• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemikiran Muhammad

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Muhammad Abduh

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemikiran Muhammad

begitu juga dengan pemikiran Muhammad Abduh. Banyak hal yang mendorongnya untuk melakukan pembaruan bagi masyarakat Islam di Mesir, di antara faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut.

a. Faktor Sosial

Dari catatan biografi di atas, terdapat dua hal penting yang dapat digunakan untuk menganalisis faktor sosial Muhammad Abduh. Pertama,

kedudukan orangtua Muhammad Abduh yang menyertai masa-masa awal kehidupannya. Kedua, status sosialnya ketika ia telah mandiri, dan lembaga-lembaga sosial, seperti Kuttab al-Qaryah dan al-Azhar, tempat ia mengadakan kegiatan kemasyarakatan dan politik. Kondisi sosial yang bervariasi pada saat itu di Mesir, pada masa-masa sebelum abad ke-19, mempunyai hubungan dengan kondisi sosial masyarakat Mesir secara umum pada paro kedua abad ke-19. Kemudian, Syaikh Darwisy dan Sayyid Jamaluddin Al-Afghani juga sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap Muhammad Abduh.

b. Faktor Politik

Untuk menganalisis pengaruh-pengaruh faktor politik pada pemikiran Muhammad Abduh, yaitu kedudukannya dalam pemberontakan Urabi menjadi sangat penting untuk di bicarakan.

Tulisan-tulisannya tentang politik, telah memberikan andil besar dalam membangkitkan opini publik sebelum terjadi pemberontakan itu. Abduh pernah melontarkan pemikiran politiknya yang menghendaki perombakan kerangka berpikir yang darinya muncullah pemberontakan tersebut.

Dalam tulisan-tulisannya itu, ia menuntut kehidupan politik yang demokratis melalui lembaga perwakilan rakyat, begitu pun ia pernah menulis tentang nasionalisme. Akan tetapi, dalam tulisan-tulisannya itu, Muhammad Abduh tampaknya tetap konsisten pada pembaruan secara

bertahap. Dalam kerangka yang lebih luas, pemikiran-pemikiran politiknya sesungguhnya bermuara pada pembaruan di bidang sosial dan pendidikan. Keikutsertaannya dalam pemberontakan Urabi dapat dibenarkan, dengan alasan, antara lain, karena ia ingin mempertahankan Undang-Undang Dasar (al-dustur).

c. Faktor Kebudayaan

Dalam uraian sebelumnya dijelaskan bahwa Muhammad Abduh, sejak masa-masa awal hidupnya telah memusatkan perhatiannya pada studi keislaman. Dalam usianya yang sangat muda telah hafal Al-Quran.

Selain itu, Abduh juga mempelajari dan menekuni tasawuf yang didapatkan dari Syaikh Darwisy mengingatkan Muhammad Abduh bahwa kehidupan mistisme sangat memerhatikan hubungan-hubungan spritual dan hubungan material (keduniaan). (Mukhrizal Arif, dkk, 2014:295-296)

Semasa studi di al-Azhar perjumpaanya dengan Jamaluddin Al-Afghani merupakan momentum penting bagi terjadinya perubahan kehidupan kultur dirinya serta pengalaman yang ditimbahnya dari Barat (Samsul Nisar, 2013:244). Ketika Muhammad Abduh banyak dasar-dasar filsafat kepada al-Afghani. Pemikirannya mulai berubah, dari sufisme khayalan ke arah pemikiran filsafat yang praktis. Butir-butir pemikiran ilmiah modern yang diperolehnya dari ajaran al-Afghani dan hasil studinya tentang filsafat, logika, dan ilmu kalam (teologi), ternyata

berdampak positif pada langkah-langkah pembaruan yang ditempuhnya, yaitu bidang sosial, pendidikan, agama, dan moral.

5. Peran Pemikiran Muhammad Abduh terhadap Dunia Islam

Muhammad Abduh juga memiliki peran dalam perkembangan dunia Islam sebagai pelopor reformasi dan pembaharuan dalam pemikiran Islam. Ide-idenya yang cemerlang, meninggalkan peran yang besar dalam tubuh pemikiran umat Islam. Beliaulah pendiri sekaligus peletak dasar-dasar sekolah pemikiran pada zaman modern juga menyebarkannya kepada manusia. Walau guru beliau al-Afghani adalah sebagai orang pertama yang mengobarkan percikan pemikiran dalam jiwanya, akan tetapi Muhammad Abduh sebagai mana diungkapkan Dr.

Mohammad Imarah, adalah seorang arsitektur terbesar dalam gerakan pembaharuan dan reformasi atau sekolah pemikiran modern, melebihi guru beliau Jamaluddin al-Afghani.

Muhammad Abduh memiliki andil besar dalam perbaikan dan pembaharuan pemikiran Islam kontemporer, telah banyak pembaharuan yang beliau lakukan diantaranya:

a. Reformasi Pendidikan

Muhammad Abduh memulai perbaikannya melalui pendidikan.

Menjadikan pendidikan sebagai sektor utama guna menyelamatkan

masyarakat Mesir. menjadikan perbaikan sistem pendidikan sebagai asas dalam mencetak muslim yang shaleh.

b. Mendirikan Lembaga dan Yayasan Sosial

Sepak terjang dalam perbaikan yang dilakukan Muhammad Abduh tidak hanya terbatas pada aspek pemerintahan saja seperti halnya perbaikan pendidikan dan Al-Azhar. Akan tetapi lebih dari itu hingga mendirikan beberapa lembaga-lembaga sosial. Diantaranya: Jami’ah Khairiyah Islamiyah, Jami’ah Ihya al-Ulum al-Arabiyah,dan juga Jami’ah at-Taqorrub baina al-Adyan.

c. Mendirikan Sekolah Pemikiran

Muhammad Abduh adalah orang pertama yang mendirikan sekolah pemikiran kontemporer yang memiliki dampak besar dalam pembaharuan pemikiran Islam dan kebangkitan akal umat muslim dalam menghadapi musuh-musuh Islam yang sedang dengan gencar menyerang umat muslim saat ini.

d. Penafsiran Al-qur’an

Pembaruan yang dilakukan Muhammad Abduh di antaranya dengan menghadirkan buah karya penafsiran al-Qur’an. Adalah Tafsir Al-Manar yang di tulis Muhammad Abduh dan muridnya Muhammad Rasyid Ridha yang telah memberikan corak baru dalam ilmu tafsir. Corak tafsir yang dikembangkan ini disebut Mufassirin “adabi ijtima’i” (budaya

masyarakat). Corak ini menurut Muhammad Husein adz-Dzahabi menitik beratkan penjelasan ayat-ayat al-Qur’an pada segi ketelitian redaksinya, kemudian menyusun kandungannya dalam suatu redaksi yang indah dengan menonjolkan segi-segi petunjuk al-Qur’an bagi kehidupan, serta menghubungkan pengertian ayat-ayat tersebut dengan hukum-hukum alam yang berlaku dalam masyarakat dan pembangunan dunia.

Di antara prinsip Muhammad Abduh dalam menafsirkan ayat adalah, al-Qur’an menjadi pokok. al-al-Qur’an didasarkan segala mazhab dan aliran keagamaan, bukannya mazhab-mazhab dan aliran yang menjadi pokok, dan ayat-ayat Al-Qur’an hanya dijadikan pendukung mazhab-mazhab tersebut. Kecuali itu, Muhammad Abduh membuka lebar pintu ijtihad.

Menurutnya dengan membuka pintu ijtihad akan memberi semangat dinamis terhadap perkembangan Islam dalam seluruh aspeknya.(dalam https://hikmawansp.wordpress.com)

Sehingga dari uraian di atas menurut penulis tidak salah bila Muhammad Abduh di katakan sebagai salah seorang pembaharu terhadap dunia Islam kontemporer saat ini.

B. Pendidikan Islam

1. Pengertian Pendidikan Islam a) Secara Bahasa

Bila kita melihat pengertian pendidikan maka takkan lepas dari pengertian secara bahasa, secara bahasa, pendidikan adalah terjemahan dari bahasa yunani, paedagogie yang berarti “pendidikan” dan paedagogia yang berarti “pergaulan dengan anak-anak”. Istilah paedagogie berasal dari kata paedos (anak) dan agoge (saya membimbing, memimpin).(Armai Arifin, 2007:15)

Oleh karena itu, menurut penulis pendidikan merupakan pembinaan, pelatihan, pengajaran, dan semua hal yang merupakan bagian dari usaha manusia untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilan anak-anak atau peserta didik.

Menurut Undang-Undang SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) UU No. 20 Th. 2003 Bab 1 Pasal 1 (2014:3) di jelaskan tentang pengertian pendidikan bahwa:

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,

serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.”

Kemudian pendidikan dalam konteks Islam umumnya mengacu kepada kepada tiga term al-Tarbiyah, al-Ta’dib, dan al-Ta’lim.(Samsul Nizar, 2005:25) Namun dalam hal tertentu ketiganya memiliki kesamaan makna, namun secara esensi setiap term memiliki perbedaan maka diperlukan suatu uraian sebagai berikut:

a. at-Tarbiyah

Kata at-Tarbiyah berasal dari tiga kata yaitu yang pertama rabba-yarbu ( ب ْرَي - ب َر) yaitu bertambah, tumbuh, dan berkembang. Kedua rabiya-yarba ( َب ْري - َيِب َر) berarti menjadi besar. Ketiga rabba-yarubbu ( ب رَي - ب َر) berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, dan memelihara. (Abdurrahman an-Nahlawi, 1992:31)

Secara filosofis mengisyaratkan bahwa yang terkandung dalam makna at-Tarbiyah mengandung unsur pendekatan memelihara dan menjaga anak didik, mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan, serta mengarahkannya secara bertahap. (Samsul Nizar, 2005:26)

Dengan demikian menurut penulis at-Tarbiyah secara bahasa berarti pendidikan dan juga Tarbiyah adalah proses bertumbuhnya anak dengan dipelihara, dibimbing dan dituntun untuk mencapai

kesempurnaan potensinya.

b. at-Ta’dib

Kata al-ta’dib berasal dari kata addaba – yuaddibu - ta’diban (اًبْيِدْأَت – بِّدَأ ي – َب دَأ) yang berarti pendidikan, disiplin, patuh, dan tunduk pada aturan.(Mahmud Yunus, t.th:278)

Kata addaba dimaknai oleh al-Attas (1994:60) sebagai mendidik, maka dari itu ia mengemukakan bahwa kata at-Ta’dib berarti pengenalan dan pengakuan secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia (peserta didik) tempat-tempat dan segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan, dengan begitu pendidikan akan berfungsi sebagai pembimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan kepribadiannya, labih jauh lagi ia mengungkapkan bahwa at-Ta’dib adalah term yang tepat dalam pendifinisian makna pendidikan karena mengandung arti ilmu, kearifan, keadilan, kebijaksanaan, pengajaran, dan pengasuhan. Namun juga Ta’dib biasa diartikan dengan dengan adab, tingkah laku atau sopan santun.

c. at-Ta’lim

Istilah ta’lim bersifat universal dibanding dengan al-Tarbiyah, Rasyid Ridha (t.th:262) mengartikanan ta’lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan

ketentuan tertentu.

Argumentasinya didasarkan dengan dengan firman Allah Swt QS.

Al- Baqarah 2: 151 sebagai berikut:



“Sebagaimana kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat kami, mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Quran) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.” (Kementerian Agama, 2011:23)

Kalimat (wa yu’allimu hum al-kitab wa al-hikmah) dalam ayat tersebut menjelaskan tentang aktivitas Rasulullah mengajarkan tilawat al-Quran kepada kaum muslimin. Menurut Abdul Fattah Jalal (1998:28), apa yang dilakukan Rasul bukan hanya membuat umat Islam bisa membaca, melainkan membawa kaum muslimin kepada nilai pendidikan tazkiyah an-nafs (penyucian diri) dari segala kotoran, sehingga memungkinkannya menerima al-hikmah serta segala sesuatu yang bermanfaat untuk diketahui.

Kecendrungan tersebut didasarkan pada argumentasi bahwa manusia pertama yang mendapat pengajaran langsung dari Allah adalah nabi Adam a.s. hal ini secara eksplisit tersirat dalam Q.S Al baqarah 2 : 31, Allah Swt berfirman :



“Dan dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar !". (Kementerian Agama, 2011:5)

Dijelaskan pada ayat tersebut bahwa penggunaan kata allama untuk memberikan pengajaran kepada nabi Adam a.s memiliki nilai lebih yang sama sekali tidak dimiliki para malaikat.

Sedangkan dalam hadits juga memuat kata ta’lim,sebagai berikut:

ََمَّلَس َو َِهٌَْلَع ََُّاللّ ىَّلَص َ ًِبَّنلا ََلاَق, ََلاَق ََناَّفَع َِنْب ََناَمْثُع َْنَع ( هاور يراخبلا ) هَمَّلَع َو ََنَأ ْرُقْلا ََمَّلَعَت نَم م ك ر ي َخ

Artinya:

“Dari Ustman bin Affan berkata, Nabi Saw bersabda, sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain.”(H.R. Bukhari) (Iman Az-Zabidi, 2002:899)

Dalam hadits ini secara lengkap disebutkan ungkapan ta’alim, sedangkan ilmu yang dipelajari adalah Al-Qur’an serta disebutkan pihak yang mengajarkannya yaitu muallimun. Ta’lim secara umum hanya terbatas pada pengajaran dan pendidikan kognitif semata-mata. Hal ini memberikan pemahaman bahwa ta’lim hanya mengedepankan proses

pengalihan ilmu pengetahuan dari pengajar (mu’alim) dan yang diajar (muta’alim). Ta’lim juga mewakili ungkapan proses dari tidak tahu menjadi tahu.

Kata at-ta’lim dalam arti pengajaran yang merupakan bagian dari pendidikan banyak kegunaan untuk kegiatan pendidikan yang bersifat non formal, seperti majelis taklim yang sangat berkembang dan bervariasi, dikalangan pemikir Islam sendiri kata at-ta’lim untuk arti pendidikan lebih pas diartikan pengajaran, karena pengajaran merupakan bagian dari kegiatan pendidikan.(Abuddin Nata, 2010:14)

Sehingga penulis dapat menarik kesimpulan dari makna kata ta’lim yaitu pengajaran dan juga ta’lim hanya sebatas kepada mengajar dan mentransfer ilmu tanpa diiringi dengan bimbingan.

b) Secara Istilah

Istilah atau terminologi pada dasarnya kesepakatan yang dibuat para ahli dalam bidangnya masing-masing, berikut pendapat para ahli tentang pendidikan Islam:

a. Hasan Langgulung (1986:32) mengartikan pendidikan adalah suatu proses yang mempunyai tujuan yang biasanya diusahakan untuk menciptakan pola-pola tingkah laku tertentu pada kanak-kanak atau orang yang sedang dididik.

b. Ahmad D. Marimba (1989:19) mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidikan terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadiaan yang utama.

c. Ahmad Tafsir (1992:32) mendefinisikan bahwa pendidikan Islam sebagai bimbingan yang diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.

Dari beberapa istilah pendidikan Islam yang telah didefinisikan di atas, menurut penulis pendidikan Islam adalah merupakan suatu sistem yang dapat mengarahkan kehidupan anak-anak atau peseta didik yang sesuai dengan ajaran-ajaran Islam sehingga berderajat tinggi di sisi Allah Swt.

2. Tujuan Pendidikan Islam

a. Mendekatkan diri kepada Allah (Taqarrub Ila Allah)

Aspek tujuan dalam pendidikan Islam merupakan masalah sentral sebab tanpa adanya tujuan yang terarah aktivitas pendidikan menjadi tidak jelas, tanpa arah. Pendidikan akan tersesat di luar koridor yang sudah yang di tentukan (Arifi, 2009:31). Aspek tujuan dalam pendidikan Islam setidaknya harus mengacu pada sumber pendidikan yang ada, yaitu al-Quran dan sunnah serta berlandaskan pada hakikat keberadaan manusia sendiri sebagaimana konsepsinya dalam Islam.

Juga, salah satu tujuan pendidikan Islam adalah agar Ilmu pengetahuan tidak hilang, sehingga diharapkan senantiasa berkembang dengan mengikuti zamannya dan menghidari munculnya kebodohan tentang Islam, sebagaimana Nabi Muhammad Saw pernah bersabda sebagai berikut:

عَف ْر ي ْنَأ : ِةَعا سلا ِطا َرْشَأ ْنِم نِا : َم لَس َو ِهْيَلَع الله ي لَص ِالله ل ْو س َر َلاَق : َلاَق هْنَع الله َي ِض َر سَنَأ ْنَع (٠٨:راخبلا هاور) . اَن ِّزلا َرَه ْظَي َو رْم َخلا ب َرْش ي َو لْه َجْلا ت بْثَي َو ملِعْلا Artinya:

“Dari Anas r.a berkata Rasulullah Saw pernah bersabda, sebagian tanda-tanda akan terjadinya kiamat adalah: 1) Hilangnya ilmu dan maraknya kebodohan tentang Islam. 2) Terbiasanya mengkomsumsi minuman yang memabukkan. 3) Perzinahaan dianggap biasa. (H.R Bukhari:80) (Imam Az-Zabidi, 2002:41)

Islam sebagai sebuah sistem makro, mempunyai derivasi(asal mula) berupa sub-sistem, yaitu aspek ekonomi, politik, sosial, pendidikan, dan lain sebagainya. Artinya, semua sub-sistem yang ada menjadi instrumen dalam pemenuhan eksistensi manusia sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah. Setiap sub-sistem tersebut dilaksanakan dengan sebuah orientasi dan tujuan sebagaimana hakikat manusia diciptakan.

Sebagaimana firman Allah dalam Q.S Al-Dzariyat 51:56:



Tujuan Allah menciptakan manusia dan makhluk lainnya, tidak lain hanyalah untuk senantiasa menyembah dan mengabdi kepadanya.

Tujuan hidup manusia ialah menyembah dan senantiasa mendekatkan diri pada Allah. Dengan demikian, pendidikan sebagai sub-sistem dalam

Islam, dalam realisasi tujuannya utamanya sejalan dan searah dengan tujuan Islam, yaitu mengabdi dan senantiasa mendekatkan diri pada Sang Khalik.

Dalam Q.S Al-Anam [6]:162 juga ditegaskan:



“Katakanlah (Muhammad),”Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”

(Kementerian Agama, 2011:150)

Tujuan ini merupakan cerminan dari realisasi yang ada dalam Al-Quran, yaitu penyerahan diri secara total dalam setiap aktivitas manusia, termasuk dalam aspek pendidikan. Hal ini berbeda dengan konsepsi Barat tentang pendidikan tempat setiap proses pendidikan hanya bertujuan pada pemenuhan eksistensi manusia sebagai aspek independen (berdiri sendiri) tanpa memedulikan dimensi transendental (berdasarkan kerohanian).

Adapun dalam konsepsi Islam, tujuan utama dalam pendidikan diarahkan pada upaya penyerahan diri secara total pada dimensi transenden, yakni Allah, dengan cara senantiasa mendekatkan diri (taqarrub ila Allah) dalam setiap aktivitasnya selama di dunia. (Umiarso dan Zamroni, 2011:105)

Begitupun dengan perkataan nabi Muhammad Saw yang selaras dengan tujuan pendidikan Islam agar senantiasa dekat dengan Allah Swt, Rasulullah Saw bersabda sebagai berikut:

َِاللَُّل ْوُس َرََلاَق،َلاَقَ ٍسَنأَ ْىِبَأَ ْنَع َو َمَّلَسَو ِه يَلَع الله ىَّلَص

َ َناَكَ،ِمْلِعْلاَِبَلَطَ ًِْفََجَرَخَ ْنَمَ: َ

َ)يذمرتلاَهاور(.ُعِج ْرًٌَََّت َحَِ ّاللَِّلٌِْبَسَ ًِْف

Artinya :

Dari Anas r.a berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali.” (H.R At-Tirmidzi) (Imam An-Nawawi, 2014:605)

b. Kesempurnaan Manusia Mencapai Kebahagian Dunia dan Akhirat (Insan Kamil)

Seperti telah diurai sebelumnya, tujuan akhir pendidikan Islam ialah terbentuknya totalitas penyerahan atau penghambaan manusia pada Allah. Dengan demikian, ketika manusia dalam posisi total dalam menedekatkan diri pada Allah, ia akan menjadi manusia yang akan memperoleh kebahagian di dunia dan kekal di akhirat.

Dalam konsepsi Islam, manusia yang telah sampai pada bentuk totalitas dan ketakwaan pada Allah serta meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat, dikonsepsikan (gambarkan) sebagai insan kamil (manusia sempurna). Insan Kamil merupakan suatu bentuk eksistensi yang dicita-citakan oleh umat Muslim yang diraih melalui sarana pendidikan.

Manusia ketika sampai pada derajat sempurna (insan kamil), menurut Ahmad Tafsir akan tampak beberapa karekteristik pokok;

pertama, jasmani yang sehat serta kuat dan berketerampilan; kedua, cerdas serta pandai; dan yang ketiga ruhani yang berkualitas. (Ahmad Tafsir, 2008:41-44)

Menurut Soebahar, ketika seseorang telah sampai pada tingkat ketakwaan dalam bentuk insan kamil, bukan berarti proses pendidikan berhenti begitu saja. Proses pendidikan harus tetap berlangsung dalam rangka pengembangan dan penyempurnaan, sekurang-kurangnya memelihara supaya tidak luntur dan berkurang meskipun pendidikan diri sendiri atau autodidak bukan melalui pendidikan formal melalui sebuah interaksi takwa dalam bentuk insan kamil. (Soebahar, 2002:21)

Allah Swt berfirman dalam Q.S Ali-Imran [3]:102:



“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam Keadaan Muslim.(Kementerian Agama, 2011:63)

Ayat ini menegaskan bahwa mati dalam berserah diri kepada Allah merupakan tujuan akhir dari setiap proses dalam kehidupan, dan pendidikan menjadi bagian dari dimensi kehidupan tersebut. Inilah akhir dari proses pendidikan yang dianggap sebagai tujuan akhirnya. Insan

kamil yang mati dalam keadaan berserah diri kepada Allah inilah yang merupakan akhir pendidikan Islam (Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, 2001:64)

Tujuan pendidikan dalam Islam harus didesain sedemikian rupa agar keseluruh komponen yang melekat dalam diri manusia bisa berjalan secara sinergi, yaitu antara jazad, hayat, ruh, dan totalitas diri (nafs).

Sehingga dari uraian di atas tentang tujuan pendidikan Islam penulis menarik kesimpulan sebagai berikut; pertama, agar peserta didik bisa tahu cara dan bisa mendekatkan diri kepada Allah Swt dan yang kedua, agar peserta didik menjadi insan yang kamil yaitu manusia yang memiliki keseimbangan yang baik antara dunia dan akhirat dan antara jazad dan rohnya.

3. Aspek-Aspek Pendidikan Islam

Pendidikan Islam sebagaimana pendidikan lainnya memiliki berbagai aspek yang tercakup di dalamnya. Aspek tersebut dapat dilihat dari segi cakupan materi didikannya, filsafatnya, sejarahnya, kelembagaannya, sistemnya, dari segi kedudukannya sebagai ilmu. Dari segi aspek materi didikannya, pendidikan Islam sekurang-kurangnya mencakup pendidikan fisik, akal, agama (aqidah dan syariah), akhlak dan kejiwaan, rasa keindahan, dan sosial kemasyarakatan. (Zakiah Daradjat,1994:1)

Berbagai materi yang tercakup dalam pendidikan Islam tersebut dapat dilihat dalam Al-Quran dan As-Sunnah serta pendapat para ulama.

Pendapat lain mengatakan bahwa materi pendidikan Islam itu pada prinsipnya ada dua, yaitu materi didikan yang berkenaan dengan masalah keduniaan dan materi didikan yang berkenaan dengan masalah keakhiratan. Hal ini didasarkan pada kandungan ajaran Islam yang mengajarkan kebahagian hidup di dunia dan akhirat. (M.Natsir,1954:53-61)

Sedangkan, sejarah atau periode, pendidikan Islam mencakup sebagai berikut:

a. Periode pembinaan Islam (611-632) yang berlangsung pada zaman Nabi Muhammad Saw masa ini berlangsung sejak Nabi Muhammad Saw menerima wahyu dan menerima pengangkatannya sebagai rasul, sampai dengan lengkap dan sempurnanya ajaran Islam menjadi warisan budaya umat Islam. Masa tersebut berlangsung selama lebih kurang 23 tahun, yaitu sejak Nabi Muhammad Saw menerima wahyu pertama kali, yaitu tanggal 17 bulan Ramadhan di tahun sebelum hijrah, bertepatan dengan 6 Agustus 610 M., sampai dengan wafatnya pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal, tahun 11 hijriah, bertepatan dengan 8 Juni 832 M.

b. Periode pertumbuhan pendidikan Islam (632-750) yang berlangsung sejak zaman Nabi Muhammad wafat sampai masa akhir Bani Umayyah yang di warnai oleh berkembangnya ilmu-ilmu Naqliyah.

Pada masa pertumbuhan dan perkembangannya itu, pendidikan Islam mempunyai dua sasaran. Pertama, yaitu generasi muda sebagai generasi penerus dan masyarakat bangsa lain yang belum menerima ajaran Islam; dan kedua, adalah penyampaian ajaran Islam dan usaha internalisasinya dalam masyarakat bangsa yang

baru menerimanya yang di dalam Islam lazim disebut dengan sebagai dakwah Islami.

c. Periode kejayaan (puncak perkembangan) pendidikan Islam (750-1258), yang berlangsung sejak permulaan Daulah Abbasiyah sampai dengan jatuhnya Baghdad, yang diwarnai oleh berkembangnya ilmu Akliah dan timbulnya madrasah, serta memuncaknya perkembangan kebudayaan Islam.

d. Periode kemunduran Pendidikan Islam (1258-1798), yaitu sejak jatuhnya Baghdad sampai jatuhnya Mesir ke tangan Napoleon, yang ditandai dengan runtuhnya sendi-sendi kebudayaan Islam dan berpindahnya pusat-pusat pengembangan kebudayaan ke dunia Barat.

e. Periode pembaharuan pendidikan Islam (1798-sekarang) yang berlangsung sejak pendudukan Mesir oleh Napoleon sampai masa kini, yang di tandai oleh gejala-gejala kembangkitan kembali umat dan kebudayaan Islam.(Zuhairini,dkk, 2006:13)

Selanjutnya, dilihat dari segi kelembagaannya pendidikan Islam mengenal adanya pendidikan yang dilaksanakan di rumah, mesjid, pesantren, dan madrasah dengan berbagai corak dan pendekatannya, lembaga-lembaga pendidikan Islam ini dapat dibagi lagi menurut periodesasinya, yaitu lembaga pendidikan Islam zaman Rasulullah Saw., lembaga pendidikan di zaman Khulafaur Rasyidin, lembaga pendidikan di zaman Umayyah, dan lembaga pendidikan di zaman Abbasiyah dan Andalusia.(Abuddin Nata, 2010:342)

Selanjutnya, pendidikan Islam sebagai sistem adalah suatu kegiatan yang di dalamnya mengandung sapek tujuan, kurikulum, guru

(pelaksana pendidikan), metode, pendekatan, sarana prasarana, lingkungan, administrasi, dan sebagainya yang antara satu dan lainnya saling berkaitan dan membentuk Sistem yang terpadu .

Apabila salah satu aspek pendidikan tersebut berubah, kurikulum, guru, metode, pendekatan dan lainnya akan berubah. Dari berbagai aspek pendidikan demikian selanjutnya telah membentuk berbagai disiplin ilmu pendidikan Islam, yaitu ilmu yang membahas berbagai masalah yang berkaitan dengan pendidikan. Dalam

Apabila salah satu aspek pendidikan tersebut berubah, kurikulum, guru, metode, pendekatan dan lainnya akan berubah. Dari berbagai aspek pendidikan demikian selanjutnya telah membentuk berbagai disiplin ilmu pendidikan Islam, yaitu ilmu yang membahas berbagai masalah yang berkaitan dengan pendidikan. Dalam