• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Pendidikan Karakter Di Sekolah Dasar Alam

C. Pembahasan Hasil Penelitian

4. Evaluasi Pendidikan Karakter Di Sekolah Dasar Alam

ketercapaian kegiatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi sering disebut juga sebagai monitoring. Di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo monitoring dilaksanakan dari dua pihak yaitu pihak sekolah dan pihak orang tua atau wali. Monitoring di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo dapat dilihat dari perwujudan fisik dan perilaku, dapat dilihat dari gambar bagan sebagai berikut;

a. Monitoring Pihak Sekolah 3) Lapisan Artifak

a) Fisik

Perwujudan fisik dari monitoring dari pihak sekolah dapat dilihat dari karya peserta didik yang dibuat di sekolah. Karya peserta didik dikumpulkan dan dipajang di rak pajang karya saat night camp dan penerimaan raport selama dua bulan sekali. Karya peserta didik berupa kerajinan tangan, laporan work sheet, lembar wawancara, gambar dan lain sebagainya yang disesuaikan denga tema setiap kelas. Selain pajang karya, fasilitator juga wajib melaporkan hasil proyek yang telah berjalan serta progres sikap setiap peserta didik dengan raport deskriptif maupun diskusi langsung dengan orang tua/ wali. Fasilitator selalu menyediakan waktu untuk orangtua berdiskusi mengenai perkembangan tingkah laku peserta didik di sekolah. (Observasi night camp, Kembang Mekar).

b) Perilaku

Perwujudan perilaku dari monitoring dari pihak sekolah dapat dilihat dari diskusi fasilitator yang melaporkan perkembangan sikap peserta didik di sekolah.

115

Diskusi seperti ini sering sekali terlihat saat penerimaan raport maupun sesudah pembelajaran biasa selesai (Observasi selama night camp dan penerimaan raport serta ketika pembelajaran selesai saat orang tua menjempur anaknya).

Monitor atau evaluasi terhadap peserta didik secara personal tidak hanya dilakukan pada saat kegiatan penerimaan raport tematik saja tetapi dilakukan setiap hari ketika peserta didik melakukan perilaku yang tidak sesuai dan mengganggu temannya. Seperti yang telah disampaikan oleh kepala sekolah sebagai berikut;

Untuk evaluasi karakter kita, mbak lihat sering nggak ngobrolin anak? Iya seperti itu cara evaluasi, setiap hari, evaluasi kita ya gitu, ngalir aja setiap makan siang ngobrolin anak ndak ada rapat-rapat gitu. Mungkin temen- temen belum bisa kayak gitu, lebih enak makan siang bareng sambil makan siang ngobrolin anak gitu sih (Wawancara 15, JNA kepala sekolah, 7 Maret 2017).

Proses evaluasi karakter di SD SABS dilakukan secara kondisional apabila diperlukan ketika peserta didik sedang asik bermain atau ketika peserta didik sedang outing class dan lain sebagainya (Observasi, 21 Februari 2017 di Kantor Pemadam Kebakaran Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah). Proses evaluasi secara sistem atau umum dilaksanakan pada rapat setiap satu bulan sekali yang membehas beberapa kegiatan seperti try out kelas enam dan lain sebagainya.

Rapat bulanan ada kan, tapi kalau regulasi setahun sekali dengan temuan-temuan ya. Termasuk tryout kelas enam. Kita serahkan ke fasil kelas enam (Wawancara 16, JNA 7 Maret 2017)

b. Monitoring Pihak Orang Tua/ Wali 1) Lapisan Artifak

116

Perwujudan fisik dari monitoring dari pihak orang tua/ wali dapat dilihat dari karya peserta didik dengan orang tuanya (work with parent) yang dibuat di rumah. Karya peserta didik dan orang tuanya tersebut dikumpulkan dan dipajang di rak pajang karya sesuai dengan tema setiap kelas. Laporang tidak hanya dibuat oleh fasilitator saja tetapi orang tua juga wajib membuat laporan yang berbentuk deskriptif kepada pihak sekolah mengenai proyek yang diberikan kepada peserta didik yang dikerjakan bersama orang tua.

b) Perilaku

Perwujudan perilaku dari monitoring dari pihak orang tua/ wali dapat dilihat dari diskusi orang tua/ wali yang melaporkan perkembangan sikap peserta didik di rumah. Diskusi seperti ini sering sekali terlihat saat penerimaan raport maupun sesudah pembelajaran biasa selesai (Observasi selama night camp dan penerimaan raport serta ketika pembelajaran selesai saat orang tua menjempur anaknya). c. Tanggapan Masyarakat Lingkungan Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo

Masyarakat memiliki tanggapan yang berbeda-beda dengan adanya sekolah alam di lingkungan tempat tinggal. Masyarakat pada umumnya sangat mengapresiasi kegiatan yang bersifat positif seperti pada saat bersih pasar, bakti sosial dan lain sebagainya tetapi masyarakat salah satunya memiliki pemikiran yang belum terbuka dengan konsep sekolah alam itu sendiri. Seperti yang telah disampaikan kepala sekolah SD SABS dalam wawancaranya sebagai berikut;

Masih kurang baik karena beberapa faktor. Tapi sebenarnya tantangan. Karena aku bilang sama pemilik yayasan kita basicnya kalau bisa SD SABS itu berdasar komunitas kan harusnya punya efek juga buat buat komunitas dan lainnya atau minimal buat masyarakat. Wujudnya by process, misalkan sering kita ngadain baksos dari mahapeserta didikkita undang warga, bersih- bersih masjid, pasar, soalnya masyarakat juga beda-beda, pola pikirnya

117

beda. Contoh kenapa kita sholat Dzuhur kadang di sini kadang di sana, karena memang sudah beda. Kemarin diskusi sama teman-teman ya udah kadang di sini kadang disana. Bukannya labil ya tapi jembatani gitu lho, pengen bangun hubungan aja sama bapak-bapak di sisni bapak-bapak di sana. Kemarin juga baru mau dikembangin di masjid PJ komunitas sama pemberdayaan komunitas. Sama komite jyga pembahasannya itu, baru memikirkan. Ada beberapa kasus beberapa anak pindah karena doktrin beberapa orang masyarakat. Sebenarnya kita juga bingung, salah kita apa, kok sampai takut dengan adanya SD SABS, toh mereka ndak kena dampak negatifnya dengan adanya SD SABS. Tapi masih ada yang bertahan. Kalau saya serahkan ke orang tuanya, bahkan aku pesen, bisa nggak sekolah baru janjikan sesuatu yang lebih? Adakah komunikasi orang tua rutin dengan sekolah? Ada nggak anak itu didiskusikan tiap hari (Wawancara 17, JNA kepala sekolah, 7 Maret 2017).

Setelah mendapatkan keterangan dari kepala sekolah, keesokan harinya peneliti berjalan-jalan sambil mengamati lingkungan warga sekitar dan berkesempatan mewawancarai atau lebih tepatnya membuka pembicaraan mengenai tanggapan tentang Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo. Didapati beberapa warga yang berkenan memberikan keterangannya yang dapat disimpulkan oleh peneliti tentang kebenaran mengenai tanggapan warga sekitar yang masih kurang baik terhadap sekolah alam tersebut.

5. Faktor Penghambat dan Pendukung Penanaman Karakter di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo

a. Faktor Pendukung Penanaman Karakter Di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo

Faktor pendukung penanaman pendidikan karakter di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo yaitu lingkungan atau posisi sekolah alam yang dikelilingi oleh lingkungan yang alami seperti masih banyak ditemukan sawah, pepohonan, maupun tempat-tempat pendukung penanaman karakter peserta didik pada khususnya. Selain lingkungan sekitar, faktor orang tua peserta didik yang semakin

118

banyak memiliki konsep pendidikan yang sama, terbuka dengan pengertian pendidikan yang sebenarnya, serta ikut mendukung kegiatan yang dilakukan oleh pihak sekolah sehingga mempermudah pihak sekolah dalam menanamkan karakter yang terintegrasi dengan kegiatan di sekolah (Observasi, 14 Februari-17 April 2017 di Sekolah Bengawan Solo). Dukungan orang tua tersebut diwujudkan dalam membatu kegiatan outing class di masing-masing kelas. Orang tua/ wali biasanya menyumbang tenaga untuk mengantar outing class jika dirasa perjalanan cukup jauh dan membutuhkan kendaraan untuk mengantar seluruh peserta didik dan fasilitator.

b. Faktor Penghambat Penanaman Karakter Di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo

Faktor penghambat dari penanaman karakter di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo terdapat pada beberapa orang tua yang masih belum membiasakan pendidikan karakter yang telah diterapkan di sekolah. Beberapa nilai yang telah membudaya di SD SABS sering kali hilang ketika sampai dirumah walaupun sekarang ini sedikit-demi sedikit mulai diterapkan. Seperti hasil wawan cara kepada salah satu wali kelas satu bapak AS sebagai berikut;

Dulu awalnya ya masih males tapi kesini sudah tertib mbak, kadang pergi sendiri, ngingetin sholat “ayo pak sholat” walaupun belum tahu bacaannya lengkap atau belum, tapi semangatnya ada. Dulunya kadang belum disiplin sekarang disiplin, bertanggungjawab, habis main berserakan sekarang sudah berubah sedikit-sedikit, yang penting ada maunya. Di sisni diterapin, suruh mecahin masalah sendiri. Kalo di rumah, kalau menjumpai barang baru, kayak bikin lego diuthak uthek, kalo kepepet baru tanya suruh bantuin, kalau masnya juga gitu “cari sendiri dulu”, kalau tau- tau dibantu gitu kan malah ndak aktif, ndak bisa, ndak maksimal (Wawancara 18, AS orang tua peserta didik, 18 Februari 2017).

119

Faktor penghambat lain juga dialami fasilitator jika melaporkan perkembangan sikap peserta didik kepada orang tuanya tetapi orang tua dari peserta didik tersebut tidak percaya dan semakin memuji anaknya sehingga teguran kepada peserta didik yang seharusnya dilakukan dua belah pihak tetapi hanya satu pihak saja. Seperti yang disampaikan fasilitator kelas empat sebagai berikut;

Faktor penghambat sebenarnya relatif, misal anak di kelasku ya, misal kita mau membangun anak, misal dari sekolah memberitahu perilaku anak di sekolah melakukan perilaku negatif, sedangkan si anak di rumah baik-baik saja baguuus banget, ketika orang tua tidak menerima kondisi anak, itu jadi penghambat. Ketika aku menyampaikan orang tua kalau si anak memalak uang adik-adiknya, orang tua malah membeberkan kebaikan kebaikan anaknya, okelah kita melihat positif anak dan yang negatif dibuang biar yang positif ngembang dan yang negatif berkurang, tapi perilaku memalak tadi harus di selesaikan, untuk menyelesaikan tadi tak kembalikan ke orang tua, orang tua juga punya kewajiban menanyakan kepada anaknya siapa saja yang dipalak, terus ngembalikan uangnya, siapa yang sudah dikembalikan uangnya, itu ibunya lupa. Lhhaa harusnya orang tua yang terbuka harusnya diterima dan diselesaikan, tidak hanya mengunggulkan anak. Harus ada sinergitas orang tua dan fasilitator, selanjute, lingkungan. Misal fasilitator dan sekolah sudah seperti ini, orang tua mendukung tetapi anak terkerucut ke lingkungan yang kurang baik seperti kata-kata kotor, itu efek kurang baik. Ataupun fasilitator juga, umpama fasilitator kurang tegas bisa aja nurun ke anak anak. Tetep kerja sama orang tua, fasilitator dan masyarakat. Sinergitas semua pihak ( Wawancara 20, MS fasilitator, 23 Februari 2017). Selain faktor internal atau datang dari dalam sekolah yaitu orang tua, terdapat faktor ekternal yang datang dari masyarakat yaitu belum terbukanya konsep pendidikan sekolah alam oleh masyarakat sekitar. Belum terbukanya konsep pendidikan mengenai sekolah alam inilah yang menjadi salah satu faktor images sekolah terlihat kurang baik. Ketika peserta didik sedang belajar langsung di alam, seperti belajar dengan petani di sawah mengenai cara menanam padi, masih banyak masyarakat sekitar yang menganggap anak seusia peserta didik yang seharusnya duduk di kelas sekolahmendengarkan guru tetapi ditemukan sedang berada di

120

sawah. Seperti yang dikatakan salah satu fasilitator dalam wawancaranya, sebagai berikut;

Secara umum konsep sekolah, kurang begitu positif. Mungkin sekolah contoh siang-siang yang kesawah, kalau orang yang belum mudeng itu belajar kan itu dianggap anak sekolah siang-siang keluyuran. Sedangkan kelas satu mayoritas dari jauh-jauh sekarang, yang orang tua sudah melek pendidikan. Di tingkat atas seperti kabupaten SD SABS bagus, tapi di mata orang sekita kurang baik, mungkin dipengaruhi stigma negatif seperti anak sekolah cuma bermain dan lain-lain, dan cara membuka dengan bersih- bersih pasar, bersih-bersih masjid, trus perbaikan rumah untuk A sampai terkumpul tujuh jutaan, A orang sekitar sini. Itu salah satu cara membuka hati masyarakat, ternyata SD SABS mempunyai dampak baik bagi masyarakat (wawancara 21, MS fasilitator, 23 Februari 2017)

C. Pembahasan Hasil Penelitian

Degradasi moral pada era modern saat ini tercermin nyata dalam cara anak berperilaku, bergaul maupun bermasyarakat yang tidak lagi menjunjung adat kesopanan. Maraknya tindakan kriminal yang dilakukan oleh anak usia dini atau dibawah tujuh belas tahun, memudarnya nilai-nilai agama sebagai pegangan hidup, kurangnya interaksi dan komunikasi verbal antar masyarakat yang sudah digantikan dengan teknologi dan sosial media yang belum dimaksimalkan dengan baik, dan masalah moral lain di lingkungan sekitar kita. Sebagai akibatnya berbagai pihak harus berperan aktif dalam menekan degradasi moral yang sudah terjadi baik lingkungan pendidikan keluarga (in formal), pendidikan luar sekolah (non formal), maupun pihak sekolah (formal). Sekolah atau lembaga pendidikan berperan sebagai upaya alternatif yang bersifat preventif karena pendidikan membangun generasi baru bangsa yang lebih baik sesuai yang dijelaskan dalam latar belakang penanaman pendidikan karakter bangsa seperti yang dijabarkan dalam Panduan Penerapan Pendidikan Karakter Bangsa Permendiknas (2010: 3). Sekolah harus

121

menata dan mengembangkan beragram program dan aktivitas yang membuatnya memiliki kemampuan untuk sekaligus bisa menghadapi tuntutan masyarakat dan tantangan hari depan bagi anak didiknya. Menghadapi tuntunan dan tantangan tersebut, sekolah, harus mengembangkan kreativitas untuk mempertahankan keberadaannya, membentuk dan mengembangkan jati diri atau karakteristik sekolah, menciptakan berbagai aturan, mengembangkan berbagai tradisi dan kebiasaan yang menjadikan identitas di sebuah sekolah salah satunya guna menekan dan memperbaiki moral generasi masa depan .

Berbagai upaya untuk memenuhi tuntutan dan tantangan tersebut, sekolah kemudian memiliki sejumlah tradisi, kebiasaan, nilai, dan simbol-simbol yang membuat sekolah itu berbeda dari sekolah lain, pada tingkat ini sekolah telah mengembangkan, melaksanakan dan menghayati budaya sekolah. Budaya sekolah memiliki ruang lingkup yang luas dan mendalam. Budaya sekolah dapat meliputi bangunan fisik sekolah, lingkungan, manajemen sekolah, pelayanan, tradisi sekolah, prestasi sekolah, sarana dan prasarana dalam mendukung pembelajaran, sejarah sekolah, model-model dan metode pembelajaran, evaluasi, kegiatan ekstra kurikuler, guru, aturan, kebiasaan, perkembangan peserta didik hubungan dan interaksi dengan orang tua murid, masyarakat, dan masih banyak lagi. Model komunikasi dan interaksi yang terjalin di sekolah antara murid dengan murid, murid dengan guru, guru dengan guru, murid dengan kepala sekolah, guru dengan kepala sekolah, sekolah dan masyarakat, mengelola konflik juga merupakan lingkup pembahasan budaya sekolah yang luas dan mendalam. Seluruh aspek pasti dimiliki

122

oleh setiap sekolah yang menjadi sebuah identitas sesuai yang diungkapkan oleh Philip Selznick (Hoy. W. K, Miskel. C. G, 2014: 269).

Peleburan nilai membuahkan identitas khas sebuah organisasi yang berarti menentukan karakter dalam organisasi. Demikian halnya dengan Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo yang menjalankan segala aspek tersebut yang memunculkan sebuah identitas khusus menjadi karakteristik yang dapat diunggulkan termasuk berbagai nilai karakter yang sudah dibudayakan di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo.

Karakteristik dalam budaya sekolah di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo terwujud dalam pembiasaan yang diterapkan kepada seluruh warga sekolah baik peserta didik, fasilitator, kepala sekolah , pemilik yayasan, maupun orang tua/ wali dari peserta didik. Pembiasaan tersebut dapat diamati melalui dua lapisan kultur sekolah yaitu nilai dan keyakinan sebagai dasar norma berperilaku bagi warga sekolah yang berkaitan erat dengan penanaman nilai-nilai pendidikan karakter. Lapisan yang ke dua yaitu lapisan artifak yang terwujud dalam dua aspek yaitu fisik dan perilaku warga sekolah. Lapisan ketiga yaitu asumsi atau simbol berupa nilai dan keyakinan yang tidak dapat dikenali tetapi berdampak pada perilaku warga sekolah Ketiga lapisan kultur sekolah tersebut menjadi patokan dalam penelitian implementasi budaya sekolah berbasis karakter di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo sesuai dengan konsep yang diungkapkan Stolp dan Smith (Moerdiyanto, 2012: 7) .

Implementasi budaya sekolah berbasis karakter terintegrasi dalam manajemen sekolah di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo terwujud dalam proses

123

perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi penanaman pendidikan karakter sesuai yang telah diungkapkan Siregar (Jamal Ma’ruf Asmani, 2013: 60). Berdasarkan data yang terkumpul melalui wawancara kepada informan, observasi, maupun dokumentasi muncul enam dari delapan belas nilai karakter bangsa oleh Kementerian Pendidikan Nasional Tahun 2010, dari delapan belas nilai karakter terdapat enam nilai karakter sebagai identitas khas sekolah yang telah dilaksanakan dan dibiasakan sehingga telah membudaya di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo. Enam nilai karakter tersebut yaitu nilai religius, kreatif, mandiri, rasa ingin tahu, bersahabat/ komunikatif, dan peduli lingkungan. Enam karakter tersebut mencul dan terintegrasi dalam aktivitas sekolah yang dapat diuraikan dan dibahas sebgai berikut:

1. Perencanaan Pendidikan Karakter Di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo Perencanaan pendidikan karakter di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran maupun non pembelajaran. Manajemen pendidikan di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo yaitu dengan merencanakan sistem dan keperluan penyelenggaraan pendidikan di masa depan, termasuk penyelenggaraan kurikulum dan sistem evaluasi pendidikan serta pembuatan berbagai peraturan perundangan sesuai yang diungkapkan oleh Tatang A. Amirin, dkk (2013: 11).

Kegiatan di Sekolah Dasar alam Bengawan Solo direncanakan dalam perpaduan dua kurikulum yaitu kurikulum sekolah atau yayasan dan kurikulum KTSP Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten, tetapi tidak merencanakan secara khusus mengenai penanaman pendidikan karakter. Kurikulum di Sekolah Dasar

124

Alam Bengawan Solo diintegrasikan dengan pengalaman yang didapat peserta didik di alam melalui spider web. Kurikulum ini bertujuan agar logika ilmiah peserta didik berkembang secara integral, sehingga mampu atau terbiasa mengamati fenomena alam, mencatat data, melakukan eksperimen, dan membentuk sebuah teori.

Kurikulum spider web di SD SABS terintegrasi dalam empat kurikulum khusus yaitu; kurikulum akhlak yaitu melalui konsep sekolah teladan pengembangan Emotional Quetion dan Spiritual Quetion yang diimplementasikan secara praktis; kurikulum ilmu pengetahuan/ knowledge yaitu kurikulum yang disusun secara holistik menggunakan spider web agar logika ilmiah peserta didik berkembang secara integral, sehingga mampu atau terbiasa mengamati fenomena alam, mencatat data, melakukan eksperimen, dan membentuk sebuah teori; kurikulum kepemimpinan/ leadership yaitu kurikulum yang memiliki kegiatan utaman berupa outbond untuk membentuk karakter kepemimpinan anak dengan mengembangkan nilai-nilai adil, amanah, musyawarah, kerjasama, melindungi, mengayomi, membela kaum yang lemah, dan menjaga keseimbangan alam; kurikulum kewirausahaan/ entrepreneurship yaitu menjadikan anak memiliki kemampuan untuk hidup mandiridan terbiasa untuk mendapatkan sesuatu dengan kerja keras dan halal. Metode yang digunakan dengan berbisnis dari hasil kerja, kraeas, dan jerih payah peserta didik di kebun/ green lab memanfaatkan daerah aliran sungai Bengawan Solo dan potensi ekonomi lokal sekitar. Pembelajaran akan dilaksanakan dengan porsi 30% di dalam kelas dan 70 % di luar kelas, dari proses

125

pembelajaran tersebut muncullah nilai karakter yang membudaya yang terwujud dalam perilaku warga sekolah khususnya peserta didik.

Selain terintegrasi dalam kurikulum, Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo memiliki “Arahan Pendidikan pada Fase Dasar dan Menengah Di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo” yang ditulis oleh pemilik yayasan, diketahui oleh kepala sekolah dan fasilitator tetapi sekali lagi arahan tersebut secara formal tidak menjadi patokan penanaman pendidikan karakter di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo. Bagi pihak sekolah, pendidikan karakter itu tidak bisa direncanakan tetapi secara fitrah atau secara alamiah muncul di dalam diri individu yang tidak bisa dipaksakan dan sifatnya berbeda-beda.

Berdasarkan hasil penelitian mengenai perencanaan pendidikan karakter di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo, walaupun tanpa perencanaan khusus atau secara formal dibahas dalam forum beberapa pihak, ditemukan fakta menarik mengenai karakter-karakter yang muncul dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan di SD SABS. Fakta tersebut membuktikan bahwa nilai karakter tidak hanya dapat direncanakan saja tetapi diwujudkan dalam berperilaku dan bersikap, sehingga terjadi perubahan mental yang kuat untuk meneruskan peradaban.

2. Pelaksanaan Pendidikan Karakter Di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo

Implementasi budaya sekolah berbasis karakter di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo mengacu pada kurikulum spider web yang didalamnya terdapat kurikulum khusus yaitu kurikulum akhlak, kurikulum pengetahuan, kurikulum kepemimpinan dan kurikulum kewirausahaan yang diimplementasikan melalui

126

program, kegiatan atau proyek sesuai dengan tema masing-masing kelas. Di Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo, peserta didik dibebaskan bereksplorasi, bereksperimen, berekspresi tanpa dibatasi sekat dinding dan berbagai aturan yang mengekang rasa ingin tahu mereka, yang membatasi interaksi mereka dengan kehidupan yang sebenarnya, yang membuat mereka berjarak dan tak akrab dengan alam lingkungan. Sekolah Dasar Alam Bengawan Solo berbasis pembelajaran di luar kelas yang berarti langsung memanfaatkan alam sebagai objek pembelajaran. Sekolah yang berbasis kelas alam dan menggunakan alam sebagai media dan sumber belajar serta segala kegiatan belajar dikonsep secara alam, peserta didik di SD SABS dibebaskan menjadi diri mereka dan mengembangkan potensi dirinya untuk tumbuh menjadi manusia yang berkarakter, berakhlak mulia, berwawasan ilmu pengetahuan, mandiri dan siap menjadi pemimpin sesuai dengan hakikat penciptaan manusia untuk menjadi pemimpin di muka bumi. Sekolah yang berbasis karakter dengan kelas alam natural sebagai sarana penyampaiannya sesuai yang diungkapkan oleh Kurniawan. H (2016: 29).

Pelaksanaan penanaman nilai karakter yang terintegrasi dengan program sekolah tersebut dibantu oleh semua pihak yaitu fasilitator, kepala sekolah, pemilik yayasan, orang tua/ wali maupun peserta didik. Berdasarkan aspek-aspek pendukung tersebut munculah enam nilai karakter yang telah membudaya atau dibiasakan oleh pihak sekolah. Enam nilai karakter yang membudaya tersebut yaitu nilai religius, kreatif, mandiri, rasa ingin tahu, bersahabat/ komunikatif dan nilai peduli lingkungan disesuaikan dan diseleksi berdasarkan indikator keberhasilan

Dokumen terkait