• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Analisis Data

3. Budaya Sekolah Berbasis Karakter

Berdasarkan pengambilan data penelitian mengenai implementasi budaya sekolah berbasis karakter di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo terdapat nilai karakter yang menjadi fokus. Nilai karakter tersebut dapat disimpulkan berdasarkan data hasil wawancara, observasi atau pengamatan serta dokumentasi yang telah dilakukan. Data yang diperoleh dipilih dan disederhanakan kembali berlandaskan indikator keberhasilan sekolah dan kelas dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa Kementerian Pendidikan Nasional, sehingga terdapat enam fokus nilai karakter yang membudaya di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo.

Enam nilai karakter tersebut yaitu religius, kreatif, mandiri, rasa ingin tahu, bersahabat/ komunikatif, dan peduli lingkungan. Nilai-nilai tersebut tercermin di setiap kegiatan warga Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo, tidak hanya peserta didiknya saja tetapi seluruh komponen terlibat di dalamnya termasuk pemilik yayasan dan orang tua dari peserta didik serta terwujud dalam lapisan artifak pada budaya sekolah di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo.

a. Nilai Religius

Nilai religius diimplementasikan dalam lapisan artifak yaitu berwujud fisik dan perilaku di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo. Nilai religius terwujud dalam

79

sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap agama lain, serta hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

1) Lapisan Artifak a) Fisik

Perwujudan fisik dalam penanaman nilai karakter religius pada warga sekolah dan peserta didik pada khususnya terwujud dalam bangunan saung yang difungsikan sebagai mushola. Mushola di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo dibangun dari bahan kayu di lantai dasar. Mushola dibagi menjadi dua bagian yaitu shaf sholat untuk putri di bagian Selatan dan untuk putra di bagian Utara saung. Kegiatan ibadah atau sholat peserta didiktidak hanya difokuskan di musholah sekolah saja tetapi di dua masjid di sekitar sekolah. (Observasi, 13 Februari-12 Maret 2017).

Busur dan anak panah merupakan peralatan untuk menunjang salah satu olahraga yang diterapkan di SD SABS yang merupakan olah raga sunnah dari Nabi Muhammad SAW. Selain gedung dan panahan, alat ibadah berupa mukena bagi peserta didik perempuan di SD SABS merupakan salah satu saksi membiasakan menutup aurat oleh peserta didik putri. Mukena yang terletak di rak bagian Selatan mushola tidak sering digunakan, bukan berarti peserta didik tidak melaksanakan sholat tetapi setiap harinya peserta didik menggunakan pakaian menutup aurat dan tidak sedikit bagi peserta didik putri yang mengenakan kaos kaki sehingga aurat tertutup sempurna. Aurat tertutup sempurna tersebut membuat peserta didik putri tidak bersusah payah membawa mukena dri rumah atau menggunakan mukena sekolah.

80 b) Perilaku

Seluruh peserta didik, fasilitator, orang tua, staff di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo beragama Islam. Kegiatan di Sekolah Alam Bengawan Solo yang mencerminkan nilai religius antara lain kegiatan sholat Dhuhur dan Ashar berjamaah, berdoa bersama untuk memulai pembelajaran, hafalan, membaca Al Qur’an/ Iqro’sebelum atau saat pembelajaran, olah raga panahan, kesadaran memakai jilbab atau menutup aurat, dan kegiatan lain seperti muroja’ah atau mengulang kembali hafalan Al Qur’an dengan teman sebaya tanpa paksaan dari fasilitator atau dengan kata lain dengan keinginannya sendiri (Observasi, 2 Maret 2017 di ruang bioskop kelas empat Tosca). Sholat berjamaah Dhuhur warga Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo dilakukan di luar sekolah yaitu dua masjid di sekitar sekolah. Sholat berjamaah di luar lingkungan sekolah tersebut bertujuan menjalin silaturahim dengan warga di sekitar sekolah. Sedangkan sholat Ashar dilakukan berjamaah di mushola sekolah alam yang telah disediakan. Sebelum atau sesudah sholat Ashar biasa dilakukan penanaman nilai agama, mengenai tatacara sholat yang baik, bersikap dan berbagai macam pengumuman atau kegiatan yang akan dilakukan esok hari (Observasi, 12 Februari-14 Maret 2017). Kebijakanpun diubah mengenai sholat Jum’at berjamaah. Awal mulanya sekolah alam ini belajar dari hari Senin sampai dengan hari Sabtu, pada hari Jum’at dan Sabtu pulang lebih awal, tetapi diubah sampai dengan hari Jum’at sore. Perubahan ini dikarenakan ketika masih menggunakan kebijakan awal ditemukan peserta didikmuslim yang beragama Islam tidak melaksanakan sholat Jum’at, sehingga

81

diubahlah kebijakan hari belajar di SD SABS. Kebijakan tersebut diubah sesuai kesepakatan yang diutarakan oleh pemilik yayasan sebagai berikut;

Dulu SD SABS sekolah sampai hari sabtu, tetapi sekolah mengamati dan ada laporan kalau ada anak laki-laki yang tidak melaksanakan sholat Jum’at, lalu kita diskusikan dan kita buat sampai Jum’at sampai jam tiga seperti biasa (wawancara 7, SS pemilik yayasan, Februari 2017).

Awal pembelajaran peserta didik dan fasilitator berdoa bersama yang dilanjukan dengan hafalan atau membaca Al Qur’an yang disesuaikan dengan masing-masing kelas (Observasi 18 Februari dan 28 Februari 2017 di kelas tiga Zaffran dan kelas lima Navy). Memanah merupakan olah raga yang disunnahkan oleh agama Islam. Memanah salah satu cermin penanaman nilai agama dari pihak sekolah kepada peserta didik. Memanah dilakukan oleh peserta didik disesuaikan dengan kegiatan yang sedang dilaksanakan masing-masing kelas (Observasi, 2 Maret 2017 di Lapangan kelas tiga Zaffran). Menutup aurat atau mengenakan jilbab bagi yang beragama Islam secara tertulis atau ucapan tidak dipaksakan kepada peserta didik, tetapi berdasarkan pengamatan peneliti seluruh peserta didik maupun fasilitator yang muslim mengenakan jilbab. Selain kegiatan yang mendominasi perilaku warga sekolah tersebut terdapat perilaku lain yang dilakukan yang mencerminkan nilai religius di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo yaitu muroja’ah atau mengulang kembali hafalan antar teman. Perilaku ini peneliti temulkan oleh beberapa peserta didik kelas IV (Observasi, 2 Maret 2017 di kelas empat Tosca).

Nilai religius tercermin pada orang tua/ wali pada saat kegiatan Kembang Mekar yaitu saat sholat berjamaah di lapangan yang dikelilingi tenda masing- masing keluarga. Konsep yang dibuat juga mencerminkan kebermanfaatan tidak

82

hanya secara jasmani atau kebahagiaan sesaat tetapi secara rohani seperti tilawah oleh salah satu peserta didik untuk membuka acara api unggun, tausiah oleh wali peserta didik dan lain sebagainya.

Aktivitas warga sekolah mengimplementasikan nilai religius dapat dilihat dari lapisan artifak dengan keterwujudan secara fisik maupun perilaku. Keterwujudan tersebut dapat dilihat melalui gambar bagan sebagai berikut;

Tabel 9. Nilai Religius dalam Lapisan Artifak Terwujud Bentuk Fisik dan perilaku

Perwujudan Lapisan Artifak

Fisik Perilaku

Bangunan saung mushola SD SABS

untuk sholat berjama’ah sholat Ashar Warga sekolah terbiasa sholat Ashar berjamaah tepat pada waktunya di saung mushola SD SABS Dua bangunan masjid sekitar SD

SABS

Warga sekolah terbiasa sholat Dhuhur dan Jum’at berjamaah tepat pada waktunya di masjid sekitar SD

SABS Lingkungan SD SABS yang nyaman/

dekat dengan alam

Peserta didik menghafal dan membaca Al Qur’an di lingkungan

sekolah yang nyaman sehingga khusyu’ dan tanpa paksaan Tempat wudlu Peserta didik menghentikan kegiatan

belajar dan mengambil air wudlu untuk sholat berjamaah tepat pada

waktunya

Seperangkat olah raga panahan Olah raga panahan merupakan sunnah Rasulullah dilakukan oleh peserta didik dan fasilitator sesuai

perencanaan kegiatan Kaos kaki penutup aurat Kesadaran menutup aurat peserta

didik seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan dengan menggunakan kaos kaki terutama

kelas tinggi dan menggunakan pakaian sehari-hari untuk sholat

83

Berdasarkan tabel implementasi nilai religius diatas dapat diartikan bahwa keterwujudan fisik merupakan faktor pendukung dari keterwujudan perilaku warga sekolah dalam menanamkan nilai religius. Keterwujudan fisik merupakan fasilitas pendukung dalam melaksanakan kegiatan yang terwujud dalam berperilaku warga sekolah. Perwujudan perilaku di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo berlangsung alami sesuai dengan fitrah warga sekolah khususnya peserta didik tanpa paksaan dan berlangsung dengan penuh kesadaran terlaksana dalam program yang direncanakan maupun tidak direncanakan.

2) Lapisan Asumsi

Lapisan asumsi di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo yang mencerminkan nilai religius dapat dilihat dari perilaku-perilaku warga sekolah yang tidak disadari dan diungkapkan. Asumsi yang mencerminkan nilai religius di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo yaitu:

a) Fasilitator memberikan contoh kepada peserta didik dengan menutup aurat sesuai dengan perintah agama. Berdasarkan contoh tersebut muncul asumsi “Kesadaran menutup aurat adalah kewajiban bagi muslim laki-laki maupun perempuan”. Asumsi tersebut membuat peserta didik dengan sadar dan tanpa paksaan menerapkan gerakan menutup aurat dengan memakai jilbab dan kaos kaki bagi peserta didik perempuan khususnya kelas tinggi. Peserta didik mengenakan pakaiannya sehari-hari untuk sholat, sehingga kembali muncul asumsi “Pakaian untuk sholat adalah pakaian sehari-hari selama menutup aurat dengan sempurna”. Peserta didik jarang menggunakan mukena sekolah untuk

84

sholat menjadi salah satu bukti penerapan asumsi mengenai kewajiban menutup aurat. (Observasi dan dokumentasi selama penelitian)

b) Asumsi yang ke dua yang mencerminkan nilai religius di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo yaitu “Suara adzan adalah tanda berhentinya seluruh kegiatan yang sedang berlangsung”. Berdasarkan observasi maupun wawancara kepada narasumber ditemukan fakta bahwa tidak ada kesepakatan khusus mengenai tanda berhentinya pembelajaran. Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo memiliki tiga waktu untuk beristirahat yaitu pada pagi hari saat pembagian makanan ringan atau jajanan pasar kepada peserta didik, waktu istirahat sholat Dzuhur, dan istirahat sholat Ashar yang dilanjutkan pulang. Dua dari tiga waktu istirahat menggunakan suara adzan sebagai tanda berhentinya seluruh kegiatan yang berlangsung. Peserta didik langsung menuju tempat wudlu dan melaksanakan sholat berjamaah di masjid sekitar sekolah atau mushola pada sore hari. (Observasi dan dokumentasi selama penelitian)

b. Nilai Kreatif

Nilai Kreatif merupakan cara berfikir atau melakukan sesuatu untuk melakukan cara atau hasil yang baru dari suatu yang telah dimiliki. Nilai kreatif diimplementasikan dalam lapisan artifak yaitu berwujud fisik dan perilaku di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo.

1) Lapisan Arifak a) Fisik

Perwujudan fisik dalam penanaman nilai karakter kreatif pada warga sekolah dan peserta didik pada khususnya terwujud dalam design bangunan Sekolah Dasar

85

Alam Bengawan Solo. Konsep yang dimiliki pemilik yayasan maupun fasilitator dalam mendirikan sekolah alam dengan bangunan rumah pohon dan saung-saung untuk belajar merupakan konsep yang menarik. Rumah pohon dan saung membuat peserta didik merasa lebih leluasa dan belajar lebih menyenangkan tidak terbatas oleh luang yang tertutup. Warga sekolah harus membiasakan merawat fasilitas belajar secara ekstra dikarenakan dalam jangka waktu beberapa tahun rumah pohon atau saung yang terbuat dari kayu harus segera diperbaiki dan diganti demi keselamatan bersama. Kreatifitas juga muncul dari design atau konsep tata ruang kelas dari masing-masing kelas. Setiap kelas diberikan kepercayaan untuk menghias kelas sesuai tema yang sedang dilakukan atau sesuai keinginan dari setiap kelas. Peserta didikpun diberikan kebebasan berdiskusi mengenai design kelas sesuai tema tau keinginan menggunakan barang-barang disekitarnya atau barang- barang bekas yang disesuaikan dengan tema. Contoh kelas lima Navy saat peneliti sedang membersamai memiliki tema ”Gua”, peserta didik diberikan kesempatan berdiskusi untuk menghias kelas sekreatif mungkin dan pada pelaksanaannya membuat hiasan berbentuk kelelawar, stalaktit dan stalakmit menggunakan kardus bekas mereka tampil pentas night camp (observasi, 28 Februari 2017 di kelas lima Navy). Berfikir kreatif juga diterapkan fasilitator dalam merancang pembelajaran agar efektif dan menyenangkan untuk peserta didik dengan memanfaatkan fasilitas yang sudah ada dan lingkungan alam dan lain sebagainya (Observasi, 14 Februari- 12 Maret 2017).

Setiap peserta didik dan orang tua memiliki karya yang di buat di rumah sesuai dengan tema masing-masing kelas. Salah satu nilai kreatif yang muncul yang

86

dapat dilihat yaitu beberapa tempat sampah yang dipasang dibeberapa tempat terbuat dari kantung-kantung. Kantung-kantung sampah tersebut terbuat dari bekas tempat beras (bagor) yang akan memilah beberapa jenis sampah antara lain sampah plastik, kertas, logam, dan lain sebagainya. Tempat sampah khusus kerta juga sebagian terbuat dari kotak seperti kotak amal.

b) Perilaku

Kegiatan di Sekolah Alam Bengawan Solo yang mencerminkan nilai kreatif yaitu dari cara fasilitator dan peserta didik dalam melakukan berbagai kegiatan atau proyek disetiap temanya. Keterbatasan fasilitas dan melimpahnya kekayaan alam menuntut setiap kelas berfikir dan berperilaku kreatif. Seperti pembuatan semprot air dari batang bambu dan karet penarik yang digunakan berasal dari alas kaki yang sudah tidak digunakan (Observasi dan dokumentasi, 18 Februari 2017 di kelas tiga Zaffran). Kreatifitas muncul tidak hanya dalam pembuatan media pembelajaran saja tetapi muncul saat peserta didik memanfaatkan lingkungan di sekitarnya untuk tempat bermain yang menyenangkan yang membuat peserta didik nyaman di sekolah, seperti yang dijelaskan oleh Bapak AS wali kelas I Biru Langit yang mengaku sulit mengajak anaknya pulang, karena lebih menyenangkan berada di lingkungan sekolah.

Gimana bisa ini mbak, yang biasanya kalau anak sekolah kalau jam istirahat atau pulang senang dan pengen cepet pulang, ini malah sulit diajak pulang, nanti nanti. Asik di sekolah. (Wawancara 8, AS orang tua peserta didik, 18 Februari 2017)

Di sekolah Dasar Alam Bengawan Solo memiliki permainan Boi-boinan (dalam bahasa Yogyakarta) yang sedang digemari. Permainan ini merupakan permainan tradisional yang menggunakan alas kaki yang digunakan peserta didik

87

sebagai inti dari permainan. Peserta didik memanfaatkan benda di sekitar agar suasana belajar sama menyenangkannya dengan suasana bermain (Observasi, 1 Maret 2016 di depan perpustakaan kelas dua). Keterwujudan fisik dan perilaku tersebut dapat dilihat melalui gambar bagan sebagai berikut;

Tabel 10. Nilai Kreatif dalam Lapisan Artifak Terwujud Bentuk Fisik dan perilaku

Perwujudan Lapisan Artifak

Fisik Perilaku

Design sekolah SD SABS yang terbuka dan langsung berinteraksi

dengan alam

Pemanfaatan lahan sekolah dengan maksimal sepeti berkebun, bercocok tanam, berwirausaha yang dilakukan di lingkungan sekolah yang terbuka Design kelas bangunan rumah pohon

dan saung

Menghias rumah pohon dan saung sesuai dengan tema flora, fauna, bangunan disekitar, manusia dan lain

sebagainya Barang bekas yang dimanfaatkan

kembali

Peserta didik memanfaatkan barang bekas dan benda di lingkungan sekitar

sebagai perlengkapan pentas seni saat night camp

Green lab SD SABS Peserta didik memanfaatkan lahan sekolah untuk bercocok tanam dan

berkebun di green lab sebagai implementasi tema di masing-masing

kelas Media belajar kreatif memanfaatkan

bahan yang ada di lingkungan sekolah

Pembuatan media belajar kreatif oleh peserta didik menggunakan barang bekas dan benda sisekitar lingkungan

seperti bambu, sandal jepit, kardus, botol plastik dan lain sebagainya Alas kaki sandal untuk bermain Belajar sambil bermain yang

memanfaatkan sandal oleh peserta didik merupakan ide kreatif bermain, belajar dan berinteraksi dengan teman

sebaya

Busur panah bahan dasar pipa air Peserta didik memanfaatkan pipa air yang dipanaskan, dibentuk dan dirangkai menjadi busur panah Hasil karya peserta didik dengan orang

tua (work with parent) dipajang saat night camp

Pembuatan karya oleh peserta didik di rumah bersama orang tua sesuai

88

Berdasarkan tabel implementasi nilai kreatif diatas dapat diartikan bahwa keterwujudan fisik merupakan faktor pendukung dari keterwujudan perilaku warga sekolah dalam menanamkan nilai kreatif. Keterwujudan fisik merupakan fasilitas pendukung dalam melaksanakan kegiatan yang terwujud dalam berperilaku warga sekolah. Perwujudan perilaku di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo berlangsung alami sesuai dengan fitrah warga sekolah khususnya peserta didik tanpa paksaan dan berlangsung dengan penuh kesadaran terlaksana dalam program yang direncanakan maupun tidak direncanakan. Nilai kreatif yang muncul di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo dapat dilihat tidak hanya dari pihak peserta didik saja tetapi dapat dilihat dari orang tua berdasarkan kreatifitas work with parent dan raport narasi yang dibuat orang tua untuk dilaporkan kepihak sekolah. Pihak fasilitator juga dituntut membuat konsep pembelajaran yang kreatif sehingga peserta didik merasa nyaman dan menganggap belajar itu menyenangkan.

2) Lapisan Asumsi

Lapisan asumsi di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo yang mencerminkan nilai kreatif dapat dilihat dari perilaku-perilaku warga sekolah yang tidak disadari dan diungkapkan. Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi selama penelitian berlangsung tidak muncul asumsi pada nilai kreatif. Nilai kreatif dapat dilihat melalui dua lapisan yaitu nilai dan keyakinan serta lapisan artifak yang terwujud dalam fisik dan perilaku.

89

Nilai mandiri merupakan perwujudan sikap atau perilaku yang tidak mudah tergantung dengan orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

1) Lapisan Artifak a) Fisik

Perwujudan fisik dalam penanaman nilai karakter mandiri pada warga sekolah dan peserta didik yaitu busur dan anak panah yang dibuat sendiri sebagai tugas individu salah satu peserta didik kelas enam. Anak panah dan busur tersebut dibuat dengan bimbingan fasilitator yang ahli membuat anak panah dan busur. Barang dagangan saat Lapak Rabu yang dijual mayoritas dagangan yang dibuat mereka sendiri baik bersama teman-teman, fasilitator, maupun orang tua di rumah (Observasi, 1 Maret 2017 di saung bawah kelas enam Magenta). Warga sekolah bertanggungjawab terhadap dirinya dalam mengambil alat makan, mengambil makan siang sampai mengembalikan alat makan ke kondisi semula dalam keadaan bersih. (Observasi selama penelitian)

b) Perilaku

Perwujudan perilaku pada peserta didik terwujud dalam berbagai perilaku disetiap kegiatan pembelajaran maupun diluar pembelajaran. Salah satu kegiatan yang sengaja direncanakan oleh sekolah agar menjadikan peserta mandiri sedari dini yaitu dengan Lapak Rabu. (Observasi, 22 Februari, 1 dan 8 Maret 2017 di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo, lapak yang diunduh kelas lima Navy, enam Magenta, tiga Zaffran)

90

Lapak Rabu diadakan setiap satu kali dalam satu pekan setiap pekan diberi nama yang berbeda sesuai penaggalan jawa yang jatuh pada hari tersebut seperti Rabu Legi, Rabu Pon, Rabu Kliwon, Rabu Pahing dan lain sebagainya. Di lapak Rabu tersebut peserta didik menjual barang dagangannya yang dibawa dari rumah yang dibuat bersama orang tuanya atau membuat dagangannya berupa makanan ringan di sekolah bersama teman satu kelas serta fasilitatornya. Peserta didik dilatih kemandiriannya dalam bidang wirausaha. Seperti yang telah dibahas pada perwujudan fisik, makan siang setiap hari juga muncul dalam perwujudan perilaku yang membiasakan warga sekolah melayani diri sendiri termasuk makan siang dan bertanggungjawab atas alat makan yang telah digunakan.

Sikap atau perilaku yang muncul yang mencerminkan kemandirian tidak hanya kegiatan di luar kelas saja tetapi pada saat pembelajaran kemandirian muncul dan menjadi kebiasaan di SD SABS. Pembiasaan tidak tergantung dengan orang lain yang diterapkan fasilitator membuat peserta didik benar-benar mandiri dalam mengerjakan proyek atau membuat media pembelajaran. Seperti teguran untuk peneliti yang membantu beberapa peserta didik membuat alat semprot tanaman dari bambu. Peneliti ditegur peserta didik yang lain agar kawannya mengerjakan sendiri. (Observasi, 23 Februari 2017 di saung).

Peserta didik yang mandiri membuat salah satu fasilitator yang belum lama menggantikan fasilitator lain menjadi terkagum dengan kemandirian peserta didik seperti yang dikatakan saat wawancara berlangsung sebagai berikut;

Mandiri, kayak kemarin saya suruh motong bambu kan, saya nyuruh fasilitator lain, mereka bilang “eh mbak kita juga bisa ya motong sendiri”, jadi apa yang ada dalam ekspektasiku tidak sesuai dengan kenyataan, ternata yang aku pikirkan salah, ternyata mereka lebih

91

mandiri dari yang aku pikirkan, gitu (Wawancara 9, Rg fasilitator, 28 Februari 2017).

Pembiasaan mengambil keputusan sendiri, dalam arti peserta didik diberikan kesempatan mendiskusikan proyek yang akan dikerjakan secara berkelompok tanpa dekte dari fasilitator. Pembiasaan ini membuat peserta didik berani mengambil resiko dan bertanggung jawab atas perilaku yang diperbuat diri sendiri.

Kegiatan night camp, outing class, OTFA dan kegiatan lainnya juga membuat peserta didik mandiri. Kemandirian ekstra sangat dibutuhkan untuk beberapa kegiatan yang dilaksanakan di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo, jauhnya peserta didik dari keluarga membuat peserta didik diharuskan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. (Observasi, 13 Februari- 17 April 2017 di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo). Aktivitas warga sekolah mengimplementasikan nilai mandiri dapat dilihat dari lapisan artifak dengan keterwujudan secara fisik maupun perilaku. Keterwujudan tersebut dilihat melalui gambar bagan sebagai berikut;

Tabel 11. Nilai Mandiri dalam Lapisan Artifak Terwujud Bentuk Fisik dan Perilaku

Perwujudan Lapisan Artifak

Fisik Perilaku

Alat kemah yang disediakan sekolah dan fasilitator untuk kegiatan out door

Peserta didik mendirikan secara mandiri untuk beristirahat pada berbagai kegiatan out door seperti

Night camp, outing class, dan Kembang Mekar

Semprot air bambu media belajar buatan peserta didik

Pembuatan media belajar sendiri oleh peserta didik dibantu oleh fasilitator Busur panah buatan peserta didik Pembuatan busur panah oleh peserta didik yang dipandu oleh fasilitator Pernak-pernik lapak Rabu yang dibuat

dan dibawa oleh peserta didik

Berwirausaha dihari Rabu setiap pekannya oleh peserta didik dengan membuat dan menjual makanan kecil

Dokumen terkait