah Muhammad Abduh banyak dipengaruhi dari segi pemikiran-pemikirannya kelak. Muhammad Abduh Akhirnya menammatkan pendidikan tingginya di Universitas Al- Azhar dengan mencapai tingkat tertinggi di Al-Azhar pada tahun 1877 M

(24)

(Usia 28 tahun) dengan mandapat Ijazah Amaliyyah (sekarang L.C.).

Dalam perkembangannya lebih jauh Muhammad Abduh di kenal sebagai seorang tokoh ilmu tafsir, hukum Islam, bahasa Arab dan kesusteraan, logika, ahli ilmu kalam, filsafat, dan soal-soal kemasyarakatan, seorang pembela Islam yang gigih, seorang wartawan yang tajam penanya, seorang hakim yang suatu jabatan keagamaan yang tinggi di mesir.(A.Hanafi,1967:149)

d. Menjadi Dosen Darul Ulum dan Al-Azhar

Setelah Abduh menamatkan kuliahnya, atas nama usaha Perdana Menteri Mesir Riadl Pasya, ia diangkat menjadi dosen pada Universitas

“Darul Ulum”, di samping itu pula ia menjadi dosen di al-Azhar. Di saat memangku jabatannya, ia terus mengadakan perubahan-perubahan yang radikal sesuai dengan cita-citanya, yaitu memasukan udara segar ke dalam perguruan-perguruan tinggi Islam itu, dengan cara menghidupkan Islam dengan metode-metode baru yang sesuai dengan kemajuan zaman, memperkembangkan kesusastraan Arab, sehingga menjadi bahasa yang hidup dan kaya-raya, serta melenyapkan cara-cara lama yang kolot dan fanatik.(Muhammad Abduh, 1992:viii)

e. Dibuang ke Beirut (Syria)

Pada tahun 1882 terjadi di Mesir suatu pemberontakan, Abduh dituduh terlibat di dalamnya yang kemudian diusir. Pemberontakan itu di

(25)

awali oleh suatu gerakan yang dipimpin oleh Arabia Pasya, di mana Abduh dipilih sebagai penasihatnya. Setelah pemberontakan itu dapat dipadamkan, maka Abduh dibuang ke Syiria (Beirut). Di sana ia mendapat kesempatan mengajar pada Perguruan Tinggi Sulthaniyah selama kurang lebih satu tahun. Kemudian pada permulaan tahun 1884 ia pergi ke Paris atas panggilan al-Afghani yang waktu itu berada di Paris.( Muhammad Abduh, 1992:ix)

f. Gerakan Al-Urwatul Wutsqa

Bersama-sama dengan al-Afghani, disusunlah sebuah gerakan yang bernama “al-Urwatul Wutsqa”, di Paris, yakni gerakan kesadaran umat Islam sedunia. Untuk mencapai cita-cita gerakan ini diterbitkannya sebuah majalah dengan nama yang sama pula dengan gerakan itu yaitu majalah “al-Urwatul Wutsqa”. Dengan perantara majalah itulah ditiupkannya suara keinsyafan ke seluruh dunia Islam, supaya mereka bangkit dari tidurnya, melepaskan cara berfikir fanatik dan kolot dan bersatu membangun kebudayaan Islam di dunia. Suara itu lantang sekali terdengar yang kemudian memperlihatkan pengaruhnya dikalangan umat Islam sehingga dalam waktu singkat, kaum imperialis (penjajahan) menjadi gempar dan cemas karenanya. Akhirnya Inggris melarang majalah itu masuk ke Mesir dan India. Kemudian pada tahun 1884, setelah majalah itu terbit baru 18 halaman, pemerintah Prancis

(26)

melarangnya terbit dan beredar. Karena mendapat tekanan dari pihak Barat, Jamaluddin dan Abduh meninggalkan Paris. (Muhammad Abduh,1992:x)

g. Kembali ke Beirut

Setelah meninggalkan Prancis Muhammad Abduh kemudian menuju ke Bairut. Di kota Beirut inilah Muhammad Abduh memulai babakan perjuangan baru, kalau semula Ia aktif di bidang Politik, mengikuti pola perjuangan guru besarnya al-Afghany maka mulai dari kota Beirut ini ia mengaktifkan diri dalam bidang sosial pendidikan. Ia di terima sebagai guru di Madrasah Sultaniyah. Di antara murid-muridnya di Madrasah tersebut tercatat nama Amir Syakib Arslan dan Rasyid Ridla.

Kedua Murid Abduh ini kelak tercatat sebagai siswa berotak cemerlang dan mempunyai bakat menulis. Kelak dari Sakib Arslan tokoh in lahirlah buah karya tulisnya yang terkenal berjudul “ْْنُهُرْيَغ َْمَّدَقَت َْو َْنْوُمِل ْسُمْلا َْرَّخَأَت

َْذاَمِل” atau “mengapa orang Islam menjadi mundur sementara orang lain maju? Karya yang bagus ini hakekatnya adalah hasil diskusi dengan Muhammad Abduh maupun Jamaluddin al-Afghany. Lewat analisis yang cukup teliti Amir menyimpulkan bahwa sebab musabab orang Barat menjadi maju karena meninggalkan ajaran agamanya, sedangkan umat Islam menjadi mundur karena meninggalkan ajaran agamanya. Adapun mata kuliah yang disampaikan Muhammad Abduh di Madrasah

(27)

Sultaniyah antara lain adalah mata kuliah tauhid. Kelak di kemudian hari dari kumpulan kuliah-kuliahnya di sekitar masalah tauhid ini dikumpulkan menjadi sebuah buku yang berjudul “Risalah Tauhid: sebuah buku yang cukup terkenal di dunia Islam sampai hari ini. (Musthafa Kamal Pasha dan Ahmad Adaby Darban, 2009:47)

h. Menjadi Mufti Mesir

Pada tahun 1889 Muhammad Abduh kembali ke Mesir. Jabatan yang pertama-tama diberikan oleh Pemerintah kepadanya adalah jabatan hakim, setelah menekuni jabatan ini sekitar 2 tahun, ia diberi jabatan penting oleh pemerintah Mesir sebagai “Mufti”, yakni suatu jabatan yang paling tinggi dipandang oleh kaum Muslimin. Berbeda dengan Mufti-mufti sebelumnya, Abduh tidak mau membatasi dirinya sebagai alat penjawab pertanyaan-pertanyaan pemerintah saja melainkan ia memperluas tugas jabatan itu untuk kepentingan kaum Muslimin. Di samping itu ia pun diangkat sebagai anggota Majelis Perwakilan. Dalam badan ini Abduh banyak memberikan jasa-jasanya dan karena itu pula ia sering ditunjuk sebagai ketua penghubung dengan pemerintah. Abduh pernah juga diserahi jabatan sebagai Hakim Mahkamah dan dalam tugas ini ia dikenal sebagai seorang Hakim yang adil. (Muhammad Abduh,1992:20)

Demikian jabatan tersebut dijabatnya sampai beliau meninggal dunia akibat menderita kangker hati. Abduh meningal dunia di Iskandaria

(28)

tanggal 11 Juli 1905 dan jenazahnya dimakamkan dikawasan Qurafat al- Mujawirin, dengan meniggalkan empat orang putri. (Harun Nasution,1987:27)

i. Karya-Karya Muhammad Abduh

Sebenarnya Abduh tidak terlalu tertarik menerangkan pemikiran- pemikirannya dalam buku. Abduh lebih memilih metode pidato dalam menyampaikan ide dan pandangannya, menurutnya, pemikiran yang disampaikan lewat ucapan lebih menyentuh hati sanubari pendengar, ketimbang menerangkan dalam bentuk tulisan. Hal tersebut dapat dimaklumi karena waktu yang ia miliki habis terpakai untuk mengajar ketimbang untuk menulis.

Adapun beberapa karya-karya dari Muhammad Abduh seperti : 1. Risalah Al-Aridat tahun 1873 M

2. Hasyiah-Syarah Al-Jalal Ad-Dawwani lil-Aqa’id Al-Adhudhiyah tahun 1875 M. Karya ini ditulis Muhammad Abduh ketika berumur 26 tahun. Isinya tentang aliran-aliran filsafat, ilmu kalam (teologi) dan tasawuf. Serta berisikan kritikan pendapat-pendapat yang salah.

3. Risalah At-Tauhid, karya ini berisikan tentang bidang teologi.

4. Syarah Nahjul-Balaghah, karya ini berisikan komentar menyangkut kumpulan pidato dan upacara Imam Ali bin Abi Thalib.

5. Menerjemahkan kitab karangan Jamaluddin Al-Afghani yaitu Ar- Raddu Ala Al-Dahriyyin dari bahasa Persia. Karya ini berisikan bantahan terhadap orang yang tidak memercayai wujud Tuhan.

6. Syarah Maqamat Badi Al-Zaman Al-Hamazani, karya ini

(29)

berisikan tentang bahasa dan sastra arab.

7. Tafsir Al-Manar, karya ini berorientasi pada sastra-budaya dan kemasyarakatan. (M.Quraish Shihab, 2008:9-11)

8. Tafsir Juz Amma (1904), al-Maktabaah al-Amiriyya, Kairo. (Abd.

Assegaf, 2013:156)

Sebenarnya karya Abduh cukup sedikit untuk ukuran pemikir yang cukup berpengaruh dalam dunia intelektual keIslaman. Meskipun demikian, ide-ide pembaharuanya baik dalam bidang syariat, aqidah maupun pendidikan begitu berpengaruh di dunia Islam. Ide-ide Abduh menyebar ke dunia Islam melalui karya-karya Abduh sendiri maupun melalui murid dan pengikutnya.

2. Latar Belakang Pemikiran Muhammad Abduh

Pemikiran Muhammad Abduh, khususnya dibidang pendidikan tampaknya muncul di latar belakangi oleh faktor situasi, yaitu situasi sosial keagamaan, situasi pendidikan pada saat itu terutama yang dialaminya sendiri, dan juga situasi politik.

Faktor sosial, berupa sikap hidup yang dibentuk keluarga dan gurunya, terutama Syekh Darwisy dan Sayyid Jamaluddin al-Afghani, disamping itu lingkungan sekolah di Tanta Mesir tempat ia menemukan system pendidikan yang tidak efektif, serta pandangan agama yang statis dan pikiran-pikiran yang fatalis (menyerah kepada takdir Tuhan). Faktor kebudayaan yang berupa ilmu pengetahuan yang diperolehnya selama

(30)

belajar di sekolah-sekolah formal, dari Jamaluddin al-Afghani, serta pengalaman yang timbul dari Barat.

Faktor politik yang bersumber dari situasi politik di masanya, sejak ia hidup dalam lingkungan keluarganya di Mahallad Nasr. Dari kezaliman yang dilakukan oleh para pegawai di masa pemerintahan Muhammad Ali sampai pada gejala-gejala politik di Mesir disebabkan oleh system pemerintahan yang absolut, politik realisme dan campur tangan asing di negara Mesir. (M.Sugeng Sholehuddin, 2010:121-123)

Sehingga menurut penulis yang melatar belakangi pemikira- pemikiran Muhammad Abduh adalah dari situasi sosial dan politik pada waktu itu, baik ketika di Mesir, Syiria, dan Prancis.

3. Corak Pemikiran Muhammad Abduh a. Modernisme

Sebagaimana telah disinggung pada latar belakang pemikiran Muhammad Abduh, bahwa semenjak perjumpaannya dengan Al-Afghani, Abduh berusaha mengadakan penyesuaian ajaran Islam dengan tuntutan zaman, seperti penyesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Gagasan penyesuaian inilah yang kemudian disebut dengan modernisasi. Sumber dari gagasan modernisasi Abduh tersebut bersumber dari penentangannya terhadap taqlid (Abd. Rahman Assegaf, 2013:166). Menurut Muhammad Abduh, al-Quran memerintahkan kepada

(31)

umatnya untuk menggunakan akal sehat mereka, serta melarangnya mengikuti pendapat-pendapat terdahulu tanpa mengetahui secara pasti hujah-hujah yang menguatkan pendapat tersebut, walaupun pendapat itu dikemukakan oleh orang yang seyogianya paling dihormati dan dipercaya. Abduh menetapkan tiga hal yang menjadi kreteria perbuatan taqlid ini. Ketiga kreteria tersebut adalah:

a) Sangat mengagung-agungkan para leluhur dan para guru mereka secara berlebihan.

b) Mengitikadkan agungnya pemuka-pemuka agama yang silam, seolah-olah telah mencapai kesempurnaan.

c) Takut dibenci orang dan dikritik bila ia melepaskan pikirannya serta melatih dirinya untuk berpegang kepada apa yang dianggapnya benar secara mutlak.

Berdasarkan pada pandangannya tersebut, Abduh memahami al- Quran, terutama yang berkaitan dengan kecaman terhadap sikap dan perbuatan taqlid tersebut, walaupun menyangkut sikap kaum musyrikin.

Selanjutnya ia mengecam sikap kaum muslimin - khususnya yang berpengetahuan - yang mengikuti pendapat ulama-ulama terdahulu tanpa memerhatikan hujjahnya.(Abd. Rahman Assegaf, 2013:167)

Muhammad Abduh sebagai pelaku modernis telah menyikapi peradaban Barat modern dengan selektif dan kritis. Dia senantiasa

(32)

menggunakan prinsip ijtihad sebagai metode utama untuk meretas kebekuan pemikiran kaum muslim. Nilai-nilai dan gagasan tertentu yang lahir dari peradaban Barat, seperti demokrasi, prinsip kebersamaan, dan kemerdekaan, serta konsep negara-bangsa diterima Muhammad Abduh dengan bingkai Islam secara kritis.

Namun demikian, Abduh tidak berfikir, apalagi berusaha, untuk mengambil alih secara utuh segala yang datang dari dunia barat. Karena di samping hal ini hanya akan berarti mengubah taqlid yang lama kepada taqlid yang baru, juga karena hal tersebut tidak akan berguna, disebabkan adanya perbedaan-perbedaan pemikiran dan struktur sosial masyarakat masing-masing daerah. Islam, menurut Abduh “harus mampu meluruskan kepincangan-kepincangan perebedaan Barat serta membersihkannya dari segi-segi negatif yang menyertainya. Dengan demikian, peradaban tersebut pada akhirnya, akan menjadi pendukung terkuat ajaran Islam, sesaat setelah ia mengenalnya dan dikenal oleh pemeluk-pemeluk Islam”. Di samping itu, banyak pendapat dari para modernis yang menyatakan bahwa pendekatan pembaruan yang digunakan Muhammad Abduh di dasarkan pada: Pertama, Muhammad Abduh menekankan perlunya peran agama bagi kehidupan manusia, yang secara mutlak merupakan wahyu yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Kedua, Muhammad Abduh menekankan perlunya

(33)

penggunaan bagian terbaik dari peradaban Barat yang telah sedemikian rupa mencapai kemajuan. (Abd. Rahman Assegaf, 2013:169).

Sehingga penulis menarik sebuah kesimpulan yaitu dalam modernisme yang dilakukan Muhammad Abduh terhadap tubuh agama Islam dengan cara mengambil kemajuan-kemajuan dari Barat namun semuanya tidak diambil secara mentah-mentah

b. Rekonstruksionisme

Muhammad Abduh senatiasa melihat tradisi dengan prespektif pembangunan kembali (rekonstruksi). Agar tradisi suatu masyarakat dapat tetap survive dan terus diterima, ia harus dibangun kembali, atau dengan istilah lain Iadad al-bunyat min jadid. Pembangunan kembali ini tentunya dengan kerangka modern yang bersyarat rasional. Hal ini diakui juga oleh Fazlul Rahman, bahwa pemikiran pembaruan yang bercorak reformistik dalam bentuknya yang pertama, secara filosofis, telah dikemukakan Muhammad Abduh dan kemudian diperkuat oleh Muhammad Iqbal.

Masih terdapat satu lagi pendekatan yang digunakan Abduh yakni pendekatan identifikatif-modernis. Penggunaan pendekatan ini bisa diamati dari esensi pemikirannya pada perumusannya terhadap pemikiran dan rivitalisasi masyarakat muslim melalui identifikasi gagasan dan institusi-institusi modern. Adapun pendekatan apologetiknya

(34)

(pemikiran Ilmiahnya) terlihat dari upaya gigihnya untuk mengukuhkan dan mempertahankan eksistensi doktrin Islam sebagai landasan utamanya.

Muhammad Abduh pernah menyatakan bahwa Al-quran mengajarkan kepada penganutnya agar menuntut hujjah karena Al-quran mengantarkan mereka ke jalan yang benar. Adalah wajar bagi seseorang yang memiliki keyakinan untuk menuntut dari lawannya atau mengajaknya dengan menggunakan dalil-dalil. Demikianlah kebiasaan ulama terdahulu; mengutarakan sesuatu dengan dalil, menuntut dalil, serta melarang menerima sesuatu yang tanpa dalil. Tetapi, setelah kepergian mereka, datanglah “khalaf yang taleh” (penerus-penerus yang tidak saleh) untuk menetapkan taqlid, bahkan memerintahkannya. (Abd.

Rahman Assegaf, 2013:169-170).

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemikiran Muhammad Abduh Tidak ada sesuatu apa pun yang berangkat dari ruang hampa, begitu juga dengan pemikiran Muhammad Abduh. Banyak hal yang mendorongnya untuk melakukan pembaruan bagi masyarakat Islam di Mesir, di antara faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut.

a. Faktor Sosial

Dari catatan biografi di atas, terdapat dua hal penting yang dapat digunakan untuk menganalisis faktor sosial Muhammad Abduh. Pertama,

(35)

kedudukan orangtua Muhammad Abduh yang menyertai masa-masa awal kehidupannya. Kedua, status sosialnya ketika ia telah mandiri, dan lembaga-lembaga sosial, seperti Kuttab al-Qaryah dan al-Azhar, tempat ia mengadakan kegiatan kemasyarakatan dan politik. Kondisi sosial yang bervariasi pada saat itu di Mesir, pada masa-masa sebelum abad ke-19, mempunyai hubungan dengan kondisi sosial masyarakat Mesir secara umum pada paro kedua abad ke-19. Kemudian, Syaikh Darwisy dan Sayyid Jamaluddin Al-Afghani juga sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap Muhammad Abduh.

b. Faktor Politik

Untuk menganalisis pengaruh-pengaruh faktor politik pada pemikiran Muhammad Abduh, yaitu kedudukannya dalam pemberontakan Urabi menjadi sangat penting untuk di bicarakan.

Tulisan-tulisannya tentang politik, telah memberikan andil besar dalam membangkitkan opini publik sebelum terjadi pemberontakan itu. Abduh pernah melontarkan pemikiran politiknya yang menghendaki perombakan kerangka berpikir yang darinya muncullah pemberontakan tersebut.

Dalam tulisan-tulisannya itu, ia menuntut kehidupan politik yang demokratis melalui lembaga perwakilan rakyat, begitu pun ia pernah menulis tentang nasionalisme. Akan tetapi, dalam tulisan-tulisannya itu, Muhammad Abduh tampaknya tetap konsisten pada pembaruan secara

(36)

bertahap. Dalam kerangka yang lebih luas, pemikiran-pemikiran politiknya sesungguhnya bermuara pada pembaruan di bidang sosial dan pendidikan. Keikutsertaannya dalam pemberontakan Urabi dapat dibenarkan, dengan alasan, antara lain, karena ia ingin mempertahankan Undang-Undang Dasar (al-dustur).

c. Faktor Kebudayaan

Dalam uraian sebelumnya dijelaskan bahwa Muhammad Abduh, sejak masa-masa awal hidupnya telah memusatkan perhatiannya pada studi keislaman. Dalam usianya yang sangat muda telah hafal Al-Quran.

Selain itu, Abduh juga mempelajari dan menekuni tasawuf yang didapatkan dari Syaikh Darwisy mengingatkan Muhammad Abduh bahwa kehidupan mistisme sangat memerhatikan hubungan-hubungan spritual dan hubungan material (keduniaan). (Mukhrizal Arif, dkk, 2014:295-296)

Semasa studi di al-Azhar perjumpaanya dengan Jamaluddin Al- Afghani merupakan momentum penting bagi terjadinya perubahan kehidupan kultur dirinya serta pengalaman yang ditimbahnya dari Barat (Samsul Nisar, 2013:244). Ketika Muhammad Abduh banyak dasar-dasar filsafat kepada al-Afghani. Pemikirannya mulai berubah, dari sufisme khayalan ke arah pemikiran filsafat yang praktis. Butir-butir pemikiran ilmiah modern yang diperolehnya dari ajaran al-Afghani dan hasil studinya tentang filsafat, logika, dan ilmu kalam (teologi), ternyata

(37)

berdampak positif pada langkah-langkah pembaruan yang ditempuhnya, yaitu bidang sosial, pendidikan, agama, dan moral.

5. Peran Pemikiran Muhammad Abduh terhadap Dunia Islam

Muhammad Abduh juga memiliki peran dalam perkembangan dunia Islam sebagai pelopor reformasi dan pembaharuan dalam pemikiran Islam. Ide-idenya yang cemerlang, meninggalkan peran yang besar dalam tubuh pemikiran umat Islam. Beliaulah pendiri sekaligus peletak dasar-dasar sekolah pemikiran pada zaman modern juga menyebarkannya kepada manusia. Walau guru beliau al-Afghani adalah sebagai orang pertama yang mengobarkan percikan pemikiran dalam jiwanya, akan tetapi Muhammad Abduh sebagai mana diungkapkan Dr.

Mohammad Imarah, adalah seorang arsitektur terbesar dalam gerakan pembaharuan dan reformasi atau sekolah pemikiran modern, melebihi guru beliau Jamaluddin al-Afghani.

Muhammad Abduh memiliki andil besar dalam perbaikan dan pembaharuan pemikiran Islam kontemporer, telah banyak pembaharuan yang beliau lakukan diantaranya:

a. Reformasi Pendidikan

Muhammad Abduh memulai perbaikannya melalui pendidikan.

Menjadikan pendidikan sebagai sektor utama guna menyelamatkan

(38)

masyarakat Mesir. menjadikan perbaikan sistem pendidikan sebagai asas dalam mencetak muslim yang shaleh.

b. Mendirikan Lembaga dan Yayasan Sosial

Sepak terjang dalam perbaikan yang dilakukan Muhammad Abduh tidak hanya terbatas pada aspek pemerintahan saja seperti halnya perbaikan pendidikan dan Al-Azhar. Akan tetapi lebih dari itu hingga mendirikan beberapa lembaga-lembaga sosial. Diantaranya: Jami’ah Khairiyah Islamiyah, Jami’ah Ihya al-Ulum al-Arabiyah,dan juga Jami’ah at-Taqorrub baina al-Adyan.

c. Mendirikan Sekolah Pemikiran

Muhammad Abduh adalah orang pertama yang mendirikan sekolah pemikiran kontemporer yang memiliki dampak besar dalam pembaharuan pemikiran Islam dan kebangkitan akal umat muslim dalam menghadapi musuh-musuh Islam yang sedang dengan gencar menyerang umat muslim saat ini.

d. Penafsiran Al-qur’an

Pembaruan yang dilakukan Muhammad Abduh di antaranya dengan menghadirkan buah karya penafsiran al-Qur’an. Adalah Tafsir Al-Manar yang di tulis Muhammad Abduh dan muridnya Muhammad Rasyid Ridha yang telah memberikan corak baru dalam ilmu tafsir. Corak tafsir yang dikembangkan ini disebut Mufassirin “adabi ijtima’i” (budaya

(39)

masyarakat). Corak ini menurut Muhammad Husein adz-Dzahabi menitik beratkan penjelasan ayat-ayat al-Qur’an pada segi ketelitian redaksinya, kemudian menyusun kandungannya dalam suatu redaksi yang indah dengan menonjolkan segi-segi petunjuk al-Qur’an bagi kehidupan, serta menghubungkan pengertian ayat-ayat tersebut dengan hukum-hukum alam yang berlaku dalam masyarakat dan pembangunan dunia.

Di antara prinsip Muhammad Abduh dalam menafsirkan ayat adalah, al- Qur’an menjadi pokok. al-Qur’an didasarkan segala mazhab dan aliran keagamaan, bukannya mazhab-mazhab dan aliran yang menjadi pokok, dan ayat-ayat Al-Qur’an hanya dijadikan pendukung mazhab-mazhab tersebut. Kecuali itu, Muhammad Abduh membuka lebar pintu ijtihad.

Menurutnya dengan membuka pintu ijtihad akan memberi semangat dinamis terhadap perkembangan Islam dalam seluruh aspeknya.(dalam https://hikmawansp.wordpress.com)

Sehingga dari uraian di atas menurut penulis tidak salah bila Muhammad Abduh di katakan sebagai salah seorang pembaharu terhadap dunia Islam kontemporer saat ini.

(40)

B. Pendidikan Islam

1. Pengertian Pendidikan Islam a) Secara Bahasa

Bila kita melihat pengertian pendidikan maka takkan lepas dari pengertian secara bahasa, secara bahasa, pendidikan adalah terjemahan dari bahasa yunani, paedagogie yang berarti “pendidikan” dan paedagogia yang berarti “pergaulan dengan anak-anak”. Istilah paedagogie berasal dari kata paedos (anak) dan agoge (saya membimbing, memimpin).(Armai Arifin, 2007:15)

Oleh karena itu, menurut penulis pendidikan merupakan pembinaan, pelatihan, pengajaran, dan semua hal yang merupakan bagian dari usaha manusia untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilan anak-anak atau peserta didik.

Menurut Undang-Undang SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) UU No. 20 Th. 2003 Bab 1 Pasal 1 (2014:3) di jelaskan tentang pengertian pendidikan bahwa:

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,

(41)

serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.”

Kemudian pendidikan dalam konteks Islam umumnya mengacu kepada kepada tiga term al-Tarbiyah, al-Ta’dib, dan al-Ta’lim.(Samsul Nizar, 2005:25) Namun dalam hal tertentu ketiganya memiliki kesamaan makna, namun secara esensi setiap term memiliki perbedaan maka diperlukan suatu uraian sebagai berikut:

a. at-Tarbiyah

Kata at-Tarbiyah berasal dari tiga kata yaitu yang pertama rabba- yarbu ( ب ْرَي - ب َر) yaitu bertambah, tumbuh, dan berkembang. Kedua rabiya-yarba ( َب ْري - َيِب َر) berarti menjadi besar. Ketiga rabba-yarubbu ( ب رَي - ب َر) berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, dan memelihara. (Abdurrahman an-Nahlawi, 1992:31)

Secara filosofis mengisyaratkan bahwa yang terkandung dalam makna at-Tarbiyah mengandung unsur pendekatan memelihara dan menjaga anak didik, mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan, serta mengarahkannya secara bertahap. (Samsul Nizar, 2005:26)

Dengan demikian menurut penulis at-Tarbiyah secara bahasa berarti pendidikan dan juga Tarbiyah adalah proses bertumbuhnya anak dengan dipelihara, dibimbing dan dituntun untuk mencapai

(42)

kesempurnaan potensinya.

b. at-Ta’dib

Kata al-ta’dib berasal dari kata addaba – yuaddibu - ta’diban (اًبْيِدْأَت – بِّدَأ ي – َب دَأ) yang berarti pendidikan, disiplin, patuh, dan tunduk pada aturan.(Mahmud Yunus, t.th:278)

Kata addaba dimaknai oleh al-Attas (1994:60) sebagai mendidik, maka dari itu ia mengemukakan bahwa kata at-Ta’dib berarti pengenalan dan pengakuan secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia (peserta didik) tempat-tempat dan segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan, dengan begitu pendidikan akan berfungsi sebagai pembimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan kepribadiannya, labih jauh lagi ia mengungkapkan bahwa at-Ta’dib adalah term yang tepat dalam pendifinisian makna pendidikan karena mengandung arti ilmu, kearifan, keadilan, kebijaksanaan, pengajaran, dan pengasuhan. Namun juga Ta’dib biasa diartikan dengan dengan adab, tingkah laku atau sopan santun.

c. at-Ta’lim

Istilah ta’lim bersifat universal dibanding dengan al-Tarbiyah, Rasyid Ridha (t.th:262) mengartikanan ta’lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan

(43)

ketentuan tertentu.

Argumentasinya didasarkan dengan dengan firman Allah Swt QS.

Al- Baqarah 2: 151 sebagai berikut:



































Terjemahnya:

“Sebagaimana kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat kami, mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al- Quran) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.” (Kementerian Agama, 2011:23)

Kalimat (wa yu’allimu hum al-kitab wa al-hikmah) dalam ayat tersebut menjelaskan tentang aktivitas Rasulullah mengajarkan tilawat al- Quran kepada kaum muslimin. Menurut Abdul Fattah Jalal (1998:28), apa yang dilakukan Rasul bukan hanya membuat umat Islam bisa membaca, melainkan membawa kaum muslimin kepada nilai pendidikan tazkiyah an-nafs (penyucian diri) dari segala kotoran, sehingga memungkinkannya menerima al-hikmah serta segala sesuatu yang bermanfaat untuk diketahui.

Kecendrungan tersebut didasarkan pada argumentasi bahwa manusia pertama yang mendapat pengajaran langsung dari Allah adalah nabi Adam a.s. hal ini secara eksplisit tersirat dalam Q.S Al baqarah 2 : 31, Allah Swt berfirman :

(44)

































Terjemahnya:

“Dan dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar !". (Kementerian Agama, 2011:5)

Dijelaskan pada ayat tersebut bahwa penggunaan kata allama untuk memberikan pengajaran kepada nabi Adam a.s memiliki nilai lebih yang sama sekali tidak dimiliki para malaikat.

Sedangkan dalam hadits juga memuat kata ta’lim,sebagai berikut:

ََمَّلَس َو َِهٌَْلَع ََُّاللّ ىَّلَص َ ًِبَّنلا ََلاَق, ََلاَق ََناَّفَع َِنْب ََناَمْثُع َْنَع ( هاور يراخبلا ) هَمَّلَع َو ََنَأ ْرُقْلا ََمَّلَعَت نَم م ك ر ي َخ

Artinya:

“Dari Ustman bin Affan berkata, Nabi Saw bersabda, sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain.”(H.R. Bukhari) (Iman Az- Zabidi, 2002:899)

Dalam hadits ini secara lengkap disebutkan ungkapan ta’alim, sedangkan ilmu yang dipelajari adalah Al-Qur’an serta disebutkan pihak yang mengajarkannya yaitu muallimun. Ta’lim secara umum hanya terbatas pada pengajaran dan pendidikan kognitif semata-mata. Hal ini memberikan pemahaman bahwa ta’lim hanya mengedepankan proses

(45)

pengalihan ilmu pengetahuan dari pengajar (mu’alim) dan yang diajar (muta’alim). Ta’lim juga mewakili ungkapan proses dari tidak tahu menjadi tahu.

Kata at-ta’lim dalam arti pengajaran yang merupakan bagian dari pendidikan banyak kegunaan untuk kegiatan pendidikan yang bersifat non formal, seperti majelis taklim yang sangat berkembang dan bervariasi, dikalangan pemikir Islam sendiri kata at-ta’lim untuk arti pendidikan lebih pas diartikan pengajaran, karena pengajaran merupakan bagian dari kegiatan pendidikan.(Abuddin Nata, 2010:14)

Sehingga penulis dapat menarik kesimpulan dari makna kata ta’lim yaitu pengajaran dan juga ta’lim hanya sebatas kepada mengajar dan mentransfer ilmu tanpa diiringi dengan bimbingan.

b) Secara Istilah

Istilah atau terminologi pada dasarnya kesepakatan yang dibuat para ahli dalam bidangnya masing-masing, berikut pendapat para ahli tentang pendidikan Islam:

a. Hasan Langgulung (1986:32) mengartikan pendidikan adalah suatu proses yang mempunyai tujuan yang biasanya diusahakan untuk menciptakan pola-pola tingkah laku tertentu pada kanak- kanak atau orang yang sedang dididik.

b. Ahmad D. Marimba (1989:19) mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidikan terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadiaan yang utama.

(46)

c. Ahmad Tafsir (1992:32) mendefinisikan bahwa pendidikan Islam sebagai bimbingan yang diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.

Dari beberapa istilah pendidikan Islam yang telah didefinisikan di atas, menurut penulis pendidikan Islam adalah merupakan suatu sistem yang dapat mengarahkan kehidupan anak-anak atau peseta didik yang sesuai dengan ajaran-ajaran Islam sehingga berderajat tinggi di sisi Allah Swt.

2. Tujuan Pendidikan Islam

a. Mendekatkan diri kepada Allah (Taqarrub Ila Allah)

Aspek tujuan dalam pendidikan Islam merupakan masalah sentral sebab tanpa adanya tujuan yang terarah aktivitas pendidikan menjadi tidak jelas, tanpa arah. Pendidikan akan tersesat di luar koridor yang sudah yang di tentukan (Arifi, 2009:31). Aspek tujuan dalam pendidikan Islam setidaknya harus mengacu pada sumber pendidikan yang ada, yaitu al-Quran dan sunnah serta berlandaskan pada hakikat keberadaan manusia sendiri sebagaimana konsepsinya dalam Islam.

Juga, salah satu tujuan pendidikan Islam adalah agar Ilmu pengetahuan tidak hilang, sehingga diharapkan senantiasa berkembang dengan mengikuti zamannya dan menghidari munculnya kebodohan tentang Islam, sebagaimana Nabi Muhammad Saw pernah bersabda sebagai berikut:

(47)

عَف ْر ي ْنَأ : ِةَعا سلا ِطا َرْشَأ ْنِم نِا : َم لَس َو ِهْيَلَع الله ي لَص ِالله ل ْو س َر َلاَق : َلاَق هْنَع الله َي ِض َر سَنَأ ْنَع (٠٨:راخبلا هاور) . اَن ِّزلا َرَه ْظَي َو رْم َخلا ب َرْش ي َو لْه َجْلا ت بْثَي َو ملِعْلا Artinya:

“Dari Anas r.a berkata Rasulullah Saw pernah bersabda, sebagian tanda-tanda akan terjadinya kiamat adalah: 1) Hilangnya ilmu dan maraknya kebodohan tentang Islam. 2) Terbiasanya mengkomsumsi minuman yang memabukkan. 3) Perzinahaan dianggap biasa. (H.R Bukhari:80) (Imam Az-Zabidi, 2002:41)

Islam sebagai sebuah sistem makro, mempunyai derivasi(asal mula) berupa sub-sistem, yaitu aspek ekonomi, politik, sosial, pendidikan, dan lain sebagainya. Artinya, semua sub-sistem yang ada menjadi instrumen dalam pemenuhan eksistensi manusia sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah. Setiap sub-sistem tersebut dilaksanakan dengan sebuah orientasi dan tujuan sebagaimana hakikat manusia diciptakan.

Sebagaimana firman Allah dalam Q.S Al-Dzariyat 51:56:













Terjemahnya:

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Kementerian Agama, 2011:523)

Tujuan Allah menciptakan manusia dan makhluk lainnya, tidak lain hanyalah untuk senantiasa menyembah dan mengabdi kepadanya.

Tujuan hidup manusia ialah menyembah dan senantiasa mendekatkan diri pada Allah. Dengan demikian, pendidikan sebagai sub-sistem dalam

(48)

Islam, dalam realisasi tujuannya utamanya sejalan dan searah dengan tujuan Islam, yaitu mengabdi dan senantiasa mendekatkan diri pada Sang Khalik.

Dalam Q.S Al-Anam [6]:162 juga ditegaskan:



















Terjemahnya:

“Katakanlah (Muhammad),”Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”

(Kementerian Agama, 2011:150)

Tujuan ini merupakan cerminan dari realisasi yang ada dalam Al- Quran, yaitu penyerahan diri secara total dalam setiap aktivitas manusia, termasuk dalam aspek pendidikan. Hal ini berbeda dengan konsepsi Barat tentang pendidikan tempat setiap proses pendidikan hanya bertujuan pada pemenuhan eksistensi manusia sebagai aspek independen (berdiri sendiri) tanpa memedulikan dimensi transendental (berdasarkan kerohanian).

Adapun dalam konsepsi Islam, tujuan utama dalam pendidikan diarahkan pada upaya penyerahan diri secara total pada dimensi transenden, yakni Allah, dengan cara senantiasa mendekatkan diri (taqarrub ila Allah) dalam setiap aktivitasnya selama di dunia. (Umiarso dan Zamroni, 2011:105)

(49)

Begitupun dengan perkataan nabi Muhammad Saw yang selaras dengan tujuan pendidikan Islam agar senantiasa dekat dengan Allah Swt, Rasulullah Saw bersabda sebagai berikut:

َِاللَُّل ْوُس َرََلاَق،َلاَقَ ٍسَنأَ ْىِبَأَ ْنَع َو َمَّلَسَو ِه يَلَع الله ىَّلَص

َ َناَكَ،ِمْلِعْلاَِبَلَطَ ًِْفََجَرَخَ ْنَمَ: َ

َ)يذمرتلاَهاور(.ُعِج ْرًٌَََّت َحَِ ّاللَِّلٌِْبَسَ ًِْف

Artinya :

Dari Anas r.a berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali.” (H.R At-Tirmidzi) (Imam An-Nawawi, 2014:605)

b. Kesempurnaan Manusia Mencapai Kebahagian Dunia dan Akhirat (Insan Kamil)

Seperti telah diurai sebelumnya, tujuan akhir pendidikan Islam ialah terbentuknya totalitas penyerahan atau penghambaan manusia pada Allah. Dengan demikian, ketika manusia dalam posisi total dalam menedekatkan diri pada Allah, ia akan menjadi manusia yang akan memperoleh kebahagian di dunia dan kekal di akhirat.

Dalam konsepsi Islam, manusia yang telah sampai pada bentuk totalitas dan ketakwaan pada Allah serta meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat, dikonsepsikan (gambarkan) sebagai insan kamil (manusia sempurna). Insan Kamil merupakan suatu bentuk eksistensi yang dicita- citakan oleh umat Muslim yang diraih melalui sarana pendidikan.

(50)

Manusia ketika sampai pada derajat sempurna (insan kamil), menurut Ahmad Tafsir akan tampak beberapa karekteristik pokok;

pertama, jasmani yang sehat serta kuat dan berketerampilan; kedua, cerdas serta pandai; dan yang ketiga ruhani yang berkualitas. (Ahmad Tafsir, 2008:41-44)

Menurut Soebahar, ketika seseorang telah sampai pada tingkat ketakwaan dalam bentuk insan kamil, bukan berarti proses pendidikan berhenti begitu saja. Proses pendidikan harus tetap berlangsung dalam rangka pengembangan dan penyempurnaan, sekurang-kurangnya memelihara supaya tidak luntur dan berkurang meskipun pendidikan diri sendiri atau autodidak bukan melalui pendidikan formal melalui sebuah interaksi takwa dalam bentuk insan kamil. (Soebahar, 2002:21)

Allah Swt berfirman dalam Q.S Ali-Imran [3]:102:

























Terjemahnya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam Keadaan Muslim.(Kementerian Agama, 2011:63)

Ayat ini menegaskan bahwa mati dalam berserah diri kepada Allah merupakan tujuan akhir dari setiap proses dalam kehidupan, dan pendidikan menjadi bagian dari dimensi kehidupan tersebut. Inilah akhir dari proses pendidikan yang dianggap sebagai tujuan akhirnya. Insan

(51)

kamil yang mati dalam keadaan berserah diri kepada Allah inilah yang merupakan akhir pendidikan Islam (Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, 2001:64)

Tujuan pendidikan dalam Islam harus didesain sedemikian rupa agar keseluruh komponen yang melekat dalam diri manusia bisa berjalan secara sinergi, yaitu antara jazad, hayat, ruh, dan totalitas diri (nafs).

Sehingga dari uraian di atas tentang tujuan pendidikan Islam penulis menarik kesimpulan sebagai berikut; pertama, agar peserta didik bisa tahu cara dan bisa mendekatkan diri kepada Allah Swt dan yang kedua, agar peserta didik menjadi insan yang kamil yaitu manusia yang memiliki keseimbangan yang baik antara dunia dan akhirat dan antara jazad dan rohnya.

3. Aspek-Aspek Pendidikan Islam

Pendidikan Islam sebagaimana pendidikan lainnya memiliki berbagai aspek yang tercakup di dalamnya. Aspek tersebut dapat dilihat dari segi cakupan materi didikannya, filsafatnya, sejarahnya, kelembagaannya, sistemnya, dari segi kedudukannya sebagai ilmu. Dari segi aspek materi didikannya, pendidikan Islam sekurang-kurangnya mencakup pendidikan fisik, akal, agama (aqidah dan syariah), akhlak dan kejiwaan, rasa keindahan, dan sosial kemasyarakatan. (Zakiah Daradjat,1994:1)

(52)

Berbagai materi yang tercakup dalam pendidikan Islam tersebut dapat dilihat dalam Al-Quran dan As-Sunnah serta pendapat para ulama.

Pendapat lain mengatakan bahwa materi pendidikan Islam itu pada prinsipnya ada dua, yaitu materi didikan yang berkenaan dengan masalah keduniaan dan materi didikan yang berkenaan dengan masalah keakhiratan. Hal ini didasarkan pada kandungan ajaran Islam yang mengajarkan kebahagian hidup di dunia dan akhirat. (M.Natsir,1954:53- 61)

Sedangkan, sejarah atau periode, pendidikan Islam mencakup sebagai berikut:

a. Periode pembinaan Islam (611-632) yang berlangsung pada zaman Nabi Muhammad Saw masa ini berlangsung sejak Nabi Muhammad Saw menerima wahyu dan menerima pengangkatannya sebagai rasul, sampai dengan lengkap dan sempurnanya ajaran Islam menjadi warisan budaya umat Islam. Masa tersebut berlangsung selama lebih kurang 23 tahun, yaitu sejak Nabi Muhammad Saw menerima wahyu pertama kali, yaitu tanggal 17 bulan Ramadhan di tahun sebelum hijrah, bertepatan dengan 6 Agustus 610 M., sampai dengan wafatnya pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal, tahun 11 hijriah, bertepatan dengan 8 Juni 832 M.

b. Periode pertumbuhan pendidikan Islam (632-750) yang berlangsung sejak zaman Nabi Muhammad wafat sampai masa akhir Bani Umayyah yang di warnai oleh berkembangnya ilmu-ilmu Naqliyah.

Pada masa pertumbuhan dan perkembangannya itu, pendidikan Islam mempunyai dua sasaran. Pertama, yaitu generasi muda sebagai generasi penerus dan masyarakat bangsa lain yang belum menerima ajaran Islam; dan kedua, adalah penyampaian ajaran Islam dan usaha internalisasinya dalam masyarakat bangsa yang

(53)

baru menerimanya yang di dalam Islam lazim disebut dengan sebagai dakwah Islami.

c. Periode kejayaan (puncak perkembangan) pendidikan Islam (750- 1258), yang berlangsung sejak permulaan Daulah Abbasiyah sampai dengan jatuhnya Baghdad, yang diwarnai oleh berkembangnya ilmu Akliah dan timbulnya madrasah, serta memuncaknya perkembangan kebudayaan Islam.

d. Periode kemunduran Pendidikan Islam (1258-1798), yaitu sejak jatuhnya Baghdad sampai jatuhnya Mesir ke tangan Napoleon, yang ditandai dengan runtuhnya sendi-sendi kebudayaan Islam dan berpindahnya pusat-pusat pengembangan kebudayaan ke dunia Barat.

e. Periode pembaharuan pendidikan Islam (1798-sekarang) yang berlangsung sejak pendudukan Mesir oleh Napoleon sampai masa kini, yang di tandai oleh gejala-gejala kembangkitan kembali umat dan kebudayaan Islam.(Zuhairini,dkk, 2006:13)

Selanjutnya, dilihat dari segi kelembagaannya pendidikan Islam mengenal adanya pendidikan yang dilaksanakan di rumah, mesjid, pesantren, dan madrasah dengan berbagai corak dan pendekatannya, lembaga-lembaga pendidikan Islam ini dapat dibagi lagi menurut periodesasinya, yaitu lembaga pendidikan Islam zaman Rasulullah Saw., lembaga pendidikan di zaman Khulafaur Rasyidin, lembaga pendidikan di zaman Umayyah, dan lembaga pendidikan di zaman Abbasiyah dan Andalusia.(Abuddin Nata, 2010:342)

Selanjutnya, pendidikan Islam sebagai sistem adalah suatu kegiatan yang di dalamnya mengandung sapek tujuan, kurikulum, guru

Referensi

Dokumen terkait

Gerakan yang diusung oleh tiga tokoh pembaharu, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasyid Ridha, dikenal dengan gerakan Salafiyah yaitu suatu aliran keagamaan

Pemikiran Muhamma Abduh lambat laun akan mempengaruhi dunia pendidikan di seluruh jagat raya di bumi ini, sebagai kaum intelek Muhammad Abduh tidak hanya bisa belajar agama,

Menurut Muhammad Abduh, dalam keaslian fitrahnya, manusia adalah makhluk yang jauh dari egoisme, dengan hati yang peka dalam berkasih sayang, sebagaimana yang dapat disaksikan

Program pembaharuan Abduh juga berfokus pada pembaharuan pendidikan Islam dan perumusan ajaran-ajaran Islam dalam pengertian, kalau tidak menurut pemikiran modern, setidak-tidaknya

Muhammad Abduh adalah seorang pembaharu yang mengajak kepada perbaikan yang tidak hanya dalam tataran teoritis dengan jalan mengarang, pidato-pidato,

Program pembaharuan Abduh juga berfokus pada pembaharuan pendidikan Islam dan perumusan ajaran- ajaran Islam dalam pengertian, kalau tidak menurut pemikiran modern,

Konsep pendidikan yang dibawa Muhammad Abduh lebih mengedepankan akal atau rasio dalam proses belajar, karena dalam definisinya, akal merupakan ikatan dari

Muhammad Abduh dan Muhammad Iqbal misalnya, beliau meru- pakan filosof muslim dan pemikir pendidikan kaliber dunia yang telah banyak melakukan rekonstruksi di bidang pendidikan