• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KUANTITATIF WISATAWAN ASIA

11.1 Analisis Kuantitatif Wisatawan Asia

11.1.2 Motivasi Wisatawan Asia Berkunjung ke Bali

Motivasi perjalanan sering disebut dengan motif orang melakukan perjalanan wisata. Dalam beberapa literatur sering menjadi dasar pertanyaan why people travel atau mengapa orang melakukan perjalanan. Penelitian motivasi perjalanan sudah banyak dilakukan dengan berbagai pendekatan diantaranya (Crompton, 1979; Dann, 1977; Pearce, 1982; Iso-Ahola,1982). Namun secara umum dapat digambarkan bahwa motivasi perjalanan wisata dapat dibagi menjadi dua bagian, faktor yang mendorong dan faktor yang menarik atau yang disebut dengan

push factors dan pull factors (Dann, 1977).

Sebuah penelitian yang dilakukan di Thailand menyebutkan ada 10 indikator yang memotivasi wisatawan memilih daerah tujuan wisata di Thailand karena: 1) Mendapat pengalaman baru di negara asing, 2) Makanan tradisional, 3) Relaksasi, 4) Belajar budaya baru, 5) Belajar sesuatu yang baru, 6) Pasar tradisional, 7) Menghindar dari rutinitas sehari hari,

dengan top ten (10) motivasi memilih Thailand (Yiamjanya dan Wongleedee, 2014).

Dalam penelitiannya menemukan 20 indikator (pull

motivation) yang mempengaruhi wisatawan berkunjung ke

Thailand, yaitu: (1). Pasar tradisional, (2). Cuaca yang baik, (3). Pantai dan pasir, (4).Tempat bersejarah, (5). Kuil Budha, (6). Pasar malam, (7). Banyaknya destinasi pariwisata, (8). Gunung dan air terjun, (9). Pasar terapung, (10) Makanan Thai, (11). Layanan yang baik, (12). Tidak mahal, (13). Festival Thai, (14). Spa dan masssage, (15). Shopping mall, (16). Kehidupan malam dan entertainment, (17). Souvenir dan kerajinan tangan, (18).

Meeting point, (19).Thai boxing, (20). Olahraga dan kompetisi

Adapun motivasi wisatawan Jepang dan Tiongkok yang berkunjung ke Bali dapat disajikan dalam item : (1) Frekwensi kunjungan, (2) Lama tinggal, (3) Tempat menginap, (4) Tempat makan, (5) Tempat belanja, (6) Jenis daya traik wisata yang dikunjungi, (7) Tujuan berkunjung. Selengkapnya disajikan pada Tabel 11.1.2.

Tabel 11.1.2. Motivasi Wisatawan Jepang dan Tiongkok

Items Jepang (%)Asal WisatawanTiongkok (%) Frekwensi Kunjungan (kali) Pertama kali 2-3 4-5 6-7 >7 34 24 2 2 19 64 14 10 12 0 Lama Tinggal (Hari)

1-3 4-6 7-9 10-12 >13 56 6 16 10 12 42 34 18 6 0

Tempat Menginap Hotel berbintang Hotel Melati Pndok Wisata Villa Rumah Keluarga 20 30 28 6 16 46 0 30 16 8 Tempat Makan Restoran hotel Restoran luar hotel Rumah Makan Cepat Saji

Cafe / Pub 28 28 34 10 36 38 18 8 Tempat Belanja

Toko Oleh Oleh Khas Bali Galeri Toko Buku Toko Perhiasan 26 30 40 4 74 6 14 6 Jenis Daya Tarik Wisata

Yang dikunjungi Pantai/Laut Pegunungan Sungai Air terjun Air Panas 32 30 4 6 28 58 16 8 8 10 Tujuan Berkunjung ke Bali Berlibur Religious/Spiritual Pendidikan/Penelitian Mengunjungi Pantai 60 10 6 6 76 4 0 8

Sumber: Hasil Penelitian 2018

Berdasarkan Tabel 11.1.2 dapat dijelaskan persentase frekuensi kunjungan kedua asal wisatawan ke dua negara adalah kunjungan pertamakali menduduki posisi tertinggi sebesar 34% untuk wisatawan asal Jepang dan 64% untuk wisatawan asal Tiongkok. Persentase frekuensi kunjungan berikutnya, yaitu kunjungan ke-2 dan ke-3 adalah 24% untuk wisatawan Jepang dan 14% untuk wisatawan Tiongkok. Untuk kunjungan ke-4 sampai ke-5 kalinya, wisatawan Jepang 2% dan wisatawan Tiongkok 10%.

dan wisatawan Tiongkok 12%. Wisatawan asal Jepang memiliki frekuensi kunjungan lebih dari 7 kali sebanyak 19%, sedangkan wisatawan Tiongkok 0%.

Frekwensi kunjungan tertinggi untuk wisatawan Tiongkok adalah 5-7 kali sebesar 12%; sedangkan untuk wisatawan Jepang frekuensi kunjungan tertinggi lebih dari 7 kali sebesar 19%. Dengan membandingkan frekuensi kunjungan terbesar lebih dari 7 kali dan prosentase jumlah kunjungan terbesar, yaitu kunjungan pertama kali, maka dapat disimpulkan bahwa kunjungan wisatawan Tiongkok ke Bali yang menduduki ranking I sejak tahun 2017 menjadi “new generating market” bagi Bali khususnya dan Indonesia umumnya; sedangkan wisatawan Jepang sampai melakukan kunjungan lebih dari 7 kali menunjukkan bahwa, wisatawan Jepang sangat loyal untuk berkunjung ke Bali yang menjadikan Bali sebagai “the spiritual

homeland” (Yamashita, 2006).

Untuk lama tinggal di Bali, wisatawan yang berasal dari kedua negara memiliki persentase yang berbeda. Persentase lama tinggal untuk wisatawan asal Jepang adalah 1-3 hari (56%) dan Wisatawan asal Tiongkok sebanyak 42%. Lama tinggal 4-6 hari wisatawan Jepang (6%), wisatawan Tiongkok 34%. Lama tinggal 7-9 hari wisatawan Jepang (16%) dan wisatawan Tiongkok (18%).

Untuk lama tinggal 10-12 hari wisatawan Jepang (10%) dan wisatawan Tiongkok (6%). Lama tinggal lebih dari 13 hari wisatawan Jepang (12%) dan wisawan Tiongkok (0%). Dari sebaran komparasi data ini dapat disimpulkan bahwa, wisatawan Jepang dengan karakteristik wisatawan Asia yang bersifat psikosentrik, memiliki preferensi untuk mengunjungi daya tarik wisata yang karakteristiknya mirip dengan yang ada di negaranya menjadi push dan pull faktor menumbuhkan intrinsic motivation dan extrinsic motivation.

budaya yang dimiliki oleh Jepang dan Bali yang mencitrakan Bali sebagai destinasi “the island of Gods” (Kamigami no Shima); persamaan dalam hal konsep pemujaan leluhur (sosen suuhai); persamaan unsur-unsur agama Shinto dan Budha yang disebut dengan Shinbutsu Shinko yang hampir mirip dengan akulturasi agama Hindhu dan Budha di Bali sehingga menjadi faktor yang mempengaruhi loyalitas berkunjung ke Bali yang lebih besar daripada wisatawan Tiongkok.

Berdasarkan tempat menginap wisatawan asal Jepang hotel berbintang (20%), wisatawan Tiongkok (46%); hotel melati untuk wisatawan Jepang (30%), wisatawan Tiongkok (0%); pondok wisata untuk wisatawan Jepang (28%), wisatawan Tiongkok 30%, menginap di Villa untuk wisatawan Jepang (6%) dan wisatawan Tiongkok (16%); untuk menginap di rumah keluarga untuk wisatawan Jepang 16% dan wisatawan Tiongkok 8%. Dari sebaran data tersebut dapat disimpulkan, bahwa wisatawan Tiongkok memiliki kemampuan ekonomi yang lebih tinggi untuk menginap di hotel berbintang daripada wisatawan Jepang.

Hal ini bisa dipahami mengingat Jepang saat ini sedang mengalami tingkat pertumbuhan ekonomi yang melambat karena permasalahan struktur demografi populasi jumlah penduduk tua yang jauh lebih banyak daripada jumlah penduduk muda yang disebut dengan graying society (koureikashakai). Fakta yang menarik juga untuk diungkapkan bahwa, terdapat jumlah wisatawan Jepang dan Tiongkok yang menginap di rumah keluarga mereka ketika ke Bali. Keluarga dalam hal ini terbentuk karena adanya proses perkawinan antara wisatawan yang umumnya wanita Jepang dengan laki-laki Bali dan mereka ini tergabung dalam organisasi yang disebut dengan Japan Club (Nihonjinkai).

Jadi, wisatawan Jepang yang berkunjung ke Bali mereka bertamasya sambil mengunjungi sanak keluarga mereka yang sudah menikah dengan masyarakat lokal, sedangkan untuk

berasal dari satu garis marga (nama keluarga) yang sama ketika mereka berkunjung ke Bali.

Sekarang di Bali terdapat banyak perkumpulan etnisitas orang-orang Tiongkok yang berasal dari suku yang sama, seperti perkumpulan etnis Hakka yang sudah tinggal di Bali berasal dari 4 sampai 5 generasi yang berasal dari Provinsi Fujian di Tiongkok bagian selatan (Southern Tiongkok). Mereka ini melakukan diaspora karena alasan untuk mencari kehidupan yang lebih bagus daripada di negerinya melalui hubungan perdagangan (ekonomi) dan juga proses politik.

Dari data sejarah tercatat bahwa pada abad ke-13 kaisar Tiongkok (Yuan) yang Khu Bilai Khan (cucu dari Jenghis Khan) pernah mengirimkan pasukan ke tanah Jawa untuk menghukum Raja Singasari yang bernama Kertanegara karena telah melakukan penghinaan terhadap utusan dari Tiongkok yang bernama Meng Xi yang dikirim ke Jawa untuk memaksa Raja Singasari tunduk kepada Kaisar Tiongkok. Adapun tentara yang dikirim berasal dari suku Hakka di Provinsi Fujian.

Berdasarkan tempat makan dan minum yang disukai adalah restoran yang ada di hotel wisatawan Jepang (28%), wisatawan Tiongkok (36%); restoran di luar hotel untuk wisatawan Jepang (28%), untuk wisatawan Tiongkok (38%), tempat makan cepat saji untuk wisatawan Jepang (34%) wisatawan Tiongkok (18%); untuk tempat makan di café/pub untuk wisatawan Jepang (10%) dan wisatawan Tiongkok (8%).

Berdasarkan data tersebut di atas, dapat dijelaskan bahwa wisatawan Tiongkok preferensi makan di restoran hotel karena pelayanan untuk makan menjadi satu paket (include) di dalam harga kamar (all inclusive); dan rata-rata restoran hotel menyediakan Chinese Food, sedangkan wisatawan Jepang memiliki selera makan yang bersifat eksklusif untuk makan masakan Jepang yang jarang disediakan di hotel. Rata-rata wisatawan Tiongkok melakukan perjalanan karena termotivasi

oleh perjalanan wisata murah (low-cost travelling).

Wisatawan Jepang lebih banyak untuk memilih makanan cepat saji karena mereka ingin menghemat waktu untuk memenuhi tuntutan jadwal acara (itinerary) yang sangat padat. Rata-rata kunjungan wisatawan Jepang ke Bali 2-3 hari, mereka harus cepat-cepat kembali ke negaranya untuk tuntutan kerja di perusahaan. Demikian pula wisatawan Jepang memiliki preferensi yang lebih banyak untuk tempat makan di café/pub karena mereka terutama anak-anak muda sangat menyukai kehidupan malam.

Apabila dilihat dari tempat belanja, kedua asal wisatawan tersebut tempat belanja yang berbeda. Wisatawan Jepang membelanjakan uangnya di toko oleh-oleh khas Bali (26%), wisatawan Tiongkok (74%). Berbelanja di galeri wisatawan Jepang (30%), wisatawan Tiongkok (6%). Berbelanja di toko buku untuk wisatawan Jepang (40%), wisatawan Tiongkok 14%. Berbelanja di toko perhiasan untuk wisatawan Jepang (4%) dan wisatawan Tiongkok (6%).

Jika dilihat dari sebaran data tersebut di atas, terlihat bahwa wisatawan Tiongkok lebih banyak menghabiskan uangnya untuk oleh-oleh di toko oleh-oleh khas Bali. Hal ini disebabkan oleh adanya kerja sama yang dilakukan oleh pengusaha-pengusaha travel agent dari Tiongkok yang bekerja sama dengan sentra toko oleh-oleh khas Bali dengan memberikan bantuan modal kepada pengusaha toko oleh-oleh di Bali. Mereka diikat oleh adanya perjanjian antara kedua belah pihak, antara lain isinya menyatakan bahwa pengusaha travel agent Tiongkok yang wisatawannya berbelanja di toko oleh-oleh di Bali pembayarannya dengan sistem barkot (e-money), sehingga hal ini berimplikasi terjadinya kebocoran (leakage) devisa pariwisata yang se-harusnya masuk ke Bali (Indonesia) masuk (beredar) kembali ke Tiongkok.

Sedangkan wisatawan Jepang memiliki preferensi mem-beli oleh-oleh khas Bali yang berkualitas bagus (meibutsu)

dilihat dari minat baca, wisatawan Jepang memiliki budaya baca (literally culture) yang lebih tinggi dari wisatawan Tiongkok, sehingga ketika mereka bepergian pasti menyempatkan diri untuk membeli buku-buku yang terkait dengan tradisi dan budaya masyarakat yang dikunjungi, mempelajari bahasa praktis yang dipakai ketika berwisata, seperti bagaimana memberikan

greeting, memperkenalkan diri, menunjukkan paspor, tujuan

bepergian (ikisaki), berbelanja dan menawar di toko oleh-oleh, menukar uang, memesan taxi, mohon bantuan, pemesanan makanan/minuman, menanyakan jalan, meminta informasi, menonton pertunjukkan, dan lain-lain (Bataone et al., 1996; 1998; 2002).

Wisatawan Jepang memiliki karakteristik tingkat penghindaran risiko bepergian yang tinggi (High Avoidance

Index), sehingga untuk mengatasi kekawatiran yang disebabkan

oleh kelemahan kemampuan berbahasa Inggris, mereka mencari buku-buku panduan praktis travelling yang umumnya sudah ditulis dengan menggunakan sistem bilingual, yaitu bahasa Inggris-Jepang atau bahasa Indonesia-Jepang. Rata-rata buku panduan ini diimport dari Jepang oleh toko-toko buku, seperti Periplus yang ada di Bandara, supermarket terkenal di Bali, seperti Carefour, Duty Free Shop, toko buku Gramedia dan lain-lain.

Jika dilihat dari daya tarik wisata yang dikunjungi maka wisatawan Jepang tertarik untuk mengunjungi pantai (laut) (32%) untuk wisatawan Tiongkok (58%); daya tarik wisata pegunungan untuk wisatawan Jepang (30%) wisatawan Tiongkok (16%); daya tarik wisata sungai untuk wisatawan Jepang (4%) wisatawan Tiongkok (8%). Daya tarik wisata air terjun untuk wisatawan Jepang (6%) wisatawan Tiongkok (8%), sedangkan untuk daya tarik wisata air panas untuk wisatawan Jepang (28%) dan wisatawan Tiongkok (10%).

Berdasarkan sebaran data di atas, terlihat bahwa wisatawan Jepang memiliki preferensi untuk mengunjungi pegunungan terutama yang memiliki sumber air panas (onzen) yang memiliki kandungan zat belerang untuk treatmen kesehatan dan kebugaran tubuh. Tradisi untuk berendam di air hangat pegunungan sudah menjadi bagian dari tradisi ziarah di Jepang sejak zaman Edo (1603-1868) untuk mengunjungi kuil-kuil Shinto dan kelenteng Budha yang ada di pegunungan.

Di dekat kuil tersebut sudah disediakan tempat-tempat penginapan bagi para peziarah dilengkapi dengan tempat berendam air hangat pegunungan yang mengandung belerang, sehingga mereka yang pulang dari perjalanan ziarah akan bisa mengembalikan kebugaran tubuh dan peningkatan pengetahuan dan pengalaman religius (ultimate experience) mereka. Di lain pihak, wisatawan Tiongkok memiliki preferensi yang lebih besar untuk mengunjungi daya tawik wisata pantai daripada pegunungan.

Hal ini disebabkan oleh semakin tercemarnya pantai pantai di Tiongkok karena pembangunan industri dan pabrik-pabrik yang mengalirkan limbah berbahaya untuk kesehatan tubuh manusia. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada daya tarik wisata, seperti Sanur, Tanah Lot, dan Uluwatu menunjukkan kunjungan wisatawan Tiongkok yang sangat tinggi dibandingkan wisatawan Jepang dan dari negara lainnya.

Dilihat dari persentase tujuan mereka berkunjung ke Bali, didominasi oleh tujuan berlibur sebesar 60% untuk wisatawan asal Jepang dan 75% untuk wisatawan asal Tiongkok. Untuk tujuan religius atau spiritual wisatawan Jepang (10%), wisatawan Tiongkok (4%). Tujuan pendidikan atau penelitian untuk wisatawan Jepang (6%) dan wisatawan Tiongkok (0%). Mengunjungi pantai untuk wisatawan Jepang (6%) dan wisatawan Tiongkok (8%).

Jika dicermati data tersebut di atas, terdapat ke cen-derungan bahwa tujuan kunjungan mereka ke Bali sebagian

pencitraan (image) Pulau Bali sebagai destinasi pulau seribu pura (the island of thousand temples), pulau para dewa (the island of

Gods), dan sebagai sorga terakhir perjalanan hidup manusia (the last paradise). Untaian semiotika bahasa dan budaya ini, mampu

menjadi faktor penarik (pull factors/extrinsic motivation), Selain juga adanya faktor pendorong (push factor/

intrinsic motivation), yaitu suasana kerja yang menuntut

kinerja (performance) tinggi dalam menghadapi persaingan dalam era globalisasi antara negara-negara industri maju yang mengkondisikan manusia bekerja seperti robot yang menghasilkan budaya maniak kerja (workhaholic). Destinasi Bali menyediakan paket-paket wisata minat khusus (special interest) yang menawarkan pengalaman kontemplasi berpetualang dalam dunia spiritual (ultimate experience) bagi wisatawan minat khusus (niche tourists), seperti di Ubud di sepanjang DAS sungai Pakerisan, di pinggir sawah, tebing, ceruk-ceruk pertapaan (goa-goa) dari tinggalan sejarah Bali kuno, seperti Gunung Kawi, Tirta Empul, Pura Mengening, situs Pura Pengukur Ukuran, pagoda Budha di Desa Tatiapi, dan Gowa Gajah dengan situs tinggalan candi Hindu dan Budha.

Di Jepang, terdapat kuil yang bernama Kyoumizudera yang berasal dari kata kyoumeru yang artinya penyucian spirit (purify), mizu artinya air dan tera (dera) artinya kuil (pura). Jadi, kuil ini memiliki fungsi untuk melakukan pembersihan yang dilakukan oleh para shinkan (pendeta Shinto), obousan (pendeta Budha) dan masyarakat Jepang yang masih mempercayai adat dan tradisi lama.

Fungsi kuil yang serupa juga ada di kabupaten Gianyar, yaitu Pura Tirta Empul, sehingga pura ini banyak diminati sebagai ikon wisata spiritual oleh wisatawan Jepang dan mancanegara lainnya. Bagi wisatawan Jepang, menjadikan Ubud sebagai des-tinasi the spiritual homeland yang banyak memiliki kesamaan dengan Jepang masa lalu yaitu pada zaman Edo.

Jepang tercabut dari akar-akar agama dan spiritual mereka semenjak zaman Meiji (1868-1912), ketika masuknya rasionalisme Barat dan diperparah lagi dengan diberlakukannya UUD 1946 yang draft penyusunannya diawasi oleh tentara pendudukan Amerika setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia ke-2. Di dalam UUD tersebut disebutkan bahwa negara dan lembaga-lembaga kekaisaran tidak boleh mencampurkan urusan agama (spiritualitas) dan pelaksanaan tradisi/budaya oleh masyarakat Jepang. Masyarakat Jepang diberikan kebebasan untuk memeluk agama atau bahkan tidak menganut agama sama sekali, namun mereka bukan atheis.

11.2 Rangkuman

Semakin tinggi pekerjaan mempengaruhi keinginan un-tuk bepergian karena mereka memiliki uang dan juga kesempa-tan yang diberikan oleh perusahan dalam bentuk perjalanan insentif (insentive traveling). Secara umum dapat digambarkan bahwa motivasi perjalanan wisata dapat dibagi menjadi dua bagian, faktor yang mendorong dan faktor yang menarik atau yang disebut dengan push factors dan pull factors

Sebuah penelitian yang dilakukan di Thailand menyebutkan ada 10 indikator yang memotivasi wisatawan memilih daerah tujuan wisata di Thailand karena: 1) Mendapat pengalaman baru di negara asing, 2) Makanan tradisional, 3) Relaksasi, 4) Belajar budaya baru, 5) Belajar sesuatu yang baru, 6) Pasar tradisional, 7) Menghindar dari rutinitas sehari hari, 8) Petualangan, 9) Cuaca, 10) Menikmati aktifitas yang disebut dengan top ten (10) motivasi memilih Thailand.

Dua puluh indikator (pull motivation) yang memengaruhi wisatawan berkunjung ke Thailand, yaitu: 1). Pasar tradisional, 2). Cuaca yang baik,3). Pantai dan pasir,4).Tempat bersejarah,5). Kuil Budha, 6) Pasar malam,7) Banyaknya destinasi pariwisata, 8) Gunung dan air terjun, 9) Pasar terapung, 10) Makanan Thai, 11).Layanan yang baik, 12).Tidak mahal, 13).Festival Thai, 14).

entertainment, 17) Souvenir dan kerajinan tangan, 18).Meeting point, 19).Thai boxing, 20). Olahraga dan kompetisi

Motivasi wisatawan Jepang dan Tiongkok yang berkunjung ke Bali dapat disajikan dalam item : 1) Frekwensi kunjungan, 2) Lama tinggal, 3) Tempat menginap,4) Tempat makan, 5) Tempat belanja, 6) Jenis daya traik wisata yang dikunjungi, 7) Tujuan berkunjung.

Persamaan tradisi dan budaya yang dimiliki oleh Jepang dan Bali yang mencitrakan Bali sebagai destinasi “the island

of Gods” (Kamigami no Shima); persamaan dalam hal konsep

pemujaan leluhur (sosen suuhai); persamaan unsur-unsur agama Shinto dan Budha yang disebut dengan Shinbutsu Shinko yang hampir mirip dengan akulturasi agama Hindhu dan Budha di Bali sehingga menjadi faktor yang mempengaruhi loyalitas berkunjung ke Bali yang lebih besar daripada wisatawan Tiongkok.

11.3 TUGAS

1) Carilah persamaan budaya Jepang-Bali dan Tiongkok-Bali ! 2) Diskusikan bagaimana membuat paket wisata untuk

BAB XII