1. Pengertian Budaya Organisasi
Hakikat budaya organisasi akan bersifat dinamis, dan terjadi perubahan bilamana dilakukan beberapa hal, yakni: (1) melakukan identifikasi berbagai masalah yang menjadi perhatian banyak orang (felt need); (2) mempunyai komitmen tentang perubahan budaya organisasi merupakan proses panjang,
Model Mutu Asuhan Keperawatan dan MAKP
40
dan dimulai dari bawah (management commitment); (3) memahami dan menyadari tentang masa depan organisasi, dan pentingnya peran setiap individu anggota organisasi (shared mindset); (4) bahwa setiap individu anggota organisasi hendaknya dilibatkan, atau terlibat secara nyata dalam per-ubahan (employee involvement); (5) melakukan usaha pemusatan pemecahan masalah melalui pelatihan karyawan (focused training); (6) melakukan spesifikasi karyawan sesuai kebutuhan dan bidang keahlian (accountability) (Luthans, 1995).
Menurut Robbins (1996), budaya organisasi rumah sakit seyogyanya mempunyai beberapa hal, sebagai berikut: (1) menetapkan batas aturan secara jelas sebagai keputusan formal organisasi; (2) memberikan identitas setiap anggota organisasi sesuai tugas, fungsin dan kompetensinya; (3) mendorong secara konsisten dan membangun komitmen diantara anggota organisasi; (4) meningkatkan stabilitas organisasi, dan membangun perekat sosial diantara karyawan; (5) membangun mekanisme pembentukan sikap serta perilaku sesuai dengan kebutuhan organisasi.
2. Teori Budaya Organisasi
Beberapa teori tentang budaya organisasi, antara lain dijelaskan Cameron dan Quinn (1999), yang membedakan 4 (empat) kelompok, yaitu (1) budaya hirarki (the hirarchy culture), sebagaimana sering dijumpai dibirokrasi organisasi pemerintah, dengan tujuh atribut utama, yakni: aturan (rules), spesialisasi pekerjaan (spezialization), penghargaan atas prestasi (meritocracy), pemisahan kepemilikan (separate ownership) antara pribadi dan organisasi, tidak atas kepentingan pribadi (impersonality), dapat dipertanggungjawabkan (accountability) kepada publik. (2) budaya pasar (the market culture), sebagai organisasi yang mampu berkompetisi dan berorientasi dengan lingkungan eksternal, bekerja mengikuti mekanisme pasar, dan berdasar pertukaran nilai uang. Tujuan manajemen adalah meningkatkan produktifitas (productivity), berorientasi hasil (outcome), dan profitabilitas (profitability); (3) budaya klan (the clan culture), menyerupai organisasi kekeluargaan yang mempunyai karakteristik, antara lain: kerjasama tim (team work), karyawan terlibat perencanaan dan pelaksanaan program (employee involvement program), mempunyai komitmen organisasi dengan karyawan (corporate commitment to employee); (4) budaya adokrasi (the adhocracy culture), merupakan organisasi bersifat spesialistik, dan dinamis. Mempunyai tujuan mendorong kemampuan adaptasi (adaptability), fleksibilitas (flexibility), dan kreatifitas (creativity).
Model Mutu Asuhan Keperawatan dan MAKP
41
3. Tipe Budaya Organisasi
Cameron dan Quinn, (2006) melakukan riset organisasi yang efektif, mengembangkan kerangka pikir untuk nilai persaingan agar organisasi menjadi efektif. Kerangka pikir riset dibangun atas dua dimensi atau kriteria efektif yang membentuk empat quadran. Dua kriteria tersebut adalah 1) flexibilitas, keleluasan (discretion) dan dinamis, versus stabilitas, order dan control dan 2) internal orientasi, integrasi dan kesatuan versus eksternal orientasi, diferensiasi dan rivalry. Dari dua criteria tersebut digabungkan dengan teori manajemen: mutu organisasi, peran kepemimpinan, keterampilan manajemen.
Dalam usaha memperoleh efektifitas organisasi, maka Cameron dan Quinn membagi budaya organisasi dalam 4 (empat) kuadran. Budaya clan, mengutamakan pemeliharaan suasana lingkungan organisasi secara internal (internal maintenance) dan integrasi (integration), melakukan kegiatan secara luwes (flexibility) dan bijaksana (discretion), memperhatikan kepentingan masyarakat, dan peka terhadap kebutuhan pelanggan. Suasana kerja sangat bersahabat layaknya keluarga besar. Pimpinan dianggap sebagai penasehat (mentors), fasilitator, bahkan digambarkan layaknya saudara. Menjunjung tinggi loyalitas dan kebersamaan, atau secara tradisional menjaga nilai kekerabatan.
Budaya adokrasi, mengutamakan kepentingan organisasi secara eksternal (external posisitioning), dan menghargai berbagai perbedaaan (differentiation) serta melakukan aktifitas organisasi secara fleksibel (flexibility), dan bijaksana (discretion). Suasana kerja dinamis, nuansa kewirausahaaan (entrepreneurial), dan kreatifitas merupakan bagian penting dalam budaya adokrasi. Pimpinan dipilih dengan mempertimbangkan kemampuan melakukan perubahan (innovators), dan tidak takut mengambil risiko (risk takers), mempunyai jiwa kewirausahaan (entrepreneur), dan mempunyai visi kedepan (visionary).
Organisasi mempunyai komitmen terhadap berbagai eksperimen yang dilakukan untuk perubahan, dan inovatif. Tujuan jangka panjang organisasi adalah mengembangkan pertumbuhan, dan meningkatkan kemampuan sumber daya dalam organisasi dengan mendorong kreatifitas. Keberhasilan diartikan sebagai kemampuan memberikan keuntungan, mampu menciptakan produk baru, atau peningkatan kualitas pelayanan. Individu anggota organisasi didorong, dan diberi kebebasan mengambil insiatif untuk pengembangan usaha.
Budaya pasar, menekankan kepentingan organisasi secara eksternal (exsternal posisitioning), menghargai perbedaaan (differentiation), mengutamakan stabilitas (stability), dan pengendalian (control). Sedangkan
Model Mutu Asuhan Keperawatan dan MAKP
42
Organisasi yang berorientasi pada hasil, mengutamakan jiwa kompetitif sebagai hal utama yang harus dijalankan organisasi. Tipe kepemimpinan pekerja keras (hard drivers), mampu memberikan hasil (producers), dan mampu berkompetisi (competitors). Kebersamaan dalam organisasi dilakukan dengan mengutamakan kemenangan (winning). Reputasi dan keberhasilan merupakan hal utama yang diperhatikan. Tujuan jangka panjang organisasi mampu melakukan kompetisi dan meningkatkan hasil sesuai target yang hendak dicapai. Keberhasilan diartikan sebagai kemampuan menguasai pangsa pasar dan melakukan penetrasi. Harga kompetitif dan mampu memimpin pasar merupakan faktor penting.
Budaya hirarki, mengutamakan pemeliharaan internal (internal maintenance), dan integrasi (integration), serta membutuhkan stabilitas (stability), dan pengendalian (control). Suasana kerja sangat formal, terstruktur, dan prosedural. Pimpinan dianggap sebagai kebanggaan, mampu melakukan koordinasi (coordinator), mampu melakukan pengawasan (monitor), mampu mengorganisasi (organizer), serta mempunyai pola pikir efisien. Aturan dan kebijakan organisasi dilaksanakan secara bersama. Tujuan organisasi dalam jangka panjang memperoleh stabilitas dan performance secara efisien, pelaksanaan berbagai fungsi berdasar waktu dan dilakukan secara berjenjang (timelines smooth functioning). Keberhasilan organisasi diartikan sebagai kemampuan melaksanakan tugas, pelaksanaan jadual lancar, dan penggunaan biaya secara efisien.
4. Faktor Yang Mempengaruhi Budaya Organisasi
Budaya organisasi hendaknya didukung dengan tim yang solid. Menurut Stott (1995), untuk membangun tim yang solid perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu: (1) responsibility, daya tanggap setiap individu anggota tim terhadap berbagai keluhan dan masalah yang terjadi; (2) coordination, melakukan koordinasi secara efektif; (3) cooperation, merupakan bentuk kerjasama dan hubungan antar tim harus dilakukan secara kooperatif; (4) competition, mampu melakukan peningkatan kualitas produk jasa, menjaga mutu, mampu menghadapi tantangan, memenangkan kompetisi dengan pesaing, sehingga mampu memberikan produk dan jasa pelayanan kepada pelanggan secara memuaskan; (5) cohesiveness, merupakan bentuk ikatan emosional dan komitmen antar individu anggota organisasi dalam tim. Dalam perspektif individu, menurut Stott, (1995), hal mendasar yang harus dimiliki dalam membangun budaya organisasi adalah motivasi.
Model Mutu Asuhan Keperawatan dan MAKP
43
5. Pengukuran Budaya Organisasi
Pengukuran tipologi budaya, kepemimpinan menggunakan Organizational Culture Assessment Instrument (OCAI) yang terdiri enam dimensi budaya organisasi. Informasi OCAI dapat berupa informasi saat ini atau prediksi lima tahun kemudian. Empat dimensi pengukuran adalah: 1. Orientasi organisasi (dominant characteristics), 2. Kepemimpinan (organizational leadership) 3. Pengelolaan staf (manajemen employee), 4. Kerekatan organisasi (chriteria of success). Organisasi bisnis lain dapat menambahkan atau mengurangi dimensi pengukuran sesuai dengan kondisi organisasinya, tetapi hasil akhir tetap menjadi empat tipologi budaya, kepemimpinan (Supriyanto, 2010).
Model Mutu Asuhan Keperawatan dan MAKP
44
KERANGKA KONSEPTUAL DAN