• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL DAN CITRA WISATAWAN ASIA

9.2 Profil dan Citra Wisatawan Tiongkok yang Berkunjung ke Bali

Profil wisatawan Tiongkok yang berkunjung ke Bali, antara lain: (a) traveling dengan menggunakan paket wisata berkelompok (package tour group) untuk first-time travellers dengan preferensi regular hotel standar, tetapi menuntut fasilitas kamar hotel setaraf bintang tiga; (b) kemampuan berbahasa Inggris kurang; (c) sangat fanatik dengan makanan Chinese

Pengantar Pariwisata Internasional

hubungan/kontak dengan orang Tiongkok lokal ataupun asosiasi untuk penyaluran aktivitas traveling mereka; (e) memperhatikan keselamatan, ketepatan waktu, dan kesehatan (kebugaran) tubuh; (g) banyak bicara (talk-active) meskipun mereka sedang makan, sehingga menimbulkan citra (image) yang kurang bagus dimata wisatawan lainnya; (h) etika kurang sehingga terkesan tidak memperdulikan lingkungan dan tidak memiliki budaya malu (shame culture); (i) untuk anak muda mencari pengalaman (experience seeking motive), dikelola sendiri (self-organised tour) baik individu maupun kelompok; (j) untuk anak muda tidak lagi dikoordinir melalui tour operator atau tour guide; (k) mengatur dengan paket wisata yang murah (smaller budget service provider) (Arlt, 2016: 21; wawancara dengan Sekreatris HPI Bali tanggal 26 Februari 2018).

Pertumbuhan wisatawan Tiongkok yang semakin me-ningkat merupakan tanda bahwa Bali merupakan destinasi pariwisata yang digemari oleh wisatawan Tiongkok. Detail kedatangan serta pertumbuhan wisatawan Tiongkok ke Bali dari tahun 2013 sampai tahun 2017 bisa dilihat pada Tabel berikut.

Tabel 9.2. Kedatangan Wisatawan Tiongkok ke Bali dari Tahun 2013 – 2017

Tahun Jumlah Kunjungan Wisatawan Tiongkok Pertumbuhan

2013 387.533 24,65% 2014 586.300 51,29% 2015 688.469 17,42% 2016 990.771 43,90% 2017 1.385.850 39,88% Rata-rata Pertumbuhan 35,43%

Dari Tabel di atas terlihat bahwa jumlah kedatangan wisatawan Tiongkok ke Bali dari tahun 2013 sampai tahun 2017. Kedatangan wisatawan Tiongkok dari data tabel di atas mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun dengan rata-rata pertumbuhan 35,43% wisatawan Tiongkok yang datang ke Bali. Dari data tabel di atas semakin menegaskan bahwa Bali merupakan destinasi favorit wisatawan Tiongkok.

Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan Tiongkok yang bersifat massal (mass-tourist) menyisakan berbagai citra negatif tentang prilaku (behavior) mereka, seperti munculnya berbagai isu-isu “jual-beli kepala” (mongkey-business) yang dilakukan oleh travel agent Tiongkok bekerja sama dengan travel

agent Tiongkok di Bali.

Isu jual-beli kepala ini sudah berlangsung semenjak tahun 2005 ketika kunjungan wisatawan Tiongkok menunjukkan kecenderungan semakin meningkat sejalan dengan peningkatan GDP penduduk Tiongkok. Sudah menjadi tren bahwa travel agent Tiongkok di Bali membeli wisatawan Tiongkok dari travel agent di Tiongkok melalui perjanjian kesepakatan untuk dijual per-kepala kepada travel agent Tiongkok di Bali.

Di Tiongkok travel agent menjual “low-cost travelling” ke Bali kemudian dengan jumlah mereka yang banyak (mass-akumulasi) dijual sesuai dengan kesepakatan antara kedua-belah pihak dengan harga jual tertentu yang menguntungkan pihak travel agent di Tiongkok. Travel agent Tiongkok di Bali yang membeli mereka ketika mereka sudah datang ke Bali, akan melakukan berbagai cara untuk menjual produk tour di luar yang mereka beli di Tiongkok.

Selain itu, pihak travel agent di Bali menggiring mereka untuk membeli souvenir di super market yang sahamnya kerjasama antara pihak pengusaha Tiongkok dengan orang-orang Tiongkok lokal di Bali dengan cara pembayaran non-cash menggunakan sistem barkot (wechat) sehingga peredaran uang tidak terjadi di daerah tujuan wisata, tetapi kembali ke Tiongkok,

Pengantar Pariwisata Internasional

sehingga terjadi kebocoran ekonomi (economic-leakage) dari daerah tujuan wisata yang seharusnya menerima devisa valuta asing.

Selain itu, perilaku guide Mandarin yang asal-usul mereka kebanyakan berasal dari Medan dan Palembang mengejar komisi dari art-shop yang berlomba-lomba untuk menarik pelanggan dengan cara memberikan komisi bekisar (70%-75%) dari total belanja yang dikeluarkan oleh wisatawan, sehingga memuncul -kan persaingan yang tidak sehat di antara artshop yang diistilah-kan dengan “perang komisi” dengan cara menaikdiistilah-kan harga barang-barang souvenir.

Wisatawan dijadikan sebagai objek pemerasan se-cara terselubung oleh travel agent dan para guide, mereka diperlakukan seperti perbudakan di dalam pariwisata

(touristic-slavery) (Hasil wawancara dengan Ibu Inge dan Bapak Henry

tanggal 18 Juli 2018). 9.3 Rangkuman

Pengertian profil (profile) adalah: the general impression

that somebody give tothe public and the amount of intention they receive. (kesan secara umum yang ditimbulkan oleh seseorang

dan sejumlah image yang diberikan kepada mereka). Citra (image) ini bisa berupa suatu stereotype, yaitu suatu generalisasi terhadap sekelompok orang, objek atau peristiwa yang secara luas dianut oleh suatu bangsa.

Image orang Bali tentang orang Jepang, adalah bangsa

yang sangat menjunjung tinggi budaya malu (haji no bunka), berpegang teguh pada adat, tradisi dan budaya, menunjung tinggi nilai-nilai kelompok/kebersamaan (shuudan shuugi), hormat dan patuh terhadap atasan, setia dan loyal, pekerja keras, namun mereka memiliki struktur kejiwaan yang bersifat tertutup (introvert), malu-malu, susah untuk mengungkapkan isi hati (berterus terang) sebelum ada unsur kepercayaan (amae), karena itu cendrung bersikap skeptis dan susah diajak

berkomunikasi.

Profil wisatawan Tiongkok yang berkunjung ke Bali, antara lain: (a) traveling dengan menggunakan paket wisata berkelompok (package tour group) untuk first-time travellers dengan preferensi regular hotel standar, tetapi menuntut fasilitas kamar hotel setaraf bintang tiga; (b) kemampuan berbahasa Inggris kurang; (c) sangat fanatik dengan makanan Chinese

food; (c) rata-rata tinggal lebih dari enam hari; (d) memiliki

hubungan/kontak dengan orang Tiongkok lokal ataupun asosiasi untuk penyaluran aktivitas traveling mereka; (e) memperhatikan keselamatan, ketepatan waktu, dan kesehatan (kebugaran) tubuh; (g) banyak bicara (talk-active) meskipun mereka sedang makan, sehingga menimbulkan citra (image) yang kurang bagus dimata wisatawan lainnya; (h) etika kurang sehingga terkesan tidak memperdulikan lingkungan dan tidak memiliki budaya malu (shame culture); (i) untuk anak muda mencari pengalaman (experience seeking motive), dikelola sendiri (self-organised tour) baik individu maupun kelompok; (j) untuk anak muda tidak lagi dikoordinir melalui tour operator atau tour guide; (k) mengatur dengan paket wisata yang murah (smaller budget service

provider).

9.4 TUGAS

1) Wawancarailah seorang pramuwisata berbahasa Mandarin tentang citra Bali menurut wisatawan Tiongkok. Kerjakan dalam kelompok !

2) Wawancarailah seorang pramuwisata berbahasa Jepang tentang paket wisata yang digemari wisatawan Jepang. Kerjakan dalam kelompok !

BAB X