UNIVERSALITAS HUKUM KELUARGA DI DUNIA MULTI KULTURALISME
1. Indikator demografis menyingkap terpecah-pecahnya keluarga atomik
Akan panjang pembicaraan kalau kita berusaha untuk menyampaikan seluruh realitas yang dihasilkan oleh pendekatan yang dimaksud. Oleh karena ita, kita mencukupkan diri untuk menampilkan fenomena yang paling berbahaya dari runtuhnya keluarga atomik itu sendiri:
- Angka pernikahan turun drastis, berkebalikan dengan angka mukhadanah.
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 185 - Menurunnya –dan ini tidak kurang berbahaya-- persentasi kesuburan yang di sebagian negara sampai kurang dari 1,4 %, karena jumlah yang signifikan dari anak-anak yang lahir dilahirkan di luar kerangka pernikahan. Hal ini terjadi di tengah kenyataan meskipun usaha keras yang dilakukan oleh negara-negara maju untuk mendorong reproduksi dengan menggunakan segenap sarana material, logistik dan iklan. Karena ketika pernikahan sedikit, selanjutnya reproduksi juga sedikit dalam kerangka perkawinan, politik –sebagai kelanjutannya— mendorong reproduksi di luar pernikahan dengan menyediakan anggaran untuk mendukung ibu-ibu singel dan secara umum ibu orang tua tunggal (tanpa suami sah dalam pernikahan).
- Banyaknya perceraian: di sejumlah negara barat, angka perceraian melampaui 60 % dibandingkan dengan pernikahan yang tercatat. Artinya, setiap dua perkawinan, satu di antaranya, setidaknya, berakhir dengan perceraian.
- Meningkatnya angka
membujang/menggadis/menjanda/menduda. Pada saat yang sama, ini adalah sebab sekaligus akibat, penyakit sekaligus penyebab.Tidak mau menikah, lari dari reproduksi, banyaknya angka perceraian, gonta-ganti pasangan dan terpisahnya anak dari orang tua sejak usia dini. Seluruhnya menyebabkan meningkat mereka yang hidup sendiri tanpa pernikahan.
- Penduduk tua: barangkali sedikitnya angka pernikahan dan keacuhan terhadap anjuran pemerintah untuk menaikkan tingkat reproduksi menyebabkan pucuk piramida demografis bertambah luas (berkebalikan dengan negara-negara berkembang); sesuatu yang menyebabkan meningkatkan angka penduduk berusia tua dan mengkerutnya presentasi anak-anak muda. Dengan demikian, politik pemerintah terdesak untuk mendorong
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 186 reproduksi meskipun di luar kerangka perkawinan karena ia adalah solusi satu-satunya untuk menghindari punahnya masyarakat dan mengkutubnya profesional tinggi dari negara-negara berkembang untuk menutup kekurangan serius di level kader-kader muda ahli.
- Guncangan berbahaya pada perilaku remaja dan anak-anak: banyak studi membuktikan munculnya banyak kasus pada anak-anak dan remaja yang sampai kemarin khusus menimpa anak-anak dalam usia pubertas. Di antaranya;
rusaknya pencernaan, gelisahan, lepas kontrol, gangguan akal, bunuh diri, selain penyimpangan yang menimbulkan kecelakaan dan kecenderungan mereka untuk melakukan tindak kriminal yang serius (seperti pembunuhan kolektif).
Para peneliti barat berkesimpulan bahwa anak-anak telah kehilangan segala makna masa kanak-kanak dan bahwa dasar-dasar perkembangan anak mengalami kerusakan yang sangat serius.
Dalam waktu yang singkat, saya akan menyampaikan pengaruh pendekatan modern terhadap keluarga muslim.
Sesungguhnya cara membahas persoalan-persoalan keluarga dan cara melontarkannya sama saja dalam ilmu-ilmu sosial modern di berbagai negara; sesuatu yang mengizinkan untuk berbicara tentang globalisasi metodologi. Sebab setiap kali persoalan keluarga dimunculkan, maka ia selalu direduksi pada persoalan perempuan dan seberapa banyak ia ditunggangi oleh pihak laki-laki; sesuatu yang mengantarkan perdebatan pada ujung yang tidak memberi guna apa-apa terhadap keluarga, tidak juga –setidaknya—terhadap perempuan itu sendiri. Kesimpulan pasti dari cara bahasan ini adalah adopsi pertarungan dan kompetisi serupa, mengabaikan kewajiban dan tanggun jawab resiprokal antar kedua belah
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 187 pihak (laki-laki dan perempuan) dan mengabaikan kemaslahatan dan acuan tertinggi dari keluarga.
Dengan demikian, sampai batas tertentu, kasus-kasus keluarga muslim mirip dengan yang dialami oleh keluarga barat. Kasus-kasus yang paling menonjol dalam kaitannya dengan keluarga muslim adalah:
- Guncangnya acuan hidup bersama secara harmonis.
- Meningkatnya angka perceraian secara mencengangkan sampai menyentuh angka 30 %.
- Mulainya persebaran prilaku individualis dan kebebasan yang tanpa batasan.
- Menuanya usia pernikahan dan pelarian diri darinya, meningkatnya persentase mereka yang tidak menikah.
- Berlanjurnya kezaliman terhadap hak-hak sebagian anggota keluarga, khususnya anak-anak.
- Orang-orang berusia lanjut kehilangan posisi dan tugas yang dulunya disandangnya.
- Meningkatnya jumlah anak-anak yang lahir di luar nikah.
Di dunia Islam, masalah-masalah ini bertambah kompleks karena riset nasional tidak memberi keluarga urgensitas yang semestinya, tidak mendayagunakan nilai-nilai dan aturan-aturan yang berkaitan dengannya, tidak menampilkan solusi-solusi yang sesuai dengan karakteristik masyarakat kita. Hal ini menimbulkan kondisi terbelah antara apa yang diwarisi dan apa yang diimpor, sehingga kerja pemikiran kemudian berubah menjadi medan kontradiksi dan pertarungan; sesuatu yang menimbulkan krisis identitas dimana masyarakat dan elitnya timbul tenggelam antara keterkaitan yang membatu dengan tradisi dan menghantam habis nilai-nilai, acuan-acuan dan permusuhan tanpa syarat terhadap keluarga yang memiliki akar kuat ke masa lalu dengan segala nilai-nilainya.
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 188 Walhasil, apa yang diproduksi oleh modernitas material bukan tatanan keluarga, tetapi kekacauan (chaos) dalam hubungan keluarga, mendiversifikasi model-model pergaulan dengan tanpa aturan, afiliasi dan warna.
Apa yang ingin disebarluaskan oleh modernitas material dan ingin dijamin universalitasnya bukan tatatan tetapi kekacauan dan kesia-siaan.
Dari sinilah alasan penggunaan kita (dalam judul pengajian) ungkapan tatanan keluarga dalam bentuk singular. Ini menguatkan bahwa hanya ada satu model keluarga yang menerima untuk diungkapkan dengan istilah tatanan (nidzam), yaitu tatanan keluarga dengan perkawinan. Inilah tatanan yang diletakkan oleh syariat agama-agama langit sejak manusia diciptakan: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya;...”. (Q.S. an-Nisa’, 4: 1). Kemudian, syariat Islam datang untuk menyempurnakan bangunannya dan mengokohkan kaidah-kaidah dan nilai-nilainya. Sementara bentuk-bentuk kesia-siaan yang tiada warna dan tatanannya, maka ia hanya sekedar kekacauan yang istilah “tatanan” terlalu tinggi baginya.
Yang mulia, saya akan berpindah untuk menganalisis metode yang komprehensif menurut Islam dan penerapannya terhadap keluarga. Saya akan memulai pembicaraan dengan menampilkan makna-makna yang dikandung oleh ayat yang pertama dari surat an-Nisa’ yang saya jadikan sebagai titik berangkat dalam kajian ini. Setelah itu, saya akan menampilkan dasar-dasar ajaran yang mengkerangkakan keluarga.
Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 189
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.
dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”. (Q.S. al-Nisa’, 4: 1).
Surat an-Nisa’ adalah surat terbesar kedua, surat yang paling banyak mengandung hukum yang mengatur kehidupan keluarga dan sosial. Waktu turunnya adalah langsung setelah hijrah ke Madinah dengan tujuan untuk membangun keluarga muslim yang kokoh dan memperbaharui batu-bata tatanan yang mendukungnya, dimana ia tetap terbuka untuk jangka waktu bertahun-tahun mengawal bangunan hukum satu demi satu secara berurutan yang sesuai dengan dengan posisi dan tingkat kemampuan merangkul audiens.
Surat ini berbentuk sejumlah hukum yang saling menguatkan dan menyempurnakan. Setiap hukum merupakan kaidah yang diperlukan untuk membangun keluarga, komunitas Islam di atas landasan yang kuat. Kita tidak mengklaim bahwa ia mencakup seluruh hukum yang mendasari dan mengatur keluarga, namun ia disempurnakan oleh surat yang lain, di antaranya yang paling penting: Surat at-Thalaq yang oleh para penafsir disebut “an-Nisa’ as-Shugra” karena banyaknya hukum keluarga yang dikandungnya, Surat al-Baqarah, Surat al-Ma’idah, Surat an-Nur, Surat al-Ahzab, Surat al-Mujadilah, Surat al-Mumtahanah, Surat at-Tahrim dan Surat at-Taubah.
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 190 Marilah kita merenungkan ayat tersebut, bagian demi bagian. Ia membawa kaidah-kaidah, hukum-hukum, akhlak dan perundang-undangan yang tidak lagi perlu ada tambahan aturan:
- Dalam firman Allah SWT: “wahai manusia”. Wacananya disini bersifat universal ditujukan kepada seluruh manusia, tidak hanya kepada umat Islam. Oleh karena itu, bagian kedua dari ayat dan ayat-ayat lain di surat yang sama dan banyak ayat di surat-surat lain –sebagaimana yang disebutkan di atas—menjelaskan kekhususan yang bersifat abadi bagi keluarga.
- Dalam firman Allah SWT: “takutlah kalian kepada Tuhan kalian”. Yang patut dicatat disini adalah pengkaitan bangunan keluarga dengan takwa dan penghormatan terhadap batasan-batasan Allah sebagaimana disunnahkan oleh-Nya di syariat-syariat terdahulu dan syariat pamungkas (syariat Islam). Surat ini dibuka dengan ajakan untuk takwa kepada Allah, perintah yang sama untuk takut kepada Allah berulang-ulang di ayat yang sama;
sesuatu yang menunjukkan bahwa hukum-hukum keluarga adalah hak Allah, yaitu termasuk hukum publik.
- Dalam firman Allah SWT: “Dia menciptakan kalian dari satu jiwa”. Di sini, para penafsir berpikir keras tentang kata ‘nafs’ yang difemininkan. Mereka berpendapat bahwa berbentuk feminin meskipun maknanya maskulin, meskipun boleh saja ungkapannya berbunyi: ‘min nafsin wahid’ demi memandang maknanya sebagaimana yang dijelaskan di Tafsir Qurthubi. Bentuk feminin disini memiliki makna jelas yang dikuatkan oleh banyak ayat yang seluruhnya memuliakan perempuan.
- Dalam firman Allah SWT: “dan Dia ciptakan darinya pasangannya”. Artinya, ia menciptakan pasangannya darinya, dari jenis yang sama meskipun berbeda dari aspek laki-laki dan perempuan, dari segi kemuliaan dan kehormatannya, artinya sesuatu yang menjamin persamaan
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 191 mutlak dalam penciptaan yang tiada pembebanan padanya dan dengan sesuatu yang melampaui persamaan yang diinginkan oleh legislasi kontemporer.
Di sisi lain, penggunaan kata ‘zaujuha’ mengandung petunjuk berpasangan secara legal yang berdiri di atas dasar-dasar hukum yang diantaranya –yang paling penting—adalah perbedaan jenis kedua pasangan, di samping kasih sayang sebagai alasan bersatunya jiwa dan tiadanya kelebihutamaan di antara dua jenis.
- Dalam firman Allah SWT : “dan menganak-pinakkan dari keduanya laki-laki dan perempuan yang banyak”. Ini adalah pengakuan tentang salah satu tujuan pernikahan dan hikmah berbedanya jenis kelamin yaitu menjalin keberlangsungan manusia.
Pernikahan dengan tujuan ini adalah pakaian dimana masing-masing pasangan menjadi pakaian bagi pasangannya. “...mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka....”. (Q.S. al-Baqarah, 2: 187). Ia melebur di dalamnya, bersatu dengannya, menitipkan padanya rahasianya dan tenteram-stabil bersamanya. “dan Dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri, Maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan…”. (Q.S. al-An’am, 6: 98).
- Firman-Nya : “bertakwalah kepada Allah”. Penegasan tambahan akan pengaitan membangun keluarga dan dasar-dasarnya dengan takwa, takwa kepada Allah dalam segala perilaku, gerakan, diam, baik di kesepian maupun di keramaian. Tidak ada yang lebih menjamin stabilitas keluarga selain bahwa pergaulan di dalamnya dilandaskan pada rasa takut kepada Allah SWT. Ayat-ayat lain mengaitkan pergaulan antar suami-isteri tidak hanya
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 192 dengan sekedar kewajiban saja, namun dengan ihsan.
Takwa tidak sempurna dengan sekedar memelihara batas-batas dan melaksanakan kewajiban dengan sebaik-baiknya, namun dengan ihsan, derma dalam melaksanakannya.
- Firman-Nya : “kalian meminta dengan nama-Nya”. Dua huruf ta’ dalam kalimat “tassaaluun” di-idgham-kan, bukan hanya sekedar untuk meringankan bacaan, namun idgham dengan tasydid disini mengisyaratkan tanggung jawab dan keseriusannya sebagaimana terdapat dalam surat Abasa: ىن زي نذ كننلع نب و ى نصد نل لننأف : “Maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau Dia tidak membersihkan diri (beriman).”. (Q.S. Abasa, 80: 6-7) “Maka kamu mengabaikannya …”. (Q.S. Abasa, 80:
10). Dan dalam surat Maryam : ق نسد : Setelah perintah takwa, idgham dua ta’ dan tasydid-nya huruf sin adalah untuk menguatkan tanggung jawab di hadapan Allah dan di hadapan hukum dan di hadapan kekuasaan yang mengatur keluarga (yakni pemimpin negara). Penafsiran ini dikuatkan oleh sejumlah ayat yang membarengkan ajakan untuk memelihara hukum Allah. Batasan Allah adalah kaidah-kaidah syariat dalam aturan umum sekira ia wajib dipelihara dan membebani seluruh anggota keluarga untuk menghormatinya dengan sepenuhnya. Aparat negara wajib bersemangat untuk menerapkannya dengan baik dan membarenginya dengan sanksi ketika dilanggar. Redaksi batasan Allah (hududillah) banyak datang berbarengan dengan tema keluarga.
- Firman-Nya: “dan rahim (keluarga)”. Tanggung jawab keluarga di-athaf-kan (disambungkan) dengan tanggung jawab untuk bertakwa kepada Allah. Apapun posisi ketatabahasaan “سدا رلأا و “ , kesimpulan yang dihasilkan dari konteksnya adalah: “takutlah kepada Allah untuk berdosa kepada-Nya dan takutlah kepada keluarga untuk memutus hubungan dengan mereka”. Itu dikuatkan bahwa