1
(Halaman Belakang Kertas Cover)
2
3
Halaman ini sengaja dikosongkan.
4
Pada triwulan III-2021, ekonomi Indonesia kembali melanjutkan momentum pemulihan ekonominya meski pertumbuhannya tidak sepesat triwulan sebelumnya. Sektor Pertambangan sebagai salah satu penopang ekonomi Indonesia mampu tumbuh pesat dalam 2 triwulan terakhir dan diproyeksikan akan terus memiliki prospek positif hingga awal 2022, utamanya untuk komoditas unggulan seperti nikel dan batu bara.
Mempertimbangkan hal tersebut, Laporan Perkembangan PDB/PDRB Sektoral dan Ekonomi Daerah edisi Januari 2022 ini mengangkat tema “Potret Kinerja Komoditas Unggulan Pertambangan Indonesia”.
Secara umum, laporan ini membahas tentang kinerja sektor pertambangan untuk komoditas utama sebagai salah satu sektor yang mampu mendongkrak harga ekspor selama pandemi Covid-19 secara nasional dan spasial. Selain itu, laporan ini juga tidak hanya berisikan kompilasi berbagai indikator terkait yang terjadi pada sepanjang triwulan III-2021, tapi juga dilengkapi dengan data makro, baik nasional maupun internasional, serta berbagai kebijakan terkait yang telah dikeluarkan pemerintah pusat, pemerintah daerah dan pihak lainnya. Kemudian, untuk melengkapi analisis juga telah dilakukan : a) pendalaman pada dua daerah pilihan, yaitu Kalimantan Timur dan Sulawesi Tengah; dan b) pengolahan data Input Output (IO) provinsi pilihan Tahun 2016 khusus sektor pertambangan. Infografik yang disajikan dalam laporan ini juga diharapkan dapat mempermudah pemahaman substansi yang disajikan.
Selain sebagai sarana pembelajaran, penyusunan laporan ini diharapkan dapat menjadi referensi tambahan bagi segenap pemangku kepentingan Deputi Ekonomi Makro dan Keuangan dalam hal evaluasi kebijakan maupun koordinasi penyusunan kebijakan, di tingkat pusat maupun daerah. Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah membantu tersusunnya laporan ini. Semoga laporan analisis ini dapat memberikan manfaat.
5
Daftar Isi
6
7
Ringkasan Eksekutif
Sebagai negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, tentunya Indonesia memiliki berbagai potensi yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Salah satunya adalah kegiatan pertambangan. Pertambangan menjadi sektor yang cukup berperan penting terhadap perekonomian Indonesia. Meskipun di tahun 2020 sempat mengalami kontraksi akibat pandemi Covid-19, namun di tahun 2021 sektor pertambangan kembali bangkit. Pada triwulan III-2021, kinerja sektor pertambangan tercatat 7,78 persen (yoy) yang merupakan pertumbuhan tertingi selama lima tahun terakhir. Besarnya angka pertumbuhan tersebut juga didukung adanya low-base effect akibat kontraksi pada triwulan yang sama pada tahun 2020. Dikuartal ini juga, sektor pertambangan berkontribusi sebesar 9,55 persen terhadap PDB yang menempatkan pertambangan sebagai kontributor ke lima pada perekonomian Indonesia. Selama masa pandemi, pertambangan masih menjadi penopang perekonomian Indonesia. Cadangan mineral dan batu bara Indonesia termasuk peringkat 10 yang terbaik. Produksi nikel dan tembaga mampu meningkatkan nilai tambah melalui perubahan ke produk lain. Tidak hanya itu, Indonesia juga menjadi salah satu eksportir terbesar batu bara di dunia.
Pemerintah telah menyusun Peta Jalan Program Hilirisasi untuk tujuh komoditas tambang unggulan Indonesia dalam rangka meningkatkan perekonomian dan mendorong nilai tambah.
Tujuh komoditas unggulan tersebut antara lain batu bara, nikel, besi baja, emas perak, tembaga, alumunium, dan timah. Setiap komoditas memiliki enam langkah yang terdiri dari (1) ketahanan cadangan dan optimalisasi produksi bahan baku industri; (2) peningkatan, optimalisasi, dan efisiensi industri pengolahan pemurnian; (3) pengembangan industri pabrikasi, manufaktur, dan peningkatan TKDN; (4) optimalisasi penggunaan produk dalam negeri dan pencanangan sistem daur ulang; (5) lingkungan dan keberlajutan; dan (6) dukungan pemerintah.
Dalam melihat potret kinerja sektor pertambangan, kita dapat melihat dari dua komoditi yang paling unggul, yaitu batu bara dan nikel. Sebagai salah satu negara produsen batu bara dunia, sejak tahun 2005 Indonesia telah menjadi eksportir terbesar untuk China dan India. Cadangan batu bara Indonesia diperkirakan habis pada 80 tahun mendatang dengan tingkat produksi saat ini. Kualitasnya sendiri tergolong sub-bituminous atau yang berkualitas rendah. Di tahun 2021, produksi batu bara tergolong baik. Realisasi produksi mencapai 606,46 juta ton atau 97 persen dari target produksi yang direncanakan sedangkan penjualannya mencapai 521,29 juta
8
ton atau 83 persen dari target penjualan. Permintaan batu bara dalam negeri meningkat seiring dengan adanya kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) sesuai dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 34 Tahun 2009 tentang Pengutamaan Pemasukan Kebutuhan Mineral dan Batu Bara untuk Kepentingan Dalam Negeri.
Semenjak awal tahun 2021, terjadi kenaikan tren harga batu bara pasca perlambatan ekonomi global akibat pandemi Covid-19. Hal ini merupakan respon China sebagai negara konsumen terbesar batu bara. Peningkatan permintaan juga dilakukan oleh Korea Selatan dan Kawasan Eropa. Namun pada Desember 2021, terjadi penurunan harga batu bara karena China mengeluarkan kebijakan untuk memproduksi batu bara dalam memenuhi kebutuhan domestiknya.
Sama halnya dengan batu bara, nikel juga merupakan komoditas unggulan di sektor minerba.
Tiga produk turunan nikel yang menjadi unggulan, yaitu Nickel Pig Iron, Ferro Nickel, dan Nickel Matte. Realisasi produksi pada tahun 2021 dinilai cukup baik berada di atas 50 persen.
Walaupun begitu, realisasi penjualan Nickel Pig Iron merupakan yang paling rendah, yaitu 8,16 persen. Menurunnya jumlah produksi dan penjualan dikarenakan adanya kenaikan harga komoditas dunia, kebutuhan produksi, dan kebijakan pemerintah. Selain itu, faktor cuaca juga berpengaruh pada pembatasan aktivitas pertambangan untuk keselamatan pekerja tambang.
Hampir seluruh wilayah di Indonesia memiliki potensi di sektor pertambangan. Kami mengambil Kalimantan Timur dan Sulawesi Tengah sebagai tolok ukur. Kedua provinsi tersebut mewakili karakteristik yang berbeda pada sektor pertambangan dan penggalian, khususnya terkait komoditas utama yang diproduksi. Kami melakukan analisis input-output dan Focus Group Discussion (FGD) bersama stakeholders di daerah dalam melihat kinerja sektor pertambangan dan penggalian.
Perekonomian Kalimantan Timur secara umum tumbuh sejalan dengan perekonomian Indonesia. Pada triwulan III-2021 mengalami perlambatan dibanding triwulan sebelumnya.
Dalam lingkup wilayah Kalimantan, provinsi Kalimantan Timur mendominasi perekonomian sebesar 50,2 persen. Sektor yang berkontribusi paling besar tentunya adalah pertambangan dan penggalian dengan share sebesar 46,82 persen. Pertambangan dan penggalian memiliki keunggulan dari segi keterkaitan ke depan dibandingkan dengan sektor lainnya. Namun, penggalian dan pertambangan tidak memiliki keunggulan komparatif.
Ketergantungan terhadap sektor pertambangan membuat perekonomian Kalimantan Timur relatif rendah karena tidak mengikuti dinamika komoditas harga minerba. Tidak hanya itu,
9
permintaan batu bara pun cenderung menurun karena adanya upaya pengurangan emisi karbon dan pemanfaatan energi baru terbarukan. Sektor-sektor lainnya seperti industri pengolahan, pariwisata, serta perdagangan dan jasa cenderung belum pulih akibat pandemi Covid-19. Beberapa upaya yang dilakukan Kalimantan Timur dalam mengelola pertambangan antara lain (1) pengembangan hilirisasi berbasis SDA melimpah; (2) pengembangan pariwisata unggulan; dan (3) pengembangan UMKM berdaya saing.
Tidak berbeda dengan Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah juga mengalami perlambatan pada triwulan III-2021 dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Namun di masa pandemi ini, pertumbuhan Sulawesi Tengah selalu menunjukkan tren positif yang merupakan kontributor pertumbuhan ekonomi ke-3 dari seluruh provinsi di Indonesia setelah Maluku Utara (11,40 persen) dan Papua (14,50 persen) terhadap ekonomi nasional di triwulan III-2021. Dilihat dari sisi pengeluaran, investasi menjadi kontributor tertinggi dalam perekonomian di triwulan III- 2021. Hal ini didorong dengan adanya pembangunan smelter di sejumlah kawasan industri. Di lihat dari sisi lapangan usaha, pertambangan dan penggalian menempati urutan ketiga sebagai kontributor perekonomian Sulawesi Tengah sebesar 14,54 persen. Walaupun begitu, sektor pertambangan dan penggalian mengalami perlambatan di triwulan III. Hal ini dikarenakan curah hujan yang tinggi dan melambatnya industri pengolahan nikel. Sektor pertambangan dan penggalian memiliki keunggulan di sisi keterkaitan ke depan. Hal ini berarti sektor tersebut mampu mendorong sektor ekonomi pada sektor sekunder dan tersier. Namun, sektor pertambangan tidak memiliki keunggulan komparatif.
Pengalihan kewenangan pengelolaan pertambangan mineral dan batu bara menjadi salah satu isu yang membuat adanya kompleksitas tata kelola izin usaha pertambangan. Sesuai dengan amanat UU Nomor 3 Tahun 2020 kewenangan pengelolaan dialihkan dari pemerintah daerah ke pemerintah pusat. Dengan payung hukum UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, penerbitan izin usaha tambang merupakan kewenangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta Kementerian Investasi/BKPM.
Pertambangan tanpa izin juga masih menjadi masalah di sektor pertambangan. Hal ini dikarenakan terkait isu lingkungan dan keselamatan penambangan. Di sinilah peran pemerintah daerah untuk dapat mengawasi dan memantau kegiatan pertambangan tanpa izin. Edukasi dan pemberdayaan kepada masyarakat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi pertambangan tanpa izin.
10
Sektor pertambangan memiliki peran penting sebagai kontributor perekonomian Indonesia di masa pandemi Covid-19 ini. Tren kenaikan harga mineral dan batu bara dunia turut berkontribusi meningkatnya pertumbuhan di sektor pertambangan. Pemerintah terus berupaya untuk melaksanakan hilirisasi agar produk pertambangan nilai tambahnya dapat meningkat.
11
Halaman ini sengaja dikosongkan.
12
13
14
Bab I
Pendahuluan
Sampai saat ini, pandemi Covid-19 masih berlangsung dan memiliki sifat untuk dapat beradaptasi dengan cara bermutasi seiring dengan berjalannya waktu. Walaupun demikian, roda perekonomian harus terus berjalan dengan melakukan berbagai strategi pemulihan ekonomi pada berbagai sektor untuk menunjang kehidupan masyarakat di berbagai negara termasuk Indonesia.
Pada triwulan III-2021, kondisi perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 3,51 persen (yoy) yang menunjukkan perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya (triwulan II-2021 sebesar 7,07 persen). Hal ini disebabkan adanya peningkatan kasus harian Covid-19 sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat dan PPKM Level yang menghambat mobilitas dan mengganggu aktivitas ekonomi.
Meskipun demikian, posisi pertumbuhan ini membaik bila dibandingkan dengan growth ekonomi Indonesia kuartal III-2020 yang terkontraksi 3,49 persen (Grafik 1.1).
Grafik 1.1 Perkembangan PDB Triwulanan (%yoy) Sumber: BPS diolah, diakses tanggal 15 November 2021
Kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia sejalan dengan pertumbuhan ekonomi mitra dagang utama yang tercatat positif di kuartal III-2021, meskipun lebih rendah dari kuartal sebelumnya. Pemulihan permintaan dan peningkatan harga komoditas global mendorong aktivitas perdagangan internasional Indonesia. Beberapa harga komoditas yang menunjukkan peningkatan terutama harga komoditas makanan dan hasil tambang, seperti minyak kelapa sawit, cokelat, kopi, timah, nikel, dan aluminium. Perkembangan tersebut berpengaruh besar
5,06 5,27
5,17 5,18
5,07 5,05
5,02 4,97
2,97
-5,32 -3,49
-2,20
-0,74 7,07 3,51
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3
2018 2019 2020 2021
15
pada kinerja ekspor perekonomian Indonesia. Namun demikian, rendahnya mobilitas masyarakat di sepanjang Juni-September 2021 turut berpengaruh terhadap perlambatan pertumbuhan. Hal ini diindikasikan sebagai dampak dari pemberlakuan PPKM darurat atau level 4 oleh pemerintah untuk menekan penyebaran Covid-19 yang melonjak di Indonesia.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan terbesar berada di komponen impor (30,11 persen), ekspor (29,16 persen) dan PMTB (3,74 persen). Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan tersebut sejalan dengan peningkatan bahan baku dan penolong serta barang modal, naiknya realisasi investasi dan kerjasama dengan mitra dagang Indonesia seperti ekspor komoditas lemak dan minyak hewan/nabati, bahan bakar mineral, besi dan baja, serta harga komoditas migas (tabel 1.1).
Tabel 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Berdasarkan Pengeluaran (yoy, persen)
Sumber: BPS diolah, diakses tanggal 15 November 2021
Dilihat dari sisi lapangan usaha, penopang pertumbuhan utama dalam perekonomian Indonesia pada triwulan III-2021 adalah sektor jasa kesehatan (14,06 persen), pertambangan dan penggalian (7,78 persen), Infokom (5,51 persen), perdagangan besar dan eceran (5,16 persen), konstruksi (3,84 persen), dan industri pengolahan (3,68 persen). Sektor jasa kesehatan tumbuh positif seiring dengan pembayaran insentif tenaga kesehatan untuk perawatan pasien dan vaksinasi Covid-19 serta peningkatan pendapatan rumah sakit yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah pemeriksaan specimen Covid-19. Sektor pertambangan di dorong meningkatnya produksi tembaga, bijih nikel, aluminium, serta batu bara dan lignit sejalan dengan peningkatan ekspornya. Sementara itu, sektor industri pengolahan yang tumbuh positif didorong dengan adanya hilirisasi dari sektor pertambangan yaitu pemenuhan permintaan luar negeri pada industri produksi logam dasar seperti besi dan baja (Tabel 1.2).
I II III IV Total I II III IV Total I II III Share Konsumsi RT 5,01 5,17 5,01 4,97 5,04 2,84 -5,51 -4,04 -3,61 -2,63 -2,23 5,93 1,03 53,09 Konsumsi LNPRT 16,93 15,27 7,44 3,53 10,62 -4,91 -7,76 -2,12 -2,14 -4,29 -4,53 4,12 2,96 1,22 Konsumsi Pemerintah 5,21 8,23 0,98 0,48 3,25 3,74 -6,90 9,76 1,76 1,94 2,96 8,06 0,66 8,90 PMTB 5,03 5,01 4,21 4,06 4,45 1,70 -8,61 -6,48 -6,15 -4,95 -0,23 7,54 3,74 30,45 Ekspor Luar Negeri -2,08 -1,81 0,02 -0,39 -0,87 0,24 -11,66 -10,82 -7,21 -7,70 6,74 31,78 29,16 22,71 Impor Luar Negeri -7,75 -7,04 -8,61 -8,05 -7,69 -2,19 -16,96 -21,86 -13,52 -14,71 5,27 31,22 30,11 18,68 PRODUK DOMESTIK BRUTO 5,07 5,06 5,02 4,97 5,02 2,97 -5,32 -3,49 -2,19 -2,07 -0,74 7,07 3,51 100,00
Komponen 2019 2020 2021
< 0% 0 - 5% 5,22 5 - 7% 8,84 > 7 %
16
Tabel 1.2 Pertumbuhan Ekonomi Berdasarkan Lapangan Usaha (yoy, persen)
Sumber: BPS diolah, diakses tanggal 15 November 2021
Secara spasial, seluruh wilayah masih tumbuh positif kecuali kawasan Balinusra yang pertumbuhannya masih terkontraksi 0,09 persen (yoy) pada triwulan III-2021. Sebaliknya, pertumbuhan terbesar berada di kawasan Papua dan Maluku sebesar 9,15 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan sebelumnya sebesar 8,15 persen (yoy). Untuk kawasan Jawa pertumbuhan tercatat sebesar 3,03 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yakni 7,88 persen (yoy). Akan tetapi, kawasan ini masih mendominasi perekonomian Indonesia yaitu 57,55 persen mengingat berbagai sektor berada di pulau tersebut (grafik 1.2).
I II III IV Tahunan I II III IV Tahunan I II III Share Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 1,82 5,33 3,12 4,26 3,64 -0,02 2,15 2,10 2,57 1,71 3,33 0,38 1,31 14,30 Pertambangan dan Penggalian 2,32 -0,71 2,34 0,94 1,22 0,45 -2,72 -4,28 -1,20 -1,95 -2,02 5,22 7,78 9,55
Industri Pengolahan 3,85 3,54 4,14 3,66 3,80 2,06 -6,19 -4,34 -3,13 -2,93 -1,38 6,58 3,68 19,15
Pengadaan Listrik dan Gas 4,12 2,20 3,75 6,01 4,04 3,85 -5,46 -2,44 -5,01 -2,34 1,68 9,09 3,85 1,10
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 8,95 8,33 4,85 5,41 6,83 4,37 4,45 5,92 4,95 4,93 5,46 5,78 4,56 0,07
Konstruksi 5,91 5,69 5,65 5,79 5,76 2,90 -5,39 -4,52 -5,67 -3,26 -0,79 4,42 3,84 10,39
Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 5,21 4,63 4,43 4,24 4,62 1,56 -7,61 -5,07 -3,66 -3,74 -1,23 9,44 5,16 13,03 Transportasi dan Pergudangan 5,45 5,88 6,66 7,55 6,40 1,28 -30,82 -16,72 -13,43 -15,06 -13,12 25,10 -0,72 3,90 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 5,87 5,53 5,41 6,41 5,80 1,94 -21,97 -11,83 -8,91 -10,23 -7,26 21,58 -0,13 2,26
Informasi dan Komunikasi 9,06 9,60 9,24 9,71 9,41 9,82 10,85 10,72 10,99 10,60 8,71 6,87 5,51 4,37
Jasa Keuangan dan Asuransi 7,23 4,49 6,15 8,49 6,60 10,63 1,07 -0,93 2,39 3,26 -2,97 8,35 4,29 4,26
Real Estate 5,40 5,71 5,97 5,85 5,74 3,82 2,33 1,99 1,28 2,34 0,94 2,82 3,42 2,74
Jasa Perusahaan 10,36 9,94 10,22 10,49 10,25 5,39 -12,09 -7,61 -7,02 -5,44 -6,10 9,94 -0,59 1,70
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 6,41 8,85 1,87 2,06 4,67 3,09 -3,21 1,77 -1,60 -0,06 -3,05 9,49 -9,96 2,94
Jasa Pendidikan 5,64 6,31 7,81 5,46 6,29 5,86 1,20 2,43 1,36 2,64 -1,71 5,72 -4,42 3,07
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 8,64 9,13 9,18 7,82 8,68 10,40 3,73 15,30 16,55 11,61 3,32 11,62 14,06 1,41
Jasa lainnya 9,97 10,72 10,71 10,78 10,55 7,09 -12,59 -5,54 -4,83 -4,09 -5,16 11,97 -0,30 1,77
PRODUK DOMESTIK BRUTO 5,07 5,05 5,02 4,97 5,02 2,97 -5,32 -3,49 -2,20 -2,07 -0,71 7,07 3,51 100,00
Sektor 2019 2020 2021
< 0% 0 - 5% 5,22 5 - 7% 8,84 > 7 %
Grafik 1.2 Kontribusi (%) dan Pertumbuhan Ekonomi Wilayah (%yoy) di Indonesia Sumber: BPS diolah, diakses tanggal 15 November 2021
21,95%
57,55%
8,32%
6,98%
2,75%
2,45%
Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi Balinusra Papua dan Maluku
TW II-2021 TW III-20201
17
Sejak 1 Januari 2022 yang akan berlaku hingga 31 Januari 2022 apabila tidak dilakukan perpanjangan, pemerintah menerapkan kebijakan pelarangan ekspor terutama batu bara yang tertuang dalam surat dengan NomorB-1605/MB.05/DJB.B/2021yang diterbitkan pada tanggal 31 Desember 2021. Langkah ini diambil pemerintah seiring menipisnya pasokan batu bara pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) milik PLN (Persero) dan milik Indendent Power Producer (IPP).
Pelarangan ekspor batu bara pada periode tersebut dapat mempengaruhi kinerja ekspor beberapa perusahaan ternama. Di sisi lain, harga batu bara saat itu tercatat meningkat hingga US$196,5 per metrik ton pada 6 Januari 2022, harga ini naik 16,60 poin dibandingkan hari perdagangan sebelumnya US$179,90 per metrik ton (bursa Ice Newcastle). Namun pada tanggal 12 Januari 2021, dilakukan pembukaan kembali untuk ekspor batu bara, karena pasokan untuk PLN yang sudah terpenuhi dan dipastikan aman.
Kebijakan pembukaan ekspor itu, hanya diberikan untuk perusahaan yang telah memenuhi kewajiban persentase penjualan untuk kebutuhan DMO dan telah menyampaikan surat pernyataan bersedia membayar denda atau dana kompensasi atas kekurangan DMO pada 2021. Selain itu, pemerintah sedang menginisiasi pembentukan Badan Layanan Umum (BLU) dan harga khusus bagi PLTU domestik. Konsep BLU ini diharapkan agar tidak terjadi gangguan pasokan batu bara ke PLN, sehingga dapat meminimalisir disparitas sebagai risiko ketahanan pasokan untuk PLTU dalam negeri.
Diberlakukannya beberapa kebijakan sektor pertambangan di atas mengonfirmasi bahwa pemerintah secara nyata mendorong hilirisasi sektor minerba. Beberapa smelter telah beroperasi sebagai fasilitas pengolahan hasil tambang, salah satunya seperti pemanfaatan pengolahan bijih nikel menjadi aluminium. Sepanjang tahun 2021 harga nikel terjadi kenaikan cukup tinggi yang tercatat sebesar US$19.800 perton pada November 2021. Peneliti dari Alpha Research Database Indonesia menilai hilirisasi produk turunan nikel perlu didorong untuk memberikan nilai tambah lebih tinggi terutama bagi sektor industri.
Dalam memperkuat poisisi Indonesia di pasar domestik dan internasional, pemerintah Indonesia perlu mengimplementasikan high technology pada sektor hilirisasi pertambangan.
Salah satu penerapan high technology yaitu pada pabrik olahan nikel menjadi besi baja.
Selama ini produk olahan nikel lebih banyak diolah menjadi feronikel dan nikel pig iron, sedangkan produk lebih hilir seperti stainless steel hingga besi baja masih terbatas.
18
Selain itu, diperlukan pula kebijakan pemerintah dalam mendukung hilirisasi pengembangan smelter untuk menghasilkan barang intermediate maupun barang jadi yang berbasis ekspor pada perusahaan yang ada di Indonesia. Untuk pembahasan sektor pertambangan secara keseluruhan akan dibahas di bab 3 dan akan difokuskan pada sub sektor batu bara dan nikel.
19
Halaman ini sengaja dikosongkan.
20
21
Bab II
Isu Strategis Pengembangan Sektor Pertambangan
A. Overview Pertambangan
Menurut UU Minerba No. 3 Tahun 2020, pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batu bara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan/atau pemurnian atau pengembangan dan/atau pemanfaatan, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pasca tambang.
Secara umum, barang tambang meliputi barang tambang sumber energi, bahan galian bijih logam, dan bahan galian batuan. Menurut Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1980, bahan galian tambang di Indonesia dikelompokkan menjadi tiga golongan meliputi:
1. Golongan A, atau bahan tambang strategis. Bahan tambang yang hanya boleh dimiliki oleh pemerintah. Bahan tambang Golongan A digunakan untuk pertahanan dan keamanan Negara serta menjamin kestabilan ekonomi Negara. Pengelolaannya diatur Negara dan pihak swasta yang diberi kewenangan. Bahan galian ini juga masuk komoditas ekspor.
Contohnya antara lain: minyak bumi, gas gas, batu bara, alumunium, nikel, timah putih, dan lainnya.
2. Golongan B, atau bahan tambang vital. Bahan tambang yang dapat menjamin hajat hidup orang banyak. Penggunaanya dikelola oleh swasta yang diijinkan Negara. Contohnya antara lain: emas, perak, besi, intan, wolfram, batu permata, seng, dan lainnya.
3. Golongan C, yaitu bahan tambang yang tidak termasuk ke dalam golongan A maupun B.
Bahan tambang golongan C digunakan untuk industri.
Contohnya antara lain: kapur, pasir, marmer, granit, gypsum, dan lainnya.
Dasar penggolongan bahan-bahan galian:
a. Nilai strategis/ekonomis bahan galian terhadap Negara;
b. Terdapatnya sesuatu bahan galian dalam alam (genese);
c. Penggunaan bahan galian bagi industri;
d. Pengaruhnya terhadap kehidupan rakyat banyak
22
e. Pemberian kesempatan pengembangan pengusahaan;
f. Penyebaran pembangunan di Daerah.
Selama pandemi, sektor pertambangan menjadi salah satu sektor penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor pertambangan di kawasan Indonesia Timur memiliki daya tahan yang kuat dan mampu bertahan dengan didukung oleh kinerja ekspor yang meningkat.
Ketahanan perekonomian di kawasan tersebut ditopang potensi sumber daya alam dan peningkatan nilai tambah dari industri pertambangan.
Salah satu subsektor yang mampu meningkatkan nilai tambah adalah nikel dan tembaga.
Sebagai contoh, nikel telah berhasil diolah menjadi produk industri logam dasar, terutama besi baja.
Gambar 2.1 Peringkat Cadangan Mineral dan Batu Bara Indonesia di Dunia
Sumber: Bahan Paparan Pengelolaan Industri Pertambangan dan Pengolahan di Indonesia, Kemenko Marves, 20 Desember 2021
Berdasarkan data Minerba One Data Indonesia (MODI), Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2020, Indonesia sebagai negara produsen batu bara top 3 di dunia mencatatkan ekspor sebanyak 331,84 juta ton.
Sementara mengutip data dari BP Statistical Review 2021, produsen batu bara terbesar dunia yaitu China dengan jumlah produksi mencapai 3,9 miliar ton pada 2020. Kemudian disusul India dengan jumlah produksi 756,5 juta ton. Sementara Indonesia tercatat 562,5 juta ton.
Adapun target produksi batu bara Indonesia pada tahun 2021 ini mencapai 625 juta ton, meningkat dari rencana awal yang hanya sebesar 550 juta ton.
Meski masuk top 3 produsen batu bara dunia, namun Indonesia bukanlah pemilik cadangan batu bara terbesar di dunia. Indonesia menduduki peringkat ke enam dengan cadangan senilai 37 Milyar ton.
23
Sementara untuk komoditas nikel, dalam laporan tim EV Battery BUMN, alam Indonesia mengandung 21 juta ton cadangan nikel. Kondisi tersebut membangun optimisme pemerintah yang mencanangkan pembangunan industri kendaraan listrik (EV) dan baterai EV menjadi program prioritas pemerintah, hal ini didukung dengan posisi Indonesia yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Sedangkan untuk emas, indonesia menduduki peringkat kelima dunia dengan cadangan emas sebesar 2.600 Ton Au, atau sekitar 5 persen dari total cadangan emas dunia yang mencapai 50.300 Ton Au.
Lembaga ilmiah Amerika Serikat, United States Geological Survey (USGS) melaporkan Indonesia masuk peringkat ketujuh sebagai negara dengan cadangan tembaga terbesar di dunia. Pada 2020, cadangan tembaga tercatat sebanyak 28 miliar metrik ton. Potensi tembaga di Indonesia terbesar berada di wilayah Papua. Seperti diketahui, Papua menjadi tempat beroperasinya dua tambang tembaga, yaitu tambang Ertsberg dan Grasberg.
Sebagai salah satu negara yang penghasil sumber daya alam, Indonesia memiliki banyak cadangan mineral tambang dan hampir semua provinsi memiliki barang tambang. Bahkan di beberapa provinsi, pertambangan menjadi sektor penopang pertumbuhan ekonomi daerah.
Untuk kasus Indonesia, laju pertumbuhan sektor pertambangan tidak luput dari dampak akibat adanya pandemi di mana tahun 2021 menjadi titik balik pertumbuhan sektor pertambangan. Pada triwulan III-2021 sektor pertambangan mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,78 persen (yoy). Capaian tersebut merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. Tingginya tingkat pertumbuhan sektor pertambangan pada tahun 2021 juga didukung oleh adanya low-base effect akibat kontraksi pada triwulan yang sama pada tahun sebelumnya.
Grafik 2.1 Pertumbuhan Dan Kontribusi Sektor Pertambangan Sumber: BPS diolah, diakses tanggal 23 Desember 2021
7,78 4,20 9,55
-5,00 0,00 5,00 10,00 15,00
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III
2017 2018 2019 2020 2021
Pertambangan dan Penggalian %YoY Pertambangan dan Penggalian %QtQ Kontribusi Sektor Pertambangan dan penggalian
24
Dari sisi qtq, sektor pertambangan mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,20 persen (qtq).
Selain laju pertubuhannya, sektor pertambangan juga memiliki kontribusi yang cukup tinggi pada PDB. Pada triwulan III-2021 sektor pertambangan berkontribusi sebesar 9,55 persen terhadap PDB. Capaian tersebut menempatkan sektor pertambangan pada kontributor terbesar kelima dalam PDB. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata kontribusi sektor pertambangan mencapai 7,51 persen sehingga membuat sektor pertambangan secara konsisten masuk dalam lima besar kontributor PDB.
Dari sisi kinerja per subsektor pertambangan, Pada triwulan III-2021 pertumbuhan tertinggi dicatatkan oleh subsektor bijih logam, sedangkan pertumbuhan terendah dicatatkan oleh subsektor pertambangan migas dan panas bumi. Pergerakan harga global menjadi salah satu faktor pemicu peningkatan kinerja subsektor pertambangan. Misalnya, yang terjadi pada subsektor pertambangan batu bara dan lignit yang mengalami percepatan pertumbuhan seiring dengan kenaikan harga acuan yang cukup pesat.
Grafik 2.2 Pertumbuhan Subsektor Pertambangan Sumber: BPS diolah, diakses tanggal 23 Desember 2021
B. Roadmap dan Kebijakan
Berdasarkan hasil Focus Group Dissusion dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) pada tanggal 21 Desember 2021, roadmap program hilirisasi telah disusun untuk 7 (tujuh) komoditas tambang unggulan Indonesia.
Roadmap disusun secara umum dalam rangka mendorong peningkatan pendapatan pemerintah dari sektor pertambangan melalui peningkatan nilai tambah. Roadmap ini masih akan dilengkapi dengan roadmap penyediaan dan transisi energi untuk memastikan proses trasnsisi di sektor ini tidak berdampak signifikan kepada pemenuhan energi nasional. Tujuh roadmap program hilirisasi yang dimaksud, diantaranya:
-40,00 -20,00 0,00 20,00 40,00
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III
2017 2018 2019 2020 2021
Pertumbuhan Pertambangan Minyak, Gas dan Panas Bumi %YoY Pertumbuhan Pertambangan Batubara dan Lignit %YoY Pertumbuhan Pertambangan Bijih Logam %YoY
Pertumbuhan Pertambangan dan Penggalian Lainnya %YoY
25
➢ Baru Bara
Impact – Mendorong Peningkatan Pendapatan Pemerintah
Gambar 2.2 Roadmap Batu Bara
Sumber: Bahan paparan Pengelolaan Industri Pertambangan dan Pengolahan di Indonesia, Kemenko Marves, 21 Desember 2021
➢ Nikel
Impact – Mendorong Peningkatan Pendapatan Pemerintah
Gambar 2.3 Roadmap Nikel
Sumber: Bahan paparan Pengelolaan Industri Pertambangan dan Pengolahan di Indonesia, Kemenko Marves, 21 Desember 2021
26
➢ Besi Baja
Impact – Mendorong Peningkatan Pendapatan Pemerintah
Gambar 2.4 Roadmap Besi Baja
Sumber: Bahan paparan Pengelolaan Industri Pertambangan dan Pengolahan di Indonesia, Kemenko Marves, 21 Desember 2021
➢ Emas Perak
Impact – Mendorong Peningkatan Pendapatan Pemerintah
Gambar 2.5 Roadmap Emas Perak
Sumber: Bahan paparan Pengelolaan Industri Pertambangan dan Pengolahan di Indonesia, Kemenko Marves, 21 Desember 2021
27
➢ Tembaga
Impact – Mendorong Peningkatan Pendapatan Pemerintah
Gambar 2.6 Roadmap Tembaga
Sumber: Bahan paparan Pengelolaan Industri Pertambangan dan Pengolahan di Indonesia, Kemenko Marves, 21 Desember 2021
➢ Alumunium
Impact – Mendorong Peningkatan Pendapatan Pemerintah
Gambar 2.7 Roadmap Alumunium
Sumber: Bahan paparan Pengelolaan Industri Pertambangan dan Pengolahan di Indonesia, Kemenko Marves, 21 Desember 2021
28
➢ Timah
Impact – Mendorong Peningkatan Pendapatan Pemerintah
Gambar 2.8 Roadmap Timah
Sumber: Bahan paparan Pengelolaan Industri Pertambangan dan Pengolahan di Indonesia, Kemenko Marves, 21 Desember 2021
Mengingat potensi sektor pertambangan yang ada di Indonesia cukup besar, pemerintah juga menyusun kebijakan untuk memberikan beragam insentif baik insentif fiskal maupun non fiskal pada sektor pertambangan. Melalui Undang-Undang No 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2021 tentang Penyelanggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral, pemerintah memberikan insentif fiskal berupa pemberian royalti 0 (nol) persen pada batu bara yang dijadikan bahan baku hilirisasi. Pemberian insentif ini berlaku pada pemegang izin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi, izin usaha pertambangan khusus (IUPK) operasi produksi, dan IUPK sebagai kelanjutan operasi kontrak yang melakukan kegiatan peningkatan nilai tambah batu bara.
Pemerintah juga memberikan insentif non fiskal melalui Undang-Undang No. 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara serta Peraturan Pemerintah No. 96 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu bara. Insentif yang dimaksud berupa kemudahan perizinan, yang dapat diperpanjang hingga umur cadangan tambang bagi kegiatan pertambangan yang terintegrasi. Di dalam UU No 3 Tahun 2020 juga terdapat penyederhanaan perizinan berupa penggabungan IUP Eksplorasi dengan IUP Operasi Produksi.
29
Jangka waktu perizinan seumur tambang (life of mine) dijelaskan melalui kedua peraturan tersebut, dimana kegiatan operasi produksi bagi pemegang IUP dan IUPK pertambangan mineral logam yang terintegrasi dengan fasilitas pengolahan dan/atau pemurnian, serta pertambangan batu bara yang terintegrasi dengan kegiatan pengembangan dan/atau pemanfaatan selama 30 tahun, dijamin memperoleh perpanjangan selama 10 tahun setiap kali melakukan perpanjangan setelah memenuhi persyaratan.
Salah satu poin yang menjadi perhatian lainnya adalah adanya insentif berupa relaksasi ekspor mineral logam tertentu yang belum dimurnikan hingga tiga tahun ke depan sejak Undang- Undang ini berlaku (atau sampai tahun 2023). Lebih lanjut, pemerintah melalui Kementerian ESDM (Kepmen ESDM No. 46.K/MB.04/MEM.B/2021 dan Kepmen ESDM No.
67.K/MB.04/MEM.B/2021) pada tahun 2021 telah memberikan insentif kepada sektor pertambangan pada masa Pandemi Covid-19 berupa relaksasi pemberian rekomendasi persetujuan ekspor mineral tertentu seperti whasedbauxite, besi, timbal, dan sebagainya. Pada Kepmen ini, jangka waktu rekomendasi persetujuan ekspor produk mineral tersebut berlaku sampai dengan tanggal 31 Desember 2021.
Selanjutnya, penguatan penerimaan hasil pertambangan juga diarahkan untuk mendorong kemampuan keuangan pemerintah daerah. Merujuk pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, pemerintah mengatur ulang Dana Bagi hasil (DBH) kepada pemerintah daerah. Penguatan dilakukan dalam hal pembagian porsi yang lebih besar kepada kabupaten/kota penghasil serta lebih memperhatikan lokasi asal penerimaan negara.
Secara umum, DBH merupakan dana yang bersumber dari penetapan tertentu APBN yang dialokasikan kepada daerah penghasil berdasarkan angka persentase tertentu dengan tujuan mengurangi ketimpaangan kemampuan keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. DBH dialokasikan berdasarkan dua prinsip yaitu prinsip by origin dimana daerah penghasil penerimaan negara mendapatkan persentase yang lebih besar dan prinsip by actual yaitu besarnya DBH yang disalurkan didasarkan atas realisasi penyetoran Penerimaan Negara Pajak (PNP) dan PNBP tahun anggaran berjalan.
Terkait dengan sektor pertambangan, maka pembahasan DBH hanya DBH Pajak dan DBH Sumber Daya Alam. DBH Pajak dalam kaitannya dengan sektor pertambangan berasal dari pendapatan pajak yang dikenakan atas bumi dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai dan/atau dimanfaatkan di kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan,
30
sedang DBH Sumber Daya Alam dalam kaitannya dengan sektor pertambangan bersumber dari penerimaan sumber daya alam kehutanan, pertambangan mineral, pertambangan minyak bumi, pertambangan gas bumi, dan pertambangan panas bumi. Adapun perhitungan DBH untuk masing masing sumber pendapatan dijabarkan pada poin – poin berikut ini:
• DBH pajak yang bersumber dari PBB sektor pertambangan ditetapkan sebesar 90 persen dengan rincian 18 persen untuk provinsi bersangkutan dan 72 persen untuk kabupaten yang bersangkutan. Perhitungan tersebut hanya berlaku kepada pertambangan di wilayah darat maupun laut hingga 12 mil dari garis pantai. Adapun PBB sektor pertambangan yang diperoleh dari wilayah laut lebih dari 12 mil tidak dibagikan kepada daerah.
• Pada pertambangan mineral dan batu bara, DBH terbagi menjadi dua jenis yaitu yang berasal dari Iuran Tetap dan Iuran Produksi. DBH mineral dan batu bara, baik yang berasal dari Iuran Tetap maupun Iuran Produksi, masing masing dialokasikan sebesar 80 persen kepada daerah penghasil. Adapun rincian perhitungan alokasi DBH mineral dan batu bara terdapat pada tabel 2.1.
• DBH Sumber daya Alam pertambangan minyak bumi ditetapkan sebesar 15,5 persen kepada daerah penghasil. Rincian perhitungan pengalokasian DBH dibedakan menurut lokasi pertambangan, yaitu pertambangan di wilayah laut sejauh 4 mil dari garis pantai dan pertambangan di wilayah laut sejauh 4 sampai 12 mil dari garis pantai.
• DBH Sumber Daya Alam pertambangan gas bumi baik yang berasal dari wilayah daratan maupun wilayah laut hingga 12 mil dari garis pantai masing-masing dialokasikan sebesar 30,5 persen kepada daerah yang bersangkutan.
• DBH Sumber Daya Alam pertambangan panas bumi berasal dari setoran bagian pemerintah, iuran tetap, dan iurang produksi. DBH panas bumi ditetapkan sebesar 80 persen kepada daerah penghasil, dengan rincian 10 persen kepada provinsi yang bersangkutan, 35 persen kepada kab/kota penghasil, dan 35 persen kepada kab/kota dalam provinsi yang bersangkutan.
Terdapat perlakuan khusus terhadap DBH Minyak bumi dan Gas Bumi. Pada DBH atas kedua hasil tambang tersebut juga dialokasikan untuk menambah anggaran pendidikan dasar.
Alokasi DBH untuk anggaran pendidikan bervariasi menurut asal perolehannya. DBH yang berasal dari wilayah laut sampai dengan 4 mil dialokasikan sebesar 0,5 persen untuk anggaran pendidikan dengan pembagian 0,25 persen untuk Kab/Kota penghasil dan 0,25 persen untuk Kab/Kota lain dalam provinsi yang bersangkutan. DBH yang berasal dari wilayah laut 4-12 mil dialokasikan sebesar 0,5 persen untuk anggaran pendidikan yang dibagi rata untuk setiap
31
Kab/Kota dalam provinsi yang bersangkutan. Adapun rincian alokasi DBH gas bumi terdapat pada tabel 2.2.
Tabel 2.1 Alokasi DBH mineral dan batu bara
DBH Mineral dan Batu Bara Pusat Provinsi Kab/kot Penghasil
Kab/kot Lain
IT Wilayah Darat 20% - 80% -
IT Wilayah Laut ≤12 Mil 20% 80% - -
IP Wilayah Darat 20% 16% 32% 32%
IP Wilayah Laut ≤12 Mil 20% 26% - 54%
Pertambangan di Kawasan perhutanan 20% 26% 27% 27%
Sumber: UU No 1 Tahun 2022, Diolah
*Ket: IT = Iuran Tetap; IP = Iuran Produksi
Tabel 2.2 alokasi DBH Minyak Bumi dan Gas Bumi DBH Minyak dan Gas Bumi Pusat Provinsi Kab/kot
Penghasil Kab/kot Lain
Minyak Bumi Laut ≤4 Mil 84,5% 3% 6,25% 6,25%
Minyak Bumi Laut 4 – 12 Mil 84,5% 5% - 10,5%
Gas Bumi Laut ≤4 Mil 69,5% 6% 12,25% 12,25%
Gas Bumi Laut 4 – 12 Mil 69,5% 10% - 20,5%
Sumber: UU Nomor 1 Tahun 2022, Diolah
Sektor pertambangan merupakan salah satu sektor unggulan dalam perekonomian indonesia.
Selain itu pertambangan juga memiliki andil yang besar dalam ekspor impor indonesia. Saat ini ekspor Indonesia masih didominasi oleh komoditas pertanian dan pertambangan, dimana mayoritas komoditas tersebut cenderung rentan terhadap volatilitas di pasar internasional. Di sisi lain, negara tetangga kita mampu mengembangkan produk manufaktur yang memiliki nilai tambah tinggi. Maka dari itu pemerintah mulai menggalakkan hilirisasi produk sumber daya alam.
Hiliriasi merupakan upaya menghentikan flying money dalam bentuk ekspor konsentrat.
Adapun tujuan lainnya adalah hiliriasi sumber daya alam akan memberikan multiplier effect kepada masyarakat dimana akan terbuka lapangan kerja dan perekonomian di daerah industri hilirisasi tumbuh lebih cepat. Selain itu, dengan adanya hilirisasi pertambangan akan menguatkan posisi tawar menawar Indonesia dalam ekonomi global karena Indonesia memiliki kekayaan mineral beserta produk turunannya.
32
Komitmen pemerintah menggalakkan hilirisasi produk sumber daya alam tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2020-2024 Kegiatan Prioritas 2 yang berbunyi industrialisasi melalui pengembangan smelter dan kawasan industri terutama di luar Jawa. Lebih jauh daripada itu, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu bara mengamanatkan pelarangan penjualan mineral mentah. Namun karena kesiapan infrastruktur serta sarana dan prasana hilirisasi pertambangan belum memadai sehingga kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah tersebut ditangguhkan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, pemerintah terus membangun smelter dalam rangka percepatan hilirisasi pertambangan. Pada tahun 2020, pemerintah melakukan perubahan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020. Undang-Undang tersebut mengamanatkan pelarangan penjualan mineral mentah terhitung tiga tahun sejak undang-undang tersebut mulai berlaku atau pada Juni 2023
Berdasarkan dokumen RPJMN, terdapat 31 lokasi hilirisasi mineral melalui pembangunan smelter 2020-2024. Nilai tersebut terdiri dari 16 smelter nikel, 3 smelter besi, 1 smelter tembaga 9 smelter bauksit, 1 smelter timbal, dan 1 smelter seng. Sejalan dengan kegiatan prioritas 2 dalam RPJMN, pembangunan smelter tersebar di seluruh wilayah indonesia selain di pulau jawa dengan mayoritas terletak di Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi. Secara umum, jumlah smelter di Indonesia saat ini didominasi oleh smelter nikel. Hal tersebut sejalan dengan semangat Pemerintah Indonesia untuk menjadi pusat rantai pasok baterai kendaraan listrik dunia
Gambar 2.9 Lokasi Hilirisasi Pembangunan Smelter di Indonesia Sumber: Program dan Kebijakan Hilirisasi Sumber Daya Alam, Bappenas, 11 Oktober 2021
33
Dari sisi komoditas batu bara, setidaknya terdapat enam jenis hilirisasi batu bara. Saat ini di Indonesia baru dua dari enam jenis hilirisasi batu bara, yaitu coal briquetting dan cokes making, yang sudah dalam tahap komersil. Dua jenis hilirisasi batu bara yang yang masih dalam tahap perencanaan/persiapan konstruksi antara lain coal gasification dan underground coal gasification. Hilirisasi batu bara berupa coal liquifaction dan coal surry memiliki potensi untuk dikembangkan, mengingat saat ini belum usulan pembangunan industrinya. Industri coal briquetting yang sudah aktif komersil antara lain PT Bukit Asam dan PT Thiveni yang berlokasi di Sumatera Selatan yang dapat memproduksi 80ribu-100ribu ton briket batu bara per tahun. Cokes making saat ini sudah mulai memasukin tahap komersil oleh PT Megah Energi Khatulistiwa yang berlokasi di Kalimantan Utara yang mampu memproduksi 500 ribu ton SemiCoke dan 50 ribu coal Tar per tahun. Selain itu, PT Multi Harapan Utama yang juga bergerak di bidang cokes making saat ini masih dalam tahap konstruksi di mana diperkirakan mampu memproduksi 500 ribu ton SemiCoke per tahunnya.
Gambar 2.10. Perkembangan Hilirisasi Batu Bara di Indonesia Sumber: FGD Kinerja, Isu, dan Kebijakan Sektor Pertambangan di Indonesia, KemenESDM, 26 Januari 2021
C. Tantangan dan Risiko
Pada Konferensi PBB tentang Pembangunan Berkelanjutan 2012 (Rio+20), para pemimpin dunia sepakat bahwa green economy (ekonomi hijau) adalah alat penting untuk pembangunan berkelanjutan yang inklusif dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi,
34
lapangan kerja, dan pengentasan kemiskinan, sambil mempertahankan fungsi ekosistem bumi yang sehat. Menurut Green Economy Coalition (GEC), terdapat 5 prinsip dari ekonomi hijau
Gambar 2.11. Lima Prinsip Green Economy
Sumber: Bahan Paparan Green and Blue Economic: Presfektif EBT, Kementerian ESDM, 3 Desember 2021
Rencana kerja pemerintah (RKP) di tahun 2022 masih mengusung tema pemulihan ekonomi dan reformasi struktural. Upaya Indonesia untuk optimalisasi penanganan pandemi Covid-19 berjalan beriringan dengan strategi pembangunan berkelanjutan.
Strategi redesain transformasi ekonomi tersebut bersifat jangka menengah-panjang, yang akan difokuskan pada (1) SDM berdaya saing, (2) produktivitas sektor ekonomi, (3) ekonomi hijau (green economy), (4) transformasi digital, (5) integrasi ekonomi domestik, dan (6) pemindahan Ibu Kota Negara (IKN). Dalam pelaksanaan dan pencapaian sasarannya, strategi tersebut dilakukan dengan indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) sebagai instrumen utama.
Salah satu tujuan Redesain transformasi ekonomi pasca Covid-19 adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan status Indonesia kembali menjadi upper middle income country seperti sebelum Covid-19 melanda Indonesia. Transformasi ekonomi yang memerlukan kolaborasi lintas sektor, lintas pelaku, dan lintas wilayah yang dilaksanakan melalui berbagai strategi, salah satunya adalah Green Economy atau ekonomi hijau.
Prinsip Kesejahteraan
Ekonomi Hijau memungkinkan semua orang untuk menciptakandan menikmati kemakmuran
Prinsip Keadilan
Ekonomi hijau mempromosikan kesetaraan di dalam satu maupun antar generasi
Prinsip Batas Planet
Ekonomi hijau melindungi, memulihkan, dan mengelola alam
Prinsip Efisiensi dan Kecukupan
Ekonomi hijau diarahkan untuk mendukung konsumsi dan produksi yang berkelanjutan
Prinsip tata Kelola yang Baik
Ekonomi hijau diarahkan oleh institusi-institusi yang saling terintegrasi, akuntabel, dan tangguh
35
Gambar 2.12. Kerangka Pikir RKP 2022
Sumber: Bahan Paparan Pembiayaan Hijau untuk Wujudkan Net-Zero Indonesia, Kemenko Perekonomian, 19 Oktober 2021
Green Economy bertujuan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Transformasi ekonomi adalah kunci untuk meningkatkan produktivitas dengan mengubah struktur perekonomian dari lower productivity ke higher productivity. Green economy recovery dapat menjadi strategi pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19, tidak hanya berdampak pada percepatan pemulihan ekonomi, tapi juga terhadap penanganan krisis iklim, bahkan dapat berdampak langsung pada penciptaan tenaga kerja.
Pemerintah melalui Kementerian PPN/Bappenas, menyiapkan tiga strategi utama Pembangunan Rendah Karbon (PRK) sebagai bagian dari implementasi green economy. Salah satu strategi yang dimaksud adalah kebijakan Net Zero Emissions (NZE) untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).
GRK terjadi secara alami di atmosfer bumi, tetapi berbagai aktivitas manusia, termasuk pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara, dan gas alam sebagai sumber energi, meningkatkan tingkat GRK di atmosfer. Hal ini menjadi salah satu penyebab terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim. Jika tidak ada tindakan mitigasi perubahan iklim, diperkirakan suhu bumi pada akhir tahun 2100 dapat mencapai 2,5 – 4,7 derajat Celcius lebih tinggi, dibandingkan dengan tahun 1750.
Paris Agreement merupakan langkah dunia untuk mengantisipasi perubahan iklim. Perjanjian ini diadopsi oleh 196 negara pada Conference of Parties (COP) ke-21 di Paris, pada 12 Desember 2015 dan disahkan pada 4 November 2016. Setiap negara yang menandatangani
36
kesepakatan ini harus menentukan langkah dan target dalam mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan. Hal ini tertuang dalam dokumen yang disebut Nationally Determined Contribution (NDC). Dalam dokumen NDC, Indonesia telah menargetkan adanya penurunan emisi sebesar 29 persen tanpa syarat atau sebesar 41 persen dengan dukungan internasional bila dibandingkan dengan skenario Business as Usual (BaU) pada tahun 2030.
Gambar 2.13. Perubahan Iklim dan Paris Agreement
Sumber: Bahan Paparan Pembiayaan Hijau untuk Wujudkan Net-Zero Indonesia, Kemenko Perekonomian, 19 Oktober 2021
Selain target penurunan emisi pada 2030, Indonesia berkomitmen untuk mewujudkan Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat. Dalam mencapai target serta komitmen ini, sektor energi mempunyai kontribusi sebagai penurun emisi nomor dua setelah sektor forestry and other land use (FoLU). Tentunya hal ini dapat berdampak pada sektor pertambangan, mengingat selama ini bahan bakar yang dipakai dalam menciptakan sumber energi sebagian besar masih berasal dari hasil sektor pertambangan dan penggalian seperti batu bara dan minyak bumi.
Pada tahun 2020, emisi sektor energi sekitar 586 juta ton CO2e. Dengan skenario BAU, emisi sektor energi diproyeksikan akan terus mengalami peningkatan hingga lebih dari 1.900 juta ton CO2e pada 2060. Namun apabila dilakukan implementasi dan strategi menuju NZE 2060, peak emisi akan terjadi sekitar tahun 2039 sebesar 706 juta CO2e dan selanjutnya akan mengalami penurunan menyisakan 401 juta ton CO2e pada tahun 2060. (Grafik 2.3). Untuk mewujudkan Indonesia dalam mencapai green economy serta menurunkan emisi GRK, strategi yang dilakukan contohnya melalui penerapan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dalam pajak karbon dan perdagangan karbon, serta penghentian penggunaan PLTU berbasis batu bara.
37
Grafik 2.3 Proyeksi Emisi Sektor Energi (Juta Ton CO2e) Sumber: Bahan Paparan Green And Blue Economy: Perspektif EBT, Kementerian ESDM, 3 Desember 2021
Melalui Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon Untuk Pencapaian Target Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca dalam Pembangunan Nasional, NEK diartikan sebagai nilai terhadap setiap unit emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari kegiatan manusia dan kegiatan ekonomi. NEK merupakan salah satu kebijakan dalam mitigasi perubahan iklim melalui mekanisme pasar.
Setidaknya terdapat 2 mekanisme yang ada pada NEK yaitu mekanisme dengan instrumen perdagangan dan non-perdagangan. Instrumen perdagangan terdiri atas perdagangan emisi atau Emission Trading System/ETS (melalui skema cap and trade) dan offset emisi.
Perdagangan emisi dilakukan oleh pelaku usaha yang menghasilkan emisi lebih banyak dari batas atas emisi (emission cap) dengan cara membeli Sertifikat Ijin Emisi (SIE) dari pelaku usaha yang menghasilkan emisi dibawah batas atas emisi. Dalam hal ini kedua pelaku usaha harus mempunyai batas atas emisi yang telah ditetapkan. Contoh dari penerapan ini seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.14 dimana pelaku usaha B yang menghasilkan emisi lebih dari cap dapat membeli SIE dari pelaku usaha A yang mempunyai surplus SIE untuk dijual.
Adapun offset emisi diterapkan pada pelaku usaha yang tidak memiliki batas atas emisi dan telah melakukan aktivitas penurunan emisi. Dalam hal ini, pelaku usaha tersebut dapat menjual kredit karbon berupa Sertifikat Pengurangan Karbon (SPE) kepada pelaku usaha yang memerlukannya seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.14 dimana A sebagai pelaku usaha yang berhasil menurunkan emisinya, dapat menjual SPE kepada pelaku usaha B atau C.
BAU VS NZE 2060
38 Intrumen Perdagangan
Gambar 2.14. Instrumen Perdagangan pada Nilai EKonomi Karbon (NEK) Sumber: Bahan paparan Pajak Karbon di Indonesia, Kementerian Keuangan, 2 Desember 2021
Berbeda dengan intrumen perdagangan, pada instrumen non perdagangan tidak terjadi perpindahan hak atas karbon atau penjualan maupun pembelian SIE dan SPE. Instrumen non perdagangan terdiri dari pungutan atas karbon (carbon tax) dan result based payment. Pungutan atas karbon dikenakan atas kandungan karbon, potensi, jumlah emisi, atau aktivitas dari menghasilkan emisi. Sedangkan result based payment merupakan pembayaran yang diberikan atas kinerja atau manfaat dari penurunan emisi.
Instrumen Non-Perdagangan
Gambar 2.15. Instrumen Non Perdagangan pada Nilai EKonomi Karbon (NEK) Sumber: Bahan paparan Pajak Karbon di Indonesia, Kementerian Keuangan, 2 Desember 2021
Selain Perpres Nomor 98 Tahun 2021, Indonesia telah menetapkan landasan hukum terkait pungutan atas karbon melalui penerapan pajak karbon. Landasan yang dimaksud adalah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP).
Dalam undang-undang ini dijelaskan terkait implementasi pajak karbon yang dikombinasikan dengan penerapan perdagangan karbon dan saling berjalan bersamaan, dimana tarif carbon tax akan merujuk harga yang tercipta dari skema carbon trading di Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa tarif pajak karbon ditetapkan sama dengan harga karbon di pasar karbon dengan tarif paling rendah sebesar Rp30,00 per kilogram karbon dioksida ekuivalen (CO2e).
39
Poin penting lainnya di dalam undang-undang ini ialah pemberlakuan pajak karbon yang berlaku pada tanggal 1 April 2022. Pajak karbon ini pertama kali diterapkan pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara dengan skema batas emisi (cap and tax). Selain itu, pelaku usaha yang berpartisipasi dalam perdagangan emisi karbon dapat diberikan pengurangan pajak karbon dengan memanfaatkan sertifikat karbon (SIE atau SPE) yang dibeli di pasar karbon.
Grafik 2.4 dan 2.5 menunjukkan dua skema dalam peta jalan pajak karbon yaitu melalui skema perdagangan karbon (cap and trade) dan skema pajak karbon (cap and tax). Pada skema cap and trade, pelaku usaha dengan emisi karbon melebihi cap diharuskan untuk membeli SIE dari pelaku usaha yang menghasilkan emisi dibawah cap atau membeli SPE dari entitas lain. Jika entitas tersebut tidak bisa membeli SIE atau SPE secara penuh maka kelebihan emisi akan diberlakukan skema cap andtax dimana sisa emisi yang melebihi cap dikenakan pajak karbon sesuai tarif yang berlaku.
Grafik 2.4 Skema Cap and Trade Grafik 2.5 Skema Cap and Tax Sumber: Bahan paparan Pajak Karbon di Indonesia, Kementerian Keuangan, 2 Desember 2021
Pajak karbon di Indonesia akan diterapkan secara bertahap. Sesuai dengan yang tertuang dalam UU HPP, setelah penerapan mekanisme pajak pada PLTU batu bara pada tahun 2022 hingga 2024, diharapkan pada tahun 2025 dan seterusnya, terjadi implementasi perdagangan karbon secara penuh dan perluasan sektor pemajakan pajak karbon.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, selain pajak karbon, penghentian penggunaan PLTU berbasis batu bara juga merupakan salah satu strategi pemerintah dalam mewujudkan komitmen NZE pada 2060. Upaya pemerintah dalam menghentikan jenis pembangkit listrik ini dikarenakan pembangkit listrik merupakan penyumbang emisi karbon pada sektor energi terbesar saat ini. Dari total emisi karbon di sektor energi pada 2020 yang tercatat sebesar 586,8 juta ton CO2e, hampir setengahnya (279,3 juta ton CO2e) merupakan emisi dari PLTU.
40
Skema penghentian penggunaan PLTU berbasis batu bara dilakukan secara bertahap sampai dengan 2040. Dalam peta jalan transisi energi menuju karbon netral, PLTU tahap pertama subcritical akan mengalami pensiun dini di tahun 2031, sedangkan retirement PLTU tahap kedua sub-critical, critical, dan sebagian super critical akan terjadi pada tahun 2036. Hal ini juga dapat dilihat pada grafik 2.6 dimana rencananya akan terjadi penurunan jumlah PLTU batu bara pada kedua periode tersebut.
Penghentian secara bertahap dari PLTU batu bara memberikan kontribusi dalam penurunan emisi sektor pembangkit. Hal ini ditunjukkan pada grafik 2.6 dimana rencana retirement PLTU batu bara sejalan dengan proyeksi penurunan emisi sektor pembangkit yang ditunjukkan pada grafik 2.3 Jika rencana penghentian ini bisa dilakukan, emisi akan berkurang secara signifikan mengikuti selesainya kontrak pembangkit listrik fosil.
Grafik 2.6 Rencana Retirement Pltu Batu Bara Berdasarkan Kontrak Sumber: Bahan Paparan Green And Blue Economy: Perspektif EBT, Kementerian ESDM, 3 Desember 2021
Rencana penghentian operasi PLTU batu bara hendaknya dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan terjadinya krisis energi. Oleh karena itu, penghentian penggunaan PLTU batu bara harus diimbangi dengan pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) yang dapat menggantikan energi yang sebelumnya dihasilkan oleh PLTU tersebut. Pengembangan EBT ini juga menjadi kebijakan pembangunan rendah karbon untuk mendukung NZE 2060.
Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai potensi EBT yang besar. Akan tetapi, sampai saat ini potensi-potensi tersebut masih banyak yang belum dikembangkan. Sampai September 2021, hanya sekitar 0,3 persen dari total potensi yang sudah dimanfaatkan. (Tabel 2.3)
41
Tabel 2.3 Potensi dan Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan
ENERGI POTENSI (GW) PEMANFAATAN*)
(MW)
SURYA 3.295 194
HIDRO 95 6.432
BIOENERGI 57 1.923
BAYU 155 154
PANAS BUMI 24 2.186
LAUT 60 0
TOTAL 3.686 10.889
Catatan: *)Berdasarkan data September 2021
Sumber: Bahan Paparan Green And Blue Economy: Perspektif EBT, Kementerian ESDM, 3 Desember 2021
Kapasitas terpasangnya pembangkit EBT terus mengalami peningkatan. Dalam kurun waktu 6 tahun (2016-September 2021), penambahan kapasitas pembangkit EBT adalah sebesar 1.855 MW (dari 9.034 menjadi 10.889 MW). Dari penambahan tersebut, 386 MW merupakan penambahan kapasitas EBT pada periode Januari – September 2021. Untuk mencapai target NDC 2030, masih diperlukan penambahan kapasitas pembangkit EBT sebesar 20,5 GW.
Di tengah upaya pemerintah serta negara-negara lain dalam memitigasi perubahan iklim, perlu juga diperhatikan dan diantisipasi bahwa berbagai upaya tersebut seperti penerapan pajak karbon, penghentian PLTU batu bara, dan transisi energi ke EBT juga menjadi tantangan tersendiri bagi kinerja sektor pertambangan di Indonesia. Penghentian PLTU batu bara di Indonesia serta transisi energi ke EBT yang lebih ramah lingkungan dapat berdampak pada pasar batu bara dalam negeri, mengingat PLTU merupakan konsumen batu bara domestik terbesar saat ini.
Tidak hanya dari dalam negeri, risiko adanya penurunan permintaan batu bara juga berpotensi berasal dari luar negeri karena adanya target dan kebijakan terkait penurunan emisi di sejumlah negara tujuan ekspor batu bara. Target serta komitmen sejumlah negara atas penurunan emisi didukung melalui kesepakatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim PBB COP26 di Glasgow pada November 2021, dimana berbagai negara telah berkomitmen untuk tidak membangun PLTU batu bara baru dan mempensiunkan PLTU pada 2030 dan 2040.
Sementara itu, penerapan pajak karbon baik di luar dan dalam negeri dapat berpengaruh pada kinerja ekonomi Indonesia. Menurut riset Moody's Investor Service, tahap awal penerapan pajak karbon di berbagai negara, khususnya Uni Eropa, dinilai dapat berpengaruh pada kinerja
42
ekspor sejumlah negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Pengaruh pada kinerja ekspor ini terjadi karena pengenaan pajak karbon oleh negara mitra dagang, dapat meningkatkan biaya ekspor dan mengurangi aktivitas perdagangan, terutama pada sejumlah sektor padat karbon khususnya besi dan baja.
Dari sisi domestik, penerapan pajak karbon pada PLTU batu bara berpotensi meningkatkan tarif listrik dan sejumlah produk lainnya yang bersinggungan. Selain itu, jika penerapan pajak karbon dan perluasan penerapan pada sektor lainnya tidak diantisipasi, hal ini dapat menjadi tantangan lain berupa peningkatan biaya produksi di berbagai industri seperti semen dan tekstil, mengingat industri ini merupakan salah satu penghasil emisi karbon dengan konsumsi batu bara yang cukup besar.
43
Halaman ini sengaja dikosongkan.
44
45
46
Bab III
Potret Kinerja Sektor Pertambangan
Sebagai salah satu negara penghasil produk tambang terbesar di dunia, Indonesia memiliki komoditas tambang yang sangat beragam. Pada bab ini akan dibahas potret kinerja sektor pertambangan, khususnya dua komoditas utama yang paling berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia, yaitu batu bara dan nikel.
A. Batu Bara
Indonesia merupakan salah satu negara produsen batu bara dunia. Sejak tahun 2005, Indonesia telah menjadi eksportir batu bara yang sebagian besar permintaannya berasal dari China dan India. Cadangan batu bara Indonesia diperkirakan habis sekitar 80 tahun mendatang dengan tingkat produksi saat ini. Sekitar 60% cadangan batu bara di Indonesia merupakan batu bara kualitas rendah (sub-bituminous) yang memiliki kandungan kurang dari 6,10 cal/gram. Tiga wilayah dengan cadangan batu bara terbesar adalah Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Antara 70 hingga 80 persen produksi batu bara diekspor, sisanya dijual di pasar dalam negeri.
Namun dalam beberapa tahun terakhir ini, permintaan batu bara di pasar dalam negeri meningkat walau tidak siginifikan. Hal tersebut untuk memenuhi program pembangkit energi yang dicanangkan pemerintah dengan batu bara sebagai bahan bakarnya.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah menetapkan rencana produksi mineral dan batu bara nasional dalam rangka pengendalian produksi mineral dan batu bara. Hal tersebut seperti yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu bara. Terdapat hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam rencana produksi tersebut, antara lain:
a. Kebutuhan mineral dan batu bara dalam negeri;
b. Ketahanan cadangan mineral dan batu bara;
c. Jumlah perizinan mineral dan batu bara;
d. Rencana produksi yang disetujui dalam dokumen studi kelayakan dan persetujuan lingkungan; dan
e. Pengembangan investasi.
47
Batu bara merupakan hasil tambang yang berproduksi baik pada tahun 2021. Hasil produksi batu bara mencapai 606,46 juta ton atau 97 Persen dari target produksi, sedangkan penjualannya mencapai 521,29 juta ton atau 83 Persen dari target penjualan. Batu bara yang diekspor sebanyak 307,14 juta ton atau sebanyak 63 Persen dari jumlah rencana ekspor batu bara, sedangkan batu bara yang dijual untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri atau DMO sebesar 63,47 juta ton atau sebesar 46 Persen dari rencana DMO. DMO sendiri diatur dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 34 Tahun 2009 tentang Pengutamaan Pemasokan Kebutuhan Mineral Dan Batu Bara Untuk Kepentingan Dalam Negeri.
Tabel 3.1. Rencana dan Realisasi Produksi, Penjualan, Ekspor, dan DMO Batu bara Tahun 2021 Rencana
(juta ton)
Realisasi
(juta ton) %
Produksi 625 606,46 97%
Penjualan 625 521,29 83%
Ekspor 485,5 307,14 63%
DMO 137,5 63,47 46%
Sumber: Minerba Online Data Indonesia, diakses tanggal 27 Desember 2021
Secara bulanan, jumlah produksi batu bara cenderung stabil, yaitu berada di kisaran 51 – 57 juta ton. Namun, di bulan November dan Desember terjadi penurunan jumlah produksi sekitar 12 – 15 persen. Begitu pula dengan jumlah ekspor batu bara yang cenderung stabil di kisaran 25 – 28,5 juta ton. Namun, di bulan November dan Desember terjadi penurunan jumlah ekspor sekitar 20 – 30 persen.
Grafik 3.1. Realisasi Produksi dan Ekspor Batu bara (juta ton) Juli – Desember 2021 Sumber: Minerba Online Data Indonesia, diakses tanggal 27 Desember 2021
55,4 53,27 51,53
56,26
49,4
42,14
28,5 26,3 25,08 26,1
20,96
15,28
0 10 20 30 40 50 60
Juli Agustus September Oktober November Desember
Produksi Ekspor