Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko i
PANORAMA PEMIKIRAN ISLAM ULAMA MAROKO
Dr. H. Dedy Wahyudin, M.A
CV.Alfa Press
creative.printing.publishing
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko ii
PANORAMA PEMIKIRAN ISLAM ULAMA MAROKO
Judul : PANORAMA PEMIKIRAN ISLAM
ULAMA MAROKO
Penulis :
All Rights Reserved
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang memperbanyak sebagian atau keseluruhan isi buku baik dengan media cetak atau digital tanpa izin dari penulis.
Cetakan Pertama : Februari 2023
ISBN :
Diterbitkan Oleh CV.Alfa Press
Jln. Raya Penimbung No 1
Kecamatan Gunungsari Kab. Lombok Barat – NTB
Laman : www.cvalfapress.my.id
Email : [email protected]
Facebook : Alfa Press
Telp/Whatsapp : 081916044384
Dr. H. Dedy Wahyudin, M.A Dr. Abdul Aziz, M.Pd.I
Editor :
CV. Alfa Press Creative Layout :
978-623-88326-5-1
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko iii
PANORAMA PEMIKIRAN ISLAM ULAMA MAROKO
Dedy Wahyudin
PENGANTAR
Bismillah. Segala puji bagi Allah SWT. Rahmat dan salam teruntuk Rasulullah SAW, keluarga, para sahabat dan pengikutnya hingga hari akhir.
Buku ini adalah terjemahan dari 19 ceramah Ulama Maroko di forum Durus Hassaniyah, sebuah forum kajian keislaman yang disampaikan langsung di hadapan Raja Maroko, para tinggi kerajaan, dan tokoh-tokoh dunia Islam. Forum ini diadakan di istana Raja Maroko setiap tahun di Bulan Ramadlan yang mulia.
Penerjemah sengaja memilih kajian para ulama Maroko itu untuk mengetahui dan memahami bagaimana panorama pemikiran keislaman di bagian barat dunia Islam ini. Maroko dikenal sebagai benteng pertahanan umat Islam di ujung afrika utara yang berhadapan langsung dengan Samudera Atlantik dan laut tengah. Dua jalur yang menyambungkan Benua Afrika dengan Benua Eropa.
Maroko dikenal sebagai salah satu kerajaan yang raja- rajanya memiliki sambungan nasab dengan Rasulullah SAW dan bertahan sekitar 13 abad hingga hari ini. Banyak ulama dari berbagai bidang keilmuan Islam yang lahir dari negeri ini mulai dari sang penjelajah, Ibnu Battutah, Syekh Ajrum penulis kitab al-Jurumiyah, Syekh Al-Jazuli penulis Dala’il al-Khairat sampai dengan tokoh ilmu maqashid as-syariah, Allah al-Fasi dan Ahmad ar-Raysuni. Masih banyak lagi ulama-ulama Maroko lainnya yang kedalaman ilmunya diakui dunia.
Sembilan belas naskah ceramah/kajian Islam yang diterjamahkan dalam buku ini berkisar dari tema berbagai dimensi
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko iv Kerajaan Maroko, madzhab Maliki yang menjadi mazhab resmi kerajaan, tentang perdamaian, sikap umat Islam terhadap Masjid al-Aqsha, hingga soal hukum keluarga di Maroko yang menjadi acuan pembaharuan hukum keluarga di banyak negara muslim, termasuk Indonesia. Semua ini adalah sisi-sisi yang menarik untuk dibaca, dipelajari, dan dipahami sebagai satu kesatuan yang menggambarkan panorama pemikiran Islam di Maroko dari sudut pandang ulama Maroko sendiri.
Manfaatnya bagi kita, umat Islam Indonesia, adalah perluasan wawasan dan cakrawala pemahaman keislaman untuk menjadikan basis menghadapi berbagai tantangan kehidupan terhunjam kuat dalam orisinalitas ajaran Islam di satu sisi dan progresifitas menjawab isu-isu kekinian di sisi yang lain.
Semoga buku ini dapat diterima dengan baik sebagai penambah kekayaan pengetahuan dan menjadi tambahan pemberat amal kebaikan penerjemah di hadapan mahkamah Allah SWT kelak di al-yaum al-akhir. Akhirnya, kepada-Nya jualah kita memohon pertolongan dan kasih sayang.
Salam Hormat,
Al-Faqir Ila Rahmati Rabbih Dedy Wahyudin
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko v
DAFTAR ISI
PENGANTAR PENERJEMAH ... iii DAFTAR ISI ... v KEDUDUKAN MASJID AL-AQSHA DALAM ISLAM
Al-Hassan Ibn as-Shiddiq ... 1 DASAR-DASAR SOLIDARITAS SOSIAL DALAM ISLAM
Abd al-Kabir al-Alawi al-Medagri ... 13 ILMU, PERDAMAIAN DAN KOLEKTIFITAS: DASAR DAN TONGGAK SYARIAT ISLAM
Saeed Bensaeed al-Alawi ... 36 IDENTITAS KEBUDAYAAN MAROKO
Ahmad Taufiq ... 55 BUKTI-BUKTI ALLAH MEMELIHARA AL-QUR’AN
Musthafa Bin Hamzah ... 79 NASAB KEBANGSAWANAN DAN TRANSMISI SUFI DALAM SEJARAH MAROKO
Ahmad Taufiq ... 95 CARA MEMPERBAIKI CITRA ISLAM
Abdul Wahab Tazi Saud ... 115 PERDAMAIAN: DAKWAH ISLAM DAN SYIAR ORANG BERIMAN
Said Bensaeed al-Alaoui... 133 AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR: DARI PETUNJUK AL-
QUR’AN KE KENDALI KEKUASAAN
Ahmad Taufiq ... 151 UNIVERSALITAS HUKUM KELUARGA DI DUNIA MULTI KULTURALISME
Raja’ Naji Mukawi ... 177 PRINSIP TARAHUM DAN PERINTISAN MODERNITAS AKHLAK
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko vi Taha Abdurrahaman ... 211 MENATA HUBUNGAN POLITIK DAN AGAMA
Ahmad Taufiq ... 251 CIRI KHAS MADZHAB MALIKI
Muhammad Tawil ... 275 AL-QURAN AL-KARIM: SPIRIT DUNIA DAN MIKRAJ
UNTUK MENGENAL ALLAH
Farid al-Anshari ... 318 PERAN ULAMA DALAM MEMELIHARA WARISAN
KENABIAN
Ahmad Taufiq ... 337 ISLAM ADALAH AGAMA FITRAH
Al-Yazid ar-Radli ... 363 PEREMPUAN DALAM AL-QUR’AN ANTARA TUNTUTAN TABIAT DAN TUGAS
Faridah Zamrud ... 380 KEINDAHAN MENDALAMI ILMU FIQH DALAM MADZHAB MALIKI
Muhammad Rougi ... 405 PROFIL PARA PENULIS ... 422
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 1
KEDUDUKAN MASJID AL-AQSHA DALAM ISLAM
Al-Hassan Ibn as-Shiddiq
Berangkat dari firman Allah SWT: “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Q.S. al-Isra’, 17: 1)
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.
Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta. Hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan. Tiada daya dan upaya kecuali dengan bantuan Allah yang maha luhur dan maha agung. Semoga Allah memberi rahmat, keselamatan dan berkah kepada junjungan kita Muhammad, Nabi yang terpercaya lagi mulia, kepada keluarga, sahabat dan para pengikutnya hingga hari kiamat. “Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. al-Baqarah, 2:
32). “..."Wahai Tuhan Kami, berikanlah rahmat kepada Kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi Kami petunjuk yang Lurus dalam urusan Kami (ini)."” (Q.S. al-Kahfi, 18: 10)
Yang mulia, semoga Allah memelihara dan menjagamu, melanggengkan keluhuranmu, meluruskan langkah-langkahmu ke jalan yang benar, membahagiakan kehidupanmu dalam kesehatan, kebugaran, kedamaian, menopangmu dengan pertolongan-Nya.
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 2 Yang Mulia, pengajian yang berangkat dari ayat al-Qur’an mengharuskan kita untuk sejenak menjelaskan kosa katanya, memahami maknanya untuk kemudian kita beralih ke inti pembahasan dengan pertolongan Allah.
Allah SWT berfirman, “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha...”. (Q.S. al-Isra’, 17: 1)
Kosa kata ‘subhana’ bermakna mensucikan Allah dari segala kekurangan dan segala hal yang tidak layak dengan kesempurnaan dan keagungannya. Asal kata ini ialah mashdar sima’i tidak beraturan, dari kata kerja sabbaha, yusabbihu, tasbiha wa subhana dengan tanwin. Kata ini kemudian menjadi nama. Ia di- nashab-kan dengan kata kerja yang dibuang, bisa dari kata tasbih atau tanzih. Dengan demikian arti kata subhanallah, mensucikan Allah. Kata ini juga dipakai untuk menyatakan ketakjuban atau mengajak orang lain untuk takjub terhadap sesuatu.
Memulai ayat dengan kata ini mengandung makna bahwa akan ada informasi luar biasa yang akan ditemui oleh pendengar. Pada saat yang sama kata ini menunjukkan kekuasaan Allah dan keluhuran kedudukannya.
“Asra Bi ‘Abdihi”. Al-Isra’ artinya perjalanan di waktu malam saja. Asra dan Sara artinya sama. Keduanya ialah kata kerja intransitif. Ada juga pendapat bahwa Asra (dengan huruf hamzah di awalnya) berarti jika seseorang berjalan di awal malam, sedangkan Sara berarti jika ia berjalan di akhir malam. Sedangkan kata ‘saara’, bentuk masdar-nya: saira, berarti berjalan di malam hari secara umum. Jika al-isra’ hanya bermakna berjalan di waktu malam, mengapa kata al-lail (malam) disebutkan di dalam ayat ini?. Ulama menjawab: kata ini disebut di dalam ayat dalam bentuk nakirah untuk menunjukkan makna yang tidak cukup
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 3 hanya ditunjukkan dengan kata asra saja, yaitu bahwa perjalanan tersebut terjadi hanya pada bagian kecil saja dari malam, padahal jarak Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Aqsha di Yerusalem ditempuh selama 40 puluh malam pergi dan 40 malam pulang.
Disini kata lail dalam bentuk nakirah menunjukkan sebagian malam, berbeda kalau yang dipakai adalah kata ma’rifah yang berarti seluruh malam.
Asra Bi’abdihi. Allah berfirman ‘biabdihi’ (dengan hamba-Nya), bukan ‘binabiyyihi’, ‘birasulihi’ atau langsung menyebut nama Muhammad. Ini untuk menunjukkan bahwa kata penghambaan (ubudiyyah) kepada Allah SWT adalah sifat yang paling khusus, utama dan tingkatnya paling tinggi. Sebagaimana disenandungkan oleh penyair: La tad’uni illa bi ya ‘abdaha (janganlah engkau memanggil aku kecuali dengan ‘wahai hamba-Nya’)//fa innahu asyrafu asma’i (karena ia adalah namaku yang paling mulia).
Oleh karena itu Allah SWT menyebut utusan-Nya Muhammad dengan sifat kehambaan dalam posisi yang paling mulia dan tinggi, sebagaimana dalam ayat ini: “asra bi abdihi”, dalam posisi menerima wahyu: “fa awha ila abdihi ma awha” (maka Ia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang ia wahyukan) dan dalam posisi ajakan kepada Allah: “wa innahu lamma qama abdullah yad’uhu” (sesungguhnya ketika hamba Allah berdiri mengajaknya).
Allah SWT tidak pernah mengungkapkan seseorang dengan kata
‘hamba’ (‘abd) yang disandarkan kepada kata ganti yang kembali kepada-Nya. Inilah yang dijelaskan oleh Qadli Iyadh: wa mimma zadani syarafan wa tiiha//wa kidtu bi akhmasha atha’u at- tsurayya//dukhuli tahta qaulika ya ibadi//wa an shayyarta ahmada li nabiyya. (diantara sesuatu yang membuatkan mulia dan takjub//dan membuatku hampir terbang ke bintag
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 4 Soraya//adalah aku termasuk dalam firman-Mu wahai hamba- hamba-Ku//dan Engkau menjadi Ahmad sebagai nabiku).
Asra Bi’abdihi. Artinya dengan jasad dan ruhnya. Karena kata
‘al-abd (hamba)’ bermakna demikian. Kata ini tidak disebutkan untuk sekedar bermakna ruh, sebagaimana orang menyangkanya dan mengartikan isra’ terjadi ketika tidur bukan ketika bangun.
Kalau memang demikian kenyataannya, tentu orang-orang musyrik tidak bakal mengingkarinya dan tidak bakal berpengaruh membuat orang-orang yang lemah iman menjadi murtad. Karena alam mimpi adalah alam yang luas, tidak menjadikan mustahil perjalanan (dalam waktu singkat) dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Palestina. Nama Masjidil Aqsha adalah nama Islami yang tidak pernah dikenal pada zaman jahiliyah. Aqsha artinya yang paling jauh karena jauhnya jarak dari Masjidil Haram.
Ketika itu, hanya terdapat dua masjid tersebut di dunia.
Ungkapan dengan Aqsha merupakah mukjizat al-Qur’an untuk menjelaskan bahwa kelak akan ada masjid ketiga di antara keduanya, yaitu Masjid Rasul SAW di Madinah. Masjid ini jauh dari Masjidil Haram. Namun Aqsha berarti lebih jauh dari itu.
“Barakna Haulahu” kami berkahi sekelilingnya dengan berkah yang banyak baik yang kasat mata maupun yang maknawi. Kasat mata dengan banyaknya pohon, buah-buahan, air dan sungai.
Berkah maknawi dengan menjadikannya sebagai tanah air para nabi dan para rasul, tempat lahirnya agama-agama langit: Yahudi dan Nasrani. Di tempat ini, Nabi Isa akan turun di akhir zaman. Ia juga adalah tanah mahsyar (hari kebangkitan), sebagaimana dalam hadits-hadits.
Linuriyahu min Ayatina. Ialah penjelasan hikmah Isra’ Mi’raj, dimana Allah memperlihatkan kepada beliau ayat-ayat, kekuasaan, keajaiban ciptaan-Nya di alam malakut sampai tak
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 5 terhingga. Diantara keajaiban itu, waktu tempuh jarak amat jauh yang ditempuh dalam jutaan tahun hanya ditempuh dalam sebagian kecil saja dari waktu malam. Diantara keajaiban itu juga, beliau diperlihatkan kondisi neraka dan surga, jibril diperlihatkan kepada beliau dalam bentuk aslinya di Sidratil Muntaha, ia memiliki 600 sayap, para nabi dan rasul dikumpulkan di Masjidil Aqsha dimana Rasulullah SAW shalat dua rakaat bersama mereka, sebagaian dari mereka beliau lihat di langit dan beliau juga melihat banyak malaikat yang jumlah persisnya hanya Allah yang tahu. Banyak yang beliau lihat yang satu persatu tidak mungkin disebutkan di sini.
Buku-buku sejarah hidup nabi banyak bercerita tentang hal itu, tentang cerita isra’ mi’raj. Kemudian Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya: innahu huwa as-sami’ al-bashir. Mayoritas ulama tafsir berpendapat bahwa kata ganti dalam ayat ini kembali kepada Allah SWT. Artinya: Dia maha mendengar perkataan hamba-hamba-Nya, maha melihat perbuatan mereka, tidak ada sesuatupun yang samar bagi-Nya baik di bumi maupun di langit.
Ada juga pendapat bahwa kata ganti tersebut kembali kepada Nabi karena keyakinan kuat nabi tentang apa yang dilihat dan dengar. Hal ini juga untuk menguatkan firman Allah SWT dalam an-Najm: “hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.
Maka Apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (Q.S. an- Najm, 53: 11-18).
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 6 Yang mulia, sekarang kita berpindah ke tema pengajian. Tidak perlu diingatkan lagi tentang penghormatan besar dan kedudukan tinggi di hati umat Islam yang diberikan kepada Masjidil Aqsha.
Ini karena hubungan kuat antara masjid ini dengan akidah, sakralitas dan ritus keagamaan mereka. Pertama, ia adalah negeri pada nabi dan rasul, sejak Nabi Ibrahim sampai dengan Nabi Isa Alaihissalam.
Dalam sebuah atsar dari Ibnu Abbas dikatakan, “Baitul Maqdis adalah rumah para nabi, ditempati oleh para nabi. Tidak sejengkal tanahpun darinya kecuali pernah dijadikan tempat shalat para nabi dan dipijaki oleh malaikat”.
Oleh karena Islam pada dasarnya berdiri di atas dasar keimanan kepada seluruh nabi dan rasul tanpa membedakan mereka:
“..."Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya"...”. (Q.S. al-Baqarah, 2: 285).
Ini menuntut penghormatan terhadap tanah suci dimana para nabi dan rasul itu tinggal. Di atas tanah ini, agama-agama mereka terbit. Disana, terdapat saksi sejarah dan kubur-kubur mereka, ditambah lagi dengan penghormatan Allah kepadanya di dalam kitab-Nya. Ia mensifatinya sebagai ‘yang dibekahi’ di banyak ayat, seperti dalam firman-Nya: “dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia”. (Q.S. al-Anbiya, 21: 71) dan dalam ayat tema: “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba- Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya....”. (Q.S. al-Isra’, 17:1). “Kami berkahi Sekelilingnya”, dengan berkah yang banyak baik kasat mata maupun tidak. Ia adalah masjid kedua yang dijadikan tempat ibadah setelah masjidil haram di Mekah, sampai kemudian ia hancur dan bentuk awalnya tidak berbekas, hingga kembali dibangun oleh umat Islam sebagaimana bentuknya yang sekarang ini.
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 7 Ini adalah keutamaan maha besar. Namun keutamaan terbesar dari masjid ini, --dan inilah yang menambah kedudukan, kehormatan dalam jiwa umat Islam-- ialah peristiwa Isra’ Mi’raj, kehadiran nabi di pelatarannya dan beliau menjadi imam shalat buat para nabi dan rasul. Kemudian naiknya (mikraj) nabi dari masjid ini ke langit tujuh dan Sidrat al-Muntaha, melewatinya hingga berhadapan dengan Tuhan-Nya. Ia mewajibkan untuknya shalat lima waktu sehari semalam. Beliau kembali ke Mekah membawa kewajiban shalat lima waktu yang merupakan tiang agama dan rukunnya yang paling besar setelah dua kalimat syahadat. Ia yang membedakan muslim dan kafir sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Rasulullah SAW. Oleh karena itu, shalat terkait dengan peristiwa Isra’-Mi’raj. Masjid al-Aqsha yang merupakan titik berangkat nabi ke langit tertinggi.
Barangkali inilah rahasia perintah untuk menghadapnya ketika shalat, menjadi kiblat pertama umat Islam. Umat Islam terus menghadap Masjid al-Aqsha di Mekah dan Madinah selama sekitar 16 bulan sampai Allah memerintahkan mereka untuk menghadap Ka’bah sebagai ganti Baitul Maqdis. Itu terjadi pada bulan Sya’ban tahun kedua hijriah. Turunlah firman Allah:
“sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram...”.
(Q.S. al-Baqarah, 2: 144). Ini adalah anugerah besar, Masjidil Aqsha menjadi kiblat pertama. Ini pernah disebutkan oleh Raja Hassan II: “Rehabilitasi –masjidil aqsha—kiblat pertama umat Islam, menurut saya lebih penting daripada rehabilitasi dua Masjidil Haram”.
Meskipun kiblat telah berubah ke Ka’bah di Mekah, hubungan emosional umat Islam degan masjid ini tetap sebagaimana adanya dengan menempatkannya sebagai masjid haram ketiga yang dituju
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 8 oleh perjalanan umat Islam karena berlipatgandanya pahala shalat di ketiga masjid ini ketimbang di masjid-masjid lain.
Shalat di masjidil aqsha berlipat ganda menjadi 500 shalat. Orang yang hendak menuju masjid ini yang tujuannya adalah hanya untuk shalat, ia bakal kembali darinya dalam kondisi sebagaimana ia dilahirkan oleh ibunya. Orang yang berangkat darinya untuk melakukan haji atau umrah, Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Oleh karena itu banyak shahabat dan tabiin yang mulai berihram dari masjidil aqsha, diantaranya: Mu’adz Bin Jabal, Abdullah Bin Umar, Ka’ab al-Ahbar dan lain-lain. Tidak heran kemudian kalau memori Masjidil Aqsha senantiasa terikat dengan hati mereka di setiap tempat; kerinduan mereka selalu tertuju kepadanya baik mereka yang tinggal di belahan timur (masyariq) atau di belahan barat (magrib); mereka memeliharanya dengan penuh perhatian dari masa ke masa dan dari generasi ke generasi; para pemimpim berlomba-lomba melayani, menjaga kesuciannya, mengagungkan penghormatannya mulai sejak masa Umar yang hadir secara pribadi untuk menerima kunci Kota al- Quds dari pemimpin Kristen Roma dan menuliskan kontrak perdamaian dan keamanan untuk penduduknya. Ketika Umar RA memasuki Kota al-Quds beliau langsung ke pelataran Masjidil Aqsha kemudian beliau menggelar sorbannya, beliau membersihkan sampah yang bertumpuk sejak lama dengan tangannya dimana orang-orang kristen menjadikannya sebagai tempat sampah, kotoran dan pembalut haid. Setelah itu, para raja dunia Islam terus memberikan perhatian terhadap Masjidil Aqsha dan Kota al-Quds secara umum.
Abdul Malik Ibnu Marwan membangun Masjid Shakhrah dan membiayai dengan pajak Mesir selama tujuh tahun. Kemudian, puteranya, Al Walid membangun Masjidil Aqsha di tempatnya yang sekarang ini pada tahuan 77 H atau 715-726 M. Masjid yang dibangun Al Walid ini dihantam gempa pada tahun 135 H
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 9 atau 747 M. Lantas ia kembali dibangun oleh Ja’far al-Manshur dari Dinasti Abbasiyah pada tahun 145 H. Ketika mereka membangunnya untuk pertama kali pada tahun 135 H, mereka tidak menemukan bekas Haikal Sulaiman sebagaimana yang mereka sangka. Masjid al-Aqsha dan Masjid as-Shakhrah dipandang sebagai masjid paling kreatif yang diabadikan oleh umat Islam dari aspek seni arsitekturnya di negeri Syam. Kemudian, mereka menambahkan banyak masjid sampai jumlahnya mencapai 34 masjid. Mereka juga membangun banyak madrasah dan tempat mengajarkan ilmu, tempat tinggal para pengasuhnya dan yayasan- yayasan sosial lain.
Al Quds lantas menjadi tujuan ibadah dan ziarah ke tempat- tempat suci, baik dari kalangan umat Islam, Yahudi atau Kristen.
Ia juga menjadi tujuan menuntut ilmu yang lingkaran pengajiannya diadakan di halaman Masjidil Aqsha. Banyak pembangunan dilakukan. Banyak masjid, gereja dan tempat ibadah Yahudi yang bersebelahan dengannya. Tempat ini dipenuhi keamanan, toleransi diantara penduduknya, dimana semua orang hidup dalam naungan keadilan Islam yang merawat perjanjian, konvensi, hak-hak tetangga, hak-hak penduduk dari ahli dzimmah –kebebasan mereka dalam melaksanakan kewajiban agamanya, sesuai dengan syariat Islam yang agung. Banyak orang kaya dari kalangan umat Islam yang mewakafkan hartanya untuk masjid dan proyek-proyek nirlaba khususnya untuk Masjidil Aqsha. Orang-orang Maroko memiliki peran penting dalam aksi wakaf ini, karena mereka bolak-balik mengunjungi Masjidil Aqsha, sampai salah satu pintunya dinamakan Bab al-Magharibah. Yang membuat orang-orang Maroko menjadi terhormat, pintu ini terletak di samping tempat yang dinamakan al-Buraq, sebagai isyarat terhadap tempat yang pernah ditempati Buraq ketika Nabi Muhammad SAW memasuki masjid dan shalat di dalamnya pada malam Isra-Mi’raj. Dokumen wakaf ini masih ada di mahkamah
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 10 al-Quds sebagaimana disebutkan dalam dokumen masjid dan disebutkan oleh penduduk asli al-Quds.
Perhatian umat Islam terhadap al-Quds as-Syarif juga meliputi peninggalan-peninggalan para nabi yang lain yang berada di tanah Palestina mulai dari Nabi Ibrahim dan nabi terakhir yang dimakamkan di Palestina dengan menampakkan bekas-bekas peninggalan, membangun masjid-masjid dan memeliharanya dengan penuh perhatian. Mereka menulis buku-buku tentang sejarahnya. Lebih dari itu, mereka melestarikan gereja yang berada di sana, mengikuti Umar yang mengakui eksistensi gereja- gereja ini di tanah Palestina. Beliau tidak mau shalat di Gereja Kiamat padahal beliau dibukakan jalan untuk shalat di sana jika ingin dengan alasan agar umat Islam tidak mempersempit ruang gerak mereka hanya di gereja mereka saja atau merampas gereja tersebut dari mereka dengan dalih Umat pernah shalat di dalamnya.
Dalam masa khilafah (pemerintahan) Harun ar-Rasyid, beliau memperkenankan Syarluman, Raja Perancis untuk merenovasi Gereja al-Quds dan berjanji untuk melindungi penganut Kristen di Barat yang menziarahinya. Shalah ad-Din al-Ayyubi, pembebas al-Quds dan bumi Palestina dari pendudukan kaum Salib setelah didudukinya selama menjelang satu abad, ketika beliau menang, beliau menyibukkan diri dengan reformasi sosial, maka beliau membangun prasasti resmi Nabi Musa AS, beliau menjadikannya sebagai simbol yang dituju oleh manusia dari segala penjuru. Ia didirikan ketika umat Kristen memperingati Hari Raya al-Fashl.
Ini adalah bukti jelas betapa tolerannya Islam terhadap kawan dan lawan, bukti penghormatannya terhadap ritus agama bahkan terhadap Yahudi dan Nasrani yang tinggal bersama umat Islam di negerinya. Mereka hidup bersama dalam keamanan dan ketenteraman selama beberapa abad. Dalam naungan Islam, orang-orang Yahudi kembali ke al-Quds setelah diusir oleh
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 11 Babilonia pada masa Bakhinshir, kemudian diusir juga oleh Bizintiyun Roma ketika mereka menduduki Palestina dan mereka tetap bercokol di sana sampai dikalahkan oleh umat Islam. Lantas umat Islam membolehkan mereka untuk tinggal di sana jika mereka mau. Mereka melapangkan jalan kehidupan di al-Quds kepada mereka selama lebih dari 14 abad dengan pengecualian fase pendudukan Kaum Salib terhadap Palestina. Bahkan umat Islam mempercayakan terhadap orang-orang tertentu dari mereka untuk melayani kepentingan masjid seperti membuat ....(qanadil?) dan .... (tsurayyat?)-nya. Umat Islam juga memperbolehkan mereka untuk mendirikan pusat-pusat keagamaan di al-Quds dan lain-lain. Ensiklopedi Yahudi sendiri mengakui bahwa setelah orang-orang Yahudi diusir dari Spanyol tahun 1424 M, mereka tidak menemukan tempat berlindung kecuali di negeri-negeri Islam di timur dan barat. Sebagian dari mereka pergi ke Arab bagian timur, 130 keluarga bergabung dengan umat Yahudi al-Quds sehingga jumlah keluarga Yahudi yang tinggal di al-Quds di bawah perlindungan umat Islam menjadi 1307.
Oleh karena itu, kita boleh bertanya apakah balasan orang Yahudi terhadap umat Islam setelah segala kebaikan ini? Apa balasan mereka terhadap perlindungan ini? Setelah mereka menjadi negara, setelah mereka memiliki posisi?. Keindahan dan perlindungan yang mereka dapatkan dari umat Islam bukan hanya di Palestina, namun negeri-negeri Islam yang lain dimana mereka hidup berdampingan dengan aman; aman dalam hartanya, agamanya dan melakukan ritualnya. Bahkan mereka bisa melestarikan adat dan tradisi mereka tanpa ada tekanan dari siapapun. Mereka berintegrasi dengan penduduk al-Quds dalam integrasi yang seolah-olah menjadikan mereka sebagai penduduk asli. Mereka diserahi pekerjaan dan tanggung jawab yang menuntut rasa percaya terhadap mereka; sesuatu yang
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 12 menunjukkan bahwa mereka dipercaya oleh umat Islam tanpa meragukan ketulusan mereka.
Oleh karena sempitnya waktu, saya cukupkan sampai disini, yang mulia. Kami mengucapkan selamat datang kepada Presiden Yasir Arafat, memohon kepada Allah semoga menolongnya dari musuh- musuhnya, mewujudkan harapannya untuk membebaskan Masjidil Aqsha yang lajnahnya dipimpin oleh Raja Muhammad VI. Harapan besar ditumpukan kepada engkau, yang mulia, untuk mengembalikan Masjidil Aqsha ke dalam pelukan umat Islam sehingga insya Allah ia menjadi ibu kota negara Palestina yang diharapkan. Allah maha berkuasa atas segala sesuatu. Penutup dan doa dari yang mulia.
Ya Allah, berkati junjungan kai Muhammad, pembukan apa yang tertutup, penutup para pendahulu, penolong kebenaran dengan kebenaran, penunjuk ke jalanmu yang lurus. Juga terhadap keluarga dan sahabatnya.
Maha suci Tuhanmu, Tuhan penguasa al-Izzah dari segala apa yang mereka gambarkan. Salam untuk seluruh para rasul. Segala puji ialah milik Allah, Tuhan penguasa alam semesta.
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 13
DASAR-DASAR SOLIDARITAS SOSIAL DALAM ISLAM
Abd al-Kabir al-Alawi al-Medagri
Berangkat dari sabda Rasulullah SAW : “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa yang menghapus kesusahan seorang muslim, Allah akan menghapus kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat”. HR. Imam al-Bukhari dalam kitab Sahihnya.
Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.
Segala puji bagi Allah yang memberi nikmat iman dan Islam kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa; yang memberi anugerah kepada mereka dengan kasih sayang-Nya yang dibagikan kepada seluruh manusia, nabi, utusan-Nya, junjungan kami Muhammad, manusia terbaik. Ya Allah, berikan rahmat kepadanya, kepada keluarganya, sahabatnya dengan rahmat yang mengeluarkan kami dari gelapnya prasangka, memuliakan kami dengan cahaya pengetahuan, menjelaskan kepada kami apa yang susah diketahui sehingga bisa dipahami. Sesungguhnya engkau maha mengetahui dan kami tidak tahu, engkau maha tahu alam gaib. Tiada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah SWT. Kami berlindung dari jeleknya nafsu kami dan buruknya perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan hidayah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa yang Allah sesatkan, tidak ada yang bisa memberinya petunjuk.
Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitab Allah dan perkara yang paling jelek adalah apa yang dibikin-bikin, setiap yang dibikin-bikin adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan berada di neraka.
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 14 Majlis yang penuh cahaya ini, pertemuan rabbani yang dikehendaki Allah terselenggara di istana yang penuh berkah ini setiap tahun dengan perhatian dari Amir al-Mukminin dan komandonya adalah kebaikan dan kebanggaan masa ini: pengajian yang diabadikan oleh Allah untuk para raja dari keluarga Alawiyah (keturunan sahabat Ali) yang agung agar ia tetap menjadi lisan yang jujur, saksi yang benar akan keikhlasan mereka dalam melayani ilmu, agama dan perhatian mereka kepada ahli takwa dan keyakinan, dan partisipasi keilmuan dan lapangan mereka dalam kebangkitan ilmu, kebangkitan agama, penyebaran pengetahuan Islam dan pembangunan peradaban kemanusiaan.
Sesungguhnya engkau, yang mulia, memberikan makna tersendiri bagi pengajian ini, menambahkan dimensi yang menaikkan pamornya, menambahkannya gairah kemudaan, polesan modernitas dan tampilan pembaharuan. Ini oleh karena kepribadianmu yang cerdas, pengetahuanmu yang luas, perkaderan yang komprehensif, pemikiran cemerlang yang dipenuhi oleh warisan peradaban Islam dan terbuka terhadap pengetahuan kemanusiaan modern. Kami memohon kepada Allah agar melanggengkan untuk kami kenikmatan bersama eksistensimu, menetapkanmu sebagai kebanggaan dan tempat berlindung ahli ilmu dan pemikiran, mereka berlindung dengan perlindunganmu dan menikmati dukungan dan perawatanmu.
Setiap orang yang menyebut Durus Hassaniyah, ia mesti menyebut dengan lisan pengakuan dan pujian akan keagungan al- Maghfurlah: Raja Hassan II, semoga Allah memberkati dan menyinari kuburnya. Beliau lah yang membangun tonggak- tonggaknya, meninggikan bangunannya, memperkenalkan dan membagi-bagi buahnya dan sinarnya ke segala penjuru. Kita memohon kepada Allah agar memperbesar ganjaran kebaikannya dan memasukkannya ke surga.
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 15 Pembukaan Durus Hassaniyah tahun ini berbarengan dengan gerakan solidaritas yang engkau pimpin dimana engkau menggunakan Yayasan Muhammad V yang engkau pimpin untuk itu dan disambut oleh rakyat Maroko yang optimis dengan kebaikan oleh sebab slogan solidaritas yang engkau angkat sejak bermulanya era kepemimpinanmu. Engkau menjadikan solidaritas dan saling tolong menolong sebagai pilar dan dasar dalam langkah yang engkau tempuh; engkau letakkan rencana kerja; membikin program dan engkau sangat antusias untuk menerapkannya dan mensukseskannya dengan arahanmu yang lurus; yakin bahwa seluruhnya ini tidak akan terwujud kecuali sebab pertolongan Allah Azza Wa Jalla. Orang-orang fakir dan miskin yang diliput oleh solidaritas yang engkau berikan; orang-orang cacat dan lemah, anak-anak yatim dan para janda yang diguyur oleh hujan solidaritas dan gotong royong yang engkau usahakan, Allah tidak akan mengecewakan doa mereka untukmu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kerja kerasmu dalam mengasihi dan menyantuni mereka. Dengan semua itu, Allah akan menambah kegagahan, kemenangan dan kekuatanmu:
نونمؤملا و هلوسر و مكلمع الله ىريسف اولمعا لقو
“dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu,...”.
(Q.S. at-Taubah, 9: 105).
Oleh karena itu, saya memilih judul pengajian pembukaan ini:
Dasar-dasar Solidaritas Sosial dalam Islam, berangkat dari sabda Rasulullah SAW : “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, ia tidak bertindak aniaya kepadanya. Barang siapa yang menuntaskan kebutuhan saudaranya, Allah akan menunaikan kebutuhannya. Barangsiapa yang melepaskan kesusahan saudaranya, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat”. Hadits ini di-takhrij oleh Imam Bukhari dalam kitab
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 16 Sahihnya dalam Bab La Yadzlim al-Muslimu al-Muslima wa La Yuslimuhu (Bab tentang Seorang Muslim tidak Menganiaya dan Membiarkannya), yang merupakan bagian dari Kitab al-Madzalim.
Beliau berkata: Yahya Bin Bakir berkata kepada kita, Laits berkata kepada kami dari Aqil dari Syihab bahwa Salim mengabarinya bahwa Abdullah Bin Umar RA memberikan kabar kepadanya bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain...” dan seterusnya.
Hadits ini juga di-takhrij oleh Imam Muslim dalam Bab Fadl al- Ijtima’ ala Tilawat al-Qur’an wa ala ad-Dzikr (Bab tentang Keutamaan Berkumpul untuk Membaca al-Qur’an dan Zikir), yang termasuk bagian dari Kitab ad-Dzikr wa ad-Du’a (Zikir dan Doa), dari Sahih-nya dengan sanadnya sampai Abi Hurairah, beliau berkata: “barangsiapa yang melepaskan dari seorang mukmin kesusahan dunia, Allah akan melepaskannya dari kesusahan hari kiamat. Barangsiapa yang memudahkan orang yang ditimpa kesulitan, Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Allah akan membantu seorang hamba, selama ia membantu saudaranya. Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan jalannya ke surga. Tidak berkumpul suatu kaum di rumah Allah dalam keadaaan membaca Kitab Allah dan mengkajinya bersama kecuali mereka diliputi oleh ketenteraman, dibalut oleh kasih sayang Allah, dikelilingi oleh Malaikat dan disebut oleh Allah sebagai orang yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang perbuatannya lambat, nasabnya tidak akan mempercepatnya”. Hadits ini juga di-takhrij oleh Abu Daud dalam Bab Pertolongan terhadap Muslim (al-Maunah li al-Muslim) yang merupakan bagian dari Kitab al-Adab dari Kitab Sunan-nya dari Abi Hurairah juga, beliau berkata: “Rasulullah SAW bersabda, ‘barangsiapa yang melepaskan kesulitan dari orang Islam yang lain, Allah akan melepaskan kesulitan dan beberapa kesulitan di hari kiamat. Barangsiapa yang memudahkan orang yang ditimpa kesulitan, Allah akan memudahkannya di dunia dan
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 17 akhirat. Allah senantiasa menolong sesoeorang selama orang tersebut menolong orang lain’”.
Hadits ini juga di-takhrij oleh at-Tumudzi dalam (bab) al-Hudud, Nasa’i, Thabrani dan Imam Ahmad.
Imam Nawawi berkata, “hadits ini adalah hadits yang luar biasa, mengandung banyak ilmu, kaidah dan adab. Di dalamnya terdapat (penjelesan tentang) keutamaan menunaikan kebutuhan dan kepentingan orang lain dengan ilmu, harta, pertolongan, petunjuk kepada kemaslahatan, nasehat dan seterusnya. Sabda Rasulullah SAW, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Ia tidak mendzaliminya dan tidak membiarkannya” adalah kalimat berita (khabar) dengan makna perintah (amr), karena tindakan zalim seseorang kepada orang lain adalah haram. Makna “la yuslimuhu” adalah tidak meninggalkannya bersama orang yang menyakitinya, di tempat yang menyakitinya, tetapi ia menolong dan membelanya. Ia tidak meninggalkannya dalam musibah yang menimpanya. Sedangkan makna al-kurab adalah kesusahan dan kesedihan. Sedangkan sabdanya: wa man satara muslima, artinya adalah: ia melihat saudaranya berbuat jelek, namun ia menutupinya, tetapi ia wajib untuk menasihatinya. Dalam hal ini ada pelajaran untuk meninggalkan gibah, karena orang yang menyebarkan kejelekan saudaranya berarti ia tidak menutupinya.
Satu hal yang berkaitan dengan tema ini adalah bahwa Imam Bukhari, ketika men-takhrij hadits ini dalam kitab sahih-nya, beliau mengiringkannya dengan hadits lain, yaitu sabda Nabi SAW: “tolonglah saudaramu baik yang zalim maupun yang dizalimi”. Mereka (para sahabat) bertanya, “ya Rasulullah, wajar kami menolong yang dizalimi namun bagaimana dengan yang menzalimi?”. Rasulullah SAW menjawab, “ambillah tangannya”.
Imam Ibnu Hajar menjelaskan, “makna ‘ambillah tangannya’
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 18 adalah cegah dia dari berbuat zalim dengan aksi, jika tidak cukup dengan perkataan.
Adalah jelas bahwa melindungi orang-orang yang dilemahkan dari zalimnya perbuatan orang-orang zalim dengan mencegah mereka dari berbuat demikian adalah termasuk bagian dari solidaritas.
Karena kezaliman mengancam rezeki dan hak-hak mereka.
Demikian juga, mencegah orang-orang zalim dari bertindak zalim berarti menolongnya untuk memenangi pertarungan dengan nafsu buruknya (ammarah bissu’).
Saya menjadikan hadits ini sebagai titik pijak, dengan mengharap cahaya petunjuknya-menggali rahasia dan pelajaran darinya, untuk berbicara tentang dasar-dasar solidaritas sosial dalam Islam yaitu tema yang menonjol dalam hadits tersebut. Dengan pertolongan dan petunjuk Allah, saya akan berusaha untuk untuk meringkas pembicaraan tentang empat dasar pijakan solidaritas sosial dalam Islam.
Yang pertama adalah dasar pendidikan. Saya akan berbicara sedikit detil tentang masalah ini. Kemudian, dasar ekonomi dan keuangan; dasar hukum perundang-undangan dan dasar kekuasaan. Ketiga dasar ini saya bicarakan secara umum.
Ketika kita berbicara tentang solidaritas sosial dalam Islam, sebagian orang mengira bahwa Islam dalam hal ini hanya membawa sekumpulan nasehat untuk menarik rasa iba orang-orang kaya- dermawan. Mereka tidak mengira bahwa bahwa solidaritas sosial dalam Islam adalah bangunan hukum perundang-undangan, sistem yang rinci dan kokoh yang dipanggulkan kepada negara untuk memaksakan (semua orang) untuk menghormatinya, menjaga kaidah dan hukum-hukumnya.
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 19 Islam di lapangan yang menyentuh kehidupan manusia ini menentukan tujuan umum-mendasar yang harus dipelihara, tujuan umum sekunder dan tersier yang meng-cover dan menjaga tujuan primer. Memeliharanya tidak cukup hanya dengan nasehat dan petuah, namun ia membawa hukum-hukum berdaya paksa yang rinci dan teliti. Demikian juga, ia menyediakan perangkat pelaksananya. Sebab Islam adalah agama yang mengatur dunia. Ia adalah agama, pemikiran, kebudayaan, peradaban dan gaya hidup.
Ia memberikan alternatif bagi kehidupan materialistis dalam bentuk masyarakat ketuhanan yang membentuk bangunan baru bagi kepribadian seseorang, lembaga negara dan pranata sosial.
Namun ketika kita berada di medan solidaritas, kita mengajak orang-orang untuk untuk merenungkan apa yang dibawa oleh Islam berupa kaidah dan hukum; mengerahkan pemikiran yang semestinya untuk memahami kandungan dan rahasianya. Kita tidak lupa bahwa masyarakat kemanusiaan modern telah diberi petunjuk oleh eksperimentasi panjangnya; penelitannya dalam bidang sosial, ekonomi dan politik (ditunjukkan) untuk memunculkan sistem yang rinci dan efektif yang menjamin solidaritas, jaminan sosial dan gotong royong dalam bentuk yang layak dihargai dan dibanggakan: sesuatu yang mematrikan kita, umat Islam, untuk mengambil pelajaran dari kelebihan- kelebihannya dan mengambil apa yang terbaik darinya.
Solidaritas sosial dalam Islam adalah konstruksi hukum yang sempurna, pranata sosial yang komprehensif; tujuan utamanya adalah jaminan hidup terhormat bagi setiap orang dalam masyarakat dengan menjamin haknya untuk mengakses pangan, sandang, minuman, tempat tinggal, pekerjaan, pendidikan, kesehatan dan segala hal yang niscaya untuk hidup layak. Bahkan ada bentuk dalam hal ini yang menjadikan model peradaban yang istimewa, dimana solidaritas sosial ini tidak hanya menjamin kebutuhan material semata, bahkan lebih dari itu ia melompat ke solidaritas dalam hal menuntut ilmu, pemberantasan kebodohan
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 20 dan buta huruf, sehingga seorang tetangga wajib mengajari tetangganya.
Dalam hadits Nabi SAW disebutkan: “macam apa gerangan, sekelompok orang yang tidak mengajari tetangganya, tidak belajar dan tidak menerima nasehat. Demi Allah, seharusnya sekelompok orang itu mengajari tetangganya, (tetangganya tersebut) belajar, menerima nasehat, (mereka) memerintah kebaikan dan melarang kejahatan; demi Allah), mestinya sekelompok orang itu belajar dari tetangganya, mencari ilmu agama, menerima nasehat atau (kalau tidak demikian) aku akan mempercepat menghukum mereka”. Dalam penjelasan Imam Nawawi terhadap hadits pijakan dalam pengajian ini, bahwa seorang muslim wajib memberi ilmu atau yang dimampuinya kepada saudaranya sesama muslim. Ini adalah bentuk yang luar biasa dalam solidaritas. Insya Allah, saya akan menjelaskan dasar-dasar solidaritas sosial dalam Islam sesuai urutan yang telah saya sebutkan tadi. Saya akan memulai dengan menjelaskan dasar yang pertama, yaitu dasar pendidikan.
Dasar ini terefleksikan pada sistem pendidikan yang berpijak pada pendidikan yang termetodekan yang bertujuan untuk membentuk ulang individu dan masyarakat dalam bentuk yang baru yang dipenuhi dengan spirit solidaritas. Oleh karena itu, sebuah sistem sosial tidak mungkin berhasil tanpa pendidikan. Seorang individu, sejak kecil, tumbuh dalam keluarga dan sekolah dalam koridor pendidikan yang dominan, yang menyebarkan nilai-nilai dan perilaku yang dipercayai dan dilestarikan oleh masyarakat.
Sistem pendidikan yang dipegang oleh Islam dalam hal ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Meluruskan Akidah. Contohnya adalah hadits Muadz bin Jabal ketika diutus oleh Rasulullah SAW ke Yaman dan diperintah untuk memungut zakat dari orang kaya dan dibagikan kepada orang miskin. Sebelum itu, beliau memerintahkannya untuk meluruskan akidah mereka.
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 21 Beliau bersabda di awal hadits: “Kalau kalian datang kepada mereka, ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah...”. Hadits tema juga memusatkan perhatian pada hamba yang beriman, hari kiamat dan bahwa seorang hamba tetap dalam pertolongan Allah selama ia menolong saudaranya.
Artinya adalah bahwa jika kita menginginkan masyarakat yang bersolidaritas ala Islam, kita mesti berpikir, sebelum yang lain-lain, untuk membangun akidah, menanamkan keimanan; tidak mungkin merangkai perbuatan baik terhadap orang lain dalam pengertiannya yang Islami di tengah masyarakat materialistis yang keimanannya kepada Allah ringkih, tidak takut kepada Allah, tidak gentar terhadap siksa-Nya, lebih-lebih ketika berpendapat bahwa solidaritas sosial dalam Islam muncul dalam bentuk hukum-hukum yang bersifat memaksa.
Bagaimana mungkin orang yang tidak beriman bisa tunduk dan berdisiplin dengannya?. Pelurusan akidah selalu menjadi concern perhatian pertama para nabi.
Inilah perbedaan pertama antara solidaritas sosial dalam Islam dan rezim sekuler. Solidaritas dalam Islam bersifat imani-ketuhanan, pertanggungjawabannya adalah campuran antara keduaniaan dan keakhiratan. Sedangkan solidaritas dalam rezim sekuler adalah materialistis tanpa spirit, dengan perkecualian rasa belas kasihan kemanusiaan yang terdapat di dalamnya yang timbul dan tenggelam dan tidak memaksakan implikasi apapun. Islam menginginkan akidah yang benar menjalar di seluruh bagian solidaritas sosial, sehingga amal perbuatan bersambung dengan Allah dalam suasanan keimanan dan pengharapan rida Allah. Di belakangnya, ada motivasi keagamaan yang mendorong untuk senantiasa berkorban
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 22 dan senang melakukannya. Contohnya adalah perlakuan terhadap kedua orang tua ketika renta dan lemah.
Dalam sistem sekuler, kita memberinya perlindungan di panti jompo. Pembiayaannya kita ambilkan dari hartanya, dana pensiun atau jaminan sosial yang diikutinya di usia produktif. Sedangkan dalam sistem Islam, ada kewajiban-kewajiban lain terhadap keduanya yang dilatarbelakangi oleh faktor keimanan sebagaimana diringkas oleh firman-Nya: “dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil"”. (Q. S, al-Isra’, 17: 23-24)
Durhaka terhadap kedua orang tua dalam Islam adalah termasuk dosa yang paling besar yang menyebabkan kekal di neraka. Biaya hidup orang tua diwajibkan dalam harta anaknya. Hukum semacam ini mesti diputuskan hakim jika situasi meminta. Termasuk kategori ibu adalah nenek, bibi. Kalau kedua orang tua tidak memiliki anak, pembiayaannya diambil dari kas negara, tanpa harus sebelumnya menjadi peserta dalam pengumpulan dana tertentu.
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 23 2. Dalam sistem pendidikan yang dijadikan sarana oleh
Islam untuk mewujudkan solidaritas adalah menanamkan dimensi kemanusiaan dan rasa afiliasi individu kepada keluarga kemanusiaan. Manusia dari aspek bahwa ia manusia adalah khalifah di muka bumi ini: “ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:
"Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."...” (Q.S, 2: 30), pemegang amanat:
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia...” (Q.S, 33: 72). Ia secara khusus dimuliakan, “dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”.
(Q.S, al-Isra’, 17: 70)
Dalam keyakinan Islam, manusia dimuliakan dari aspek bahwa ia adalah manusia. Oleh karena itu perbuatan baik (ihsan) dalam Islam bersifat kemanusiaan, mencakup mukmin dan kafir, orang baik dan orang jahat.
Solidaritas sosial juga dengan demikian bersifat kemanusiaan memuat seluruh masyarakat manusia tanpa pembedaan. Allah SWT berfirman: “mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." dan apa saja kebaikan yang kamu buat, Maka Sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya”. (Q.S, 2: 215). Kedua orang tua dan kerabat dekat itu boleh
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 24 jadi muslim atau kafir, demikian juga dengan anak-anak yatim, orang-orang miskin dan anak jalanan. Ayat ini tidak membedakan mereka. Diriwayatkan bahwa Asma binti Abu Bakar as-Shiddiq RA berkata: “ibu saya datang berkunjung kepada saya, padahal ia masih musyrik, lantas saya meminta fatwa dari Rasulullah SAW, ‘wahai Rasululah, ibu datang mengunjungi saya dengan senang hati, apa saya mesti menyambung silaturrahmi dengannya?’. ‘ya, sambunglah tali silaturrahmi dengan ibumu’”.
Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab bertemu dengan seorang tua Yahudi yang meminta-minta, lalu beliau memberinya. Beliau kemudian memerintahkan penjaga kas negara untuk memberinya sedekah dan membebaskannya dari membayar jizyah (pajak). Dalam perjalannnya ke Syam, Umar bertemu dengan pendeta Kristen yang buntung, beliau memerintahkan memberinya gaji dari kas negara yang mencukupinya dan memenuhi kebutuhannya sepanjang hidup. Diantara hal yang dijanjikan oleh Khalid bin Walid kepada penduduk Kristen Hera adalah perkataannya: “setiap orang tua yang tidak mampu bekerja, sakit, kaya lalu jatuh miskin dan menerima sedekah dari saudara seagamanya, mereka dibebaskan dari membayar jizyah dan diberi uang dari kas negara selama ia bermukim di negeri Islam”. Hadits tema, meskipun khusus berkaitan dengan ukhuwah (persaudaraan) antar sesama muslim, solidaritas diantara mereka, namun ada banyak dalil syariat lain tentang persaudaraan sesama manusia.
3. Tujuan ketiga dari sistem pendidikan yang ingin diwujudkan untuk melayani solidaritas sosial adalah pembersihan jiwa, sehingga ia suka memberi, suka
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 25 berderma, penuh kasih-sayang. Dalam hal ini, Islam menggunakan sarana pendidikan yang matang yang berinteraksi dengan solidaritas dalam kedalaman jiwanya, sesuatu yang dapat menciptakan kesiapan hati, membangkitkan semangat berbuat baik, menanjak ke puncak amal kemanusiaan yang bersih dan memperdalam perasaan kasih sayang, “kasihilah mereka yang ada di dunia ini, maka Ia yang di langit akan mengasihanimu.
Orang-orang yang penuh kasih-sayang akan dikasihi oleh Allah”. “orang menderitalah yang dicabut rasa kasih sayang dari hatinya”. Al-Qur’an mengambil alih pelayanan terhadap tujuan ini dalam bayak ayat. Hampir setiap surat mengandung pesan kasih sayang.
Di antara pesan-pesan tersebut, semangat al-Qur’an untuk mengurangi rasa cinta dunia di dalam hati dengan memesankan manusia untuk men-zuhudi-nya, meremehkan nilainya di jiwa mereka, sehingga ketergantungan dengan dunia tidak menjadi penghalang untuk berbuat baik. Allah SWT berfirman: “ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga- banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”. (Q.S, 57: 20)
Masih dalam pesan yang sama, Al-Qur’an banyak mengingatkan kematian untuk membangkitkan hati
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 26 manusia sehingga melakukan kewajibannya kepada orang lain sebelum ia kehabisan waktu, sebagaimana firman Allah SWT: “dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku Termasuk orang-orang yang saleh?". dan Allah sekali- kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.”. (Q.S. al- Munafiqun, 63: 10-11).
Al-Qur’an juga mengandung pesan untuk menanamkan perilaku mengutamakan orang lain, mencabut akar kepelitan dari jiwa dan membimbingnya untuk memberikan sebagian dari harya yang paling dicintainya.
Allah berfirman dalam surat al-Hasyr: “dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung”. (Q.S, al-Hasyr, 59: 9). Demikian juga, al-Qur’an bersemangat untuk membersihkan diri dari riya’, menyebut-nyebut yang sudah diberikan dan memerintahkan bahwa seharusnya amal sosial dilakukan murni karena Allah tanpa kebanggaan, riya’ dan kepentingan pribadi. Allah SWT
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 27 dalam surat al-Insan: “dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak menghendaki Balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih”. (Q.S, al- Insan, 76: 8-9). Allah SWT berfirman dalam Surat al- Baqarah, “orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”. (Q.S, al-Baqarah, 2: 262)
Kemudian, Islam memiliki konsep yang luas tentang solidaritas sosial sehingga orang kaya dan miskin sama- sama berpartisipasi dalam gerakan solidaritas, muncul perasaan bersama bahwa ada banyak pintu kebaikan, wacanan solidaritas tidak hanya khusus untuk orang- orang kaya, namun terbentang lapangan bagi orang- orang miskin juga untuk berbuat baik, mencari pahala dan berperan dalam aksi solidaritas.
Demikianlah, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa semua perbuatan baik adalah sedekah; perbuatan seseorang dengan tangannya sendiri adalah sedekah; menahan diri dari berbuat jelek adalah sedekah; berbuat baik di antara dua orang adalah sedekah; mengikutkan orang di kendaraan untuk mengantarnya ke tujuannya adalah sedekah; perkataan yang baik adalah sedekah; setiap langkah yang diayunkan untuk pergi shalat adalah sedekah; ini juga merupakan solidaritas sosial. Karena
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 28 jika seseorang perilakunya baik, pergi berjalan untuk shalat, ia telah meringankan beban masyarakat, jika ia menjadi manusia yang baik-tidak berbuat kerusakan, tidak membebani kerugian material kepada masyarakat sebagaimana ditimbulkan oleh orang yang berbuat jelek.
4. Diantara tujuan sistem pendidikan solidaritas dalam Islam adalah menanamkan perasaan tanggung jawab individu dan kolektif. Individu bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. “dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna,”. (Q.S, an-Najm, 53: 40-41). Masyarakat juga bertanggung jawab: “Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.”. (Q.S. al-Hijr, 15: 92-93).
Sebagai perwujudan rasa tanggung jawab ini, seorang beriman tidak boleh suatu malam tidur kenyang sementara tetangganya kelaparan. Orang yang mati kelaparan dalam kelapangan, maka dosanya juga bagi orang yang mampu. Umar RA, pada musim paceklik, menjadikan setiap orang mendapat bagian yang sama, seseorang tidak akan mati karena setengah kenyang, ia harus membagi makanannya dengan saudara muslimnya yang lain.
5. Menanamkan perasaan persaudaraan antar sesama mukmin. Allah SWT berfirman: “orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu...”.
(Q.S, al-Hujurat, 49: 10). Dalam hadits tema, “seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain...”. Nabi SAW bersabda, “Demi Allah, seorang dari kalian tidak
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 29 beriman sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri”. Rasulullah SAW menyerupakan masyarakat orang-orang beriman dalam kasih sayang di antara mereka seperti satu badan yang kalau salah satu anggotanya mengeluh sakit, seluruh badan juga merasa sakit dan demam.
6. Pendidikan individu dan masyarakat untuk bertindak hemat, sedang dalam berbelanja, tidak mubazir sehingga dana yang ada cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Seorang lelaki pada masa sahabat ditanya, “bagaimana engkau berbelanja untuk keluargamu?”. Beliau menjawab, “satu kebaikan diantara dua kejelekan”.
Sebagaimana firman Allah SWT: “dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian....”. (Q.S, al- Furqan, 25: 67).
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya pemboros- pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.
(Q.S, al-Isra’, 17: 27). Diriwayatkan dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda: “sesungguhnya petunjuk yang baik, karakter yang baik dan sifat hemat adalah salah satu dari dua puluh lima pintu kenabian”.
Masyarakat Islam dibangun di atas kesederhanaan dan kehematan, ini dapat mendekatkan berbagai kelas, menafkahkan kelebihan dari kebutuhan untuk perbuatan baik. Solidaritas tidak akan tegak dengan tindakan mubazir dan berlebih-lebihan. Apalagi kalau negerinya fakir dan banyak masyarakat yang membutuhkan.
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 30 7. Mendidik manusia untuk puas-nrimo dengan barang
halal, merasa cukup dengan rezki yang baik, menjauhkan diri dari harta haram yang didapatkan dari suap, korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Allah SWT berfirman:
“dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui”. (Q.S, al- Baqarah, 2: 188). Rasulullah SAW melaknat penyuap dan yang menerima suap. Ketika sebagian dari harta yang dikumpulkan untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang dilemahkan mengalir ke perut orang-orang serakah;
ketika suap melemahkan para pemilik hak yaitu janda- janda, anak-anak yatim dan orang-orang miskin; ketika memakan harta haram menyebabkan monopoli kekayaan di lingkungan kelas penguasa, maka hak-hak orang- orang lemah, orang-orang fakir, orang-orang miskin disia-siakan dengan rusaknya akhlak. Oleh karena itu, Islam sangat ingin meluruskan akhlak dari aspek ini untuk melayani solidaritas Islam.
8. Meledakkan daya kerja umat, menggelembungkan cadangan ‘amal sosial’ agar tidak mengkerut. Para ahli fiqh menegaskan bahwa zakat tidak boleh dibayarkan kepada orang yang semata-mata beribadah di Masjid jika ia mampu untuk bekerja. Nabi SAW bersabda:
“sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bekerja dan membenci hamba yang menganggur”. Beliau juga bersabda: “pekerjaan yang paling mulia adalah pekerjaan seseorang dengan tangannnya”. Dalam sebuah hadits:
“seorang sahabat datang kepada Rasulullah SAW meminta harta padahal ia adalah seorang yang kuat dan
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 31 bugar. Rasulullah SAW bertanya, ‘tidak adakah sesuatu di rumahmu?’. Ia menjawab, ‘ada. Selimut yang separuhnya saya pakai dan separuhnya lagi untuk alas tidur, wadah untuk minum air’. Rasulullah SAW berkata kepadanya, ‘bawa kesini dua barang itu’. Lalu sahabat itu membawanya kepada Rasulullah yang oleh Rasul langsung diambil dengan tangannya dan besabda, ‘siapa yang mau membeli kedua barang ini?’. Seorang sahabat berkata, ‘saya akan membelinya dengan satu dirham’.
Rasulullah menawar, ‘siapakah yang mau menambah sekali atau dua kali lipat dari satu dirham?’. Sahabat yang lain berkata, ‘saya akan membelinya dengan dua dirham, dan rasul memberikan barang itu kepadanya.
Beliau mengambil kedua dirham itu dan diberikannya kepada orang Anshar tadi dan berpesan kepadanya,
‘belilah makanan dengan satu dirham dan berikan kepada keluargamu; belilah dengan satu dirhamnya lagi tali dan datanglah kembali kemari’. Maka Rasul mengikat kayu dengan tali tersebut dan bersabda, ‘saya tidak akan menemuimu dalam lima belas hari’. Orang itu pergi, bekerja dan mendapatkan sepuluh dirham dari menjual kayu bakar. Ia membeli baju dengan sebagain dan makanan dengan sebagian yang lain. Rasulullah SAW besabda kepadanya, ‘ini lebih baik ketimbang meminta- minta menjadi titik hitam di wajahmu nanti pada hari kiamat’”. Hadits riwayat Abu Daud, Baihaki dan Turmudzi.
Islam tidak rela seorang muslim meminta-minta, ia tidak memberi orang-orang yang mampu untuk bekerja. Ia mensakralkan kerja, mendorong orang untuk bekerja.
Sarana terbaik untuk solidaritas terhadap orang-orang fakir adalah dengan membuka ruang kerja, memperbaiki ekonomi, menanggulangi masalah-masalah yang
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 32 menimbulkan penutupan pabrik dan pemutusan hubungan kerja, berusaha serius untuk memberikan jalan keluar yang menjamin orang-orang penyediaan hidup layak dengan tetap memelihara kehormatan mereka dan mencukupkan kebutuhan mereka agar mereka tidak menengadahkan tangan untuk meminta-minta.
9. Mengharapkan tindakan zalim untuk melayani solidaritas sosial, karena tindakan zalim bertentangan dengan solidaritas. Masyarakat yang didominasi oleh kezaliman tidak memilik rasa kasihan, dipenuhi oleh kebencian, dengki dan rasa dendam. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman dalam hadits qudsi: “wahai hamba- hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, Aku menjadikannya diharamkan, oleh karena itu janganlah kalian saling menzalimi”. Al- Qur’an menegaskan perintah untuk berbuat adil, melarang kezaliman, menyambung keadilan dan perbuatan baik sebagai bentuk peringatan bahwa keduanya tidak terpisahkan. Allah SAW berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (Q.S, an-Nahl, 16:
90).
Setelah kita menjelaskan dasar-dasar pendidikan ini, kita berpindah, yang mulia, kepada dasar ekonomi dan keuangan, yaitu dasar kedua dari dasar-dasar bangunan solidaritas sosial dalam Islam. Namun pembahasannya akan disampaikan secara global. Dasar ini meliputi arah dasar yang dapat menciptakan masyarakat yang kuat secara ekonomi dan keuangan, membasmi kefakiran, menciptakan kekayaan yang membantu pembiayaan
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 33 bidang sosial. Arah ini antara lain adalah memegang teguh hak kepemilikan individu dan masyarakat, kebebasan berdagang dalam batas-batas yang baik, seruan untuk mengembangkan dan menginvestasikan harta, mengusahakan kompetisi yang mengakibatkan penguatan produksi dan konsumsi, membuat pengaturan hukum yang meniscayakan distribusi sumber daya, melarang penimbunan, mengakui hutang tanpa bunga sebagai ganti hutang dengan bunga, memadang bekerja sebagai memiliki nilai ekonomi. Kitab-kitab fiqh memperhatikan serius sisi ekonomi dan keuangan ini, sehingga ia memuat bab-bab tentang hukum jual beli, jenis-jenis pekerjaan dan perusahaan, akad-akad yang membarengi jual beli, seperti sewa-menyewa, sayembara, kontrak, musaqat, muzaraah, mugharasah, qiradl, qurudl dan lain sebagainya.
Ulama-ulama besar juga menulis tentang harta. Kitab-kitab nawazil penuh dengan ijtihad di bidang pengaturan ekonomi dan keuangan. Ini pada dirinya sendiri merupakan sarana yang paling besar yang digunakan oleh Islam untuk melayani solidaritas sosial.
Ini karena bagaimanapun besarnya sedekah dan sumbangan yang terkumpul, ia tidak akan menghabisi kefakiran. Ia tidak cukup untuk memberantas kefakiran sampai ke akar-akarnya. Inilah yang saya lihat engkau, yang mulia, perhatikan, pikirkan serius disamping keinginan besarmu untuk mendistribusi makanan buka puasa, bahan pangan dan bantuan-bantuan yang lain.
Sedangkan dasar ketiga, yaitu dasar hukum-perundang- undangan, yaitu upaya pengundangan operasi solidaritas sosial melalui hukum-hukum syariat yang meningkat sampai ke level pengundangan, diajukan oleh ibadah harta, kewajiban agama dan salah satu rukun dari rukun Islam. Ia bukan sekedar pemanis bibir, belas kasihan yang dilepaskan pada rasa iba orang per orang.
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 34 Sedangkan dasar terakhir adalah dasar kekuasaan, yaitu dasar keempat. Ketika sebagian jenis kebaikan bersifat mengikat sebagaimana yang kita ketahui, syariat memasrahkan kepada pemimpin tertinggi yang memegang kepemimpinan tertinggi dan kewilayahan tertinggi, yaitu Amir al-Mukminin untuk memegang tanggung jawab memenuhi hak-hak Allah SWT, mengambil dari orang-orang kaya dan dikembalikan kepada orang-orang miskin.
Harta zakat berada di puncak harta yang diambil oleh imam secara paksa jika situasinya menghendaki untuk itu. Ia adalah ibadah harta dan salah satu rukun Islam. Jika imam telah memenuhi seluruh syarat-syaratnya, nisbatnya, diberikan kepada kelompok delapan yang berhak, pada dasarnya ia telah berada di posisi solidaritas sosial secara umum, meng-cover kebutuhan orang-orang fakir miskin dan yang membutuhkan. Orang tuamu yang dilimpahi nikmat, Raja Hassan II, hampir saja mengeluarkan yayasan zakat ke dunia realitas dengan peraturan raja, kalau bukan karena takdir Allah yang menghendaki lain. Semoga Allah menyempurnakan nikmat ini di masa kekuasaanmu, barangkali Allah menyimpakan keutamaan ini untukmu karena sifat cinta kebaikan dan orang-orang lemah yang Allah patrika padamu.
Kita memohon kepada Allah, semoga melanggengkan nikmat keberadaanmu kepada kami, menguatkan fondasi kekuasaanmu.
Semoga engkau tetap dijaga oleh-Nya yang tidak tidur, dipelihara olehnya yang tidak binasa. Semoga Ia menguatkan dirimu dengan saudaramu, yang mulia, Moulay Rasyid. Semoga Ia tetap melindungi seluruh anggota keluarga kerajaan. Doa penutup dari yang mulia.
Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi.
Wahai orang-orang yang beriman berselawatlah dan sampaikan salam kepada beliau. Ya Allah, berilah rahmat kepada junjungan kami, Muhammad dan keluarganya sebagaimana engkau memberi rahmat kepada junjungan kami, Nabi Ibrahim dan keluarganya.
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 35 Berilah berkah kepada junjungan kami Muhammad dan keluarganya sebagaimana engkau memberi berkah kepada junjungan kami Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya engkau maha terpuji dan mulia.
Maha suci Tuhanmu, penguasa kegagahan, dari apa yang mereka gambarkan dan kedamaian untuk para Rasul. Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta.