• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUDAYA BERWISATA

5.2 Budaya Travelling Wisatawan Tiongkok

Budaya travelling (budaya bepergian) dibentuk oleh per-paduan antara tourist culture (budaya wisatawan) dengan host

Pengantar Pariwisata Internasional

culture (budaya berwisata). Budaya wisatawan yaitu budaya yang

dimiliki oleh negara asal wisatawan (country culture) dibawa oleh wisatawan ketika mereka bepergian. Budaya wisatawan mempengaruhi tourist behavior (prilaku wisatawan).

Wisatawan akan berprilaku berbeda ketika mereka berwisata. Budaya wisatawan sangat dipengaruhi oleh residual

culture (memori budaya) yang dapat menjelaskan bagaimana

wisatawan dari negara yang berbeda berprilaku (Jafari dalam Reisinger, 2009:104).

Selain itu, juga terdapat konsep touristic culture, yaitu budaya dari sekelompok wisatawan, bacpackers dan lain-lain.

Touristic culture dan national culture akan mempengaruhi

wisatawan dari budaya bangsa yang berbeda dan menjadi faktor yang penting untuk memahami sejauh mana touristic culture terbebas dari national culture dan direfleksikan dalam prilaku semua wisatawan tanpa melihat kebangsaan mereka.

Host culture adalah budaya dari negara tujuan wisatawan

(host country) dimana wisatawan melakukan interaksi. Dengan kata lain, host culture mencerminkan national culture (budaya nasional) yang menjadi pegangan (pedoman) dari masyarakat lokal ketika memberikan pelayanan kepada wisatawan. Tourism

culture mengacu pada prilaku semua orang yang terlibat dalam

proses pariwisata, yaitu prilaku wisatawan dan juga mereka yang menawarkan produk jasa dan hospitalitas.

Dengan kata lain, tourism culture sebagai hasil dari perpaduan di antara tourist culture, host culture, dan residual

culture yang memiliki ciri-ciri khas yang tercipta pada

masing-masing destinasi wisata. Tourism culture sangat berbeda dari budaya keseharian (everyday culture) dari wisatawan dan penduduk lokal penerima wisatawan, karena mereka akan berperilaku berbeda dari perilaku keseharian mereka (Jafari dalam Reisinger, 2009:104).

Pencitraan wisatawan Tiongkok tentang daya tarik wisata Garuda Wisnu Kencana yang disebut dengan

Shenyingguang-chang (Shen Dewa; Ying Elang; Guang: luwas; Chang: Lapangan).

Tempat ini dikaitkan dengan cerita di Tiongkok legenda tentang “Elang” dari suku Tajike Provinsi Xinjiang Tiongkok Barat Laut. Suku ini memiliki tarian Elang (Ying Wu dan sebuah patung Elang tingginya 10 meter lebih berat 1 ton lebih, menghadap ke arah Timur dalam posisi terbang. Maknanya masyarakat Tajike akan terbang menuju ke arah Matahari terbit berkonotasi menyongsong masa depan yang lebih cerah (https//sns.91ddcc. com/t/64361).

Cerita ini dalam brosur pariwisata dikaitkan dengan kebijakan Presiden Suharto mengatakan bahwa, “Pembangunan Garuda Wisnu Kencana akan menjadi Brand Image atau Ikon pariwisata Bali masa depan, sehingga masyarakat Indonesia dapat menikmati kemakmuran dan kesejahteraan melalui pembangunan pariwisata budaya”.

Preferensi wisatawan Tiongkok akan memilih paket wisa-ta yang sudah dikomodifikasi oleh travel agent Tiongkok sesuai dengan tipologi mereka, yang umumnya menyukai objek yang bersifat eksotis dan romantis dan penuh kenangan. Stakeholder kepariwisataan harus mengambangan sensitivitas produk sesuai dengan kebutuhan wisatawan Tiongkok dan menggunakan pengetahuan budaya ketika mendisain produk untuk memenuhi ekspektasi tradisi dan budaya mereka (Reisinger, 2009:242).

Oleh travel agents objek tersebut dijual untuk paket

pre-wedding, honey moon untuk pengambilan scene gambar, video

atau film. Adapun daya tarik wisata yang ditawarkan oleh travel

agents antara lain paket wisata lima hari, seperi: (1) Hari ke-1

mengunjungi (a) Pantai Kuta; (b) Kuta Square; (c) Bali L`Occitane Spa; (d) Pura Tanah Lot. Hari ke-2 mengunjungi (a) Monkey Forest Ubud; (b) Bebek Bengil, (c) Rice Terrace Tegalalang; (d) Pasar Seni Ubud; (e) Komaneka Hotel di Jl. Monkey Forest Ubud; (f) Kuil Shenquan (Pura Tirta Empul); (3) Hari ke-3 mengunjungi (a) Kintamani; (b) Bedugul; (c) Pura Ulun Danu Batur; (4) Hari ke-4 berkunjung ke (a) Nusa Dua; (b) Tanjung Benoa; (c) Pulau

Pengantar Pariwisata Internasional

Serangan; (d) Bumbu Bali Restaurant; (e) MeliaBali; (5)Harike 5

mengunjungi (a) PuraUluwatudan (b) Pantai Jimbaran.(http://

you.ctrip.com/journeys/Bali438/50220.html).

Pada umumnya wisatawan Tiongkok menyukai wisata bahari (water sport), seperti diving, parasailing, banana boat,

surfing dan lain-lain. Pura yang paling dikenal Tanah Lot karena sun set-nya, Pura Tebing Uluwatu karena dikaitkan dengan

mitologi dikenal sebagai tebing cinta atau tebing kekasih. Kedatangan wisatawan Tiongkok dengan pesawat malam hari, biasanya langsung check in ke hotel. Hari ke-2 biasanya mereka pergi ke Tanjung Benoa untuk water sport, mengunjungi pabrik kopi di Uluwatu; Hari ke-3 Tour ke Ubud termasuk acara Rafting (Arum Jeram); Hari ke-4 optional tour (acara bebas) biasanya pemandu wisata jual optional tour ke Nusa Lembongan dan Spa; Hari ke-5 mengunjungi Tanah Lot sesudah itu check out ke Bandara. Mereka biasanya suka membeli kopi dan sarang burung walet untuk oleh-oleh (Wawancara dengan Bapak Henry Hidayat tanggal 25 Juni 2018).

5.3 Rangkuman

Budaya bepergian (tabi no bunka) dalam masyarakat Jepang secara geneaologi sudah dikenal semenjak zaman Edo (1600-1868). Tabi no bunka terbentuk dari budaya bepergian untuk berziarah (sankei). Pemerintah Tokugawa melarang adanya kegiatan berwisata untuk kesenangan (pleasure).

Kebijakan pemerintah Tokugawa yang melarang kegiatan wisata untuk bersenang-senang menyebabkan satu-satunya alasan bagi masyarakat umum untuk bepergian adalah berziarah. Pemerintah Shogun Tokugawa membangun pos-pos pemeriksaan (sekisho) dan tempat-tempat pemberhentian (shukuba) di lima jalan utama yang menghubungkan Edo (Tokyo) dengan kota-kota di sekitarnya.

Untuk mengangkut barang-barang komoditas dari satu pulau ke pulau lainnya, pemerintah Bakufu menggunakan kapal

laut, sehingga jalur pelayaran semakin berkembang (Hoka, 1991). Kegiatan wisata ziarah pada zaman Edo berkembang berkat pembangunan infrastruktur lima jalan utama (gokaido) yang menghubungkan Kota Edo (Tokyo) dengan wilayah-wilayah lainnya di Jepang, seperti Kyoto, Osaka, dan Nara.

Nilai-nilai budaya tabi no bunka yang menjadi karakteris-tik berwisata orang Jepang, antara lain: (1) Nilai kolektivitas (shuudan shuugi). (2) Nilai ketergantungan (amae). (3) Nilai

giri, omiyage dan kinen. Giri merupakan nilai yang timbul dalam

budaya kolektivitas masyarakat Jepang yang bertujuan untuk menjaga keharmonisan kelompok. (4) Nilai pengembangan diri (self-enhencement). (5)Nilai keharmonisan dengan alam semesta. Masyarakat Jepang sangat menekankan nilai-nilai keharmonisan dengan alam. Ajaran Shinto, Budha, dan Shugendo mengajarkan hubungan harmonis manusia dengan alam semesta.

Budaya ziarah ini membentuk budaya travelling orang Jepang ketika melakukan outbound, mereka akan membeli produk kerajinan yang khas (meibutsu) dari negara yang dikunjunginya. Konsep meisho dan meibutsu terkait erta dengan prilaku wisatawan Jepang dalam menentukan preferensi daerah tujuan wisata dan aktifitas yang akan dilakukan di daerah tujuan wisata.

Budaya travelling (budaya bepergian) dibentuk oleh perpaduan antara tourist culture (budaya wisatawan) dengan

host culture (budaya penerima wisatawan) yang melahirkan tourism culture (budaya berwisata). Budaya wisatawan yaitu

budaya yang dimiliki oleh negara asal wisatawan (country

culture) dibawa oleh wisatawan ketika mereka bepergian.

Budaya wisatawan mempengaruhi tourist behavior (prilaku wisatawan). Wisatawan akan berprilaku berbeda ketika mereka berwisata. Budaya wisatawan sangat dipengaruhi oleh residual

culture (memori budaya) yang dapat menjelaskan bagaimana

Pengantar Pariwisata Internasional

Pencitraan wisatawan Tiongkok tentang daya tarik wisata Garuda Wisnu Kencana yang disebut dengan Shenyingguangchang (Shen Dewa; Ying Elang; Guang: luwas; Chang: lapangan). Tempat ini dikaitkan dengan cerita di Tiongkok legenda tentang “Elang” dari suku Tajike Provinsi Xinjiang, Tiongkok Barat Laut.

Preferensi wisatawan Tiongkok akan memilih paket wisata yang sudah dikomodifikasi oleh travel agent Tiongkok sesuai dengan tipologi mereka, yang umumnya menyukai objek yang bersifat eksotis dan romantis dan penuh kenangan. Oleh

travel agents objek tersebut dijual untuk paket pra-wedding, honey moon untuk pengambilan scene gambar, video atau film.

Adapun daya tarik wisata yang ditawarkan oleh travel agents antara lain paket wisata lima hari, seperti:

(1) Hari ke-1 mengunjungi (a) Pantai Kuta; (b) Kuta Square; (c) Bali L`Occitane Spa; (d) Pura Tanah Lot.

(2) Hari ke-2 mengunjungi (a) Monkey Forest Ubud; (b) Bebek Bengil, (c) Rice Terrace Tegalalang; (d) Pasar Seni Ubud; (e) Komaneka Hotel di Jl. Monkey Forest Ubud; (f) Kuil Shenquan (Pura Tirta Empul);

(3) Hari ke-3 mengunjungi (a) Kintamani; (b) Bedugul; (c) Pura Ulun Danu Batur;

(4) Hari ke-4 berkunjung ke (a) Nusa Dua; (b) Tanjung Benoa; (c) Pulau Serangan; (d) Bumbu Bali Restaurant;(e) Melia Bali;

(5) Hari ke 5 mengunjungi (a)Pura Uluwatu dan (b) Pantai Jimbaran.

Pada umumnya wisatawan Tiongkok menyukai wisata bahari (water sport), seperti diving, parasailing, banana boat,

surfing dan lain-lain. Pura yang paling dikenal Tanah Lot karena sun set-nya, Pura Tebing Uluwatu karena dikaitkan dengan

5.4 TUGAS

1) Carilah brosur paket tour untuk wisatawan Jepang dan Tiongkok. Bandingkan kedua brosur tersebut. Carilah persamaan dan perbedaannya !

2) Carilah artikel nasional/internasional yang membahas tentang wisatawan Jepang atau Tiongkok. Buat ulasan terhadap artikel tersebut !

BAB VI

WISATA OUTBOUND