• Tidak ada hasil yang ditemukan

Roadmap dan Kebijakan

Dalam dokumen (Halaman Belakang Kertas Cover) (Halaman 24-33)

Isu Strategis Pengembangan Sektor Pertambangan

B. Roadmap dan Kebijakan

Berdasarkan hasil Focus Group Dissusion dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) pada tanggal 21 Desember 2021, roadmap program hilirisasi telah disusun untuk 7 (tujuh) komoditas tambang unggulan Indonesia.

Roadmap disusun secara umum dalam rangka mendorong peningkatan pendapatan pemerintah dari sektor pertambangan melalui peningkatan nilai tambah. Roadmap ini masih akan dilengkapi dengan roadmap penyediaan dan transisi energi untuk memastikan proses trasnsisi di sektor ini tidak berdampak signifikan kepada pemenuhan energi nasional. Tujuh roadmap program hilirisasi yang dimaksud, diantaranya:

-40,00

Pertumbuhan Pertambangan Minyak, Gas dan Panas Bumi %YoY Pertumbuhan Pertambangan Batubara dan Lignit %YoY Pertumbuhan Pertambangan Bijih Logam %YoY

Pertumbuhan Pertambangan dan Penggalian Lainnya %YoY

25

➢ Baru Bara

Impact – Mendorong Peningkatan Pendapatan Pemerintah

Gambar 2.2 Roadmap Batu Bara

Sumber: Bahan paparan Pengelolaan Industri Pertambangan dan Pengolahan di Indonesia, Kemenko Marves, 21 Desember 2021

➢ Nikel

Impact – Mendorong Peningkatan Pendapatan Pemerintah

Gambar 2.3 Roadmap Nikel

Sumber: Bahan paparan Pengelolaan Industri Pertambangan dan Pengolahan di Indonesia, Kemenko Marves, 21 Desember 2021

26

➢ Besi Baja

Impact – Mendorong Peningkatan Pendapatan Pemerintah

Gambar 2.4 Roadmap Besi Baja

Sumber: Bahan paparan Pengelolaan Industri Pertambangan dan Pengolahan di Indonesia, Kemenko Marves, 21 Desember 2021

➢ Emas Perak

Impact – Mendorong Peningkatan Pendapatan Pemerintah

Gambar 2.5 Roadmap Emas Perak

Sumber: Bahan paparan Pengelolaan Industri Pertambangan dan Pengolahan di Indonesia, Kemenko Marves, 21 Desember 2021

27

➢ Tembaga

Impact – Mendorong Peningkatan Pendapatan Pemerintah

Gambar 2.6 Roadmap Tembaga

Sumber: Bahan paparan Pengelolaan Industri Pertambangan dan Pengolahan di Indonesia, Kemenko Marves, 21 Desember 2021

➢ Alumunium

Impact – Mendorong Peningkatan Pendapatan Pemerintah

Gambar 2.7 Roadmap Alumunium

Sumber: Bahan paparan Pengelolaan Industri Pertambangan dan Pengolahan di Indonesia, Kemenko Marves, 21 Desember 2021

28

➢ Timah

Impact – Mendorong Peningkatan Pendapatan Pemerintah

Gambar 2.8 Roadmap Timah

Sumber: Bahan paparan Pengelolaan Industri Pertambangan dan Pengolahan di Indonesia, Kemenko Marves, 21 Desember 2021

Mengingat potensi sektor pertambangan yang ada di Indonesia cukup besar, pemerintah juga menyusun kebijakan untuk memberikan beragam insentif baik insentif fiskal maupun non fiskal pada sektor pertambangan. Melalui Undang-Undang No 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2021 tentang Penyelanggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral, pemerintah memberikan insentif fiskal berupa pemberian royalti 0 (nol) persen pada batu bara yang dijadikan bahan baku hilirisasi. Pemberian insentif ini berlaku pada pemegang izin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi, izin usaha pertambangan khusus (IUPK) operasi produksi, dan IUPK sebagai kelanjutan operasi kontrak yang melakukan kegiatan peningkatan nilai tambah batu bara.

Pemerintah juga memberikan insentif non fiskal melalui Undang-Undang No. 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara serta Peraturan Pemerintah No. 96 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu bara. Insentif yang dimaksud berupa kemudahan perizinan, yang dapat diperpanjang hingga umur cadangan tambang bagi kegiatan pertambangan yang terintegrasi. Di dalam UU No 3 Tahun 2020 juga terdapat penyederhanaan perizinan berupa penggabungan IUP Eksplorasi dengan IUP Operasi Produksi.

29

Jangka waktu perizinan seumur tambang (life of mine) dijelaskan melalui kedua peraturan tersebut, dimana kegiatan operasi produksi bagi pemegang IUP dan IUPK pertambangan mineral logam yang terintegrasi dengan fasilitas pengolahan dan/atau pemurnian, serta pertambangan batu bara yang terintegrasi dengan kegiatan pengembangan dan/atau pemanfaatan selama 30 tahun, dijamin memperoleh perpanjangan selama 10 tahun setiap kali melakukan perpanjangan setelah memenuhi persyaratan.

Salah satu poin yang menjadi perhatian lainnya adalah adanya insentif berupa relaksasi ekspor mineral logam tertentu yang belum dimurnikan hingga tiga tahun ke depan sejak Undang-Undang ini berlaku (atau sampai tahun 2023). Lebih lanjut, pemerintah melalui Kementerian ESDM (Kepmen ESDM No. 46.K/MB.04/MEM.B/2021 dan Kepmen ESDM No.

67.K/MB.04/MEM.B/2021) pada tahun 2021 telah memberikan insentif kepada sektor pertambangan pada masa Pandemi Covid-19 berupa relaksasi pemberian rekomendasi persetujuan ekspor mineral tertentu seperti whasedbauxite, besi, timbal, dan sebagainya. Pada Kepmen ini, jangka waktu rekomendasi persetujuan ekspor produk mineral tersebut berlaku sampai dengan tanggal 31 Desember 2021.

Selanjutnya, penguatan penerimaan hasil pertambangan juga diarahkan untuk mendorong kemampuan keuangan pemerintah daerah. Merujuk pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, pemerintah mengatur ulang Dana Bagi hasil (DBH) kepada pemerintah daerah. Penguatan dilakukan dalam hal pembagian porsi yang lebih besar kepada kabupaten/kota penghasil serta lebih memperhatikan lokasi asal penerimaan negara.

Secara umum, DBH merupakan dana yang bersumber dari penetapan tertentu APBN yang dialokasikan kepada daerah penghasil berdasarkan angka persentase tertentu dengan tujuan mengurangi ketimpaangan kemampuan keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. DBH dialokasikan berdasarkan dua prinsip yaitu prinsip by origin dimana daerah penghasil penerimaan negara mendapatkan persentase yang lebih besar dan prinsip by actual yaitu besarnya DBH yang disalurkan didasarkan atas realisasi penyetoran Penerimaan Negara Pajak (PNP) dan PNBP tahun anggaran berjalan.

Terkait dengan sektor pertambangan, maka pembahasan DBH hanya DBH Pajak dan DBH Sumber Daya Alam. DBH Pajak dalam kaitannya dengan sektor pertambangan berasal dari pendapatan pajak yang dikenakan atas bumi dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai dan/atau dimanfaatkan di kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan,

30

sedang DBH Sumber Daya Alam dalam kaitannya dengan sektor pertambangan bersumber dari penerimaan sumber daya alam kehutanan, pertambangan mineral, pertambangan minyak bumi, pertambangan gas bumi, dan pertambangan panas bumi. Adapun perhitungan DBH untuk masing masing sumber pendapatan dijabarkan pada poin – poin berikut ini:

• DBH pajak yang bersumber dari PBB sektor pertambangan ditetapkan sebesar 90 persen dengan rincian 18 persen untuk provinsi bersangkutan dan 72 persen untuk kabupaten yang bersangkutan. Perhitungan tersebut hanya berlaku kepada pertambangan di wilayah darat maupun laut hingga 12 mil dari garis pantai. Adapun PBB sektor pertambangan yang diperoleh dari wilayah laut lebih dari 12 mil tidak dibagikan kepada daerah.

• Pada pertambangan mineral dan batu bara, DBH terbagi menjadi dua jenis yaitu yang berasal dari Iuran Tetap dan Iuran Produksi. DBH mineral dan batu bara, baik yang berasal dari Iuran Tetap maupun Iuran Produksi, masing masing dialokasikan sebesar 80 persen kepada daerah penghasil. Adapun rincian perhitungan alokasi DBH mineral dan batu bara terdapat pada tabel 2.1.

• DBH Sumber daya Alam pertambangan minyak bumi ditetapkan sebesar 15,5 persen kepada daerah penghasil. Rincian perhitungan pengalokasian DBH dibedakan menurut lokasi pertambangan, yaitu pertambangan di wilayah laut sejauh 4 mil dari garis pantai dan pertambangan di wilayah laut sejauh 4 sampai 12 mil dari garis pantai.

• DBH Sumber Daya Alam pertambangan gas bumi baik yang berasal dari wilayah daratan maupun wilayah laut hingga 12 mil dari garis pantai masing-masing dialokasikan sebesar 30,5 persen kepada daerah yang bersangkutan.

• DBH Sumber Daya Alam pertambangan panas bumi berasal dari setoran bagian pemerintah, iuran tetap, dan iurang produksi. DBH panas bumi ditetapkan sebesar 80 persen kepada daerah penghasil, dengan rincian 10 persen kepada provinsi yang bersangkutan, 35 persen kepada kab/kota penghasil, dan 35 persen kepada kab/kota dalam provinsi yang bersangkutan.

Terdapat perlakuan khusus terhadap DBH Minyak bumi dan Gas Bumi. Pada DBH atas kedua hasil tambang tersebut juga dialokasikan untuk menambah anggaran pendidikan dasar.

Alokasi DBH untuk anggaran pendidikan bervariasi menurut asal perolehannya. DBH yang berasal dari wilayah laut sampai dengan 4 mil dialokasikan sebesar 0,5 persen untuk anggaran pendidikan dengan pembagian 0,25 persen untuk Kab/Kota penghasil dan 0,25 persen untuk Kab/Kota lain dalam provinsi yang bersangkutan. DBH yang berasal dari wilayah laut 4-12 mil dialokasikan sebesar 0,5 persen untuk anggaran pendidikan yang dibagi rata untuk setiap

31

Kab/Kota dalam provinsi yang bersangkutan. Adapun rincian alokasi DBH gas bumi terdapat pada tabel 2.2.

Tabel 2.1 Alokasi DBH mineral dan batu bara

DBH Mineral dan Batu Bara Pusat Provinsi Kab/kot Penghasil

Pertambangan di Kawasan perhutanan 20% 26% 27% 27%

Sumber: UU No 1 Tahun 2022, Diolah

*Ket: IT = Iuran Tetap; IP = Iuran Produksi

Tabel 2.2 alokasi DBH Minyak Bumi dan Gas Bumi DBH Minyak dan Gas Bumi Pusat Provinsi Kab/kot

Penghasil Kab/kot Lain

Minyak Bumi Laut ≤4 Mil 84,5% 3% 6,25% 6,25%

Minyak Bumi Laut 4 – 12 Mil 84,5% 5% - 10,5%

Gas Bumi Laut ≤4 Mil 69,5% 6% 12,25% 12,25%

Gas Bumi Laut 4 – 12 Mil 69,5% 10% - 20,5%

Sumber: UU Nomor 1 Tahun 2022, Diolah

Sektor pertambangan merupakan salah satu sektor unggulan dalam perekonomian indonesia.

Selain itu pertambangan juga memiliki andil yang besar dalam ekspor impor indonesia. Saat ini ekspor Indonesia masih didominasi oleh komoditas pertanian dan pertambangan, dimana mayoritas komoditas tersebut cenderung rentan terhadap volatilitas di pasar internasional. Di sisi lain, negara tetangga kita mampu mengembangkan produk manufaktur yang memiliki nilai tambah tinggi. Maka dari itu pemerintah mulai menggalakkan hilirisasi produk sumber daya alam.

Hiliriasi merupakan upaya menghentikan flying money dalam bentuk ekspor konsentrat.

Adapun tujuan lainnya adalah hiliriasi sumber daya alam akan memberikan multiplier effect kepada masyarakat dimana akan terbuka lapangan kerja dan perekonomian di daerah industri hilirisasi tumbuh lebih cepat. Selain itu, dengan adanya hilirisasi pertambangan akan menguatkan posisi tawar menawar Indonesia dalam ekonomi global karena Indonesia memiliki kekayaan mineral beserta produk turunannya.

32

Komitmen pemerintah menggalakkan hilirisasi produk sumber daya alam tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2020-2024 Kegiatan Prioritas 2 yang berbunyi industrialisasi melalui pengembangan smelter dan kawasan industri terutama di luar Jawa. Lebih jauh daripada itu, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu bara mengamanatkan pelarangan penjualan mineral mentah. Namun karena kesiapan infrastruktur serta sarana dan prasana hilirisasi pertambangan belum memadai sehingga kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah tersebut ditangguhkan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, pemerintah terus membangun smelter dalam rangka percepatan hilirisasi pertambangan. Pada tahun 2020, pemerintah melakukan perubahan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020. Undang-Undang tersebut mengamanatkan pelarangan penjualan mineral mentah terhitung tiga tahun sejak undang-undang tersebut mulai berlaku atau pada Juni 2023

Berdasarkan dokumen RPJMN, terdapat 31 lokasi hilirisasi mineral melalui pembangunan smelter 2020-2024. Nilai tersebut terdiri dari 16 smelter nikel, 3 smelter besi, 1 smelter tembaga 9 smelter bauksit, 1 smelter timbal, dan 1 smelter seng. Sejalan dengan kegiatan prioritas 2 dalam RPJMN, pembangunan smelter tersebar di seluruh wilayah indonesia selain di pulau jawa dengan mayoritas terletak di Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi. Secara umum, jumlah smelter di Indonesia saat ini didominasi oleh smelter nikel. Hal tersebut sejalan dengan semangat Pemerintah Indonesia untuk menjadi pusat rantai pasok baterai kendaraan listrik dunia

Gambar 2.9 Lokasi Hilirisasi Pembangunan Smelter di Indonesia Sumber: Program dan Kebijakan Hilirisasi Sumber Daya Alam, Bappenas, 11 Oktober 2021

33

Dari sisi komoditas batu bara, setidaknya terdapat enam jenis hilirisasi batu bara. Saat ini di Indonesia baru dua dari enam jenis hilirisasi batu bara, yaitu coal briquetting dan cokes making, yang sudah dalam tahap komersil. Dua jenis hilirisasi batu bara yang yang masih dalam tahap perencanaan/persiapan konstruksi antara lain coal gasification dan underground coal gasification. Hilirisasi batu bara berupa coal liquifaction dan coal surry memiliki potensi untuk dikembangkan, mengingat saat ini belum usulan pembangunan industrinya. Industri coal briquetting yang sudah aktif komersil antara lain PT Bukit Asam dan PT Thiveni yang berlokasi di Sumatera Selatan yang dapat memproduksi 80ribu-100ribu ton briket batu bara per tahun. Cokes making saat ini sudah mulai memasukin tahap komersil oleh PT Megah Energi Khatulistiwa yang berlokasi di Kalimantan Utara yang mampu memproduksi 500 ribu ton SemiCoke dan 50 ribu coal Tar per tahun. Selain itu, PT Multi Harapan Utama yang juga bergerak di bidang cokes making saat ini masih dalam tahap konstruksi di mana diperkirakan mampu memproduksi 500 ribu ton SemiCoke per tahunnya.

Gambar 2.10. Perkembangan Hilirisasi Batu Bara di Indonesia Sumber: FGD Kinerja, Isu, dan Kebijakan Sektor Pertambangan di Indonesia, KemenESDM, 26 Januari 2021

Dalam dokumen (Halaman Belakang Kertas Cover) (Halaman 24-33)