PENGANTAR
PARIWISATA
INTERNASIONAL
CAKRA MEDIA UTAMA
2019
I Made Sendra
I Nyoman Sudiarta
Yohanes Kristianto
Ni Made Oka Karini
Penulis I Made Sendra I Nyoman Sudiarta Yohanes Kristianto Ni Made Oka Karini Ni Luh Supadmi
Pracetak Slamat Trisila
Penerbit
Cakra Media Utama
Jalan Diponegoro No. 256 Denpasar, Bali Ponsel: 081239937772 Posel: [email protected]
Bekerja sama dengan
Program Studi Industri Perjalanan Wisata Fakultas Pariwisata Universitas Udayana
Cetakan Pertama Maret 2019
KATA PENGANTAR
Buku Ajar Pengantar Pariwisata Internasional terdiri dari 12 bab merupakan buku ajar berbasis data empiris tren pariwisata di Bali. Buku ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan teoretis maupun praktis untuk mahasiswa yang mengambil mata kuliah Pariwisata Internasional pada Program Studi S1Industri Perjalanan Wisata, Program Studi S1 Destinasi Pariwisata, dan Program Studi DIV Pariwisata, Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana.
Setiap bab menyajikan (1) pengantar topik bahasan tiap bab, pembahasan topik yang disertai konsep dan teori yang terkait, (2) rangkuman tiap bab, untuk mempermudah mereview pembelajaran tiap bab, dan (3) tugas-tugas baik mandiri maupun kelompok sebagai alat evaluasi penguasaan materi yang baru dipelajari, sehingga pembelajar dapat mengenali kemajuan belajarnya.
Semoga buku Pengantar Pariwisata Internasional ini dapat memudahkan mahasiswa dalam mempelajari pariwisata sebagai ilmu.
Denpasar, Maret 2019 Penulis,
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ~ iii
BAB I SKETSA PARIWISATA ASIA ~ 1 1.1 Pengantar ~ 1
1.2 Sketsa Permasalahan Kepariwisataan ~ 3 1.3 Rangkuman ~ 6
1.4 Tugas ~ 7
BAB II KONSEP-KONSEP DASAR PARIWISATA INTERNASIONAL ~ 9
2.1 Motivasi Wisatawan ~ 9 2.2 Kebutuhan Wisatawan ~ 10 2.3 Motivasi Perjalanan Wisata ~ 12 2.4 Rangkuman ~ 17
2.5 Tugas Kelompok ~ 17
BAB III MOBILITAS WISATAWAN ~ 19
3.1 Faktor Penarik (Pull Factor) dan Faktor Pendorong (Push
Factor) ~ 19
3.2 Korelasi Motivasi, Perilaku, dan Kepuasan ~ 20 3.3 Psikografis Wisatawan ~ 22
3.4 Implikasi Tipologi Wisatawan terhadap Pengembangan Pariwisata ~ 23 3.5 Tipologi Wisatawan ~ 24 3.6 Teori-Teori Motivasi ~ 26 3.7 Karakteristik Wisatawan ~ 30 3.8 Rangkuman ~ 31 3.9 Tugas ~ 33
BAB IV KEPUASAN WISATAWAN ~ 35
4.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan ~ 35 4.2 Strategi Peningkatan Kepuasan Wisatawan ~ 37 4.3 Konsep-Konsep Kepuasan ~ 59
4.4 Atribut-Atribut Kepuasan ~ 40
4.5 Kepuasan dan Niat Berkunjung Kembali ~ 41 4.6 Rangkuman ~ 41
4.7 Tugas ~ 43
BAB V BUDAYA BERWISATA ~ 45
5.1 Budaya Traveling Masyarakat Jepang ~ 45 5.2 Budaya Travelling Wisatawan Tiongkok ~ 54 5.3 Rangkuman ~ 57
5.4 Tugas ~ 60
BAB VI WISATA OUTBOUND DI JEPANG DAN TIONGKOK ~ 61 6.1 Pertumbuhan Out-Bound Tourism di Jepang ~ 61
6.2 Pertumbuhan Out-Bound Tourism di Tiongkok ~ 63 6.3 Rangkuman ~ 65
6.4 Tugas ~ 66
BAB VII CITRA DAN PRODUK PARIWISATA ~ 67
7.1 Pembangunan Citra Bali Di Kalangan Wisatawan Jepang~ 67 7.2 Pembangunan Citra Bali di Kalangan Wisatawan Tiongkok~ 69 7.3 Produk Pariwisata (Tourism Product) ~ 71
7.4 Pentingnya Pencitraan dalam Tourism Product ~ 81 7.5 Rangkuman ~ 83
7.6 Tugas ~ 85
BAB VIII KARAKTERISTIK WISATAWAN ASIA ~ 87
8.1 Karakteristik Wisatawan Jepang yang Berkunjung ke Bali~ 87 8.2 Karakteristik Wisatawan Tiongkok yang Berkunjung Ke Bali
~ 91
8.3 Rangkuman ~ 93 8.4 Tugas ~ 94
9.1 Profil dan Citra Wisatawan Jepang yang Berkunjung Ke Bali ~ 95
9.2 Profil dan Citra Wisatawan Tiongkok yang Berkunjung Ke Bali ~ 96
9.3 Rangkuman ~ 99 9.4 Tugas ~ 100
BAB X MOTIVASI WISATAWAN ASIA ~ 101
10.1 Motivasi Bepergian Wisatawan Jepang ~ 101 10.2 Motivasi Bepergian Wisatawan Tiongkok ~ 103 10.3 Rangkuman ~ 109
10.4 Tugas ~ 110
BAB XI ANALISIS KUANTITATIF WISATAWAN ASIA ~ 111 11.1 Analisis Kuantitatif Wisatawan Asia ~ 111
11.2 Rangkuman ~ 123 11.3 Tugas ~ 124
BAB XII NIAT BERKUNJUNG KEMBALI ~ 125
12.1 Niat Berkunjung Kembali Wisatawan Jepang ~ 125 12.2 Niat Untuk Pindah Wisatawan Jepang ~ 126
12.3 Niat berkunjung Kembali Walau Harga Mahal ~ 127 12.4 Niat Merekomendasikan Wisatawan Jepang ~ 128 12.5 Niat Berkunjung Kembali Wisatawan Tiongkok ~ 131 12.6 Kepuasan Wisatawan Tiongkok di Bali ~ 142
12.7 Rangkuman ~ 144 12.8 Tugas ~ 145
DAFTAR PUSTAKA ~ 147 INDEKS ~ 155
BAB I
SKETSA PARIWISATA ASIA
1.1 Pengantar
P
ertumbuhan demografi di Tiongkok dengan jumlahpenduduk yang melakukan perjalanan outbound tourist terus meningkat untuk mendapatkan pengalaman yang baru dari perjalanan berwisata. The World Tourism Organization (WTO) (2013) memprediksi tahun 2020 ini akan ada sekitar 100 juta wisatawan Tiongkok yang akan bepergian ke luar negeri. (World Tourism Organization, 2003). Jumlah penduduk Tiongkok sampai tahun 2005 berjumlah 1. 299.880.000 (1,3 milyar) (Chinese Statistical Year Book, 2005).
Kesempatan warganegara Tiongkok untuk melakukan
outbound tour untuk tujuan leisure mengalami peningkatan
semenjak tahun 2005. Penduduk Tiongkok dengan pendapatan menengah dan tinggi (the middle and top income) semakin menyadari bahwa berwisata sudah menjadi kebutuhan dan hak asasi manusia (the birthright) (the World Travel and Tourism Council/WTTC, 2006:15) dan semakin banyak penduduk Tiongkok yang bepergian ke luar negeri (outbound trips) (China National Tourism Administration, 2006).Pertumbuhan ekonomi di Tiongkok menjadi salah satu faktor yang mendorong penduduk Tiongkok dari kelas borjuis menengah (burgeoning middle class) untuk melakukan perjalanan ke luar negeri (outboundtrip) (China National Tourist Administration, 2006).
Untuk mendorong pertumbuhan outboudtrip, sejak tahun 1983, pemerintah Tiongkok memberikan kelonggaran terhadap larangan untuk melakukan perjalanan ke luar negeri dengan mengeluarkan aturan Approval Destination Status (ADS) yang dijadikan sebagai pedoman untuk mengijinkan warganegara Tiongkok untuk berkunjung ke negara-negara yang
diijinkan dalam bentuk paket perjalanan allinclusive package
tour. Menjelang akhir tahun 2008, pemerintah Tiongkok telah
menyetujui 92 negara untuk dikunjungi dalam kerangkan ADS (status negara-negara yang boleh dikunjungi) termasuk Taiwan dan Amerika Serikat sebagai dua negara yang menjadi pesaing Tiongkok (http://www.cnta.gov.cn/zhuanti/cjy/index.asp).
Negara Tiongkok telah diakui sebagai salah satu negara utama penghasil wisatawan yang melakukan perjalanan ke luar negeri (emerging outbound tourism market) (WTTC, 2006) dan pada tahun 2017 terdapat 41 juta wisatawan Tiongkok yang melakukan outbound travel (Guo, Seongseop & Timothy, 2007; Yu & Weiler, 2001; Zhang, & Heung, 2002).
Jumlah kunjungan wisatawan merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengetahui sumbangan sektor pariwisata bagi pembangunan secara umum. Jumlah kunjungan yang mengalami peningkatan dapat dianggap berkontribisi positif sebaliknya jumlah kunjungan yang mengalami penurunan disinyalir berkontribusi negatif. Untuk itulah Menteri Pariwisata Republik Indonesia mengeluarkan salah satu kebijakan untuk mencapai target kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sebanyak 20 juta kunjungan, pada tahun 2020. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan adalah kebijakan bebas visa kunjungan bagi 30 negara di dunia.
Dengan kebijakan bebas visa, diharapkan adanya peningkatan jumlah kunjungan yang signifikan dari 9 juta wisatawan mancanegara yang berkunjung pada tahun 2014. Indonesia saat ini bersaing dengan dua negara terdekat Malaysia dan Thailand. Malaysia telah mendatangkan wisatawan mancanegara sebanyak 27, 4 juta wisatawan sedangkan Thailand menerima 24,8 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2014. Kebijakan bebas visa yang dikeluarkan oleh dua negara tersebut memberikan kemudahan kepada 56 negara yang berkunjung ke Thailand dan Malaysia memberikan bebas visa bagi 164 negara yang berkunjung ke negaranya. Dengan demikian, kebijakan
Pengantar Pariwisata Internasional
bebas visa dapat menjadi strategi yang tepat untuk meningkatkan kunjungan wisatawan (Republika.co.id, Jakarta, 2015).
1.2 Sketsa Permasalahan Kepariwisataan
Meningkatkan kunjungan wisatawan tidak hanya dilakukan melalui promosi keluar negeri. Namun promosi di dalam negeri sendiri adalah salah satu strategi yang efektif dan efisien untuk meningkatkan kunjungan dan kunjungan ulang wisatawan. Meningkatkan infrastruktur pariwisata adalah salah satu strategi mendasar selain sarana pariwisata, trasportasi, keramah-tamahan masyarakat dan organisasi pariwisata penunjang lainnya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Negara-negara di Asean, seperti Kamboja dan Vietnam telah berbenah secara besar-besaran untuk melakukan perbaikan pada sisi infrastruktur.
Kurangnya infrastruktur atau aksesibilitas pada suatu destinasi pariwisata menjadi kendala dan citra yang kurang baik terhadap suatu daya tarik wisata dan destinasi pariwisata. Sebagai contoh, penerbangan ke Wakatobi sebuah kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Tenggara terbatas hanya satu kali dalam sehari dan terbatas pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Hal ini dapat mengurangi niat berkunjung ke tempat tersebut.
Terbatasnya trasportasi yang menghubungkan antar-daya tarik wisata atau destinasi pariwisata, menunjukkan belum adanya kesadaran pemerintah dalam membangun infrastruktur pariwisata. Padahal infrastruktur pariwisata juga dapat digunakan secara bersamaan dalam memberikan layanan kepada pelanggan.
Indikator lainnya yang dapat digunakan untuk menakar keberhasilan pembangunan pariwisata adalah dengan cara memahami motivasi wisatawan untuk berkunjung pada suatu destinasi pariwisata. Beragam motivasi yang mempengaruhi wisatawan untuk berkunjung pada suatu destinasi pariwisata, mulai faktor yang berasal dari dalam diri wisatawan atau
internal, seperti keadaan keuangan, gaya hidup, pendidikan dan sebagainya.
Faktor eksternal yang mempengaruhi motivasi berkunjung adalah daya tarik destinasi pariwisata tersebut, seperti akomodasi, daya tarik wisata, layanan biro per jalanan wisata, serta keramah-tamahan masyarakat (Suradnya, 2006).
Penelitian yang dilakukan Suradnya (2006) di Bali yang mengajukan 35 pertanyaan kepada wisatawan mancanegara tentang daya tarik wisatawan berkunjung ke Bali, menemukan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi wisatawan ke Bali dapat diidentifikasi menjadi delapan (8) faktor yakni:
1) Harga produk wisata yang wajar, 2) Budaya dalam bentuk manifestasinya, 3) Pantai dengan segala daya tariknya, 4) Kenyamanan berwisata,
5) Kesempatan luas untuk rileksasi, 6) Citra (image) atau nama besar Bali, 7) Keindahan alam,
8) Keramahan penduduk setempat.
Hasil penelitian Suradnya (2006) menemukan satu indikator penting bahwa sebanyak 67% wisatawan menyatakan pasti akan kembali ke Bali, 26 % menyatakan mungkin akan kembali ke Bali dan sisanya 2% menyatakan tidak akan kembali. Keinginan wisatawan untuk berkunjung kembali tidak hanya disebabkan karena citra suatu destinasi pariwisata atau citra daya tarik wisatanya, namun juga karena kepuasan atas layanan yang diberikan ketika berkunjung pada suatu destinasi pariwisata atau daya tarik wisata.
Beberapa penelitian menemukan hubungan antara kepuasan dan keinginginan untuk berkunjung kembali. Semakin puas wisatawan maka semakin tinggi keinginan untuk berkunjungan kembali. Demikian sebaliknya, wisatawan yang tidak puas dapat menyebabkan menurunnya keinginan untuk berkunjung kembali bahkan menimbulkan rekomendasi yang
Pengantar Pariwisata Internasional
negatif dari mulut ke mulut.
Konsep kepuasan pelanggan menurut Tjiptono (1995: 146) masih bersifat abstrak karena pencapaian kepuasan dapat merupakan proses yang sederhana maupun kompleks. Pelayanan adalah aktivitas tidak kasat mata atau bersifat intangible. Pelayanan disediakan oleh semua sektor seperti ekonom, retail, pedagang besar, transportasi, telekomunikasi, keuangan, kesehatan, pendidikan, dan banyak sektor lainnya, termasuk pariwisata, hospitality dan leisure (Reseinger, 2009: 134).
Walaupun sudah terdapat beberapa buku menjelaskan terkait faktor yang mempengaruhi wisatawan yang berkunjung ke Bali (Suradnya, 2006), namun masih minim yang menguraikan faktor-faktor terkait kepuasan pada suatu destinasi pariwisata. Atas dasar adanya kelemahan tersebut, menjadi alasan penerbitan buku ajar ini. Model kepuasan destinasi pariwisata yang disebut dengan DESSAT, yang mengadaptasi konsep SERVQUAL dari Parasuraman dkk (1985).
Stevent et.al (1995) mengembangkan konsep DINESERV yang mengevaluasi bagaimana pandangan konsumen terhadap kualitas restoran dan konsep LODGSERV oleh Knutson and Stevens (1990) untuk mengetahui pandangan konsumen terhadap kualitas pelayanan di Hotel. Adanya banyak penelitian terkait kepuasan layanan dalam dunia pariwisata menunjukkan betapa pentingnya penilaian atau evaluasi atas kualitas pelayanan yang disediakan oleh penyedia jasa.
Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan temuan yang konsisten atau mungkin berbeda dengan penelitian sebelumnya. Karena untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian yang terus menerus dan mendapatkan hasil yang konsisten akan dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan konsep, model dan atau mengkonfirmasi teori yang telah ada, termasuk bagi industri pariwisata (Jennings, 2001: 96-97; Bungin, 2011: 7).
Niat berprilaku wisatawan menggunakan pendekatan sosiologi, yaitu teori pertukaran sosial (Homan, 1958) dikombinasikan dengan teori motivasi (Dann, 1981) dan teori ekpektansi diskonfirmasi (Oliver, 1980) dan teori keadilan dari Rawls (2012).
Model-model teoretis perilaku wisatawan yang berkunjung pada suatu destinasi pariwisata yang disebut dengan DESSAT atau Destination Satisfaction, yang diadaptasi dari konsep yang dikembangkan oleh Parasuraman dkk (1985) yang disebut dengan SERVQUAL dan kosep DINESERVoleh Stevent et.al (1995), dan konsep Knutson and Stevens (1990) yang menginvestigasi pandangan konsumen terhadap kualitas pelayanan di Hotel (LODGSERV) (Ward dan Berno, 2011).
1.3 Rangkuman
Pertumbuhan demografi di Tiongkok dengan jumlah penduduk yang melakukan perjalanan outbound tourist terus meningkat untuk mendapatkan pengalaman yang baru dari perjalanan berwisata. Faktor yang mempengaruhi wisatawan ke Bali dapat diidentifikasi menjadi delapan (8) faktor yakni: (1) Harga produk wisata yang wajar, (2) Budaya dalam bentuk manifestasinya, (3) Pantai dengan segala daya tariknya, (4) Kenyamanan berwisata, (5) Kesempatan luas untuk relaksasi, (6) Citra (image) atau nama besar Bali, (7) Keindahan alam, (8) Keramahan penduduk setempat.
Niat berprilaku wisatawan menggunakan pendekatan sosiologi, yaitu teori pertukaran sosial (Homan, 1958) dikombinasikan dengan teori motivasi (Dann, 1981) dan teori ekspektasi diskonfirmasi (Oliver,1980) dan teori keadilan dari Rawls (2012).
Model-model teoritis perilaku wisatawan yang ber-kunjung pada suatu destinasi pariwisata yang disebut dengan DESSAT atau Destination Satisfaction, yang diadaptasi dari konsep yang dikembangkan oleh Parasuraman dkk (1985)
Pengantar Pariwisata Internasional
yang disebut dengan SERVQUAL dan kosep DINESERV oleh Stevent et.al (1995), dan konsep Knutson and Stevens (1990) yang menginvestigasi pandangan konsumen terhadap kualitas pelayanan di Hotel (LODGSERV) (Ward dan Berno, 2011).
1.4 TUGAS
Kerjakan tugas berikut ini secara individual.
1) Berikan komentar terhadap 8 faktor yang mempengaruhi kunjungan wisatawan ke Bali dengan memberikan contoh ! 2) Carilah satu artikel (nasional/internasional) pariwisata
yang berisi teori perilaku wisatawan! Berikan resume artikel tersebut !
BAB II
KONSEP-KONSEP DASAR
PARIWISATA INTERNASIONAL
2.1 Motivasi Wisatawan
D
ann (1981) menyebutkan bahwa terdapat tujuh elemen didalam motivasi, yaitu:
(1) Travel as a response to what is lacking yet desired (perjalanan sebagai respon terhadap keinginan yang belum terpenuhi). Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan dimotivasi oleh keinginan untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda dari yang tersedia di lingkungan tempat tinggalnya.
(2) Destination pull in response to motivational push (faktor penarik yang ada di destinasi berpengaruh terhadap dorongan motivasi. Pendekatan pull dan push menganalisis motivasi wisatawan secara individu dalam hal kekuatan pendorong dan penarik dari destinasi atau atraksi;
(3) Motivation is fantacy (motivasi adalah sebuah fantasi). Wisatawan akan melakukan perjalanan dengan tujuan untuk melepaskan diri dari ikatan budaya dari lingkungan tempat tinggalnya;
(4) Motivation as classified purpose (motivasi merupakan tujuan). Tujuan utama perjalanan menjadi motivator untuk bepergian, misalnya mengunjungi teman dan sanak saudara, menikmati aktifitas waktu senggang, atau belajar;
(5) Motivational typology (motivasi memiliki tipologi). Pendekatan ini secara internal dibagi menjadi tipologi prilaku seperti dorongan untuk berjemur (sunlust), yaitu mencari fasilitas yang lebik baik daripada yang tersedia di tempat tinggalnya dan keinginan untuk berkelana (wanderlust), yaitu penasaran untuk mengalami hal yang aneh dan tidak dikenal, seperti diajukan oleh Gray dan tipologi yang difokuskan pada dimensi peranan
wisatawan (Dann, G.M.S.1981).
Motivasi muncul sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan dasar dan keinginan seseorang. Motivasi akan menyebabkan terjadinya sebuah perjalanan wisata ketika se-seorang sudah menentukan tujuan ke mana ia harus memenuhi kebutuhan dan keinginan tersebut. Hubungan antara kebutuhan, keinginan, dan motivasi dapat dijelaskan sebagai berikut. Suatu keinginan (wants) terjadi ketika ada kesadaran dari seseorang terhadap pemenuhan kebutuhannya (needs).
Selanjutnya seseorang akan termotivasi untuk memenuhi kebutuhannya ketika ia telah menetapkan sebuah tujuan (objectives) yang ingin didapatkannya. Pada tahap berikutnya, tujuan tersebut akan menghasilkan kepuasan karena telah dapat memenuhi kebutuhannya.
Motivasi perjalanan seseorang dipengaruhi oleh faktor internal (intrinsic motivation) dan faktor ekspernal (extrinsic
motivation). Secara intrinsik, motivasi terbentuk karena
dorongan kebutuhan dalam kehidupan manusia. Prilaku manusia berhubungan erat dengan upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan yang merupakan faktor internal yang memotivasi manusia untuk melakukan tindakan. Sesuai dengan sifat alami manusia, maka mereka akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan tingkat dasar (bawah) terlebih dahulu sebelum kebutuhan yang lebih tinggi.
2.2 Kebutuhan Wisatawan
Maslow (1970), memperkenalkan model kebutuhan berjenjang (hierarchy model) yang dibedakan menjadi dua yaitu: (1) kebutuhan tingkat dasar (lower needs) atau deficiency needs (kebutuhan akan sesuatu yang terasa kurang), antara lain:
(a) physiological needs (kebutuhan fisik, sandang, pangan dan papan). Motivasi untuk melakukan sesuatu karena dorongan oleh kebutuhan tubuh (body), seperti rasa lapar, haus, istirahat dan beraktifitas;
Pengantar Pariwisata Internasional
(b) safety and security needs (kebutuhan akan keselamatan dan keamanan), kebutuhan akan bebas dari rasa takut, kekawatiran, perlindungan, keteraturan dan kestabilan); (c) social needs (kebutuhan sosial) seperti saling memberi
dan menerima kasih sayang (affection), cinta (love), diterima dalam lingkungan sosial, keluarga, dihargai); (d) ego needs (kebutuhan akan pengakuan, status, reputasi,
kepopuleran, penghargaan diri dan orang lain, kompetensi.
(2) kebutuhan tingkat atas (growth needs), yaitu aktualisasi diri (self-actualization), pemenuhan tujuan atau cita-cita pribadi (personal self-fulfilment), perkembangan dan pertumbuhan diri. Kebutuhan akan aktualisasi diri dibedakan lagi menjadi dua yaitu
(a) lower level growth needs (kebutuhan pertumbuhan yang lebih rendah), meliputi cognitive needs (kebutuhan kognitif) yang berkaitan dengan aktivitas berpikir, yaitu kebutuhan untuk mengetahui, mempelajari, memahami, menjelajah; dan aesthetic needs (kebutuhan yang berkaitan dengan keindahan dan seni);
(b) higher level growth needs (kebutuhan akan pertumbuhan yang lebih tinggi) mengacu kepada transcendental needs, yaitu kebutuhan yang melebihi batasan dari pengalaman biasa manusia.
Kebutuhan ini terhubung dengan sesuatu yang melampaui rasa ego pribadi. Misalnya, kebutuhan untuk menolong orang lain, membela hak asasi, anti diskriminasi, keadilan sosial, pelestarian lingkungan, hidup dalam keharmonisan dengan orang lain, menghargai alam, musik, dan seni. Delapan tingkat kebutuhan secara berjenjang digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.2 Hierarki Kebutuhan Menurut Maslow (1970)
(Sumber: Reisinger, 2009)
2.3 Motivasi Perjalanan Wisata
Lebih lanjut Mill dan Morrison (1989), mengembangkan teori kebutuhan Maslow berkaitan dengan motivasi perjalanan wisata. Di samping kebutuhan fisik dan biologi, unsur psikologi dan unsur intelektual dan estetika menjadi motivasi seseorang untuk melakukan perjalanan seperti diperlihatkan dalam bagan berikut:
Pengantar Pariwisata Internasional | 23 Gambar 2.1Hirarkhi Kebutuhan Menurut Maslow (1970)
(Sumber: Reisinger, 2009) Reisinger, Yvette. 2009. International Tourism: Culture And Behavior. Amsterdam: Kebutuhan fisik dan biologi (makanan, minuman,
perumahan, tidur, sex, kesehatan dan fitness) Keselamatan dan keamanan (perlindungan, aturan, hukum,
stabilitas, bebas dari rasa takut dan kehilangan/perampasan/keruguaian
Kebutuhan sosial (rasa memiliki, cinta, gairah, penerimaan sosial, keluarga,restu
Kebutuhan ego (pengakuan, reputasi, prestasi, status, kompetisi, kemasyuran
Kebutuhan pemahaman (pengetahuan, pengertian, pembelajaran, pemaknaan, dan kesadaran Kebutuhan estetika (kecantikan, penampilan,
keseibangan jasmani dan rohani
Kebutuhan aktualisasi diri (pertumbuhan/pengembangan kepribadian, tantangan pengalaman baru
Kebutuhan transendental (membantu orang lain & aktualisasi diri)
Pengantar Pariwisata Internasional
Tabel 2.3.1 Kebutuhan, Motivasi dan Pemenuhan Kebutuhan
No Kebutuhan Motivasi Pemenuhan Kebutuhan
1 Fisiologi Releksasi hiburan, rileksasi, lepas dari ketegangan, sunlust, fisik, rileksasi mental.
2 Keselamatan Keamanan kesehatan, rekreasi, sehat sepanjang hidup.
3 Memiliki Cinta kebersamaan dengan keluarga, kekerabatan, persehabatan, hubungan personal dan interpersonal, etnik, silahturahmi, kasih sayang.
4 Penghargaan Prestasi Kehormatan, pengakuan sosial, peningkatan ego, professional, status dan kehormatan.
5 Aktualisasi diri Kebenaran diri Ekslorasi dan evaluasi terhadap alam, penemuan jati diri, kepuasan batin.
6 Mengerti dan
memahami Ipengetahuanl m u Budaya, pendidikan, petualangan, perhatian terhadap lingkungan. 7 Estetika A p r e a s i
t e r h a d a p keindahan
Pemandangan dan lingkungan hidup.
(Sumber: Mill dan Morison, 1989).
Secara lebih sederhana McIntos dan Goeldener (dalam Chris Cooper et.all, 1993:22-23), menyatakan terdapat empat kategori motivasi yang mendorong wisatawan untuk bepergian, antara lain:
(1) Motivasi pisik/fisiologis (physical/physiological
motiva-tion), yaitu motivasi yang terkait dengan penyegaran
tubuh (body) dan pikiran (mind), jiwa (spirit), kesehatan (health), olahraga (sport) dan kesenangan (pleasure);
(2) Motivasi budaya (cultural motivation), yaitu keinginan wisatawan untuk menyaksikan dan mengetahui lebih ba-nyak tentang budaya masyarakat lain untuk mempelajari penduduk aslinya, cara hidup mereka, musik, kesenian, cerita rakyat, tarian mereka dan lain-lain;
(3) Interpersonal motivasi (interpersonal motivation), yaitu keinginan untuk bertemu dengan orang-orang baru, mengunjungi teman atau sanak keluarga(visiting friend
and relatives/VFR), mencari pengalaman yang baru dan
berbeda. Perjalanan sebagai perbuatan untuk melepaskan diri dari rutinitas hubungan dengan teman-teman atau sanak keluarga, lingkungan rumah, atau alasan-alasan perjalanan spiritual, ziarah (pilgrimage);
(4) Status dan prestise (status and prestige motivation) keinginan untuk menyalurkan hobby dan pendidikan (misalnya pengembangan diri) dan keinginan untuk diakui dan diperhatikan orang lain agar bisa meningkatkan ego pribadi (ego-enhancement) (McIntosh dan Goeldner dalam Chris Cooper et.al.,1993:22-23; Pitana dan Gayatri, 2005:58-59; Mathieson, A dan Wall, G, 1992).
Apabila teori hieraki kebutuhan menurut Maslow dikaitkan dengan teori motivasi dari McIntos dan Goeldener dan Mathieson dan Wall, maka akan kelihatan bahwa pemenuhan kebutuhan manusia tidak selalu berjenjang, tetapi sangat dipengaruhi oleh prioritas karena didasarkan atas pertimbangan yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial, budaya, dan religi. Misalnya, orang Indonesia untuk melakukan wisata religi dan
pilgrimage (perjalanan Haji) tidak harus memenuhi kebutuhan
fisiologi terlebih dahulu baru menenuaikan ibadah haji, bisa dilihat dalam bagan berikut.
Pengantar Pariwisata Internasional
Tabel 2.3.2 Kombinasi Teori Motivasi dengan Delapan Jenjang Hierarki Kebutuhan Menurut Maslow
No Teori Motivasi Dari McIntos & Mathieson dan Wall
Delapan Jenjang Hirarkhi Kebutuhan Menurut Maslow A B C D E F G H 1 Motivasi fisik √ √ √ √ 2 Motivasi Budaya √ 3 M o t i v a s i Interpersonal √ √ √ √ 4 Motivasi Status/ Prestise √
(Sumber: Dari Berbagai Referensi). Keterangan:
A: Kebutuhan fisik dan biologi (makanan, minuman, perumahan, tidur, sex, kesehatan dan fitness)
B: Kebutuhan keamanan dan keselamatan (perlindungan, aturan, hukum, stabilitas, bebas dari rasa takut dan kehilangan/ perampasan/kerugian)
C: Kebutuhan sosial rasa memiliki, cinta, gairah, penerimaan sosial, keluarga, restu
D: Kebutuhan ego pribadi (pengakuan, reputasi, prestasi, status, kompetisi, kemasyuran
E: Kebutuhan pemahaman dan pengetahuan (pengetahuan, pengertian, pembelajaran, pemaknaan, dan kesadaran
F: Kebutuhan keindahan (kecantikan, penampilan, keseimbangan jasmani dan rohani
G: Kebutuhan aktualisasi diri (pertumbuhan/pengembangan kepribadian, tantangan pengalaman baru
H: Kebutuhan transendental (membantu orang lain & aktualisasi diri)
Jadi, keterkaitan kategori motivasi, pengalaman wisatawan, dan perilaku wisatawan dapat digambarkan dalam tabel 2.3.3 berikut.
Tabel 2.3.3 Motivasi dan Tourist Experience (Pengalaman Berwisata) and Behavior (Prilaku Wisatawan)
No Motivation/ Motivasi
Needs/ Kebutuhan
Experience & Behavior/
Pengalaman dan Prilaku 1 Fisik & Biologi Fisik Get away, Escape, Change of
Pace, Mellow Out, Break
2 Keselamatan & Keamanan
Kesehatan fisik & mental
Fun, Exercise, Keep in shape, Outdoors, Health, Feel Goods, Fresh Air
3 Kebersamaan Sosial Family togetherness, Companionship, Maintaining Personal Ties, Interpersonnal Relations, Roots, Ethnicity, Showing Affect For Family Members
4 Penghargaan Ego Pribadi Convince oneself of ones achievement/Prestige, Show One`s Importance To Others/ Status, Social Recognition/ Ego-Enhancement, Personal Business/Personnal
Development, Achievement/ Mastery, Competence/ Fashion.
5 Aktualisasi Diri Pengembangan Ego Pribadi
Exploration and Self-Evaluation, Self Discovery, Satisfaction of Inner Desires.
Pengantar Pariwisata Internasional 6 Mengetahui dan Memahami Ilmu Pengetahuan Cultural, Education, Wanderlust 7 Estetika Penghargaan akan Keindahan Self-beautifulness, Balencing Body-Mind-and Spirit
(Sumber: Robert Christie Mill, 2000:48-54). 2.4 Rangkuman
Dann (1981) menyebutkan bahwa terdapat tujuh elemen di dalam motivasi, yaitu:
(1) Travel as a response to what is lacking yet desired (perjalanan sebagai respon terhadap keinginan yang belum terpenuhi,
(2) Destination pull in response to motivational push (faktor penarik yang ada di destinasi berpengaruh terhadap dorongan motivasi).
(3) Motivation is fantacy (motivasi adalah sebuah fantasi), (4) Motivation as classified purpose (motivasi merupakan
tujuan),
(5) Motivational typology (motivasi memiliki tipologi).
Secara lebih sederhana McIntos dan Goeldener (dalam Chris Cooper et al., 1993:22-23), menyatakan terdapat empat kategori motivasi yang mendorong wisatawan untuk bepergian, antara lain:
(1) Motivasi pisik/fisiologis (physical/physiological
moti-vation),
(2) Motivasi budaya (cultural motivation),
(3) Interpersonal motivasi (interpersonal motivation), (4) Status dan prestise (status and prestige motivation).
2.5 TUGAS KELOMPOK
1) Berikan contoh-contoh motivasi wisatawan berkunjung ke Bali berdasarkan elemen yang dikemukakan oleh Dann (1981) dan McIntos dan Goeldener (dalam Chris Cooper et al, 1993)!
2) Carilah satu artikel pariwisata yang membahas motivasi wisatawan. Berikan ulasan terhadap artikel tersebut !
BAB III
MOBILITAS WISATAWAN
3.1 Faktor Penarik (Pull Factor) dan Faktor Pendorong (Push
Factor)
M
unculnya motivasi secara psikologis dipengaruhi oleh duafaktor, yaitu faktor -faktor dalam diri seseorang (intrinsik) dan faktor-faktor yang berasal dari luar diri seseorang (ekstrin-sik). Faktor intrinsik adalah faktor yang bersifat psikologis berupa dorongan dari dalam diri seseorang yang terdapat di daerah asal wisatawan (tourist generating region). Daerah asal wisatawan merepresentasikan daerah pasar penghasil wisatawan, daerah di mana semua motivasi untuk melakukan perjalanan wisata pertama kali muncul.
Di sini wisatawan mencari informasi, melakukan pemesanan dan keberangkatan. Di lain pihak, daerah tujuan wisatawan (Tourist Destination Region/TDR) menjadi tujuan akhir dari perjalanan (the sharp end of tourism). Di sini berbagai dampak dari pariwisata akan dirasakan, perencanaan dan strategi managemen diterapkan.
Faktor penarik untuk mengunjungi destinasi wisata memberikan kekuatan pada pariwisata sebagai sebuah sistem dan menciptakan permintaan (demand) untuk melakukan perjalanan dari daerah asal wisatawan.Oleh karena itu, di sini dampak nyata dan pengaruh dari pariwisata dapat dilihat (Leiper, 1990:23).
Daerah transit (The Transit Route Region/TRR) mere-presentasikan periode waktu tidak hanya waktu pemberangkatan untuk mencapai daerah tujuan wisata, tetapi juga meliputi tempat-tempat transit (the intermediate places) yang kemungkinan akan dikunjungi. Dalam perjalanan akan selalu terdapat interval waktu ketika wisatawan sudah meninggalkan daerah asalnya, tetapi mereka belum sampai di daerah tujuan yang telah dipilih
untuk dikunjungi (Lieper, 1990:2). Munculnya motivasi karena pengaruh push factors dan pull factors berkaitan erat dengan model psikologi motivasi perjalanan yang dikembangkan oleh Iso-Aloha (1980).
Berikut ini disajikan deskripsi sistem kepariwisataan yang terdiri dari tiga elemen.
Gambar 3.1 Sistem Kepariwisataan
(Sumber: Lieper, 1990).
Oleh Pearce (1993) push factors disamakan dengan
seeking motives dan pull factor dengan escaping motives. Menurut
Aloha (1980), seseorang akan mencari (seeking) karena adanya dorongan secara personal atau interpersonal dan pada saat yang sama ia juga dorongan melepaskan diri (escape) dari rutinitas personal dan interpersonal dari lingkungan kesehariannya. Namun, model yang dikembangkan oleh Aloha ini telah dikritisi oleh Rayboult, et.al., (1999), karena terlalu menyederhanakan hanya dilihat dari dua faktor.
3.2 Korelasi Motivasi, Perilaku, dan Kepuasan
Model perilaku wisatawan tidak hanya dipengaruhi oleh dua faktor tersebut, tetapi ada faktor lain yang lebih kompleks,
Pengantar Pariwisata Internasional | 4 Gambar 3.1 Sistem Kepariwisataan
Departing Tourist (Keberangkatan)
Daerah Transit/Transit Travel
Route/TTR
Returning Tourist (Kembali ke Negara Asal)
Daerah Asal Wisatawan/ Tourist Generating Region/TGR Daerah Tujuan Wisatawan/ Tourist Destination
Pengantar Pariwisata Internasional
seperti kondisi budaya, persepsi, pendidikan, seperti dikatakan oleh Crompton dan McKay (1997) mengatakan bahwa motivasi menjadi tahap permulaan dari proses pengambilan keputusan yang akan melahirkan prilaku yang bersifat khusus dari wisatawan. Iso-Aloha (1980), telah melakukan pengembangan teori psikologi kognitif (cognitive psychology) yang menjelaskan bahwa motif berpengaruh besar terhadap prilaku manusia di masa depan. Motivasi dapat dianggap sebagai internal faktor rangsangan awal dari seseorang dan selanjutnya melahirkan prilaku (Iso-Aloha, 1980).
Komponen utama dari model motivasi-psikologi meliputi: kebutuhan, motivasi, prilaku atau aktifitas, tujuan atau kepuasan, dan umpan balik (Harril and Pott, 2002).
Mannell dan Kleber (1997:190) memberikan contoh hubungan antara model ini dengan unsur-unsur yang ada di dalamnya, antara lain:
People who have a strong needs or desire to be with others (motive) may attempt to enganged in leisure activities, such as going to bars and dringking that allow them to increase their interactions with other people (behavior) in hopes of developing more frienships (goal and satisfaction).
(Orang-orang yang mempunyai kebutuhan atau keinginan bertemu orang lain (motivasi) kemungkinan akan mencoba untuk mengisi aktivitas waktu senggang, seperti pergi ke bar dan minum yang memungkinkan mereka meningkatkan interaksi mereka dengan orang lain (perilaku) dengan harapan mengembangkan persehabatan (tujuan dan kepuasan) (Mannel and Kleber, 1997).
Dari uraian di atas terlihat adanya hubungan erat antara motivasi-perilaku-tujuan dan kepuasan. Motivasi muncul diawali dengan adanya keinginan yang kuat atau kebutuhan yang akan mempengaruhi prilaku seseorang dalam mencapai tujuan yang berupa kepuasan. Dengan kata lain, selama beraktivitas,
seseorang berinteraksi dengan lingkungannya dimana aktivitas itu berlangsung dengan kehadiran orang lain yang ikut terlibat dalam aktivitas tersebut yang kemungkinan memiliki motivasi yang berbeda-beda.
3.3 Psikografis Wisatawan
Beberapa peneliti, seperti Stanley Plog (1973) yang membedakan wisatawan dari sudut pandang analisis psikografis (psychografic analysis) untuk menjelaskan tipologi wisatawan (typology of tourist) menjadi dua jenis. Teorinya didasarkan kepada variabel tempat/budaya yang secara psikologis belum dikenal (strangeness) dan sudah dikenal (familiarity) yang menghasilkan tipologi wisatawan allo-centrict dan
psycho-centrics.
Lebih lanjut Plog menjelaskan bawa psycho-centric dimana individu akan bepergian ke daya tarik wisata di sekitar lingkungannya yang sudah dikenal (familiar) dan tidak berpetualang (non-adventurous); sedangkan allo-centric individu percaya diri, secara alami ingin tahu dan mencari sesuatu yang belum dikenal ketika bepergian.
Tipologi wisatawan psycho-centric akan bepergian ke tempat-tempat yang secara psikologi sudah dikenal (familiar) dari daerah/lingkungannya ketika berwisata,pendapatan secara ekonomi tergolong rendah (lower income), tidak melakukan petualangan (unadventurous) dan perlu perencanaan yang matang ( a high level tourist plan),
Sedangkan wisatawan tipologi allo-centrict akan bepergian ke tempat yang jauh dan tidak familiar bagi mereka,secara ekonomi memiliki pendapatan yang tinggi, perencanaan perjalanan yang tidak ketat (very little in the way
of tourist plan).
Plog berpendapat bahwa sebagaian besar wisatawan tidak murni tergolong tipologi psycho-centrik atau allo-centric, melainkan mereka ada di tengah-tengah dari kedua tipologi
Pengantar Pariwisata Internasional
23
tersebut, yaitu near allocentrics, midcentrics, near psychocentrics. (Chis Cooper et. al., 1993:98-99). Plog, Stanley. 1973. “Why Destination Areas Rise and Fall in Popularity”. Dalam Cornell Hotel and Restaurant Administration Quarterly, 12. Pp. 13-16.
Berdasarkan pendekatan tipologi wisatawan, Plog (1977) mencoba menjelaskan perkembangan dan pertumbuhan destinasi resort yang mengikuti pola-pola psychocentric-near
psychocentric-midcentric-near allocentric-allocentric, seperti
bagan berikut:
Gambar 3.3 Psychographic Position of Destination
(Sumber: Chooper, 1993: 99)
3.4 Implikasi Tipologi Wisatawan terhadap Pengembangan Pariwisata
Pengembangan resort wisata yang tadinya masuk pada tipologi allocentric dengan semakin banyak menarik jumlah kunjungan wisatawan, maka resort tersebut memasuki posisi
midcentric, berimplikasi terhadap wisatawan allocentric akan
meninggalkan resort tersebut kemudian mencari tempat petualangan yang baru yang belum banyak dikunjungi oleh wisatawan.
Pengantar Pariwisata Internasional
Gambar 2.1 Psychographic Position of Destination
Near psychocentric (Sumber: Chooper, 1993: 99) Psychocentric Allocentric Near Allocentric Midcentric Psycho-centric Allo-centric
Resort-resort yang memiliki keunggulan kompetitif
(competitive advantages), seperti faktor cuaca, lokasi yang strategis, kualitas perencanaan yang bagus, seperti Disneyland kemungkinan akan tetap diminati sebagian besar wisatawan (midcentric-market). Namun sebagian resort kemungkinan akan kehilangan popularitasnya karena wisatawan menganggap tempat ini terlalu dikomersialisasikan, sehingga posisinya akan bergeser semakin lebih rendah ke posisi psychocentric dengan menawarkan harga yang murah, paket yang semakin ketat dan aktifitas yang telah ditentukan sehingga liburan di resort tersebut tidak ada yang menarik.
Teori ini tidak bersifat kekal bahwa sebuah resort wisata akan berakhir dengan tipologi pasar yang bersifat psychocentric. Kejatuhan sebuah resort wisata bisa dihindari apabila pengambil keputusan menyadari bahwa pengembangan pariwisata secara terbatas sebagai sarana tumbuhnya pohon pariwisata yang cocok dengan lingkungan dan karakteristik asli dari suatu wilayah dan menjadikannya sesuai dengan target pasar yang diinginkan. 3.5 Tipologi Wisatawan
Selanjutnya berdasarkan tipologi wisatawan tersebut, Cohen (1972) menyebutkan terdapat 4 klasifikasi prilaku wisatawan yaitu:
(1) Organized mass tourist yaitu wisatawan yang bepergian bersama secara berkelompok. Mereka akan memilih untuk membeli paket wisata di dalamnya termasuk (perjalanan, akomodasi, makanan dan telah memilih paket perjalanan sebelum bepergian biasanya melalui travel agent atau
tour operator;
(2) Individual mass tourist yaitu wisatawan yang me-manfaatkan fasilitas yang sama dengan organized mass
tourist, tetapi lebih bersifat individual didasarkan
Pengantar Pariwisata Internasional
(3) Explorer, yaitu wisatawan menyusun sendiri perjalanan mereka. Mereka akan mengunjungi tempat-tempat ter-pencil (off the beaten track). Mereka ingin bertemu den-gan masyarakat lokal. Namun mereka tetap ada kecen-drungan untuk memanfaatkan fasilitas mass tourist; (4) Drifter yaitu wisatawan yang menghindari diri kontak
dengan wisatawan lainnya dan ingin meniru perilaku penduduk lokal (goes native) dengan cara tinggal dengan penduduk lokal. Mereka akan tinggal lebih lama daripada wisatawan pada umumnya dan sering tidak peduli dengan status dirinya sebagai wisatawan (tourist).
Menurut Pearce (1988), konsep perjalanan diibaratkan seperti tangga (travel ladder) ketika ia menjelaskan motivasi perjalanan, karena motivasi bersifat multivariate (melibatkan dua atau lebih variabel), dinamik, dalam situasi tertentu akan berubah sebagai akibat dari faktor usia dan lingkaran hidup seseorang (life-cycle stage) dan juga dipengaruhi oleh orang lain.
Pengembangan teori travel ladder ini dipengaruhi oleh teori Maslow (1954), yaitu kebutuhan itu bersifat berjenjang dari tingkat bawah, yaitu kebutuhan fisik (physical needs) ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu kebutuhan intelektual (intelectual
needs). Maslow menyebutkan jenjang kebutuhan meningkat
secara berurutan mulai dari kebutuhan fisiologis (physiological
needs), meningkat ke kebutuhan psikologi (psychological needs)
seperti rasa aman, sosial, aktualisasi diri (self-actualization) dan pengembangan diri (self-development).
Pearce menggunakan konsep dari Maslow menghasilkan pengelompokkan motivasi berwisata, seperti: rileksasi (relaxation), kesenangan dan sensasi (excitement and thrill), interaksi sosial (social interaction), harga diri (self-esteem), pengembangan diri (self-development) dan pemenuhan angan-angan (self-fullfilment).
3.6 Teori-Teori Motivasi
Ryan (1991), mengkompilasi teori motivasi yang dibuat oleh Cohen (1972); Crompton (1979); Matthieson dan Wall (1982) menghasilkan 11 alasan utama orang melakukan perjalanan yaitu:
(1) Melepaskan diri dari keseharian (escape); (2) Rileksasi (relaxation);
(3) Bermain (play);
(4) Memperkuat ikatan keluarga (Strengthening family bonds); (5) Prestise (prestige);
(6) Interaksi sosial (social interaction);
(7) Penyaluran gairah sex (sexual opportunities); (8) Menuntut ilmu (education opportunity); (9) pemenuhan diri (self-fulfilmen);
(10) Pemenuhan keinginan/cita-cita (wish fulfillment); (11) Belanja (shopping).
Dari sebelas motivasi perjalanan ini bisa dikaitkan dengan konsep push dan pull factors, misalnya escape (push
factor) dan prestise (pull factor). Dari hasil penelitiannya Ryan
(1991) menemukan bahwa, pemilihan tujuan liburan (holliday) didasarkan pada kombinasi dari beberapa motivasi yang menjadi prioritas oleh wisatawan.
Prioritas ini besar kemungkinan akan berubah sejalan dengan perjalanan waktu dan beberapa alasan tersebut kemungkinan tidak sesuai lagi dengan zaman; seperti penelitian yang dilakukan oleh Chadwick (1987) menyebutkan ada tiga motivasi dan tujuan orang melakukan perjalanan yaitu:
(1) Kesenangan/pleasure (leisure, culture, active sport,
visiting friend and relative/FVR);
(2) Professional (meeting, mission, business, dan lain-lain); (3) Tujuan lain (study, health dan transit).
Berikut ini disajikan korelasi faktor pendorong dan penarik terhadap motivasi perjalanan wisata.
Pengantar Pariwisata Internasional
Tabel 3.6.1 Konsep Push dan Pull Factor Dikaitkan dengan Motivasi Perjalanan
No. Motivasi Bepergian Push FactorKonsepPull Factor
1 Melepaskan diri (escape) √
2 Rileksasi (relexation) √
3 Bermain (Play) √
4 Ikatan keluarga (family bond) √
5 Prestise (prestige) √
6 Interaksi sosial (social interaction) √
7 Kegairahan Sex (sexual opportunity) √
8 Menuntut Ilmu (education opportunity) √
9 Pemenuhan diri (self-fullfilment) √
10 Pemenuhan keinginan (wish fulfillment) √
11 Belanja (shopping) √
12 Mengunjungi teman dan kerabat (Visiting
Friend and Relatives/VFR) √
(Sumber: Ryan, 1991)
Hasil kajian dari The Annual Pessenger Survey yang diseleng-garakan oleh British Tourist Authority pada akhir abad ke-20, men-emukan lima tipe perjalanan yang terkait dengan pariwisata yaitu: (1) Holliday independent; (2) Holliday inclusive; (3) Business; (4) VFR (Visiting Friend and Relative); (5) Miscellaneous.
Prosser (1998) menyebutkan bahwa VFR menjadi alasan utama berwisata di Inggris, Eropa, Australia, New Zealand, dan Kanada dan sebanyak 20 % wisatawan yang mengunjungi Australia untuk mengunjungi teman dan kerabat (VFR). Oleh karena itu, berdasarkan hasil kajian tersebut, Prosser (1998) mengusulkan tiga jenis motivasi berwisata, yaitu: (1) pleasure; (2) business; (3) VFR.
Perlu diperhatikan bahwa pengelompokkan motivasi wisatawan dilihat dari tujuan perjalanan bersifat multi (multiple
purpose) dan kemungkinan menggunakan alat transportasi
dan jenis akomodasi yang beragam. Oleh karena itu, klasifikasi wisatawan bisa dikelompokkan sesuai dengan motivasi dan tujuan perjalanan mereka, seperti bagan di bawah ini:
Bagan 3.6.2 Traveller (Wisatawan) dan Non-Traveller (Non-Wisatawan)
(Sumber: Cooper et al., 1993:48)
Pengantar Pariwisata Internasional | 1 Bagan 2.2 Traveller (Wisatawan) dan Non-Traveller (Non-Wisatawan)
Residents Visitors
Non Travellers Travellers
Within scope of travel and tourism
Other travellers
International
Interncontinental
Domestic
Continental Inter-regional Regional
Commuters Other local travellers Crews Students Migrants Temporary workers Staying one or more nights Same-day
Primary purpose of travel
Business Other personal
purpose
Pleasure
Incentive travel Transit
Meeting Edu tourist Health
treatment Representative
Diplomat/consulat Member of armed force Boarder worker
Refugees
Cruise passengers Crew members
Visiting friend or relatives (VFR)
Pengantar Pariwisata Internasional
Catatan:
(1) Resident: seseorang dianggap penduduk suatu daerah jika seseorang itu (a) sudah tinggal paling sedikit 12 bulan di tempat itu; atau (b) telah tinggal di suatu negara untuk jangka waktu pendek dan bermaksud kembali dalam waktu 12 bulan dan selanjutnya bertempat tinggal di tempat tersebut.
(2) Tourist: pengunjung (visitors) yang menginap di suatu tempat yang dikunjungi paling sedikit untuk satu malam. (3) Visitors: seseorang yang tinggal di suatu negara yang
melakukan perjalanan dalam suatu negara, di luar daripada lingkungan sehari-hari dalam suatu jangka waktu tertentu tidak lebih dari 12 bulan dan tujuan utama kunjungannya bukan untuk suatu aktifitas atau bekerja untuk mendapatkan bayaran (gaji) dari negara yang dikunjunginya.
(4) Same day visitor: pengunjung yang tidak menginap di akomodasi yang ada di tempat yang dikunjunginya. (5) Recreation: kegiatan yang dilakukan pada waktu
senggang bisa dilakukan: (a) di sekitar rumah (home
based recreation), seperti membaca, berkebun, nonton
TV, bermasyarakat dan lain-lain; (b) pengisian waktu senggang yang sifatnya rutinitas (daily leisure), seperti nonton di bioskop, makan di restaurant, kegiatan olah raga atau menonton pertandingan (spectator), bersosialisai dan lain-lain; (c) pengisian waktu luang melakukan perjalanan (day trips), seperti mengunjungi atraksi wisata, piknik dan lain-lain; (d) melakukan perjalanan wisata (tourism), yaitu mengunjungi destinasi wisata di luar tempat tinggal (tempat kerja) selama beberapa hari dan melakukan aktifitas di tempat yang dikunjungi dan
memanfaatkan fasilitas yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan mereka (Cooper et. al., 1993:5-6)
(6) Leisure: waktu senggang yang tersedia bagi seseorang ketika bekerja untuk beristirahat, tidur dan lain-lain setelah kebutuhan lainnya telah terpenuhi.
3.7 Karakteristik Wisatawan
Menurut Seaton dan Bennel (1996), gambaran mengenai wisatawan biasanya dibedakan berdasarkan karakteristik per-jalanannya (trip descriptor) dan karakteristik wisatawannya (tourist descriptor).
(1) Trip descriptor, wisatawan dibagi ke dalam kelompok-kelomopok berdasarkan jenis perjalanan yang dilakukan. Secara umum, jenis perjalanan dibedakan menjadi: perjalanan rekreasi, mengunjungi teman/keluarga, perjalanan bisnis dan kelompok perjalanan lainnya seperti untuk kesehatan, dan keagamaan (Seaton dan Bannet, 1996; Smith 1989).
Lebih lanjut, jenis-jenis perjalanan, jarak yang ditempuh, waktu melakukan perjalanan tersebut, jenis akomodasi atau transportasi yang digunakan dalam perjalanan, pengorganisasian perjalanan, besarnya pengeluaran dan lain lain.
(2) Tourist descriptor, memfokuskan pada wisatawannya,
biasanya digambarkan dengan “who wants what, why, when,
where, and how much?” Untuk menjelaskan hal tersebut
digunakan beberapa karakteristik diantaranya:
(a) Karakteristik Sosio-Demografis untuk menjawab
pertanyaan “who wants what”. Pembagian berdasarkan karakteristik ini paling sering dilakukan untuk kepentingan analisis pariwisata, perencanaan, dan pemasaran, karena sangat jelas analisisnya dan relatif mudah pembagiannya (Kotler, 1996).
Pengantar Pariwisata Internasional
Yang termasuk dalam karakteristik sosio-demografis diantaranya adalah jenis kelamin, umur, status perkawinan, tingkat pendidikan, pekerjaan, kelas sosial, ukuran keluarga atau jumlah anggota keluarga dan lain-lain yang dielaborasi dari karakter tersebut.
(b) Karakteristik geografis. Karakteristik geografis membagi wisatawan berdasarkan lokasi tempat tinggalnya, biasa-nya dibedakan menjadi desa-kota, provinsi, maupun negara asalnya. Pembagian ini lebih lanjut dapat pula dikelom-pokkan berdasarkan ukuran kota tempat tinggal (kota kecil, menengah, besar/metropolitan), kepadatan penduduk di kota tersebut dan lain-lain.
(c) Karakteristik psikografis. Karakteristik ini membagi wisatawan ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan kelas sosial, life-style, dan karakteristik personal. Wisatawan kelompok demografis yang sama mungkin memiliki profil psikografis yang sangat berbeda (smith, 1989).
Sedangkan, Matheisen dan Geoffray (1982) menjelaskan bahwa karakteristik wisatawan terdiri dari unsur-unsur berikut: (a) Unsur sosial ekonomi, meliputi: umur, jenis kelamin,
motivasi berwisata dan etnis,
(b) Tingkat penggunaan dan pemanfaatan objek. Hal ini meliputi: jumlah wisatawan yang berkunjung ke suatu objek beserta penyebarannya dalam suatu periode tertentu, (c) Lama tinggal wisatawan,
(d) Tujuan tinggal, dilakukan dengan tujuan berekreasi dan mengunjungi suatu destinasi wisata untuk sementara waktu.
3.8 Rangkuman
Munculnya motivasi secara psikologis dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor -faktor dalam diri seseorang (intrinsik) dan faktor-faktor yang berasal dari luar diri seseorang (ekstrinsik). Pearce (1993) push factor disamakan dengan seeking motives dan pull factor dengan escaping motives.
Menurut Aloha (1980), seseorang akan mencari (seeking) karena adanya dorongan secara personal atau interpersonal dan pada saat yang sama ia juga dorongan melepaskan diri (escape) dari rutinitas personal dan interpersonal dari lingkungan kesehariannya. Oleh Pearce (1993) push factor disamakan dengan seeking motives dan pull factor dengan escaping motives.
Menurut Aloha (1980), seseorang akan mencari (seeking) karena adanya dorongan secara personal atau interpersonal dan pada saat yang sama ia juga dorongan melepaskan diri (escape) dari rutinitas personal dan interpersonal dari lingkungan kesehariannya.
Motivasi muncul diawali dengan adanya keinginan yang kuat atau kebutuhan yang akan mempengaruhi prilaku seseorang dalam mencapai tujuan yang berupa kepuasan. Berdasarkan pendekatan tipologi wisatawan, Plog (1977) mencoba menjelaskan perkembangan dan pertumbuhan destinasi resort yang mengikuti pola-pola near
psychocentric-midcentric-near allocentric-allocentric.
Cohen (1972) menyebutkan terdapat 4 klasifikasi prilaku wisatawan, yaitu: (1) Organized mass tourist, yaitu wisatawan yang bepergian bersama secara berkelompok. Mereka akan memilih untuk membeli paket wisata di dalamnya termasuk (perjalanan, akomodasi, makanan dan telah memilih paket perjalanan sebelum bepergian biasanya melalui travel agent atau tour operator; (2) Individual mass tourist, yaitu wisatawan
Pengantar Pariwisata Internasional
yang memanfaatkan fasilitas yang sama dengan organized mass
tourist, tetapi lebih bersifat individual didasarkan keputusan
tentang aktifitas berwisata yang diminati; (3) Explorer, yaitu wisatawan menyusun sendiri perjalanan mereka. Mereka akan mengunjungi tempat-tempat terpencil (off the beaten track). Mereka ingin bertemu dengan masyaraakat lokal. Namun mereka tetap ada kecendrungan untuk memanfaatkan fasilitas
mass tourist; dan (4) Drifter, yaitu wisatawan yang menghindari
diri kontak dengan wisatawan lainnya dan ingin meniru perilaku penduduk lokal (goes native) dengan cara tinggal dengan penduduk lokal. Mereka akan tinggal lebih lama dari pada wisatawan pada umumnya dan sering tidak peduli dengan status dirinya sebagai wisatawan (tourist).
Ryan (1991), mengkompilasi teori motivasi yang dibuat oleh Cohen (1972); Crompton (1979); Matthieson dan Wall (1982) menghasilkan 11 alasan utama orang melakukan perjalanan yaitu: (1) melepaskan diri dari keseharian (escape); (2) rileksasi (relaxation); (3) Bermain (play); (4) memperkuat ikatan keluarga (Strengthening family bonds); (5) prestise (prestige); (6) Interaksi sosial (social interaction); (7) Penyaluran gairah sex (sexual opportunities); (8) menuntut ilmu (education
opportunity); (9) pemenuhan diri (self-fulfilmen); (10)
pemenuhan keinginan/cita-cita (wish fulfillment); (11) belanja (shopping).
Chadwick (1987) menyebutkan ada tiga motivasi dan tujuan orang melakukan perjalanan yaitu: (1) Kesenangan/
pleasure (leisure, culture, active sport, visiting friend and relative/ FVR); (2) Professional (meeting, mission, business, dan lain-lain);
(3) Tujuan lain (study, health dan transit). Sedangkan Prosser (1998) mengusulkan tiga jenis motivasi berwisata, yaitu: (1)
3.9 TUGAS
1) Berikan contoh tipe-tipe wisatawan yang berkunjung ke Bali! 2) Carilah sebuah artikel (nasional/internasional) yang
membahas tentang motivasi berwisata. Buatlah resume tentang artikel tersebut. Kerjakan secara individu !
BAB IV
KEPUASAN WISATAWAN
4.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan
K
epuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelahmembandingkan kinerja/hasil yang dirasakan dengan harapan (Oliver dalam Supranto, 2006 : 233). Kepuasan pelanggan merupakan suatu hal yang menjadi harapan perusahaan khususnya di bidang hospitaliti. Kepuasan diperoleh apabila kebutuhan dan keinginan pelanggan terpenuhi, sedangkan keinginan dan kebutuhan manusia selalu berubah dan tidak ada batasannya.
Kepuasan atau ketidakpuasan pelanggan adalah respons pelanggan terhadap evaluasi ketidaksesuaian/diskonfirmasi yang dirasakan antara harapan sebelumnya dan aktual kinerja produk yang dirasakan, sedangkan menurut Engel (dalam Tjiptono, 2004 : 161) mengungkapkan bahwa kepuasan pelanggan merupakan evaluasi purna beli di mana alternatif yang dipilih sekurang kurangnya memberikan hasil sama atau melampaui harapan pelanggan. Ketidakpuasan akan timbul apabila hasil yang diperoleh tidak memenuhi harapan pelanggan.
Ada beberapa metode yang dapat dipergunakan setiap perusahaan dalam mengukur atau memantau kepuasan pelanggannya (Tjiptono, 2004 : 148), yaitu :
1. Sistem keluhan dan sasaran
Setiap perusahaan yang berorientasi pada pelanggan perlu memberikan kesempatan yang seluas luasnya bagi para pelanggannya untuk menyampaikan saran, pendapat dan keluhan mereka. Media yang bisa dipergunakan antara lain kotak saran dan keluhan, kartu komentar, menyediakan saluran telepon khusus dan sebagainya.
2. Survey kepuasan pelanggan
Survei bisa dilakukan dengan kuesioner, melalui pos, telepon maupun wawancara pribadi. Melalui survei, perusahaan akan memperoleh tanggapan dan umpan balik secara langsung dari pelanggan dan sekaligus juga memberikan tanda positif bahwa perusahaan menaruh perhatian terhadap para pelanggannya. Pengukuran kepuasan pelanggan melalui metode ini dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain :
a) Directly Reported Satisfaction
Suatu pengukuran yang dilakukan secara langsung melalui pertanyaan seperti ungkapan, “seberapa puas saudara terhadap pelayanan PT. Z” yang dihitung melalui skala berikut : sangat puas, puas, kurang puas dan sangat tidak puas.
b) Derived Dissatisfaction
Pertanyaan yang diajukan menyangkut dua hal utama, yakni besarnya harapan pelanggan terhadap atribut tertentu dan besarnya kinerja yang mereka rasakan.
c) Problem Analysis
Pelanggan yang dijadikan responden diminta untuk mengungkapkan dua hal pokok. Pertama, masalah-masalah yang mereka hadapi berkaitan dengan penawaran dari perusahaan.Kedua, saran saran untuk melakukan perbaikan.
d) Importance Performance Analysis
Perusahaan diminta meranking berbagai elemen (atribut) dari penawaran berdasarkan derajat pentingnya setiap elemen tersebut.Selain itu juga diminta meranking seberapa baik kinerja perusahaan
Pengantar Pariwisata Internasional
dalam masing-masing element/atribut tersebut.
e) Ghost Shopping
Perusahaan menyuruh orang-orang tertentu pada perusahaan tertentu atau perusahaannya sendiri untuk berperan sebagai pembeli/pelanggan potensial produk perusahaan dan pesaing. Ghost Shopper tersebut akan melaporkan hasil temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan produk perusahaan dan pesaing.
f) Lost Customer Analysis
Perusahaan berusaha menghubungi para pe-langgannya yang telah berhenti membeli, yang diharapkan adalah diperoleh informasi tentang penyebab terjadinya hal tersebut. Informasi yang diperoleh akan sangat bermanfaat bagi perusahaan dalam pengambilan keputusan.
4.2 Strategi Peningkatan Kepuasan Wisatawan
Beberapa strategi yang dapat dipadukan untuk meraih dan meningkatkan kepuasan pelanggan, diantaranya (Tjiptono, 2004 : 161) :
a) Relationship Marketing Strategy
Dalam strategi ini, hubungan transaksi antara penyedia jasa dan pelanggan berkelanjutan, tidak berakhir setelah penjualan selesai. Dengan kata lain, dijalin suatu kemitraan jangka panjang dengan pelanggan secara terus menerus sehingga dapat diharapkan terjadi bisnis ulang (repeat business).
b) Superior Customer Service Strategy
Perusahaan yang menetapkan strategi ini berusaha menawarkan pelayanan yang lebih baik dari pesaingnya.
Mewujudkannya dibutuhkan dana besar, kemampuan sumber daya manusia dan usaha yang gigih. Perusahaan dengan pelayanan superior akan meraih laba dan tingkat pertumbuhan yang lebih besar daripada pesaingnya yang memberikan pelayanan inferior.
c) Unconditional Guarantess/Extraordinary Guarantees Strategy
Meningkatkan kepuasan pelanggan, perusahaan dapat merancang suatu garansi tertentu dengan memberikan pelayanan purna jual yang baik. Garansi atau jaminan ini dirancang untuk meringankan kerugian konsumen, dalam hal ini konsumen tidak puas dengan suatu produk atau jasa yang telah dibayarnya. Fungsi utama garansi adalah mengurangi risiko kerugian pelanggan sebelum dan sesudah pembelian jasa, sekaligus memaksa perusahaan bersangkutan untuk memberikan yang terbaik dan meraih loyalitas pelanggan.
Penanganan keluhan yang baik memberikan peluang untuk mengubah seorang pelanggan yang tidak puas menjadi konsumen yang puas. Manfaat lainnya adalah sebagai berikut :
a) Penyedia jasa memperoleh kesempatan lagi untuk memperbaiki hubungannya dengan konsumen yang kecewa.`
b) Penyedia jasa bisa terhindar dari publisitas negatif c) Penyedia jasa bisa mengetahui aspek-aspek yang perlu
dibenahi dalam pelayanan saat ini
d) Penyedia jasa akan mengetahui sumber masalah operasionalnya.
e) Karyawan dapat termotivasi untuk memberikan pelayanan berkualitas yang lebih baik.
Pengantar Pariwisata Internasional
4.3 Konsep-Konsep Kepuasan
Menurut Zeithmal dan Bitner (2003) mengemukakan bahwa kepuasan adalah konsep yang jauh lebih luas dari hanya sekedar penilaian kualitas pelayanan, namun juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Kualitas layanan. Kepuasan dipengaruhi oleh kualitas layanan yang ditawarkan oleh penyedia jasa.
2) Kualitas produk adalah kualitas dari suatu produk yang dapat dilihat dari berbagai atributnya.
3) Harga. Harga juga mempengaruh kepuasan yang dialami oleh pelanggan. Harga yang terlalu mahal dapat menyebabkan ketidakpuasan. Sebaliknya harga yang murah dapat menyebabkan pelanggan semakin puas. 4) Kondisi yang dialami konsumen. Kondisi konsumen
juga mempengaruhi kepuasan mereka yang disebabkan karena banyaknya kebutuhan pribadi, waktu luang dan sebagainya.
Sejarah kepuasan konsumen diambil dari konsep kepuasan kerja yang dikembangkan oleh Herzberg dkk pada tahun 1955 dan Herzberg pada tahun 1966 (Alegre dan Garau, 2010) yang kemudian diaplikasikan pada studi kepuasan konsumen yang dilakukan oleh Swan dan Comb tahun 1976 (dalam Alegre dan Garau, 2010). Kemudian dikembangkan dalam konteks pariwisata, seperti Crompton pada tahun 2003, Jensen pada tahun 2004 dan Baum pada tahun 2007 (dalam Alegre dan Garau 2010).
Kepuasan konsumen menurut Zeithaml dan Bitner (2000: 75) adalah anggapan konsumen mengenai pemenuhan kebutuhan dan keinginan mereka, baik berupa produk maupun jasa. Menurut Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1985) mengemukakan bahwa kepuasan pelanggan adalah perasaan pelanggan terhadap satu jenis pelayanan yang didapatkannya. Apabila harapan pelanggan sesuai dengan kenyataan maka akan merasakan kepuasan. Demikian sebaliknya, apabila harapannya
tidak sesui dengan kenyataan, maka mereka akan merasa kecewa atau tidak puas.
4.4 Atribut-Atribut Kepuasan
Kepuasan menurut Kotler (2002) adalah perasaan seseorang muncul setelah membandingkan antara harapan dengan persepsi atau kenyataan yang diterima. Apabila harapannya sesuai dengan kenyataan maka konsumen akan merasa puas. Sebaliknya apabila harapannya tidak sesuai dengan kenyataan maka akan terjadi ketidakpuasan. Apabila harapannya kenyataan yang diterima melebihi harapannya maka konsumen akan merasa sangat puas.
Kepuasan dan ketidakpuasan menurut Alegre dan Garau (2010) adalah dua elemen atau atribut yang berbeda. Penelitiannya menemukan adanya perbedaan atribut kepuasan dan ketidakpuasan. Atribut kepuasan suatu destinasi pariwisata terdiri dari 24 atribut , yaitu: (1) pantai, (2) iklim, (3) kebersihan (hygiene), (4) lansekap (landscape), (5) damai dan tenang, (6) akomodasi, (7) keamanan, (8) tempat-tempat bersejarah (historical sites), (9) Aktifitas budaya, (cultural activities); (10) kota (11) kontak dengan alam, (12) bertemu teman dan keluarga, (13), kehidupan malam, (14) aktivitas olah raga, (14) daya tarik wisata, (15) kemudahan akses, (16) fasilitas untuk anak-anak, (17) makanan lokal, (18) cara hidup masyarakat, (19) harga yang bersaing, (20) pemandangan alam, (21) interaksi dengan wisatawan lain, (22) kemudahan akses informasi, (23) harga yang sesui dengan budget, (24) destinasi yang tidak murahan.
Sedangkan atribut ketidakpuasan terdiri 13 item yang terdiri dari (1)banyaknya bangunan yang merusak lingungan, (2) terlalu komersial, (3) terlalu banyak orang, (4) bising, (5) terlalu macet, (6) kurangnya pemandangan alam, (7) harga-harga terlalu mahal, (8) tidak tersedia tanda jalan/tempat wisata, (9) kurang profesionalisme dalam layanan, (10) kondisi jalan yang rusak, (11) permasalahan di airport, (12) kebersihan jalan, pantai, (13)
Pengantar Pariwisata Internasional
fasilitas olah raga dan infrastruktur yang tidak memadai.
Penelitian ketidakpuasan dan kepuasan oleh Alegre dan Garau (2010) dilakukan untuk mengevaluasi atribut kepuasan dan ketidakpuasan berkunjung pada destinasi pariwisata kepulauan Majorca di kepulauan Balearic Island di Spanyol. Kepuasan menurut Tribe dan Snaith (dalam Alegree dan Garau 2010) adalah tingkat evaluasi terhadap atribut destinasi pariwisata seberapa besar dapat memenuhi harapannya. Atribut yang dikembangkan Tribe dan Snaith (1998) disebut dengan HOLSAT (Holiday Satisfaction) atau kepuasan berlibur pada destinasi pariwisata. HOLSAT juga telah digunakan beberapa peneliti di Vietnam oleh Truong (dalam Alegre dan Garau, 2010). Menurut Kotler (2002: 42), kepuasan konsumen adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja (hasil) suatu produk dan harapan-harapannya.
4.5 Kepuasan dan Niat Berkunjung Kembali
Beberapa peneliti menemukan hubungan antara kepuas-an dengkepuas-an niat untuk berkunjung kembali. Niat pelkepuas-anggkepuas-an untuk berkunjung kembali akan semakin tinggi apabila kepuasannnya akan semakin tinggi. Demikian sebaliknya, apabila mengalami ketidakpuasan, maka akan menimbulkan konsekuensi tidak ingin berkunjung kembali atau membeli produk yang sama bahkan menyebabkan rekomendasi dari mulut ke mulut yang negatif (Alegre dan Garau (2010). Adapun komponen yang terkandungdalam kepuasan diantaranya: (1) respon, (2) fokus dan (3) waktu (Tjiptono dan Chandra, 2011: 292).
4.6 Rangkuman
Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja/hasil yang dirasakan dengan harapan (Oliver dalam Supranto, 2006 : 233). Ada beberapa metode yang dapat dipergunakan setiap perusahaan dalam mengukur