BUDAYA BERWISATA
5.1 Budaya Traveling Masyarakat Jepang
B
udaya bepergian (tabi no bunka) dalam masyarakat Jepangsecara geneaologi sudah dikenal semenjak jaman Edo (1600-1868). Tabi no bunka terbentuk dari budaya bepergian untuk berziarah (sankei). Pemerintah Tokugawa melarang adanya kegiatan berwisata untuk kesenangan (pleasure). Pembatasan ini sangat erat dengan ajaran Kongfucu dan alasan pemerintah Tokugawa untuk menanamkan kedisiplinan dan mengharuskan masyarakat tinggal di rumah dan mengerjakan sawah mereka sebagai sumber pemasukan pajak bagi pemerintahan Shogun Tokugawa (Tokuhisa, 1980).
Pada tahun 1721 pemerintah Tokugawa mengeluarkan aturan adminitrasi sivil yang menyatakan bahwa tidak ada seorangpun dari kelas masyarakat samurai (bushi), petani (noumin), dan pedagang (shonin) boleh bepergian tanpa alasan yang pasti (Kanzaki, 1992:67).
Kebijakan pemerintah Tokugawa yang melarang kegiatan wisata untuk bersenang-senang menyebabkan satu-satunya alasan bagi masyarakat umum untuk bepergian adalah berziarah. Namun banyak diantara mereka yang menggunakan alasan formalitas untuk berziarah (tatemae), padahal sesungguhnya ada alasan yang sebenarnya (honne) dari perjalanan mereka, selain untuk berziarah mereka juga menikmati kesenangan (pleasure) dan waktu luang (leisure) untuk mengunjungi berbagai tempat di Jepang. Peraturan pembatasan ini memegang peranan penting dalam proses sekularisasi kegiatan ziarah, sehingga menjadi alasan pembenaran bagi kegiatan berwisata untuk kesenangan (pleasure).
Pemerintah Shogun Tokugawa membangun pos-pos pemeriksaan (sekisho) dan tempat-tempat pemberhentian (shukuba) di lima jalan utama yang menghubungkan Edo (Tokyo) dengan kota-kota di sekitarnya. Pembangunan pos-pos pemeriksaan ini bertujuan untuk memantau perjalanan para
Daimyo yang melakukan kewajiban untuk pulang pergi dari
wilayah kekuasaan mereka, juga harus memberikan laporan kepada Shogun, dan menjenguk keluarga mereka di Edo setiap tahun (Vaporis, 1994:99). Selain itu, untuk kepentingan militer pemerintah Shogun Tukugawa (Bakufu) juga medirikan pos-pos pemeriksaan di berbagai daerah untuk memeriksa orang-orang yang bepergian.
Untuk mengangkut barang-barang komoditas dari satu pulau ke pulau lainnya, pemerintah Bakufu menggunakan kapal laut, sehingga jalur pelayaran semakin berkembang (Hoka,1991). Untuk melewati pos pemeriksaan diperlukan ijin bepergian, yaitu
sekisho tegata (ijin transit) dan ourai tegata (semacam passport). Sekisho tegata merupakan alat pengenal untuk bisa melewati
pos pemeriksaan.
Ijin transit dikeluarkan oleh pemerintah Bakufu dan umumnya berlaku untuk melewati pos-pos tertentu saja. Ourei
tegata dikeluarkan oleh pemerintah daerah setempat atau
kuil-kuil setempat untuk tujuan ziarah dan berdagang dan bisa digunakan untuk melewati beberapa pos pemeriksaan dalam kurun waktu tertentu.
Kegiatan wisata ziarah pada zaman Edo berkembang berkat pembangunan infrastruktur lima jalan utama (gokaido) yang menghubungkan kota Edo (Tokyo) dengan wilayah-wilayah lainnya di Jepang, seperti Kyoto, Osaka dan Nara. Juga penerapan politik Sankin Kotae yang mengharuskan para Daimyo untuk melakukan perjalanan panjang dari wilayah kekuasaannya ke kota Edo setahun sekali.
Kuil Ize menjadi tujuan utama dari kegiatan wisata ziarah dan tercatat sekitar 3.620.000 peziarah yang mengunjungi kuil ini
Pengantar Pariwisata Internasional
pada tahun 1705. Banyak dibangun kota-kota dan tempat-tempat hiburan di dekat tempat ziarah. Monzen Machi adalah kota-kota di depan gerbang kuil yang menawarkan akomodasi, makanan, pembelian oleh-oleh, dan wanita penghibur (geisha) dan tempat-tempat hiburan (Ashi-Araiba). Kawasan ini menjadi cikal bakal dari industri pariwisata di Jepang. Para peziarah menggunakan alasan berziarah ke kuil dan menghabiskan sebagain besar waktu perjalanan mereka di tempat hiburan. (Kato,1994:34).
Nilai-nilai budaya tabi no bunka yang menjadi karakteris-tik berwisata orang Jepang antara lain:
(1) Nilai kolektivitas (shuudan shuugi). Budaya ziarah pada zaman Edo dilakukan melalui sistem kou (kelompok keagaamaan) dari suatu desa (mura) tertentu. Anggota-anggota dari kou menyumbangkan uang dan memilih beberapa dari anggota kelompok mereka yang akan pergi untuk mewakili kelompoknya. Perjalanan yang diatur secara berkelompok ini menyebabkan perwakilan kelompok akan bisa bepergian bersama dengan orang-orang dari kelompok keagamaan dari desa-desa lainnya (Vaporis, 1995). Hal ini membentuk budaya kolektif yang kuat ketika bepergian ziarah. Selain itu, bepergian secara berkelompok bertujuan untuk membangun keharmonisan dalam budaya kolektivitas (Nakane, 1974).
Juga dalam nilai-nilai kelompok ini ditekankan
hubungan secara hierarki (vertikal) berdasarkan senioritas menurut usia, status dan kedudukan anggota kelompok. Hubungan atasan-bawahan (jouge-kankei) bertujuan untuk menjaga keharmonisan dalam kelompok. Adanya perasaan hubungan hierarki yang kuat dapat mencegah individu untuk menonjolkan dirinya sendiri, sehingga keseimbangan atau keharmonisan kelompok tidak terganggu. Perjalanan secara kelompok dapat mengurangi rasa kekawatiran akan kendala-kendala yang muncul dalam wisata ziarah.
Tabi no bunka yang terbentuk dari budaya
berziarah berperan dalam membentuk nilai-nilai budaya bepergian wisatawan Jepang, seperti shuudan ryokou
group travel (bepergian secara berkelompok), miyage
(oleh-oleh), dan kinen (kenang-kenangan). Kegiatan perjalanan wisata (tabi) apabila dilakukan secara individu maka akan mengalami banyak tantangan dan hambatan, sebagaimana diungkapkan dalam pribahasa Jepang “tabi
wa ureimono tsuraimono”(perjalanan itu hal yang pahit
dan mengkawatirkan), sehingga memerlukan teman atau kelompok yang bisa diajak bertukar pendapat (tabi wa
michizure) (Lagana, 1980:123-124).
Bepergian secara berkelompok akan dapat
menjadi penciri identitas kelompok keagamaan, menjamin rasa aman (secure) dan mengurangi keterkejutan secara budaya (cultural shock), ketika berhadapan dengan lingkungan tadisi, budaya yang baru. Nilai keamanan (raku atau anshin) secara psikologis menjadi faktor pendorong (push factor) untuk mendapatkan kepuasan dalam hal pelayanan dan keamanan ketika melakukan perjananan ziarah. Nilai kemanan (anshin) juga dapat menghidari diri dari ketidaknyamanan karena hambatan-hambatan dalam kemampuan berkomunikasi.
Perjalanan secara berkelompok juga
men-cerminkan karakteristik bepergian orang Jepang yang cendrung memiliki indeks untuk menghindari risiko yang tidak pasti (uncertainty avoidance index/UAI). Masyarakat dengan UAI yang tinggi cenderung merasa cemas dalam situasi yang mereka anggap tidak pasti/jelas dan tidak dapat diprediksi. Orang Jepang menganggap situasi seperti ini sebagai salah satu hambatan atau tantangan yang harus diatasi ketika bepergian.
Hal ini menyebabkan masyarakat dengan UAI
Pengantar Pariwisata Internasional
kom petisi, terkendali secara emosional, memperlihatkan nasionalisme dan kecurigaan terhadap orang asing dan menolak kelakuan aneh dan pemikiran asing yang dianggap mengancam dan berbahaya (Reisinger, 2009:139).
(2) Nilai ketergantungan (amae). Amae adalah perasaan ketergantungan menjadi faktor kunci dalam membina keberhasilan dalam hubungan interpersonal (ningen
kankei) dalam masyarakat Jepang. Amae berasal dari
kata kerja amaeru yang berarti tergantung dan menerima kebaikan dari seseorang (Doi, 1974). Dalam masyarakat Jepang yang menekankan pada paham koletivitas kelompok (shuudan shuugi), maka nilai budaya amae sangat ditekankan dalam membina hubungan dengan orang lain. Hal ini sangat berbeda dengan masyarakat Barat yang menakankan pada paham individual (kojinshuugi). Nilai amae sudah ditanamkan sejak kecil, baik dalam lingkungan keluarga maupun pendidikan usia dini. Para orang tua di Jepang mendukung perasaan ketergantungan dan rasa manja anak terhadap ibunya (Lebra dan Lebra, 1974:98).
Nilai amae dalam kontek pariwisata tercermin
dalam harapan budaya (cultural expectation) dari wisatawan Jepang tentang pentingnya perhatian dan pelayanan yang konsisten untuk menumbuhkan kepercayaan dan rasa ketergantungan. Nilai-nilai ini terbentuk dalam budaya ziarah dimana persiapan ziarah dilakukan oleh perwakilan desa. Perjalanan secara berkelompok diatur oleh Oshi (pendeta kelas bawah) yang terhubung dengan tempat-tempat keagamaan (Kanzaki, 1995:44).
Para pandeta ini mengatur segala persiapan
dari mengatur rute dari desa-desa ke kuil tertentu, panduan sepanjang perjalanan, pemesanan penginapan,
persembahyangan di kuil, penyediaan hiburan sampai penginapan. Peran Oshi pada waktu itu dapat disamakan dengan peran travel agent saat ini.
(3) Nilai giri, omiyage dan kinen. Giri merupakan nilai yang timbul dalam budaya kolektivitas masyarakat Jepang yang bertujuan untuk menjaga keharmonisan kelompok.
Giri berarti kewajiban sosial dan kekuatan aturan yang
berperan untuk menjaga keberlangsungan institusi sosial dalam budaya kolektif. Giri menjadi dorongan moral untuk melakukan kewajiban terhadap anggota kelompok yang lainnya.
Pemberian hadiah (omiyage) merupakan
suatu bentuk penerapan dari nilai budaya giri. Budaya pemberian hadiah timbul dari tradisi perjalanan ziarah. Para peziarah dari suatu desa atau kelompok bepergian untuk mewakili desa atau kelompoknya, maka mereka setelah kembali dari perjalanan ziarah akan membagi-bagikan hadiah (omiyage) kepada anggota kelompoknya.
Omiyage menjadi suatu atribut penanda dari suatu
destinasi (tempat ziarah) yang telah dikunjunginya seba-gai sebuah pengikat hubungan antara para peziarah dengan kelompok yang mereka tinggalkan ketika bepergian.
Hadiah berupa uang dan hadiah perpisahan
(senbetsu) masih diberikan kepada teman atau keluarga yang akan bepergian. Sebagai kewajiban moral maka mereka yang bepergian setelah kembali harus memberikan omiyage kepada semua orang yang sudah memberikan senbetsu (uang perjalanan). Pemberian
omiyage didasarkan pada prinsip-prinsip nilai budaya,
antara lain (a) hadiah tersebut merupakan simbol atau
souvenir yang diterima secara budaya dari tempat yang
dikunjungi; (b) hadiah tersebut bernilai setengah dari nilai senbentsu yang diberikan (Graburn,1987).
Pengantar Pariwisata Internasional
Konsep yang lahir dari tradisi memberikan
hadiah dari perjalanan ziarah ini berupa souvenir yang terkenal dan menjadi produk khusus dari suatu tempat ziarah yang disebut meibutsu. Biasanya produk-produk yang khas dan terkenal (meibutsu) ini tidak hanya berupa barang-barang kerajinan, tetapi juga berupa makanan atau daya tarik wisata khusus seperti kuil. Tempat ziarah yang sudah terkenal dan mempunyai daya tarik wisata yang khas disebut dengan meisho.
Budaya ziarah ini membentuk budaya travelling
orang Jepang ketika melakukan outbound, mereka akan membeli produk kerajinan yang khas (meibutsu) dari negara yang dikunjunginya. Konsep meisho dan meibutsu terkait serta dengan perilaku wisatawan Jepang dalam menentukan preferensi daerah tujuan wisata dan aktifitas yang akan dilakukan di daerah tujuan wisata. Konsep lain yang muncul dari budaya ziarah yang berkaitan dengan nilai budaya giri (kewajiban) dari peziarah terhadap kelompoknya adalah kinen (kenang-kenangan). Kinen menjadi sangat penting sebagai bukti diterima secara budaya bahwa seseorang sudah pergi ke tempat yang tepat dan melakukan aktifitas berziarah secara benar. (4) Nilai pengembangan diri (self-enhencement). Dalam
budaya Jepang yang dipengaruhi oleh ajaran Shinto, Budha dan Konfucu mengajarkan bahwa manusia terbentuk dari tubuh (body), jiwa (spirit) dan pikiran (mind) yang harus diberikan kesempatan untuk menemukan jati diri manusia sebagai individu dan sebagai mahluk sosial. Nilai individu sangat dihargai selama nilai-nilai tersebut tidak mengarah kepada keegoisan (gankou), dan tidak melanggar prinsip-prinsip keharmonisan dan nilai-nilai kolektif (shuudan shuugi) (Smith,1983:21).
Refleksi diri (self-reflection) dan pengembangan
kepribadian (self-esteem) dan membuat seseorang menjadi makhluk sosial yang lebih berharga untuk orang lain (esteem for others) (Reader, 1991:90).
Kemampuan untuk hidup dalam keharmonisan
dengan orang lain tanpa kehilangan nilai-nilai indi-vidualitasnya adalah kualitas yang paling diinginkan dalam masyarakat Jepang zaman modern (Hasegawa,1965:78). Perjalanan outbound ke luar negeri yang dilakukan oleh wisatawan Jepang menjadi salah satu cara untuk mencari identitas diri (self-identity) melalui kegiatan aktualisasi diri (self-actualization), kepuasan (satisfaction), pe-menuhan kebutuhan (needs), dan kebebasan dari kungkungan budaya Jepang yang bersifat sangat mengekang kebebasan individu.
(5) Nilai keharmonisan dengan alam semesta. Masyarakat Jepang sangat menekankan nilai-nilai keharmonisan dengan alam. Ajaran Shinto, Budha, dan Shugendo mengajarkan hubungan harmonis manusia dengan alam semesta. Ajaran Shinto mempunyai karakteristik sebagai agama primitif yang meyakini spirit yang bersemayam di benda-benda yang ada di sekitar alam, seperti gunung, sungai, laut, matahari dan kepercayaan terhadap kekuatan yang mengatur fenomena alam, seperti gunung meletus, angin topan, gempa bumi, tsunami dan lain-lain.
Oleh karena itu, tradisi Shinto menekankan
pemujaan dan penghormatan terhadap alam serta larangan terhadap ketidakmurnian. Selanjutnya agama Budha masuk ke Jepang pada abad ke-6 Masehi yang dibawa oleh imigran yang berasal dari semanjung Korea yang disebut Toraijin (Kikajin).
Ketika masuk ke Jepang, agama Budha mengalami
proses akulturasi dengan kepercayaan Shinto melahirkan kepercayaan Shinbutsu Shinko (percaya pada dewa-dewa Shinto dan percaya pada Budha/Hotokesama).
Pengantar Pariwisata Internasional
Shinkritisme antara Shinto dan Budha bisa dilihat dari keberadaan dua jenis altar di setiap rumah induk (honke) dalam keluarga Jepang. Kamidana adalah altar pemujaan untuk dewa-dewa Shinto dan Butsudan altar untuk memuja roh leluhur yang sudah mengalami proses penyucian melalui kremasi dan roh orang yang meninggal dipercaya sudah menyatu dengan Budha disebut
Hotokesama (Sendra, 2003: 32-38; Sendra 2008:30-47).
Kegiatan ziarah dan meditasi memberikan peluang untuk mendapatkan pemahaman tentang diri (self-cultivation) yang lebih mendalam mengenai tujuan kehidupan.
Sugendo merupakan ajaran yang menitikberatkan pada
praktek keagamaan pertapaan di gunung-gunung dan mengembangkan struktur keagamaan khusus yang dipengaruhi oleh Taoisme dan Shamanisme.
Gunung dihormati sebagai tempat suci dan
merupakan bagian dari dunia spiritual dan simbol dari alam semesta (Miyake, 1993). Taoisme adalah sistem filosofis dan kepercayaan Tiongkok yang meyakini manusia adalah bagian kecil dari kesatuan alam yang besar (makrokosmos) dan tunggal (Morris Suzuki dalam Watkins, 2006:176).
Inti dari doktrin ajaran Tao adalah hukum keseimbangan, ketenangan dan keharmonisan yang tetap melandasi alam semesta dan manusia. Dalam konteks pandangan keagamaan di Jepang, manusia tidak menentang alam atau sebagai objek yang harus ditaklukkan. Sebaliknya, manusia harus hidup dalam kesadaran dengan alam dan berusaha untuk menjaga tatanan dan keharmonisan dengan alam semesta.
Alam dapat dipercaya sepenuhnya dan mempunyai fungsi untuk menenangkan dan menyembuhkan (De Mooij dalam Watkins, 2006:97). Alam juga dipercaya mampu memberikan perasaan kepuasan pribadi melalui proses penemuan keindahan serta kesempatan keluar dari kekangan tradisi kehidupan
sehari-hari.
Kedekatan terhadap alam dalam wisata ziarah ditulis dalam berbagai karya sastra berupa buku catatan harian (nikki), seperti Tosa Nikki adalah catatan perjalanan wisata ziarah yang ditulis oleh seorang tokoh bernama Tosa melukiskan tentang keindahan alam, jalan-jalan yang dilalui dan penggambaran perasaan pengarang secara lugas dan indah.
Penekanan nilai keharmonisan dengan alam dalam budaya ziarah dan pandangan keagamaan di Jepang pada zaman Edo membentuk karakteristik dan prilaku wisatawan Jepang dalam memilih destinasi wisata dan produk wisata. Pemandangan alam dapat menjadi medium untuk terhubung dengan alam makrokosmos untuk kegeran tubuh (body), jiwa (spirit) dan
mind (pikiran). Preferensi tempat-tempat wisata yang dipilih
berkaitan dengan alam, sinar matahari untuk kebugaran, pantai dan laut untuk rileksasi, sumber mata air panas pegunungan (onzen) serta tempat-tempat yang berkaitan dengan tinggalan sejarah (historical site) serta kearifan budaya lokal (local genius) Ajaran Budha memandang bahwa segala sesuatu dalam hidup ini bersifat sementara (mujoukan) dan ikatan kesenangan duniawi menimbulkan penderitaan, sehingga mereka yang ingin mendapatkan kebebasan harus mendapatkan pemahaman yang jelas (pencerahan) mengenai penderitaan dan ketidakabadian (Suzuki, 2009). Wisata ziarah dan meditasi memberikan kesempatan untuk mendapatkan pemahaman mengenai tujuan hidup. Sugendo merupakan ajaran yang menitikberatkan praktek pertapaan di gunung-gunung yang mengembangkan struktur keagamaan yang khusus yang dipengaruhi oleh agama Budha, Taoisme, dan shamanisme (Miyake, 1993).