• Tidak ada hasil yang ditemukan

Overview Pertambangan

Dalam dokumen (Halaman Belakang Kertas Cover) (Halaman 21-24)

Isu Strategis Pengembangan Sektor Pertambangan

A. Overview Pertambangan

Menurut UU Minerba No. 3 Tahun 2020, pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batu bara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan/atau pemurnian atau pengembangan dan/atau pemanfaatan, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pasca tambang.

Secara umum, barang tambang meliputi barang tambang sumber energi, bahan galian bijih logam, dan bahan galian batuan. Menurut Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1980, bahan galian tambang di Indonesia dikelompokkan menjadi tiga golongan meliputi:

1. Golongan A, atau bahan tambang strategis. Bahan tambang yang hanya boleh dimiliki oleh pemerintah. Bahan tambang Golongan A digunakan untuk pertahanan dan keamanan Negara serta menjamin kestabilan ekonomi Negara. Pengelolaannya diatur Negara dan pihak swasta yang diberi kewenangan. Bahan galian ini juga masuk komoditas ekspor.

Contohnya antara lain: minyak bumi, gas gas, batu bara, alumunium, nikel, timah putih, dan lainnya.

2. Golongan B, atau bahan tambang vital. Bahan tambang yang dapat menjamin hajat hidup orang banyak. Penggunaanya dikelola oleh swasta yang diijinkan Negara. Contohnya antara lain: emas, perak, besi, intan, wolfram, batu permata, seng, dan lainnya.

3. Golongan C, yaitu bahan tambang yang tidak termasuk ke dalam golongan A maupun B.

Bahan tambang golongan C digunakan untuk industri.

Contohnya antara lain: kapur, pasir, marmer, granit, gypsum, dan lainnya.

Dasar penggolongan bahan-bahan galian:

a. Nilai strategis/ekonomis bahan galian terhadap Negara;

b. Terdapatnya sesuatu bahan galian dalam alam (genese);

c. Penggunaan bahan galian bagi industri;

d. Pengaruhnya terhadap kehidupan rakyat banyak

22

e. Pemberian kesempatan pengembangan pengusahaan;

f. Penyebaran pembangunan di Daerah.

Selama pandemi, sektor pertambangan menjadi salah satu sektor penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor pertambangan di kawasan Indonesia Timur memiliki daya tahan yang kuat dan mampu bertahan dengan didukung oleh kinerja ekspor yang meningkat.

Ketahanan perekonomian di kawasan tersebut ditopang potensi sumber daya alam dan peningkatan nilai tambah dari industri pertambangan.

Salah satu subsektor yang mampu meningkatkan nilai tambah adalah nikel dan tembaga.

Sebagai contoh, nikel telah berhasil diolah menjadi produk industri logam dasar, terutama besi baja.

Gambar 2.1 Peringkat Cadangan Mineral dan Batu Bara Indonesia di Dunia

Sumber: Bahan Paparan Pengelolaan Industri Pertambangan dan Pengolahan di Indonesia, Kemenko Marves, 20 Desember 2021

Berdasarkan data Minerba One Data Indonesia (MODI), Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2020, Indonesia sebagai negara produsen batu bara top 3 di dunia mencatatkan ekspor sebanyak 331,84 juta ton.

Sementara mengutip data dari BP Statistical Review 2021, produsen batu bara terbesar dunia yaitu China dengan jumlah produksi mencapai 3,9 miliar ton pada 2020. Kemudian disusul India dengan jumlah produksi 756,5 juta ton. Sementara Indonesia tercatat 562,5 juta ton.

Adapun target produksi batu bara Indonesia pada tahun 2021 ini mencapai 625 juta ton, meningkat dari rencana awal yang hanya sebesar 550 juta ton.

Meski masuk top 3 produsen batu bara dunia, namun Indonesia bukanlah pemilik cadangan batu bara terbesar di dunia. Indonesia menduduki peringkat ke enam dengan cadangan senilai 37 Milyar ton.

23

Sementara untuk komoditas nikel, dalam laporan tim EV Battery BUMN, alam Indonesia mengandung 21 juta ton cadangan nikel. Kondisi tersebut membangun optimisme pemerintah yang mencanangkan pembangunan industri kendaraan listrik (EV) dan baterai EV menjadi program prioritas pemerintah, hal ini didukung dengan posisi Indonesia yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Sedangkan untuk emas, indonesia menduduki peringkat kelima dunia dengan cadangan emas sebesar 2.600 Ton Au, atau sekitar 5 persen dari total cadangan emas dunia yang mencapai 50.300 Ton Au.

Lembaga ilmiah Amerika Serikat, United States Geological Survey (USGS) melaporkan Indonesia masuk peringkat ketujuh sebagai negara dengan cadangan tembaga terbesar di dunia. Pada 2020, cadangan tembaga tercatat sebanyak 28 miliar metrik ton. Potensi tembaga di Indonesia terbesar berada di wilayah Papua. Seperti diketahui, Papua menjadi tempat beroperasinya dua tambang tembaga, yaitu tambang Ertsberg dan Grasberg.

Sebagai salah satu negara yang penghasil sumber daya alam, Indonesia memiliki banyak cadangan mineral tambang dan hampir semua provinsi memiliki barang tambang. Bahkan di beberapa provinsi, pertambangan menjadi sektor penopang pertumbuhan ekonomi daerah.

Untuk kasus Indonesia, laju pertumbuhan sektor pertambangan tidak luput dari dampak akibat adanya pandemi di mana tahun 2021 menjadi titik balik pertumbuhan sektor pertambangan. Pada triwulan III-2021 sektor pertambangan mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,78 persen (yoy). Capaian tersebut merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. Tingginya tingkat pertumbuhan sektor pertambangan pada tahun 2021 juga didukung oleh adanya low-base effect akibat kontraksi pada triwulan yang sama pada tahun sebelumnya.

Grafik 2.1 Pertumbuhan Dan Kontribusi Sektor Pertambangan Sumber: BPS diolah, diakses tanggal 23 Desember 2021

7,78

Pertambangan dan Penggalian %YoY Pertambangan dan Penggalian %QtQ Kontribusi Sektor Pertambangan dan penggalian

24

Dari sisi qtq, sektor pertambangan mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,20 persen (qtq).

Selain laju pertubuhannya, sektor pertambangan juga memiliki kontribusi yang cukup tinggi pada PDB. Pada triwulan III-2021 sektor pertambangan berkontribusi sebesar 9,55 persen terhadap PDB. Capaian tersebut menempatkan sektor pertambangan pada kontributor terbesar kelima dalam PDB. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata kontribusi sektor pertambangan mencapai 7,51 persen sehingga membuat sektor pertambangan secara konsisten masuk dalam lima besar kontributor PDB.

Dari sisi kinerja per subsektor pertambangan, Pada triwulan III-2021 pertumbuhan tertinggi dicatatkan oleh subsektor bijih logam, sedangkan pertumbuhan terendah dicatatkan oleh subsektor pertambangan migas dan panas bumi. Pergerakan harga global menjadi salah satu faktor pemicu peningkatan kinerja subsektor pertambangan. Misalnya, yang terjadi pada subsektor pertambangan batu bara dan lignit yang mengalami percepatan pertumbuhan seiring dengan kenaikan harga acuan yang cukup pesat.

Grafik 2.2 Pertumbuhan Subsektor Pertambangan Sumber: BPS diolah, diakses tanggal 23 Desember 2021

Dalam dokumen (Halaman Belakang Kertas Cover) (Halaman 21-24)