• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUKTI-BUKTI ALLAH MEMELIHARA AL-QUR’AN

Dalam dokumen Panorama pemikiran Islam ulama Maroko (Halaman 86-102)

Musthafa Bin Hamzah

Berangkat dari firman Allah: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (Q.S, al-Hijr, 15: 9). Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.

Semoga Allah memberi rahmat, salam dan berkah kepada junjungan kita, Muhammad SAW, keluarga dan semua sahabatnya.

Tiada daya dan upaya kecuali karena pertolongan Allah yang maha luhur lagi maha agung.

Ya Allah, tidak ada yang mudah kecuali apa yang engkau mudahkan. Engkau menjadikan kesedihan –jika engkau kehendaki—menjadi mudah.

Semoga Allah menjagamu, yang mulia, menetapkanmu, melanggengkan Durus Hassaniyah yang indah ini sebagai kekayaan peradaban dan kebangsaan bagi umat ini; sebagai pemuliaan era dan sejarah bangsa ini. Pengajian ini dianggap sebagai kekayaan peradaban karena ia menghunjam kuat dalam sejarah, karena raja-raja negeri ini merawatnya sejak lama sehingga menjadi tradisi yang terkenal dan kekayaan peradaban.

Kondisi bangsa yang berperadaban adalah bahwa ia menjaga setiap bukti sejarah yang menunjukkan keunggulan peradabannya.

Jika orang-orang mengabadikan memori tentang lembaga-lembaga pendidikan kuno, sehingga mereka menghidupkan peringatan Akademius dan mereka menamakannya sebagai lembaga pendidikan, lembaga keilmuan berperadaban. Kalau mereka

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 80 mengembalikan ke benak ingatan segala bukti yang menunjukkan keutamaan mereka dalam bidang keilmuan, maka itu adalah hak mereka. Demikian juga, adalah hak umat ini untuk bangga dengan forum pengajian yang berurat-berakar dan telah menjadi kekayaan peradaban dan saksi sejarah yang jujur bahwa ilmu senantiasa hadir dalam umat ini, dirawat dan tampak jelas bagi para ahlinya. Kemudian, dalam pengajian dan majlis ini ada kejujuran sejarah dan kejujuran kepada masa lalu, karena ia mengingatkan orang-orang yang berpikir akan pengajian dan majlis ilmu para pemimpin Islam (khulafa’) dan bagaimana perdaban tumbuh bersama mereka dalam rentang waktu yang panjang. Tidak seorangpun yang bisa acuh terhadap majlis-majlis-nya ar-Rasyid, al-Ma’mun, al-Mu’tashim, para raja di Timur; majlis para ulama Islam di Barat, dimana ilmu tumbuh dan berkembang. Semoga Allah merawat dan melanggengkan tradisi ini.

Dalam pengajian ini, saya memilih untuk membahas semampunya makna firman Allah SWT: نوظداحه هه دنإ و ركذها دنهزن حن دنإ . (Q.S, al-Hijr, 15: 9), karena saya merasakan pentingnya membahas masalah ini dalam kondisi kita sekarang ini, dimana semua mata tertuju ke dialog peradaban yang akan engkau selenggarakan, sebagaimana yang telah engkau nyatakan. Tuntutan sebuah dialog adalah agar setiap pihak yang terlibat mengetahui hak miliknya, kekayaan intelektual yang dimilikinya. Adalah kewajiban kita sekarang untuk berbicara tentang al-Qur’an dalam konteks kondisi yang kita hadapi. Oleh karena itu, kita hendak membahas firman Allah SWT: نوظدحه دنإ و ركذها دنهزن حن دنإ

Tidak cukup tempat disini untuk menjelaskan seluruh kata dalam ayat tersebut, meskipun kata-kata tersebut adalah wadah makna yang mengantarkan kepada makna yang dituju. Namun saya hanya akan menjelaskan firman Allah SWT: نوظداحه دامه هاه دانإ و. Isim (kata benda) fail (pelaku) sama posisinya dengan fiil mudlari’ (kata

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 81 kerja yang menunjukkan waktu sekarang atau yang akan datang).

Kata kerja ini menunjukkan kebaruan dan kelanggengan, baik kebaruan itu terputus-putus atau terus menerus. Biasanya isim fail sama posisinya dengan fiil mudlari’ yang menunjukkan kebaruan dan kelanggengan. Kalau fungsi dan posisi isim fa’il adalah seperti ini, maka ulama nahwu (tata bahasa Arab) memberinya fungsi sama dengan fiil mudlari’. Ibnu Malik berkata:

زاع ا ه ازع ا داك إ يا عها هاظ يا دظ اما هالعفك : Isim fa’il berfungsi seperti fi’ilnya//jika ia terpisah (makna zamannya) dari fiil madlinya.

Jika isim fail ini tidak menunjukkan waktu lampau (madli), namun jika ia menunjukkan waktu sekarang (hal) atau yang akan datang, maka ia berfungsi sebagaimana kata kerjanya (fiil): me-nashab-kan obyek (maf’ul)-nya. Adalah jelas bahwa isim fail yang terdapat dalam ayat ini menunjukkan waktu sekarang dan akan datang. Saya tidak mengatakan ini dari aspek tata bahasa-nya saja, namun juga dari aspek penunjukannya. Ia me-nashab-kan ha’ setelah lam, dan ha’ disini dikuatkan dengan lam penguat.

Yang penting adalah bahwa ayat ini menunjukkan bahwa penjagaan (Allah kepada al-Qur’an) terjadi pada saat ini dan akan terus terbarukan di masa depan; dan bahwa penjagaan ini adalah yang dimaksudkan dan diputuskan oleh Allah terhadap kitab ini (al-Qur’an) sehingga kitab ini tidak akan tersia-siakan.

Tingkat ungkapan al-Qur’an ini menanjak dengan banyaknya ungkapan penegasan yang dikandung oleh ayat ini: نإ (inna, sesungguhnya), kata ganti setelahnya: نحن (nahnu, kami); ننلزن (nazzalna, kami menurunkan), نل (lahu, kepadanya), lam penguat, mendahulukan jar-majrur, menambahkan lam di khabar, seluruhnya menunjukkan bahwa kalimat ini, tidak ada dalam al-Qur’an, kalimat yang lebih tegas dan kuat dari ini.

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 82 Semua ini tidak lain dimaksudkan agar manusia mendapatkan ketenangan bahwa al-Qur’an ini akan terus abadi sampai hari kiamat; sampai Allah mewariskan bumi dan segala isinya.

Ketika Allah memaksudkan al-Qur’an ini untuk langgeng dan berkesinambungan, maka Ia menyiapkan kondisi atau sebab-sebab pendukungnya. Banyak bukti yang menunjukkan maksud Allah ini.

Saya akan berusaha untuk menyebutkannya sesuai dengan waktu yang tersedia. Allah menurunkan al-Qur’an secara berangsur-angsur selama 23 tahun adalah wadah waktu untuk penurunan al-Qur’an. Pada sebagian waktu, al-Qur’an memang berhenti diturunkan, namun secara umum ia adalah wadah waktu penurunan al-Qur’an. Ketika Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur, jiwa-jiwa manusia menyerap, mengunyah dan beribadah dengannya. Setelah itu, turun lagi ayat yang lain, jiwa-jiwa itu menyambutnya, menyerap dan menggunakannya untuk beribadah kepada Allah, lantas turun lagi ayat yang lain, sehingga umat Islam keranjingan, penuh kerinduan dan penuh perhatian terhadap apa-apa yang diturunkan. Sampai para sahabat saling bertanya-tanya ayat yang turun. Sebagian orang mendesak agar qur’an turun. Cerita seorang perempuan yang datang mendesak Rasulullah SAW adalah contoh jiwa yang menginginkan dan menunggu turunnya wahyu.

Umat yang mengharap-harap, menunggu dan kenyang dari sumber wahyu ini dengan waktu yang panjang ini, pasti ujung-ujungnya memelihara dan menghapalnya. Kemudian, bukti lain pemeliharaan Allah terhadap al-Qur’an adalah bahwa disamping sebagai dakwah Islam, pada saat yang sama, ia adalah mukjizat Nabi Muhammad SAW. Artinya, bahwa mukjizat para nabi terdahulu tidak menyatu dengan dakwahnya. Dakwah seluruh para nabi adalah ajakan menuju tauhid, menjadikan Allah satu-satunya yang disembah, namun makjizat lain lagi. Nabi Musa diberikan mukjizat yang sesuai dengan masanya. Beliau diberikan tongkat

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 83 dan terbelahnya laut dalam tujuh ayat sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Allah. Nabi Isa diberikan mukjizat menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang bisu dan penyakit belang. Nabi-nabi lain juga diberikan mukjizat sejenis ini. Namun seluruh mukjizat tergantung dengan masa hidup para nabi tersebut. Ia berlaku selama masa hidup para nabi tersebut saja. Ia, sebagaimana perumpamaan sebagian ulama, adalah seperti batang pohon yang sekali menyala, tidak lagi bisa menyala untuk kali berikutnya, hingga ia kemudian tetap dalam timbunan sejarah. Namun dakwah Rasulullah SAW menyatu dengan harmonisasi penuh. Ia adalah ajakan kepada tauhid dan pembawa tauhid itu adalah kitab Allah (al-Qur’an), sehingga tidak ada beda antara dakwah dan mukjizat. Dengan demikian, al-Qur’an adalah mukjizat satu-satunya saat ini yang bisa diketengahkan kepada manusia agar mereka bisa melihat dan memikirkannya setiap waktu. Ia bukan hanya mukjizat kesejarahan, tetapi ia juga mukjizat tematik. Di segala penjuru dunia, banyak lembaga penelitian yang bermunculan untuk mempelajari kemukjizatan al-Qur’an, redaksi al-Qur’an (al-bayan al-qur’ani). Al-Qur’an masih berbuah dan memberi, banyak rahasia baru yang terus terungkap bagi manusia.

Inilah yang menjadikan berpegang teguh terhadap kitab ini kokoh dan stabil. Artinya, umat ini tidak mungkin menyia-nyiakan kitab yang merupakan mukjizatnya. Umat ini akan berpegang teguh terhadap kitab ini karena ia adalah agama dan hakikatnya. Bukan sekedar mukjizat di pinggiran dakwah.

Kemudian, Allah berkehendak untuk menjadikan kitab yang merupakan dakwah dan mukjizat sekaligus di puncak penampilan redaksional (al-ada’ al-bayani), di puncak balaghah. Satu kata pun tidak mungkin hilang darinya, karena setiap kata menempati posisinya dan tidak bisa digantikan dengan yang lain. Meskipun setiap orang dan setiap penafsir berusaha untuk menggantikan

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 84 firman Allah SWT : راداا ها اترز ى رثدك ها كدمهن : mereka tidak akan menemukan kalimat كدامهن . Kalau mereka menafsirkan dengan : كلكااش, niscaya kalimat tidak menunaikan seluruh fungsi yang dimaksud, karenaنملها berbeda dengan يكشها . Kata يكاشها boleh jadi mengandung makna ااب : kesia-siaan. Sedangkan نااملها adalah hal yang berbeda. Firman Allah SWT: راداا ها اترز ىا : tidak mungkin digantikan oleh ungkapan : راداا ها الل , karena ziarah juga mengandung makna kepergian (setelah menetap).

Kitab dan redaksi firman Allah seluruhnya berada di posisinya.

Tidak ada satu ungkapan pun yang dapat sampai kepada kelugasan dan kekuatan (ungkapan) seperti ini.

Para ahli bahasa (fushaha’) menyerah. Asmui berkata kepada seorang perempuan, “engkau adalah seorang perempuan yang ahli bahasa”. Perempuan itu menjawab, “dimanakah gerangan saya ketimbang kefasihan al-Qur’an?. Tidak engkau membaca firman Allah :

و هظداا ت و ااها هااظ هاا اهوظ هاا ل هاافأ اهيااظ ه عااإرن ن ىاامنع سن ىااهإ داان ون و هنزحت

“dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya Maka jatuhkanlah Dia ke sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati”. (Q.S, al-Qashash, 28: 7)

Dalam ayat yang pendek ini, ada dua perintah, dua larangan dan dua kabar gembira. Manusia tidak akan sampai pada tingkat (kemampuan berbahasa) seperti ini. Dari kenyataan ini, sebagian penyair terdiam. Labid Ibn Rabi’ah dan penyair lain mencurigai (tidak mempercayai) ungkapan (bayan) mereka di hadapan ungkapan al-Qur’an. Sesungguhnya al-Qur’an berada di tingkat keindahan (bahasa) seperti ini. Kalimat yang indah disimpan di jiwa. Puisi yang indah disukai dan diperhatikan oleh jiwa.

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 85 Ungkapan al-Qur’an dengan demikian pada dirinya sendiri mengundang untuk dihapal dan dipegangteguhi. Ketika kita membaca al-Qur’an, atmosfer dan beriannya menunjukkan bahwa ia adalah firman Tuhan. Kitab Allah adalah kitab yang ketika engkau membacanya, engkau merasa Allah berbicara kepadamu, kepada nabi-Nya. Ketika engkau membaca: نننيب نحتف كل نحتف نإ : …

; ketika engkau membaca : ن ل لنننذ نل كنع الله فع :…; ketika engkau membaca : كنجاوزلأ لق يينلا يذ ي :…; ketika engkau membaca ن يذ ني ... ينينلا , ن للا نن يذ ني , engkau senantiasa akan mendapatkan posisi pembicara (mukhatib) dan yang diajak bicara (mukhatab);

dalam kondisi ini, posisi Rasulullah SAW hanyalah sekedar penerima; beliau tidak bisa mengurangi atau menambah. Satu kalimat dari firman Allah: ن ذ الله نو لنق , segera muncul dalam benak sebagai obyek ijtihad (pemikiran). Jika anda mengutus seseorang kepada orang lain, engkau mengatakan kepadanya:

‘wahai fulan, katakan kepada orang itu begini...begini...’, ketika orang yang anda utus itu pergi dimana engkau mengatakan kepadanya : katakanlah (begini...begini..., maka orang ini akan menyimpan kalimat “katakanlah... (qul)” karena katanya (pada awalnya) ditujukan kepadanya, tidak ditujukan kepada orang lain.

Kalau saja Rasulullah SAW memiliki andil ijtihad dalam menyampaikan al-Qur’an, niscaya beliau akan menyimpan kata

“qul/katakanlah...”, namun Nabi tetap menyampaikan kata-kata ini: ننن ذ الله نننو لنننق نولف ننن لا ننن يذ نني لنننق ه ننننلا ننن يذ ننني لنننق … beliau menyampaikannya untuk memberi tahu bahwa al-Qur’an ini beliau sampaikan kepada umat sebagaimana beliau menerimanya dari Allah SWT. Di sini saya mengatakan: sesungguhnya jiwa ini, sesungguhnya atmosfer qur’ani ini, adalah sesuatu yang niscaya dari aspek obyektifitas untuk memahami kitab Allah.

Sesungguhnya orang yang memahami kitab Allah dan ingin bergaul dengan kitab Allah harus berangkat dari premis apriori bahwa ia adalah kitab Allah, karena jika tidak, dia pasti akan menganggapnya bukan firman Allah.

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 86 Memahami teks (al-Quran) memerlukan pengetahuan tentang pembicara dan kondisi-kondisinya. Untuk memahami syair, seseorang perlu mengetahui pemilik teks (syair), intelektualitasnya, lingkungan dan kondisinya. Ketika misalnya kita membaca syair, tentu bukan di bidang al-Qur’an, dibaca oleh komandan perang, berbicara tentang keberaniannya, namun dari posisi komandan perang, lalu ia bersenandung:

ى ن ى لل بذ // ليصلا كتمنش عب لا ىصع كارذ لبذ لا و كنلع

ل ل عاذي لا يلثب لو // ةع ل ي نع و ق تشب نذ ىلب Kemudian ia mengatakan:

لي لا قئلاخ ب عبد لللنذ و // ى لا ي لطسب ينا ضذ لنللا نإ

Kata-kata penyair: “لن نل عاذني لا ينلثب ن لو tidak mungkin dipahami kecuali dengan mengetahui kondisi orang ini (yang berbicara), yakni ia berada di posisi kepanglimaan yang tidak mengizinkannya untuk menyerah atau menampakkan kelemahan.

Bagaimanapun, mengetahui bahwa al-Qur’an adalah firman Allah meniscayakan seluruh orang yang bergaul dengannya, baik mereka yang beriman maupun bukan untuk menariknya ke dalam atmosfer ini. Sedangkan mengambil al-Qur’an dengan sifat kemanusiaan dengan menerapkan studi bahwa ia adalah sekedar sastra biasa, tentu saja ba-Qur’an bagi mereka menjadi tidak beda dengan karya manusia.

Bukti bahwa Allah memelihara al-Qur’an juga adalah bahwa Allah mengilhami Nabi-Nya untuk melakukan langkah-langkah yang mengantarkannya untuk menghapal al-Qur’an ini. Di antara langkah-langkah itu, Nabi SAW mengundang para juru tulis untuk menulis al-Qur’an. Ketika kita berbicara tentang penulisan (al-Qur’an), terpatri dalam benak bahwa orang Arab adalah umat yang buta huruf. Mereka tidak bisa menulis. Ini adalah sesuatu hal berlebihan yang harus ditolak. Memang mayoritas orang Arab buta huruf, namun tidak berati bahwa mereka tidak tahu menulis.

Mereka menulis teks-teks syair; menulis al-muallaqat (syair yang

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 87 digantung di dinding Ka’bah) dengan tinta emas; menulis perjanjian-perjanjian di dinding Ka’bah agar dibaca oleh mereka yang bisa membaca. Ini adalah sesuatu yang jelas. Rasulullah SAW memang berada di umat yang buta huruf tidak bisa menulis dan berhitung namun beliau mentransformasi mereka dari kondisi itu, dari ayat: “bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,” (Q.S, al-‘Alaq, 96: 1) ke ayat yang terakhir turun : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya...”. (Q.S. al-Baqarah, 2: 282). Kata-kata al-kitabah (menulis, penulisan) menjadi berulang-ulang karena umat telah menjadi umat yang bisa menulis.

Rasulullah SAW mengangkat para penulis wahyu, jumlahnya 43 penulis. Mereka adalah penulis-penulis yang bagus, bahkan di antara mereka ada yang spesialis. Zaid Bin Tsabit dan Ubai Bin Kaab termasung yang paling spesialis. Para khalifah yang empat adalah juga penulis. Mereka semua bisa menulis.

Nabi SAW sendiri menulis surat-suratnya. Ibnu Saad menyebutkan bahwa jumlahnya 110 surat. Beliau juga didatangi oleh para kurir dan beliau menulis untuk mereka. Sebagian peneliti menghitung jumlahnya sampai 246 surat dan dokumen yang sekarang dimuat di dalam kitab “dokumen-dokumen politik pada masa nabi (al-watsa’iq as-siyasiyah fi al-‘ahd an-nabawi)”.

Artinya, kemampuan menulis sama sekali bukan penghalang untuk menulis kitab Allah. Al-Qur’an ditulis. Rasulullah SAW menyuruh para penulis untuk membacanya. Zaid Bin Tsabut meriwayatkan bahwa Nabi SAW memintanya untuk menulis, setiap ia selesai menulis, Nabi berkata: “Bacalah di hadapanku”, lalu Ia membaca dan nabi menilainya. Kemampuan menulis ada pada umat ini.

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 88 Bagaimana tidak, sementara Nabi SAW membaca dalam al-Qur’an bahwa diatara tugasnya adalah : “orang-orang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran), di dalamnya terdapat (isi) Kitab-Kitab yang lurus”. (Q.S, al-Bayyinah, 98: 1-3). Isyarat kepada penulisan dan penamaan al-Qur’an dengan al-Kitab membantu kita untuk melaju ke arah pendapat tadi. Nabi SAW sangat ingin agar manusia tetap memahami dan bersambung dengan al-Qur’an. Cukuplah saya mengatakan: setelah banyak orang memperhatikan Qur’an, mereka menguasai dan menghapal al-Qur’an. Pada tahun keempat, Nabi SAW mengutus kepada sebagian orang-orang musyrik sekitar 70 orang sahabat dari kalangan ahli baca al-Qur’an (qurra’) untuk mengajari mereka al-Qur’an. Namun orang-orang musyrik itu membunuh mereka.

Ketika Nabi SAW mengutus 70 ahli baca al-Qur’an, artinya adalah bahwa para qari’ ketika itu banyak, karena Nabi SAW tidak mungkin mengutus sampai habis seluruh qari’ yang ada di sekelilingnya. Ketika perang Yamamah terjadi, dikatakan bahwa jumlah qari’ yang terbunuh adalah berkisar dari 700 sampai 900 orang.

Seluruh proses kenabian ini menunjukkan keniscayaan memperhatikan al-Qur’an. Lantas, al-Qur’an juga mendapatkan hal yang penting sekali, yaitu bahwa umat ini segera setelah kewafatan Nabi mengumpulkan al-Qur’an dan seluruh tulisan yang pernah dibuat pada masa Rasulullah SAW.

Zaid Ibnu Tsabit dalam hadits panjang yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari di kitab Fadlail Qur’an (keutamaan al-Qur’an), bab Jam’ al-Qur’an (pengumpulan al-Qur’an), beliau berkata: bahwa beliau (Zaid) dipanggil oleh Abu Bakar setelah

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 89 diajak bicara oleh Umar. Umar berkata kepada Abu Bakar :

‘perang berkecamuk meminta korban para qari’ di Perang Yamamah. Saya khawatir hal yang sama terjadi di tempat-tempat lain. Saya mengusulkan agar engkau mengumpulkan al-Qur’an’.

Abu Bakar berkata, ‘bagaimana mungkin saya melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW’. Umar menjawab, ‘itu adalah sesuatu yang baik’. Beliau meyakinkan Abu Bakar bahwa hal ini adalah sesuatu yang baik bagi umat.

Mereka berdua kemudian mengundang Zaid Bin Tsabit untuk meyakinkannya karena ia masih ragu dengan pekerjaan ini.

Lantas, Zaid Bin Tsabit melakukan pengumpulan al-Qur’an. Abu Bakar berkata kepadanya, “engkau adalah anak muda yang cerdas. Kami mempercayaimu”. Oleh karena itu, mereka berdua mengundangnya untuk mengumpulkan al-Qur’an. Artinya, Abu Bakar dan para sahabat melihat pada diri Zaid sifat-sifat : ia masih muda, memilik semangat orang muda, ia cerdas dan memiliki kemampuan memori yang kuat, terpercaya, yakni bahwa ia memiliki akhlak dan kejujuran intelektual. Urusan ini kemudian diserahkan kepada Zaid, dimana ia mengatakan: “Demi Allah, kalau beliau berdua membebani saya untuk memikul gunung, itu tidak lebih berat bagi saya ketimbang apa yang dibebankan kepadaku ini (mengumpulkan al-Qur’an)”. Kemudian Zaid berkata, “saya meneliti al-Qur’an, saya mengumpulkannya di pelepah kurma dari dada para penghapal al-Qur’an”. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau mengumpulkannya dari batang pohon, dari qaranif dan dari apa saja yang menjadi tempat penulisan al-Qur’an.

Pekerjaan ini dimulai sejak waktu awal sekali. Al-Qur’an ditulis dengan inisiatif dari Abu Bakar dan Umar RA. Inisiatif ini berdiri di atas dasar bahwa tidak ada sesuatu pun yang terkodifikasi di dalam kitab Allah kecuali apa yang dibuktikan melalui apa-apa yang sudah ditulis. Orang-orang datang membawa apa yang mereka tulis (dari firman Allah), tulisan-tulisan ini disaksikan oleh

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 90 para sahabat lantas dibukukan. Ketika itu, era keIslaman masih baru, banyak sahabat yang masih hidup. Pekerjaan pertama penuh berkah inipun tuntas dilakukan. Kemudian mushaf-mushaf dikumpulkan pada masa Abu Bakar, kemudian pada masa Umar lantas disimpan oleh Hafsah (putri Umar). Setelah itu, Utsman mengumpulkannya pada mushaf induk.

Pekerjaan yang dilakukan umat Islam di fajar sejarahnya ini adalah pekerjaan yang istimewa. Karena ketika Allah SWT mengkhususkan kitab ini bahwa ia akan terpelihara, Ia memberi ilham kepada umat Islam untuk melakukan pekerjaan ini. Ketika kita berbicara tentang keberadaan kitab-kitab di hadapan eksistensi agama, maka kita mengetahui bahwa agama-agama itu banyak jumlahnya dan menyebar. Di satu negeri saja, kadang bisa ada 200 agama, sebagaimana di Mesir kuno. Di sebagian ada banyak agama, namun agama-agama sepanjang sejarah ini tidak memiliki kitab yang diakui oleh agama tersebut.

Artinya, banyak agama menyia-nyiakan kitabnya dan kitab-kitab tersebut tidak ada lagi. Kondisi kesejarahan yang dilalui oleh agama-agama ini, adalah kondisi –yang senyatanya—khusus, kondisi yang membedakan kitab Allah dari yang lain. Kondisi yang dialami oleh Nabi Musa AS ketika keluar dari Mesir, ketika bermukim di Tih, ketika di sekelilingnya banyak urusan yang melingkupi, ketika beliau dilarang untuk masuk ke tanah Palestina, ketika beliau wafat dan tetap berharap masuk Palestina dan beliau tidak juga bisa memasukinya. Setelah itu, banyak peristiwa terjadi. Dalam kitab Bani Israil di Sifr Raja Kedua, bahwa Taurat ini ditemukan pada waktu lebih dari 700 tahun.

Kesimpulannya, kitab-kitab besar dalam Taurat yaitu lima kitab:

Sifr at-Takwin, Sifr al-Khuruj, Sifr al-Adad, Sifr at-Tatsniyah dan Sifr al-Lawain, sebagaimana yang disebutkan oleh para sejarawan, ditulis pada waktu yang berbeda.

Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 91 Dua Sifr pertama: at-Takwin dan al-Khuruj ditulis pada abad ke-9 sebelum masehi. Sifr al-Adad ditulis pada abad ke-7 sebelum masehi, yakni setelah dua abad. Dua Sifr terakhir: At-Tatsniyah dan al-Adad ditulis pada abad ke-4 dan ke-5 sebelum masehi.

Demikianlah, ahli agama selain muslim dari Jerman seperti: Ifald, Tukh dan Felhouzen berbicara secara mendalam tentang fase ini.

Mereka mengatakan bahwa bahasa Ibrani telah melalui beberapa fase, dan bahwa bahasa itu berubah. Adalah jelas bahwa setidaknya ia melalui empat fase bahasa : fase kemurnian, melemah dan seterusnya.

Oleh sebab itu, jelas bahwa bahasa itu berubah. Kitab ini lantas memiliki kekhususan dan keistimewaan karena dikumpulkan dalam kondisi seperti ini.

Kitab-kitab yang lain: kitab umat Kristen tidak jauh berbeda dari kondisi ini. Kitab ini juga ditulis belakangan. Tidak terlalu jauh terlambat memang. Namun dua kitab dari empat kitab itu dikumpulkan oleh dua orang yang bukan dari kalangan Hawariyyun, yaitu Markus dan Lukas. Dua kitab yang lain ditulis dan dikumpulkan oleh dua Hawariy dari sahabat Nabi Isa AS.

Bagaimanapun juga, kitab-kitab ini telah dikumpulkan, diakui dan dilayani oleh penganutnya. Namun yang penting bagi kita bahwa disini ada realitas sejarah. Realitas yang dilalui oleh kitab suci Islam adalah realitas khusus. Kitab ini dikumpulkan ketika sahabat-sahabat nabi masih banyak hidup, ketika bahasa masih hidup dan para saksi mata eksis. Kemudian, umat ini mengamalkan, menerapkan dan mempraktikkan kitab ini dalam kehidupannya.

Bukti terakhir perhatian dan perawatan umat Islam terhadap al-Qur’an adalah tulisan al-al-Qur’an itu sendiri. Ketika kita membaca kitab Allah, ketika kita membuka mushaf, kita akan

Dalam dokumen Panorama pemikiran Islam ulama Maroko (Halaman 86-102)