• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kegiatan belajar mengajar dapat dilakukan di mana saja, di dalam kelas maupun di luar kelas. Di sekolah formal pembelajaran yang berjalan mendominasi peserta didik untuk belajar di dalam kelas. Kondisi ini sering kali membuat peserta

31

didik merasa jenuh dan kurang bersemangat dalam belajar. Di zaman yang semakin inovatif ini ditawarkan konsep pembelajaran alternatif yang membuat peserta didik lebih bersemangat belajar dengan belajar di luar kelas dan langsung menerapkan pengetahuan di kehidupan sehari hari. Konsep tersebut tertanam dalam konsep sekolah alam.

“Sekolah alam merupakan sekolah yang berbasis pembelajaran di luar kelas yang berarti langsung memanfaatkan alam sebagai objek pembelajaran. Sekolah yang berbasis kelas alam dan menggunakan alam sebagai media dan sumber belajar serta segala kegiatan belajar dikonsep secara alam”, Kurniawan. H (2016: 31). Menurut Vera. A. (2012: 17) yang mengemukakan tentang mengajar di luar kelas dapat dipahami sebagai suatu kegiatan menyampaikan pelajaran di luar kelas, sehingga kegiatan atau aktifitas belajar mengajar berlangsung di luar kelas atau di alam bebas. Metode mengajar di luar kelas merupakan upaya mengajak lebih dekat dengan sumber belajar yang sesungguhnya, yaitu alam dan masyarakat.

Sekolah alam menggunakan metode mengajar di luar kelas tidak hanya mengatasi kebosanan peserta didik tetapi lebih pada tujuan pokok yang ingin dicapai yaitu tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan yang ingin dicapai melalui pendidikan luar sekolah yang diungkapkan Menurut Vera. A. (2012: 22-25) antara lain: mengarahkan peserta untuk mengembangkan bakat dan kreatifitas; menyediakan latar (setting) yang berarti bagi pembentukan sikap dan mental peserta didik; meningkatkan kesadaran, apresiasi, dan pemahaman peserta didik terhadap lingkungan sekitarnya, serta cara mereka untuk membangun hubungan baik dengan alam; membantu mengembangkan segala potensi setiap peserta didik;

32

memberikan konteks dalam pengenalan pendidikan sosial dalam tataran praktik (kenyataan di lapangan); menjunjung keterampilan dan ketertarikan peserta didik; menciptakan kesadaran dan pemahaman peserta didik cara menghargai alam dan lingkungan, serta menghargai perbedaan; mengenalkan berbagai kegiatan luar kelas yang dapat membuat pembelajaran lebih kreatif, memberikan kontribusi penting dalam rangka membantu mengembangkan hubungan guru dengan murid dan memanfaatkan sumber-sumber yang berasal dari lingkungan dan komunitas sekitar untuk pendidikan agar peserta didik dapat memahami secara optimal seluruh mata pelajaran.

Kurniawan. H (2016: 29) meyatakan bahwa sekolah yang berbasis karakter dengan alam sebagai sarana penyampaiannya menurut dapat diidentifikasikan menjadi tiga hal, yaitu; a) kelas alam natural, b) kelas alam artifisial, dan c) sekolah alam sosio-kultural. Tiga jenis kelas berbasis alam ini menekankan pada pendidikan karakter yang terintegrasi di dalamnya. Kelas alam natural menyampaikan nilai karakter dan tujuan pembelajaran melalui peserta didik yang benar-benar langsuung terjun ke alam. Contoh kelas alam natural yaitu alam sebagai sumber alami dalam pembelajaran, sehingga peserta didikbertanggungjawab atas kelestariannya. Kelas yang ke dua yaitu kelas alam artifisial, yaitu sekolah alam buatan dengan merancang pembelajaran baik sarana maupun konsep pembelajaran dibuat semirip mungkin dengan konsep alam yang sebenarnya walaipun area yang digunakan dalam pembelajaran yaitu di dalam ruang tertutup. Kelas alam yang terakhir yaitu kelas alam sosio-kultural atau sering disebut dengan sekolah masyarakat. Kelas alam ini menekankan pada interaksi sosial di dalamnya. Kelas ini bertujuan

33

menerapkan nilai karakter berkomunikasi dan berinteraksi dengan peserta didik lain dalam berdiskusi, bertukar pendapat maupun menyelesaikan masalah tertentu.

Sekolah alam bertujuan membangun karakter peserta didik tidak hanya menekankan dari aspek kognitif tetapi mengunggulkan aspek moral dan karakter serta peserta didik dapat hidup selaras dengan alam. Adisendjaja. Y. H. (2008: 3) mengatakan bahwa hidup selaras dengan alam hanya akan tercapai jika setiap orang memahami prinsip berkelanjutan dan melaksanakan etika lingkungan. Peserta didik sejak dini sudah mulai diajarkan pentingnya menjaga lingkungan untuk kepentingan masa depan bangsa.

5. Pendidikan Karakter yang Membudaya Di Sekolah a. Mewujudkan Sekolah sebagai Institusi Karakter

Karakter tidak hanya tumbuh dan berkembang pada setiap individu melainkan setiap kelompok, organisasi maupun institusi. Institusi atau sekolah yang menerima dan mendukung implementasi pendidikan karakterlah yang akan menjadi wadah ideal karakter peserta didik tumbuh dan berkembang. Lickona (1992: 325) menyatakan bahwa terdapat enam elemen utama untuk proses pembentukan kultur moral di sekolah yang dapat menumbuhkan nilai, sikap, dan perilaku positif bagi siswa. Elemen-elemen sekolah sebagai institusi karakter antara lain sebagai berikut:

1) Kepala Sekolah sebagai Pelopor Pendidikan Karakter

Kepala sekolah terlibat penuh dalam program pendidikan karakter di sekolah yang dipimpinnya. Pendidikan karakter tidak sepenuhnya diserahkan kepada guru sebagai pengajar yang langsung menghadapi peserta didik tetapi kepala sekolah

34

harus menjadi garda terdepan menjadi teladan dalam implementasi pendidikan karakter. Kepala sekolah sebagai pelopor dan memfasilitasi penyelenggaraan kegiatan yang berkaitan dengan penanaman pendidikan karakter di sekolah. 2) Sekolah yang Disiplin

Mendisiplinkan peserta didik di sekolah mengajarkan kehidupan disekolah merupakan institusi dan rumah bersama, yang menciptakan shared values antar warga sekolah. Setiap sekolah harus memiliki aturan yang harus dipatuhi bersama. Cara ini disebut mainstreaming, yaitu menanamkan rasa bangga sebagai anak yang berkarakter.

3) Rasa Kekeluargaan yang Kuat

Memperkuat rasa kekeluargaan merupakan salah satu cara efektif dalam mengurangi perilaku tidak terpuji dalam lembaga pendidikan khususnya sekolah. Winkelman (Suryadi. A., 2014: 100) berhasil menerapkan “a cahesive and caring school comunity” sebagai model yang memperkuat rasa kekeluargaan di sekolah dengan menciptakan community building antar peserta didikyang akan menumbuhkan rasa senasib dan seperjuangan, saling membantu, berempati kepada teman, mendengar keluhan dan lain sebagainya. Rasa kekeluargaan dapat diciptakan dalam kegiatan belajar di kelas maupun kegiata luar kelas seperti ekstrakulikuler yang menumbuhkan perasaan beruntung karena menjadi bagian dari keluarga besar sekolah.

4) Demokrasi dalam Pengelolaan Sekolah

Pengambilan keputusan yang melibatkan seluruh warga sekolah atau minimal mempertimbangkan kebaikan bersama menjadi salah satu cara agar sekolah tetap

35

terjamin keutuhannya. Salah satu cara yang digunakan yaitu melibatkan peserta didik dalam mengambil keputusan. Peserta didik akan merasa dihargai dan memiliki hak suara di sekolah tempat belajar. Melibatkan warga sekolah juga menjadi menanaman nilai demokrasi sejak dini dari lembaga pendidikan.

5) Kuatnya Kerjasama dari Berbagai Pihak

Implementasi nilai karakter dan menjadikannya sebagai budaya perlu kerjasama dari berbagai pihak. Semua pihak bertanggung jawab atas nilai yang ditanamkan. Kuatnya kerja sama berbagai pihak ini akan membuat komunikasi antar individu di sekolah semakin menjamin mutu sebuah sekolah. Sekolah yang efektif menjadikan semua pihak atau warga di dalamnya saling membantu dalam mewujudkan tujuan bersama seperti merumuskan kebijakan sekolah, memperbaiki kualitas pendidikan, memperkuat disiplin sekolah, serta menciptakan program yang efektif dalam implementasi pendidikan karakter.

6) Meluangkan Waktu untuk Menyelesaikan Masalah

Menyisihkan waktu untuk menangani berbagai masalah dari masalah kecil sampai masalah yang besar serta tidak menunda dalam penyelesaian masalah menjadi kunci utama keharmonisan dalam keluarga di lingkup sekolah. Kepala sekolah serta guru perlu meluangkan waktu menyelesaikan hal-hal kecil yang tidak boleh diremehkan seperti kebersihan lingkungan, perilaku tidak sopan kepada orang lain, membuang sampah sembarangan sampai masalah bullying yang dewasa ini marak terjadi. Permasalah kecil maupun besar yang cepat ditangani akan membuat nilai karakter lebih mudah diimplementasikan di sekolah.

36

Pendidikan karakter suatu pendidikan yang berlangsung di mana saja, baik dalam institusi pendidikan formal, nonformal maupun informal. Pendidikan karakter merupakan proses secara otomatis disusun, direncanakan dan di laksanakan oleh lembaga pendidikan yang menghendaki warga sekolah khususnya peserta didik berkembang dalam bidang akademik maupun non akademik khususnya moral.

Lockheed (Suryadi. A., 2014: 104) mengemukakan empat tahap pertumbuhan moral dan karakter pada peserta didik, yaitu: tahap keteladanan, pembiasaan, dan (bila perlu) pemaksaan; tahap pemahaman peserta didikakan pentingnya norma dan standar moral dan karakter; tahap aturan dan tanggung jawab ; dan tahap menjiwai norma dan standar, dan perilaku karakter dilaksanakan atas dasar motivasi intrinsik.Suryadi. A. (2014: 105) mengemukakan dua pendekatan untuk mengimbangi tahapan yang dikemukakan oleh Lockheed, yaitu pendekatan program karakter sekolah sebagai institusi, dan pendekatan pembelajaran karakter untuk peserta didiksecara individual atau kolektif.

Pertama, pembentukan karakter dalam institusi sekolah dapat dilakukan dengan enam komponen, yaitu: penyususnan indikator kehidupan sekolah yang berkarakter; kepemimpinan moran dan akademik kepala sekolah; menerapkan disiplin sekolah yang berkeadilan; iklim sekolah yang berkeadilan; harmonis, mutual respect; oraganisasi kesiswaan yang demokratis; diskusi permasalahan karakter di sekolah; dan rasa kekeluargaan dan kebersamaan di sekolah. Kedua, suatu program pendidikan karakter di sekolah perlu dikembangkan secara terprogram yang meliputi: program pembiasaan, pemaksaan, keteladanan, pemahaman nilai dan norma; program aplikasi dalam kegiatan/ kehidupan di sekolah; dan program pemaknaan nilai dan norma moral dan karakter.

Berdasarkan Kemendiknas (Wibowo. A., 2016: 16) pendidikan karakter yang terintegrasi dalam pembelajaran di sekolah dan telah membudaya artinya

37

pengenalan nilai-nilai, kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, menginternalisasi nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik melalui proses pembelajaran, baik yang langsung di dalam maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran. Berdasarkan pengertian tersebut pembelajaran selain menjadikan peserta didik mencapai tujuan materi yang diajarkan tetapi peserta didik harus menginternalisasi nilai-nilai karakter yang ada dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Proses penginternalisasian tersebut disebut pembudayaan nilai karakter yang ada. Terdapat skema pendidikan karakter di sekolah beserta proses pembudayaan dan pemberdayaan.

Fokus penelitian dalam implementasi budaya sekolah berkarakter ini adalah pada perilaku individu. Perilaku ini dilakukan oleh seluruh warga sekolah baik pesrta didik, guru, kepala sekolah, pemilik yayasan guna mewujudkan nilai karakter yang membudaya dan menjadi khas atau identitas suatu sekolah. Komponen satu dengan yang lain harus bersinergi, baik dari segi kebijakan yang berlaku, sumber daya manusia, lingkungan, sarana dan prasarana, pemangku kebijakan dan yang paling penting yaitu komitmen bersama dalam menghidupkan karakter yang membudaya di sekolah. Penanaman nilai karakter di sekolah dapat dilakukan dengan pembinaan kepada peserta didikmelalui pembelajaran maupun manajemen sekolah.

Dokumen terkait