Foto Prosesi Pernikahan Adat Jawa (dikutip dari : heavy stuff.com)
SETIAP
daerah mempunyaitata upacara pernikahannya masing-mas- ing sesuai dengan suku yang dibawanya . Di sebuah daerah kota Tebing Tinggi, di Jalan Merpati, Lingkungan III Kelurahan Teluk Karang, Kecamatan Bajenis, dae- rah ini dikenal dengan nama Paya Kapar, di daerah ini masyarakatnya dominan bersuku Jawa. Pada hari sabtu, 27 September 2014 salah satu masyarakat di daerah ini mengadakan acara pernika-
han putrinya yang bernama Risa Sulfida
, usianya masih 19 tahun. Memang, di lingkungan sekitar daerah tersebut kebanyakan menikah muda disebabkan
banyak faktor.
Risa mempunyai orang tua yang keduanya bersuku Jawa, maka mereka menggunakan budaya pernikahan adat jawa, dan ternyata ia juga mendapatkan calon suami yang bernama Epi juga ber- suku Jawa, maka tak heran jika mereka merayakan acara pernikahannya dengan menggunakan budaya pernikahan adat Jawa. Walaupun mereka beragama islam, namun mereka tetap menggunakan adat atau tradisi berdasarkan sukunya, yaitu adat Jawa, dimana tata cara pernikahan dari awal hingga akhir tidak mengikuti cara islam. Itulah yang banyak terjadi di daerah Paya Kapar yang mempunyai suku Jawa.
Pernikahan adat Jawa harus melakukan upacara yang termasuk rumit, meskipun di zaman modern seperti saat ini sudah hampir hilang satu demi satu tata cara upaca yang lengkap, namun demikian upacara dalam adat Jawa harus tetap dilakukan meskipun tidak selengkap zaman dahulu karena itu merupakan kebudayaan atau tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang kepada anak cucunya, lalu tradisi itu dilakukan dan dipercayai oleh anak cucunya dan diturunkan kepada anak cucu selan- jutnya untuk menjalankan tradisi tersebut hingga sampai saat ini.
Upacara pernikahan adat Jawa dimulai dari pengenalan calon pengantin sampai terjadinya pernikahan calon pengantin itu. Tahapan yang harus dilakukan per- tama kali adalah Nontoni atau bertemu calon dari jarak dekat. Pada tahap ini, utusan dari keluarga Epi dating men- emui keluarga Risa sebagai perantara pertemuan sekilas di rumah Risa (calon pengantin wanita).
Keluarga Risa menyambutnya dengan cara menyediakan dan menyu- guhkan makanan dan minuman serta menyapa dengan baik kepada keluarga Epi untuk membicarakan atau menan- yakan hal-hal pribadi yang berhubun- gan dengan Risa. Saat itu keluarga Epi
mengatakan kepada keluarga Risa bahwa berkeinginan untuk berbesanan, lalu ke- luarga Risa menyetujuinya dan mereka- pun membicarakan masalah pertunan- gan,.
Epi dan Risa ditanya mengenai acara pelamaran dan pernikahan mereka didepan keluarganya masing-masing dan pada saat itu juga mereka dapat menen- tukan hari untuk melakukan pelamaran. Tahapan selanjutnya adalah melamar, untuk melamar calon pengantin wanita, keluarga Epi pun datang kerumah Risa dengan membawa peningset, seperti cincin atau kalung, sejumlah uang, bing- kisan berupa makanan , busana lengkap buat calon pengantin wanita dan bantuan dana untuk acara pernikahannya.
Pemberian peningset ini sesuai dengan kemampuan ekonomi calon pengantin pria, Epi memberikan kalung kepada Risa sebagai symbol bahwa Risa sudah diikat olehnya. Setelah itu mereka menentukan hari dan tanggal pernika- hannya, biasanya melibatkan seseorang yang ahli dalam memperhitungkan hari, tanggal, dan bulan yang baik atau kesepakatan dari kedua belah pihak saja. Nenek Risa yang menentukan Hari pernikahannya,lalu disetujui oleh semua pihak keluarga.
SINERGI
Budaya
Selanjutnya, melaku- kan pembentukan panitia dan pelaksana kegiatan yang melibatkan para sese- puh atau sanak saudara di daerah Paya Kapar, biasa disebut dengan sinoman. Risa memberitahu Teman-teman sekitar daerah rumahnya juga untuk hadir pada waktu malam pembagian tugas dan kelu- arganya menyediakan hidangan buat para panitia acara pernikahannya.
Tahapan selanjutnya adalah akad nikah. Pada zaman dahulu atau di daerah pulau Jawa, apabila hari pernikahan sudah disetujui, maka dilakukan pemasangan tarub yang terbuat dari daun kelapa dan dibuat sekaligus pohon pisang raja yang sedang berbuah, maknanya adalah agar keluarga baru kelak cukup harta dan keturunannya.
Daun kelor dipasang dipintu masuk kanan dan kiri yang bermaksud agar dapat mengusir segala pengaruh jahat yang ingin memasuki ke tempat upacara, sedangkan janur merupakan simbol keagungan. Dua pohon pisang dengan setandan pisang masak pada masing-masing pohon, melambangkan suami yang akan menjadi kepala rumah tangga yang baik dan pasangan yang akan hidup baik dan bahagia dimanapun mereka berada seperti pohon pisang yang mudah tumbuh dimanapun.
Tebu Wulung atau tebu merah, yang berarti keluarga yang mengutamakan pikiran sehat. Cengkir Gading atau buah kelapa muda, yang berarti pasangan suami istri akan saling mencintai,saling menjaga dan merawat satu sama lain. Berbagai macam daun seperti daun beringin, daun mojo-koro, daun alang- alang, dadap serep, sebagai simbol kedua pengantin akan hidup aman dan keluarga mereka terlindung dari mara bahaya.
Kemudian calon pengantin wanita juga harus melakukan upacara siraman di suatu tempat yang dikelilingi tanaman beraneka warna. Banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum upac- ara siraman dimulai, yaitu: Tempat air dari perunggu atau tembaga yang berisi air dari tujuh mata air. Kembang seta- man yaitu bunga-bunga seperti mawar, melati, cempaka, kenanga, yang ditaruh di air. Aroma lima warna yang diguna- kan sebagai sabun. Sabun cuci rambut tradisional dari abu dari merang, santan, dan air asam Jawa. Gayung yang berasal dari kulit kelapa sebagai ciduk air. Kursi
yang dilapisi tikar, kain putih, dedaunan, kain lurik untuk tempat duduk pengantin selama prosesi berlangsung. Kain putih untuk dipakai selama upacara siraman. Baju batik untuk dipakai setelah uparaca siraman. Kendi dan sesajian .
Setelah disiramkan, calon pengantin wanita membasuh wajahnya dengan air kendi lalu memecahkan kendi tersebut sambil berkata “ cahayanya sekarang sudah pecah seperti bulan pur- nama.“ Setelah itu rambutnya dipotong oleh orang tuanya dan dikubur di depan rumah, setelah selesai potong rambut dilanjutkan dengan acara Dodol Dawet, calon pengantin wanita dipayungi oleh calon pengantin pria, yang berjualan dawet adalah ibu dari calon pengantin wanita. Uang untuk membeli dawet terbuat dari pecahan genting, makna dari upacara Dodol Dawet adalah harapan agar kelak memperoleh rezeki berlimpah.
Namun, di daerah Paya Kapar tradisi seperti itu sudah punah, sedikit demi sedikit tradisi itu hilang dan di daerah ini hanya menggunakan upacara yang mudah dan lazim, upacara sira- man dan Dodol Dawet tidak dilakukan oleh pengantin masyarakat suku Jawa yang ada di pulau Sumatera, Termasuk
pernikahan Risa Sulfida, mereka tak
menggunakan upacara Siraman dan Dodol Dawet karena upacara tersebut sudah punah karena orang tua didaerah ini bilang bahwa upacara Siraman dan Dodol Dawet itu tidak terlalu penting . Tahapan selanjutnya yaitu ijab qobul, Epi dan Risa bersumpah dihada- pan naib yang disaksikan wali dan orang tuanya serta beberapa tamu undangan. Selanjutnya melakukan upacara panggih yaitu :
• Liron kembar mayang, saling tukar kembang mayang antar pengan- tin yang bermakna menyatukan cipta, rasa, dan karsa untuk bersama mewujudkan kebahagiaan di dalam keluarga.
• Gantal, Daun sirih digulung kecil dan diikat benang putih yang saling dilempar oleh masing-masing pengantin, yang bermakna semoga godaan buruk dari luar akan terkena lemparan itu.
• Ngidak endok, Epi menginjak telur ayam sampai pecah sebagai sim- bol seksual kedua pengantin sudah pecah pamornya.
• Risa mencuci kaki Epi, dengan makna semoga benih yang ditu- runkan bersih dari segala perbuatan yang kotor.
• Mereka minum air degan, sebagai lambang air hidup.
• Di kepyok dengan bunga warna- warni, mengandung harapan semoga keluarga yang mereka bina dapat berkembang dan bahagia lahir batin.
• Sindur yaitu menyampirkan kain ke pundak pengantin dan menuntun pa- sangan pengantin ke kursi pelaminan dengan harapan keduanya pantang menyerah dan siap menghadapi tantangan hidup.
• Timbangan, ayah Risa duduk dian- tara pasangan pengantin dan menya- takan bahwa pasangan pengantin sudah seimbang.
• Kacar-kucur, Epi mengucur- kan penghasilan kepada Risa berupa uang receh beserta kelengkapannya,yang bermakna pengantin pria akan bertanggung
jawab memberi nafkah kepada kelu- arganya, yakni berupa : kacang tolo merah, keledai hitam, beras putih, beras kuning dan kembang telon ditaruh didalam 'klasa bongko' oleh mempelai putra yang dituangkan ke pangkuan mempelai putri. Mereka menggunakan Beras, Di pangkuan Risa sudah disiapkan serbet atau kain yang besar. Lalu guno koyo dan kacar-kucur dibungkus oleh mem- pelai Risa dan disimpan.
• Dulangan, Epi dan Risa saling menyuapi, hal ini mengandung arti memadu kasih sayang diantara kedu- anya. Sedangkan makna tumpeng yang dimakan adalah agar selalu ingat yang memberi hidup,berani mandiri, berbakti kepada kedua orang tua,nasihat agar rajin bekerja.
• Sungkeman, ungkapan bakti kepada orang tua, Risa dan Epi memohon doa restu dengan cara berjongkok dengan sikap patuh kepada orang tua.
• Selanjutnya Kirab, yaitu kedua pen- gantin berdua meninggalkan tempat duduknya untuk berganti busana . Penulis, Fatimah Zahara (Mahasiswa STIT Al Hikmah kota Tebing Tinggi)
SINERGI
Cerpen
GEMURUH Sinabung menggun- cang sekolah ini saat debu vul- kaniknya menyembur tak karuan. Udara yang dulu terasa begitu sejuk, kini terasa menyesakkan dada. Anak-anak berhamburan ke- luar, menyaksikan semburan debu di puncak Sinabung dengan wajah sedih dan takut. Aku membiar- kan mereka menyaksikan semua itu, karena aku sendiri pun tidak mampu untuk mengendalikan perasaanku yang sama dengan mereka. Baru setelah suara ge- muruh itu hilang aku mengajak mereka untuk masuk kembali ke dalam kelas.
“ anak-anak apa yang kalian rasa- kan saat gunung Sinabung berge- muruh lagi seperti tadi ?” tanyaku pada mereka.
“ takut, Bu !” mereka serempak menjawab.
“ Siapakah yang paling berkuasa atas kehidupan kita, atas langit dan bumi juga gunung Sinabung itu ?” tanyaku lagi.
“Tuhan Bu!” sahut mereka bersa- maan.
“ Anak-anak ! kita semua umat beragama, kita percaya bahwa Tuhanlah yang mengatur segala sesuatu yang ada di bumi ini, termasuk dengan Gunung Sinabung itu, bagaimana kehidu- pan kita esok hari juga bagaimana dengan Gunung Sinabung itu hanya Dialah yang tahu, karena itu, anak-anak marilah kita ber- doa, memohon kepada-Nya untuk kebaikan kita semua. Marilah
kita berdoa menurut agama dan kepercayaan kita masing-masing. Do’a dimulai....” ujarku. Kulihat mereka semua diam, larut dalam do’a mereka masing-masing. “ Do`a selesai “ sambungku setelah beberapa menit berlalu.
***
“ Teng teng teng... “ lonceng tanda pulang berbunyi berulang-ulang. Aku dan anak- anak berjalan bersama-sama, kua- jak mereka berjalan bergandengan tangan sambil menyanyikan lagu sayonara. Dengan semangat dan sorak sorai mereka seketika kes- edihan kami tentang Sinabung itu terlupakan. Hingga akhirnya Satu persatu barisan kami berkurang, habis dan akhirnya tinggal aku sendiri yang terus berjalan ditem- ani Kesedihan dan kesunyian. Ingatanku kembali lagi padanya. Dulu, Dia yang selalu mene- maniku melangkahkan kaki dari sekolah menuju rumah, kami se- lalu berbagi cerita tentang murid- murid kami, tentang pengalaman kami juga tentang perasaan kami yang tumbuh di di jalanan ini.
“Sinabung yang berdiri gagah di sisi jalanan itu kemarin mampu menjadi penghibur dan pengobat rinduku padamu, tapi lihatlah sekarang Ia justru seakan jadi monster yang begitu mena- kutkan !” desisku pelan seakan Dia mendengarku.
“ Tanpa kehadiran anak- anak itu, mungkin setiap kali menapaki jalanan ini, air mataku takkan berhenti mengalir. Terlalu banyak cerita yang telah kita ukir di sini, terlalu indah kenangan yang kita ciptakan bersama. Tapi semua itu kini hanya menyisakan luka di hatiku, lima tahun sudah kau pergi, namun hanya sekali kau kirimkan surat untukku. Katamu kau akan segera kembali, tapi hingga kini penantian ini tak juga punya kepastian.” Batinku
perih.
Diladang kol milik Nande ini tiba-tiba langkahku terhenti. Kulayangkan pandanganku kes- ekelilingnya, semua sudah putih dan mulai membusuk. Tapi entah mengapa wajahmu dan kenangan kita masih tetap segar di inga- tanku. Saat itu, tepat hari ulangku, kau ajak aku mengelilingi ladang Kol Nande ini sambil kau nyanyi- kan untukku lagu selamat ulang tahun milik Jamrud, dan kau beri- kan aku setangkai bunga kol.
“ Dasar orang aneh ! emangnya aku mau buat capcai dikasi bunga kol ?” aku mengaju- kan protes, tapi bunga itu tetap ku terima dengan hati senang.
“ Itu baru sampelnya Bu, kalau ku beri satu ton gimana ?” tanyanya. “ Ya aku sih senang aja, paling Nande yang marah !” sahutku melirik ke arah Nande yang se- dang memanen bunga kol. Dan Ia tertawa pun lebar. “ Asal Bu Guru mau jadi menantunya, Nande tidak akan marah !” bisiknya membuatku tersipu malu. Nande pun ikut tersenyum dan mengge- lengkan kepala, mungkin Nande mendengar pembicaraan kami. ***
“ Tin... Tin...” suara klakson Pak Kepala menyadarkan aku, bahwa kisah itu telah lama berlalu. Kini semua mungkin hanya akan tinggal cerita, bahkan Sinabung yang masih setia berdiri di sana saat ini bukan lagi sahabat yang memberi ketenangan bagiku. Tapi satu hal yang tidak bisa ku pungkiri, hatiku tetap tak bisa berpaling darimu. Aku mencin- taimu. Ya. Aku mencintaimu, dan hanya kata itu yang tak sempat kuucapkan di hari perpisahan kita dulu. Kini dalam kegundahan hati ini, aku berjanji, aku akan tetap menunggumu disini. Di bawah kaki Gunung Sinabung.
¤ Ku Tunggu Kau Di Kaki Sinabung ¤
Oleh : Sri Utami
SINERGI
Puisi
IBU
OLEH : DESTARIDA KELAS IX SMP METHODIST I
Ibu…..
Terima kasih atas segala pengorbananmu Yang telah kau berikan kepada kami anak-anakmu
Engkau yang merawat kami Menjadi orang yang berguna nantinya
Ibu….
Sembilan bulan engkau mengandung kami Sembilan bulan kau menjaga kami dalam kandunganmu
Sungguh besar pengorbananmu kepada kami Ibu…….
Engkau melahirkan kami dengan penuh taruhan nyawa Sungguh mulia pengorbananmu
Kepada kami anak-anakmu Ibu…..
Aku akan membalas semua kebaikanmu suatu saat nanti Karena engkau yang telah mengandung aku
Hingga aku besar Terima kasih ibu
Aku sayang ibu selama-lamanya Ibu…..
RINDU PADA IBU
OLEH : WAFIYAH NINGRUM
Ibu….. Ibu….. Ibu….. Andai saja saat ini
Detik ini juga Engkau masih disini
Mungkin sekarang
Engkau sudah menangis bahagian Karenaku saat ini mendapatkan
Juara kelas peringkat pertama Keinginan ibu sejak dulu
Sudah dapat aku penuhi Oh ibuku
Andai saja engkau masih berada di dunia ini Sekarang kau pasti
SINERGI
Pluralis
Penulis Dengan Pemuka Masyarakat Pariaman