• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdasarkan kerangka berfikir di atas, maka yang menjadi pertanyaan peneliti adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana perencanaan penanaman pendidikan karakter di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo?

2. Bagaimana pelaksanaan penanaman pendidikan karakter di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo?

3. Bagaimana evaluasi penanaman pendidikan karakter di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo?

4. Apa saja nilai karakter yang telah membudaya di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo?.

5. Apa saja faktor pendukung dan penghambat implementasi budaya sekolah berbasis karakter di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo?

40 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Penelitian yang berjudul “Implementasi Budaya Sekolah Berbasis Karakter Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo” ini merupakan penelitian dengan pendekatan kualitatif dengan metode Fenomenologi. Penelitian ini berupaya mendeskripsikan dan memaknai implementasi budaya sekolah berbasis karakter Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo.

1. Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif menurut Flick (Gunawan. I., 2016: 81) adalah specific relevance to thr study of social relations, owing to the fact of the pluralization of life worlds. Penelitian kualitatif adalah keterkaitan spesifik pada studi hubungan sosial yang berhubungan dengan fakta dari pluralisasi dunia kehidupan. Berdasarkan pengertian tersebut penelitian kualitatif berhubungan dengan fakta dari kehidupan sehari-hari. Metode ini diterapkan untuk melihat dan memahami subjek dan objek lebih dalam meliputi orang atau suatu lembaga yang ditampilkan sesuai penelitian di lapangan.

Kualitatif berarti berkaitan dengan aspek kualitas, nilai atau makna yang terdapat dibalik fakta. Creswell (2014: 4) menyatakan bahwa Research that is guided by the qualitative paradigma is defined as: “an inquiry process of understanding a social or human problem based on building a complex, holistic picture, formed with word, reporting detiled views of informants, and conducted in a natural setting.” Penelitian kualitatif tersebut didefinisikan sebagai proses

41

penelitian untuk memahami masalah manusia atau keadaan sosial dengan menciptkan gambaran menyeluruh dan disajikan dengan kata, menjabarkan informasi dari sumber data serta dilakukan dalam setting alamiah.

Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai maslah manusia dan sosial dengan latar alamiah serta bukan berdasarkan manipulasi variabel yang terkait dalam penelitian.

2. Fenomenologi

Menurut Merleau Ponty (Gunawan. I., 2016: 70) mengemukakan bahwa fenomenoligi sangat menekankan hubungan dialektis antar subjek dan dunianya, tidak ada subjek tanpa dunia, dan tidak ada dunia tanpa subjek. Terwujudnya pengetahuan subjek harus terarah pada objek agar dapat diketahui sebagaimana adanya, dan dan objek harus terbuka pada subjek. Pendapat tersebut dikuatkan dengan pengertian dari Husserl (Gunawan. I., 2016: 71) menyatakan bahwa fenomenologi menjelaskan fenomena dalam kemurniannya. Fenomena adalah sesuatu yang dengan suatu kesadaran tertentu tampil dalam kesadaran manusia.

Gunawan. I. (2016: 71-72) mengartikan “fenomenologi sebagai upaya untuk memahami makna yang sesungguhnya atas suatu pengalaman dan menekankan pada kesadaran yang disengaja (intentiunallity of consciousness) atas pengalaman, karena pengalaman mengandung penampilan keluar dan kesadaran yang dalam, yang berbasis pada ingatan, gambaran dan makna”. fenomenologi diartikan sebagai upaya kesadaran diri merefleksikan pada benda atau fenomena yang dilihat, dipikirkan, diingat dan diharapkan.

42

Penelitian deskriptif kualitatif fenomenologi dapat menggunakan teknik pengumpulan data berupa kegiatan wawancara mendalam dengan subjek penelitian. Kelengkapan data penelitian dapat diperdalam dengan teknik observasi partisipasi yang disempurnakan dengan penelusuran dokumen dan komponen pendukung lainnya.

B. Setting Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di lingkungan Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo yang beralamat di Desa Gondangsari, Juwiring, Bulakan, Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo (SD SABS) terletak di tepi sungai Bengawan Solo dan memiliki lingkungan yang menunjang pembelajaran dengan konsep sekolah alam atau pendidikan luar kelas.

Penentuan lokasi penelitian dilakukan melalui pertimbangan pre-research yaitu Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo memiliki tujuan menanamkan nilai-nilai karakter. Proses penanaman nilai karakter di SD SABS dimulai dengan pembiasaan kepada peserta didik melalui program yang terencana mau program isidental. Selain proses penanaman pembiasaan nilai-nilai karakter pada peserta didik, pemilihan Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo sebagai lokasi penelitian dikarenakan sekolah yang setara dengan pendidikan dasar ini merupakan sekolah yang memiliki karakteristik khas menjadikan SD SABS berbeda dengan sekolah pada umumnya, seperti sekolah berkonsep alam sebagai sumber belajar, penanaman nilai religius yang kental sesuai pembiasaan berupa sholat berjamaah di masjid, tahajud bersama, penanaman nilai komunikatif atau interaksi yang baik dengan orang lain dengan

43

pembiasaan senyum, salam, sapa, sopan, dan santun, penanaman nilai mandiri kepada peserta didik dengan pembiasaan tidak bergantung pada orang lain seperti diajarkannya berwirausaha, penanaman nilai peduli lingkungan dengan pembiasaan membersihkan sungai dan lingkungan sekitar sekolah. Pembiasaan, nilai, perilaku khas dari Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo tersebut sesuai dengan teori budaya sekolah yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya dan membuat peneliti semakin tertarik untuk meneliti lebih jauh mengenai implementasi bidaya sekolah berbasis karakter di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo.

C. Sumber Data

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tentang implementasi budaya sekolah berbasis karakter di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo. Penentuan sumber data atau subjek penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik porpisive-sampling yang dimaksud untuk memperoleh data yang lebih fokus dan terarah dari setiap subjek. Menurut Sugiyono (2016: 146) menyatakan bahwa teknik porposive-sampling dalam menentukan subjek penelitian dengan cara mengidentifikasi subjek yang relevan, berpengaruh dan sesuai dengan kriteria guna menunjang hasil penelitian. Subjek yang dipilih merupakan orang yang menjadi kunci dari informasi yang akan digunakan dalam penelitian. Subjek yang dipilih yaitu pemilik yayasan, kepala sekolah Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo sebagai informan utama yang mengetahui informasi implementasi budaya di sekolah alam tersebut khususnya pembudayaan karakter, guru kelas rendah dan guru kelas tinggi sebagai informan yang langsung melaksanakan dan mendampingi peserta didik

44

dalam menerapkan budaya sekolah. Guru informan utama dianggap peneliti lebih mengetahui proses penanaman karakter dan kendala yang terjadi di lapangan.

Selain pemilik yayasan, kepala sekolah dan guru sebagai sumber informasi utama, dalam penelitian ini juga menggunakan informan pendukung yaitu peserta didik dan wali/ orang tua. Subjek penelitian dari pihak peserta didik terdiri dari dua peserta didik dari kelas tinggi yang dianggap peneliti memahami kondisi, kultur, atau budaya sekolah yang menjadi khas Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo. Dua peserta didik dari kelas rendah yang dianggap peneliti sebagai subjek baru atau belum lama menjadi peseta didik yang merasakan budaya sekolah yang telah berjalan sehingga dapat menjadi perbandingan dengan peserta didik kelas tinggi.

Orangtua/ wali dari peserta didik sebagai subjek penelitian bertujuan untuk mendapat variasi data pengaruh perilaku peserta didik di rumah dari penanaman nilai karakter yang membudaya di sekolah. Sebagai penyempurna data yang diperoleh dari berbagai nara sumber, peneliti memilih warga sekitas Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo yang dianggap memiliki pemahaman mengenai perilaku warga sekolah khussnya peserta didik dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial dan masyarakat.

D. Metode dan Instrumen Pengumpulan Data

Dokumen terkait