HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
5. Budaya Reso (Kerja Keras)
Budaya Reso (Kerja Keras) adalah sikap pekerja keras yang yang dimiliki oleh masyarakat Bugis-Makassar yang apabila melakukan pekerjaanharus dikerjakan dengan bersungguh-sungguh tanpa mengenal lelah atau berhenti sebelum targer tercapai.
Anca : Weh ada mi kau dapat?
(Kamu sudah dapat?)
Tumming : Ada mi iya bagian pertelevisian, mau ji ko?
(Iya, sudah ada. Bagian pertelevisan apa kamu mau?)
Anca : Apa itu?Broadcast?
(Apa itu? Penyiaran?) Tumming : Bukan, servis Tv
(Bukan, tapi bagian servis Tv)
Anca : Lihatka bede!
(Coba saya lihat!)
Abu : Apa bahasa Indonesianya Company?
(Apa bahasa Indonesianya Company?)
Tumming : Company? Perusahaan, ada kau dapat? Inika pergi ji main TTS
(Company?Perusahaan, kamu mendapatkan apa? Aduh
kamu ini malah bermain TTS “Teka Teki Silang”).
Abu : Sudah semua mi saya lingkari, ee .. ee (Saya sudah melingkari semuanya)[09:57]
Ayah anca : Kita dibilang Haji Beddu?
(Apa benar anda Haji Beddu?) Haji Beddu : Butuhki uang toh?
(Bapak pasti butuh uang?)
Ayah Anca : Iye, iye, E saya butuh uang! Ini sertifikat tanahku sebagai jaminan!
(Iya, iya! Benar saya butuh uang! Ini sertifikat tanah saya sebagai jaminan!) [1:35:36]
Ayah Anca : Halo. Assalamualaikum, Anca! Eh tetta dapat ini untuk tambah-tambah Uang Panai mu nak!
(Halo.Assalamualaikum, Anca! Bapak sudah mendapatkan tambahakan untuk uang panaimu, nak!) Anca : Dari mana ki lagi dapat uang?
(Dari mana bapak mendapatkan uang?) Ayah Anca : Pinjamka uang di Haji Beddu.
(Saya pinjam dari Haji Beddu).
Anca : Haji Beddu? Itu rentenirka. Kenapa pinjamki uang sama dia? Ular itu! Tidak takutki riba?
(Haji Beddu? Yang rentenierkan? Kenapa bapak pergi
meminjam uang kepada dia? Dia itu ular! Bapak tidak takut riba?)
Ayah Anca : Yang jelas adami tambah-tambah Uang Panai mu ! (Yang jelas ada tambahan Uang Panai mu!)[1:37:06]
Rifqi : Jangan patah!Semangat kau ini orang Bugis! Sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai.
(Jangan patah semangat! Kamu ini orang Bugis!
Semangat terus pantang mundur!)
Anca : Makasih, bos!
(Terima kasih, bos!)[1:39:39]
Anca : Halo! Selamat pagi pak Tirta, iye ini saya Irwansyah pak. Saya kemarin ... halo pak Tirta ... halo ... pak Tirta (Halo! Selamat pagi pak Tirta, iya ini sayaIrwansyah pak.Saya kemarin ... halo pak Tirta ... halo ... pak Tirta) Anca : Pagi mbak, saya mau cari bapak ... itu mbak, itu mbak.
Makasih mbak!
(Pagi mbak, saya mau cari bapak ... itu mbak, itu mbak.
Makasih mbak!) Anca : Pak, saya Irwansyah ...
(Pak, saya Irwansyah ...) Pengawal : Bosku mau sarapan!
(Bos saya mau sarapan!)
Anca : Pak minta tolong sebentar mo pak ... pak (Pak, minta waktunya sebentar pak...) Pak Tirta : Lima menit!
(Lima menit!)[1:45:42]
Berdasarkan dialog di atas sangat jelas mencerminkan adanya nilai budaya reso (kerja keras) yang dimiliki oleh masyarakat Bugis-Makassar, tergambarkan lewat para tokoh. Sikap pantang menyerah dalam bekerja membuat mereka rela mengambil resiko sebelum berhasil mengcapai target.
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis dari penelitian diperoleh berdasarkan data-data yang ada maka nilai-nilai budaya Bugis-Makassar pada film Uang Panai beserta pembahasannya sebagai berikut.
Sesuai dengan teori Basya (dalam Haslinda, 2019: 159) yang mengatakan bahwa masyarakat Bugis-Makassar yang memiliki nilai harga diri dalam dirinya akan selalu malu (masiri). Malu untuk berbuat buruk, malu untuk berbuat jahat, malu untuk tidak berbuat baik, malu untuk tidak membantu sesama, malu untuk tidak melaksanakan ibadah (Shalat, puasa, sedekah, dll), malu berbuat curang, dan malu dari berbagai aspek lainnya yang juga berkaitan dengan penelitian Indrasari yang meneliti Representasi Nilai Budaya Minangkabau dalam film Tenggelamnya kapal Van Der Wijck dengan penelitian saya yang juga membahas nilai-nilai budaya.
Sesuai dengan teori Limpo (1995:91) dan Moein (1990:33) yang mengatakan pesse’/pacce’ merupakan suatu perasaan yang menyayat hati, pilu bagaikan tersayat sembilu apabila sesama warga masyarakat atau keluarga tertimpa musibah kemalangan yang berkaitan dengan penelitian Yuhafliza dan Ade Novida meneliti tentang nilai pendidikan dan nilai budaya dalam film Kartini, berkaitan juga dengan penelitian saya yang membahas mengenai nilai-nilai budaya.
Sesuai dengan teori Huzain (2016:87) yang mengatakan bahwa sipakatau merupakan perwujudan dan nilai yang mencakup norma-norma dan aturan-aturan serta tata tertib yang meliputi seluruh kegiatan hidup manusia. Bermakna saling menghargai sebagai individu yang bermartabat yang memposisikan manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang paling mulia maka harus dihargai dan diperlakukan secara baik yang berkaitan dengan penelitian Indriastuti, meneliti nilai budaya pada novel serta implementasinya dalam pembelajaran yang juga berkaitan dengan penelitian saya mengenai nilai-nilai budaya pada sebuah film.
Sesuai dengan teori Mattulada (1985:88) yang berpendapat negara dapat menjadi jaya bukan karena para pemimpinnya keturunan dewa-dewa yang ternama melainkan karena kecakapan dan kejujuran penguasa yang begitu diucapkan ia harus dapat dinyatakan dalam perbuatan yang berkaitan dengan penelitian Yuhafliza dan Ade Novida meneliti tentang nilai pendidikan dan nilai budaya dalam film Kartini, berkaitan juga dengan penelitian saya yang membahas mengenai nilai-nilai budaya.
Sesuai dengan teori Rahim (dalam Haslinda, 2019: 117) mengatakan bahwa nilai usaha atau kerja keras merupakan kunci kesuksesan dari semua nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Makassar. Dalam budaya Bugis-Makassar makna reso merupakan salah satu bentuk manifestasi nilai budaya siri yang berkaitan dengan penelitian Indrasari yang mengkaji simbol-simbol budaya dan juga berkaitan dengan penelitian saya yang mengkaji mengenai nilai-nilai budaya.
Nilai-nilai yang tampak dalam film Uang Panai merupakan suatu gambaran bahwa film itu mempunyai pesan sosial yang sangat baik untuk diteladani dan nilai-nilai yang harus tetap dipegang teguh oleh masyarakat Bugis-Makassar.
Durasi film ini selama 1:59:43 detik sangat asyikdan menghibur untuk ditonton.
Sehingga dapat menjadi gambaran bahwa dalam menuju jenjang pernikahan harusnya pihak laki-laki tidak diberatkan karena dalam agama islam tidak diperbolehkan memberatkan pihak laki-laki untuk menuju pernikahan. Film ini juga bisa menjadi pelajaran khususnya masyarakat Bugis-Makassar bahwa Uang Panai bukanlah sebuah ajang gengsi karena nominal Uang Panai tidak bisa dijadikan tolak ukur sebuah pengakuan sosial.
BAB V