• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bumi Hampir Punah?

Dalam dokumen PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (Halaman 179-187)

178

Pertama kita menekankan bahwa ciptaan itu baik adanya. Kita bertanggung jawab untuk mengontrol dan membatasi pelbagai usaha kita untuk mengelola danmemanfaatkan alam ini, sehingga kebaikan alam ciptaan tetap terjaga. Kedua, kisah penciptaan di dalam Kitab Kejadian mengungkapkan dunia ini sebagai dunia yang teratur. Alam dibagi-bagi atas fungsi dan jenis. Prinsip- prinsip IPTEK tidak berasal dari Kitab Kejadian, tetapi apa yang kita lihat di dalam Kitab Kejadian mempunyai keparalelan dengan apa yang kita lihat di bidang IPTEK. Ketiga, kerangka Kejadian 1 menunjukkan tempat manusia. Manusia adalah manusia apabila ia berada pada tempatnya di dalam alam. Tempatnya adalah tempat yang utama, tetapi sebagai pemelihara alam. Keempat, kita melihat bahwa Israel melakukan alih teknologi dari luar Israel. Orang Israel tidak mengklaim teknologi sebagai

“anak” mereka. Mereka bisa hidup dengan “orang lain.” Bukankah ini contoh yang baik bagi kita yang memiliki tradisi penciptaan Yahudi-Kristen untuk hidup berdampingan dengan dunia IPTEK tanpa mengklaimnya sebagai

“anak?”

Bumi ini milik Allah sekaligus milik manusia. Bumi adalah milik Allah sebab Ia yang menciptakannya, milik kita sebab Ia telah memberikannya kepada kita (lih. Mzm. 115:16). Jelas Allah bukan memberikannya kepada kita sedemikian tuntas sehingga Ia sama sekali tak punya hak dan tak punya kontrol lagi atasnya, melainkan memberikannya kepada kita supaya kita menguasainya atas nama Dia. Itulah sebabnya penguasaan kita atas bumi ini adalah berdasarkan hak pakai, bukan berdasarkan hak milik. Kita hanya penggarap saja, Allah sendiri tetap “Tuan tanahnya,” Tuan atas semua tanah.

Simaklah renungan berikut ini yang berjudul Bumi Hampir Punah? (Ismail 2009, 65-68).

179

mulai mencair secara mencolok. Kenapa? Karena suhu udara kian panas. Kenapa?

Karena kita menebang pohon, mencemari udara dengan knalpot kendaraan, cerobong asap pabrik, pembakaran sampah, dan banyak pencemaran lain. Itu gambaran sederhana tentang mata rantai kerusakan lingkungan hidup kita.

Emangnye gue pikirin? Tunggu dulu, sebab kita semua akan kena akibatnya. Lihat gambaran sederhana berikut ini.

Mengapa penebangan pohon dan asap knalpot atau pabrik menyebabkan suhu kian panas? Karena udara jadi tercemar, sehingga dalam lapisan udara yang disebut lapisan ozon timbul semacam “tenda” yang menyelubungi bumi.

Akibatnya, segala macam asap beracun dan udara panas dari bumi terperangkap oleh selubung itu. Ini disebut efek rumah kaca.

Apa itu rumah kaca? Para petani di negeri bermusim dingin bercocok tanam dalam rumah yang berdinding dan beratap kaca agar udara pengap di situ menimbulkan suhu hangat bagi tanaman sebab di luar turun salju. Inilah juga yang sedang terjadi dengan lapisan udara bumi. Selubung di udara kita mengakibatkan udara menjadi pengap dan panas. Lalu ini disebut efek rumah kaca atau pemanasan global.

Knalpot kendaraan, cerobong asap, penebangan pohon dan berbagai gas racun lainnya telah mencemarkan ozon sehingga mengacaukan keseimbangan kadarnya. Asap berkabut menggantung di udara. Akibatnya ozon yang selama berjuta-juta tahun telah melindungi dan menopang kehidupan di bumi kini malah menjadi ancaman. Tanaman cepat menguning dan rusak. Hewan dan manusia terkena cacat lahir, kanker, atau penyakit lainnya. Kehidupan alam, tanaman, hewan, dan manusia terancam. Bumi bisa menjadi tandus.

Apa yang telah diciptakan oleh Allah selama berabad-abad kini rusak dengan cepat akibat kecerobohan dan keserakahan kita. Dalam Guinness Book of World Record Indonesia tercatat sebagai perusak hutan tercepat di dunia, yaitu lima lapangan sepak bola per menit. Batubara yang digali dalam setahun adalah hasil endapan alami selama 400.000 tahun. Tidak heran bahwa bumi sedang menjadi tandus.

Ketika Nabi Yesaya menggambarkan kedahsyatan kuasa Allah atas hidup manusia, ia menggambarkan bahwa bumi akan menjadi tandus jika manusia melanggar ketetapan Tuhan. Dalam pasal 24-27, Yesaya menulis puisi bergaya bahasa apokaliptik. Tulisnya, “TUHAN akan menanduskan bumi dan akan menghancurkannya ... Bumi akan ditanduskan setandus- tandusnya ...” (Yes. 24:1, 3). Tentang lambang kehidupan, yaitu pohon anggur, ia menulis. ”..pohon anggur merana” (ay. 7). Tulisnya, “Bumi cemar karena penduduknya, sebab mereka melanggar undang-undang, mengubah ketetapan dan mengingkari perjanjian abadi” (ay. 4). Tetapi sebagai penutup nubuat akhir zaman, Yesaya memberi pengharapan jika manusia bertobat, yaitu: “kalau putri malu dan rumput ...

mencari damai dengan Aku, ya mencari damai dengan Aku! ... Yakub akan berakar, Israel akan berkembang dan bertunas” (27:5-6).

180

Manusia ditempatkan di bumi untuk memelihara bumi. Tetapi jika manusia merusak dan mencemarkan bumi, bumi akan menjadi tandus lalu manusia akan terkena akibatnya. Kelangsungan hidup terancam punah.

Dalam buku Dunia di Ambang Kepunahan, Antony Milne menulis, “Sejarah menunjukkan bahwa awal menurunnya peradaban adalah gangguan iklim.

Bangsa-bangsa seluruhnya terjepit oleh gerakan penekan udara dingin dari utara dan perluasan gurun pasir ke selatan, atau jika mereka tinggal di pantai mereka harus melarikan diri dari gelombang pasang yang terus bergerak cepat. Generasi sekarang menghadapi ancaman yang sama.”

Apakah kita bisa mencegah kepunahan ini? Ya! Kita masing-masing bisa berbuat sesuatu untuk menyelamatkan bumi.

Tanamlah pohon di halaman rumah, sekolah, mesjid, gereja, dan kantor kita.

Hijaukan lingkungan! Dalam hal kehijauan lingkungan, Indonesia tertinggal di peringkat 102, kalah dari Malaysia (26) dan Sri Lanka (50).

Berhematlah dengan air meskipun itu air sumur yang gratis! Di muka bumi memang ada banyak air, tetapi hanya 1% yang bisa diminum.

Jangan tinggalkan ruangan dengan lampu atau alat elektronik yang menyala.

Tenaga listrik dibuat dengan membakar banyak bahan energi.

Jika bisa berjalan kaki atau bersepeda, jangan gunakan kendaraan bermotor. BBM yang kita gunakan dalam sejam adalah hasil dari proses alam selama ratusan ribu tahun.

Jangan buang sampah sembarangan supaya sampah tidak jatuh ke got lalu masuk ke sungai yang mengakibatkan sungai itu dangkal dan airnya berbau busuk serta berwarna hitam pekat.

Berhematlah dengan plastik dan styrofoam karena sampahnya susah terurai. Jika semua sampah plastik ditebar, seluruh daratan permukaan bumi akan tertutup oleh plastik.

Sedapat mungkin pakailah penyemprot yang dipompa, bukan penyemprot aerosol, sebab aerosol ikut merusak ozon.

Ada gereja yang berlitani, “Bapa surgawi, begitu nyaman kami berbakti di sini, tetapi kami tidak peduli pada lingkungan hidup yang telah Engkau kerjakan selama berabad-abad dan kini sedang kami rusakkan dalam sekejap.” Ada pula gereja yang berlitani, “Sesamaku ciptaan Tuhan, yaitu gunung, hutan, laut, hewan dan tanaman, ampunilah dosa kami terhadap bumi dan surga.” Setelah menyimak renungan tersebut, menurutAnda, mengapa bumi hampir punah?

Apa akibatnya jika bumi punah? Apa yang akan Anda lakukan untuk mencegah bumi tidak punah? Silakan Anda memberikan argumentasi Anda

181

yang menunjukkan bahwa manusia sebagai makhluk yang mempunyai tempat bersama dengan makhluk-makhluk yang lain dalam ciptaan.

Kita perlu menyajikan satu batasan istilah “alam” karena arti istilah alam cenderung kabur yang disebabkan faktor-faktor berikut.

Manusia adalah bagian dari “alam”

dalam arti kita ikut serta dalam proses-proses biologis dan fisiologis, sama seperti binatang dan makhluk hidup lainnya.

Sebaliknya, manusia juga

“terpisah” dari alam karena kita memiliki kesadaran dan sanggup mengambil keputusan secara sadar tentang cara mengubah alam di sekitar kita. Oleh sebab itu, istilah alam yang dimaksud dalam bagian ini dibatasi pada ciptaan bukan manusia.

Nilai alam bagi manusia tidak bisa disangkal. Makanan yang dimakan manusia, minuman yang diminumnya, udara yang dihirupnya, serta bahan untuk pakaiannya, perumahannya, alat-alatnya dan tenaga yang menjalankan mesin- mesinnya semuanya disediakan dari alam.

Yang menjadi pertanyaan ialah apakah alam mempunyai nilai terlepas dari gunanya bagi manusia. Jawaban pertama kepada pertanyaan ini ialah bahwa nilai alam yang utama dalam rencana Allah ialah nilainya untuk manusia. Alam bernilai tetapi nilai manusia jauh lebih tinggi daripada tumbuh-tumbuhan atau binatang-binatang. Dalam Kejadian 2 semua makhluk diciptakan untuk dinikmati dan digunakan oleh manusia.

Keistimewaan manusia itu perlu ditekankan karena banyak buku yang penuh angan-angan tentang lingkungan menilai alam setinggi manusia atau lebih tinggi dari manusia. Manusia dilihat sebagai benalu yang mengganggu karunia

Sumber:

http://hettyherawati2704.wordpress.com/auth or/hettyherawati2704/page/4/

182

alam, merampas kekayaan alam dan mengotorkan keindahan alam. Hutan yang indah tidak dapat diganti dalam seribu tahun tetapi manusia dapat lekas melahirkan anak-anak. Maka pohon mempunyai nilai yang tidak dipunyai orang. Keindahan alam makin susah ditemui tetapi orang-orang sukar dihindari karena mereka ada di mana-mana. Hak-hak alam sama pentingnya dengan hak-hak manusia. Keindahan bukit atau lembah lebih penting daripada perut yang kenyang.

Kepada pandangan semacam ini kita perlu menjawab bahwa orang lebih berharga daripada pohon atau binatang. Walaupun keindaham alam itu penting, kebutuhan manusia lebih penting. Setiap orang unik dan tidak dapat diganti. Oleh sebab itu, tepatlah kalau ekologi menjadi manusia sentris.

Keselarasan alam perlu dijaga terutama demi kesejahteraan manusia.

Pencemaran udara dan air merugikan manusia. Penghanyutan tanah dan penghabisan pohon-pohon di hutan menghambat usaha untuk menyediakan makanan dan perumahan untuk manusia. Nilai alam yang utama ialah gunanya untuk manusia.

Namun demikian, perlu ditambah bahwa alam juga bernilai terlepas dari nilainya bagi manusia. Allah menganggap ciptaan-Nya baik sebelum manusia dijadikan (Kej. 1:10, 12, 18, 21, 25). Salah satu alasan mengapa Allah menciptakan manusia adalah untuk memelihara kebaikan alam. Sesudah air bah Allah membuat perjanjian bukan saja dengan Nuh dan keturunannya tetapi juga “dengan segala makhluk hidup” (Kej. 9:10). Walaupun perjanjian dinyatakan kepada Nuh sebagai wakil makhluk-makhluk lain, tetapi Allah mempunyai hubungan dengan semua makhluk. Bahkan Ia mempunyai kewajiban kepada makhluk-makhluk itu berdasarkan perjanjian-Nya.

Walaupun alam dimaksudkan untuk digunakan manusia, alam tidak semata-mata untuk maksud itu. Hutan lebih dari sekadar sumber kayu bagi manusia.

Binatang-binatang lebih dari sekadar sumber daging untuk dimakan. Setiap unsur alam mempunyai nilai dalam dirinya sebagai ciptaan Tuhan. Dalam alam semesta ada banyak bintang yang begitu jauh dari bumi sehingga tidak dapat dilihat manusia. Astronom mengatakan bahwa mungkin sekali di planet yang lain dalam alam semesta ada makhluk-makhluk hidup lainnya. Karena itu menjadi nyata bahwa alam memiliki nilai terlepas dari gunanya bagi manusia.

Meskipun manusia mempunyai tempat yang terpenting dalam maksud

183

Allah bagi dunia, tidak bisa dikatakan bahwa alam semesta berada semata-mata bagi manusia.

Kita perlu mengingat dasar nilai alam. Alam tidak bernilai karena keramat atau karena mempunyai kepribadian seperti manusia, tetapi karena sifat-sifatnya sebagai alam. Suatu pohon bernilai bukan karena penuh dengan zat ilahi atau karena mempunyai perasaan atau kebajikan manusiawi tetapi karena diciptakan oleh Tuhan dengan ciri khasnya sebagai pohon, dan sebagai pohon ia mempunyai fungsi dalam maksud Tuhan.

Para ahli etika lingkungan menganggap alam memiliki tiga nilai (Drummond 2001, 78). Kalau kita memandang alam sebagai sumber untuk dikelola bagi kepentingan manusia, alam mempunyai nilai instrumental (instrumental value). Kalau kita yakin bahwa alam memiliki nilai di dalam dan dari dirinya sendiri, alam mempunyai nilai bawaan (inherent value). Nilai bawaan ini sering digunakan oleh para ahli etika sebagai acuan pada nilai sesuatu, dengan asumsi bahwa ada nilai subjek. Misalnya, kayu mempunyai nilai bawaan bagi pemiliknya selama ia ada. Sebaliknya, kalau kita yakin bahwa alam memiliki nilai hakiki (intrinsic value), nilai itu ada terbebas dari manusia atau kehadiran manusia sebagai subjek yang menilai.

Dalam Alkitab manusia adalah bagian dari alam. Ia terikat dalam kesatuan dengan bagian-bagian alam yang lain. Manusia juga berbeda dengan makhluk- makhluk yang lain. Ia mempunyai kedudukan khas di atas alam.

Pada satu segi manusia itu sebagian dari ciptaan Tuhan. Seperti unsur- unsur ciptaan yang lain, ia tidak ilahi dan tidak mahakuasa. Seperti makhluk- makhluk yang lain, manusia ialah makhluk biologis-alamiah. Ia harus takluk kepada hukum-hukum alam. Ia harus makan, minum dan tidur. Ia memeroleh keturunan melalui proses kehamilan dan kelahiran seperti binatang menyusui yang lain. Akhirnya manusia seperti binatang-binatang yang lain akan mati.

Alkitab menggambarkan kesatuan manusia dengan alam dalam cerita tentang penciptaan. “Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah” (Kej. 2:7) seperti Ia juga “membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara” (Kej. 2:19). Dalam bahasa Ibrani kata untuk manusia, yaitu adam, mempunyai akar yang sama dengan kata untuk tanah yaitu adamah. Manusia, adam, dibentuk dari tanah, adamah. Manusia

184

“mengusahakan tanah” (Kej. 3:23) dan hidup dari tanah, dan manusia kembali menjadi tanah (Kej. 3:19).

Pandangan bahwa manusia ialah salah satu makhluk di antara makhluk- makhluk yang lain paling jelas terlihat dalam Mazmur 104:20-24. Pemazmur tersebut mencatat, “Apabila Engkau mendatangkan gelap, maka hari pun malamlah; ketika itulah bergerak segala binatang segala binatang hutan.

Singa- singa muda mengaum-aum akan mangsa, dan menuntut makanannya dari Allah. Apabila matahari terbit, berkumpullah semuanya dan berbaring di tempat perteduhannya; manusia pun keluarlah ke pekerjaannya, dan ke usahanya sampai petang. Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kau jadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.”

Dengan demikian Alkitab menggambarkan manusia sebagai makhluk yang mempunyai tempat bersama dengan makhluk-makhluk yang lain dalam ciptaan. Pandangan ini sesuai dengan pandangan ekologi. Manusia dan makhluk- makhluk yang lain terikat bersama dalam hubungan timbal balik.

Kita hidup dalam suatu ekosistem yang terdiri dari semua faktor dalam lingkungan kita. Dalam ekosistem ini binatang-binatang, tanam-tanaman, air, udara, cuaca dsb. serta manusia dan kebudayaannya saling memengaruhi. Kalau satu faktor diganggu, semua faktor ikut terganggu.

Karena itu manusia tidak bisa merusak alam tanpa merugikan dirinya sendiri.

Walaupun demikian manusia juga berbeda dengan unsur-unsur alam yang lain. Ia mempunyai kuasa lebih besar daripada makhluk-makhluk yang lain.

Sama seperti Allah ialah Raja di sorga, manusia dinobatkan sebagai raja di dunia. Ia dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat sehingga kedudukannya hanya sedikit lebih rendah daripada penghuni-penghuni sorga (Mzm. 8:6).

Manusia diciptakan dalam gambar Allah (Kej. 1:26-27). Walaupun ia tidak ilahi, ia mempunyai sifat-sifat yang mirip dengan Allah sendiri. Ia menjadi wakil Allah di antara makhluk-makhluk yang lain. Ia hidup di dunia ini sebagai duta dari Allah. Sebagai duta dari Allah itu ia diberi tugas untuk mengatur dunia sesuai dengan kehendak Allah.

Apakah ciri khas manusia yang membedakannya dari semua makhluk yang lain? Secara jasmani ia mempunyai otak yang lebih besar, dan ia mampu

185

berjalan lebih tegak daripada binatang-binatang yang lain. Tetapi ciri-ciri jasmani ini bukan hal yang menentukan statusnya. Banyak orang merasa bahwa keunggulan manusia terletak dalam kemampuannya untuk berpikir secara rasional dan membentuk konsep-konsep yang abstrak. Orang-orang lain menekankan kemampuan manusia untuk berbahasa, membuat dan menggunakan alat-alat dan membentuk kebudayaan sehingga ia tidak hanya hidup dalam lingkungan alam tetapi juga menciptakan lingkungannya sendiri dan bisa belajar dari manusia yang lain. Ada juga orang-orang yang menganggap bahwa ciri khas manusia terletak dalam keinsafan dirinya yaitu kemampuannya untuk menyadari proses pemikirannya dan menujukan proses itu sesuai dengan kehendak-Nya.

Secara teologis perlu dikatakan bahwa manusia hanya sungguh-sungguh menjadi manusia jikalau iamenyadarihubungannya dengan Tuhan dan dapat berdoa. Menurut cerita penciptaan, walaupun manusia seperti binatang-binatang yang lain diciptakan dari debu dan tanah, tetapi hanya manusia mempunyai nafas hidup yang dihembuskan ke dalam hidungnya langsung dari Allah sendiri (Kej. 2:7). Seperti makhluk-makhluk yang lain, kehidupan biologis manusia bergantung kepada tanah dan Allah. Berbeda dengan makhluk-makhluk yang lain manusia mempunyai kehidupan khusus yang datang langsung dari Allah. Manusia memerlukan roti dan nasi, tetapi makanan itu tidak cukup. Ia juga hidup dari firman Allah (Mat. 4:4). Hanya manusia bisa berdoa dan beribadah kepada Allah. Hanya manusia bisa mentaati atau tidak mentaati Allah. Hanya manusia bisa berbicara dengan Allah dan mengerti kehendak Allah.

Singkatnya manusia mempunyai dua segi. Sebagai ciptaan Allah ia bersatu dengan makhluk-makhluk yang lain. Ia juga dapat bersatu dengan Allah. Ia terlibat dalam alam tetapi ia berwibawa atas alam. Sebagai gambar Allah ia mewakili Allah dalam ciptaan. Sebagai makhluk termulia ia mewakili ciptaan di depan Allah. Walaupun Allah berhubungan langsung dengan seluruh ciptaan-Nya, salah satu cara hubungan yang pokok ialah melalui manusia. Oleh sebab itu, manusia perlu mengembangkan kemampuannya untuk mengasihi Allah tanpa melupakan kekerabatannya dengan makhluk-makhluk yang lain.

186

Sumber:http://1.bp.blogspot.com/-

OoyHZx4zg1w/TyJIk8Lsw7I/AAAAAAAAARg/18CiSg8SV1w/s1600/care_eart h.png

Simaklah tulisan berikut ini yang termuat di Kompas pada hari Rabu, 12 Maret 2014. Tulisan tersebut berjudul Rakyat Menuntut Keadilan Ekologis.

Isi tulisannya adalah sebagai berikut.

Dalam dokumen PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (Halaman 179-187)