Sebagai negara yang paling makmur dan stabil di Amerika Selatan, Chili menjadi negara dengan PDB nominal per kapita tertinggi pada tahun 2006. Sektor pertambangan merupakan sektor yang berkontribusi paling tinggi terhadap perekonomian Chili. Sebagai negara penghasil tembaga terbesar di dunia, Chili menjadikan tembaga sebagai tumpuan terbesar nilai ekspornya dan mampu meningkatkan nilai investasi. Selain itu, Chili juga menghasilkan berbagai bahan mineral lain seperti bijih besi, emas, perak, litium, dan potasium.
Secara umum, pertumbuhan ekonomi Chili terus tumbuh dalam 30 tahun terakhir meskipun sempat mengalami kontraksi pada tahun 1999, 2009, dan 2020. Kontraksi cukup dalam dialami Chili pada tahun 2020 akibat pandemi Covid-19. Meskipun demikian, sektor pertambangan dapat terus tumbuh dan menjadi tumpuan perekonomian Chili di masa pandemi. Kontribusi sektor pertambangan sebesar 12,5 persen di tahun 2020 meningkat dibanding tahun 2019 yang berkontribusi sebesar 9,1 persen.
Grafik 3.11 PDB per Kapita Lima Negara Terbesar di
Amerika Latin 1995 – 2019 (USD) Grafik 3.12 Kontribusi Sektor Pertambangan terhadap PDB Chili
Grafik 3.13 Jumlah Produksi Tembaga Chili Tahun 2021 (ribu ton)
Grafik 3.14 Pertumbuhan PDB Chili dan Harga Tembaga
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
464,788
56
Lebih dari 150 tahun, sektor pertambangan khususnya tembaga berperan terhadap perekonomian Chili. Lebih dari 200 juta ton kubik setiap tahunnya diproduksi dan 54 persennya diekspor. Di akhir tahun 1980 tejadi pertumbuhan ekonomi yang signfikan. Hal ini dikarenakan Chili menemukan hubungan positif antara ekspolitasi mineral dengan pengembangannya. Maxwell (2004) menyatakan peforma ekonomi Chili dipengaruhi oleh kombinasi stabilitas institusi pemerintahan dan manajemen ekonomi yang baik. Hal tersebut dilakukan melalui capacity building dalam manajemen ekonomi dan fiskal bagi institusi pemerintah, membuat aturan dan kerangka kerja fiskal untuk menarik investasi, membuat kerangka kerja sosial dan lingkungan untuk mendukung hasil tambang, mengatur ulang peraturan bagi perusahaan tambang skala kecil dan mikro, serta memperkuat kerjasama dengan stakeholders.
Berdasarkan asesmen yang dilakukan oleh Resource Governance Index (RGI) pada tahun 2017, produksi tembaga Chili menempati ranking 2 dari 89 negara penghasil tembaga dengan skor 81 persen. Komponen penilaian dari indeks ini antara lain nilai realisasi dengan skor 74 persen, manajemen penghasilan 81 persen, dan penerapan lingkungan 90 persen. Codelco sebagai BUMN tambang dengan peforma terbaik masuk dalam jajaran 74 BUMN yang masuk dalam indeks penilaian.
Aktivitas pertambangan diatur dalam UU No. 21,169 yang berlaku sejak Juli 2019 yang merupakan amandemen dari UU sebelumnya. Setiap perusahaan yang akan melakukan kegiatan pertambangan perlu melakukan kajian dampak lingkungan, rencana mitigasi dari efek kegiatan pertambangan, rencana penutupan lokasi pertambangan, dan memastikan stabilitas kondisi fisik dan kimia di lokasi pertambangan yang disetujui oleh Servicio Nacional de Geología y Minería/Sernageomin (Badan Nasional Geologi dan Pertambangan). Dalam aturan baru juga, terdapat kebijakan asuransi yang mana setiap perusahaan mendapatkan permitted guarantee agar dapat mengakses pinjaman atau instrumen keuangan lain kepada bank.
Setiap perusahaan tambang juga harus mempunyai lisensi peforma pekerjaan dan informasi geologi lokasi tambang yang disampaikan pada Sernageomin. Hal ini berdasarkan Keputusan Menteri Pertambangan No. 104 yang berlaku 24 Juli 2017. Secara ekslusif, Pemerintah Chili memiliki dan mengontrol seluruh kekayaan mineral. Proses ekstraksi yang diizinkan maksimal 5.000 ton per bulan dan berdasarkan kajian dampak lingkungan. Sesuai Pasal 142 Peraturan Pertambangan, setiap perusahaan membayar lisensi izin pertambangan setiap tahunnya. Izin
57
akan dicabut apabila perusahaan terlambat dalam membayar. Selain itu, perusahaan juga wajib membayar pajak pertambangan dengan konsep berikut:
1. Penghasilan kena pajak operasional pertambangan, yaitu pendapatan bersih (total pendapatan pertambangan dikurangi biaya dan pengeluaran) dan membuat penyesuaian sesuai Undang-Undang Pajak Penghasilan untuk penerapan pajak perusahaan.
2. Margin keuntungan operasional pertambangan, yaitu pendapatan kena pajak operasional pertambangan dibagi dengan pendapatan operasional pertambangan, dikalikan 100.
Selain biaya izin tahunan pertambangan dan pajak penghasilan pertambangan khusus, perusahaan pertambangan harus membayar semua pajak umum yang diatur oleh undang-undang pajak (seperti pajak penghasilan, PPN, pajak bahan bakar khusus, dan sebagainya).
Impor sumber daya mineral dikenakan pajak perdagangan ekspor, yaitu 6 persen dari nilai CIF (biaya, asuransi dan pengangkutan) dan 19 persen PPN (dihitung dari nilai CIF ditambah pajak perdagangan ekspor). Jika barang berasal dari negara di mana Chili telah menandatangani perjanjian komersial, barang tersebut dapat dibebaskan dari PPN atau pajak perdagangan ekspor atau tunduk pada pengurangan PPN atau pajak perdagangan eksternal.
Kegiatan pertambangan di Indonesia diatur dalam UU Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara. Sebagai negara yang memiliki banyak cadangan mineral batu bara, Indonesia menjadikan sektor pertambangan menjadi salah satu tumpuan perekonomian. Sama seperti di Chili, pengelolaan sektor pertambangan berada di pemerintah pusat, dalam hal ini berada di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Termasuk dalam penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta pasca tambang.
Dalam UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan PP nomor 25 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral, pemerintah memberikan insentif fiskal dalam bentuk pemberian royalti sebesar 0 persen bagi batu bara yang dijadikan bahan baku hilirisasi. Insentif ini diberikan pada IUP, IUPK, dan IUPK sebagai kelanjutan operasi kontrak. Adapula insentif kemudahan perizinan yang dapat diperpanjang sesuai dengan cadangan batu bara yang mana pemanfaatan 30 tahun dijamin mendapat perpanjangan 10 tahun selama memenuhi persyaratan. Selain itu, adapula insentif relaksasi ekspor mineral
58
logam tertentu yang belum dimurnikan sampai akhir tahun 2023. Tidak hanya itu, berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 46.K/MB.04/MEM.B/2021 dan Nomor 67.K/MB.04/MEM.B/2021, insentif juga diberikan kepada perusahaan tambang di masa pandemi Covid-19 berupa relaksasi pemberian rekomendasi persetujuan ekspor mineral tertentu seperti whased bauxite, besi, timbal, dan sebagainya. Pada Kepmen ini, jangka waktu rekomendasi persetujuan ekspor produk mineral tersebut berlaku sampai dengan tanggal 31 Desember 2021.
59
Halaman ini sengaja dikosongkan.
60
61