Abdul Wahab Tazi Saud
Berangkat dari firman Allah dalam Surat al-Hujurat: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang-orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Q.S. al-Hujurat, 49: 6).
Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.
Semoga Allah memberi rahmat, salam dan berkah kepada junjungan kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Yang mulia, pemilik kegagahan dan kharisma: Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Semoga Allah menguatkan urusanmu, mengabadikan sebutanmu dalam hal-hal yang baik.
Ayat yang kita jadikan pijakan dalam pengajian ini akan kita khususkan untuk berbicara tentang cara memperbaiki citra Islam.
Ayat ini diambil dari surat al-Hujurat, yaitu firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Q.S. al-Hujurat, 49: 6). Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.
Kita akan berbicara tentang ayat dari surat al-Hujurat ini. Insya Allah, kita tidak akan membahas sebab turunnya, tidak juga pendapat para penafsir tentangnya, namun kita akan membahas maknanya, kandungannya saja. Hal-hal yang berhubungan dengan
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 116 sebab turunnya dan hadits-hadits pendukungnya bisa dirujuk di kitab-kitab tafsir.
Surat al-Hujurat mengandung banyak pengajaran kepada umat Islam tentang adab sosial dan perilaku yang disertai hakikat keagamaan. Di dalam surat ini, ada ajakan untuk menerapkan dan mensetiasi takwa. Di dalamnya, ada etika pergaulan dengan Rasulullah SAW, ajakan kepada orang-orang beriman untuk memastikan dalam menerima kabar berita demi memutus jalan bagi penyebar isu dan kebohongan, memerintahkan untuk memperbaiki hubungan antar umat Islam dalam sengketa internal mereka, memerintahkan untuk meninggalkan patologi sosial yang bisa menimbulkan kemarahan dan perpecahan dalam barisan umat Islam dan menanamkan kebencian dan irihati di antara mereka.
Rasulullah SAW bersabda: “sesungguhnya Tuhan kalian satu, kakek moyang kalian satu. Semua kalian berasal dari Adam. Adam berasal dari tanah. Yang paling mulia dari kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang non Arab kecuali dengan takwa”.
Dalam surat ini juga, ada pernyataan jelas tentang parameter keutamaan antar manusia.; neraca yang membatasi nilai-nilai mereka; akhirnya, ada juga pengenalan tentang konsep iman yang sebenarnya: “orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi Katakanlah 'kami telah tunduk',...”. (Q.S. al-Hujurat, 49: 14).
Semua ini berbentuk seruan yang ditujukan lima diantarnya kepada orang-orang beriman dan yang keenam kepada seluruh manusia, dimana Allah berfirman: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenmengenal....”. (Q.S. al-Hujurat, 49: 13). Panggilan diarahkan kepada seluruh manusia, seluruh anak kemanusiaan dan seluruh bangsa.
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 117 Meskipun di hadapan semua ini, masih saja ada orang yang mengatakan bahwa Islam adalah agama kekerasan, pasrah diri dan keputusasaan. Ini adalah kebodohan, kepalsuan dan tuduhan dari orang yang tidak memahami hakikat Islam, pura-pura tidak tahu atau sengaja tidak ingin mengetahuinya.
Islam mengenal peradaban, kebudayaan kuno, bergaul dengannya dan menegakkan fondasinya atas dasar ilmu, akal, pengetahuan dan persaudaraan kemanusiaan.
Peradaban Islam awal membangun dirinya atas dasar metodologis yang memungkinkannya untuk melebarkan sayapnya ke dunia baru yang berguna karena kepercayaan umat Islam bahwa dialog dan berinteraksi adalah jalan yang lurus untuk menyuburkan pemikiran, mengayakan diri dan mengembalikan kehidupan kepadanya.
Keberpegangteguhan pada keterbukaan dan dialog ini menyebabkan munculnya fenomena akumulasi pengetahuan dalam kebudayaan Islam. Inilah yang menjaminkan keserbanekaan, perkembangan dan persemian baginya.
Persoalannya saat ini terletak pada kondisi umat Islam, ketika ia sedang mencari cara-cara yang paling matang untuk mewujudkan kebangkitan, pada saat yang sama, ia dipaksa untuk menghadapi tantangan-tantangan riil dan menemukan bagaimana cara bergaul dengannya. Ditambah lagi dengan menghadapi perubahan alami yang dipaksakan oleh kekinian, dialog peradaban-intelektual-keagamaan. Perkejaan kemudian menjadi ganda: satu sisi untuk menolak tuduhan-tuduhan tidak benar terhadap Islam dan sisi lain untuk mencari metode-metode untuk bergaul dengan peradaban baru yang berdiri di atas perubahan dan lompatan-lompatan.
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 118 Jika mengatasi persoalan ini menuntut kerja keras dibandingkan dengan banyaknya persoalan, ia juga menuntut semangat yang jujur, kepercayaan pada diri sendiri yang mantap, ketenangan jiwa dan ketenteraman hati untuk mengatasi kondisi gelisah, chaos dan bingung yang dialami oleh dunia Islam hari ini ketika ia merancang masa depannya dengan serius dan kerja keras.
Sementara itu, kita mendapatkan Islam mengajak dan mengarahkan manusia untuk menggabungkan antara iman, kerja, perilaku yang baik dan mempraktikkan pemikiran yang rasional dan bijaksana.
Allah menginginkan manusia agar rasional, logis dan penuh kesadaran; menjadikannya terbebani dengan tanggung jawab sosial dan hukum dalam kehidupan yang dilandaskan pada takwa yang bermakna mencegah dan membentengi diri dari segala sesuatu yang berbahaya. Takwa, sebagaimana kita ketahui, adalah tiang amal; ia adalah berkelakuan dan pengaturan dengan mengatur ukuran-ukuran dan menghormatinya, yaitu keseimbangan dan moderasi. Allah SWT berfirman:
“sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”, yaitu orang-orang yang membahayakan diri sendiri, saudara dan masyarakatnya.
Lantas bagaimana bentuk partisipasi efektif kita dalam perjalanan pemikiran dunia baru ini?. Bagaimana kita bekerja untuk memberinya watak Islam?. Karena ketika kita memahami Islam dengan benar, menghargainya dengan benar dan menerapkannya dengan benar, maka ia bisa menjadi alat yang berguna bukan hanya untuk umat Islam tetapi untuk seluruh manusia. Bagaimana kita bekerja agar kemanusiaan saat ini yang sedang berjalan di rel jahanam menuju keuntungan (kapital) dan teknologi yang telanjang dari segala pertimbangan agama dan moral dapat mengambil pelajaran dari kita?.
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 119 Sesungguhnya kita bisa berafiliasi kepada kebudayaan modern yang tidak seluruhnya jelek apapun keadaannya dan apapun yang dikatakan tentangnya. Kebudayaan modern, dunia modern dan peradaban modern tidak semuanya jelek, namun ia memiliki dua wajah: sisi jelek yang bisa membahayakan kita; dan sisi baik yang bisa kita ambil dan mengarahkan untuk menjadikannya berguna bagi kemanusiaan, bukan bagi sekelompok orang saja.
Sikap aneh terhadap Islam di Barat adalah fenomena mengherankan yang harus diketahui, diteliti asal-usul dan penyebab eksplisit-implisitnya. Ketika kita merenungkan hal ini, kita bisa menemukan beberapa penyebab, yang paling menonjol adalah:
1. Pengakuan yang tidak berimbal-balik. Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir. Islam mengakui nabi-nabi Bani Israil, mengakui Isa Al Masih. Ia menyebut mereka dengan sebutan yang baik di kitab suci kita, banyak berbicara tentang mereka dan menjadikan mereka sebagai panutan bagi manusia. Namun mereka tidak menyebut Nabi Muhammad Alaihissalam bahkan mereka mengingkarinya.
Dari sini masalah bermula.
2. Kemudian, akumulasi sejarah dan sikap-sikap masa lalu – perang salib—yang mengakar dan terpendam di dalam hati dalam jangka waktu yang lama, muncul sedikit demi sedikit ke permukaan dan kembali terlihat dengan mudah pada saat ini.
3. Demikian juga –ini yang tidak bisa dipahami oleh umat Islam—sikap orang barat secara umum terhadap agama.
Mereka menjauhkan agama dari kehidupan mereka dan menyingkirkan agama dari perhatian sehari-hari mereka.
Oleh karena itu, mereka tidak memahami kenapa umat Islam tetap berpegangteguh terhadap Islam, tenteram
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 120 dengannya dan fanatik terhadapnya dengan kuat dan bersemangat.
4. Dalam masalah kerjasama dan tukar menukar wacana, ada ketidaktahuan dan ketidakpandaian umat Islam secara umum dalam menggunakan metodologi penelitian ilmian modern dan kaidah-kaidah wacana orang lain.
Tidak mungkin kita mengajak bicara orang Eropa Barat sebagaimana kita berbicara antar kita, karena kita berbicara di dalam Islam, sementara mereka berada di luarnya. Oleh karena itu, kita harus merubah wacana terlebih dahulu. Kemudian kaidah-kaidah dan pokok-pokok wacana ini harus sesuai dengan hasil ilmu-ilmu modern hari ini. Sehingga kita bisa berbicara dengan orang lain sesuai dengan pemikiran, ilmu, logika dan cara kerja yang mereka yakini. Ini mesti dilakukan untuk mempengaruhi mereka. Tidak mungkin mereka terpengaruh, diam dan mendengar wacana apapun yang datang tidak sesuai dengan apa yang menjadi kebiasaan mereka. Karena tidak cukup anda benar untuk dibenarkan oleh orang lain. Tetapi anda harus benar dan tahu bagaimana cara berbicara kepada orang lain agar mereka bisa memahami anda, terpengaruh oleh apa yang anda katakan dan membenarkan anda. Di sini umat Islam keliru, ketika mereka berbicara dengan orang Eropa seperti jika mereka berbicara antar sesama muslim. Wacana mereka tidak didengar dan tetap menjadi wacana luar. Kaidah-kaidah wacana sudah diketahui luas dan dipelajari. Ia mirip dengan kaidah-kaidah iklan modern yang menggunakan segala cara psikologis, sosial dan kebahasaan untuk mengajak manusia agar membenarkan dan mau menerima apa yang mereka ajak dan tawarkan kepada manusia sesuai dengan teknik-teknik presentasi yang kita lihat di televisi,
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 121 kita dengar di radio dan kita baca di koran-koran. Oleh karena itu, kita wajib tidak mengabaikannya.
5. Orang-orang barat tidak mengakui Islam sebagai pemikiran yang membangun peradaban modern. Mereka mengklaim bahwa Islam menolak universalitas dan berani-beraninya mengaku bahwa ia memiliki tata dunia alternatif bagi tata dunia yang berlaku. Islam –dalam sangkaan mereka—berdiri berhadapan dengan sistem dominan (main stream) yang berlaku, ingin merubahnya sesuai dengan kepentingannya, menolak hak-hak asasi manusia, sistem demokrasi, hak-hak perempuan dan segala kebebasan modern dimana ia tidak berperetensi untuk meraih dan mengutamakannya. Bagaimana mungkin seseorang menolak hak-hak asasi manusia, padahal al-Qur’an penuh dengan ajakan kepada hak-hak manusia?. Allah SWT berfirman: ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “"Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata:
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”. (Q.S. al-Baqarah, 2: 30). Allah SWT menjadikan manusia sebagai khalifah, memuliakannya dan menundukkan baginya segala sesuatu di langit dan di bumi. Ini adalah ayat jelas yang bisa menjadi sandaran manusia dalam tema ini. Dengan demikian, Islam –dalam pandangan mereka—menjadi satu-satunya sistem yang menakutkan, keras, ekstrem, padahal Islam tidak ekstrem, tidak berlebih-lebihan. Islam adalah agama moderat, “dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan...”. (QS. Al-Baqarah, 2: 143).
Rasulullah SAW bersabda: “agama ini mudah, tidak
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 122 seorang pun yang menyulitkan diri dalam agama ini kecuali ia kalah” (HR. Bukhari). Semua ini adalah teks-teks yang tidak bisa diragukan, namun demikian diabaikan oleh orang-orang yang berbicara atas nama Islam.
Masalah ekstremitas diingkari oleh Nabi SAW. Beliau tidak membenarkan sekelompok anak muda yang masuk Islam dan mereka ingin di bulan puasa untuk tidak berbuka di waktu maghrib tetapi tetap berpuasa sampai waktu Isya’ agar pahalanya bertambah. Nabi mengingkari hal ini.
Sebagian yang lain ingin tidak menikah. Nabi mengingkarinya. Islam bukanlah agama ekstrem. Sepanjang sejarah Islam yang panjang, para ulama menentang ide seperti ini. Mereka menulis banyak makalah dan buku yang sampai sekarang masih ada. Al- Ghazali menulis dua buku dalam tema ini:
Kitab “Iljam al-Awam An Ilm al-Kalam”: mengikat (orang awam) dengan rantai. Artinya mencegah mereka. Karena ilmunya orang awam hanya satu dimensi. Sehingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa (menafsir, memaknai lain dan seterusnya). Ketika mereka berdebat, jadinya adalah kiamat. Banyak fitnah yang ditimbulkan oleh masalah ini.
Ilumnya ulama adalah ilmu yang benar, karena mereka tahu bagaimana mereka memandang teks-teks, bagaimana menafsirkannya, bagaimana menjelaskannya dan bagaimana menampilkannya. Oleh karena itu, persoalan kalam, akidah dan syariah harus hanya ulama yang boleh menjadi juru bicaranya dan tidak diberikan ke sembarang orang. Karena ulama memiliki pengetahuan banyak dimensi.
Yang kedua: kitab “al-Iqtishad fi al-I’tiqad”. Dalam akidah, kita harus di jalan tengah. Kita harus tetap berada
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 123 di koridor al-Qur’an, tidak membicarakan hal-hal yang membingungkan, kita harus mencukupkan diri dengan al-Qur’an di antara kita. Sementara dengan non muslim ada jalan dan model untuk berbicara dengan mereka. Inilah tema kita.
6. Orientalisme. Tidak seorangpun menyangsikan bahwa orientaslisme telah memberikan sumbangsih besar terhadap bahasa Arab dan pemikiran Arab-Islam. Namun tidak semua orientalis berada di level yang sama.
Orientalisme adalah wacana yang ditulis oleh orang-orang Barat tentang Islam untuk orang Barat. Banyak hal yang patut disampaikan terima kasih dari apa yang mereka tulis.
Namun sebaliknya, mereka terikat dengan politik yang dipakai untuk memberikan fatwa, saran dan arahan dengan pertimbangan bahwa urusan dunia Islam memiliki kaitan yang kuat dengan kepentingan-kepentingan barat.
Sehingga ada penasehat mereka yang belajar al-Qur’an, hadits, sejarah, namun mereka buta dari segala sesuatu yang indah dan mereka berenang dalam hal itu untuk memburu celah-celah kelemahan yang tidak lepas dari sebuah bangsa dan peradaban, lalu mereka mengambil dan membesar-besarkannya. Dalam kesempatan ini, kita bertanya-tanya, sementara kita mengetahui bahwa orientalisme diproduksi sebagai ilmu alat orang Eropa mempelajari masyarakat lain, memahami mereka dan – akhirnya—bisa menjajah, bercokol dan mengalahkan mereka. Disini kita menyebutkan bahwa saling bertanya terjadi antara pelajar dan yang dipelajari. Pelajar adalah ia yang kuat yang mengambil obyek pelajaran, yakni mempelajari; membolak-baliknya dari segala sisi;
menyampaikan pendapatnya sendiri dalam apa yang dipelajarinya; membuat metode yang dipergunakannya terhadap obyek. Dengan demikian, hubungan antara pelajar dan obyek pelajaran adalah seperti hubungan
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 124 antara yang menang dan yang kalah. Oleh karena itu, kita bertanya dalam kesempatan ini: kenapa kita tidak memiliki ilmu oksidentalisme (istighrab) atau ilmu eropaisme (isti’rab). Banyak generasi pergi ke Eropa untuk belajar di sana, namun mereka melihat Eropa hanya dari sudut khususnya saja, sehingga ia tetap tidak dipahami dalam totalitasnya, tidak diketahui dalam keseluruhannya.
Kenapa kita tidak memiliki ulama ‘oksidentalisme’ yang mempelajari Barat, mendalaminya dan bisa mengeluarkan fatwa ketika hubungan kita dengan mereka tidak lagi bagus, ketika misalnya kita melihat mereka –yang berkaitan dengan Islam—menyebarkan isu, kekeliruan dan kebohongan. Kenapa kita tidak memiliki sekelompok oksidentalis yang studinya meluas : tidak hanya sebatas wilayah geografis, sejarah, filsafat atau ilmu-ilmu humaniora apapun, namun kita memunculkan bagi mereka parameter untuk melahirkan ilmu tentang orang lain dan menjadikan pandangan kita tentang orang lain menjulur jauh ke horizon mereka saat ini, ke kedalaman sejarah mereka, barangkali ilmu ini akan banyak memberikan manfaat dengan pertolongan dan kekuatan Allah. Hal ini harus dipikirkan oleh para civitas akademika.
Masalah dan persoalan Islam, dengan demikian, dipahami dalam kerangka kesadaran barat menurut mereka bukan menurut hakikatnya yang sebenarnya.
Penasehat yang mengarahkan mereka terpatri dalam pendapat dan pandangan mereka terhadap dunia dengan kaidah-kaidah pemikiran yang tunduk terhadap cara berpikir mereka, logika, pendapat dan cara mereka dalam menganalisis dan memberi makna sesuatu.
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 125 Kita telah banyak mengetahui penyebab yang menyeret kepada ketidaktahuan dan memusuhi Islam dengan tanpa kebenaran, kita sampai pada kesimpulan pasti, yaitu bahwa kita harus memiliki metodologi ilmiah baru untuk membela dan meyakinkan untuk menampilkan hakikat Islam, sejarah, sastra dan filsafat kita dengan tampilan yang ilmiah, up to date dan jelas; untuk menampilkan wacana Islam dalam bentuk yang bisa dipahami dan diterima oleh lawan bicara Barat. Oleh karena itu, saya mengusulkan beberapa metode:
1. Semangat, meskipun di hadapan realitas yang terus memburuk, untuk menegakkan dialog yang efektif, membuahkan pemahaman konstruktif dengan pihak lain.
Dialog yang membuahkan kesalingpahaman adalah satu-satunya jalan yang menjadikan kita saling memahami dengan mereka, meskipun ada kondisi yang tidak mendukung namun kita harus kuat agar kita tahu bagaimana kita melampaui kondisi ini.
2. Menampilkan agama –sebagaimana yang kami katakan—
dengan cara khusus dan dengan baju peradaban. Karena wacana langsung yang murni dianggap sebagai dakwah dan Islamisasi sehingga ia ditentang dan ditolak. Ketika penolakan dan perusakan citra tidak hanya menimpa Islam tetapi juga semua bidang, maka menjadi sebuah kewajiban untuk mengikutkan seluruh pegiat ilmu, pemikiran, kebudayaan, sastra, politik dan kesenian –bahkan kesenian juga—dalam kerja ini. Ia adalah kerja kolektif yang harus disepakati oleh seluruh umat Islam untuk menampilkan Islam kembali kepada mereka yang minat utamanya adalah menyerang Islam.
3. Mendorong penelitian ilmiah untuk memproduksi masyarakat pengetahuan. Tidak ada hidup dalam masyarakat modern tanpa ilmu. Sedangkan ilmu itu maju dan berkembang. Kita harus mendukung para ilmuwan kita agar mereka memproduksi, agar mereka berperan aktif
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 126 sehingga kita tidak terus menjadi pengimpor dan konsumen ilmu. Kita harus menjadi pengekspor ilmu. Ini bisa terjadi dengan mendorong penelitian ilmiah di universitas misalnya. Kita telah melihat di tahun-tahun terakhir, banyak dukungan dibandingkan dengan waktu sebelumnya, namun itu saja tidak cukup namun ia harus kuat dan diberikan bantuan material yang seharusnya sehingga para ilmuwan kita dapat bekerja dengan sebaik-baiknya.
Menyangkut penelitian ilmiah para ilmuwan, kita bisa mengatakan bahwa mereka bekerja keras (ijtihad) dan penelitian ilmiah adalah kerja keras para ilmuwan. Ijtihad adalah terminologi Islam tempo dulu. Para peneliti hari inilah yang berijtihad di dalamnya. Mereka memenuhi kampus-kampus. Banyak dari mereka yang menanti dukungan agar mereka bisa melakukan pekerjaan mereka;
agar sebagian dari ilmu menjadi milik kita; agar kita juga berpengaruh; agar nama-nama Islam-Arab-Timur disebut juga di dunia keilmuan sebagaimana mereka disebut-sebut dulu dan sekarang masih tersisa sedikit saja.
4. Tibalah saatnya pada kerja keagamaan, yaitu memperkenalkan al-Qur’an al-Karim, Hadits nabi yang mulia, sejarah Islam dengan beragam cara dengan berbagai level sesuai dengan para penerima dan tingkat intelektualitas mereka. Tidak cukup kita menterjemahkan al-Qur’an dan membiarkan begitu saja di pasaran. Namun kita harus berusaha keras agar pertama kali ia harus benar dalam bentuk yang kita –umat Islam—merasa puas, ditampilkan dengan bahasa yang bagus menurut penutur bahasa-bahasa tersebut. Ia juga harus ditambah dengan suplemen yang menjelaskan tema-tema dan pusat-pusat perhatian dalam al-Qur’an. Orang yang membaca terjemahan al-Qur’an ini kadang tidak tahu –jika ia
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 127 memiliki pertanyaan—bagaimana ia bisa mendapatkan jawabannya di dalam al-Qur’an. Kita memperkirakan pertanyaan-pertanyaan tersebut karena kita mengetahuinya, sehingga kita memberikan lampiran misalnya hal-hal yang berkaitan dengan persoalan perempuan, lihat halaman sekian-sekian; yang berkaitan dengan persoalan anak-anak, yang berkaitan dengan pemuliaan dan hak-hak manusia dan begitu seterusnya, kita tunjukkan jalan ke arah tersebut. Lampiran atau suplemen inilah yang menyempurnakan pekerjaan (terjemahan) tersebut, sebab jika tidak, ia tetap menjadi perkejaan yang kurang sempurna.
Setiap bangsa memiliki ensiklopedi, sementara kita tidak mempunyai ensiklopedi Islam. Satu-satunya ensiklopedi Islam adalah yang ditulis oleh para orientalis dan mereka mengerahkan kerja keras tiada tara untuk itu. Ia dirujuk oleh seluruh dunia dalam segala keperluannya. Kita juga merujuk dan mengandalkannya. Namun demikian, harus ada satu ensiklopedi Islam yang ditulis oleh para ulama Islam –betapa banyaknya jumlahnya sekarang ini--.
Universitas-universitas telah berjumlah ratusan bahkan sampai ribuan dan tidak seorang pun yang berpikir tentang ensiklopedi Islam yang hakiki. Ada enskilopedi berbahasa Arab, tetapi 95 sampai 100 % adalah terjemahan dari bahasa asing. Sudah tibalah waktunya –dalam kesempatan ini-- untuk memperbaiki gambar Islam dengan kita menulis ensiklopedi kita dengan partisipasi dari ulama Maroko, Aljazair, Tunisia, Mesir, Saudi dan seluruh ulama Islam; juga partisipasi dari pakar wacana, pakar iklan, pakar komunikasi agar hasilnya ditampilkan dalam bentuk yang bisa diterima oleh masyarakat-masyarakat yang kita tuju.
Panorama Pemikiran Islam Ulama Maroko 128 Terjemahan al-Qur’an yang kita inginkan ini akan berhasil jika dibikin dengan proses yang seharusnya, seperti dengan ditambahkan –sebagaimana saya katakan tadi—
dengan pengenalan tujuan pokok syariat Islam (maqashid as-syariah al-Islamiyah) yang memungkinkan pembaca untuk mengetahui kerangka umum syariat Islam dan memahaminya dalam gambaran yang memungkinkan pelajar untuk mendapatkan pandangan menyeluruh tentang hukum-hukum: pokok-pokoknya, cabang-cabangnya, filsafatnya, faktor pendorongnya dan rahasia-rahasianya.
Pentingnya pengetahuan tentang maqashid as-syariah terletak pada bahwa ia dirujuk ketika terjadi peristiwa baru dan perlu diketahui hukumnya yang sesuai dengan spirit syariat, tujuan umunya dan maksud terjauhnya untuk memberikan manusia muslim rasa terima yang total terhadap agama dan syariatnya yang ia berusaha untuk mensetiai, memahami dan berhati-hati untuk tidak melanggar batas-batasnya. Inilah yang secara global ditulis oleh Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya:
“A’lam al-Muwaqqi’in” atau “I’lam al-Muwaqqi’in”.
Ibnu al-Qayyim berkata: “Dasar syariat adalah kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat. Keseluruhan syariat ini adalah keadilan, kasih sayang, kemaslahatan dan kebijaksanaan. Setiap persoalan yang keluar dari keadilan menjadi kelaliman, dari kasih menjadi sebaliknya, dari kemaslahatan menjadi mafsadat, dari kebijaksanaan menjadi kesia-siaan, ia sama sekali bukan syariat meskipun kenyataan ia dimasukkan ke dalamnya dengan penakwilan”. Alangkah pasnya ungkapan ulama ini, alangkah indahnya kata-katanya, dimana beliau mengetahui hakikat Islam, jantung hati Islam, tujuan pokok Islam dalam kalimat yang saya memohon